Work Text:
Musim dingin di Seoul
Renjun memandang lurus ke arah lelaki yang saat ini sedang bercerita sambil tertawa lebar dengan teman-temannya—teman-teman mereka berdua lebih tepatnya—dengan raut muka yang datar seolah mencela.
Why are you acting so comfortable?
Aren't we strangers now?
"Hi, Renjun, kenapa dari tadi diam saja? Kau sakit atau apa?" Mark merangkul bahu Renjun dengan tiba-tiba, secara otomatis memutuskan pandangan Renjun kepada laki-laki itu. Renjun menghela napas pendek, mencoba untuk mengatur emosi dirinya.
"Aku tidak apa-apa, Hyung. Aku hanya sedang malas berbicara."
"Kenapa, kenapa? Kau tidak biasanya seperti ini. Biasanya kau selalu berusaha untuk mengejekku atau Haechan, kau tidak punya bahan?" Mark masih mengupayakan agar Renjun mau bicara dengannya.
Renjun yang memang tidak memiliki mood bagus hari itu menyentak tangan Mark dengan sedikit kasar dan berdiri dari tempat duduknya. "Maaf, Hyung. Hari ini aku sedang benar-benar tidak ingin diganggu." Tanpa mengatakan apapun lagi, Renjun melangkah pergi menjauh dari gerombolan laki-laki itu.
Mark yang merasa baru kali ini diperlakukan seperti itu oleh Renjun hanya menatapnya dengan bingung setengah tidak percaya. Dia kemudian menoleh kepada teman-temannya yang lain hanya untuk mendapati mereka menatap arah Renjun pergi tadi dengan tatapan yang sama dengan yang dia miliki.
"Yah, Jeno! Kenapa dengannya?"
Jeno, laki-laki yang dipanggil Mark tadi, mengalihkan pandangannya dari pintu ke arah Mark dengan sedikit panik, "Memangnya aku tahu apa?"
"Kenapa malah balik bertanya? Bukannya kalian selalu bersama? Kau pasti tahu masalahnya kan?"
Jeno hanya membuka dan menutup mulutnya tanpa mengatakan apapun. Dia memandang ke semua teman-temannya yang ada disana dan kemudian menghela napas lelah,"Aku akan mencoba bicara padanya." Setelah mengatakan itu, dia pun segara melangkah pergi.
"Hei, memang kau tau dia ada dimana? Jeno? Jeno?!" Teriakan Jaemin tidak diindahkan oleh Jeno yang tetap melangkah pergi tanpa menoleh.
.
.
.
"Sejak tadi pagi kau tidak mau mengatakan apapun. Sebenarnya apa maumu?" Jeno bertanya tanpa sedikitpun melihat ke arah orang yang ditanya karena dia lebih memilih melihat ketenangan dari aliran sungai Han di depannya. Sedangkan Renjun yang duduk disampingnya sembari menekuk kakinya dan memeluknya dengan kedua tangan tak sedikitpun berniat untuk menjawab pertanyaan laki-laki yang lebih muda satu bulan darinya itu.
"Apa kau akan terus bersikap seperti ini, Renjun?" Jeno kembali bertanya beberapa saat setelah dia tak mendapati adanya jawaban untuk pertanyaan pertamanya.
"..."
"Aku tidak mengerti bagaimana kau bisa seegois ini, bukankah kita sudah sepakat kemarin?" Jeno mencoba bertanya lagi, tidak mau menyerah.
Renjun hanya melirik sinis kepada Jeno setelah mendengar pertanyaan terakhirnya.
Stop whining like a child!
I haven't even started yet.
"Aku tidak memintamu menyusulku, pergilah." hanya itu jawabannya Renjun. Jeno mendengus dan tersenyum mengejek.
"Aku juga tidak mau, kau yang memaksaku. Kau pikir dengan sikapmu yang aneh itu teman-teman tidak akan curiga? Apa yang akan terjadi jika mereka merasa ada sesuatu yang tidak beres denganmu? Ujung-ujungnya aku juga lah yang akan diajukan untuk menanyakan kondisimu. Kau paham itu kan?"
"Kau bisa menolak mereka."
"Aku tidak bisa. Itu akan terlihat lebih aneh lagi! Lagipula aku juga ingin tahu apa yang membuat kau seperti ini. Kalau itu benar karena masalah kemarin, akupun juga tidak bisa diam saja!" Jeno berkata dengan setengah berteriak. Sedikitnya ia jengah dengan jawaban-jawaban singkat yang Renjun berikan, seolah-olah dia tidak menghargai apa yang Jeno lakukan saat ini.
