Actions

Work Header

Rectum Consilium

Summary:

mingyu dan wonwoo menjadi kekasih di pertemuan mereka yang ke 4. tanpa cinta, hanya berdasar kata hati mereka, dengan harapan keduanya berhasil dengan hubungan mereka. mungkinkan hubungan yang diawali hanya dengan kata hati dapat berhasil untuk keduanya.

 

"Sometimes you make the right decision, sometimes you make the decision right."- Phil McGraw

Chapter Text

Satu persatu mesin roda dua yang berjajar rapi milik beberapa mahasiswa di kostan pandawa dinyalakan, tanda mereka semua Bersiap untuk Kembali mengasah ilmu di kampus, satu persatu dari ke 4 motor itu sudah terisi penuh dengan masing masing dua penumpang, sisa satu motor dengan pemilik yang belum berada di antara mereka

" gyu! Lama banget udah telat anjir"

Yugyeom bergerak tidak sabar, berteriak memanggil Mingyu, si pemilik motor, yang tidak kunjung datang

" Mingy-"

" permisiii.."

Suara teriakan Yugyeom terhenti dan perhatian seluruh kepala tujuh orang lain nya teralih kepada suara yang memotong teriakan Yugyeom, mereka saling tatap untuk sesaat sampai akhirnya salah satu di antara tujuh kepala disana sadar jika motor motor mereka menghalangi pintu masuk ke kostan pandawa

" ah, sorry sorry " Jaehyun  yang peka langsung segera memberikan kode kepada teman teman lain nya untuk bergeser

" maaf ya, gue cuma permisi mau lewat"

" eh iya Wonwoo, gapapa memang kita yang ngalangin jalan, Yug pindahin motor si Mingyu  "

Yugyeom yang sempet melamun sesaat- tak hanya Yugyeom tapi teman teman lain nya juga segera sadar dan bergerak cepat agar Wonwoo, sosok tampan sekaligus cantik yang berdiri di hadapan mereka bisa lewat untuk masuk

" mau ketemu siapa Won kalau boleh tau " tanya Jaehyun Kembali berbasa basi sambil menuggu Yugyeom memindahkan motor

" ah, gue mau cari Dino, dia dari kemarin ga ada kabarnya, kalian liat Dino di kamarnya ga?"

" kayanya ada deh, ga keluar itu anak dari kemarin siang"

" oke, gue samper langsung aja, takut nya dia sakit " Wonwoo tersenyum berterimakasih pada Yugyeom yang sudah selesai memindahkan motor besar terakhir yang menghalangi jalan nya tadi. " gue masuk ya, terimakasih semua"

Wonwoo melangkah masuk melewati sekumpulan mahasiswa itu tepat bersamaan dengan hadirnya Mingyu sosok yang ditunggu teman teman nya sejak tadi

" sorry lama, mules gue sumpah "

" yaudah ayo buru, telat kita semua ini nanti " Yugyeom memberikan helm milik Mingyu yang ada di genggaman nya

" itu- yang barusan, anak fakultas elektro bukan sih " gumam Mingyu, teman temannya menangguk kecil, ternyata mereka semua mengenal sosok Wonwoo

" Jeon Wonwoo Hisakara, manusia sempurna dari elektro" jawab Jaehyun

" iya, Wonwoo, yang gantiin lu, ke Kanada waktu lomba saintek  gara gara lu sekarat jatoh dari motor" sahut Bambam kali ini

" sekarat banget bahasa lu Bam "

" indah banget ye itu orang kalo dari deket beneran bening-"

" heh, pacarnya Dino itu" sela Jaehyun, Yugyeom seketika membekap mulutnya

" pacar Dino? Bukannya pacar Dino cewe yang nginep semalem?" Mingyu menatap teman teman nya bingung

" gatau dah Gyu, semua orang bilang mereka pacaran kan... udah ayo kita berangkat ini nunggu lu doang lama ya"

Mingyu hanya terdiam, ia menatap kedalam kost kostan nya sebelum akhirnya menaiki motornya dan Yugyeom segera naik ke belakang boncengan nya

.

.

