Work Text:
Wisnu tidak pandai memasak.
Berbeda dengan adik-adiknya, apalagi adik pertamanya—si tengah—yang lihai dalam urusan dapur. Wisnu tidak terlalu tahu menahu tentang memasak.
Dia bisa memasak makanan simpel seperti mie instan atau tumis-tumisan, selebihnya tidak tahu. Dia ingin belajar, tapi kesibukannya juga tugas dapur yang seringkali diambil alih si tengah bersama ibu mereka, maka Wisnu lebih sering langsung makan tanpa tahu prosesnya.
Hari ini, dia ingin memberi kejutan pada sang istri. Dia mulai mencari resep makanan yang mudah (dan bisa dia kerjakan) untuk bekal makan siang di platform sosial media. Ada begitu banyak resep makanan dan pilihannya jatuh pada tumis tahu telur, tumis sayur sawi pakcoy, dan ayam goreng tepung. Maka dia berbelanja sesuai resep yang tertera di-caption, memastikan semua sudah dibelinya lalu kembali ke rumah.
Saat berada di rumah, barang belanjaan yang masih berada di dalam kantong plastik ia letakkan di atas meja counter dan menatapnya satu persatu. Sejenak Wisnu menghembus napas kasar, membangkitkan rasa semangatnya karena akan memasak untuk orang yang dia sayangi. Semangat itulah yang menepis rasa tidak percaya dirinya, berusaha melakukan hal sebisanya seorang diri.
Ponselnya diletak di dekatnya sembari memutar video masakan dan mengikuti resep. Namun, dua kali menonton video, dia merasa kebingungan akan sesuatu.
Dia tak tahu cara memotong ayam fillet dada sesuai resep.
Wisnu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 10 pagi menjelang siang. Masih ada banyak waktu, tapi dia tak akan sempat jika bingung seperti sekarang.
"Halo, Dirga. Kamu sibuk gak hari ini?"
Pada akhirnya, dia memanggil penyelamatnya untuk membantu.
꒰꒰・┄┄┄┄・♡・┄┄┄┄・꒱꒱
"Dirga ajarin ya, mas. Selebihnya mas sendiri yang lakuin."
Wisnu mengangguk, mengikuti cara-cara adiknya. Dari memotong, membumbui, memasak, dia lakukan sesuai yang diajarkan Dirga. Walau ada sedikit kesalahan yang membuat Dirga tertawa kecil melihat kakak lelakinya, tetapi dia terus menyemangati Wisnu.
Lelaki berkacamata itu menghembus napas kasar saat melihat ayam goreng tepung masuk ke dalam penggorengan. Dapurnya sedikit berantakan (terima kasih pada Dirga yang langsung berkemas setiap kali selesai mengolah masakan), tetapi dia tak mau memperlihatkan bentuk dapur yang kotor ini pada istrinya ketika wanita itu pulang nanti.
"Mas, nasinya udah dimasak?"
Mendengar pertanyaan itu membuat Wisnu terdiam sejenak, lalu menoleh pada rice cooker-nya yang belum menyala.
"Waduh, belum?" Dirga bertanya lagi, membuat Wisnu segera mengambil mangkok rice cooker. Adiknya langsung mengambil alih untuk menggoreng ayam.
Wisnu segera memasukkan dua cup beras, mencucinya lalu memasukkan air masak. Sebelum ia memasukkannya ke rice cooker, ia memastikan pada sang adik tentang seberapa banyak air yang akan digunakan untuk memasak nasi.
"Segini cukup?"
Dirga mengoreksi air dengan jarinya lalu menganga lalu tertawa. "Kurangi dikit, mas. Ini mah jadi lembut banget."
"Wah, mbakmu gak suka makan nasi lembut juga," balasnya, membuang sedikit air dan memastikannya lagi pada Dirga. Tanpa memeriksa pun, lelaki itu tahu jika air di dalam beras sudah pas. Ia mengacungkan ibu jari, membuat Wisnu bernapas lega dan memasukkan mangkok rice cooker ke dalam penanak nasi dan menyalakan tombol 'cook'.
Ia beralih pada Dirga yang sudah meniriskan ayam goreng tepungnya. "Segini aja cukup, deh."
"Oh, oke." Dirga menurut, mematikan kompor dan menatap kakak lelakinya. "Berarti tinggal nasi, ya." Lawan bicaranya itu mengangguk. "Itu udah dicetek masak belum, mas?"
