Work Text:
ᓚᘏᗢ
Kedai ini buka pukul 11.00 pagi.
Setelah lama kosong, rumah tua yang berada di tepi pantai itu dibeli oleh dua orang bersaudara. Mereka juga melakukan renovasi; mengubah satu ruang sisi timur rumah menjadi kedai makanan. Ilalang depan rumah yang tumbuh liar dirapikan demi kenyamanan pengunjung, tanaman sulur dibiarkan membingkai kaca jendela dengan alami. Satu kursi panjang duduk manis di bawah rindang pohon besar. Si Kakak berperan sebagai kepala kedai, sedangkan Si Adik bertugas membantu mengelola bahan dan administrasi. Para warga mengenal mereka sebagai Aohitsugi bersaudara.
Itulah yang diceritakan oleh ibuku sebelum kami berpisah.
Pemilik kedai, Aohitsugi Samatoki—kendati bertampang garang dan punya tato naga di sepanjang tangan kirinya adalah seseorang yang baik hati. Buktinya, dia yang pertama kali menyambutku saat pembukaan kedai. Setelah itu pun, dia masih memperdulikanku. Ia selalu memberiku rebusan kaldu sapi atau ayam di siang hari, dan ikan panggang di malam hari. Jujur, sikap ramahnya itu yang membuatku sering ke sini. Uh, bukan berarti aku merasa nyaman, ya.
Aohitsugi Nemu, atau Nemu-chan bersikap sangat ramah terhadap orang-orang. Meskipun kami jarang berinteraksi karena kesibukannya di sekolah, tapi Nemu-chan selalu hadir menjadi karyawan tidak tetap pada liburan musim panas. Usai lulus SMA, Nemu-chan diterima di universitas luar kota. Hal itu menyebabkan Samatoki berpredikat sebagai satu-satunya penghuni rumah sekaligus pengelola kedai makanan.
Aku ingat ketika memasuki Minggu pertama musim panas. Samatoki sedang menggoyangkan penggorengan panas berisi nasi, tiba-tiba seseorang datang ke depan meja kasir. Buru-buru ia menyerahkan pekerjaannya pada Satoru, mahasiswa yang bekerja paruh waktu di sana, lalu menghampiri pelanggan itu.
Pelanggan itu bertubuh tinggi tegap, berambut oranye kecoklatan (serupa langit sore), memakai jaket kulit hitam dan celana panjang. Dalam sikap sedingin udara malam, ia bertanya mengapa sepeda motor miliknya yang terparkir di depan kedai penuh dengan coretan spidol permanen. Samatoki menghela napas sambil mengusap wajah, sudah bisa menebak ini ulah siapa.
Ia meminta maaf kemudian mengambil kain lap beserta alkohol. Sambil membersihkan coretan abstrak (yang tak lebih bagus dari ceker ayam), Samatoki menuturkan bahwa kejadian ini disebabkan oleh keisengan anak-anak SMP yang lewat kedai sepulang sekolah. Ia juga berjanji akan lebih memperhatikan keamanan demi kenyamanan pelanggan.
Omong-omong Samatoki tidak bohong, sebagai saksi mata aku bisa menjamin.
Tidak ada tanda-tanda kemarahan pada wajah pria itu. Ia hanya memberikan senyum maklum. Merasa tidak enak, akhirnya Samatoki memberi potongan harga.
Selang dua hari kemudian, dia datang lagi. Kali ini Samatoki berhasil meringkus tiga anak SMP yang mencoret badan motor pria itu. Dengan memasang tatapan membunuh, Samatoki menyuruh mereka minta maaf dan berjanji tidak akan pernah mengulanginya. Pria itu sontak tertawa, suara merdunya mampu menyadarkan Samatoki jika ada zat adiktif baru selain nikotin yang diisapnya setiap hari.
Dari kejadian ini pula mereka saling berkenalan.
Pria itu bernama Riou.
ᓚᘏᗢ
Tidak bermaksud bersaing, tetapi aku merasa kalah cepat karena setiap hendak mengambil makan malam pria besar itu sudah berada di kedai.
Riou duduk di sudut meja dekat dapur terbuka; tempat Samatoki membuat semua pesanan. Belum lama ini ada orang baru, mantan host dari Shinjuku yang menempati posisi koki. Samatoki mungkin memang butuh bantuan ekstra agar pelayanan lebih maksimal atau agar punya waktu lebih banyak buat ngobrol dengan Riou.
