Work Text:
Kedua belah bibir itu menyatu, mengikis jarak yang tercipta sejak keduanya duduk di kursi mobil milik salah satu diantaranya.
Ciuman itu berlangsung singkat seperti ciuman perpisahan yang selalu mereka lakukan kala kewajiban menimba ilmu sudah terselesaikan. Lelaki yang duduk di kursi penumpang tersenyum hangat, kedua matanya memancarkan sinar bak bintang yang tersebar dalam gelapnya malam, “Lagi.” pintanya.
Kemudian sang kekasih yang duduk di kursi kemudi tertawa geli, tak menyangka bahwa akan ada saat dimana kekasihnya yang selalu malu malu dalam meminta dan mengungkapkan sesuatu, menjadi lebih berani dalam mengucapkan keinginannya.
Maka tidak ada alasan lain untuk dia, Lee Juno, menolak permintaan sang kekasih, Na Jansen, untuk kembali mempertemukan kedua belah bibir mereka untuk kali kedua. Mengikis kembali jarak yang terbentang, kali ini dengan lebih intens, lembut dan dalam. Bagai waktu tak mengejar mereka, bagai hari esok tak pernah ada. Ciuman yang memabukan jiwa, melupakan fakta bahwa ponsel milik sosok bermarga Na, sudah berkali-kali berdering sejak tiga puluh menit yang lalu.
Juno yang paling pertama menyadari getaran dan bunyi pada ransel milik Jensen yang tergeletak di kursi belakang. Maka dia dengan terpaksa menghentikan ciuman keduanya, yang langsung dihadiahi raut kesal milik Na Jansen.
Juno mengusap pipi Jansen, tatapannya lembut sekali. “Ponselmu berdering sejak tadi. Tidak mau dilihat?” tanyanya. Suaranya mengalun lembut. Fakta bahwa suara berat itu tidak sama sekali menyakiti hatinya sedikit pun, membuat Na Jansen lagi dan lagi terjatuh dalam pesona milik lelaki kelahiran April di hadapannya.
“Tidak. Mau ciuman saja.”
Juno terbelalak tidak percaya. Namun cepat-cepat menggeleng sebagai tanda tidak setuju. Dengan jemarinya yang masih menempel pada permukaan kulit Jansen yang halus bak kulit bayi yang baru saja terlahir ke dunia, Juno berkata;
“Gimana kalo itu papa? Aku takut dia khawatir, sayang.”
Bagaimana bisa setiap perlakuannya dapat membuat Na Jansen lupa daratan seketika? Dalam kepalanya, hanya sebuah untaian doa agar apa yang menjadi miliknya kini, akan selalu menjadi miliknya.
Tidak kuat dengan tatapan lembut milik Juno, helaan nafas keluar dari mulut Jansen. “Okay, okay, aku angkat.” finalnya.
Seiring dengan kedua jemari Jansen yang bergerak untuk mengambil ponsel, senyuman milik Juno tidak luntur dari wajahnya. Indah dan menawan. Entah bagaimana Jansen mendeskripsikan senyuman bahagia milik Juno—yang sampai menghilangkan kedua matanya. Jansen berharap agar Juno dapat menunjukan senyuman itu lebih sering. Karena ia selalu ingin melihatnya terpatri di wajah Juno.
Mengangkat panggilan yang memang benar kata Juno—berasal dari sang ayah—Jansen memasang indra pendengarannya dengan baik.
“Papa?”
Suara hembusan nafas lega menyambut Jansen ketika telepon itu tersambung dengan nomor ayahnya, “Iya, Papa? Iya, Jansen baru sampe, ini udah di depan. Papa keluar aja, pasti liat mobil Juno.
Sebuah dusta yang membuat Juno menggeleng tidak percaya. Itu pantas disebut sebuah kebohongan karena faktanya, baik dia maupun Jansen, sudah berada di depan rumah mewah milik Jansen sejak tiga puluh menit yang lalu. Entahlah, keduanya bagai diselimuti rasa rindu yang luar biasa besarnya. Bagai hari esok tak terbaca kehadirannya. Kebingungan akan hal tersebut membuat Juno dan Jansen melupakan fakta bahwa ayah dari Jansen sedang menunggu kepulangan anak semata wayangnya.
