Work Text:
Abu-abu. Lagi-lagi warna itu yang muncul pertama kali setiap Jeonghan membuka kelopak matanya. Langit-langit kamar dengan sebuah lampu yang terletak di tengah menyapa Jeonghan dari tidurnya. Kepalanya dihadapkan ke kiri, menengok deretan angka di jam digitalnya. Pukul tiga lebih empat puluh dua menit di pagi hari. Helaan nafas panjang terdengar. Sebelum bangkit dari posisinya, Jeonghan melirik ke arah samping kanannya. Terlihat punggung kokoh seorang laki-laki, tertidur dengan lelap tanpa atasan. Jeonghan berhenti sejenak, memandangi tubuh bagian belakang pria itu, sebelum benar-benar keluar dari pelukan selimut yang menggumuli tubuhnya semalaman.
Dengan langkah kaki yang hening, Jeonghan menutup pintu kamar tempat ia mengistirahatkan tubuh dan berjalan menuruni tangga menuju dapur. Mengisi gelas kosong dengan air dingin yang didapatnya dari kulkas lantas menenggaknya dengan cepat sampai habis seperti orang kesetanan. Tatapannya kembali fokus kepada sebuah jam analog yang tertempel di dinding dapur. Ternyata lima menit sudah berlalu sejak ia melihat jam digital di kamarnya tadi.
Ini bukan yang pertama kalinya bagi Jeonghan. Terbangun di pagi buta dengan kesadaran penuh dan mata yang terbuka lebar enggan dibawa kembali ke alam mimpi. Sudah berlangsung selama hampir satu bulan belakangan ini. Awalnya, ia tidak terlalu mengkhawatirkan persoalan ini. Pikirnya, ia terlalu lelah dengan pekerjaan yang menyita waktu saja. Namun kini, bahkan setelah beban pekerjaan yang ia miliki berkurang, keinginan untuk terjaga di sepertiga malam sama sekali tidak terbendung.
Beberapa cara sudah Jeonghan lakukan untuk mencegah terjadi kembali atau setidaknya mengurangi intensitasnya. Bahkan ia sampai membeli suplemen tidur yang paling mahal yang pernah ia temui. Semua hasilnya nihil.
Jeonghan bahkan sudah kehabisan ide untuk melakukan kegiatan macam apa lagi demi mengisi keluangan waktu tersebut. Mulai dari membaca buku, olahraga ringan, menonton televisi, mendengarkan podcast, bahkan hingga memasak. Semuanya lama-kelamaan menjadi membosankan. Sebab hal ini terus berulang setiap harinya.
“Lagi?”
Cangkir berisi teh hangat kembali diletakkan di meja dapur, Jeonghan mengalihkan wajahnya untuk menghadap ke sumber suara.
“Hm, lagi.”
Jeonghan dapat mendengar hembusan nafas keluar dari mulut lawan bicaranya. Ia kembali melanjutkan kegiatannya, menikmati teh chamomile yang sengaja ia konsumsi setiap pagi. Berharap dapat membantunya untuk rileks.
“Mau periksa?”
Ada seringai kecil yang terlukis di sudut bibir Jeonghan, tanpa diketahui oleh lawan bicaranya itu.
“Belum perlu, sepertinya.”
Masih sambil menikmati tehnya, Jeonghan melempar pandangannya ke jendela besar di dapur yang langsung menghadap halaman belakang rumah. Mengamati beberapa burung yang terlihat hinggap di atas batang-batang pohon dan angin semilir berhembus menyenggol pucuk-pucuk bunga yang bermekaran.
Matahari sudah menunjukkan dirinya. Jeonghan menghabiskan tiga jam lebih hanya dengan banyak melamun dan menonton sembarang acara yang televisi suguhkan sebelum akhirnya ia mandi dan bersiap untuk bekerja.
Tepat seperti perhitungannya, ketika teh chamomilenya sudah selesai diseduh, Seungcheol turun dari lantai atas dengan setelan jas yang masih berantakan. Sama seperti dugaannya, pertanyaan yang sama akan kembali muncul dari tuturnya. Perihal dirinya yang terus-terusan terbangun di jam-jam tidak wajar. Terdengar seperti pasangan yang baik, mengkhawatirkan kondisi yang terkasih.