Ketika keramaian kedai mulai terkendali, aku masuk. Benar saja, Samatoki sedang menyandarkan badan di meja sambil melipat tangan. Di depannya, Riou memiringkan kepala seraya berbicara seputar hidupnya; dia tinggal di rumah berjarak lima kilometer dari kedai, memiliki tetangga lansia yang sudah dianggap ayah sendiri (ayah kandungnya seorang veteran), dia bekerja sebagai desainer situs lepas, dan lain-lain. Samatoki pun menimpali dengan cerita kalau dia juga belum lama pindah, memiliki hubungan dingin dengan sang ayah, dulu punya dua anjing dan sebagainya.
Entahlah, waktu itu aku melihat ekspresi wajah Samatoki melembut (seperti saat melihatku), tak jarang ia tersenyum dan menyajikan tawa singkat. Riou juga seperti menikmatinya, seolah-olah sisi manis itu hanya untuknya.
Maaf, Bung. Bukan seperti itu cara mainnya.
Karena terlalu lama dan perutku sudah keroncongan, lantas aku memanggil Samatoki.
Ia tertegun, lalu tersenyum padaku. Riou, sekarang kau lihat sendiri, siapa yang lebih dulu merebut perhatian dan perasaan sang pemilik kedai. Haha, kedudukan berubah jadi 1-1.
Samatoki berjalan ke dalam, menyiapkan pesananku. Kuamati lagi pria yang mengenakan kaus merah dan celana kamuflase selutut ini.
Ah! Dia berbalik menatapku!
Tunggu, jangan salah paham. Aku masih setia waspada, pupilku mengecil bak pisau tajam, cakar dan gigiku siap keluar kalau kau berani macam-macam.
Namun, justru aku salah sangka. Malahan, Riou menarik kedua sudut bibir, ia tersenyum. Mungkin mau memberiku salam perkenalan.
Jujur, aku tidak peduli. Ada hal penting yang lebih pantas dinanti.
Samatoki kembali membawa panci kecil berisi campuran kaldu, daging ayam dan tulang rawan. Aku mengucap terima kasih, kemudian ia mengusap kepalaku.
'Makanlah yang banyak,' katanya. Ya, Samatoki, tanpa kaubilang pun aku pasti menghabiskannya.
Lalu, ia mengalihkan perhatian menuju Riou lagi.
Baiklah, karena kau sudah memberi pesanan dengan porsi besar, aku akan membiarkanmu kali ini.
ᓚᘏᗢ
Sebelum matahari meninggi, Samatoki sudah pergi menyeberang laut untuk membeli bahan persediaan dan ikan favoritku.
Akan tetapi, agaknya Riou tidak tahu kalau pada Hari Sabtu kedai buka pukul 06.00 sore.
Aku merasa kasihan pada pria itu. Setelah aku menyantap habis pesanan, kulihat Harley Davidson miliknya terparkir di depan kedai. Ia melirik kanan kirinya bingung, tak terlihat adanya kehidupan di balik kaca pintu. Lama ia menunggu sambil duduk di kursi depan kedai. Mata birunya memperhatikan sekitar. Dan hanya butuh beberapa menit baginya untuk menemukan keberadaanku.
Senyum itu mengembang, dia bangkit dari duduknya. Aku bisa merasakannya, getar langkahnya, lambaian tangannya, arah matanya…
Sial, kali ini aku harus pergi. Kuangkat tubuhku, kuayunkan keempat kakiku menyusuri dinding gerbang pembatas ini.
Tidak. Aku tak mau menjawab pertanyaan seperti: Hey! Apa kabarmu? Omong-omong kenapa kedainya tutup? Dimana Samatoki?
Aku mulai lari.
Aku sempat menoleh dan mendapati raut wajah yang mengendur, ia sedikit kecewa.
Maaf, Bung. Terpaksa aku undur diri.
ᓚᘏᗢ
Tunggu, aku tidak boleh meremehkan sifat adaptif pria ini.
Setelah mengetahui jam kerja kedai, kunjungan Riou pun terjadwal dengan rapi.
Tidak sepertiku yang datang untuk mengambil pesanan, tiduran dan merangkap sebagai cctv, di setiap kehadiran, Riou membawa topik pembicaraan baru yang segar. Meskipun nantinya yang paling banyak bercerita adalah Samatoki, Riou justru betah mendengarkan. Jam pertemuan pun lebih padat, mungkin lebih sering daripada aku.
Apakah ini artinya kedudukan berbalik jadi 1-2? Oh, sial.