"Tidak ada hubungannya dengan masalah kemarin." Renjun menjawab lirih. Dan jawaban itu entah kenapa membuat Jeno semakin kesal. Dengan sengaja ia menyentak satu tangan yang Renjun gunakan untuk memeluk lututnya sehingga Renjun sekarang berhadapan langsung dengannya.
"Benarkah? Ini tidak ada hubungannya dengan kemarin? Jawab dengan melihat mataku, Renjun!" Jeno menatap dalam mata Renjun yang saat ini terllihat tidak nyaman dengan posisinya.
"Lepaskan tanganku, Jeno!"
"Tidak sebelum kau menjawabku. Benarkah ini tidak ada hubungannya dengan kemarin?"
"Tidak. Ini sama sekali tidak ada hubungannya. Sekarang lepaskan aku!" Renjun mengatakan hal itu dengan lantang sembari menatap balik mata Jeno.
I don't like the love that is like children who play with fire.
You know it's obvious that the world is dark now,
So why smile when I know from your face
That you're also sad?
"Kalau begitu ayo kita pulang! Ini sudah sore, udara sangat dingin saat ini. Kau memang gila datang ke sini di musim dingin seperti ini."
"Kau pulang saja duluan. Aku masih ingin disini sebentar."
"Renjun! Apa kau sudah gila? Aku tidak bisa membiarkanmu sendirian di sini."
"Kenapa tidak bisa? Kau bisa. Kau tidak mempunyai kewajiban untuk menemaniku!" Teriak Renjun.
"Renjun—"
"Tidak ada lagi kewajiban untukmu peduli padaku!" Renjun memotong kalimat Jeno dengan satu kalimat yang jelas. Jeno terdiam mendengar pernyataan itu. Itu tidak benar. Apa yang Renjun katakan itu, sama sekali tidak benar menurut Jeno.
"Kenapa kau berkata seperti itu? Aku ini sahabatmu, aku peduli padamu!"
"Aku tidak butuh sahabat. Saat ini aku ingin sendiri, kenapa kau tidak mengerti juga?!"
"Kenapa kau ingin sendirian di tempat seperti ini? Kau bisa sendirian di kamarmu nanti. Setidaknya di sana hangat!"
"Itu bukan urusanmu aku mau sendirian dimana!"
"Itu urusanku karena aku peduli padamu!"
"Jadi sekarang kau mau bertindak seolah kau peduli?"
"Apa maksudmu, Renjun? Aku—"
"Aku baik-baik saja Jeno. Hanya sedikit lelah, tapi aku baik-baik saja. Jangan memandang rendah aku dengan melihatku seperti orang yang patah hati yang harus diperhatikan terus menerus. Aku bisa mengurusi diriku sendiri." Ucap Renjun menyela pertanyaan Jeno.
Jeno terhenyak. Renjun benar. Tidak seharusnya ia memandang Renjun seperti itu. Seperti dirinya tidak saja? Dia harusnya tahu kalau dia harus memberi waktu untuk Renjun sendiri. Itu juga demi kebaikannya, kebaikan hatinya sendiri.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu lagi. Kau boleh di sini, tapi aku mohon jangan terlalu lama, Renjun. Udaranya sangatlah dingin, segeralah pulang setelah ini. Apa kau mengerti?"
Renjun mengalihkan pandangannya.
"Renjun, kau mengerti kan?"
"...iya."
Sembari menggigit bibir bagian bawahnya dengan kuat, Jeno beranjak dari duduknya.
"Aku pergi dulu."
Jeno berharap Renjun akan membalas ucapannya dengan 'hati-hati' atau 'sampai jumpa' atau setidaknya memberi respon seperti mengangguk atau menoleh padanya, namun ia harus puas hanya dengan kediaman dari Renjun sebagai satu-satunya tanggapan untuknya.
Selang beberapa saat setelah Jeno pergi, satu tetes air mata yang sedari tadi coba ditahan oleh Renjun pun akhirnya keluar. Namun ia dengan cepat-cepat menghapusnya, seolah tidak ingin membiarkan bahkan air sungai tenang di depannya untuk menjadi saksi bahwa air matanya telah terjatuh.
"Karena aku baik-baik saja. Ya, aku baik-baik saja. Aku sanggup menghadapi ini semua." Seiring dengan ia mengucapkan kalimat itu, air matanya kembali tumpah, dia berusaha menghapusnya tapi satu persatu air mata itu menjadi sering dan akhirnya berubah menjadi tangisan.
