Actions

Work Header

Sekuntum Bunga di Langit Setelah Hujan Musim Panas

Summary:

2 tahun lebih telah berlalu. Jihoon masih belum mampu melupakan wajah itu.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Musim panas kembali tiba. Hari itu hujan lagi.

Pandangan Han Jihoon mengambang. Selagi air hujan terus menderai atap pemberhentian bus tempatnya berteduh, pikirannya pun turut membumbung tak tahu ke arah mana. Tubuhnya menggigil, namun nihil niatnya untuk mengeluarkan payung dari tasnya dan menggunakannya guna kembali ke rumah. Ada seribu alasan mengapa ia merasa tak pantas untuk pulang sebelum hujan itu berhenti, dan mungkin salah satunya adalah bahwa jiwanya berbisik bahwa ada seseorang yang harus ia tunggu.

2 tahun lebih telah berlalu. Jihoon masih belum mampu melupakan wajah itu.

 

*

 

Waktu itu, musim panas juga tengah ditemani hujan setiap petangnya. Seorang siswa SMA, tampak muram dan berantakan, mencoba mengeringkan seragam putihnya yang basah kuyup—bukan oleh air hujan, karena jelas, air itu lah yang membuat baju itu tampak kusam dan lusuh. Beberapa keluhan muncul dari bibir pucatnya dalam bentuk bisikan lirih, namun ia tahu jelas, tak akan ada yang mendengar. Bahkan jika halte bus itu dipenuhi oleh manusia, ia tahu tak akan ada yang mendengar.

Manusia dan ketuliannya atas kesengsaraan orang lain; Hanjin, si pemuda yang didampingi hujan dan sepi tersebut, tahu itu jauh lebih baik daripada siapapun.

"Kau baik-baik saja?"

Lamunannya dipecahkan begitu saja oleh suara tak dikenal yang muncul begitu saja dari sisi kanan. Lantaran tersentak, Hanjin menoleh ke arah asal suara dengan cepat—tampaknya sukses membuat kaget sang pemanggil juga. Sesaat keheningan yang berisik menjalar di antara keduanya; membuat Hanjin menyadari bahwa sang pelaku pembuyaran waktunya untuk menyendiri itu adalah seorang anak lelaki sepantarannya, tubuhnya yang sedikit lebih tinggi dari Hanjin terbalut dengan seragam yang persis. Ada name-tag yang tersemat di dada kirinya, namun Hanjin tak mampu membaca huruf-huruf yang tertera di sana lantaran kacamatanya yang rusak sudah ia masukkan ke dalam tasnya. Ia dapati anak lelaki itu memandanginya dari atas hingga bawah, kembali ke atas lagi sebelum membasahi bibirnya ragu.

"Sepertinya kau kehujanan air got." Si pemuda tak dikenal berkata dengan polos.

Ogah-ogahan Hanjin terpaksa mengiyakan dalam hati; kalimat itu tidak salah—dia memang habis diguyur dengan sebaskom air keruh. Namun tak ada yang ia lakukan selain beralih untuk memandangi kakinya yang menggigil hebat, mencoba untuk mengabaikan orang itu. Toh, batinnya, kalimat seperti itu seharusnya tidak ia bawa ke hati. Banyak perkataan teman-teman sekelasnya yang lebih menyakitkan, apalagi jika dibarengi pukulan dan tendangan masal. Dirinya tak tahu dan tak mencari tahu apa yang si siswa di sebelahnya lakukan setelah itu hingga mendadak, sebuah handuk kecil disodorkan ke depan wajahnya.

Ia kembali menoleh, tak yakin. Namun sang lawan bicara—kalaupun bisa disebut begitu—mengedikkan dagunya bingung, berkata, "Pakailah. Ini masih bersih, tenang saja."

"... Kau tak akan merampasnya lagi sedetik setelah aku mengambilnya, 'kan?"

Alih-alih seringai licik, Hanjin malah mendapati anak lelaki itu mengerjap bingung sesaat, sebelum dengkus tawanya tiba-tiba menguar di udara—melapisi atmosfer halte yang tadinya terasa begitu dingin dengan hawa hangat yang mendekap. Dia menggeleng di sela-sela tawanya, kembali menyodorkan handuknya ke depan wajah Hanjin, setengah mendesak. "Tentu saja tidak. Kau pikir ini prank siswa SMP atau bagaimana?"

"Orang lain tetap bisa menjadi jahat meski mereka sudah dewasa," gumam Hanjin, memastikan anak itu tak mendengar racauannya dengan jelas selagi perlahan menerima handuk tersebut pada penghujung pikirannya. "Terima kasih... ng... "

"Ah," lelaki tersebut tersentak, buru-buru memajukan name-tagnya yang tadi sejak tadi terus Hanjin pandangi, "Han Jihoon. Namaku Han Jihoon; dari kelas 1-2."

Itu nama yang bisa ia temukan dimanapun, pikir Hanjin kala itu. Ada penyanyi terkenal yang lahir dengan nama itu. Banyak aktor yang tengah naik daun juga menggunakan nama tersebut sebagai identitas utama. Salah satu orang yang menindasnya juga bernama sama. Tetapi, entah mengapa, nama itu terdengar spesial dan mengganjal bagi Hanjin kali ini. Tangan yang Jihoon sodorkan sebagai tandanya untuk mengajak pembangunan hubungan baru Hanjin tatap sejenak, setengah tak yakin. Namun lantas ia menerimanya, membiarkan kehangatan di sekujur jemari Jihoon membalut tangannya yang menggigil hebat, sementara bibirnya berbisik pelan,

"Hanjin. 1-4."

Senyuman lebar langsung terlukis di wajah manis Jihoon. Ia mengguncang tangan Hanjin dengan dua tangannya dan berkata, "Senang berkenalan denganmu, Hanjin!"

Hanjin merasa bingung luar biasa. Padahal di luar halte, hujan masih berkelahi dengan udara dan terus mencumbu tanah, membawa angin dingin yang kasar dan kelam. Namun ada cahaya hangat berwarna terang yang tak mampu ia jelaskan memancar dari daksa Jihoon dan jiwanya. Seolah-olah mengusir segala kesedihan yang ada di dunia di detik ia mengulas senyumnya, dan kala ia memulai pembicaraan dengan basa-basinya yang aneh. Diam-diam, meski tak tahu harus merespons apa, Hanjin terus mendengarkan setiap kalimat yang Jihoon tuturkan dengan penuh semangat seolah ia tengah mendengarkan sabda dari langit nun jauh disana. Perlahan ribuan masalah yang tadi beruntun tiba di kepalanya mulai luruh.

Entah darimana rasa itu berasal, Hanjin mendadak ingin waktu dihentikan selamanya.

 

*

 

Tak butuh waktu lama bagi Hanjin untuk mulai mengenal lebih jauh tentang Han Jihoon, si anak lelaki ceria dengan senyuman secerah mentari di awal musim panas dan seribu keanehannya yang membuat Hanjin tak habis pikir. Dari banyak mulut, ia ketahui Jihoon adalah salah satu dari murid dengan nilai teratas di pelajaran Sains, dan cukup aktif di beberapa olahraga. Mungkin semua orang yang ada di gedung sekolah itu adalah temannya; ia bisa mengobrol dengan siapapun yang berpapasan dengannya di setiap kesempatan, bahkan meski itu wakil kepala sekolah yang terkenal bengis dan kucing peliharaan tukang bersih-bersih sekolah yang tinggal di halaman belakang dan benci manusia. Kehidupan semasa SMA-nya adalah kehidupan SMA yang didambakan semua orang.

Oh, satu lagi. Rumahnya berada di arah yang berlawanan dengan Hanjin. Yang berarti, seharusnya ia tak punya alasan untuk menunggu bus yang akan menjemputnya di halte yang sama. Yang berarti juga; Hanjin tak akan bertemu dan mengobrol dengan Jihoon lagi setelah pertemuan pertama mereka.

Atau mungkin itu yang ia pikirkan... sebelum takdir kembali menitahkan mereka untuk berpapasan.

Kali ini tidak di halte bus. Tetapi di toilet sekolah. Pertemuan kedua yang unik dan nyentrik.

Bilik tempat Hanjin dikurung bersama beberapa ember yang tadi dijatuhkan dari celah atas toilet sepertinya disangga dengan gagang sapu dari luar. Sejak beberapa jam lalu, ia sudah menyerah dengan sempurna—toh, keluar pun, ia tak akan bisa kembali ke kelas dengan baju yang basah kuyup oleh air berbusa; yah, paling tidak yang kali ini lebih baik daripada air bekas pel seperti yang kemarin. Wajahnya juga sudah kacau balau dijejaki air mata. Dalam hati, ia pesimis akan ada yang datang dan menyelamatkan hidupnya kali ini. Mumpung besok akhir pekan, ada baiknya dia mengakhiri hidupnya saja terlebih dahulu—

Dan pikiran itu tertepis jauh-jauh saat itu juga kala ia dengar seseorang mencoba untuk menarik gagang sapu yang mengunci pintu itu dari luar. Rencana bunuh diri tertunda, keluhnya dalam diam, karena ia kini malah harus kembali menghadapi 'teman-teman' sekelasnya yang tampaknya baru saja menyelesaikan kelasnya dan akan kembali bersenang-senang—

"Hanjin?"

Diluar prediksinya, yang terdengar malah suara yang mengedarkan kehangatan absolut. Ia mendongak dan melebarkan matanya kala malah bertemu tatap dengan Han Jihoon yang mengerjap kebingungan, menatapi sepenjuru bilik kamar mandi sebelum kembali berhenti di wajah Hanjin, yang tak mau kalah juga dibaluri raut bingungnya. Keheningan yang canggung terdengar, sebelum tiba-tiba, Hanjin bersin. Mereka kembali bertukar pandang, kikuk dan tak tahu harus berkata apa.

"... Bajumu basah lagi."

Hanjin peluk lututnya merapat ke dada selagi mengangguk pelan, "Aku tahu."

"Apa...," Jihoon menggaruk tengkuknya yang tampak tak gatal, mengalihkan pandangannya lagi, "Ini terjadi setiap hari?"

"Begitulah. Tergantung suasana hati mereka."

Lagi-lagi tak terdengar suara apapun, hingga secarik handuk kecil yang berbeda dengan yang sebelumnya keluar dari tas yang Jihoon sandang di bahu. Ia bentangkan handuk itu di puncak kepala Hanjin, mencoba mengeringkan surai hitam itu tanpa suara. Hanjin secara refleks sempat menghindar, namun tak mampu sepenuhnya melawan Jihoon dengan tenaga yang nyaris sirna.

"Handukmu bisa kotor lagi." keluh Hanjin pelan, lama-lama membiarkan Jihoon untuk terus mengeringkan seluruh tubuhnya dengan handuk biru itu. "Yang sebelumnya belum kucuci."

"Aku masih punya yang lain di rumah." Jihoon menepis, "Khawatirkanlah dirimu sendiri. Kau bisa terkena demam."

"Ini bukan apa-apa—"

"Bagaimana kalau orang tuamu melihat keadaan anaknya yang seperti ini dan merasa khawatir? Melawanlah, astaga. Atau paling tidak laporkan ini kepada wali kelasmu. Kau akan mempertahankan keadaan ini sampai tahun ketigamu, hah?"

Rentetan kalimat yang Jihoon tuturkan nyaris seperti omelan yang Hanjin dengar dari bibir neneknya setiap kali ia berlari ke luar rumah di tengah hujan yang melanda. Matanya bergerak tanpa pertanda ke arah jendela kecil di puncak kamar mandi sekolah, mendapati hujan musim panas masih juga berlangsung seperti petang lalu dimana Jihoon menawarkan handuk kecilnya kepada Hanjin untuk kali pertamanya. Kala Jihoon akhirnya sedia untuk mengusap air yang tersisa di wajah Hanjin yang penuh luka, tiba-tiba Hanjin bermonolog tenang,

"Orang tuaku tak akan khawatir."

Jihoon tampaknya bingung. Wajah bingung yang menghibur—tanpa sadar, Hanjin tersenyum tipis. Senyuman tipis yang ironis.

"Tak akan ada yang khawatir."

Untuk sesaat, tak ada tanggapan yang Jihoon berikan. Ia semakin tekun mengerjakan apa yang ia tadi tengah dirinya kerjakan, mengeluarkan sebuah kaos putih dari dalam tasnya sebelum mendorong benda itu ke depan Hanjin. Ia tatap Hanjin dengan mata tajam dan serius sebelum mendorongnya kembali ke bilik kamar mandi,

"Aku tak mungkin masih berada disini kalau aku tak khawatir."