Wonwoo sudah lama tidak berkunjung ke kostan yang di tinggali Dino ini, kostan 3 lantai milik pak pandawa. Wonwoo melangkah perlahan menaiki lantai ke 3 tempat Dimana kamar kost Dino berada, kostan Nampak sepi dan sunyi, wajar saja karena ini jam perkuliahan, yang wajar saja kalau semua penghuni kebanyakan berada di kampus saat ini

Terlihat dari kejauhan lampu kamar kost milik Dino menyala, Wonwoo tersenyum, sedikit ada rasa lega karena setidaknya sosok yang ia cari itu ada, tidak menghilang, namun senyum Wonwoo menghilang Ketika sampai tepat di depan kamar Dino, jendela yang sedikit tersingkap dari gorden di dalam kamar kostan membuat Wonwoo dapat melihat hal yang terjadi di dalam nya

Dino ada disana, sedang bercumbu mesra dengan seorang Wanita, cumbuan semakin panas, hingga pemandangan kedua nya melepaskan busana mereka pun tertangkap kedua mata Wonwoo , perlahan suara cumbuan panas erangan pun mulai terdengar sampai telinga Wonwoo, tanganya terangkat berniat membuka pintu kamar Dino, namun-

" Wonwoo.."

Kedua mata Wonwoo akhirnya berkedip, perhatiannya teralihkan, sosok yang sedang bercumbu tak lagi terlihat pandangan nya terhalang tubuh besar kini, tangan nya yang menggengam kenop pintu pun tertahan genggaman besar di pergelangan tanganya, Wonwoo tau siapa sosok besar yang berdiri menghalang pandangan nya kini, Mingyu.

" kita turun ya "

Wonwoo terdiam sebelum akhirnya tak memberontak dibawa oleh Mingyu pergi dari depan kamar kost Dino, Wonwoo masih terlalu terkejut hingga tak ada satupun kata yang bisa keluar dari bibirnya, Mingyu membawa Wonwoo ke ruang santai di lantai bawah, mendudukan tubuh Wonwoo duduk di sofa

" lu gapapa Wonwoo?"

Wonwoo terdiam tak ada satupun jawaban keluar dari bibir Wonwoo , sampai akhirnya Wonwoo hanya memberikan senyuman kecil sebagai jawaban untuk Mingyu, meskipun tersenyum namun Mingyu dapat melihat kilatan amarah dari kedua mata Wonwoo dengan jelas, Mingyu mengambil segelas air dari dapur yang di terima Wonwoo dan di sesapnya sedikit

" mau gue anter ga? Lo tadi kesini sama siapa? Maaf gue lancang ya Wonwoo udah ikut campur tapi gue rasa mergokin mereka lagi bebuat kaya gitu ga nyelesein masalah, maaf kalau gue tadi-.."

" iya ga apa apa, terimakasih udah stop gue tadi"

Wonwoo tersenyum lagi, Mingyu menghela nafas lega karena senyumnya lebih merekah di banding sebelumnya, sepertinya kondisinya sudah lebih baik

" mau gue-"

" hmm, gue boleh izin buat nunggu Dino disini?"

" lo serius mau ketemu Dino"

Wonwoo dapat menangkap tatapan mata Mingyu yang terlihat sangat khawatir terhadapnya, Wonwoo mengatur nafasnya, mencoba sebisa mungkin meredakan adrenalin yang meledak di aliran nadi nya

" gue lancang ga kalau mau nemenin lo disini nunggu Dino?" seru Mingyu kembali memecah keheningan di antara mereka "Boleh ya, emm- Won?

Wonwoo tersenyum, ah bahkan nyaris tertawa karena lelaki di hadapannya, ia faham jika pria di hadapannya kini tengah mencoba mengakrabkan diri.

Padahal ini pertemuan pertama mereka, mereka bukan sosok yang saling mengenal untuk sampai tahap bisa mengobrol seperti ini, jujur saja masih ada kecanggunan di antara mereka berdua,  tapi Wonwoo sangat ingin memuji keahlian seorang Mingyu dalam mencairkan suasana memecah kecanggungan dan membawa alur percakapan mereka tetap mengalir, yang perlahan Mingyu arahkan untuk membuat mereka jadi lebih akrab

" Nu, lo boleh panggil gue Nu"

" oke Nu "

" Mingyu kan?"

" eh lo tau gue?" Wonwoo terkekeh mendengarnya, ah Mingyu ini sengaja merendah atau memang dia tidak sadar seberapa tenar namanya dikampus

" lu anak rektor.."