Berbekal jiwa kompetitif yang membara, aku putuskan pergi ke kedai meski hari ini Samatoki mengambil libur karena menjenguk Nemu-chan. Aku akan menunggunya sampai pulang. Walau perutku nanti lapar, aku bisa tidur untuk mengalihkan perhatian.
Kuabaikan pejantan yang dari tadi memanggilku dari ujung tangga rumah di perempatan jalan. Aku tak punya waktu. Aku buru-buru.
Matahari sudah agak condong ke arah barat saat aku sampai di kedai. Bangunan itu masih setia tutup, tapi… Sialan! Aku melihat Harley Riou terparkir rapi. Berdiri sendiri, di bawah pohon rindang samping rumah. Aku kalah lagi, skor resmi menjadi 1-2.
Aku berjalan kecil ke arah pintu. Kenapa sepi sekali?
'Samatoki? Kau ada di dalam?' panggilku mencakar pintu.
Tidak ada jawaban.
Aku memanjat permukaan kayu, memanggilnya lebih keras. 'Samatoki?'
Lalu aku mendengar langkah kaki.
'Samatoki? Kau sudah pulang? Kenapa kau tidak membuka pintu? Aku sudah jauh-jauh datang!' cecarku nyaris tanpa jeda.
Pintu pun terbuka. Aku mendongak dan menatap pemilik kedai ini.
'Kau rupanya.'
'Ya, aku. Aku dari tadi memanggilmu, tahu!' kataku.
Seolah mengerti, Samatoki membungkuk, menggendongku di depan dada.
'Aku sedang memasak jadi aku tidak mendengarmu. Maaf.'
'Tolong jangan ulangi lagi,' balasku mengerjapkan dua mata.
Kami sampai di dapur terbuka. Aku berusaha turun, tapi Samatoki membelok ke kursi. Sengaja untuk kujadikan tempat mendarat.
'Tunggu di sini, ikan panggang kesukaanmu segera datang.'
Aku menjawab 'Ya' sambil merapikan bulu yang berdiri akibat dekapannya.
Setelah itu, arah mataku berubah menuju kabinet dapur. Di sana, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Riou sedang menumis lembaran daging dan paprika merah. Bagian depan tubuhnya terlapisi celemek abu-abu.
Mataku melebar, lidahku terjulur belum sempat kutarik kembali.
Aku terkejut.
Dia… bisa memasak?
Sulit dipercaya.
Aku harus berhati-hati dengan kemampuan tersembunyi yang dia miliki.
'Ini dia.'
Rasa terkejutku lenyap ketika Samatoki datang membawa ikan panggang. Aroma sedap dari ikan membuatku terlena dan tak menghiraukan rahasia pria itu. Untung saja Samatoki tidak menangkap suara perutku. Bisa malu aku.
Lagi-lagi aku mendapat porsi lebih besar. Ah, aku tahu, ikan ini dari Nemu-chan, ‘kan? Sudah kuduga, dia pasti merindukanku. Aku memang percaya diri. Patut dibanggakan karena tak semua makhluk memilikinya. Terutama manusia.
Bagaimanapun juga aku yakin Samatoki memberiku porsi lebih banyak untuk menunjukkan rasa senangnya sebab keadaan Nemu-chan baik-baik saja di sana. Syukurlah, maksudku terserah.
Karena tenagaku habis untuk berlari dan melahap ikan panggang, kini aku mulai mengantuk. Aku pindah ke kursi berbantal tipis sebelah kabinet dapur. Aku membuat gerakan melingkar sebelum duduk membersihkan diri.
Mereka belum selesai memasak. Kulihat Samatoki sedang menyiapkan dua mangkuk kecil berisi nasi panas, uapnya masih mengepul di udara, sedangkan Riou sambil menunggu air menyusut dan lemak daging keluar, ia mengaduk sesuatu dalam panci. Kalau dari baunya… seperti sekarung sayuran yang direbus bersamaan. Sungguh tak menggugah selera.
Aku menguap, kekenyangan. Kulipat kaki depan untuk tumpuan kepala; selesai membersihkan diri.
Kulirik mereka sekali lagi dengan malas.
Hmm?
Mereka berhenti menggerakkan anggota badan. Mereka diam. Waktu seolah membeku. Ada segumpal ruang hampa yang mengelilingi mereka. Keduanya berada dalam medan magnet terkuat yang tercipta antara biru dan rubi. Mereka saling menatap. Sedikit lebih lama dari sebelumnya.
Waktu mulai berjalan lagi ketika Riou mengayunkan tangannya ke arah Samatoki. Ia meraih pinggang Samatoki, menariknya perlahan sampai terciptalah sebuah pelukan. Tangan Samatoki melingkar di leher Riou, mengait lemah. Wajah mereka mendekat. Hidung mereka bersentuhan.