“Sebelum terlambat sebaiknya diperiksakan saja, takutnya jadi sesuatu yang membahayakan.”
Laki-laki yang semula berdiri di belakang Jeonghan itu, kini sudah bergegas kembali naik ke lantai atas. Suaranya dikencangkan agar Jeonghan dapat mendengar dari bawah. Sedang yang diajak berbicara hanya diam tanpa memberikan jawaban. Jeonghan dapat mendengar suara pintu tertutup. Tanda bahwa ia harus segera menghabiskan teh dan mengambil barang-barang yang telah ia siapkan di ruang tengah.
“Ayo, berangkat.”
Tanpa menjawab, Jeonghan melangkah mengikuti Seungcheol yang lebih dulu berlalu. Memastikan meninggalkan rumah dengan keadaan rapi dan mengunci pintu utama. Bergegas menuju mobil dan duduk di kursi penumpang. Memasang sabuk pengaman dengan kencang dan menyamankan posisi duduknya.
Sama seperti yang sudah-sudah, selama satu bulan terakhir, perjalanan menuju kantor masing-masing di pagi hari diselimuti dengan keheningan. Seingat Jeonghan, dulu tidak seperti ini. Entah mengapa, semuanya berubah begitu saja. Suatu hari, Jeonghan mengajak Seungcheol berbincang namun laki-laki itu tidak pernah lagi memberikan respon yang baik. Dan sejak saat itu, Jeonghan lebih memilih untuk diam selama berada di dalam mobil tersebut.
Baru kemudian, ketika matanya sudah mulai menangkap keberadaan gedung kantornya, Jeonghan akan mengatakan hal yang sama setiap harinya selama satu bulan belakangan.
“Nggak perlu dijemput, masih banyak deadline.”
Dan Seungcheol hanya akan mengangguk, kalau sedang terlihat bersemangat biasanya akan terdengar gumaman singkat sebelum Jeonghan keluar dari mobil itu dan Seungcheol berlalu menuju tempat bekerjanya.
Mereka baru akan bertemu ketika malam tiba. Seringnya, Jeonghan yang lebih dulu sampai di rumah. Seungcheol baru akan sampai sekitar tiga puluh menit sampai satu jam setelah kedatangan Jeonghan. Padahal menurut Jeonghan, ia sudah terlalu banyak mendedikasikan waktunya untuk pekerjaan dan keperluan kantor. Nyatanya, Seungcheol masih lebih parah dari dia. Walaupun Jeonghan sendiri ragu, waktu yang Seungcheol habiskan setelah jam kerja berakhir itu sesungguhnya benar-benar untuk menyelesaikan sisa pekerjaan atau justru untuk hal lainnya.
Ketika Jeonghan sampai di kediaman mereka pun, hampir seluruh tenaganya sudah terkuras habis. Tidak ada lagi waktu untuk sekedar menikmati hobi atau mencari hiburan singkat dari internet. Jeonghan hanya akan meluangkan waktu untuk memesan makanan pesan antar untuk menu makan malamnya dan Seungcheol, meski seringnya porsi jatah milik Seungcheol berakhir tidak tersentuh. Jeonghan tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut, toh makanan tersebut masih bisa dihangatkan untuk konsumsi esok pagi.
Satu hal yang Jeonghan permasalahkan adalah soal sikap Seungcheol – yang kalau boleh jujur, Jeonghan juga sudah mulai lelah memikirkan permasalahan yang sepertinya tidak ada ujungnya ini.
Semua berawal dari tiga bulan yang lalu, ketika Seungcheol menjadi salah satu orang di kantornya yang menerima kesempatan promosi dan kenaikan gaji. Tentu Seungcheol senang bukan main, Jeonghan pun juga ikut bangga dengan pencapaian pasangannya itu. Mereka bahkan sempat merayakannya dengan makan malam di restoran mewah yang kemudian berujung dengan sesi bercinta paling nikmat selama bertahun-tahun hubungan mereka.
Satu bulan berlalu sejak perubahan status Seungcheol di kantornya itu, belum banyak hal yang berubah di kehidupan mereka. Semuanya masih berjalan dengan normal. Mereka tidur nyenyak, dengan tangan Seungcheol yang melingkar di pinggang Jeonghan, bangun dengan keadaan segar, mempersiapkan diri untuk pergi bekerja sambil memberikan kecupan-kecupan singkat di sela-sela pergerakan mereka, lalu Seungcheol akan mengantar Jeonghan ke kantor tempatnya bekerja dengan janji makan siang bersama dan menjemput cintanya itu ketika waktu pulang kantor tiba.