" ahh, iya" Mingyu nampak kecewa sesaat, ia fikir Wonwoo memang mengenalnya sebagai sosok dirinya sendiri

" gue salah-kah?" Mingyu menggeleng cepat tersenyum

" lo panggil gue Igyu aja"

" eh?" kedua matanya memicing menatap Mingyu, Mingyu seakan tau apa yang di fikirkan Wonwoo

" gue ga lagi ngalus Nu, gue ga sebuaya itu "

" gue literaly belom ngomong apa apa?"

" iyaa tapi tatapan mata lo jelas banget natap gue skeptis gitu Nu" Wonwoo terkekeh kecil

" abis, ya- kaya yang kaget?, tiba tiba dialusin sama anak rektor,  presma univ yang famous tuh aga gimana ya Igyu-.."

Mingyu tertawa, tawa yang benar benar mencairkan suasana di antara mereka yang juga membuat perlahan emosi di diri Wonwoo mereda

" oke oke, gyu aja, gue sebuaya itu ternyata ya"

" se buaya itu Igyu "

" Nuu, udah, gyu aja"

Mereka berdua tertawa setelahnya, kecanggungan lenyap seketika seakan akan mereka teman karib yang sedang berbincang santai

" selamat ya Nu, buat lomba saintek di kanada, keren banget lu bisa menang dengan persiapan sesingkat itu"

" eh, iya makasih, tapi itu lomba udah setahun lalu banget?" Mingyu mengangguk kecil terkekeh

" maafin gue karena bikin lu kesusahan ya Nu"

" oh?"

Wonwoo mengingat sejenak kejadian yang cukup menggemparkan fakultas teknik setahun lalu itu, seluruh jurusan di fakultas teknik saat itu sedang antusias karena tahun ini kampus berhasil lolos ke putaran final kompetisi saintek dunia yang biasanya selalu di wakili oleh kampus teknik tetangga, namun salah satu mahasiswa tiba tiba tidak jadi ikut serta karena kecelakaan motor yang membuat mereka cukup kerepotan mencari pengganti.

Bagaimana tidak kerepotan, karena posisi yang Mingyu emban saat itu cukup krusial, Mingyu menjadi mahasiswa terpilih harus yang mempresentasikan literatur karya ilmiah miliknya juga bertanggung jawab menjadi ketua mahasiswa lain yang juga ikut serta berlomba dalam kategori kelompok.

Tidak banyak mahasiswa yang siap mempresentasikan karya ilmiah mereka di hadapan para orang orang cerdas dari belahan dunia lain. Dan pihak kampus pun tidak memaksa penuh mereka yang memang tidak siap karena kompetisi ini tidak hanya membawa nama harum kampus namun juga negara. Apalagi waktu tersisa hanya tiga minggu

Wonwoo, sebagai satu satunya yang pernah dan memiliki jurnal karya ilmiah yang sudah di presentasikan di tingkat nasional lah yang akhirnya di paksa untuk menggantikan posisi Mingyu, awalnya Wonwoo menolak keras permintaan itu, namun ketika sang kepala rektor yang turun langsung memohon kepadanya membuat Wonwoo akhirnya tidak tidur hampir dua minggu dan menggantikan posisi itu

Dan pilihan mereka tidak salah, kampus mereka memenangkan beberapa lomba dan menempatkan mereka di posisi kedua terbaik secara umum.

" lu, Kahima mesin yang kecelakaan itu gyu?"

" iya " Mingyu mengangguk kecil "tadi temen temen gue kasih tau kalo lu adalah pahlawan gue saat itu, kalo ga ada lu kayanya gue bakal seumur hidup ngerasa bersalah sama nyokap"

" lu harus lihat kondisi Bu Yuri saat itu gyu, kacau, kalau bukan Bu Yuri yang minta setulus hati hari itu, gue ga akan rela deh ga tidur hampir dua minggu buat persiapan dadakan itu"

" iya, makanya gue jadi anak baik sekarang buat mama Nu, adek gue cerita gimana mama tetep disamping gue selama gue kritis, dan dampingin gue terus pas gue terapi pemulihan tanpa ngeluh, dan denger cerita lu barusan gue makin sayang mama" Mingyu menujukan beberapa bekas luka akibat kecelakaan yang ia alami