“Iya papa, Jansen langsung masuk. Lima menit lagi tapi. Bye, Pa!”
Tut.
Juno menggeleng tak percaya. Berbanding terbalik dengan sang kekasih yang kini menyengir hingga giginya terlihat. Seakan tingkahnya dalam memutus saluran panggilan dengan sang ayah bukanlah sebuah kesalahan.
“Papa pasti paham.”
Seakan paham dengan raut wajah Juno, diberikan sebuah kalimat bagai penenang untuknya. Namun Juno tetap tidak setuju dengan bagaimana Jansen memutus sambungan telepon dia dan ayahnya.
“Tetap saja. Jangan begitu lagi, ya?” pinta Juno.
“Iya Junooooo! Udah ah, kamu bawel. Sekarang cium aku lagi!”
Sebuah permintaan yang meluncur dengan mudah dari belah bibir sang kekasih bagai sebuah perintah mutlak yang harus Juno turuti. Lagi pula, Juno tidak sekuat itu untuk mengabaikan wajah paripurna milik Na Jansen dan bibir pink merona yang selalu menjadi candunya.
Lima menit. Waktu yang dijanjikan oleh Jansen kepada papanya adalah sebuah dusta lagi. Karena kini, lelaki kelahiran Agustus itu malah semakin larut dalam kegiatannya memandangi Juno yang berdiri di hadapannya.
Keduanya sudah keluar dari mobil Juno beberapa menit yang lalu. Lebih tepatnya setelah Juno memaksa untuk menghentikan kegiatan bertemunya kedua belah bibir mereka. Karena Jansen benar-benar tidak akan berhenti jika bukan Juno yang memaksakanya untuk berhenti.
“Ini udah lebih dari lima menit sayang.”
Juno mengusap helaian rambut yang menghiasi dahi Jansen. Beberapa menit yang lalu, ia menghentikan paksa ciuman keduanya. Juno tahu bahwa Jansen tidak pernah mudah dibujuk dalam hal apapun. Namun Juno tidak merasa benar jika tetap menahan Jansen di sisinya ketika papanya bahkan menyuruh dia untuk pulang.
“Aku masih kangen kamu.”
Juno terkekeh gemas, “Aku akan menjemputmu besok. Janji tidak akan ditinggal lagi.” ucapnya. Jemari Juno mencubit kecil kedua pipi Jansen yang terasa lembut.
Na Jansen merengut malas. Fakta bahwa Juno akan kembali disibukan dengan kegiatan latihan renangnya di hari esok, bahkan sampai melupakan janjinya untuk menjemput Jansen, membuat dia ingin berlama lama menghabiskan malamnya dengan sang kekasih.
“Pembohong.” cibir Jansen.
“Tidak lagi kok.”
Jansen berdecih. Tidak langsung percaya begitu saja dengan janji manis Juno. Baru saja ia berniat membalas Juno, ponselnya kembali bordering. “Nah kan.” ucap Juno. Sudah menduga bahwa papa Jansen akan kembali menelepon sang anak. Karena sudah lebih dari lima belas menit keduanya berdiri di luar mobil selepas ciuman keduanya yang dihentikan paksa oleh Juno.
Mengusap puncak kepala sang kekasih, Juno tersenyum hangat. Berusaha mengabaikan bagaimana raut sang kekasih yang berubah masam.
“Aku tunggu sampai kamu masuk.”
Jansen menggeleng, “Maunya kamu ikut masuk, Junoooo!” rengeknya.
Menggeleng gemas, Juno bubuhkan sebuah kecupan singkat pada bibir Jansen.
“See you tomorrow sayang.” ucapnya.
See you tomorrow dari Juno buat Jansen tidak lagi memiliki alasan untuk tidak memasuki rumahnya dan cepat-cepat menemui sang papa. Bagai sebuah titik pada akhir kalimat, Jansen menyudahi pertemuan keduanya dengan kalimat yang sama;
“See you tomorrow Juno. Aku masuk ya.”