Wisnu menoleh pada rice cooker, memastikan lagi. "Udah, dek. Aman."
"Ya udah, tinggal nasi aja. Semuanya udah beres."
Anggukkan tercipta lagi. Wisnu melihat tempat makan ungu muda yang tertata rapi di meja counter. Sudah ada tumis tahu telur dan tumis sawi pakcoy, tinggal ditutup dan dikemas ke dalam tas bekal.
"Oh iya, buah." Wisnu berucap, membuka kulkas dan mengambil buah semangka separuh. Ia pun mengambil tempat kecil dari lemari dinding—yang warna tempatnya juga ungu muda—lalu memotong buah semangka merah tersebut.
"Ngeliat mas semangat begini, Dirga jadi seneng deh," ujar sang adik.
"Ya haruslah, biar masmu makin disayang sama Mbak Nora."
Dirga terkekeh. "Iya juga," jawabnya. "Untung Dirga libur juga hari ini, jadi bisa bantu."
"Iya, mas juga pengen kasi surprise ke mbakmu atas kerja kerasnya, walau mas pikir semua yang mas lakuin masih kurang buat dia," Wisnu berbicara sembari memasukkan potongan semangka ke dalam tempat bekal. "Mbakmu itu serba bisa, jadi mas pengen bantu."
Sang adik tersenyum senang, menepuk bahu Wisnu. "Mas juga bisa diandalkan, kok." Ia berucap, menyemangati kakaknya. "Mas itu suami idaman di mata perempuan lain."
Wisnu menepuk bahu adiknya dan mendengkus. "Apa sih kamu, dek," gerutunya. "Emang di mata mbakmu, mas bukan suami idaman?"
"Ya, gak tahu? Tanya aja sama istri mas nanti."
"Kamu kalau ngomong jangan bikin mas kepikiran, ah."
"Ih iyaa maaafff," Dirga merengek sembari memeluk kakaknya. "Dirga gak maksud kok, beneran."
Sang kakak tersenyum iseng lalu menjulurkan lidah. "Takut ya?"
"Ih, mas!"
Kedua kakak adik itu pun bergurau dan tertawa sembari menunggu nasi yang dimasak Wisnu matang.
꒰꒰・┄┄┄┄・♡・┄┄┄┄・꒱꒱
Dari jam sebelas lewat, Wisnu sudah menggas motor gede miliknya. Ia pikir akan lebih cepat melewati jalan raya dengan motor, mengingat jam makan siang orang-orang akan tumpah ke jalan.
Dia sengaja tak menghubungi istrinya untuk mampir, karena memang ingin memberi kejutan.
Setelah sampai di gedung tinggi dimana wanitanya bekerja, dia memarkirkan motor, melepas helm dan menggantungnya di stang. Rambut hitamnya ia rapikan sejenak sembari berkaca di spion dan memang, apa yang dikatakan adiknya itu bukan asal bunyi.
Ada beberapa wanita yang terpesona karenanya, padahal dia hanya mengenakan kaos oblong putih, jaket kulit cokelat, celana jins, dan sepatu sneakers. Apalagi dia memakai kacamata yang terkesan seperti lelaki kutu buku, tapi dia tak sadar jika auranya itu dapat memikat kaum hawa. Hanya saja, Wisnu pikir para perempuan muda ini orang baru di perusahaan istrinya. Karena kalau mereka tahu dia adalah suami bos mereka, mungkin mereka tak akan mau ber-fangirling ria dan terpesona dengannya.
Saat Wisnu melangkah masuk pun, para perempuan masih menyamai langkah mengikutinya dari belakang. Ia pun berhenti di meja resepsionis, tersenyum pada seorang lelaki yang hari ini berjaga di meja tersebut.
"Bu Nora belum turun, pak," ujar si resepsionis.
"Oh? Tumben." Wisnu melirik arloji, menujukkan pukul dua belas tepat. Biasanya, sang istri akan turun ketika jam makan siang tiba tetapi hari ini kemunculannya belum tampak.
"Mas!"
Mendengar suara familiar serta panggilan untuknya membuat Wisnu menoleh, mendapati seorang wanita berambut cokelat muda sepinggang berlari kecil menghampirinya.