Aku menguap lagi. Astaga, ngantuk sekali.
Satu hal yang aku lihat sebelum menutup mata adalah bibir mereka yang bersatu. Melekat dalam pelukan yang semakin erat.
ᓚᘏᗢ
Sering aku mendengar orang-orang mengucap sepasang lawan kata dalam kalimat seperti: panas-dingin, kanan-kiri, siang-malam…
Sabtu-Minggu? Bukan, itu bukan lawan kata.
Namun, aku baru tahu kalau lawan kata itu juga berlaku dalam hubungan manusia.
Jika mereka merasakan sisi manis, maka mereka juga pernah mencicipi sisi pahit.
Masih terbayang jelas dalam memoriku. Hari itu, seorang wanita di balik layar kaca menyebutkan bahwa daerah kami akan dilanda hujan berintensitas tinggi disertai angin.
Malamnya, badai benar-benar datang. Derai hujan mengguyur deras. Angin berembus meratakan mendung ke seluruh wilayah. Ombak bergerak ganas, menggoyangkan perahu-perahu dermaga. Petir menggelontor, serbuan kilat mengubah langit seperti siang.
Aku sembunyi-sembunyi masuk ke kedai Samatoki sebelum tutup. Meringkuk di bawah meja, berusaha tidur dengan alas lantai yang dingin. Lampu dapur masih menyala, Samatoki sibuk memanaskan sisa kare. Jam menunjukkan pukul 12.00 malam.
Di tengah gempuran badai, tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Aku tersentak kaget, mataku terbuka lebar. Bunyi ketukan itu datang bertubi-tubi, kulihat Samatoki tertegun, lalu mematikan kompor dan bergegas menuju pintu depan kedai.
Ketika ia membuka pintu, bayangan pria tinggi besar memenuhi pandanganku. Samatoki mundur beberapa langkah sejenak, kemudian saat sadar ia langsung menarik tangan orang itu ke dalam.
Sosok itu sangat familier...
Riou?
Mengapa dia ke sini? Mengapa dia bersedia menerjang badai hanya untuk bertemu Samatoki? Tidakkah lebih baik berkunjung esok hari?
Aku positif tak mengerti.
Sekujur tubuh Riou basah kuyup. Pakaian yang dikenakannya menyerap air terlalu banyak; terlihat sangat berat. Basah pola sol sepatunya tercetak di atas lantai yang kering. Ia berjalan gontai seolah siap jatuh kapan saja. Kepala Riou tertunduk, bulir demi bulir air menetes dari dagunya.
'Apa yang terjadi?' Aku dan Samatoki punya pertanyaan yang sama.
Riou perlahan mengangkat wajah, hanya perasaanku atau memang aku tak melihat binar hidup di mata birunya?
Samatoki mengulangi pertanyaannya.
Dengan bibir gemetar, ia menjawab, 'Aku gagal.'
Bahu Samatoki menegang beberapa saat, tapi kemudian berangsur lemas. Ia mengambil napas, berusaha tenang.
'Tidak apa-apa.'
'Harusnya bisa lebih cepat membawanya ke rumah sakit.'
Samatoki menggeleng pelan, memeluk tubuh dingin itu tanpa ragu. Tak peduli jika ia ikut basah, tak peduli ia bisa sakit.
'Ini bukan salahmu.’
Tepat saat mengucapkan tiga kata itu, Riou akhirnya membalas pelukan Samatoki.
'Aku tak bisa menyelamatkan Ayah.' Dia mengulangi penyesalannya.
'Kau sudah melakukan yang terbaik. Kau harus yakin semua akan baik-baik saja. Tenanglah, aku di sini.’ Satu dosis kalimat penenang Samatoki berhasil membuat Riou mulai menerima.
Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Melihat keadaan Riou sekarang, aku rasa ia sedang terpukul oleh kenyataan. Mata itu sarat akan rasa kehilangan. Dia sedang berduka.
Ada seutas tali tak terlihat yang menghubungkan perasaanku dengannya. Situasi ini sangat tidak asing. Aku dejavu. Di balik raganya yang berusaha tegar, aku tetap dapat merasakan badai lain yang melanda. Lebih ribut, lebih dahsyat. Mengguncang, memporak-porandakan isi hatinya.
