Work Text:
Berdiri dengan kikuknya di hadapan puluhan atau bahkan yang dia asumsikan ada ratusan tangkai itu, Sunghoon mematung kebingungan. Warnanya indah dan menarik, bentuknya bermacam-macam tapi tetap saja Sunghoon kelabakan tak mengerti harus mulai dari mana. Sebagai pasangan yang (berusaha) memiliki idealisme tinggi, Sunghoon berinisiatif beri Jaeyun apresiasi dengan satu buket bunga yang ia rangkai dengan tangannya sendiri. Namun, di sinilah Sunghoon berada. Berdiri di hadapan tangkai bunga yang menatapnya genit, indah, pikirnya. Semua bunga yang ada di hadapannya saat ini indah, seperti Jaeyun. Ah, kalau begini, niat hati Sunghoon ingin memilih bunga yang sama indahnya atau bahkan tidak dapat melampaui keindahan seorang Sim Jaeyun harus berakhir membeli satu ruko bunga itu, haruskah Sunghoon? Semuanya tampak indah, meski tak seberapa jika disandingkan dengan seorang Sim Jaeyun, makhluk paling indah di dunia milik Sunghoon.
Dari kejauhan, wanita pemilik toko bunga memandangi gerak-gerik pria kebingungan dengan setelan bak pemimpin negara itu. Tidak ada niat hati untuk membantu saat ini, meski tahu pria tersebut pasti sedang kebingungan, namun dari raut wajahnya ia terlihat sangat serius sehingga lebih baik dibiarkan supaya memahami keadaan sendiri. Tak lama pria yang tingginya semampai itu mulai mengelilingi ruko, menelusuri setiap inci ruangan yang kemudian menghentikan pergerakannya di hadapan susunan buku-buku dalam rak. Menyibakkan rambut hitam legamnya ke belakang kemudian meraih salah satu buku yang tertera di sana dan mulai menelisik isi bukunya. Sejujurnya, sang penjual bunga kini tertegun. Baru kali ini ia melihat seorang customer yang memiliki niat sebesar ini sampai-sampai mau memahami makna bunga terlebih dahulu sebelum merangkainya.
Menganggukkan kepalanya sembari bergumam, kini Sunghoon paham bunga apa saja yang akan cocok untuk kekasihnya. Biasanya, Sunghoon akan asal-asalan mengambil setangkai mawar merah dan memberikannya begitu saja kepada Jaeyun, yang pasti Jaeyun terima dengan senang hati, pria mungil itu selalu mengapresiasi segala hal yang Sunghoon dedikasikan pada dirinya. Sunghoon dengan telaten memilih bunga-bunga indah, berharap akan sesuai dengan yang ia bayangkan. Saat memilih tangkai yang terakhir, sudut mata Sunghoon mendapati sang penjual bunga berjalan mendekatinya.
"Ada yang bisa dibantu, Pak?" Sunghoon mengarahkan tubuhnya menghadap sang penjual bunga sembari menjulurkan genggamannya yang penuh dengan bunga-bunga indah. "Ini, Saya mau ambil semua ini," setelahnya Sunghoon berikan segenggam bunga pada sang penjual bunga. Mereka berjalan menuju meja yang berada di sebelah kasir, sembari berjalan wanita penjual bunga itu menelisik bunga-bunga yang telah Sunghoon pilih, "indah-indah sekali, untuk istrinya ya, Pak?" mendengar pertanyaan tersebut, Sunghoon salah tingkah, telinganya terasa panas dan ia berasumsi bahwa saat ini telinganya pun memerah, aduh salting. "Kalau untuk istrinya, barangkali Bapak mau coba buat sendiri?" mencoba untuk mengontrol ekspresi wajahnya agar tetap terlihat berwibawa, Sunghoon menggangguk kecil dan menyetujuinya.