" it must really hurt" Wonwoo sedikit meringis melihatnya

" lumayan, lumayan bikin kapok ngebut "

" tapi ga trauma naik motor ya"

" ga sampe sih"

" yang penting sekarang lu udah sehat kan"

" iya sih, Cuma ya sayang aja, kalo aja gue ga kecelakaan harusnya kita bisa ketemu lebih cepet-"

" memang mau apa kalau kita ketemu lebih cepet... Igyu?" Mingyu terkekeh mendengar Wonwoo menyela ucapanya, ah, kedua telinganya memerah, ia terlalu terbiasa bermulut manis pada para mahluk tuhan yang cantik dan indah, ia tidak sadar melakukannya pada Wonwoo juga

" hehe kebiasaan Nu"

" kebiasaan ngalus?"

" mulut gue auto manis kalo ketemu yang cantik cantik Nu, lu cant-"

" stop ga Mingyu" kepalan tinju Wonwoo sudah terlihat di hadapan wajahnya

" ampuun"

.

.

Setelah tak terasa hampir dua jam berlalu, terdengar suara pintu kamar dari lantai 3 terbuka, disusul dengan suara pria dan Wanita saling tertawa terdengar yang Wonwoo sangat kenali itu suara Dino,

" gue tinggal sendiri gapapa Nu? Atau masih mau gue temenin"

" gapapa Gyu, makasih ya, gue bisa hadepin sendiri si Dino"

" gue tunggu di luar ya Nu, motor gue di warung depan gang kalau ada apa apa "

Seiring kepergian Mingyu semakin dekat pula Langkah kedua insan terdengar, mereka saling berbincang tertawa seakan tak memiliki rasa bersalah padannya

Wonwoo berdiri ketika akhirnya Dino itu tiba di ujung anak tangga terakhir, membuat Dino mau tidak mau menangkap kehadiran nya, tangan Dino  yang melingkar di pinggang sang Wanita pun terlepas seketika ia melihat ada Wonwoo di hadapannya

" Won-u, lu kok disini" Dino seketika berjalan menghampiri Wonwoo

" gue cari lu, lu ga ada kabar, gue fikir lu mati"

" g-gue masih idup kok, lu dari kapan disini Nu?"

" dua jam yang lalu"

" dua jam? lu tunggu disini dua jam?"

" iya, gue udah naik ke kamar lu, tapi lu lagi ada urusan " Wonwoo menatap sejenak gadis yang masih berdiri di depan tangga " gue ga mau ganggu kegiatan enak lu itu"

Dino tercengang kaget, ia kehabisan kata kata, tak tau harus bersikap seperti apa karena Wonwoo di hadapan nya terlalu tenang, dan itu membuatnya semakin tak berkutik

" lo lupa kan"

" l-lupa?"

" beneran si anj- lo mau gue coret kah dari kelompok kita?"

" emang ada kelom-, anjir! Wonu, tugas pak syahid ya?"

" inget sekarang, mau ngulang lo?"

" jangan anjirr Wonuu, gue bego mata kuliah pak syahid, jangan campakkan sohib lu yang-"

" yang kaya anjing"

" Wonuuuu"

" gue nungguin lo dari dua hari lalu, lo ga ada kabar yaa Dino, gue udah mikir lo mati karena belajar buat kuis, pas gue samper lagi enak ngew-"

" Wonu sayaang, maapin Dino," Dino meraih kedua tangan Wonwoo di genggam nya memohon, Wonwoo kesal tapi ia tidak bisa untuk tidak lulus mata kuliah pak syahid yang super susah untuk lulus itu karena ia berencana untuk fokus skirpsi semester depan

" kita kerjain sekarang ya sayang? Oke gue anter cewek gue buat pesen ojek online dulu, lu tunggu sini, oke, ini gue batalin acara pacaran gue, nanti kita kerjain di kama-"

" ga ada, ke rumah gue aja, kamar kostan lo maasih penuh dosa"

" okee okee, kerumah lo aja, tunggu yaa Wonu ku sayang, Dino kedepan bentar"

Dino segera berlari menghampiri kekasihnya, Wonwoo kembali mejatuhkan tubuhnya di atas sofa, rasanya benar bener kesal, tidak, Wonwoo bukan sosok polos yang tidak paham pergaulan dewasa, ya walaupun belum pernah melakukan nya, hal ini sudah biasa Wonwoo lihat, hanya timing saja, Dino hanya melakukannya di waktu yang benar benar ga pas, sehingga sampai memancing emosi Wonwoo ketika melihatnya

" udah sayang, ayo kita kerjain tugas"

" stop sayang sayang "

" kan Dino sayang Wonu"

" kentut lah, buru, keburu siang, harus kelar hari ini pokoknya.."