Riou, mungkin aku tak bisa memberikan kata-kata sebaik Samatoki, mungkin juga aku tak bisa mengobati luka hatimu. Namun, kau harus tahu, secara ajaib kita sedang berbagi perasaan yang sama, aku sangat memahami, lebih dari sekadar berempati karena… aku juga pernah seperti itu.
Kita semua pernah berduka. Dan itu tak membuatmu menjadi makhluk yang lemah.
Ah, mendadak aku kangen ibu.
ᓚᘏᗢ
Hari-hari terlewati. Nama bulan di kalender terus berganti. Kedai Samatoki masih sama, buka pukul 11.00 pagi. Aku masih sering mampir, memesan makanan di sini.
Hanya ada satu anomali.
Kalau biasanya berkunjung dengan mengendarai sepeda motor, tapi kali ini Riou datang bersama Van tua berwana hitam, lengkap dengan kopor yang tumpang tindih di bagasi.
Aku yang sedang duduk di kursi panjang depan kedai menyaksikan mereka berbincang. Sejauh yang kudengar, Riou hendak berangkat ke suatu tempat. Jauh… jauh sekali ke Barat.
'Kau sudah yakin dengan keputusanmu?' tanya Samatoki berdiri di ambang pintu.
Riou yang sedang mengencangkan tali tasnya membalas, 'Ya. Tidak ada salahnya menjadi relawan.'
'Dengan memilih daerah terjauh?'
'Samatoki, di sana kekurangan bantuan logistik dan perorangan. Lagi pula kami akan bergantian secara berkala. Jika sudah ada uluran bantuan dari lembaga lain, tugasku selesai.'
Kulihat alis Samatoki masih mengkerut. 'Bagaimana aku tahu keadaanmu di sana? Bagaimana kalau kau terluka?'
‘Terima kasih, kau sangat perhatian. Tapi tak usah khawatir berlebihan. Aku tidak sendiri, ada 50 relawan lainnya yang berangkat,’ seutas senyum terukir di wajah Riou, ‘kalau kangen, aku pasti kirim surat.’
Tak ada raut puas dari penjelasan Riou. Samatoki mendengus singkat, 'Aku tidak khawatir berlebihan. Aku kesal karena harus menerima kenyataan bahwa aku tak bisa melindungimu.'
Riou melangkah ke arah Samatoki. Tasnya ia sampirkan di lengan kanan.
‘Betapa beruntungnya aku memilikimu, Samatoki.’
'Jangan menghiburku dengan omong kosong, berengsek!'
Riou tertawa pelan sambil mengusap punggung tangan Samatoki dengan ibu jarinya. Menenangkannya.
‘Batalkan saja.'
Riou menggeleng, 'Tidak bisa. Aku sudah terdaftar, tim sudah terbentuk. Terlebih, mereka membutuhkanku.'
Samatoki menarik tangannya, 'Aku juga membutuhkanmu.'
Mataku menyipit, melihat semburat merah di kedua pasang telinga mereka.
Riou menghela napas, kemudian menangkup pipi Samatoki dengan sebelah tangan.
'Aku janji, kau tidak akan menunggu lama.'
'Kau harus kembali dalam keadaan utuh.'
Riou tak tahan lagi. Ia mendekat lalu mencium bibir Samatoki lembut. Saling menutup mata, keduanya menikmati salam perpisahan yang manis.
Dan aku, di kursi ini, menyaksikan dengan canggung.
'Aku berangkat. Sampai jumpa, Samatoki.' Riou pamit seraya berjalan mendekatiku.
Aku sedikit mendongak, sengaja membiarkan tangan besarnya mengusap kepalaku. 'Aku berangkat, sobat kecil. Jaga dirimu baik-baik, dan tolong jangan biarkan Samatoki kesepian.'
Ingin sekali aku memutar kedua bola mata. Manusia ini, berani-beraninya dia memberi perintah padaku. Kau tahu, Riou? Aku dan Samatoki sudah berteman dari pertama kali ia pindah ke sini. Permintaan kecilmu itu tak ubahnya seperti bernapas; sadar tidak sadar telah kulakukan.
Riou pun bergegas masuk mobil. Menginjak pedal gas lalu menghilang di pertigaan jalan.
Waktunya berdeklarasi. Dengan ini, secara resmi skor berubah menjadi 2-2 karena selama Riou pergi, aku akan berada di sisi Samatoki, jauh…jauh lebih lama.
Terima kasih.
ᓚᘏᗢ
Musim panas tahun berikutnya, anakku sudah tiga.
Si Sulung dan Tengah sedang berguling-guling di bawah sinar matahari. Si Bungsu menempel di perutku, sedang menyusu.