Maka kala itu giliran kedua mata Hanjin yang melebar, sempurna. Dengan isyarat untuk menggunakan kaos yang ia berikan segera, Jihoon menutup pintu bilik itu tanpa suara lainnya. Kini Hanjin tak pernah lebih bingung sebelumnya; namun ia tak tahu bagaimana harus ia suarakan keheranan itu. Ia buka seragamnya putihnya yang basah kuyup, menggantinya dengan kaos itu tanpa suara dan menyadari luka-luka memar di lengannya sekarang sedikit lebih terpamerkan. Tetapi kaos itu hangat. Entah lantaran sejak pagi tadi disimpan baik-baik di bawah tumpukan buku yang ada di tas hitam Jihoon, atau karena alasan lainnya, Hanjin tak tahu apa-apa.

"Sudah selesai, Hanjin?"

Hanjin tak menyahut. Pikirannya tenggelam terlalu jauh. Semakin jarak antara daksa dan jiwa mereka mendekat, ia semakin tak mengerti apa-apa soal Jihoon. Terutama tentang mengapa ia harus mengkhawatirkan orang yang baru kemarin ia kenal, dan setengah mati berbuat baik kepadanya.

 

*

 

"Hanjin!"

Panggilan ceria yang kini telah sefamiliar sinar mentari bagi Hanjin itu membuatnya menoleh, menghentikan langkahnya yang terseok di koridor yang penuh akan siswa. Ia dapati Jihoon tengah berlari mendekati dengan wajah berbaluri keceriaan, melambai dengan tangan yang diangkat tinggi-tinggi sementara tangan sebelahnya lagi memeluk sebuah kotak bekal. Begitu jarak mereka sudah memungkinkan untuk melakukan pembicaraan dengan suara bervolume normal, Jihoon melontarkan ajakan ramah, "Mau makan siang bersama di atap? Aku bawa bekal hari ini!"

Hanjin mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk sesaat, ragu dan canggung. Sebungkus roti yang ia bawa dari rumah dirematnya erat sebelum ia menjawab pelan, "Ah, tapi..."

"Hm? Kau hanya makan roti sekecil itu untuk makan siang?" Belum sempat Hanjin memberi balasan, Jihoon menghipnotisnya untuk terus melangkah menuju tangga ke lantai teratas dengan menciptakan obrolan baru, "Apa kau tidak akan mati kelaparan di kelas siangmu?"

"Ah... tapi ini porsiku yang biasanya..." tepis Hanjin sangsi, melirik rotinya sebelum sadar bahwa apa yang Jihoon cetuskan barangkali ada benarnya. Jihoon menggeleng pesimis, sebelum tiba-tiba menghentikan Hanjin di depan vending machine. Dari saku celananya ia keluarkan beberapa uang koin, yang lantas ia masukkan ke mesin itu sembari pertanyaannya membumbung di udara,

“Suka susu pisang?"

Anggukan pelan Hanjin membuat Jihoon kembali memberikan perhatiannya kepada mesin besar di hadapannya, menekan beberapa tombol sebelum akhirnya, bunyi klontang kaleng tiba di bagian bawah. Jihoon rogoh saku mesin tersebut guna meraih dua botol mini susu pisang, melemparkan satu kepada Hanjin yang menangkapnya dengan gelagapan dan wajah bingung luar biasa. Senyuman kembali tertulis di wajah itu, tipis namun tersimpul dengan rapi.

"Merek yang ini adalah favoritku. Cobalah."

Tak ada suara yang Hanjin temukan di tenggorokan untuk melemparkan ucapan terima kasih. Namun matanya tak lepas dari botol susu itu bahkan hingga mereka tiba di atap—dan ia rasakan gejolak manis yang meronta-ronta di dalam daksanya. Lama-lama, ia tak lagi mampu menahan senyumnya yang telah lama pergi jauh.

 

"Buka mulut."

Lagi-lagi, Jihoon mengatakan sesuatu guna memecahkan keheningan yang tercipta di antara mereka berdua dengan cara paling ekstrem yang pernah Hanjin pikirkan. Ia menoleh, hanya untuk mendapati sepotong kimbap yang dijepit dengan sumpit melayang tepat di depan wajahnya. Ia tatap kimbap itu ragu untuk sesaat, sebelum perhatiannya terbang ke arah Jihoon yang mengangkat alis selagi mengangguk—mendesak dengan isyarat. Perlahan ia buka mulutnya, cukup lebar untuk Jihoon memasukkan menu makan siangnya itu ke dalam, dan mengunyahnya pelan-pelan.

Masih hangat. Setiap isi yang terbalut nasi hangat itu terasa sangat nikmat, membentur setiap sudut mulut Hanjin dengan kelezatannya, tanpa Hanjin ketahui mengapa. Si anak lelaki yang duduk di sebelahnya tersenyum bangga atas ekspresi kaget yang tanpa sadar Hanjin tampilkan, berkata, "Ibuku yang memasak. Kau menyukainya?"

Hanjin mengangguk cepat, berhasil membuat tawa gemas Jihoon tersembur. Lantas giliran Hanjin yang menawarkan roti susu di tangannya, disambut dengan mulut terbuka oleh Jihoon. Reaksi berlebihan Jihoon turut mengundang Hanjin untuk turut tergelak; keduanya mengomentari bagaimana rasa nikmat menyentuh langit-langit mulut tatkala isian susu di dalam roti itu meluber keluar. Pembicaraan yang ringan; tak ada yang menarik di dalamnya. Namun sekali lagi, Hanjin ingin waktu dihentikan selamanya agar suasana ini menjadi kesehariannya hingga nanti.

Angin sepoi-sepoi yang musim panas tiupkan bersamaan dengan teriknya mentari menciptakan kehangatan khusus bagi suasana percakapan antar Jihoon dan Hanjin yang duduk bersebelahan di atap sekolah selagi menggambar awan imajinari di langit yang biru nan cerah. Jihoon, meski masih ada makanan di dalam kunyahnya, terus berbincang seperti tak akan ada lagi hari esok—sementara Hanjin mendengarkannya dengan tekun; sebuah senyuman terus tersemat di wajahnya yang selalu muram. Ada sesuatu yang dunia persiapkan untuk keduanya; Hanjin mengerti fakta itu dengan sangat jelas. Tapi ia tak peduli.

Untuk saat ini, yang ada untuknya hanya canda tawa Jihoon yang selalu indah serta langit musim panas yang selalu luas. Dan demi kedua hal terpenting itu, ia rela mengorbankan apapun yang ia miliki.

 

*

 

"Kau benar-benar tak ingin melaporkan ini kepada wali kelasmu? Atau paling tidak... guru konseling?"

Tatap menagih jawaban yang Jihoon lemparkan terus-menerus membuat Hanjin mengalihkan pandang. Halte belakang sekolah kala itu lagi-lagi menjadi tempatnya berteduh dari hujan musim panas yang tak kunjung menipis, sembari menunggu bus yang akan dirinya naiki untuk pulang ke rumahnya. Hanjin rasakan lelaki di hadapannya, tak lain pun tak ayal ialah Han Jihoon, tengah sibuk berkutat dengan kain kasa yang digunakannya untuk menutup luka-luka Hanjin yang kian makin parah setiap harinya, beberapa kali meringis ngeri. Hanjin bergumam, "Sudahlah. Kalau ini membuatmu merasa ngilu, jangan paksakan diri—"

"Yang membuatku ngilu adalah kebaikan hatimu, bodoh."

"... Aku tak baik."

"Kalau begitu, berhentilah melindungi 'teman-teman' sekelasmu itu dan laporkan penindasan ini kepada sekolah!" Sentak Jihoon dengan nada luar biasa sebal; dahinya mengerut dalam dan alisnya turun dengan tajam. Hanjin tak pernah melihatnya semarah ini. "Sudah kubilang sebelumnya, 'kan? Bahwa kau tak bisa mempertahankan ini terlalu lama—mereka bisa terus melanjutkannya hingga kita tamat nanti!"

Hanjin balas ucapan itu dengan ringis pelan yang ironis. "Tidak semudah itu, Jihoon—"

"Atau biarkan aku yang melaporkannya."

Kepala Hanjin tertoleh cepat—matanya membulat sempurna. Namun Jihoon tampak tak terganggu, masih sibuk mengoleskan obat merah di luka-luka lain yang ia bawa sendiri dari rumahnya di beberapa titik wajah Hanjin yang penuh luka. Perhatiannya baru kembali berlabuh di mata Hanjin kala ia rasakan tangan pucat itu meraih pergelangan tangannya dan merematnya erat. Senyap tiba dan menyelimuti keduanya, sebelum Hanjin menggeleng, melirih dengan suara serak,

"Jangan."

Alis Jihoon terangkat seolah menantang, membalikkan keadaan dengan membungkus tangan Hanjin di dalam pegangannya yang erat, "Terserah kau mau bilang apa, tapi aku yang melihatnya saja sudah lelah—"

"Kubilang jangan!"

Kini giliran Jihoon yang terbelalak kala tangannya ditepis keras bersamaan dengan Hanjin yang bangkit dari duduknya, mengambil satu langkah menjauh dari Jihoon, dan memanggil bunyi yang menggema kendati mereka tengah berada di ruangan bebas. Debar jantungnya langsung terpacu kencang kala ia sadar atas apa yang ia lakukan, dan sadar atas kedua Jihoon yang menatapnya penuh keterkejutan. Lagi-lagi terdengar hening yang bising, sebelum dirinya sendiri yang sadar air matanya jatuh tanpa sempat ditahan, mencumbu tanah.

"Hanjin." Panggil Jihoon pelan, penuh kehati-hatian—sementara tangisan Hanjin perlahan semakin kentara mengudara, dan kepalanya menunduk dalam selagi ia terus menyalahkan nada tinggi yang baru saja ia keluarkan kepada satu-satunya orang yang memanusiakannya, "Hanjin-ah, lihat aku—"

"Maaf."

Jihoon bangkit dengan tergesa dari duduknya dan mendekati Hanjin yang mengusap bibirnya kasar, mencoba menahan setiap isak tangis yang mendobrak pertahanannya. Ia rasakan kedua tangan Jihoon kini meraih dua sisi wajahnya, menangkup dan mengangkatnya dengan hati-hati seolah Hanjin benar-benar terbuat dari kaca tipis yang akan pecah bahkan jika hanya angin yang mengecup daksanya. Senyum cerah Jihoon tak terdapat di wajahnya kala itu, sukses membuat sedu-sedan Hanjin terdengar semakin jelas selagi ia menggumamkan, "Maaf, maafkan aku—aku minta maaf, aku tak bermaksud—"

"Hei. Tak apa-apa." Air mata itu dengan ligat Jihoon usir dengan ibu jarinya, sebelum perlahan menarik tubuh kecil Hanjin masuk ke dalam pelukannya dan mengimbuhkan, "Aku yang salah. Seharusnya aku tak memaksamu. Tapi aku serius soal itu, Hanjin—kalau suatu hari kau berubah pikiran, katakan padaku, ya?"

Di tengah dekap hangat yang melindunginya dari dunia dan kejahatannya itu, tangis Hanjin makin menjadi-jadi. Tangannya turut serta merapatkan tubuh mereka seolah-olah Jihoon adalah udara; kepada siapa ia bernapas. Ia berbisik, tersendat akan isaknya sendiri, "Aku—aku... aku takut..."

"Apa yang membuatmu takut? Katakan padaku."

"K-kalau... kalau kau melaporkan mereka... dan—dan mereka beralih menindasmu juga... " Hanjin terbata-bata menjawab selagi punggung kecilnya dibelai perlahan, "Lebih baik aku mati... daripada harus melihat itu terjadi..."

Sesaat tak ada balasan yang Jihoon layangkan. Yang Hanjin ketahui hanyalah tangan Jihoon kini naik, mengusap puncak kepala Hanjin halus dan penuh kehati-hatian. Hujan perlahan menemukan klimaksnya dan pada akhirnya, selagi terus merapatkan peluknya, Jihoon berujar,

"Tapi berjanjilah," suara itu juga bergetar, dan Hanjin tak tahu mengapa, "Kau... akan selalu datang kepadaku jika kau dalam masalah."

Sunyi panjang, sebelum yang lantas terambang di udara malah tawa kecil Hanjin yang miris namun juga manis; meski air matanya belum juga selesai berjatuhan.

"Memangnya selain kepadamu, aku bisa datang kepada siapa lagi, Jihoon?"

