Actions

Work Header

sugar sweet

Summary:

simbiosis mutualisme dan janji konyol seunghan-sohee di umur sembilan.

Work Text:

seunghan itu anak manis yang mandiri. apa-apa saja bisa ia kerjakan sendiri. mungkin karena kedua orang tuanya sibuk mengais rezeki dan ia dibesarkan oleh nenek seorang diri, jadi seunghan di umur sembilan tahun sudah satu langkah lebih unggul dibandingkan teman-teman sebayanya. tapi ada satu benda yang tidak bisa seunghan kecil lakukan sendiri. ialah memasang simpul dasi setiap hari senin.

seunghan tahu sejak kecil ia tidak suka hari senin! setiap awal pekan bermula seunghan selalu menggerutu karena ada upacara bendera yang mengharuskannya untuk gunakan atribut seragam lengkap; ikat pinggang, topi, dan dasi. maka setiap pagi di hari senin, tepat sebelum seunghan kayuh pedal sepedanya menyusuri jalan menuju sekolah, seunghan akan kabur ke rumah kediaman lee, minta dipasangkan dasi oleh sohee.

sohee seumuran dengan seunghan, mereka pergi ke sekolah yang sama, namun kelas yang berbeda. seunghan di kelas 3C, sementara sohee 3A. menurut seunghan, sohee itu hebat karena ia piawai memasang dasi. simpul dasi yang dibuat sohee selalu presisi, melingkar pada leher seunghan dengan rapi.

menurutnya, sohee juga baik karena selalu bersedia memasangkan dasi ke lehernya walaupun sambil menggerutu. seperti pagi itu, sohee sudah menggerutu seperti bebek tapi tangannya tidak tinggal diam memutar sehelai kain menyebalkan itu di kerah seragam seunghan. "kamu 'kan udah aku bilangin! belajar pasang sendiri! ini tuh gampang tau! tinggal gini … gini … dimasukkan ke sini … selesai!" kata sohee sambil mendemonstrasikan langkah-langkah memasang dasi ke seunghan yang tersenyum senang karena biarpun sohee mengomel seperti itu, tau-tau dasi itu akan sempurna merekat rapi ke lehernya. berkat siapa kalau bukan sohee?

"udah kamu pasangin gini … gimana bisa aku belajar?" seunghan yang jahil menggoda sohee dengan wajah tanpa dosanya.

apabila senin seunghan selalu jelek karena dasi, maka senin sohee selalu diawali gerutu karena seunghan. sohee memutar bola matanya malas. "sampai kapan coba kamu mau aku pasangin terus dasinya?"

bukannya menjawab, seunghan justru balik mengajukan tanya, "kamu belajar pasang dasi dari mana? dari buku apa?"

nyatanya absensi figur orang tua seunghan berdampak cukup signifikan bagi anak tersebut. seunghan banyak belajar hal-hal baru dari buku, terkadang dari nenek.
menurut seunghan, neneknya adalah kompas sosialnya. nenek ajarkan seunghan bagaimana harus bersikap kepada teman sebaya, kepada tetangga, dan kepada orang-orang dengan pekerjaan mulia seperti bapak dan ibu guru di sekolah. nenek juga pintar memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah. tapi nenek kurang ahli memasang dasi ke cucunya. oleh karena itu seunghan akan selalu pergi ke sohee untuk meminta bantuan.

"dari mama," jawab sohee. "mama sering pasangin dasi ke ayah. kata mama aku jangan jadi seperti ayah yang tidak bisa pasang dasi sendiri."

seunghan mengangguk-angguk saja mendengar penuturan sohee. kemudian sohee yang kala itu badannya lebih pendek dari seunghan, lanjut mengomel, "kamu juga! jangan jadi seperti ayah!"

beberapa saat kemudian pintu kamar sohee diketuk beberapa kali oleh kakak obi, memperingatkan sohee untuk segera berangkat sekolah karena jam dinding sudah menunjukkan pukul 06.30.