Aroma bermacam-macam olahan makanan menyebar bersama asap tipis dari kedai. Dapur sudah sibuk sejak pukul 03.00 pagi. Khusus hari Minggu kedai buka satu jam lebih awal. Samatoki mendapat dua karyawan baru: Akira, teman satu jurusan Satoru sekaligus pengganti Hifumi (mantan host Shinjuku yang keluar untuk berganti pekerjaan), dan Ichiro, putra penyuplai hasil laut langganan Samatoki. Oh, iya, satu lagi, seseorang karyawan tidak tetap yang menghabiskan liburannya di kedai; Aohitsugi Nemu.
'Ichiro! Persediaan bir, soda dan telur hampir habis. Belilah sekarang! Kunci mobilnya ada di meja kasir!' kudengar Samatoki berseru dari dalam.
Tak lama kemudian pintu kedai terbuka, Ichiro muncul dengan kaus merah menyala dan celana jeans kedodoran. Satu kunci mobil berhasil ia genggam.
'Ada lagi yang harus dibeli, Samatoki-san?' tanya Ichiro.
'Tunggu, Ichiro-kun!' sergah Nemu-chan tiba-tiba berlari sambil mengalungkan tas putih kecilnya.
'Nemu? Ada apa? Kau ingin titip sesuatu?'
Nemu-chan yang mengenakan gaun terusan berwarna biru muda tanpa lengan itu tertawa. Manis sekali, sampai membuat Ichiro dan aku terkesima. 'Tidak-tidak. Aku ingin ikut membeli bahan-bahan bersamamu,' tuturnya seraya tersenyum ramah.
Ichiro tiba-tiba salah tingkah, dia mengusap hidungnya yang tak gatal. 'Samatoki-san tidak keberatan?'
Nemu-chan menggeleng, 'Tidak sama sekali.'
‘Uh… baiklah, kalau begitu.’
Nemu-chan mengeluarkan sebuah catatan kecil dari tasnya. 'Lihat, selain yang disebutkan Onii-chan tadi, aku sudah membuat daftar keperluan yang hampir habis dan kadaluarsa. Jadi, kita bisa sekalian membelinya.'
Kudapati mata Ichiro melebar senang. 'Ah, bagus sekali! Kita bisa menghemat waktu.'
'Ya! Ayo kita berangkat sekarang!' ajak Nemu-chan mengait lengan Ichiro dan berjalan menuju garasi.
Lama aku melihat mereka sampai tahu-tahu Si Bungsu merangkak menggapai hidungku, meminta atensi. Aku pun segera membersihkan wajahnya perlahan hingga ia mulai jemu dan menyusul kakak-kakaknya.
Deru mesin mobil terdengar jelas kemudian perlahan menghilang. Aku kembali mengamati keberadaan anak-anakku. Si Sulung bersembunyi dalam ilalang berusaha mengejutkan adiknya yang sedang melihat capung. Si Bungsu menggulingkan badan ke kanan kiri, meratakan paparan sinar matahari.
Hanya memerlukan sepuluh menit, sarapanku tiba.
Satoru tersenyum lebar membawa panci berisi daging ayam yang dicincang beserta kaldunya.
'Waktunya sarapan, Yuki,' ucapnya meletakkan panci di bawah kursi.
Aroma lezat itu tak pernah gagal menggodaku. Aku segera turun dan memakannya sedikit demi sedikit.
'Hati-hati, sebagian masih panas.' Ya, kau tak perlu memperingatkanku, Satoru. Ujung lidahku lebih cepat mengirim informasi itu.
'Yuki, suatu saat nanti apakah aku boleh mengadopsi salah satu anakmu?' tanya Satoru berjongkok di depanku.
Sontak aku mendongakkan kepala, menatapnya lekat-lekat cenderung curiga, ingin menelusuri motif sebenarnya. Kelopak mata yang sayu itu memandangku balik dengan lembut, jelas ada kesungguhan yang terpendam di sana.
Baiklah. Boleh-boleh saja mengadopsi salah satu dari anakku, asal kau harus merawatnya sebaik Samatoki.
Aku pun mengerjapkan mata perlahan. Dan senyum Satoru kembali mengembang.
'Aku anggap kau menjawab ya.' Satoru berdiri setelah mengusap kepalaku sedikit heboh, kemudian masuk ke kedai sambil pamer ke Akira.
'Akira! Yuki mengizinkanku mengadopsi anaknya!'
Samar-samar aku mendengar jawaban Akira. ‘Tahu dari mana? Oh, jangan-jangan selama ini kau bisa bahasa kucing?’