 

*

 

Kejadian ini terus berulang seperti algoritma yang telah ditetapkan dunia. Entah bagaimana, Jihoon akan menemukannya di salah satu dari ribuan sudut yang terbentang di gedung besar sekolah khusus lelaki tempat keduanya menuntut ilmu itu, dan berakhir menyelamatkannya dari godaan iblis untuk mengakhiri segalanya—mengakhiri hidupnya, dengan cepat. Perlahan mereka mulai saling menemui satu sama lain diluar keadaan terjepit, bertukar sapa di koridor meski hanya saling lempar senyum sekilas, dan mengobrol panjang selagi bersantai menatapi tangisan langit hingga bus yang Hanjin gunakan untuk kembali ke rumah tiba di halte belakang sekolah.

Begitu mengerti bahwa hubungan Hanjin dan orang tuanya tidak cukup baik, Jihoon dengan senang hati mulai menawarkan rumahnya untuk menjadi tempat berpulang kedua bagi Hanjin jika ia butuh. Keluarga yang membesarkan Jihoon sama hangatnya dengan anak itu—kedua orang tuanya menghabiskan waktu petang untuk selalu menyantap makan malam mereka bersama anggota keluarga, dan kakak perempuan Jihoon yang jelas lebih menginginkan adik lelaki yang penurut seperti Hanjin langsung menyambutnya dengan tangan terbuka lebar. Ayah Jihoon lihai dalam memasak, sementara sebaliknya, ibunya bahkan tak mampu mengupas bawang bombay dan sangat ceroboh—tetapi segala kesalahan dianggap sebagai sesuatu yang lucu dan positif di rumah besar itu. Lagi-lagi, Jihoon dan hidupnya yang sempurna ... betapa Hanjin merasa iri.

"Kau boleh menganggap mereka keluargamu, kalau kau mau."

Kalimat itu Jihoon tuturkan dengan santai, selagi ia sibuk mendorong bola basket kempesnya ke udara hanya untuk menangkapnya dan melemparnya kembali. Malam itu hujan masih berseteru dengan musim gugur yang baru saja tiba, bisa Hanjin lihat lewat kaca jendela, namun kamar yang ia dan Jihoon akan gunakan untuk mengistirahatkan diri malam itu terasa sehangat dan senyaman musim semi. Mendengar balasan itu, Hanjin menurunkan buku paketnya dari wajah, melirik ke arah Jihoon yang sedikit pun tak menatapnya. Ia mendesah pelan dan panjang, sebelum menggeleng. "Bukan itu masalahnya."

"Hmm, jadi?"

"Aku hanya masih tak mengerti kenapa kau mau berteman denganku."

Alis Jihoon naik sekilas, "Apa aku butuh alasan untuk berteman?"

Kepala dan hati Hanjin berseteru. Selagi terus membiarkan pikirannya menenggelamkan jiwanya sendiri, ia berandai-andai. Seumur hidup ia tak pernah punya teman; jadi ia tak tahu apakah adanya alasan yang kuat untuk menjalin sebuah hubungan pertemanan adalah sesuatu yang diharuskan. Tapi berteman dengan orang tanpa alasan juga bukan sesuatu yang masuk akal. Seharusnya teman itu saling menguntungkan satu sama lain; paling tidak itu yang ia pelajari dari pelajaran sosial. Jihoon memang menyelamatkannya berkali-kali dari berpikir bahwa hidup ini adalah sebuah kutukan. Tetapi ia tak bisa memberikan apapun sebagai timbal baliknya.

Maka, ia pikir kala itu, jika Jihoon tak punya alasan untuk menjadi temannya, akankah suatu hari nanti Jihoon melangkah pergi dari kehidupan Hanjin dan menyisakan sepi untuk membersamainya?

 

*

 

Rumah keluarga Hanjin menyambut sang pemilik dengan muka masam. Ada ribuan puing-puing kaca yang bertebaran. Suara hardikan dan teriakan penuh amarah terdengar dari dapur bersandingan dengan bunyi barang lain yang dihancurkan. Hanjin berusaha keras untuk tak membuat suara apapun dengan langkahnya yang tergesa menuju lantai dua untuk bersembunyi di balik pintu kamar pribadinya yang tak beda dari ruangan-ruangan sebelumnya. Tirai jendela di sudut kamar tersibak, mempertontonkan hujan di pertengahan musim gugur yang telah tiba lebih cepat dari kedamaian di hidup Hanjin.

Ia hela napasnya panjang selagi merebahkan tubuhnya yang nyaris remuk ke atas kasurnya yang terasa luar biasa keras. Sesaat hanya memandangi langit-langit tanpa satupun pikiran menghampiri, sebelum tatkala ia nyaris memejamkan matanya, ponsel yang berada tak jauh dari tangannya mendadak berdering. Tangannya meraih benda itu dengan kesadaran tipis; namun menyadari nama Jihoon tertulis di layar, tubuhnya refleks bangkit dengan cepat, mengangkat dengan senyuman kecil yang muncul tanpa sebab dan menempelkan benda tersebut kepada telinganya.

"Hanjin! Berita baik, berita baik!" Suara jernih kelewat antusias itu terdengar menembus speaker ponsel, dan senyuman Hanjin semakin lebar kala ia dapati Jihoon di bayangannya tengah mengulas senyum yang sama besarnya, tertarik hingga mata. "Kau sibuk? Aku ingin bercerita panjang, kalau kau luang..."

"Aku luang sekali." Hanjin menanggapi ringan, "Ada apa, Jihoon?"

"Mmmmh, begini," Jihoon memulai topiknya sementara Hanjin berdeham membalas ke setiap kata yang temannya itu cetuskan. "Kau... apa kau pernah menyatakan cinta? Kepada perempuan? Teman perempuanmu saat SMP, mungkin?"

Dahi Hanjin tampak berkerut untuk sesaat—bukan hanya lantaran pertanyaan itu cukup janggal, tetapi juga sembari mencoba untuk mengulang kembali rekaman hidupnya guna mencari pengalaman yang semacam. Nihil, pikirnya, selagi menyuarakan jawabannya dengan penuh rasa bingung, "Kurasa tidak. Kenapa bertanya begitu?"

"Ah, tidak, hanya..." terdengar Jihoon sibuk memilah kata-kata yang harus ia susun, "Begini... aku tampaknya menyukai seseorang."

Tiba-tiba sekali, jantung Hanjin berhenti berdetak untuk sedetik.

Ucapan yang Jihoon ucapkan kala itu menggema di telinga dan otaknya, memantul dan terus memantul tanpa kenal lelah. Mulutnya turut terasa kelat—ia tak tahu kalimat apa yang seharusnya ia ucapkan. Hujan diluar terdengar semakin deras menerpa jendela dan dinding rumah Hanjin, sementara seketika, bahkan suara teriakan kedua orang tuanya dari lantai bawah terdengar menembus pintu kamar. Pikirannya kosong.

"Hanjin? Kau masih disana?"

"A-ah, maaf—" Tersadar, ia membalas panggilan Jihoon dengan gelagapan. "Tunggu... seseorang yang kau maksud itu... dari sekolah lain?"

Kali ini tawa Jihoon yang membalasnya sebelum rentetan kata-kata menyusul, "Tentu saja. Kau mengharapkan aku jatuh cinta dengan seseorang di sekolah kita sementara sekolah kita adalah sekolah khusus lelaki?"

Sesuatu yang tak kasat oleh penglihatan mencekik tenggorokan Hanjin. Benar juga, batinnya; kenapa ia bertanya begitu? Tetapi suaranya tak keluar guna memberi tanggapan. Setiap bunyi yang ada di sekitarnya semakin memukuli gendang telinganya dengan kencang, hingga tutur Jihoon yang memanggil namanya berkali-kali tak lagi mampu tertangkap oleh rungu.

Memangnya kenapa… jika ia jatuh cinta dengan lelaki?

Apakah itu suatu kesalahan?

Hanjin kembali tersedak, batuknya keras dan tak berhenti dalam waktu singkat. Rasa besi menyeruak ke langit-langit mulutnya; dan detik itu, tangannya yang terlalu lunglai untuk memegangi ponselnya melepaskan genggamannya, membuat benda itu jatuh berdebam di lantai. Dan kala ia sadari, tangannya yang menutupi kedua bibir guna menahan segala sesuatu yang ada untuk keluar dan mengotori kasur telah bersimbah cairan merah gelap; dan tiga kelopak bunga gardenia yang putih ikut serta.

Gardenia…yang berarti ‘cinta rahasia, cinta tanpa suara’.

Dunia petang itu seolah berputar. Setiap titik di tenggorokan, dada serta kepala Hanjin diserang rasa sakit yang mengerikan, namun tak ada yang lebih mengejutkannya dari tiga lembar mahkota bunga itu.

“Hanjin? Hanjin, kau baik-baik saja? Kau bisa dengar aku?”

Suara Jihoon yang memanggilnya panik terus berkumandang. Namun ia tak beri jawab maupun tanggap. Tubuhnya bergetar hebat saking rasa takut membalut, maka ia melangkah cepat ke kamar mandi dan membersihkan segala kekacauan.

Apa jatuh cinta dengan seorang lelaki itu… adalah sebuah kesalahan fatal?

Jikalau ‘iya’ adalah jawabnya, maka apakah … ini merupakan hukuman yang Hanjin tuai dari perasaan yang ia pendam?

 

*

 

Hari itu Hanjin sadar, ia menatap Jihoon lebih dari sekadar teman. Mungkin baginya, di sudut terdalam hatinya yang dahulu keras dan tak terisi kasih sayang, tertulis nama Jihoon sebagai satu-satunya hal yang ia kenal. Mungkin baginya… Jihoon bahkan lebih berharga dari hidupnya sendiri.

Itulah mengapa bunga-bunga itu yang beralih menyuarakan perasaannya lantaran tahu Hanjin tak akan bisa. Mereka mulai mengganggu keseharian, membakar tenggorokan, dan membuat Hanjin terus menderita akan sakit yang ia rasakan di dada bahkan selama ia tertidur lelap.

Kata salah satu buku yang ia dapatkan dari perpustakaan sekolah, batuk yang mengeluarkan bunga dan darah yang berkepanjangan itu disebut Penyakit Hanahaki. Penyebabnya adalah tatkala cinta yang seseorang pupuk dan tanam di dalam dirinya tak berbuah manis–atau tidak dibalas perasaannya oleh sang pujangga hati. Ada beberapa pilihan untuk para pengidap agar bisa menghadapi penyakit ini; diantaranya yaitu menyatakan perasaannya kepada yang ia cintai, atau menjalankan operasi ‘pengangkatan taman bunga’ dari paru-paru–yang konon, memberi resiko bahwa sang pengidap akan melupakan keberadaan orang yang ia cintai itu secara total. Pilihan terakhir, paling sederhana dan tidak punya efek samping lain; ialah mati.

Selagi melirik ke arah ruang makan, dimana ayahnya tengah sibuk membolak-balikkan halaman koran, dan ibunya membersihkan sisa-sisa makanan di meja makan dengan gelagat kesal. Tak lama hingga tiba-tiba terjadi lagi adu argumen di antara keduanya, membuat Hanjin jelas meragukan pilihan kedua. Operasi itu jelas akan sangat mahal; dan dua orang tuanya, dengan keadaan keluarga yang seperti itu, jelas tak ingin memperdulikan apapun masalah yang tengah Hanjin hadapi dan ogah mengeluarkan sepeser pun uang untuk itu. Maka kembali ia angkat tubuhnya dari sofa ruang tengah untuk pergi ke kamar, menyadari batuk tak normalnya itu mulai kambuh tiap hari mulai menggelap.

Seingatnya, sudah tiga hari ia tak menghadap Jihoon sama sekali di sekolah. Ia mengambil jalan lain untuk pulang dan tidak menunggu di halte belakang sekolah; buru-buru melesat masuk ke kelas tiap kali Jihoon menegurnya di koridor agar mereka bisa menyantap makan siang bersama, hingga pura-pura tuli akan panggilannya dari seberang lapangan tiap kali langkah mereka bertemu. Selagi menatap kaca di atas wastafel toilet kamarnya dan mengusap secarik sisa darah yang melipir di bibir, pikirannya kembali menerawang luas. Muram dan penuh keironisan.

Dia tak mungkin bisa terus-terusan begini.

 

*

 

“Ah, Hanjin! Kabarmu baik?”