Juno mengangguk. Senyuman hangatnya tidak luntur dari wajahnya. Bahkan ketika Jansen sudah menghilang dari pandangannya, bahkan ketika gerbang cokelat yang menjulang tinggi tertutup rapat dan menyisakan dirinya yang berdiri sendirian di samping mobilnya.
Waktu akan selalu berjalan lebih cepat jika bersama dengan Jansen. Seakan sebuah rasa hangat dan bahagia menyerangnya tanpa henti. Melewati batasnya, melewati kewarasannya. Hingga yang ada di kepalanya hanyalah Na Jansen, Jansen, dan Jansen. Miliknya seorang. Hanya miliknya.
....
Juno, jangan jempu aku.
Aku berangkat sama Papa.
Begitulah kira-kira isi pesan yang diterima Juno ketika jam menunjukan pukul empat pagi. Kekasihnya, Na Jansen, memintanya untuk tidak menjemputnya karena dia sudah lebih dulu pergi bersama sang ayah.
Mengabaikan rasa bingung luar biasa, kalimat “Baiklah. Sampai bertemu di sekolah sayang.” Juno berikan sebagai balasan. Walaupun sampai berjam-jam kemudian tidak diberi balasan, bahkan sampai kakinya menginjak dinginnya lantai gymnasium tempat dia berlatih, Juno masih tidak bisa melihat eksistensi sang kekasih.
Kamu di mana?
Juno menyesap rasa jus buah dan sayur yang ia pesan sebelum melakukan latihan fisik. Tubuhnya basah dengan keringat. Ia tentu tidak menyukai fakta bahwa dia harus kembali mandi dan berganti baju setelah ini. Namun rasa jengkel akan fakta itu kalah besar dengan rasa khawatir dan bingung karena Jansen belum juga membalas pesannya.
Jangan katakan Juno berlebihan. Karena sudah jadi rutinitas keduanya untuk bertemu selepas Juno mengakhiri latihan fisiknya. Entah itu Jansen yang menghampiri Juno ke gymnasium atau Juno yang menunggu Jansen di depan ruangan penyiaran radio. Menunggu Jansen menyelesaikan tugasnya sebagai pembawa berita harian di sekolah.
Juno dibuat semakin khawatir kala TV yang terpasang di diding lorong sekolah tidak menampilkan wajah Jansen sebagai pembawa berita hari ini. Benda yang memiliki empat sisi itu malah menunjukan wajah perempuan yang tidak pernah Juno ketahui eksistensinya.
“Well… you guys must be so confused with the new face here. Let me introduce my new partner Kim Jihan! Welcome Jihan!”
New partner?
Juno pastikan dia tidak salah dengar. Bagaimana Han – partner Jansen dalam membawakan berita – mengenalkan sosok baru yang ia sebut dengan panggilan “New partner.”. Itu artinya Jansen tidak lagi menjadi pembawa berita di klub penyiaran.
Itu tidak benar. Sama sekali tidak benar.
Juno mengetahui dengan pasti bahwa; masih tersisa dua bulan lagi sampai Jansen berhenti menjadi pernyiar berita sekolah.
Rasa panik membuat Juno menabrak seseorang dalam langkahnya mencari sang kekasih. Pada sepuluh menitnya berlari ke tiap-tiap sudut sekolah, Juno menghentikan langkahnya untuk melihat sosok yang ia tabrak dengan tidak sengaja.
“Juno?”
Itu Keeho, ketua klub pernyiaran tempat kekasihnya bergelung dengan hobinya.
“Dimana Jansen?” tanya Juno to the point. Dia khawatir luar biasa.
“Lah kamu belum ketemu dia?” Alis Juno mengerut, bingung dengan jawaban yang ia terima. Itu bahkan sebuah pertanyaan, bukan jawaban atau penjelasan yang ia harapkan.