"Tidak, Jeno. Aku tidak baik-baik saja. Aku membencimu, aku tidak baik-baik saja. Aku membencimu. Aku sangat membencimu!" Renjun terus mengatakan kalimat itu sembari memeluk dirinya sendiri. Begitu menyesakkan, dan begitu menyakitkan.
.
.
.
I said I only feel a little tired, but I am alright
Actually no...
I'm still hating you
Who has let me go.
.
.
.
Renjun memandangi jam di tangannya dengan ekspresi sedikit kesal. Jeno sudah terlambat lebih dari lima belas menit. Kemana dia?
Saat Renjun hendak melihat jam tangannya lagi, suara bel rumahnya terdengar dan ia dengan sigap segera berdiri dengan riangnya untuk membuka pintu. Hal pertama yang ia dapati ketika membuka pintu adalah Jeno yang terlihat lelah dan tergopoh-gopoh.
"Apa kau baru saja lari marathon, Jeno?"
"Aku memang setengah berlari saat kesini, Renjun. Sekarang biarkan aku masuk!" Tanpa menunggu jawaban Renjun, Jeno langsung masuk ke rumahnya, melepas sepatunya, dan tanpa babibu mendudukkan dirinya di sofa empuk milik Renjun serta merta memejamkan matanya untuk menghilangkan sedikit lelah.
Renjun berjalan santai ke dapurnya dan membuka kulkasnya untuk mengambil sebotol jus lemon dan menuangkan sebagian isinya ke gelas yang akan dibawakannya untuk Jeno.
"Apa yang membuatmu terlambat dan berlari begitu?" setelah memberikan gelas berisi jus lemon ke Jeno, Renjun pun ikut duduk disebelahnya.
"Aku tidak yakin kau ingin mendengar alasannya."
Renjun mengernyit, "Memangnya apa?"
Jeno terlihat ragu untuk menjawab tapi melihat Renjun yang memicingkan matanya seakan mendesaknya untuk berbicara jujur, "Sebenarnya aku tadi ikut blind date yang diadakan teman-teman. Tapi, aku bersumpah, aku tidak mengikutinya sampai selesai, hanya sekitar sepuluh menit kemudian aku beralasan pada mereka kalau aku harus pergi. Aku bahkan belum melihat pasangan blind date kami."
Renjun hanya memandang datar ke arah Jeno yang memasang ekspresi khawatir. Dia tahu benar sebentar lagi Renjunnya akan marah-marah padanya.
"Oh, begitu."
Respon Renjun tidak seperti dugaan Jeno. Daripada marah, Renjun justru terlihat cuek dan bahkan mengalihkan perhatiannya dari Jeno. Tapi entah kenapa, Jeno justru lebih memilih ketika Renjun bereaksi anarkis seperti memarahinya tanpa ampun dan memukulinya untuk meredakan amarahnya, bukan Renjun yang diam seperti ini.
"Renjun, kau kenapa?"
"Ini bukan blind date pertamamu kan?"
"O-oh, apa maksudmu?"
"Jaemin bilang padaku bahwa dia kesal padamu karena kau selalu pergi ditengah-tengah acara blind date yang ia susun."
Jeno ingin sekali mengutuk temannya yang bermulut ember itu. Dia jadi tidak tahu bagaimana harus menanggapi perkataan Renjun.
Renjun yang tidak mendapatkan jawaban dari Jeno hanya tersenyum simpul sembari menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Apa kau tidak ingin mengatakan yang sebenarnya pada mereka, Jeno?"
Jeno membelalakkan matanya mendengar pertanyaan Renjun. Ia tahu betul apa yang Renjun katakan. Ia hanya tidak percaya Renjun menanyakan hal sama lagi untuk kesekian kalinya.
"Harus berapa kali kubilang ini bukan waktu yang tepat untuk itu, Renjun?" ketus Jeno.
"Kau mengatakan itu sejak kita masih SMA, sekarang kita sudah dipertengahan masa kuliah kita, mau sampai kapan kau akan menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang sama?"
"Kumohon jangan mengajakku bertengkar untuk masalah ini Renjun. Oke, aku minta maaf, aku tidak akan mengikuti blind date apapun lagi bahkan meski Jaemin ataupun Haechan memaksaku, toh aku memang tidak menginginkannya sama sekali." Jeno mengatakan ini sembari membawa Renjun ke dalam pelukannya.