Tangan tegap terasa merangkul leher Hanjin siang itu dan menghentikan langkahnya untuk mencari ruangan sepi untuknya melahap makan siangnya. Ia menoleh terkejut, mendapati segerombolan wajah tak asing menghampirinya dari belakang dan menyapanya dengan seringai lebar. Takut-takut, ia coba untuk lepaskan diri, namun hasilnya mustahil. Tawa di murid yang nyaris mencekik lehernya itu terdengar semakin keras, berkata,

“Hei, kita, ‘kan, sudah lama sekali tidak mengobrol. Jangan sombong begitu.” Siswa dengan wajah licik itu pura-pura memanyunkan bibirnya sebal. “Hari ini apa menu makan siangmu, teman? Oh, roti dan susu pisang lagi?”

Teman-temannya tertawa, bergerak mendekat dan merebut dua santapan Hanjin dari tangannya dengan mudah. Hanjin nyaris berucap tak terima, berkata, “Ah, itu makan siangku satu-satunya—”

Dan alhasil, satu tumbukan keras menghantam pipinya hingga tubuhnya jatuh berdebam di lantai. Matanya terbelalak, merintih kala dinding di ujung koridor sudah mencumbu punggungnya, dan tampaknya ia tak akan dibiarkan terduduk begitu saja hari ini. Si siswa lelaki dengan tubuh paling besar dan wajah paling girang mendekatinya selagi berkata, “Hei, kami lapar. Berikan kami uangmu seperti biasa, ya? Kita teman, ‘kan?”

Meneguk salivanya takut, Hanjin menggeleng riuh, “A-aku tak punya uang—”

Sekali lagi tangan besar itu menghantam kepalanya. Tawa yang menggelegar terdengar serentak dengan tendangan keras yang menyerang perut kosongnya berkali-kali. Ia meringis, mengeluhkan keadaannya kala itu kepada Tuhan yang bahkan tidak ia imani. Lantas salah satu dari mereka tiba-tiba maju dengan menunjukkan layar ponselnya ke depan mata Hanjin dan berkata,

“Hmm, kalau kau tak ingin memberikan uangmu, aku bisa menyebarkan foto ini.”

Kedua mata Hanjin langsung nyaris keluar dari tempatnya. Tubuhnya bergetar hebat, membuat reaksi ketakutannya semakin memuaskan anak-anak lelaki yang berdiri mengerumuninya itu. Di layar ponsel yang dihadapkan kepadanya… ia dapati potret dirinya yang tengah dipeluk erat oleh Jihoon musim panas silam di halte belakang.

“Biar satu sekolah tahu,” Bisikan itu kembali terdengar begitu bahagia, “Bahwa Hanjin dari kelas 1-4 dan Han Jihoon 1-2 ternyata menjalin hubungan romansa yang—”

“Han Jihoon tidak ada hubungannya!!!”

Gelak tawa mereka terdengar semakin keras dan bengis. Salah seorang dari mereka memberikan pukulan terakhir di pipi Hanjin, keras sekali hingga tubuhnya kembali terbanting ke lantai. Mereka mencibir, “Menjijikkan. Homo. Dia membela pacarnya, teman-teman… ah, cinta sejati…”

Orang-orang menyorakinya, memanggilinya dengan perkataan-perkataan tak pantas. Hanjin rasakan tenggorokannya malah terasa semakin panas—bahkan lebih perih dibandingkan sekujur tubuhnya yang terus ditendangi. Namun nama yang ia gumamkan di hati hanya satu; Han Jihoon, Han Jihoon, Han Jihoon;

Semoga tak ada yang tahu perasaanku kepadamu, agar mereka tak melayangkan satu sentuhan dan hinaan apapun kepadamu.

Hingga tiba-tiba sekali, seseorang dari balik kerumunan mendesak masuk. Semua kepala tertoleh; namun Hanjin baru sanggup mengangkat kepalanya yang penuh luka memar kala suara teriakan marah si ketua gerombolan terdengar. Dan kini matanya membulat sempurna. Jantungnya berdetak keras. Tangannya bergetar hebat. Ia rasakan kehangatan yang ia cari-cari kini kembali mendekapnya kala Han Jihoon muncul dari kerumunan itu setelah meninju salah satu dari mereka, dan menghampiri Hanjin dengan wajah luar biasa panik.

“Hanjin! Kau baik-baik sa—astaga, lukamu—”

Mendapati tangan Jihoon menangkup pipinya khawatir sementara segerombolan lelaki tadi berteriak semakin jijik, Hanjin menatap Jihoon dengan penuh kecemasan, “Jihoon, kenapa—kenapa kau kesini—”

“Kita harus mengobatimu dulu. Ayo ke klinik sekolah—”

Namun perkataan Jihoon kala itu ditepis keras begitu salah satu dari penindas Hanjin maju dan meninjunya keras hingga tubuhnya kehilangan keseimbangan. Hanjin memekik, si siswa berandalan tertawa hebat, namun Jihoon mendelik ke arah mereka selagi mengusap bekas pukulan itu.

“Ji—Jihoon, kau terluka—” Namun panggilan penuh kecemasan yang Hanjin lemparkan justru hanya disambut oleh jaket Jihoon yang ia lepas selagi bangkit, meregangkan lehernya ke kanan untuk sedetik.

“Sebentar, Hanjin,” Ucapnya pelan. “Setelah ini, kita masih harus bicara.”

 

Pertikaian besar antara Han Jihoon, murid teladan dari kelas 1-2 melawan setengah kelas 1-4 siang itu menjadi topik hangat di setiap sudut sekolah. Pada akhirnya salah satu guru yang menemukan mereka di sudut koridor lantai empat yang melerai, membawa semua yang ada disana sebagai saksi—begitu pula Hanjin. Pasca diberi nasihat panjang, guru-guru menyarankan Jihoon dan Hanjin untuk pergi lebih dahulu ke UKS guna mengobati sisa-sisa luka. Di sepanjang jalan, yang Hanjin perhatikan hanyalah puluhan luka yang Jihoon dapatkan hanya untuk membelanya—dan kini, kerongkongan serta dadanya semakin ditempa keras oleh sosok tak terlihat.

“Ini akan sedikit perih. Tahan, ya.”

Ucapan Hanjin disusul dengan suara pekik Jihoon tiap kali luka di dagunya ditepuk hati-hati menggunakan kapas yang telah dicelupkan ke dalam obat merah. Tangannya mencari tangan Hanjin yang menganggur untuk digenggam erat, sebelum terus mengeluh, “Ah, Hanjin, aduh—pelan, Hanjin! Pelan!”

“Suara semacam itu bisa mengundang kesalah pahaman.” Gerutu Hanjin pelan; kini Jihoon berbalik tertawa meski jelas wajahnya masih menahan perih dari obat yang dioleskan Hanjin. “Lagipula… kenapa tadi kau melawan mereka? Kau sendirian, Jihoon. Mereka ada belasan.”

Sesaat wajah penuh kelukur itu tampak mempertinbangkan jawaban yang pantas. Tetapi, pada akhirnya, yang ia lakukan hanya mengedikkan kedua bahunya serentak, “Lantas aku harus membiarkan mereka terus-terusan memukulimu sampai jam istirahat siang berakhir, begitu?”

Hanjin menghela napasnya, kasar dan penuh keputusasaan, “Tetapi kau seharusnya tak perlu—”

“Seharusnya kubiarkan saja?”

“Jihoon, dengar—aku tak pernah memintamu—”

Kini alis Jihoon terangkat selagi menyela dengan suara yang juga ikut naik, “Oh, sekarang aku tak boleh lagi melakukan apa yang aku inginkan? Aku harus mendengarkanmu terus, dan menurut seperti anak anjing yang bodoh, ya?”

Kalimat Hanjin terhenti di kerongkongan; matanya terbelalak mendapati ia mendengar suara Jihoon, yang biasanya menenangkan seperti hujan di musim panas, kali ini terasa sedingin badai di bulan desember. Rasa-rasanya, degup jantungnya kala itu turut mengambil jeda panjang bersamaan dengan keheningan di sana. Jihoon mendengkus sekali lagi sembari menjatuhkan punggungnya ke sandaran ranjang unit kesehatan, tampak memilih untuk berbaur di antara keheningan sebelum tiba-tiba, Hanjin bergerak meraih tangan Jihoon perlahan, penuh kehati-hatian.

“Bukan begitu…,” bantah Hanjin dengan suaranya yang mulai serak, “Aku… aku hanya… tak mau kau terluka karena membelaku.”

Dua mata Jihoon kini kembali melirik ke arah Hanjin, menatapnya sesaat tanpa mengumbar jawaban pasti. Tak lama hingga Hanjin, yang kian waktu semakin menekuk lehernya, tiba-tiba mendengar kekehan kecil. Ia angkat kepalanya kala tawa lembut itu terdengar semakin jelas, dan mendapati Jihoon kini tergelak senang. Kebingungan, Hanjin pandangi Jihoon penuh tanda tanya di kepala dengan mata bengkaknya, membuat Jihoon membalas remat tangannya dan mengundang Hanjin untuk mengikis jarak di antara mereka.

“Kupikir kau membenciku, Hanjin.”

Hanjin mengerjap bingung, menggeleng kuat selagi mengusir setitik air mata yang tertanggal, “Tidak mungkin aku bisa membencimu.”

“Tapi kau menjauhiku belakangan ini.” Tuduh Jihoon mutlak; jarinya naik menekan hidung Hanjin, membuat si anak lelaki berwajah pucat itu menjengit kaget. “Kita tidak lagi makan siang bersama. Kau tidak mengambil jalur bus di belakang sekolah. Setiap aku menyapamu, kau mengabaikanku dan berlalu begitu saja. Ah, kau juga tidak main ke rumah, atau—”

“Aku tidak membencimu.” Sela Hanjin cepat; buru-buru membasahi bibir bawahnya yang kering kerontan, “Hanya… ada alasan lain. Aku tak membencimu sama sekali. Percayalah.”

Sedetik hening melanda, dan tatap Jihoon kini berubah melembut. “Kau ingin cerita soal itu?”

“...Tidak.” kerongkongan Hanjin kembali dihadiri rasa bebungaan dan darah, sementara ia alihkan pandangnya untuk sesaat, “Tidak sekarang.”

“... Baiklah.” Jihoon mengangguk setelah menghabiskan beberapa detik penuh perhitungan. Kini jemarinya naik, mengusap surai hitam Hanjin yang berantakan perlahan selagi senyumnya ia ulas meski tipis dan nyaris tak kasat mata. “Aku akan menunggu.”

Sunyi senyap terjalin begitu panjang. Hanjin masih setengah dari kata sadar kala ia rasakan Jihoon menariknya untuk mempertemukan bahu mereka, membuat Hanjin menyandarkan kepalanya di bahu lebar itu tanpa perintah verbal. Punggung Hanjin dibelai penuh perhatian. Ada bisik lembut Jihoon yang terus menenangkannya. Hawa hangat, entah terpancar dari suhu tubuh ataupun jiwa yang Jihoon simpan, mengikis habis dingin yang ditinggalkan oleh gerimis musim gugur.

Mata Hanjin ia pejamkan perlahan. Dan meski di tengah kegelapan itu, yang mampu ia lihat hanyalah Jihoon dan senyumannya.

Lagi-lagi ia disadarkan atas keberadaan perasaan tabu yang ia kunci rapat-rapat untuk melindungi persahabatan ini.

 

*

 

Beberapa minggu terakhir mereka kembali menghabiskan waktu bersama; dan penyakit yang menggerogoti Hanjin serta paru-parunya semakin parah.

Beberapa kali Hanjin telah mengukuhkan tekadnya untuk pergi ke rumah sakit dan mencari satu dari seribu dokter yang akan percaya padanya, tapi di akhir rencana, ia hanya mundur lagi dengan ragu. Selain karena tak punya kesempatan untuk menuju ke sana di minggu-minggu ujian pertengahan semester ini, semua laci di kamarnya juga tak lagi menyediakan uang barang sereceh pun. Menyedihkan, pikirnya sore itu selagi menenggelamkan tubuhnya di atas ranjang kerasnya. Tampaknya dia akan mati begitu saja.

Mungkin saja Jihoon mulai menyadari Hanjin terlalu sering melenggang ke toilet di tengah-tengah sesi makan siang mereka, tapi untungnya, ia tak menyuarakan kegundahannya. Maka, mengikuti alur untuk juga terus berpura-pura bodoh, Hanjin turut bertingkah sebagaimana ia sebelumnya menyikapi Jihoon—sebelum akhirnya, ia mendapati jalan buntu.