Wanita penjual bunga itu dengan telaten memperlihatkan Sunghoon caranya. Sunghoon mengingatnya dengan baik, hati-hati Sunghoon menyusunnya satu persatu. Warna-wananya cantik, pasti Jaeyun akan senang dengan hadiah kecilnya ini. Selama menyusun, yang ada di pikiran Sunghoon hanya Sim Jaeyun, Sim Jaeyun, dan Sim Jaeyun. Sunghoon tak hendak menyembunyikan senyumnya selama menyusun buket bunga tersebut, dari awal mulai menyusun, melipat dan membungkusnya dengan kraft paper kemudian cellophane, sampai saat ini ia berada di tahap terakhir mengikat buket tersebut dengan pita. Di sudut meja terletak kotak akrilik bening berisi setumpuk lembaran kertas warna-warni beserta alat tulisnya. Sunghoon melirik wanita penjual bunga dan bertanya apakah ia boleh mengambil secarik kertas tersebut dan menuliskan kata-kata di sana, yang tentu saja pertanyaannya disetujui dengan antusias oleh wanita tersebut. Sunghoon menjulurkan lengannya dan mengambil kertas berwarna kuning pucat, pikirnya menggambarkan Jaeyun yang cerah seperti matahari. Jarinya yang indah menari di atas dataran kuning pucat itu bersama tinta berwarna hitam, Sim Jaeyun dan Sim Jaeyun yang berada di pikirannya selama merangkai kata-kata indah tersebut. Setelah selesai, Sunghoon mengambil alat yang disediakan untuk membuat lubang di ujung kertasnya yang kemudian ia sangkutkan pada pita buketnya dengan tali berwarna coklat.
Menggenggamnya dengan kedua tangan dan mengangkatnya sedikit dari atas meja, Sunghoon bangga akan dirinya sendiri. Menatap buket bunganya dengan penuh cinta, netranya melembut ketika Jaeyun melintasi pikirannya. Segera setelah yakin, Sunghoon membawanya ke kasir. "Saya kasih potongan harga ya, Pak," ucap wanita di balik kasir dengan senyum ramahnya pada Sunghoon. "Loh, gak usah repot-repot, Kak," wanita itu menggeleng tidak setuju mendengar jawaban Sunghoon. "Saya bisa lihat betapa tulusnya Bapak merangkai buket ini, ketulusan yang Bapak punya ini harganya tak terhingga. Gak mampu deh kalau Saya hitung besarnya rasa tulus Bapak. Saya yakin, pasangan Bapak pasti bahagia hidup bersama Bapak," Sunghoon benar-benar terkesima dibuatnya, mengucapkan rasa syukurnya kepada sang penjual bunga berkali-kali sembari menundukkan kepalanya sedikit. Berjalan keluar dengan perasaan yang campur aduk, bangga, terharu, bahagia, tersipu, dan masih banyak lagi. Entah mengapa, Sunghoon seperti dibawa kembali 9 tahun ke belakang saat pertama kali Sunghoon rasakan cintanya yang tulus untuk Jaeyun.
Di sinilah Sunghoon, berdiri di depan unit apartmen mereka. Buket bunganya ia keluarkan dari dalam tas belanja, kemudian ia sembunyikan di balik tubuhnya yang bugar itu. Sunghoon menggerogoh saku celananya, mendapati gawainya dan segera mendial kontak 'Matahariku' yang tak lama kemudian Sunghoon dapati suara manis nan indah yang menyapanya dengan riang dari dalam handphone yang ia genggam.
"Jakey di mana?"
"Aku lagi jalan nih, habis dari minimarket tadi aku beli bahan dinner."
"Oh, kirain ada di rumah."
"Kamu udah di rumah?"
"Sebentar lagi, kamu hati-hati di jalan ya sayang."
"Iya ganteng, hati-hati juga okay."
Sunghoon segera memasukkan kata sandi apartemen miliknya dan Jaeyun. Berdiri di balik pintu sembari menunggu Jaeyun memasuki unit apartemen mereka.
Sepuluh menit sudah berlalu, iya, Sunghoon berdiri di depan pintu menunggu yang terkasih sepuluh menit lamanya. Ia bisa mendengar suara keresek dari luar dan seseorang yang memasukkan kata sandi apartemen mereka. Sunghoon mendadak gugup setengah mati, entah kenapa rasanya seperti hari itu dimana Sunghoon menyatakan perasaannya pada Jaeyun. Sunghoon dengar kata sandi yang dimasukkan benar, cahaya dari luar mengintip masuk ke dalam secara perlahan. Yang awalnya Sunghoon hanya memperhatikan pintu kosong biasa saja, kini bergantikan dengan wajah indah kekasihnya yang terkejut, wajahnya imut.
