Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Categories:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-09-18
Words:
1,806
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
7
Bookmarks:
1
Hits:
121

Roti Bakar dan Kamu di Masa Lalu

Summary:

Tsukishima Kei mengalami déjà vu.

Notes:

Disclaimer : Semua yang ada di tulisan ini karangan dan penulis tidak mengambil keuntungan apapun. Kalau OOC dan banyak ketidaksamaan dengan karakter dan cerita di karya asli, semuanya demi alur cerita. Penulis hanya meminjam tokoh dan sedikit world building di Haikyuu!!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Tsukishima Kei mengalami déjà vu . Sebenarnya fenomena déjà vu sudah tidak asing untuk setiap orang, Kei pun termasuk, sebelum dia merasa déjà vu itu terjadi hampir setiap saat. Faktanya, déjà vu sendiri terjadi karena adanya kesamaan memori dan kejadian masa kini kemudian membuat kita merasa seakan-akan kita pernah mengalami atau melalui hal serupa di masa lalu. Enggan menyebut dengan sebutan déjà vu yang menggelikan, Kei lebih nyaman menyebutnya sebagai pengelihatan tumpang tindih.

Bukannya menghindari kata déjà vu , karena sebenarnya pengelihatan tumpang tindih yang dialami Kei tidak hanya berdasarkan perasaan nostalgia pernah melakukan sesuatu, tapi juga termasuk seluruh aspek dari kelima panca indera Kei yang masih berfungsi dengan baik. Seperti contohnya pagi ini saat Tsukishima baru saja selesai bersiap untuk pergi ke kantor dan indera penciumannya menangkap aroma roti bakar menguar dari arah dapur rumah kecilnya yang sederhana.

“Kei, aku buat roti bakar!”

Suara perempuan memanggilnya, di tangan wanita itu terdapat dua buah piring berisi roti bakar, sumber aroma manis yang dia cium saat baru saja membuka pintu kamarnya. Tsukishima terpaku selama beberapa detik memandang perempuan dengan celemek warna merah muda yang meletakkan kedua piring di tangannya di atas meja.

Déjà vu . Pengelihatannya tumpang tindih.

Dulu, dulu sekali, Kei pernah mengalami kejadian yang sama. Tidak persis, namun Tsukishima yakin orang itu juga membuat roti bakar dan mengenakan celemek. Hanya saja roti bakar yang dulu ia ingat roti yang setengah gosong dan celemek yang dipakai berwarna oranye cerah.

“Kei, kok diam?”

“Oh, maaf.”

Kei tersadar dia terlalu lama terdiam. Laki-laki itu lantas berjalan mendekati meja makan dan meletakkan tas kerjanya di lantai bersandarkan kaki meja. Ia melihat sepiring roti bakar isi cokelat dengan segelas jus apel di depannya. Bayangan roti bakar agak gosong memenuhi kepalanya disaat roti bakar yang matang sempurna tersaji di depan mata.

“Kamu akhir-akhir ini sering melamun, Kei. Ada masalah di kantor ya?”

Kei memandang wanita di depannya. Dia mendorong kacamatanya yang melorot lalu mengambil setangkup roti bakar cokelat.

“Nggak ada masalah, cuman akhir-akhir ini kantor memang lagi hectic . Mungkin itu yang bikin aku agak capek,” jawab Kei sebelum melahap sarapannya yang penuh gula.

Wanita itu mengangguk mendengar jawaban Kei. Laki-laki itu memang selalu pulang di atas jam tujuh malam beberapa hari terakhir.

“Tumben bikin roti bakar cokelat. Nggak takut sugar rush ?”

“Aku lihat akhir-akhir ini kamu sering ketekuk mukanya, kecapean terus dan berat badanmu turun. Kemarin aku telponan sama mama kira-kira apa yang bisa bikin Kei semangat dan makannya jadi lahap, kata mama kamu selalu minta dibuatin roti bakar cokelat kalau lagi sedih. Jadiii, tada!”