"Ini bukan masalah blind date, Jeno." Renjun melepaskan dirinya dari pelukan Jeno dan menatapnya.
"Aku ingin bilang kalau aku lelah bersembunyi."
"Renjun, kau tidak tahu apa yang kau katakan."
"Aku tahu. Ini akan berat, akan banyak orang yang merasa jijik pada kita nantinya, tapi kita tidak bisa terus menerus bersembunyi. Kita akan mengetahui siapa yang dengan tulus berteman dengan kita ketika kita memberitahu diri kita yang sebenarnya, Jeno. Jika mereka pergi, maka mereka bukanlah teman kita. Katakan padaku, apa kau tidak lelah untuk terus bersembunyi dibalik rasa takutmu untuk dibenci orang?"
"Masalahnya tidak segampang itu. Kau tidak mengerti. Ada banyak hal yang harus dikorbankan, Renjun."
"Aku bilang aku tahu, Jeno! Aku bukan orang bodoh, aku hanya muak dan lelah untuk berpura-pura. Aku ingin orang lain tahu kalau aku berhak merasa cemburu saat ada orang yang menyatakan cinta padamu, aku ingin orang-orang tahu bahwa meskipun ini salah, tapi tidak ada yang bisa mengubah perasaanku. Apa kau tidak menginginkan hal yang sama?"
Jeno menghela napasnya kasar. Ini adalah pertama kalinya mereka membahas ini sampai seperti ini. "Tidak, aku tidak ingin orang-orang membenci kita. Setidaknya tidak sekarang ketika aku tahu aku tidak akan bisa melakukan apapun untuk melindungimu, Renjun. Akan ada waktunya dimana semua ini akhirnya akan berujung. Aku akan mengatakan kepada dunia bahwa kau adalah milikku dan aku milikmu."
"Tapi kau tidak akan pernah tahu seperti apa masa depan itu, Jeno."
"Justru karena itu! Belum tentu juga aku akan tetap bersamamu di masa depan, Renjun. Tidak ada yang pasti di masa depan akan seperti apa. Oleh karena itu aku bilang bahwa akan ada banyak hal yang harus dikorbankan!" Tanpa sadar Jeno berteriak dan mengatakan hal yang seharusnya tidak ia katakan pada Renjun.
"Tunggu! M-maksudku bukan seperti itu." Lanjut Jeno.
"Aku mengerti."
"Tidak, apa yang kau mengerti? Sudah kubilang maksudku bukan seperti itu, Renjun! Dengarkan penjelasanku dulu!" Jeno berusaha untuk menggenggam tangan Renjun namun ditepis.
"Bagaimana kita bisa mengatakan hubungan aneh ini pada semua orang disaat kita sendiri tidak yakin terhadap satu sama lain, Jeno?" Bahkan sekali pandangpun Jeno tahu bahwa Renjun sangat terluka dengan ucapannya.
"Renjun—"
"Sepertinya hanya aku yang menginginkan hubungan ini berkelanjutan."
Jeno menggeleng cepat. Itu tidak benar, ia pun sangat ingin hubungan mereka tetap berjalan.
"Kau tahu itu tidak benar, Renjun."
"Benarkah? Kalau begitu ayo kita katakan hubungan kita besok ke teman-teman. Apa kau mau?"
Jeno menghela napas panik. "Dengar, Renjun. Kita harus memikirkan ini dengan matang-matang, oke?"
"Kau tidak mau?"
"Bukan begitu."
"Kau mau atau tidak?! Jawab saja!" teriak Renjun.
"Tidak. Tidak besok! Renjun, kumohon!"
"Ayo kita akhiri saja!"
"Renjun!"
"Tidak ada gunanya mempertahankan hubungan ini. Bahkan empat tahun pun tidak membuatmu yakin tentang ini. Lalu kita harus menunggu berapa lama lagi, Jeno?"
"Renjun—"
"Bukankah tidak ada yang tahu selain kita? Jadi tidak akan bedanya kita berteman biasa atau menjalin hubungan kan?"
"..."
"Kau bahkan tidak bisa menjawabnya. Atau diam-diam kau memang setuju?"
Jeno diam menatap Renjun. Bukan, bukannya dia setuju. Bagaimanapun juga dia mencintai Renjun. Sangat mencintainya. Namun saat ini, dengan pemikiran mereka yang begitu berseberangan, dia sendiri juga tidak yakin apakah mereka bisa mempertahankan hubungan mereka. Ia ingin memikirkan segalanya dengan matang demi masa depan mereka yang masih panjang, sedangkan Renjun hanya memusatkan pemikirannya ke hari ini dan esok yang dekat. Mereka begitu berbeda sekarang.