" iyaa ndoroo "

Dino membukakan pintu mobilnya dan memperilahkan Wonwoo yang masih cemberut masuk ke kursi pennumpang dan memastikan sahabatnya itu duduk nyaman di kursinya.

Mingyu menatap hal itu dari ujung gang, sedikit di luar dugaan melihat Wonwoo masih sudi untuk satu mobil dengan pacarnya yang sudah dengan jelas tertangkap selingkuh, Mingyu merasa khawatir jujur saja, entah mengapa ada keinginan untuk membuntuti mobil Dino dari belakang

Sebuah dering telepon mengalihkan perhatian Mingyu sesaat, ia segera mengangkat panggilan salah satu temannya tersebut

" gyu, udah beres urusan?"

" bentar lagi yog"

" urgent ga sih, soalnya lo harus ke kelas deh sekarang, hari ini kuis dadakan"

" serius lo?"

" serius nyet, kata pak bandi ga jadi minggu depan, buru dah ke kampus"

" ck, oke gue jalan"

Mingyu bedecak, membiarkan mobil Dino melaju pergi, menyisakan gundah di hatinya, ia dengan berat hati segera melajukan motornya menuju ke kampus

.

.

" sumpah lo mergokin si Dino ngew-"

" jun sumpah ya mulut lo, berisik" bibir jun terbungkam kembali setelah melihat salah satu sahabatnya Jihoon bangkit dari kursi dan bersiap memukulnya,

" maap, terlalu anjir ini tuh, bisa bisanya si Dino"

" terus lo hajar ga si Dino " kali ini Jihoon menatap Wonwoo yang masih membaringkan kepalanya dengan lemas di meja kantin Wonwoo hanya menggeleng

" ga jadi, tadinya mau gue tonjokin pas lagi bugil bugilnya, tapi keburu di tahan gue sama si Mingyu"

" Mingyu?" respon ke tiga temannya bersamaan, ketiga temannya kini menatapnya penuh tanda tanya

" dia nahan tangan gue pas mau buka pintu kostan si Dino, terus gue di bawa turun kebawah, dan malah jadi ngobrol sama dia? Gue di temenin ngobrol nunggu Dino 2 jam an gitu"

" lu sejak kapan akrab sama dia?" tanya Hoshi kini, Jihoon dan Jun yang melihat rahang Hoshi yang sedikit mengeras tersenyum meledek

" eii pasang sabuk pengaman sodara sodara, kenceng banget itu urat ketarik" Jihoon mecubit kedua pipi Hoshi, niatnya agar rahang Hoshi mengendur

" ketar ketir ya ci.." ucap juna di sertai tawa dibibirnya, Hoshi hanya mendengus kasar, ia tak mengalihkan sedikitpun untuk mengubris ledekan Jihoon dan Jun. Fokusnya menunggu jawaban Wonwoo

" Nu? Kok ga di jawab" tanya Hoshi lebih lembut kali ini, sebuah helaan nafas panjang berhembus dari bibir Wonwoo

" ga deket? Gue baru ketemu dia hari itu, ngobrol juga baru kali itu, tapi memang dia pinter banget bangun suasana, jadi yaa ngobrol ngalir aja gitu, padahal ya baru kenalan?" jelas Wonwoo, ada helaan lega yang tak tersirat dari tatapan Hoshi,

" wajar ga si pinter ngomong, dia presma kampus kan"

" dia suka lo ga sih Nu?" jun asbun

" hah? Ngaco si jun, yakali tiba tiba naksir"

" yakali tiba tiba akrab? Dia dalam rangka apa nemenin lo nunggu si Dino beres ngewita coba"

" dia kayanya Cuma takut gue bunuh si Dino di tempat deh? Mukanya kaya khawatir gitu soalnya? Takut ada kasus pembunuhan di kostan dia"

" bisa jadi sii"

" mungkin" jihoon menjeda ucapannya sebentar seraya berfikir " dia mikir lo pacarnya Dino?"