Menyadari kebingungan Juno, Keeho kembali melanjutkan kalimatnya. “Jansen dateng pagi-pagi banget buat nyerahin surat pengunduran diri sebagai anggota klub. Aku dan anak-anak lain masih gak tahu menahu soal alasannya karena Jansen juga kelihatan buru-buru. Makanya kita cepet-cepet ganti pembawa berita hari ini. Kamu pasti bingung karena itu kan?”
“Makasih.”
Tidak punya waktu untuk membalas pertanyaan Keeho, ia tinggalkan sosok ketua klub penyiaran itu sendirian di depan toilet lelaki. Juno kembali berlari untuk mencari sosok Jansen. Rasa khawatir dan panik menjadi satu. Hampir saja tidak bisa terbendung. Sedikit lagi mengambil sepenuhnya kewarasan Juno jika saja sosok dengan kardigan cokelat yang menyelimuti tubuh dibalut seragam yang sama dengan Juno—tidak keluar dari gymnasium tempatnya berlatih fisik satu jam yang lalu.
“Na!”
Juno berlari untuk memeluk Jansen erat-erat. Membawa tubuh yang lebih kecil darinya ke dalam dekapan hangat, ke dalam pengawasannya.
“Aku cari kamu kemana-mana.”
Eratnya dekap Juno dibarengi dengan perasaan lega yang membucah. Seakan harta karun yang ia cari telah menjadi miliknya. Perasaan lega itu melewati fakta bahwa Jansen tidak membalas pelukannya. Bahwa hanya Juno yang memeluknya erat-erat.
“Juno.”
Suara parau milik Jansen membuat Juno melepaskan pelukannya. Hanya untuk melihat bagaimana wajah Jansen yang memerah, kedua mata membengkak dan hidung bagai tomat ceri yang matang sempurna. Kombinasi sempurna untuk membuat Juno melayangkan kembali tatapan khawatir luar biasa.
“Kamu kenapa sayang? Mukamu.. Astaga…”
“J-juno…”
Lelehan air mata keluar dari kedua mata cantik milik sang kekasih. Berlanjut dengan isakan keras tak terbendung, berlanjut dengan berhamburnya sebuah pelukan erat dari Jansen pada tubuh Juno.
Eratnya melebihi bagaimana Juno melakukannya tadi, ini lebih seperti pelukan perpisahan. Erat, mencengkram, menyakitkan. Juno bahkan bisa merasakan jemari Jansen mencengkram seragamnya erat seolah tak biarkan dia untuk pergi barang satu senti pun.
“Jansen kamu kenapa?”
Isakan Jansen menyambutnya, terdengar menyedihkan. Bahkan sampai mengambil atensi beberapa murid yang melewati mereka.
“Jansen… Sayang…. Keras banget nangisnya. Kenapa? Bilang ya? Pelan-pelan gak apa-apa. Aku gak ngerti kalo kamunya begini sayang.”
Lemah lembut sekali. Juno usahakan agar suaranya tidak menyakiti Jansen barang sedikitpun. Dia sadar dengan keadaan Jansen yang tidak baik-baik saja. Bahkan jauh dari kata cukup baik.
Juno juga tidak mengerti. Semua ini terjadi dengan tiba-tiba. Menghilangnya Jansen, fakta bahwa Jansen mengundurkan diri dari klub favoritnya dan kini, isakan Jansen yang terdengar menyedihkan menyambutnya.
Beberapa menit dihabiskan oleh Jansen untuk tetap berada pada pelukan Juno. Bahkan ketika isakannya sudah berhenti, tergantikan dengan wajahnya yang kian memerah dan beberapa tetes air mata yang tetap keluar meski tidak diminta. Sukses membasahi kedua pipinya.
Ditatapnya Juno yang masih berdiri di hadapannya, Juno yang masih menatapnya khawatir. Ah… dia merasa bersalah seketika. Perasaannya hancur luar biasa. Fakta bahwa Juno belum mengetahui alasan dibalik kacaunya dia, fakta bahwa setelah semua ini… mungkin Juno akan lebih tersakiti, membuatnya merasa bagai menjadi orang paling berdosa.
Sebab dia sedang mengulur waktu, selama yang ia mampu, untuk tidak berkata sedemikian rupa;
“Juno… Aku mau putus.”