Wisnu tersenyum, mengelus rambut cokelat muda sang wanita. "Jalannya pelan-pelan dong, bun. Jangan lari," Ia mengingatkan. "Bunda sambil bawa dedek dua loh."
Nora terkekeh, mengamit lengan sang suami dan menempel padanya. "Ya abis, aku excited ketemu sama mas~" ujarnya. "Kok gak ngabarin sih?"
"Sengaja, mau kasi surprise," Wisnu berucap gemas sembari mencubit pipi wanitanya.
"Lucu banget mau kasi surprise segala."
Sang pria tersenyum tipis, mengusap kepala wanitanya penuh kasih sayang. Hampir semua pekerja di perusahaan ini tahu siapa Wisnu, maka itu dia agak heran ketika perempuan-perempuan tadi mengikutinya. Saat dia menoleh, tiga orang perempuan yang membuntutinya hilang entah kemana.
"Cari apa, sayang?"
"Oh, enggak," jawabnya. "Tadi ada anak-anak cewek ngikutin mas terus. Kayaknya anak baru ya?"
Nora menoleh ke belakang Wisnu, mencari orang-orang tersebut yang melirik suaminya tetapi tidak ditemukannya. Ia kembali pada sang suami. "Lanyardnya warna apa?"
"Hmm...merah?"
"Oh, intern itu," Nora berucap santai sembari mengibaskan tangan. "Gak tahu mereka. Kita ke atas aja, yuk."
Wisnu mengiyakan, melangkah bersama sang istri yang saat ini sedang mengandung lima bulan, tetapi perutnya tampak besar untuk usia kehamilan 20 minggu—karena anak mereka kembar. Sebenarnya Wisnu juga was-was dengan keadaan istrinya, tapi Nora terlihat biasa bahkan lebih aktif membuatnya bisa bernapas lega.
꒰꒰・┄┄┄┄・♡・┄┄┄┄・꒱꒱
Mereka saat ini berada di ruang kerja Nora yang berada di lantai tujuh. Jam makan siang, Nora tak mau diganggu. Apalagi dengan kehadiran suami membuatnya menutup jendela dengan tirai tarik. Ia ingin menikmati waktu berdua dengan prianya itu.
"Kamu masak sendiri, mas?"
Wisnu mengangguk sembari membuka tempat bekal dan meletakkannya di atas meja. "Dibantu Dirga juga, sih. Tapi banyak mas kok yang ngerjain."
Nora terkekeh, melihat nasi, lauk, dan buah tertata rapi di atas mejanya. Senyum tipis terulas, memegang sendok dan menyuap ayam goreng tepung terlebih dulu. Saat ia mengunyah, Wisnu menanti pendapat, Nora merasa ada yang aneh dengan makanan yang baru saja dimakannya itu.
"Gimana, bun?"
Sang wanita menatap pria di hadapannya, menelan makanannya dan memanyunkan bibir. "Asin ...."
"Oh?" Wisnu mengambil satu potong ayam goreng tepungnya, memakannya, dan merasa asin berlebih pada masakannya itu. "Iya, asin banget, bun." Ia menarik tempat berisi ayam goreng tepung itu, tetapi Nora langsung menariknya kembali.
"Gak papa, sama nasi gak bakal asin kok." Nora membela, membuat Wisnu berganti menyicip tumis sawinya, yang untungnya rasanya pas. Saat beralih pada tumis tahu telur pun, tidak seasin ayam goreng tepung buatannya.
"Sayur sama tahu telurnya pas, bun."
Mendengar ucapan suaminya pun membuat Nora mencoba tumis sayur sawi lalu berganti pada tumis tahu telur buatan Wisnu dan mengangguk sembari mengacungkan ibu jari.
"Dua-duanya pas ini, ayamnya aja yang agak asin." Ia terkekeh. "Tapi gak papa kok, mas. Mas pinter deh udah bisa masak sekarang."
"Makasih ya."
Nora mengangguk dan tersenyum senang. Menyuap nasi dengan lauk sayurnya, lalu menyendokkan nasi dengan tahu telur dan menyodorkannya pada sang suami. Wisnu menerima suapan tersebut sembari mengambil butiran nasi yang melekat di dagu wanitanya.
Kedua insan itu pun menikmati makan siang bersama (walau aslinya ada dua manusia lagi yang sedang menikmati makan siangnya di dalam perut sang ibu).