Wanita itu menunjuk roti yang telah dia buat. Bibirnya melengkung ke atas membentuk senyuman lebar memperlihatkan giginya dari sela-sela bibir yang terbuka.

Kei memerhatikan wanita di depannya sembari mengunyah roti bakar. Senyuman perempuan itu tumpang tindih dengan seseorang dalam ingatan Kei. Seseorang yang sama dengan celemek oranye dan beberapa hari terakhir selalu memenuhi kepalanya dengan pengelihatan tumpang tindih.

Dulu, dulu sekali. Jauh sebelum Kei memutuskan untuk menjalin hubungan dengan perempuan di depannya, ada seseorang yang setiap pagi selalu membuatkan Kei roti bakar. Orang itu tidak bisa memasak, tangannya tidak terlalu terampil. Tangan yang kecil namun kokoh itu terbiasa menampar bola dibandingkan memegang peralatan dapur.

“Roti bakar itu enak dan mudah dibuat, jadi aku akan buatkan Kei roti bakar setiap hari!”

Orang itu tersenyum lebar seraya memamerkan hasil masakannya yang hampir gagal.

Kei mendengus mengejek, “Kamu bilang mudah, tapi kok rotinya gosong?”

“Bacott! Namanya juga baru pertama kali buat ya pasti ada gosongnya dikit! Untung saja tidak jadi arang rotinya!”

Orang itu meletakkan piringnya dengan keras ke atas meja. Kei tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasan lawan bicaranya. Meski terus-terusan mengejek, Kei tetap memakan roti bakar cokelat kegosongan itu hingga habis.

Sejak saat itu, Kei selalu sarapan dengan roti bakar. Kadang isiannya berganti menjadi selai stroberi atau bluberi. Namun, berhubung orang itu suka cokelat, isian kakao lebih sering dia dapati.

Padahal Kei lebih suka stroberi daripada cokelat. Namun benar kata orang, cinta ada karena terbiasa. Dalam kurun waktu dua tahun, kecintaan Kei pada rasa stroberi yang sudah dia pupuk sejak dia kecil pun tergantikan dengan rasa cokelat. Semata-mata karena orang itu membuatkan roti bakar cokelat hampir setiap hari dan membuat Kei memasuki fase bosan, enek, hingga akhirnya jika tidak buatkan roti bakar isian cokelat Kei akan mencarinya.

“Kamu itu atlet tapi kok hanya bisa masak roti bakar?”

“Kamu mau aku buatkan dada ayam rebus? Aku bisa masak itu, setiap hari aku buat dada rebus untuk makan siang.”

“Roti bakar isi cokelat saja tidak apa-apa.”

Ada di suatu masa, ketika Kei dan orang itu memutuskan untuk berpisah. Alasannya karena Kei ragu. Kei tidak yakin jika mereka berdua bisa bertahan untuk waktu yang lama. Kei sayang dengan orang itu, begitu pula sebaliknya. Tapi, sebatas sayang tidak akan pernah cukup. Dalam suatu hubungan yang dijalin, ada banyak hal yang menjadi faktor agar hubungan dapat bertahan lama, dan rasa sayang bukanlah pondasi yang kuat untuk menopang hubungan mereka. Apalagi hubungan Kei dan orang itu termasuk tabu dan masih banyak orang-orang yang bisa melaknat mereka.

Rasa sayang bisa menghilang, karena rasa sayang adalah emosi yang dibentuk oleh manusia, selayaknya emosi marah dan bahagia. Manusia tidak bisa terus-terusan marah, pun tidak juga terus merasa bahagia. Begitu pun dengan rasa sayang. Maka ketika rasa sayang itu menghilang, apa yang tersisa untuk menetap?

Satu tahun setelah memutuskan untuk kembali menjadi teman dari SMA, Kei lantas beberapa kali kedapatan linglung dan lidahnya mendadak ingin makan roti bakar isian cokelat hampir setiap hari hingga membuat ibunya keheranan.