" Gue sama Dino pacaran? Cerita darimana jir"

" lo ga tau orang orang mikir lo sama Dino itu pacaran ru?" kini Hoshi yang berbicara

" eh? Serius ada gosip begituan?"

" lah kemana aja lo Nu"

" lo berduaan terus sama Dino literaly kemana mana ya, hampir satu smester ini tuh kalian nempel mulu Nu"

" ya kan karena gue sekelas sama dia?"

" ya tapi orang orang lihatnya kalian sedekat itu Nu"

kalimat Hoshi yang terucap penuh penekanan membuat jihoon dan jun saling tatap, sebelum Wonwoo memberi bantahan lebih lanjut jian segera membungkam mulut Wonwoo dengan memasukan sesuap siomay ke dalam mulut Wonwoo

Jun dan Jihoon tau akan jadi perdebatan sengit di antara Hoshi dan Wonwoo jika obrolan ini di lanjutkan, Hoshi yang terlalu cemburu berkedok over protektif pada Wonwoo dan Wonwoo yang terlalu keras kepala tidak akan ada yang mau mengalah

" abisin dulu deh makanan kalian mending, habis ini gue sama Nu ada kelas, lo balik ke apart Ji?" Jihoon menggeleng kecil dengan pipi menggembung penuh

" gue sama oci mau ke perpus dulu, lo mau balik bareng kah sama kita? Kita bisa nunggu sampe kalian kelar kelas "

Wonwoo terdiam sejenak sebelum menolak halus, " gausah ji, gue nanti mau jemput dika di stasiun"

" eh dika pulang?" ucap Jihoon menyela

" iya, dika doang ji, abang ngga" jelas Wonwoo langsung, ia mengerti arah pertanyaan jihoon

" ohh"

" jadi jun mau bareng gue atau bareng jiun oci?"

" gue bawa mobil nyokap kok hari ini"

Mereka saling mengangguk setelahnya, kembali dalam obrolan kecil sambil menyantap makan siang mereka, sesekali tatapan Wonwoo mencuri pandang pada Hoshi yang kini tengah berdebat kecil dengan jian di hadapannya, ada senyuman di bibir Wonwoo yang dihasilkan dari degup membuncah yang selalu muncul kala kedua netranya memandang sosok di hadapannya, ah iya sudah sangat lama memang Wonwoo menaruh hati pada sosok Hoshi sahabatnya. Lihat saja kedua pipi Wonwoo yang bersemu ketika ibujari Hoshi mengusap noda saus kacang pada ujung bibirnya meski fokusnya tetap mengarah pada jiun, masih beradu argumen.

Kebiasaan mereka yang selalu bersama sejak sekolah taman kanak kanak menumbuhkan rasa terbiasa di antara mereka, rasa harus selalu ada untuk satu sama lain yang berkembang pada diri Wonwoo menjadi rasa suka, Jihoon yang menjadi saksi kisah Wonwoo dan Hoshi karena ia juga mengenal keduanya sedari taman kanak kanak bingung dengan status di antara Wonwoo dan Hoshi yang masih berlabel sahabat padahal kedua nya nampak saling berbagi rasa tertarik yang sama

Yang jiun lihat tatapan Wonwoo kepada Hoshi dan perhatian Hoshi pada Wonwoo sama dengan bagaimana ia dan Seungcheol dulu saat mereka menjadi sepasang kekasih, ya dulu karena kini kisah mereka sudah berakhir, lebih tepatnya berakhir dua bulan yang lalu, berakhir dengan tidak jelas penuh emosi tanpa ada penyelesaian yang membuat kini, hubungan jian dan kakak dari Wonwoo itu rumit, rasa cinta masih sangat besar namun jika bersama tak pernah ada kata sejalan sepaham di antara mereka.

Namun di tengah hubungan yang rumit di antara mereka bertiga, Wonwoo, jiun dan Hoshi masih tetap bersahabat baik hingga saat ini. Bagi jiun, Wonwoo Hoshi dan arjuna adalah segalanya, karena tak ada lagi yang jiun miliki selain ke 3 sahabatnya itu.

.

.