Siang itu hujan masih setia menangisi kota. Hanjin, yang baru saja menerima nasihat panjang dari sang guru perkara ‘menjaga kesehatan’ dan ‘beritahu orang tuamu soal sakit tenggorokanmu itu—kau bisa terhitung absen jika terus-menerus pergi ke toilet di tengah pelajaran’, kini tengah mengambil roti kecil sebagai menu makan siangnya di vending machine dengan sisa uang jajannya bulan lalu. Menatapi roti itu muram selagi berpikir bahwa ia tak mungkin bisa kenyang hanya dengan ganjalan sekecil telapak tangannya itu, Hanjin kembali menghela kala sadar bahwa koin terakhirnya telah habis. Malam ini ia harus menemui orang tuanya dan berlutut selama tiga jam hanya untuk dua koin lagi.

 

Tetapi lamunannya buyar kala ia lihat ramai sekali murid-murid angkatannya berdesak-desakan di balkon sekolah guna melihat ke arah lapangan upacara di bawah sana. Tadinya ia tak berniat untuk cari tahu, tetapi suara familiar di tengah ricuhnya para siswa membuatnya menoleh dan menghentikan langkah.

“Ah, Ha Yoon juga datang?”

“Tentu saja, Jihoon bodoh. Ini, ‘kan, studi banding dengan sekolahnya!”

Sekelebat, di antara para siswa yang berdesak-desakan menontoni segerombolan siswi dengan seragam yang tak asing tengah berbaris di lapangan, Hanjin dapati Jihoon tersenyum lebar. Tatapannya terpaku ke bawah seolah mencari satu kepala. Musim gugur terasa begitu hangat hari ini; padahal yang Hanjin ketahui, hari ini adalah penutupan musim. Angin membelai rambut Jihoon perlahan; ia sisir surai gelapnya kembali ke belakang agar tak mengganggu pemandangan. Hanjin tahan napasnya kuat-kuat.

Indah sekali.

Tetap, Hanjin benci pemandangan itu.

Kenapa tak pernah sekalipun Jihoon sandarkan tatap seindah itu kepada Hanjin? Kenapa bukan Hanjin saja orangnya? Kenapa harus orang lain—kenapa harus seorang perempuan? Yang cantik jelita, mungkin bertubuh lebih kecil dari Jihoon, yang harus berjinjit jika ingin mengecupnya, dan berukuran pas untuk masuk ke dekapannya?

Kenapa… kenapa Hanjin tak bisa secantik itu?

Sesuatu mulai menggerogoti lehernya. Ia hanya bisa berharap itu sekedar dahak atau saliva.

Kenapa Hanjin bukanlah perempuan, agar perasaan yang ia tata rapi di dalam hati ini bukanlah dosa atau aib di mata Jihoon jika ia mengaku nanti?

Suara batuknya kembali terdengar keras. Lengan kemeja putihnya, yang tadi ia gunakan untuk menahan segala yang ingin keluar dari mulut, kini dirembesi darah yang mengucur deras. Tubuh Hanjin gemetaran mencari sandaran, mencoba sekuat tenaga untuk melangkah pergi dari tempatnya berdiri meski batuknya terus-menerus bersuara. Seperti ada sesuatu yang menyumbat paru-parunya, ia mulai merasa sesak. Sakit sekali, namun dirinya harus segera pergi dari sana—

“Hanjin?”

Ada panggilan familiar yang membuatnya lagi-lagi menghentikan langkah. Kepalanya ia tolehkan perlahan, sebelum akhirnya, pandangannya dengan sang pemanggil, tak lain maupun tak ayal, Han Jihoon, bertemu sempurna.

Waktu seperti dibekukan. Namun kedua mata Jihoon berhasil membulat, dan air mata pertama Hanjin sukses menetes.

Dia tak mau Jihoon tahu perasaan tabu yang ia pendam dalam-dalam ini. Dia tak mau Jihoon merasa jijik. Dia tak mau Jihoon menganggapnya tak normal. Dia tak mau Jihoon tahu bahwa keindahannya nyaris mengikis nyawa Hanjin hingga butir terakhir.

Maka, meski tubuhnya semakin dihancurkan dari dalam oleh taman bunga yang ia rawat dengan cintanya, ia berlari pergi. Jauh dari semua orang, jauh dari tempatnya tadi terbungkam—jauh dari Han Jihoon, dan hatinya yang tak akan pernah membalas perasaan Hanjin.

 

“Hanjin? Hanjin, kau baik-baik saja?!”

Berlumuran darah tangan itu kala ia buru-buru menghidupkan kran wastafel, memaksa kelopak-kelopak bunga seputih susu yang diberkahi bercak merah itu masuk ke dalam saluran air meski batuk kerasnya masih sungkan berhenti. Ia menyahut suara khawatir Jihoon dari dalam kamar mandi sekolah dengan setengah berteriak, “Jangan—ukh—jangan masuk dulu!”

Tapi Jihoon selalu keras kepala. Itu yang Hanjin selalu ketahui; bahkan hingga hari ini.

Darah dan bunga masih belum berhenti keluar dari bibirnya kala pintu kamar mandi didobrak keras. Gelagapan Hanjin usap habis darah di pinggir bibirnya, namun ia tak cukup cepat. Menyusul pintu yang tampak kehilangan engsel atasnya, Jihoon masuk ke kamar mandi dengan napas tersengal. Tadinya matanya berkeliling cemas; singgah di lantai bersimbah darah, naik ke wajah pucat Hanjin yang sedikit pun tak mau menghadapnya, hingga berhenti di wastafel dimana bunga-bunga putih yang Hanjin tanam berguguran. Kedua manik itu melebar sempurna. Hanjin kehilangan tenaga untuk kabur atau menyembunyikan, maka ia biarkan keheningan datang seperti salju pertama di bulan akhir sebelas.

Hal pertama yang Jihoon lakukan di keheningan itu adalah menahan napasnya.

“Hanahaki…?”

Hanjin melayangkan gumaman sebagai balasan, masih terbatuk kecil—tak ada lagi suara yang bisa ia temukan di tenggorokannya. Senyap kembali tiba, sebelum Jihoon akhirnya mendesah, mengusap wajahnya kasar penuh ketidak percayaan.

“Siapa … yang membuatmu seperti ini, Hanjin?”

Andai saja Hanjin bisa berteriak, “Kau orangnya, Han Jihoon.”

Tetapi mustahil. Nihil. Nyalinya hilang dalam sekali sentil.

Maka yang ia suarakan kala itu hanyalah kalimat kosong penuh kebohongan; “Seseorang… yang tidak kau kenal.”

“Sejak… sejak kapan?”

Hanjin meneguk salivanya yang telah bercampur darah, “Awal musim gugur.”

“... Perempuan? Dari… sekolah lain?”

“... Laki-laki. Dari sekolah ini.”

Tatapan Han Jihoon jatuh. Keheningan yang nyata tiba tanpa diundang, dan Hanjin tak mengerti apapun yang terjadi setelahnya selain persahabatan mereka hancur di saat Hanjin berbohong untuk melindunginya, lantaran Jihoon mengambil langkah mundur tanpa menatap Hanjin untuk terakhir kalinya.

Ah. Hanjin ingin merengkuh kakinya. Ingin memohon dan berlutut agar Jihoon tak pernah pergi dari hidupnya. Ingin menyatakan bahwa sejujurnya Jihoon lah yang ia cintai sebegitu dalamnya. Ingin meminta kebahagiaan dan keabadian bersanding di sebelah nama mereka. Tetapi Jihoon terlanjur benci. Terlanjur jijik. Karena Hanjin jatuh hati… kepada sesama jenisnya sendiri.

Daksa Jihoon perlahan mengecil dan menghilang. Tangis Hanjin pecah di saat itu juga; seluruh adegan bahagia yang pernah ada di hidupnya melambung pergi begitu saja.

 

*

 

“Kami akan bercerai secepatnya. Kau bebas memilih ingin ikut siapa.”

Hanjin tahu ia akan mendengarkan kalimat itu suatu hari nanti, namun kala suara ibunya menggema di ruang makan tepat setelah seribu kejadian mengerikan hari ini, rasanya satu-satunya puing-puing hatinya diremuk habis. Ia tak lagi menangis. Ia memang tak menangis. Tampaknya ia kehabisan air matanya.

“Ibu akan kembali ke China.” Ucapan lain sang ibu layangkan perlahan, meletakkan segelas susu di meja yang berdiri tegak di hadapan Hanjin. “Ayah akan tetap disini. Sebelum sidang dan segala macamnya itu dimulai… pilihlah dengan siapa kau ingin tinggal.”

Yang bisa Hanjin lakukan hanya mengangguk. Mengerti atau tidak pun, tak lagi penting baginya. Ayahnya tak terlihat di sudut rumah manapun meski salju pertama akhirnya berjatuhan dari langit. Ia dengar ibunya menghela napas, panjang sekali.

“Maaf, ya, sayang. Kami tak bisa memperjuangkan keluarga ini lagi.”

Sekali lagi, Hanjin hanya mengangguk.

 

Ia juga sudah lama berharap semua ini baiknya diselesaikan dengan cepat.

 

*

 

Musim dingin tiba bersamaan dengan minggu ujian semester yang tahun ini sedikit lebih cepat daripada biasanya. Yang Jihoon tahu, kemungkinan libur semester pun akan dipercepat lantaran banyak sekali prediksi akan terjadinya badai salju di pertengahan hingga ekor Desember, namun ia tak bisa turut melompat antusias seperti yang teman-teman sekelasnya lakukan kala wali kelas mereka mengumumkan rumor itu tanpa disengaja. Kepalanya tertoleh perlahan ke arah jendela, dimana ia dapati butir salju kembali turun setelah berhari-hari sejak salju pertama jatuh. Pikirannya melambung jauh.

Sudah lebih dari dua minggu dirinya dan Hanjin mulai mengambil jarak untuk diletakkan di antara satu sama lain. Kali ini, kedua belah pihak terlibat. Tak ada lagi sesi makan siang di atap. Tak ada lagi obrolan hangat di halte belakang sekolah. Tak ada lagi sapa yang terlempar di koridor tiap mereka berpapasan—kontak mata saja sudah sesuatu yang membanggakan. Mereka bahkan menghindari menyebut nama satu sama lain lagi meski di dalam hati.

Tetapi Jihoon masih tak usai mengkhawatirkan Hanjin dan seribu masalah yang menghadangnya. Diam-diam ia mulai mempertanyakan alasan mengapa ia pergi meninggalkan Hanjin kala itu; apakah karena Hanjin mengaku ia jatuh cinta kepada seorang lelaki? Atau terdapat alasan lain dibalik perlakuan yang begitu tiba-tiba dibisikkan jiwanya tersebut? Ia tak siap jika suatu hari, Hanjin menghampirinya untuk menanyakan hal tersebut; karena bahkan dirinya sendiri pun tak kunjung temukan jawaban.

“Baiklah, kelas akan berakhir disini hari ini. Jangan lupa untuk terus menjaga kesehatan, dan belajar dengan giat.” Suara sang wali kelas kembali bergema, membuat Jihoon menepis seribu kegundahannya dan kembali melihat ke depan kelas. “Ketua kelas, tutup kelas ini.”

Kali ini, selagi bangkit dan memberi salam kepada sang guru, Jihoon berandai-andai. Haruskah ia pergi ke halte belakang sekolah hari ini?

 

“Ya, Han Jihoon! Kau serius tidak ingin bergabung?”

Teguran yang salah satu temannya lemparkan itu membuat Jihoon meregangkan otot-otot lehernya ke kiri selagi terus berjalan hingga tiba di hadapan loker sepatu, tampak tak terganggu, “Tidak tertarik.”

Teman sekelasnya, Kim Woonhak, yang tadi melemparkan undangan lisan itu mengerucutkan bibirnya sebal, membuka lokernya selagi melanjutkan, “Padahal ada Seo Ha Yoon.”

“Mmh. Kalian saja.”

“Kau ini… kalau hanya sekedar penasaran, seharusnya bilang dari awal, dong.”

Omelan Woonhak tidak sedikit pun ia gubris. Ia buka loker sepatunya tanpa sedikit pun memperhatikan, selagi melepas sepatu dalam ruangan yang ia angkat masuk ke dalam loker. Saat itulah, ia tiba-tiba menyadari sepatu hitamnya bukan satu-satunya hal yang ada di loker tersebut. Matanya mengerjap, bingung. Ada sebuah amplop putih tergeletak disana seolah ditinggalkan seseorang sengaja untuk dibaca Jihoon tepat di jam pulang sekolah.

