Work Text:
3 bulan sebelum hari kelulusan.
Kohane masih saja menghadapi masalah yang sama, teman kelasnya yang hanya datang ketika membutuhkannya, mau untuk tugas ataupun untuk pekerjaan kelompok, bahkan ketika melakukan pekerjaan kelompok, hanya dirinya saja yang bekerja, yang lainnya sibuk dengan hal yang lain.
Yah, setidaknya gurunya tidak memberi tugas kelompok terlalu sering.
Suasana kelasnya juga selalu terasa suram untuknya, tidak ada yang mengajak ngobrol dia saat waktu belajar, semuanya melihat Kohane dengan tatapan yang berteriak 'dia gila banget'
Sering-sering juga Kohane mendengar bisik-bisikan mereka, yang mengatakannya 'dia sengaja menewaskan temannya karena iri' atau hal yang mirip dengan itu.
Setiap detik, menit dan jam selalu diisi oleh dirinya sendiri, keberadaan yang selalu berada disisinya sudah hilang.
Tentu, Kohane punya teman yang lainnya, cuman terkadang mereka memiliki kesibukannya sendiri sehingga tidak dapat menghampirinya atau mereka saja yang termakan oleh rumor itu.
Ya, mereka pasti termakan oleh rumor itu, sebelum desas-desus itu muncul, Kohane dan teman sekolahnya mengobrol dengan baik, bahkan mereka suka mengajaknya jika mau pergi bersama-sama, lalu sekarang hanya beberapa dari mereka yang tidak mempercayai cerita burung itu dan masih mengobrol dengan Kohane.
Salah satu dari beberapa orang itu adalah grup member Kohane, jika salah satu dari mereka tidak ada yang sibuk saat istirahat mereka akan berkumpul di rooftop sekolah, hanya untuk sekedar makan bersama atau Toya dan Kohane yang mengajarkan pelajaran yang member lainnya tidak bisa.
Tapi tetap saja, Kohane tidak menyukai bagaimana kebanyakan dari mereka bisa mempercayai rumor itu dan bagaimana rumor ini bisa nyaris benar dengan kenyataannya.
Andai saja waktu dapat ia percepat, mungkin dirinya sudah melakukannya dari lama, Kohane hanya ingin segera melakukan janji dengan teman sekelasnya itu.
2 bulan sebelum hari kelulusan.
Adakalanya member grup Kohane datang kerumahnya, mereka akan datang jika saat waktu istirahat tidak cukup untuk sesi mengajar Toya dan Kohane, alasan para member memilih rumah Kohane dikarenakan rumahnya yang paling dekat dengan sekolah.
Walaupun mereka kerap datang kerumahnya untuk belajar, sesekali mereka datang untuk bermain-main, entah untuk bermain UNO atau yang lainnya.
Mereka juga suka pergi keluar bersama-sama, seperti ke mall atau ke live house, bermain tanpa memikirkan stress anak sekolah.
Kalau mereka memutuskan untuk pergi ke live house, mereka lebih sering berkunjung ke live house Leo/Need, umumnya mereka pergi kesana dikarenakan tipe musik yang Leo/Need mainkan satu tipe dengan kesukaan para member, tapi alasan yang lainnya juga untuk men-support temannya Kohane.
Ketika berada di mall, kebanyakan dari kunjungan mereka akan berada di Arcade, jika Kohane atau An sedang menginginkan boneka, Toya dengan senang hati akan memainkan penjepit boneka sampai mendapatkan boneka yang lainnya mau.
Terkadang juga saat bermain di mall, mereka akan bertemu dengan teman yang lain yang sedang berjalan-jalan, tapi entah kenapa mereka lebih sering bertemu dengan grup kakanya Akito, sempat juga mereka memutuskan untuk berkeliling mall bersama, Kohane selalu menjadi salah satu korban model fashion teman kakak Akito itu.
Saat waktu libur panjang, umumnya para member akan pergi camping, biasanya untuk membantu hobby Kohane yang dimana dia menyukai photography, dan saat malam tiba, mereka akan mengisengi An dengan bercerita tentang Hantu.
Andai saja waktu dapat ia perlambat, mungkin dirinya sudah melakukannya dari lama, Kohane hanya ingin selalu berada dalam waktu yang bahagia itu.