sohee dan seunghan pun keluar untuk berpamitan dan berangkat ke sekolah bersama-sama menggunakan sepeda. sepeda seunghan, lebih tepatnya. sepeda seunghan terlihat seperti sepeda anak perempuan dengan keranjang di depan dan satu kursi penumpang di belakang. tidak jarang seunghan mendapat olokan dari teman laki-lakinya karena sepeda itu, tapi seunghan tidak ambil pusing. toh sepeda itu barang legend turun-temurun yang sudah berusia puluhan tahun, legacy dari nenek untuk seunghan.

dengan adanya kursi penumpang di bagian belakang, seunghan jadi bisa membonceng sohee setiap berangkat dan pulang sekolah.
"kamu belajar sepeda dari mana?" tanya sohee yang tengah terduduk di kursi penumpang.

sementara seunghan mengayuh, ia menjawab, "nenek!"

"kamu juga dong! belajar naik sepeda! masa mau aku boncengin terus?" kartu AS sohee dipermainkan oleh seunghan. sohee yang sebal lantas mencubit pinggang seunghan, membuat seunghan mengaduh kesakitan.

seunghan tahu alasan sohee tidak mau mengayuh sepeda lagi. si bungsu keluarga lee itu pernah menerima jahitan di lutut karena ia jatuh waktu bermain sepeda. kalau tidak salah, kejadiannya sudah terjadi dua tahun lalu. tapi rasa takut dan trauma masih menghantui sohee.

"nggak usah sih. sama aku terus aja nggak apa-apa," kata seunghan selanjutnya.

"apaan sih? tadi nyuruh aku belajar lagi!"

benar-benar tidak ada yang bisa agendakan ambekan dari sohee. seunghan hanya tertawa karena sohee yang menggerutu seperti itu menurutnya adalah pemandangan lucu.

"oh! aku punya ide brilian!" ujar seunghan yang sukses mendatangkan tanda tanya di benak sohee.

"apa?"

"gimana kalau kita simbiosis mutualisme?"

"apa itu?"

seunghan menengokkan kepalanya sepersekian detik ke belakang, "seriusan kamu? itu pelajaran IPA!"

"apa? kelasku belum dapat pelajaran itu!"

"IPA kelas enam, sih, hehe," lagi-lagi sohee dibuat merajuk karena itu! duh, seunghan itu benar-benar usilnya bukan main!

"jadiii, simbiosis mutualisme itu hubungan yang menguntungkan antara dua spesies. misalnya, hubungan antara burung jalak dan kerbau. burung jalak suka hinggap di atas kerbau buat makan kutu-kutu yang ada di kulit kerbau, burung jalak untung karena dia jadi kenyang! tapi, kerbau juga diuntungkan karena dia jadi nggak gatal sebab kutu-kutunya sudah dimakan burung jalak."

"jorok ya burung jalak, makanannya kutu," celetuk sohee.

"BUKAN ITU POINNYA!!!" gantian sohee yang terkekeh puas karena berhasil memantik kekesalan seunghan.

beberapa menit berlalu dan sepeda seunghan sudah membawa mereka ke parkiran sekolah. sohee turun terlebih dahulu kemudian menunggu seunghan turun dan mereka berjalan menuju lorong kelas.

"jadi apa maksud ide brilian simbiosis mutualisme-mu itu?"

"kita bisa kayak kerbau dan burung jalak-"

"maksudnya berkutu dan makan kutu?" sekali mengusili seunghan rasanya tidak puas, lantas sohee ulangi lagi. respons seunghan selalu memuaskan, anak itu menghembuskan napasnya kesal lalu memalingkan wajahnya dari sohee.

sohee tergelak begitu kencang sampai beberapa murid lain mengalihkan atensi mereka ke arahnya. "oke, sorry, jadi apa?"

seunghan tampak menimang-nimang timing untuk kembali berucap, takut dikerjai sohee lagi. "jadi kamu 'kan bisa pasang dasi," melihat sohee mengangguk, seunghan melanjutkan, "aku bisa naik sepeda."

"aku mau dan bisa antar kamu ke manapun naik sepeda, asal kamu mau pasangkan aku dasi setiap hari senin," final seunghan selesaikan kalimatnya.