Lalu Satoru menyahut dengan menggerutu.
Aku meneruskan kegiatan menyambung hidup, alias makan.
Langkah masuk Satoru tergantikan oleh langkah keluar Samatoki. Ia berdiri di bibir pintu, lalu melakukan peregangan ringan. Rambut peraknya diikat, kemeja panjangnya dilipat hingga siku. Tato naga yang terpampang itu memicu rasa kagumku. Bagaimana bisa makhluk agung sekaligus predator kelas atas dapat takluk dan berakhir melekat di jenjang tangannya? Luar biasa. Pemilik kedai ini luar biasa.
Awalnya aku mengira kalau embusan angin cukup kencang yang membuat Si Bungsu lari dan langsung bersembunyi di balik ekorku, ternyata bukan, melainkan itu pertanda kehadiran seseorang.
Kegiatan makanku berhenti. Samatoki pun menoleh ke halaman.
'Maaf, kedai kami buka pukul….,' kata-kata Samatoki terbendung begitu melihat siapa yang berjalan mendekat.
Napasku ikut tertahan, melihat anak-anakku yang berlarian di antara langkah besar itu.
Bukan, dia bukan orang jahat.
Dia adalah oase di tengah gurun pasir. Dia adalah fatamorgana paling nyata. Dia adalah pelangi yang muncul setelah badai.
Dia adalah seseorang yang kami tunggu.
Dia, Riou, telah kembali.
Aku dan Samatoki terpaku melihat penampilannya. Riou hadir mengenakan kemeja hitam dengan kaus dalam abu-abu. Rambut oranye kecoklatan miliknya dipangkas terlalu pendek, seperti rumput yang baru tumbuh. Tangan kirinya dipasangi gips, terbalut kain yang menggantung dari lehernya.
Binar mata birunya cemerlang, seolah disusupi rasa bahagia yang terlampau banyak.
Ia tersenyum, hangat.
Entah mengapa kaki belakangku menegak. Si Bungsu sampai terjungkal tapi tak usah khawatir, dia bisa bangun sendiri. Tanpa memastikan aroma tubuhnya, tanpa berpikir dua kali, aku berlari ke arahnya.
Halo! Riou! Sobat sekaligus rivalku! Selamat datang!
Kutabrak tulang keringnya, kemudian mengusap hampir ke semua permukaan celana, mondar-mandir sampai buluku tertinggal di sana. Dua anakku sempat memandang heran, tapi mereka lalu meniru apa yang kulakukan. Cuma Si Bungsu yang masih terduduk dengan tanda tanya besar di kepala—dia memang sedikit pemalu, seperti ayahnya.
Siapa kucing besar itu? Mengapa ibu menyambutnya dengan gembira? Apa yang sedang kalian lakukan? Begitu, kira-kira.
Anakku, tunggulah ibumu bercerita. Untuk sekarang, nikmatilah musim panas tahun ini dengan perasaan bahagia. Iya, 'kan, Sama…toki…?
Eh?
Sontak aku terdiam saat memandang sang pemilik kedai. Wajahnya datar, sungguh berbanding terbalik dengan diriku yang diterpa euforia. Ekspresinya mengandung unsur-unsur tersembunyi. Sangat sulit ditebak. Hal itu entah mengapa membuatku cemas.
Dan takut.
'Aku pulang..' sapaan Riou kuabaikan. Terlalu fokus pada Samatoki.
Samatoki mengambil langkah pertamanya. Ketenangan sekaligus ketegangan ini membuat aku dan anak-anakku sedikit menjauh.
Ia terus berjalan sampai di hadapan Riou.
'Lihat dirimu', aku mendongakkan kepala, 'aku berpaling sebentar, dan kau sudah babak belur begini,' nada Samatoki rendah, aku tahu dia sedang menahan amarah.
'Ternyata kau benar,' ucap Riou memberi jeda. 'Seharusnya aku tidak usah pergi.'
'Hanya itu?!' tanya Samatoki melipat tangan di dada. Nadanya menantang.
Anak-anakku kehilangan minat dan mulai terdistraksi oleh ilalang yang berayun-ayun. Si Bungsu akhirnya bergabung, menyisakan aku yang masih menyaksikan pertemuan dua pria ini.
'Apa maksudmu?'
Kulihat wajah Samatoki mengeras, rahangnya mengencang.
'Hanya itu penjelasanmu? Kau mau membiarkanku berdiri seperti orang bodoh, sambil menerka-nerka apa yang terjadi padamu?!'
