Work Text:
Penduduk Caelum memerlukan atensi dan kepedulian dari makhluk-makhluk di luar. Tanpanya, esensi kehidupan Caelum tidak akan mampu menopang jiwa-jiwa tersebut untuk terus hidup. Sirna dari dunia akibat ketidakacuhan orang yang tidak bersangkutan.
Hal yang sama juga akan terjadi kepada rasa cinta.
Yejun bisa melihat Eunho juga mencintainya. Sejak saling mengenal, Eunho sering tertangkap mengintip ke arah Yejun dengan malu-malu. Yejun yang menyadari hal tersebut justru terhibur dibuatnya. Perjalanan mereka diawali oleh rasa penasaran. Mencoba mengorek lebih informasi dari sang lawan demi memuaskan hasrat masing-masing.
Anggota lain ikut dibawa senang memandangi mereka. Sebuah asmara berkuncup di tengah kiamat.
Semakin ketertarikan mereka berkembang, semakin mereka menyadari suatu hal yang sangat utama. Mereka saling menyayangi, tidak ada yang bisa menyanggah hal tersebut. Akan tetapi, seolah hadirlah dinding transparan yang membatasi mereka kala mereka mulai mengakui perasaan mereka. Cinta itu terasa tidak nyata.
Muncul dalam bentuk material. Bisa didengar maupun dilihat.
Namun, tidak bisa dirasakan.
Mereka terhalang benda gagah tebal yang tidak sanggup mereka terjang.
Bisikan-bisikan manis sudah tidak ada nilainya jika mereka tidak dapat merasakannya, tapi mereka bisa mendengarnya! Telinga mereka bisa menangkapnya, saling mengucap “aku mencintaimu” tanpa rintangan. Bergandengan tangan di kala kosong kegiatan. Berpelukan sembari menunggu mata terlelap. Tetap saja, hati ini selalu tidak puas dibuatnya.
Mereka tahu apa yang mereka rasakan, namun mereka ragu apakah perasaan itu nyata atau tidak seiring berjalannya waktu.
Kalau ada yang bertanya, siapa yang kau cintai? Tanpa basa-basi mereka akan menjawab nama satu sama lain.
Kalau ada yang bertanya, apa kalian saling mencintai? Mereka hanya akan diam.
Rasanya seperti berada di ujung tanduk. Entah bagaimana pengakuan orang asing yang tidak pernah mereka temui memiliki peran yang amat penting dibanding mereka sendiri, si pelaku utama, dalam percintaan mereka.
Yejun peka akan gejolak milik Eunho! Yejun juga merasakannya, namun sesuatu menghalangi hati Yejun. Menghitamkannya dari menerima cinta yang dihadiahkan oleh sang kekasih.
Berkali-kali menagih Hamin untuk bantuan. Hamin yang mulanya optimis berangsur-angsur statis hanya bisa bergeleng menolak melihat dua pasang netra itu menatapnya kecewa. Hamin merasa bersalah tidak bisa membantu. Yejun juga merasa begitu. Dia adalah pemimpin di sini. Menyelesaikan percintaan pribadi saja dia tidak sanggup, mengapa nekat menopang kehidupan empat orang lainnya?
Keduanya saling mencintai, bukankah itu sudah cukup?
Apa cinta sesulit itu sehingga pengakuan meski mereka dapatkan agar bisa berjalan tentram?
Jangankan berjalan tentram, saat ini saja belum bisa dijalankan.
Kepala saling bertemu di atas padang pasir. Kelingking-kelingking bertaut menikmati kulit kasar masing-masing. Eunho mencuri kecup ketika Yejun memandangi langit dengan sibuk. “Hyung.”
“Hm?”
“Aku mencintaimu, ya?”
Tubuh Yejun terbujur kaku di permukaan pasir Mars. Dengan lambat wajahnya berputar meratapi milik Eunho. Eunhonya menahan air di kelopaknya dan Yejun menjadi kebingungan menghadapinya. Taring yang terlihat menggemaskan di mata Yejun kini merusak kulit bibir si pemilik hingga guratan merah nan basah tidak malu-malu menyapa.
Yejun hanya tinggal mengelap kering wajah memerah itu, tetapi tangan mendingin membeku berdiam diri. Ia hanya bisa memandangi penampakan itu dengan batin yang kalang kabut.
Cinta sesulit itu atau nasib mereka yang membuatnya sulit?
Senyuman pahit pahit terukir di wajah Yejun sebelum ia berbisik, “Aku juga.”
Kembali menikmati langit di Mars. Yejun mencoba mengabaikan Eunho yang masih setia melihatnya di samping. Pipinya menempel langsung dengan permukaan tanah Mars. Tidak peduli dengan noda yang akan tertinggal di kulit pucat itu. Mungkin Eunho tidak bersuara, namun Yejun sudah bisa membaca pikirannya.
“Yejun hyung. Lihat aku.”
Walaupun Yejun menolak menuruti permintaan menyedihkan itu, kelingking yang awalnya berikat dengan milik Eunho sekarang ditemani jari-jari lainnya yang menggenggam tangan bergetar tersebut.
Yejun merasakan Eunho yang turut mengeratkan ikatan tangan mereka.
Menutup matanya, Yejun menyenandungkan lagu ringan untuk menutupi isakan yang mencoba menyusup ke dalam telinganya.
Tidak ada yang bisa Yejun dan Eunho lakukan, selain membiarkan cinta mereka berenang perlahan meninggalkan dua sejoli seutuhnya.
Hidup memang tidak adil, setidaknya mereka masih bisa bersama.
