Work Text:
Upacara penerimaan siswa baru dihelat di SMA Royal Clover Academy dimana para siswa berprestasi yang datang dari berbagai kalangan di negeri Semanggi berkumpul dengan khidmat mengikuti acara hingga usai. Mereka semua telah mengenakan seragam musim panas, didominasi dengan kemeja putih dengan logo sekolah berbentuk semanggi berdaun tiga di sakunya. Beberapa memakai dasi supaya nampak lebih rapi. Ada pula yang memakai luaran rompi rajut berlogo semanggi di bagian dada.
Salah satu peserta didik baru yang menghadiri acara itu adalah Yuno Grinberryall. Anak laki-laki jangkung yang tampan berambut hitam dengan mata beriris emas. Seragam yang ia kenakan saat itu hanya kemeja putih lengan pendek dengan logo sekolah di saku. Bawahannya celana hitam polos. Ia membawa tas ransel hitam senada dengan celananya. Ia sama sekali tidak terlihat mencolok, tetapi tidak bagi siswi yang diam-diam mengamatinya bahkan membahas tentangnya dari jauh. Seusai mengikuti acara sampai ujung, pemuda itu pun langsung berjalan pulang saja tanpa basa-basi menyapa ataupun berkenalan dengan teman-teman baru di sekolahnya.
“Yuno? Yuno, bukan, sih?” celetuk seseorang tepat ketika Yuno memijakkan kakinya di gerbang, hampir sukses keluar dari area sekolah. Ia terkejut spontan mencari asal suara tersebut yang rupanya datang dari luar gerbang. Seorang anak perempuan pendek yang berambut pirang keabuan menjuntai menuruni bahu dengan antena dan sarang burung di puncak kepalanya. Ada bando kuning pastel yang melingkar di atas dahinya. Gadis yang manis bermata hijau cerah. Wajahnya terlihat ramah. Dan tubuhnya, aduhai molek sangat. Gundukan buah dadanya sungguh tidak biasa ukurannya. Mereka tumbuh sangat subur dan besar.
“Siapa ya?” sahut Yuno setelah lama mengamati penampilan siswi yang menyapanya dengan ragu itu.
“Ini aku, lho. Asta. Masih ingat, tidak?”
‘Asta? Tunggu, aku cuma tahu satu Asta dalam hidupku,’ batin Yuno dengan sebulir keringat yang meluncur bebas dari dahinya. Seingatnya, Asta itu teman semasa TK-nya.
Yuno kembali memeriksa gadis yang mengaku sebagai Asta dari rambut dan warna matanya untuk dicocokkan dengan sosok Asta dalam ingatannya. Sementara Asta yang berdiri di hadapannya tidak sabar menunggu Yuno berdiam memproses ingatannya, sehingga ia kembali berbicara, “Asta yang teman TK-mu itu, lho! Masih ingat, kah?”
Terang saja, ekspresi Yuno langsung berubah drastis bak disambar petir di siang bolong. Yang ia kenal, Asta itu anak laki-laki—ia kira begitu. Karena di masanya, Asta adalah anak yang super duper aktif. Ia suka bermain hal menantang yang biasa dilakukan anak laki-laki. Memanjat pohon, berburu serangga, dan menangkap ikan. Ia pun sama sekali tidak terlihat feminin. Ketangkasannya jauh melebihi anak perempuan pada umumnya dan rambutnya pun pendek. Wajar Yuno mengira dan menganggap Asta sebagai anak laki-laki karena segala tindak tanduknya yang sangat mendukung itu.
“Jadi, kau selama ini sebenarnya perempuan?” tanya Yuno yang masih syok dengan fakta baru bahwa teman masa kecilnya ini bukan laki-laki.
“Iya. Eh, tunggu. Jadi kau selama ini mengira aku laki-laki, toh,”
“Tentu saja. Kau… sama sekali tidak terlihat seperti anak perempuan. Barbar sekali melebihi aku,” timpal Yuno lugas dan menggebu, membuat Asta sedikit terserang hati kecilnya, ‘Menusuk sekali’ pikir gadis itu.
“Yah, tidak salah, sih. Tapi aku sudah berubah kok sekarang. Aku sudah mulai belajar berdandan layaknya gadis pada umumnya,” respon Asta sedikit cemberut mengepalkan kedua tangan di dadanya dengan gemas.
‘Imutnya,’ pikir Yuno menyaksikan tingkah kawan lamanya itu. Wajahnya memanas bersemu. Dilihat-lihat, Asta lumayan manis juga sebagai perempuan. Menggemaskan. Tapi dadanya yang kisaran berukuran cup E itu membuatnya tidak kuat lama-lama memandangnya.
“Baiklah. Kerja bagus. Kau sudah terlihat cukup feminin kok,” tanggap Yuno datar sembari mengacungkan jempol kanannya.
“Apa-apaan pujian itu? Kaku sekali!” Asta protes, merasa agak ganjil dengan tanggapan Yuno.
Yuno tersenyum, matanya kembali menyusuri penampilan sosok Asta yang baru baginya ini. Asta yang dulunya sangat tomboy sekarang memakai rok pendek yang menunjukkan sepasang paha montoknya. Tubuh pubernya kini sudah menyerupai gitar spanyol. Dengan penampilan seperti itu, Asta memantik jiwa kejantanan Yuno untuk melindunginya dari kejamnya dunia.
“Mau pulang bersama?” ajak Yuno, inisiatif.
.