"Apa kau benar-benar yakin dengan permintaanmu itu, Renjun?" Jeno balik bertanya. Pertanyaan yang tanpa Jeno sadari meretakkan hati Renjun. Jadi Jeno memang lebih memilih untuk berpisah darinya? Baiklah.
"Ya, kurasa ini memang yang terbaik."
"Kau tahu setelah ini kita bukanlah apa-apa lagi kecuali teman kan?"
Renjun mendengus,"Kau mengatakannya seolah-olah aku yang bergantung padamu."
Jeno tersenyum kecil, dia menyadari bahwa sebenarnya dialah yang begitu bergantung pada Renjun karena cintanya yang begitu besar pada pemuda itu.
Jeno memilih untuk mendekati Renjun dan mengecup bibir gemuknya pelan, mencoba menjadikannya memori terakhir yang paling indah untuknya. Setelah itu, ia memeluk Renjunnya erat. Selama ia bisa, selama ia boleh.
"Berakhirnya hubungan ini tidak akan mengubah apapun yang aku rasa padamu Renjun. Aku pun masih tetap akan menjadi orang yang selalu peduli padamu. Percayalah tentang satu hal itu."
Renjun hanya menatap Jeno dengan tatapannya yang lagi-lagi datar. Seolah tak merasakan apapun. Jeno tersenyum pilu, "Aku pergi."
Renjun menatap pintu rumahnya yang tertutup itu dengan tatapan penuh harap. Ia ingin percaya bahwa ini belum berakhir, ingin percaya bahwa Jeno akan lebih memilihnya dibandingkan egonya. Namun sampai berapa lamapun Renjun menatap pintu itu, ia tak terbuka kembali, tak ada Jenonya yang akan muncul. Tidak ada lagi. Disaat itu Renjun baru benar-benar menyadari, bahwa kisahnya sekarang sudah benar-benar berakhir.
.
.
.
Still hating you
Who has let me go
My frigidly cold heart is apparently
Still missing you
Missing you so damn much
Jeno yang sekarang sedang duduk di kamarnya sembari merenungi apa yang telah terjadi padanya dan Renjun hanya bisa memandangi pemandangan di luar jendelanya. Salju. Pantas saja hari ini begitu dingin, ternyata saljunya telah turun hari ini. Pikirannya melayang kepada Renjun yang ia tinggalkan sendirian di pinggir sungai Han. Apa ia sudah pulang sekarang? Jeno harap ia segera menghangatkan diri dengan segelas coklat panas dan menyetel suhu ruangan dengan kehangatan yang cukup. Jeno hanya ingin Renjun tetap baik-baik saja.
Ding!
Suara telpon genggamnya membuatnya mengalihkan perhatiannya. Ia segera mengambil telpon genggamnya. Ada sebuah pemberitahuan dari Instagram: yellow_3to3 uploaded a photo. Hati Jeno tiba-tiba berdetak begitu cepat. Dia selalu memasang notifikasi Instagram milik Renjun agar ia bisa memastikan tidak pernah melewatkan satupun foto atau video yang diupload laki-laki itu.
Foto sederhana namun cantik yang memperlihatkan aliran sungai Han yang begitu tenang dilengkapi dengan pemandangan butiran salju yang berguguran. Apik dan estetik, Renjun memang pandai untuk mengambil gambar semacam ini. Ia ingat dulu ia lah yang mengajarkan Renjun cara mengambil gambar. Ia tersenyum saat mengingat memori itu. Namun, senyum Jeno perlahan memudar saat matanya mendapati tulisan yang menyertai foto tersebut. Bahkan perlahan tanpa ia sadari, ia mulai meneteskan air mata yang kemudian segera ia hapus begitu ia mengetahui keberadaannya. Yang ia lakukan setelahnya adalah memandangi foto itu tanpa henti, menggenggam ponselnya dengan kuat-kuat. Seolah itu adalah satu-satunya cara ia bertahan menghadapi kenyataan bahwa, dia bukan siapa-siapa lagi untuk Renjunnya.
.
.
.
23 likes
yellow_3to3 The love of my youth is ending like this, but still, both you and I should be happy! Even after a long time passes, let us both remember... we had each other back then.
7 minutes ago
.
.
.
END