“Hooo.” Suara Woonhak kembali terdengar kala matanya mendapati amplop itu tiba di tangan Jihoon; ia palsukan kekecewaan di wajahnya. “Kau punya simpanan lain, ternyata… Kasihan Seo Ha Yoon—hei, sebentar, kalau itu ada di loker sekolahmu… berarti dari seorang laki-laki???”

Jihoon mengerling Woonhak yang kini tampak kagum. “Apa?”

“Bro… Aku tak tahu kau sekeren itu di mata orang lain hingga menggaet hati lelaki juga! Tapi tak masalah, aku terbuka soal ini!”

“Kau membual.” Jihoon mendesah pelan, meletakkan tasnya di lantai sebelum perlahan membuka amplop itu. “Bisa jadi ini surat ancaman—”

Tetapi kalimatnya terhenti kala ia berhasil membuka surat itu sempurna. Tubuhnya turut membeku sesaat; namun ia buru-buru mengusir Woonhak yang hampir mengintip dan kembali memfokuskan penglihatan kepada kertas kusut itu.

‘Yang paling kusayangi, Han Jihoon,’

‘Ini tulisan Hanjin.’ Batin Jihoon selagi mengulum bibir bawahnya, beriringan dengan degup jantungnya yang tak karuan, ‘Ini tulisan Hanjin. Ini dari Hanjin.’

Maka yang ia lakukan setelahnya adalah mengumpulkan keberanian untuk membaca surat itu hingga akhir. Bercak air mata yang tertinggal disana ia usap perlahan. Tanpa peduli orang-orang mulai pergi dan meninggalkan gedung sekolah, ia susun rentetan huruf itu di kepalanya guna dicerna secepat yang ia bisa,

Dan lantas ia rasakan jantungnya jatuh mencelos. Tak butuh waktu lama hingga ia rasakan tubuhnya mulai bergetar hebat. Rematan erat yang ia berikan kepada kertas itu bisa saja merusaknya dengan cepat, namun ia tak lagi pikir panjang. Buru-buru ia pakai kembali sepatu hitamnya, merapatkan syal yang ia lilitkan di leher dan meraih tasnya.

Di detik setelahnya, Jihoon sadar ia tengah berlari meninggalkan tempatnya berdiri dengan perasaan tak karuan. Salju tebal yang menghalangi jalan ia terjang habis, dan meski udara dingin menggerogotinya hingga tulang, kakinya tak mau berhenti. rasanya jarak antar pintu masuk sekolah dengan tempat yang ia tuju sengaja diperpanjang oleh sesuatu yang tak ia ketahui wujudnya, dan air matanya mulai menetes lantaran frustrasi. Dia tak pernah secengeng ini.

Ada seribu hal yang ingin ia katakan kepada Hanjin. Ada seribu maaf, seribu terima kasih, dan seribu kalimat lain yang ia ingin Hanjin mendengarnya dengan jelas. Dan ia berharap kali ini ia mampu mengucapkannya tanpa membangun ego atau gengsi.

Dia jatuh cinta.

Jauh sekali sebelum segala hal ini menghantam hubungan mereka berdua, ia tak sadar bahwa ia mulai jatuh cinta dengan paras menawan Hanjin. Tubuh kecil Hanjin yang rapuh. Jiwanya yang sejernih langit biru. Tawa Hanjin yang halus dan terdengar seperti serenata. Hanjin di musim panas, Hanjin di bawah guyur hujan, Hanjin yang tengah menangis, Hanjin yang tengah tertawa—

Hanjin membuat Han Jihoon tak sadar bahwa ia telah jatuh cinta lantaran keberadaannya yang seindah hujan musim panas. Tenang… dan menghilang dikala tak ada yang sadar.

 

____

 

‘Ada banyak hal yang ingin kukatakan, tapi aku tak punya waktu. Ayah dan Ibuku bercerai. Aku sudah berpikir panjang dan memilih untuk pindah ke rumah Nenek dari ibuku di Cina. Jadi, sayang sekali, (kau bisa saja merasa lega atas itu, tetapi aku mulai merasa sedih membayangkannya) kita tak akan bertemu lagi. Aku ingin meminta maaf untuk banyak hal, dan berterima kasih untuk banyak hal pula. Terima kasih karena telah sudi menjadi satu-satunya temanku. Maaf karena aku merepotkanmu.

Ah. Maaf karena berbohong beberapa minggu silam. Sebenarnya, orang yang aku cintai adalah kau seorang, Jihoon.

Aku berbohong karena aku tak ingin kau meninggalkanku. Maafkan aku. Maaf karena sudah memendam perasaan kepadamu. Maaf jika aku menjijikkan. Maaf karena kau harus dicintai oleh orang sepertiku.

Jika masih ingin mengatakan sesuatu; entah itu caci maki atau amarah, datanglah ke halte dimana kita pertama kali bertemu. Hingga pukul dua belas siang, aku akan menunggu.

Tertanda, Hanjin.’

____

 

Pukul 12.02.

Napas Jihoon tak lagi teratur. Tangannya menopang seluruh tubuhnya di lutut selagi ia membenarkan sistem setiap organ di tubuhnya—namun ia terlalu memaksa, dan berakhir tersedak oleh udara dingin. Perlahan ia angkat kepalanya, penuh harapan dan doa. Matanya menangkap halte bus di belakang sekolah yang menjadi saksi bisu pertemuan mereka di awal musim panas silam.

Sekali lagi, dadanya mencelos dalam.

Tak ada siapa-siapa disana.

 

Hanya ada ayah Hanjin di rumah mereka, masih berada di bawah titah alkohol kala Jihoon mengetuk pintu dan ia yang menyambutnya. Dengan wajah merah padam, ia tatapi Jihoon dari puncak kepala hingga ujung sepatunya, dan cegukan keras.

“Aku—hik!—tak tahu anak itu punya teman.” Gerutunya pelan. “Dia sudah berangkat ke rumah neneknya sejak—hik!—siang tadi. Bukankah sebagai temannya seharusnya kau yang—hik!—tahu…?”

Jihoon mengusak surainya setengah tak sabar, “Ah…atau, paling tidak, apakah paman punya kontaknya yang bisa dihubungi? Ponsel lamanya ia tinggalkan di loker sepatunya…”

Lelaki paruh baya itu hanya menggeleng—jelas tampak seperti menggelepar di mata Jihoon, yang pada akhirnya, menghela panjang. Tangannya masih meremas amplop yang Hanjin tinggalkan di lokernya seolah-olah itu separuh dari nyawanya—namun, tiba-tiba perasaannya terasa semakin tak menyenangkan. Kerongkongannya panas seperti dialiri lahar.

Maka, dengan seluruh kekacauan yang ia tak tahu bagaimana cara menanganinya itu, serta seribu hal yang masih ia simpan rapat-rapat untuk disampaikan kepada Hanjin nanti, ia beranjak kembali ke rumah. Keluarganya menyambutnya dengan kehangatan, seperti biasa, namun yang ia rasakan selain rasa sakit di dada dan leher adalah rasa mual. Membayangkan betapa kontras pemandangan yang ia dapatkan setelah mengunjungi rumah Hanjin dan kembali ke rumahnya…

Jihoon tak pernah sadar hidup Hanjin bahkan jauh lebih berat dari yang bisa ia bayangkan.

“Tidak makan dulu? Ayah sudah memasakkan kita pasta—” ucapan kakaknya tidak ia hiraukan lantaran langkahnya membawanya ke kamar mandi dengan tergesa. Tangannya tak sempat mengunci pintu, maka yang ia lakukan sebagai gantinya adalah menjegal pintu tersebut dengan kaki—sementara ia muntahkan segala rasa panas dari tenggorokannya diselingi batuk parah.

Rasa besi bisa ia cicip dengan jelas. Mata Jihoon kini mendapati pemandangan janggal yang mengerikan. Kakinya mulai mati rasa, dan berbisik bahwa mustahil ia bisa bertahan untuk terus berdiri.

Ada tiga tetes darah yang jatuh ke wastafel, bersamaan dengan dua kelopak bunga kebiruan. Myosotis. Forget-me-not.

Dalam bahasa bunga… memiliki artian ‘cinta sejati.’

 

*

 

Dua hari telah rampung Jihoon selesaikan dengan terbaring lemah di kasurnya. Termometer berkata suhu tubuhnya nyaris setinggi air mendidih—dan meski ia bersikeras untuk keluar, seluruh anggota keluarganya mengunci rapat setiap pintu dan jendela yang menghubungkannya ke dunia luar. Pikirannya semakin kalut. Cepat sekali orang tuanya menyadari kelopak bunga kebiruan yang sudah selicik mungkin Jihoon sembunyikan, dan dari kakaknya, dia tahu siapa penyebab datangnya penyakit itu.

“Dua malam terakhir, kau tak henti-hentinya memanggil Hanjin.” Ucap gadis itu cemas, meletakkan air hangat di nakas selagi menjatuhkan tubuhnya di sudut kasur Jihoon yang empuk. Ia tatap wajah sang adik lekat-lekat, penuh pertanyaan. “Apa… ada sesuatu yang terjadi di antara kalian?”

Jihoon terbatuk lemah, mengalihkan wajahnya ke jendela. Salju masih juga turun dengan derasnya. Dulu, Hanjin bilang ia suka musim dingin. Kembali Jihoon berandai-andai dengan bodoh; membayangkan jika saja saat itu ia tak bertingkah ceroboh, mungkin ia bisa mencari cara untuk membuat Hanjin tetap berada di sisinya; mungkin hari ini ia tak harus menyerahkan diri sepenuhnya kepada kasurnya… mungkin hari ini ia bisa saja tengah berperang melawan Hanjin dengan segumpal bola salju sebagai senjatanya.

“Entahlah.” Jawabannya mengambang di udara seperti sebutir salju di luar sana. “Katamu, benci dan cinta itu dibatasi garis setipis udara, ‘kan?”

Kakaknya masih memandanginya lamat-lamat, sebelum bertanya perlahan, “Apa… apa yang membuatmu seperti ini… adalah Hanjin?”

“... Aku tak tahu.”

Karena jika itulah kebenarannya, sudi tak sudi harus Jihoon terima fakta bahwa perasaan Hanjin kepadanya telah terkikis habis.

 

*

 

Liburan musim dingin telah tiba. Di hari terakhirnya pulang dari sekolah untuk tahun itu, Jihoon sempatkan kakinya untuk memutar lewat gerbang belakang selagi memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. Salju sudah lama berhenti turun, namun suhu masih sama dinginnya dengan akhir bulan sebelas silam, muram dan tanpa warna. Halte di belakang sekolah, yang sebelumnya berwarna hijau dengan hiasan warna karat di berbagai titik kini tertutup oleh salju yang putih bersih. Kursi besinya terasa membekukan, namun Jihoon masih bersikeras untuk mendudukkan dirinya disana selagi perlahan membawa pandangannya ke langit yang suram. Napasnya mengundang uap untuk keluar dari belah bibir dan membumbung tinggi, setinggi ingatannya.

Jika saja ada Hanjin disini, musim dingin manapun tak akan mampu membuatnya layu.

Tetapi Hanjin yang terduduk di sebelahnya selagi menontoni geraknya awan-awan dan tersenyum hingga matanya mengecil kini tinggal khayalan. Tak ada lagi daksa maupun jiwa yang tersisa. Hanya ada kenangan. Tak ada lagi suara. Hanya ada angan-angan.

Jauh sebelum ia kembali kepada kenyataan, dua kelopak myosotis keluar dari belahan bibirnya bersamaan dengan air mata yang kini tak pernah lagi ia coba untuk sembunyikan.

 

*

 

Musim semi menjadi satu-satunya musim yang tak sempat Jihoon jalani hari-harinya bersama Hanjin di sebelahnya barang satu detik pun. Maka dengan mudah nama itu kembali terselip di bibirnya selagi bunga-bunga di seluruh penjuru negeri kembali bermekaran dengan anggun. Sekolah kembali dimulai; seolah mengulang kembali kehidupan yang sempat mati di musim dingin silam dengan kehangatan senyum mentari dan angin sejuk yang menggelitik. Tak berubah, halte di belakang sekolah masih belum dihuni siapapun.

Jihoon membuka lembar surat dokter yang ia simpan rapat-rapat di bawah buku-bukunya selagi menahan batuknya dengan punggung tangan. Seolah mulai terbiasa dengan lembar-lembar mahkota bunga kebiruan itu, ia kibaskan tangannya asal dan mencoba untuk mulai membaca rentetan huruf-huruf kecil yang tertulis di kertas tersebut. Jantungnya tak lagi merosot setiap kali melihat prediksi tanggal kematiannya yang mulai familiar di sudut surat, dan diam-diam, ia merasa lega.