Keadaan Kei saat ini persis seperti saat itu. Ketika Kei berhari-hari mendapati dirinya merasa déjà vu dan pengelihatannya tumpang tindih dengan masa lalu.

‘Mungkin ini alasan ibu menyuruhnya memasak roti bakar isi cokelat.’ Kei membatin saat menelan potongan terakhir dari roti bakarnya.

Dulu Kei memakan roti bakar isian cokelat hanya untuk melampiaskan rasa kehilangan dan butuh mengingat hari-hari menyenangkan ketika tinggal bersama orang itu. Berhubung orang itu selalu mengawali harinya dengan roti bakar, maka salah satu cara memenuhi kekosongan hatinya adalah dengan memakan makanan manis itu.

Sekarang?

Entah lah. Kei juga tidak paham kenapa tiba-tiba dia selalu merasa pengelihatannya tumpang tindih, terutama ketika berada di rumah. Seakan-akan jejak orang itu menjelma menjadi wujud perangkat rumah dan bangunan lainnya. Kei bahkan tidak perlu susah-susah memanggil bayangan orang itu dengan memakan roti bakar. Bahkan dengan membuka pintu rumah setelah pulang bekerja dan mendapati rak sepatu tidak hanya terisi dengan sepatu milik Kei saja bayangan orang itu langsung muncul melenggang dengan tidak tahu diri.

Padahal jika dihitung dari tanggal semenjak mereka berpisah, sudah ada jarak lima tahun Kei tidak berjumpa bahkan mendengar kabar dari orang itu. Mungkin karena sejak berpisah dengan Kei orang itu memutuskan untuk pergi ke Brazil. Mungkin juga sejak mereka berpisah orang itu sengaja memblokir seluruh sosial media yang berhubungan dengan Kei. Mungkin karena sejak mereka berpisah Kei sengaja tidak membaca atau menonton voli. Mungkin karena sejak mereka berpisah Kei tidak pernah sekali pun datang ke acara reuni sekolah mereka di kota kampung halamannya.

Kei sudah membuang jauh-jauh kehidupan lamanya. Kei sudah berusaha hidup mengikuti norma masyarakat, salah satu alasan mengapa Kei berpisah dengan orang itu, dengan baik. Dia akhirnya menikah dan baru saja pindah di apartemen dengan wanita yang disukai oleh kedua orang tuanya.

Lalu, lantas mengapa orang itu datang lagi ke dalam kepala Kei?

Kota yang dia tinggali sudah berbeda. Apartemen yang dia diami juga tidak sama.

Lantas mengapa?

“Kei, kata mama kamu dulu main voli ya?”

“Hm, cuman kegiatan ekstrakulikuler biasa kok.”

Malam minggu kala itu dia habiskan dengan menonton tv dengan istrinya. Wanita itu bersandar di lengannya ketika Kei sibuk memindahkan saluran televisi, sedang mencari jika saja ada tontonan menarik selain acara kuis keluarga atau acara musik. Kei menyesal tidak mampir ke tempat rental kaset tadi sore ketika dia menemani istrinya berbelanja.

“Bohong. Kata mama kamu sampai bertanding di Tokyo loh! Hebat banget!”

Kei melirik wanita yang sedang tersenyum lebar dan memeluk pinggangnya dengan erat. Laki-laki itu mendengus kecil ketika lagi-lagi bayangan orang lain muncul di kepalanya.

“Yah, waktu SMA aku cukup berdedikasi lah, sedikit. Mungkin karena lingkungannya ambisius? Dalam voli aja tapi, belajarnya enggak.”

“Loh, tapi aku denger Kei belajar terus.”

“Aku belajar, teman-teman seangkatanku yang malas. Mereka lebih senang loncat-loncat di lapangan dibanding naikin nilai mereka yang stuck di KKM.”

Ah, ini ternyata sebabnya.

Belakangan ini, istrinya suka sekali membicarakan masa lalu Kei.