Namun semua rutinitas yang tampak sederhana namun bermakna untuk mereka – terutama Jeonghan – itu seketika sirna, kurang lebih hampir dua bulan belakangan ini Jeonghan dapat dengan jelas merasakan perubahan sikap dari seorang Choi Seungcheol. Tidak ada lagi tangan yang melingkar di pinggangnya ketika mereka terlelap, seringnya Jeonghan menjalani pagi-paginya dengan rasa sepi sebab Seungcheol selalu menunjukkan respon yang dingin ketika Jeonghan mengajaknya berbincang santai, ciuman yang diberikan Seungcheol setiap mereka sampai di kantor Jeonghan biasanya diletakkan di bibir namun belakangan berubah di pipi dan lama kelamaan bahkan menghilang, serta Seungcheol yang selalu saja punya seribu alasan untuk pulang telat setiap malamnya.
Jeonghan awalnya memaklumi, mungkin memang butuh waktu bagi Seungcheol untuk dapat terbiasa dengan perubahan yang dialaminya. Masih berusaha untuk berpikir positif. Namun seiring berjalannya waktu, kondisi hubungan mereka justru semakin buruk. Seungcheol yang terlalu dingin, membuat Jeonghan mati gaya hingga hampir menyerah dalam menghadapi pasangannya itu. Berkali-kali dan beragam upaya yang telah Jeonghan lakukan untuk memperbaiki keadaan, setidaknya menanyakan kejelasan kepada Seungcheol perihal apa yang sesungguhnya terjadi kepada pria itu. Hasilnya selalu nol besar.
“Belum tidur?”
Jeonghan menggeleng. Matanya masih fokus menatap tayangan televisi di hadapannya, tanpa menghiraukan Seungcheol yang baru saja masuk ke dalam rumah. Ekor mata Jeonghan melirik jam dinding di ruang tengah mereka. Beberapa menit lagi tepat jam sebelas malam.
Ekspresi Jeonghan seketika berubah ketika Seungcheol ikut duduk di sofa dan menonton televisi. Tidak seperti biasanya yang langsung masuk ke dalam kamar mereka dan merebahkan tubuh. Meskipun begitu, Jeonghan tidak memiliki niat untuk mempertanyakan tindakan Seungcheol barusan.
“Kenapa?”
“Hm?”
“Belum tidur, kenapa?”
“Merasa percuma, belakangan juga selalu terbangun dini hari. Lebih baik nggak perlu tidur sekalian.”
“Diperiksakan saja, Han. Takutnya berbahaya.”
Jeonghan mendengus. Seungcheol mendengarnya dengan jelas, sontak heran dengan respon Jeonghan. Sama sekali bukan yang ia harapkan tampaknya.
“Terima kasih, tapi nggak perlu pura-pura peduli, Seungcheol.”
“Maksud kamu?”
“Kamu tahu betul maksud aku.”
“Jangan bercanda, Jeonghan.”
“ I’m not. Hampir dua bulan belakangan ini hubungan kita nggak beda sama anak kuliahan yang sewa apartemen bareng loh, jadi nggak perlu berusaha peduli dengan hal yang aku alami.”
“ Lets not start a fight.”
“Bukan aku yang mulai. Justru kamu.”
Seungcheol terdiam. Terlihat berpikir keras menjawab kalimat Jeonghan barusan. Jeonghan sendiri juga terlihat mempersiapkan diri atas apapun yang keluar dari mulut Seungcheol. Mempersiapkan diri atas kemungkinan terburuk jika memang hubungan mereka harus hancur malam ini juga.
“Aku minta maaf, Jeonghan.”
Terkejut, Jeonghan sama sekali tidak menyangka kalimat itu keluar dari mulut Seungcheol. Pasalnya, ia pikir Seungcheol tidak mau meruntuhkan egonya untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf kepadanya.
“Ak-ak-”
“Aku nggak bisa jelasin situasi kemarin untuk sekarang, cuma bisa minta maaf. Tapi aku harap kamu bisa paham keadaannya.”