Dia ingat jelas betapa keras keluarganya memintanya untuk melakukan operasi ‘pengangkatan taman bunga’ yang konon akan mencabut habis setiap rasa sakit juga perasaan cinta yang tertanam di paru-parunya. Tetapi dokter khusus yang menangani kasusnya menekankan dengan keras bahwa ingatan tentang orang yang Jihoon cintai juga akan ditarik pergi.

“Kita bahkan tak tahu apakah Hanjin akan kembali lagi atau tidak,” bujuk kakaknya kala itu serendah bisikan, mengusap pundak Jihoon penuh kekhawatiran. “Coba dulu…ya? Umurmu masih panjang. Masih sangat banyak hal yang bisa kau lakukan—”

“Bolehkah aku menunggu?”

Semua pihak yang ada disana mengerjap lambat, saling pandang. Jihoon tatap dokter itu penuh harap, sebelum bergantian ke arah ayahnya, ibunya, dan berakhir di kakaknya. Senyuman tipis ia ulas penuh pertimbangan.

“Aku mau menunggu.” Kali ini yang keluar bukanlah tawaran, melainkan keputusan pasti. “Jika sampai tenggat waktuku dia tak kembali, aku akan mengambil opsi operasi.”

Ibunya jelas tampak resah, membasahi bibirnya tak senang dan berujar, “Tapi—”

“Kumohon.”

Dengan penambahan kata ajaib itu, Jihoon menang telak. Hanya dibekali obat-obat khusus dari dokter yang disisipi resep dan jadwal pengasupan, ia berhasil menyelamatkan seribu kenangan akan hal-hal kecil yang ia lakukan bersama Hanjin. Memikirkannya lagi, senyumnya kembali mengembang. Tangannya yang dahulu selalu ia gunakan untuk mengusap sayang puluhan kelukur di fisik dan jiwa Hanjin kini membelai kertas itu penuh kasih.

Lima tahun, kata mereka. Setiap pukul dua belas, setiap harinya, di tempat pertama mereka bertemu, ia akan terus menunggu Hanjin hingga waktu yang tak singkat itu menemukan titik akhirnya.

Paling tidak, ia ingin percaya Hanjin akan kembali suatu hari nanti.

 

*

 

Musim panas, yang merupakan awal dari segalanya, kini turut tiba. Tetapi tahun ini, curah hujan tampaknya menurun drastis. Selagi mengipas-ngipasi wajahnya yang bercucuran keringat dan mendudukkan diri di halte belakang sekolah, Jihoon mengumandangkan keluhan kepada langit yang terlalu cerah—sebelum kembali terbesit wajah Hanjin di kepalanya, mengundang tawa pelannya untuk tiba dan menghibur.

Jihoon masih ingat betapa Hanjin membenci udara panas, dan berulang kali bersyukur tahun lalu Seoul terus diderai air mata sang bumantara yang berhasil menyejukkan keadaan. Mungkin Hanjin akan memanjatkan puja-puji kepada Tuhan juga jikalau ia tahu sekarang panasnya musim panas benar-benar membakar, dan kini ia tak lagi di Seoul.

‘Semoga musim panas di Cina tidak sepanas ini,’ Batin Jihoon selagi mulai memejamkan matanya. Tetapi lantas, tangannya yang tadi berkibas di depan wajahnya tanpa henti kini mengambil jeda. Ia kembalikan dirinya kepada kenyataan, menatap sekeliling.

‘Ah. Aku harus beli kipas angin portabel… kalau Hanjin kembali ke Korea yang sepanas ini, dia bisa pingsan.’

Kipas angin portabel warna kelabu yang tadinya terduduk di konter supermarket terdekat dari halte itu ia ganti dengan serogoh uangnya yang menyuruk di saku. Namun hingga musim panas berakhir, suhu tak kunjung turun, dan Hanjin tak pernah kembali.

 

***

 

Dedaunan gersang mulai berguguran lantaran kini, angin sejuk musim gugur kembali menyapa. Musim yang Jihoon yakini menjadi kali pertama sebuah petaka datang kepada Hanjin—di petang hari saat ia pertama kali bercerita soal kisah cintanya dengan salah satu siswi dari sekolah putri yang tak jauh dari sekolah mereka. Musim yang Jihoon yakini… menjadi prolog penyakit fiksional ini tiba ke kenyataan; hinggap dahulu di paru-paru Hanjin sebelum kini merusak organ dalam Jihoon pula.

Hari itu libur nasional. Rutinitasnya untuk pergi ke rumah sakit guna meminta resep baru setiap dua minggu sekali ia jalankan sendiri, dan sepulang dari sana, kakinya melangkah secara otomatis ke gedung sekolahnya untuk menghadiri halte tua di belakangnya seolah tempat itu adalah pusat beribadah harian.

Di sela-sela batuknya, Jihoon tertawa pelan. Tak ada satupun Tuhan di dunia ini yang ia imani, namun sehari-harinya hanya ia habiskan untuk memanjatkan doa dan harap. Mungkin kepada bintang yang redup di siang hari, namun bisa menjadi tontonan Hanjin jika malam jatuh. Atau kepada angin, yang bisa saja membawakan pesan hatinya kepada Hanjin yang jauh disana.

Tampaknya siang itu lamunan terlalu melarutkannya hingga ia tak sadar tetes hujan pertama tiba-tiba jatuh dan mencumbu jalan beraspal tua di depannya. Gerimis tiba tanpa memberi Jihoon kesempatan untuk tersentak dan mendongak menatap langit. Kepalanya terus tertekuk dalam, membiarkan nyanyian dan aroma hujan menghajar semua indranya sekaligus.

Satu musim lagi terlewati, dan Hanjin masih belum kembali.

 

*

 

Pagi itu salju pertama menari di udara untuk menyentuh tanah bersama dengan suhu dingin yang membuat tubuh menggigil hebat, persis seperti di hari Jihoon kehilangan Hanjin. Dan Han Jihoon mulai menyadari bahwa ia kehilangan pancaindranya secara bertahap.

“Sup ini tawar.” Kritiknya pelan tepat di depan semua anggota keluarganya. Mereka menoleh serentak dengan wajah berlapis keheranan. Si sulung mencicipi sup krim kental yang disajikan ayah mereka di piring Jihoon, mengernyit dalam dan menjitak puncak kepala Jihoon.

“Lidahmu rusak. Kau menambahkan berapa banyak garam lagi disini?”

“Tapi masih tak ada rasanya sama sekali di lidahku,” Jihoon masih melanjutkan protesnya meski punya seribu tanda tanya di kepala. “Aneh. Padahal aku tak merasa sedang demam.”

Tampaknya celetuk asalnya itu berhasil membunyikan bel di otak masing-masing anggota keluarganya. Lagi, hari itu dia dibawa ke rumah sakit untuk menemui si dokter dengan kerutan dalam di dahi dan kacamata berbingkai hijau yang langsung menghela napasnya panjang begitu Jihoon menceritakan keluhannya secara singkat.

“Saya ingat pernah mengatakan sejak awal bahwa panca indra anak Anda akan menumpul seiring berjalan waktu, tampaknya.” Katanya selagi menulis resep baru dan menyodorkannya kepada kedua orang tua Jihoon yang sontak, langsung membeku. “Mungkin akan memberatkannya sedikit… tapi itu bukan masalah yang terlalu besar—”

“Penglihatan dan pendengaran saya juga akan pelan-pelan rusak?” Sela Jihoon buru-buru. Dokter tersebut mengerlingnya, menganggukkan kepalanya pelan.

“Ini imbalan balik dari masa hidupmu yang diperpanjang, Nak.”

“Tetapi Hanjin belum—” Tatkala nama itu terucap kembali, hawa musim dingin di luar seolah menyeruak masuk dan membekukan seisi ruangan serta waktu dan dimensi; namun, meski tersendat, Jihoon menggeleng kuat dan melanjutkan kalimatnya, “Hanjin belum kembali…”

Tangannya yang terduduk di paha kini mencengkram satu sama lain. Keheningan mengisi jeda, dan suara pertama yang kembali terdengar setelahnya adalah isak kecil yang terasa tak nyata. Setetes air mata lolos dari kelopak matanya, jatuh membasahi punggung tangannya yang pucat dan terluka.

“Bagaimana… kalau nanti aku tak bisa melihat wajahnya atau mendengar suaranya lagi…?”

Musim dingin, tanpa Jihoon sadari, lagi-lagi terkikis habis tanpa kehadiran Hanjin. Genap setahun sudah jarak seluas langit memisahkan keduanya. Kali ini air matanya mulai berani menetes; lidahnya mulai berucap jujur menyuarakan rasa lelahnya.

Namun hatinya masih memanggil nama Hanjin; namun cintanya… masih belum mati.

 

*

 

Mungkin ini hanya soal waktu.

Dan mungkin, sudah lebih dari seribu kali Jihoon menenangkan dirinya dengan kalimat itu. Hari-hari terus berlari pergi, setiap bulan yang menyusul hanya mengundang kenestapaan yang nyeri, dan musim-musim masih berganti. Dua…ah, nyaris tiga tahun terlewati tanpa hasil apapun selain tenggorokannya yang kini tak lagi menyisakan suara. Bunga-bunga yang ia muntahkan setiap harinya bisa saja memenuhi puluhan toples kaca jika sejak awal ia berniat mengoleksinya. Tapi apapun yang berada di hadapannya—meski itu kegelapan yang membutakan atau salju seputih jiwa tak berdosa sekalipun—hanya mengingatkannya kepada Hanjin. Hari kelulusannya bahkan tiba tanpa ia tunggu sedikit pun, dan lagi-lagi, satu-satunya hal yang terbesit di benaknya adalah Hanjin.

Seharusnya mereka bisa lulus bersama hari ini. Seharusnya mereka bisa mengambil foto di depan gerbang sekolah bersama hari ini. Seharusnya mereka bisa merayakannya di rumah keluarga Han hari ini. Seharusnya ayah Jihoon memasak untuk lima piring hari ini. Seharusnya ibu Jihoon membawakan lima porsi kudapan hari ini. Seharusnya kakak Jihoon menyeret satu kursi lagi untuk diletakkan di sebelah kursi Jihoon hari ini.

Seharusnya…

“Han Jihoon, kau dengar aku? Hei, Jihoon!”

Riuh ricuh bergema. Jihoon, masih terbalut almamater kebanggaan sekolah, menyerahkan tubuhnya kepada tanah dan gravitasi. Dua kelopak bunga terhitung keluar dari bibirnya kala ia terbatuk keras sekali—disusul segumpal darah. Kesadarannya melayang pergi.

Dia pikir detik itu kematian telah merenggutnya lebih cepat dari janji sang dokter.

 

Cahaya menerobos kelopak mata Jihoon yang sontak menjengit. Bau khas rumah sakit menyambut indra penciumannya yang tadi mati total, dan pekik heboh kakaknya yang langsung memanggil orang tua mereka membuat Jihoon menolehkan kepalanya terkejut. Memandang sekeliling sementara sekujur tubuhnya menolak untuk digerakkan, sebelum mendesah pelan.

Pada akhirnya, tubuhnya mulai menyerah.

Cintanya memang terus membengkak, namun fisiknya jelas tahu batasan. Ini sudah Jihoon perkirakan sejak awal… tetapi ia tak tahu sakitnya akan semengerikan ini.

“Apa kita harus suntik imun lagi?” Tanya seorang perawat yang tengah meraba lengan pucat Jihoon kala itu, hanya untuk mengundang gelengan kepala kalut ibu Jihoon sebagai balasan. Sayup-sayup Jihoon dengar beliau dan sang dokter bertukar pikiran dengan bisikan, sebelum sang dokter turut menggeleng, pelan.

“Akan memberatkan.” Tuturnya lambat, beralih menatap Jihoon dengan raut tanpa asa. “Dan tidak meyakinkan. Persentase untuk keadaannya kembali memburuk dengan cepat sangat tinggi. Apalagi, bukankah tahun ini Jihoon-ssi akan masuk perguruan tinggi?”

“...B-baiknya,” tanya sang Ayah hati-hati. “Baiknya bagaimana…?”

Kepala Jihoon berdenyut keras lantaran beberapa alasan. Di antara keheningan yang ingin ia raibkan secepat mungkin, suara dokter itu kembali terdengar; dalam dan penuh pertimbangan.