"gimana?" ia menawarkan sekali lagi. sohee tampak berpikir sejenak. langkah kecil yang mereka ambil sudah hampir membawa mereka ke kelas sohee. duh, seunghan butuh jawaban secepatnya karena tampaknya mereka akan berpisah di sini dengan sohee yang masuk kelas untuk menaruh tas ranselnya sementara seunghan harus berjalan 10–15 langkah lagi untuk sampai kelasnya.

sohee mengulurkan tangannya. seunghan tersenyum riang, kemudian menyambut tangan sohee. "deal," ucap sohee sepakat.

tangan kedua anak laki-laki itu masih menjabat satu sama lain. kemudian seunghan mengangkat ibu jarinya. sohee yang melirik hal itu sontak terkekeh kecil kemudian turut mengangkat miliknya. kedua anak adam itu menabrakkan ibu jari satu sama lain, membiarkan permukaan lembut jari masing-masing menyentuh hangat dari yang satu. tidak ada lisan yang mengucap, tapi keduanya sama-sama tahu ada janji yang diikat.

kemudian pengumuman peringatan upacara akan segera dimulai didendangkan melalui pengeras suara. seunghan segera mengacir ke kelas untuk menaruh tas lalu berlari ke lapangan untuk upacara dengan perasaan riang karena nasibnya mulai senin depan akan aman. juga karena ia bisa mengayuh sepedanya lebih kuat untuk beri sohee tumpangan pulang.

seunghan senang karena ia tidak melulu harus mandiri, padahal ia tahu perkara pasang dasi bisa dipelajari sendiri. seunghan dari 3C itu diam-diam memang mau terus melibatkan sohee di paling tidak satu lini kehidupannya yang sepi.

---------------------------------------------------------------

tangan manusia cuma dua, mestinya hanya mampu lakukan paling tidak dua hal di waktu yang sama. beberapa bahkan hanya mampu lakukan satu karena jika lebih dari itu fokus mereka dapat terbelah jadi seribu.

tapi pagi itu, sohee lakukan empat hal sekaligus. julukan multitasking bukan hanya semat omong kosong bagi dirinya. tungkainya sedari tadi sibuk mondar-mandir ruang tengah-dapur, sembari tangan kanannya memegang spatula dan yang kiri memegang dua helai kain.

ia mendengar namanya dipanggil lagi dari ruang tengah, lantas ditinggalkannya telur mata sapi yang baru saja ia balik permukaannya agar dapat tekstur crispy di kedua sisi itu, untuk bergegas kembali ke sumber suara.

"adeeek! matiin dulu nggak TV nya!? nggak ada pasang dasi kalau belum dihabisin sarapannya. biar aja telat upacara!" bau gosong yang menusuk indra penciumannya membuat sohee kembali ngibrit ke dapur.

benar saja, satu sisi telur itu gosong. duh, masih sepagi ini tapi kepala sohee benar-benar dibuat pusing.

sohee masih meratapi telur gosong itu sampai sebuah lengan mengokupasi pinggangnya. tidak perlu memutar kepala untuk tahu siapa pemilik lengan tersebut.
"pagi, papa." pipi kanan dan kiri sohee dikecup bergantian, berulang-ulang. "itu telur aku ya?"

sohee memutar badannya. matanya berkaca-kaca. "maaf …."

pria di hadapannya langsung panik bukan kepalang. lantas segera ia tangkup wajah sohee dan ucapkan kalimat-kalimat penenang. "nggak apa-apa, ih, kok mau nangis gitu?"

"itu telur buat kamu, tadi aku tinggal ke adek sebentar terus gosong. maaf …." sohee tahu kalau selain juara mengusili, seunghan, yang sekarang berstatus sebagai suaminya itu, juga juara dalam menenangkannya.

"aku hari ini kepengen yang agak smoky gitu tau, sayang! padahal aku belum bilang ke kamu tapi kamu tau banget loh aku maunya apa! makasih banyak yaa."

tubuh sohee direngkuh kembali oleh seunghan. lalu pelukan itu merenggang dan kedua telapak tangan sohee digenggam oleh seunghan, dicium bergantian sembari ucap terima kasih. "makasih, tangan-tangan sayangnya aku, udah mau masakin aku makanan enak." sohee terkekeh geli dibuatnya. perasaan sedih yang tadi hinggap langsung sirna seketika.