Tanpa menunggu jawaban dari Jeonghan, Seungcheol menarik laki-laki itu ke dalam pelukannya. Menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Jeonghan, meninggalkan kecupan-kecupan singkat di bahu yang lebih muda. Sedang Jeonghan sendiri masih bingung dengan tingkah laku Seungcheol yang begitu mengherankan ini. Yang dapat ia lakukan hanyalah membalas pelukan Seungcheol dan perlahan mengusap punggung pria itu. Masih mencerna apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.
Abu-abu. Lagi-lagi warna itu yang muncul pertama kali setiap Jeonghan membuka kelopak matanya. Langit-langit kamar dengan sebuah lampu yang terletak di tengah menyapa Jeonghan dari tidurnya. Kepalanya dihadapkan ke kiri, menengok deretan angka di jam digitalnya. Pukul tiga lebih dua belas menit di pagi hari. Helaan nafas panjang terdengar. Sebelum bangkit dari posisinya, Jeonghan melirik ke arah samping kanannya. Seungcheol masih terlelap dengan nyenyak dalam tidurnya, dengan tangan kanannya yang disampirkan di atas perut Jeonghan. Jeonghan berhenti sejenak, memandangi tangan pria itu, sebelum benar-benar keluar dari pelukan selimut yang menggumuli tubuhnya semalaman.
Kebiasaan terjaga pada dini hari yang datang beberapa bulan yang lalu ini, tidak pernah benar-benar menghilang dari keseharian Jeonghan. Perlahan menjadi salah satu bagian dari hidup Jeonghan. Tapi yang kali ini berbeda. Dahulu, mungkin Jeonghan sama sekali tidak tahu penyebab kebiasaan itu muncul, kemungkinan besarnya memang beban pikiran yang sedang ia pikul terlalu berat. Sedangkan sekarang ini, Jeonghan tahu betul alasan mengapa ia selalu terjaga di sepertiga malam. Sebab, setiap harinya, Jeonghan bermimpi. Memimpikan seseorang yang selama ini ia rindukan. Seseorang dengan raut wajah persis seperti Seungcheol yang sedang terlelap di sampingnya, namun dengan perilaku manis seperti dahulu mereka sedang dimabuk cinta. Seseorang yang Jeonghan harapkan bisa kembali mencintai dia dengan setulus hati seperti sedia kala. Bukan seperti Seungcheol yang sekarang.
Bukankah permintaan maaf dan ajakan untuk memperbaiki hubungan sempat dilontarkan Seungcheol malam itu? Jeonghan memang ingat betul, Jeonghan juga berusaha memaafkan dan mengiyakan ajakan laki-laki itu. Meski pertanyaan terbesar dalam benaknya belum terjawab saat itu.
Untungnya, semesta berpihak kepada Jeonghan. Ia tidak perlu terlalu lama terjebak dalam situasi penuh kebingungan tersebut. Satu malam beberapa bulan yang lalu, Jeonghan tidak sengaja mencuri dengan percakapan Seungcheol dengan seseorang di telepon.
Percakapan yang kemudian membuat Jeonghan memahami betul perubahan sikap Seungcheol, juga malam dimana Seungcheol secara tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat berlutut di hadapan Jeonghan. Percakapan yang akan terus terekam di memori Jeonghan setiap kali ia terbangun dari tidurnya dan menyudahi mimpi indahnya. Percakapan yang mendorong Jeonghan untuk mulai berpikir lebih cerdik kedepannya agar ia dapat sepenuhnya membebaskan diri dari belenggu seorang Choi Seungcheol. Hingga hari itu datang, Jeonghan akan terus bersikap normal, berpura-pura seperti apa yang pernah Seungcheol lakukan dahulu sembari terus melanjutkan mimpi dengan pangeran menawan dari kerajaan cinta di bawah alam sadarnya.
“Aman, semua sudah aku atasi.”
“...”
“Nyatanya dia percaya, sudah memaafkan dan kembali seperti biasa.”
“...”
“Nggak masalah kalau aku harus akting pura-pura di depan dia kok. Dia dan keluarganya itu aset yang berharga untuk perusahaan.”
“...”
“Iya, kalau dia dan keluarganya mati, harta mereka akan lari ke aku kok.”