“Jika ingin dia menjalani kehidupan secara normal lagi,” Paparnya pelan, menjauhkan pandangannya sejauh mungkin dari mata kedua orang tua Jihoon dan wajah Jihoon sendiri, “Operasi harus dijalankan secepatnya.”

Tiga kepala tertoleh sekaligus ke arah brankar. Si anak sulung, lantaran berdiri paling dekat dengan ranjang, memberanikan diri untuk menelan saliva dan mengangguk guna membujuk. Matanya berkaca-kaca, menembus batin Jihoon bahkan sebelum sempat ia lemparkan kata.

“Hanjin tak akan kembali.”

Tak ada anggukan maupun gelengan. Kepala Jihoon tertoleh ke kiri guna ia sembunyikan air mata yang mulai tergenang di dalam kelopak mata.

“Kalau kau menjalani operasi, kau akan melupakannya. Kau tak akan merasa lelah menunggunya lagi. Kau bisa memulai segalanya sekali lagi, Jihoon. Kau bisa mengenal cinta yang lain. Cinta yang baru. Cinta yang tak menyakitimu.”

Jihoon tahu itu. Ia paham sekali.

Tetapi kehidupan tanpa pernah mengenal Hanjin sebagai satu-satunya cinta yang tersisa di dunia terdengar sangat menyakitkan baginya.

 

*

 

Tetapi di penghujung diskusi, Jihoon akhirnya setuju.

 

Musim semi lagi-lagi tersisa hanya seujung jari tanpa sempat Jihoon sadari. Apa yang para dokter katakan memang benar adanya; menjelang hari operasi, yang bisa ia rasakan selain rasa sesak yang terus menyiksa hanyalah gatalnya tenggorokan lantaran beribu kelopak bunga mungkin telah bersarang disana. Tak ada lagi rasa besi yang ia rasakan saat ia memuntahkan bunga-bunga tersebut meskipun cairan merah gelap itu masih mengalir. Lima indra utamanya kini benar-benar hampir buntu. Jauh lebih cepat dari yang siapapun mampu bayangkan.

“Operasinya akan dijalankan tiga hari lagi. Sekitar pukul 1 siang… jika tak ada hambatan.”

Secarik kertas ayahnya sodorkan perlahan ke hadapan wajah Jihoon. Dengan kemampuan melihat yang semakin temaram, ia terima apa yang diberikan sang ayah selagi menyipitkan mata. Tak ada satupun huruf yang mampu ia baca.

“Tanggal 21 Juni.”

“Mmh. Tanggal 21 Juni.”

Kembali ia letakkan kertas itu ke atas tangan pria paruh baya di hadapannya selagi terbatuk pelan. “Aku bertemu Hanjin di tanggal yang sama, tiga tahun lalu.”

Senyum tipis ayahnya kini terbit. Tangan besarnya menepuk punggung Jihoon penuh rasa bangga, berkata lembut, “Jihoon kami ternyata benar-benar jatuh cinta sedalam itu, ya.”

“... Ayah,” Penuh pertimbangan, Jihoon angkat kepalanya selagi dua tangannya sibuk saling remat satu sama lain di atas pangkuannya, “Tidak… merasa jijik?”

Alis ayahnya terangkat, “Kenapa harus jijik?”

“Aku menyukai laki-laki. Seharusnya tidak begitu.”

“Tidak ada kata ‘seharusnya’ dalam cinta, Jihoon.” Tangkis sang ayah dengan bijak. “Yang Ayah dan Ibu serta Kakak tahu, kau bahagia bersama Hanjin. Dan hanya itu yang kami butuhkan. Hanya saja… yah, sayang sekali.”

Memandangi wajah ayahnya lamat-lamat, perlahan penglihatannya memproses jejak air mata yang terlihat jelas di sudut mata pria itu. Dada Jihoon kini terlalu mati rasa untuk kembali ia rasakan rasa mencelos dalam yang membuat mulutnya pahit. Cinta ini hanya bentuk keegoisannya yang mengerikan; menyakiti semua orang, bahkan mungkin Hanjin bila ia mengetahui.

“Ayah.”

“Hmm?”

“Boleh… “ Bibir Jihoon terasa kering kerontan, namun ia paksakan suaranya untuk keluar dengan normal, “Boleh aku mengunjungi halte belakang sekolah lagi untuk terakhir kalinya satu jam sebelum operasi nanti?”

Dan untuk terakhir kalinya… ia berjanji ini akan menjadi yang terakhir kalinya; Jihoon ingin tetap menjadi orang yang paling egois di muka bumi ini.

 

*

 

2 tahun lebih telah berlalu. Namun harumnya hujan, karat di tempat duduk halte, serta bayang-bayang Hanjin tidak pernah hilang. Halte belakang sekolah masih sama senyapnya.

Han Jihoon mendudukkan dirinya di kursi besi itu selagi mengeluh dalam hati. Ia ingat sekali betapa ia membenci setiap kesempatan untuk duduk disana di sepanjang musim hujan—dinginnya suhu menjalar di bangku besi tersebut, belum lagi teksturnya yang tak ramah untuk menjadi penyangga tubuh dalam waktu yang lama. Tetapi dulu, saat masih ada Hanjin, segala keluhannya terasa melayang pergi; saat masih ada Hanjin, ia bahkan berucap kepada dirinya sendiri bahwa ia bersumpah sudi duduk disana hingga malam jatuh dan pagi kembali datang. Aneh.

Makan siang di atap juga bukanlah hal yang Jihoon sukai. Masih banyak spot makan siang yang hangat dan ramai; tetapi Hanjin benci keramaian dan tak ingin terlibat di dalamnya. Maka Jihoon, sekali lagi, dengan senang hati berbohong bahwa angin sepoi-sepoi di atap adalah teman makan siang favoritnya. Lantas ia mulai merasa tak terganggu dengan kesenyapan yang menggelitik itu karena ada Hanjin di sisinya. Aneh.

Perihal bekal makan siang, Jihoon cukup pelit kepada siapapun. Namun ada euforia tersendiri tiap kali ia melihat senyuman Hanjin mengembang begitu Jihoon suapkan potongan gimbap terbesarnya ke mulut Hanjin. Aneh.

Jihoon tak pernah ahli dalam merawat luka. Tapi ia mulai belajar bagaimana caranya dengan perawat sekolah yang dekat dengannya sejak ia tahu Hanjin menjadi korban perundungan. Aneh.

Mungkin sejak awal, Hanjin hanya salah sangka.

Mungkin sejak awal, tak ada rasa cinta yang tak terbalaskan.

Mungkin sejak awal… perasaan yang mereka pendam baik-baik, tanam hingga subur hingga mekar di musimnya masing-masing itu sama besarnya. Sama bentuknya. Sama lebatnya.

Dan menyadari segala hal itu tak disadari oleh siapapun sekarang adalah salahnya sendiri, Jihoon mulai meratapi langit-langit kusam dengan air mata yang perlahan tergelincir jatuh membasahi dagunya. Kepalanya ia tundukkan secara bertahap, lambat sekali.

Pukul 12.02. Tak ada yang melangkah mendekat. Tentu saja.

Padahal Jihoon tahu ini akan terjadi. Tapi air matanya menolak untuk digurui. Terus melangkah pergi bahkan tanpa takut melampaui derasnya hujan hari ini.

Ia rasakan ponsel yang ia bawa di saku berdering—mungkin salah satu anggota keluarganya sudah menghubunginya karena tenggat waktu telah tiba. Kendati begitu, ia masih ingin menunggu sedikit lebih lama lagi. Tubuhnya bergetar hebat guna menahan agar semua hal yang ingin ia lampiaskan hari ini keluar dengan seluruhnya. Kefrustrasian yang terlalu dalam itu perlahan terus menenggelamkannya hingga ia tak sempat menyadari ada langkah yang mendekatinya.

“... Jihoon?”

Suara itu terlalu jernih untuk melampaui sekadar khayalannya, maka ia tak membalas.

“Jihoon… Ada apa?”

Kepalanya menggeleng ribut. Tangannya sibuk mengusap air mata yang masih menetes kemana-mana, namun tatkala sebuah tangan menyentuh bahunya hati-hati dan membawanya kembali kepada kenyataan, kepalanya dengan refleks terangkat. Dan di detik itu, waktu terhenti dengan sempurna.

Itu Hanjin.

Wajah khawatir Hanjin yang menyambutnya. Tangan kecil Hanjin yang baru saja meremas pundaknya. Dua mata hitam cantik milik Hanjin yang lantas beradu tatap dengannya. Hanjin lah yang berdiri tepat di depan tempatnya terduduk bersama asa yang sirna dengan satu payung transparan di tangannya. Pupil Jihoon mengecil perlahan, sementara netranya membulat hingga ia mencapai batasnya.

Lagi-lagi, waktu terhenti dengan sempurna.

Hal yang pertama kali Jihoon rasakan sekon tersebut ialah rintik hujan deras yang tiba-tiba suaranya mampu ia dengar dengan jelas. Mulutnya kini turut mampu terasa pahit begitu perutnya diobrak-abrik oleh keterkejutan yang nyata. Matanya mampu melihat kecemasan di pupil hitam Hanjin dengan sangat, sangat kentara. Setiap indranya yang selama dua tahun lebih ini mulai kehilangan ketajamannya kini kembali hanya dalam tiga detik. Maka yang dunia tengah coba untuk ucapkan kepada Jihoon kala itu ialah;

Bahkan hingga detik ini pun, cintanya tak pernah berhenti dibalas.

Begitu sadar, tubuhnya telah direngkuh kuat oleh yang sedikit lebih tua. Tanduk payung Hanjin jatuh mencumbu tanah yang digenangi air. Tatkala itulah batinnya membisikkan kepadanya bahwa ini bukan lagi sekadar halusinasi. Tangisnya, yang setengah mati ia pagari selama ini, kini tumpah ruah seperti hujan musim panas tiga tahun lalu. Kerongkongannya kini terasa disesaki oleh sedu-sedan, dan bukan lagi bunga beracun seperti sebelumnya. Tubuh Hanjin, yang terlihat lebih terawat dan sehat dibanding di hari terakhir Jihoon melihatnya, memberikan kehangatan yang tiada tara.

“Kau tampak menderita.”

Jihoon mengangguk di ceruk leher Hanjin, terisak, “Aku tahu.”

“Ada hal buruk yang terjadi?”

Sekali lagi, yang Hanjin dapati sebelum suara serak Jihoon ialah manggutan kepala, “Banyak sekali.” Lirihnya, perlahan membalas pelukan itu sementara kedua tangannya meremat bagian punggung kardigan Hanjin kuat sekali, seolah jika ia lepas sesaat saja pelukan itu, hanjin akan kembali menghilang dari dekapnya, “Banyak sekali, Hanjin… Aku dipaksa untuk melupakanmu…”

Belaian halus tiba di puncak kepala Jihoon; selagi Hanjin pun ternyata tengah mencari cara paling efektif agar suaranya tak pecah di tengah keheningan hujan musim panas. “Aku disini sekarang. Aku disini bersamamu sekarang, Jihoon.”

“... Hanjin akan terus bersamaku… mulai sekarang, ‘kan?”

“Iya.”

“Selamanya? Sampai… Sampai nanti aku mati?”

“Aku akan bersama Jihoon lebih lama dari itu.”

“Bahkan… bahkan meski aku terlalu terlambat untuk mengakui bahwa aku juga mencintai Hanjin?”

Hanjin terkekeh di tengah tangisannya yang kini tak lagi terbendung. Ia terisak sejenak sebelum membalas dengan lembut sekali, “Bahkan jika Jihoon tak mengakuinya sama sekali, aku akan tetap disini.”

Jihoon tak lagi ambil pusing. Jika saja itu hanya bualan, hiperbola semata, maupun kalimat cuma-cuma, biarlah Hanjin menipunya. Karena yang Jihoon paham dan yakini hingga kini hanyalah cinta yang menjalin kedua jemari kelingking mereka; yang mungkin akan menyiksa lagi suatu hari nanti, namun akan tetap menjadi hal yang paling berharga bagi Jihoon sendiri.

Dan musim panas tahun ini, pada akhirnya, Jihoon jalani dengan Hanjin melangkah seiringan dengannya.

 

— AG, Ekigawa Ruri.

Notes:

11k+ words is not on my plan but WELL! Kapal kecil minim interaksi kesayangan kita ini akan terus aku ramaikan <3 Jangan lupa buat mampir di akun twitterku @pinkedelweiz untuk konten-konten Hoonzhen serta kapal-kapal kecil lainnya. Last but not least, thank you sooooo much for reading this fic and leaving kudos! See you in the next works, I think? ^________^