"papa udah habis!" suara kecil itu menginterupsi kegiatan seunghan dan sohee di dapur.

jaehee, buah hati mereka, yang masih berusia tujuh tahun itu datang ke dapur membawa piring kosong tanda ia sudah benar-benar menghabiskan sarapan yang sohee buat untuknya.

sohee tersenyum, tangannya terulur untuk mengambil piring tersebut dan kemudian menaruh piring tersebut ke dishes sink.

"pasang dasi, papa!"

"aku juga mau dipasangin dong, pa."

duh, kepala sohee jadi pening lagi. sohee melirik tangan kirinya yang masih menggenggam dua helai dasi, satu berwarna merah terang dan yang satunya berwarna biru tua dengan motif salur.

"bener-bener ya bapak anak sama aja!" omelnya yang membuat seunghan dan jaehee saling melempar pandang kemudian tertawa. beberapa detik setelahnya mereka berdua menghambur peluk pada sohee yang sudah bekerja amat keras pagi itu.

"i love you, papa. janji nanti adek habisin bekalnya," ujar jaehee mengiming-imingi.

tak mau kalah, seunghan juga berucap, "i love you so much, papa sayang. nanti sore mau muter-muter komplek naik sepeda kayak dulu lagi nggak? berdua aja."

"kok aku nggak diajak!?" si kecil protes, bibirnya yang teramat mirip dengan milik seunghan itu mencebik.

"biarin sih papa sama yayah pacaran berdua, mengenang masa muda. kamu di rumah aja nonton TV," usil seunghan.

sohee yang jadi bahan rebutan itu hanya bisa menghela napas dan berusaha bebas dari okupasi suami dan anaknya. setelah terlepas dari seunghan dan jaehee, sohee berkacak pinggang, kemudian mentitah, "adek sini cepetan papa pasangin dasinya. yayah duduk cepet dimakan tuh sarapannya."

"kok adek duluan yang dipasangin dasinya?" tutur seunghan berpura-pura merajuk.
sohee berdecak sebal, "udah tua, nggak cocok gitu. lagian adek lebih dulu habisin makanannya dari kamu."

jaehee tak ubahnya kombinasi antara seunghan yang jahil dan sohee yang kompetitif. merasa sang papa lebih memihak dirinya, anak tersebut langsung menjulurkan lidahnya ke arah seunghan, seolah berucap 'aku menang'.

sohee dengan telaten memasang dasi pada leher sang anak. "adek nanti harus belajar pasang dasi sendiri, ya?" tuturnya.

"tapi yayah dipasangin mulu sama papa?" jaehee mendelik.

"ya … jangan jadi seperti yayah dong!"

seunghan yang masih asyik menyuap menu sarapannya pagi itu turut menambahkan, "lagian ya, cil, dari umur sembilan papa kamu mah udah janji sama yayah bakal terus pasangin dasi yayah tau?"

"sst!" sohee langsung memelototi suaminya geram.

"should i make one with kak riku? kak riku pintar pasang dasi."

mendengar penuturan anak semata wayangnya, seunghan jadi tertawa terbahak-bahak. ia mengacungkan dua jempol untuk jaehee, menyebutnya jagoan. sementara itu di lain sisi, sepertinya sohee tiba-tiba dilanda migrain.

tidak ada yang menyangka janji konyol yang dibuat seunghan dan sohee di umur sembilan akan terus mengikat mereka sampai tua. keduanya terus menunaikan janji mereka, seunghan yang selalu siap sedia untuk antarkan sohee ke manapun suami kecilnya mau. bedanya, kali ini seunghan tidak harus mengayuh pedal sepeda, melainkan tinggal injak pedal gas kendaraan roda empatnya. sedangkan sohee, pria kecil itu kontinu tunaikan janjinya untuk pasangkan suaminya dasi, kali ini setiap pagi dari senin sampai jumat. bahkan ia mendapat tugas baru untuk melakukan hal yang sama kepada anak semata wayang mereka, buah hati mereka, hong jaehee.