'Itulah mengapa aku datang ke sini. Banyak pengalaman berharga yang ingin aku ceritakan padamu.'
Samatoki menggelengkan kepala. 'Kau tidak punya rasa menyesal sedikitpun.'
'Aku menyesal tidak bisa pulang lebih cepat,' kelopak mata Riou turun perlahan, 'tapi aku tak pernah menyesal telah membantu orang lain.'
Tangan kanan Riou terulur memeluk Samatoki. Mengusap pelan punggungnya.
'Kau selalu seperti ini. Terlalu mementingkan diri sendiri tanpa sadar kalau ada orang lain yang memperdulikanmu.'
‘Aku hanya ingin membuktikan kalau aku berguna.’
‘Berhentilah meyakini idealisme konyol macam itu.’
Kusadari emosi Samatoki mulai turun. Kedua tangannya mulai membalas pelukan Riou.
'Sejak awal, kau tidak perlu menebus rasa kehilangan dengan pengorbanan. Itu hanya akan menyiksamu,' katanya sambil menyandarkan kepala di bahu Riou.
'Baik, aku mengerti. Setidaknya aku kembali dalam keadaan utuh, 'kan?'
'Diam atau kau kuhajar.'
Cukup lama mereka berpelukan sampai akhirnya Samatoki mengambil napas dan menegakkan punggung. 'Astaga, ini rasanya sangat canggung.'
Kudengar Riou tertawa singkat, lalu melepas pelukannya.
'Sebelum bercerita, kau harus makan. Kau mirip mayat hidup,' ujar Samatoki menunjuk Riou, dari sini pun aku juga tahu bahwa pria itu memang kehilangan beberapa pound berat badannya.
'Tapi, kau bilang kalau kedai belum buka.'
Samatoki mendecakkan lidah, 'Pelayanan khusus bagi pelanggan setia. Tak usah banyak protes.'
'Yuki,' aku berjengit ketika Samatoki memanggil namaku. Jari telunjuknya mengarah pada meja kursi depan kedai. 'Tolong temani pelanggan ini selagi aku membuat sarapan,' perintahnya.
Biasanya aku menolak, tapi melihat siapa pelanggan khusus ini, aku dengan senang hati menunjukkan tempat duduknya.
Riou, ikuti aku.
Tertegun sejenak, Riou pun melangkah di belakangku. Samatoki masuk ke kedai dan mulai menyiapkan bahan serta peralatan.
'Tempat yang nyaman.' Riou berucap saat duduk di meja pilihanku.
Aku tak membalasnya, lebih memilih naik ke atas meja sambil mengawasi anak-anakku.
Dari ekor mata, kulihat Riou sedang mengamati sesuatu yang berkilau di leherku. Jemarinya terulur, menyibak bulu-buluku yang menghalangi tulisan di kalung.
'Jadi namamu sekarang adalah Yuki?' tanyanya.
Ya, kau telah mendengarnya sendiri dari Samatoki.
'Nama yang bagus, cocok untukmu.'
Tentu saja. Jika boleh aku mengulang, perkenalkan, namaku adalah Aohitsugi Yuki. Tercatat resmi setelah usia kandunganku dua minggu.
Aku mengira-ngira jika Samatoki menamaiku demikian karena buluku yang seputih salju, atau ketika tidur, aku mirip gumpalan bola salju yang besar. Entah mana yang benar. Hal yang paling penting, aku telah bersatu dengan keluarga ini.
'Terima kasih, Yuki.' Sontak aku menoleh, bingung.
Terima kasih? Untuk apa? Sambutan kecilku tadi?
Riou mengusap puncak kepalaku, 'Terima kasih sudah menemani Samatoki selama aku pergi.'
Ah, itu ya.
Bukannya peduli atau apa, aku tidak bisa mengabaikan permintaan rivalku begitu saja. Aku tetap menjaga persaingan kita agar tetap sehat.
Akan tetapi, kalau boleh memberi saran, aku ingin bilang: kau memang harus makan. Makanlah yang banyak. Sebab ketika berada di titik terendah, setidaknya ada satu hal yang bisa membuatmu bahagia. Ada kalanya kita harus bertahan, melihat situasi, lalu bangkit lagi. Bagaimanapun aku juga tahu, kita perlu tenaga untuk menghadapi kehidupan ini.
Terakhir… tunggu, tunggu.
Biarkan aku menjernihkan suara untuk mengulangi sambutanku.
Riou, sobat, rival, sekaligus rekanku, selamat datang kembali.
Aku senang kau telah kembali.
The End