"Astaga! Kaget tau! Sunghoon ya ampun aku kira kamu belum pulang," ucap Jaeyun sambil menutup kembali pintunya.
"Surprise?" Sunghoon menyerahkan buket bunga di genggamannya ke hadapan wajah Jaeyun.
"But, why? Dalam rangka apa?"
"Rambut kamu udah bisa dikuncir."
Mendengar jawaban polos yang keluar dari bibir Sunghoon, Jaeyun menatap Sunghoon dalam dalam dan kemudian tersenyum gemas. Meraih pundak kokoh Sunghoon dan memeluknya, Sunghoon pegang buketnya di tangan kiri dan raih pinggang Jaeyun dengan lengan kanannya. Sunghoon dapat mendengar Jaeyun terisak sedikit, pasti ia menangis haru.
"Kamu kenapa hiks, lucu banget sih.."
Sunghoon terkekeh kecil mendengar kekasihnya menangis bahagia, "kamu yang lucu, sayang. Aku seneng banget tadi pagi bangun-bangun lihat kamu lagi kuncir rambut di depan cermin. Sumpah, rasanya aku kayak lihat keajaiban dunia yang selama ini diumpetin dari aku," Sunghoon mengusap-usap pinggang ramping Jaeyun dengan tangannya sembari menciumi pucuk kepala Jaeyun yang harum dan mengingatkannya pada rumah.
"Kamu selalu menang untuk bikin aku jatuh cinta, Sunghoon. Setiap hari, setiap hari rasanya aku selalu dibuat jatuh cinta like it's always the first time. I feel the happiest everyday I'm with you, I'm the luckiest person in this world because of you, Sunghoon!"
Sunghoon meletakkan buketnya di atas meja yang berada di dekat sana agar dapat memeluk Jaeyun seutuhnya dengan kedua lengannya, "kita sama-sama bahagia, sayang. Kita sama-sama beruntung, takdir berpihak sama kita, kita pasangan paling beruntung di dunia ini!" Sunghoon angkat tubuh kecil Jaeyun untuk dibawanya berputar beberapa kali, tawa kecil yang dilantunkan keduannya kini mengindahkan ruangan minimalis apartemen mereka.
Sunghoon menurunkan Jaeyun hati-hati, tidak mau sampai yang tersayang terluka, kemudian melepaskan Jaeyun dari dekapannya, menangkup kedua pipi gemas Jaeyun dan menatap netranya dalam dalam. Menyelipkan helaian rambut cantik dan panjang milik Jaeyun, mengusapnya dengan hati-hati seolah tidak mau menghancurkan mahakarya di hadapannya ini.
"Indah, kamu indah banget, Sim Jaeyun. Aku beruntung dan aku bahagia kamu hadir di hidupku, Jaeyun."
Sunghoon mempertemukan kedua belah bibir mereka, lembut dan hangat, beberapa kecupan dan sedikit lumatan ia berikan pada bibir manis Jaeyun.
"Aku bahagia bisa hadir di hidup kamu, Sunghoon. Aku bahagia karena kamu ternyata jawaban yang selama ini aku minta dari Tuhan."
Mendekap Jaeyun yang kecil ke dalam pelukannya yang hangat, merengkuh pinggang rampingnya dengan lengan kiri dan mengelus surai panjang Jaeyun dengan tangan kanan sembari mengecupinya sayang. Jaeyun sedikit berjinjit untuk melingkarkan lengannya pada leher Sunghoon, mendekapnya erat dan menyamankan dirinya. Keduanya berdiri di tengah-tengah ruang minimalis apartemen mereka di balik cahaya senja yang mengindahkan pelukan hangat mereka. Mendekap satu sama lain tak mau saling kehilangan. Meresapi keindahan yang sedang mereka ukir di dalam hati dan jiwa dengan baik-baik. Sunghoon dan Jaeyun, yang selalu mengindahkan hal terkecil tentang mereka dan selalu bersyukur atas satu sama lain.
They are lucky to have each other.