1 bulan sebelum hari kelulusan.
Kejadian itu muncul lagi di mimpi Kohane, entah sudah keberapa kalinya dia memimpikan hal yang sama dalam jangka waktu satu bulan ini.
Biarpun hanya mimpi, kejadian itu selalu terasa baru baginya, bagaimana perkataan Kohane yang jahat itu keluar dari mulutnya sendiri, bagaimana reaksi Akito saat mendengarnya.
Kohane tau kalau kematian Akito merupakan kesalahan dia dan Kohane selalu dihantui oleh mimpi buruknya ini.
Seharusnya dia tidak meneriakkan kalimat-kalimat hina itu, seharusnya dia tidak lansung lari saat Akito membalikkan badannya dan pergi begitu saja.
Seharusnya dia berbalik badan lebih cepat dan mengejar Akito, menariknya lalu meminta maaf atas perkataan dia.
Kohane baru berbalik badan setelah mendengar suara tabrakan.
Tubuh Akito yang terlempar tergeletak disampingnya, dengan darah yang berada dimana-mana, detak jantung Kohane berpacu tak beraturan, dunia seketika terasa berhenti, ia berdiri kaku. Kohane tidak dapat mendengar suara keributan yang ada disekitarnya, ia terlalu terpaku dengan kenyataan ini. Dengan tangan yang gemetar, ia meraih dan mencoba memeriksa napas Akito. Tidak ada. Air matanya mulai mengalir, mengiringi kepedihan yang mendalam.
Ia memeluk raga itu dan mengulang berkali-kali kata minta maaf itu, dengan harapan Akito bisa mendengarnya.
Andai saja waktu dapat ia ulang, mungkin dirinya sudah melakukannya dari lama, Kohane hanya ingin memperbaiki kejadian itu.
The day.
Hari ini, hari yang ditunggu-tunggu olehnya, dimana Kohane akhirnya bisa menyelesaikan janjinya kepada dia. Dengan melaksanakan janji ini, Ia akan bebas dari kejinya kehidupan ini.
Janji dimana ia akan menjadi rank paralel, mungkin dengan Kohane menepati janji ini, Akito bisa sedikit memaafkan dia.
Mungkin teman yang lain akan sedih dengan apa yang akan terjadi, tapi dirinya sudah memutuskan untuk melakukan ini sejak lama dan tidak ada yang bisa membuatnya berganti pikiran.
Acara kelulusannya itu dibuka dengan meriah.
Lalu akhirnya tiba, menit-menit pengumuman rank paralel. Kohane sangat berharap namanya disebut, agar setidaknya ia dapat sedikit membuat Akito bangga dengan dia.
"Azusawa Kohane!"
Ah, namaku
Dengan langkah pasti, sang pemilik nama melangkah menuju podium. Sorotan kamera panggung mengarah ke wajahnya yang terlihat seperti mau menangis, mungkin para penonton berpikir ia terlihat mau menangis karena ternyata namanya disebut. Yah, tidak sepenuhnya salah, Kohane terlihat mau menangis karena akhirnya ia bisa menepati janji dia. Riuh tepuk tangan penonton memperselamatkan prestasi Kohane.
Setelah acaranya berakhir, para member grup Kohane menyelamatkan atas prestasi nya, mereka juga berfoto bersama sebagai kenang-kenangan untuk tahun ini. Selepas mengobrol sebentar, yang lain izin pergi untuk berfoto bersama keluarganya, sedangkan keluarga Kohane sedang mengobrol dengan kenalannya yang berada di dalam, Mereka meninggalkan Kohane sendirian, di balkon hotel.
Selesai melihat temannya pergi, ia berbalik badan dan mendekatkan dirinya dengan pagar yang terbuat dari semen. Memegang pagarnya dan memandangi indahnya langit di hari itu, langit sorenya sungguh memesona. Awan-awan yang membentuk lukisan abstrak. Sinar matahari yang memantul indah di permukaan awan, menciptakan gradasi warna yang memanjakan mata. Sang angin juga membawa kesejukan, membawa rambut indah Kohane bernari-nari.
Sambil memandangi langit, ia naik ke pagar tersebut dan duduk disana, menikmati hembusan angin tersebut.
Akito, dengan begini, aku sudah bisa menyusulmu kan?