Dari awal berpacaran hingga akhirnya menikah, Kei jarang sekali membicarakan masa lalu, terutama masa-masa dia SMA hingga kuliah. Rentang waktu itu semuanya diisi dengan si pembuat roti bakar gosong kesukaan Kei. Dan kenyataan jika saat ini dia kembali tinggal dengan seseorang, membuat pengelihatan Kei tumpang tindih dengan masa-masa dia tinggal dengan si manusia berisik yang lebih mengutamakan voli dari pada urusan hidup lainnya, termasuk Kei.

“Ngomong-omong, Sayu, kemarin aku melihat ada diskon di- ….”

“Oh, lihat, Kei! Pertandingan voli, Jepang lawan Brazil!”

Kei gagal mengalihkan topik soal voli dan masa lalu. Meski enggan, laki-laki itu menatap layar televisi yang menampilkan pertandingan Olympic kategori voli putra. Di sana Kei melihat beberapa wajah familiar. Benar juga, kalau tidak salah Tadashi sempat tidak sengaja menyeletuk jika ada beberapa teman mereka dulu yang menyeriusi bermain voli hingga tingkat profesional. Tentu saja Kei bisa menebak siapa saja yang memutuskan untuk menjadi pemain profesional, sudah pasti ada si Raja Kageyama dan-

“-Shouyou….”

“Kamu kenal, Kei?”

Mata Kei terpaku pada sosok berambut oranye bertubuh paling kecil dibanding pemain lainnya di lapangan. Setelah bertahun-tahun lamanya mencoba menghindari, Kei akhirnya kembali melihat orang itu, meski melalui layar kaca.

Sosok kecil yang tingginya hanya sampai bahu Kei. Sosok atlet voli yang hanya bisa membuat tamago kake gohan , dada ayam rebus, dan roti bakar gosong. Sosok yang selalu berisik tapi senyumnya seterang matahari seperti namanya. Sosok yang dulu pernah mengisi hari-hari Kei di masa lalu. Sosok yang sampai sekarang masih menempati sebagian hati Kei di suatu sudut yang tidak akan pernah bisa Kei buang. Hinata Shouyou.

“Kei?”

“Oh, iya. Aku kenal. Dua orang itu-,” Kei menunjuk Shouyou dan Kageyama yang sekarang sedang berada pada posisi depan net . “-mereka teman sekolahku.”

“Benarkah? Hebat sekali! Kei, kamu harus ceritakan padaku masa-masa SMA-mu! Kamu pelit sekali tidak pernah mau cerita!”

Kei tersenyum, matanya masih melihat Shouyou yang melompat dan memukul bola yang diberikan oleh Kageyama. Rambut oranyenya menjadi lebih pendek dari yang pernah Kei ingat. Apa karena dia sudah jadi pemain voli profesional ya?

“Aku sudah tidak begitu ingat, Sayu. Sudah terlalu lama.”

Kei berbohong. Dia hanya tidak ingin mengingat.

Atau mungkin dia hanya tidak ingin Sayu tahu kalau hatinya masih mengingat .

“Maaf ya, Sayu.”

“Ya ya, aku tidak tahu antara kamu memang pelit cerita atau beneran tidak ingat. Tapi, permintaan maafmu diterima.”

Sayu tersenyum, untungnya tidak menyadari Kei yang mati-matian menahan untuk tidak membuat ekspresi janggal saat menonton pertandingan voli di televisi.

Benar, masa lalu itu harus dikubur rapat-rapat. Meski akibatnya Kei terus-terusan déjà vu atau melihat kenyataan yang tumpang tindih dengan masa lalu, Kei tetap akan menguburnya. Tentang Shouyou juga tentang cintanya yang masih dia sesali sampai detik ini.

Notes:

A/N : Halo, semua! Terima kasih sudah membaca cerita pertama yang aku upload di AO3! Cerita ini aku buat setelah sejuta tahun tidak menulis narasi (hiperbola). Semoga kalian semua suka!