Chapter Text
Tokyo, akhir Maret 2024
Di luar masih gulita ketika Jeong Yunho membuka kelopak mata. Pria yang beberapa hari lalu genap berusia seperempat abad itu hanya bergeming sejenak, menatap langit-langit kamar hotelnya tanpa berkedip, lalu meraih ponsel di nakas dan membawanya ke depan wajah. Ia berdecak ketika sadar bahwa waktu masih menunjukkan angka tiga. Artinya, belum genap sejam ia tertidur, dan kini terbangun tanpa alasan yang jelas. Sayup-sayup terdengar suara manusia-manusia berbahasa Jepang dari televisi di sudut ruangan, yang sengaja dibiarkannya menyala untuk sekadar mengisi keheningan di kamar hotel yang terlalu luas untuk dirinya sendiri. Sebuah pengharapan semu bahwa hal itu bisa mengusir kekosongan yang kerap dirasakannya setelah menjalani rentetan jadwal padat yang baru usai menjelang tengah malam.
Pria muda itu beringsut dari ranjang, berjalan perlahan menuju jendela kaca dengan kedua tangan terselip di saku celana, menatap pemandangan malam yang disuguhkan oleh Tokyo yang tak pernah tidur—tak jauh berbeda dengan Seoul ataupun kota-kota besar lain yang menjadi tujuan turnya selama ini.
Dulu, ia selalu punya tenaga ekstra untuk menjelajahi sudut-sudut kota di waktu luangnya yang tak seberapa, entah hanya melihat-lihat, mengambil beberapa foto untuk dibagikan kepada penggemar di Instagram, atau mencicipi penganan lokal favorit langsung di restoran ternama. Namun, dua tahun belakangan ini, seiring kegiatannya yang semakin padat, bahkan untuk bernapas pun rasanya amat sesak.
Kontras dengan anggapan orang-orang yang mengira ia memiliki segalanya dan bisa melakukan apa pun yang ia mau, hidup Jeong Yunho tidaklah jauh dari repetisi kegiatan serupa selama enam tahun ia berkecimpung di industri hiburan.
Ia kini merasa bosan.
Namun, orang-orang di sekitarnya senantiasa menganggapnya bodoh jika ia beristirahat sekarang, ketika kariernya tengah menanjak drastis setelah tiga tahun terlunta-lunta berjuang keras agar dirinya memiliki tempat di dunia yang penuh persaingan. Bulan depan, ia akan tampil di Coachella, mengukir sejarah sebagai penyanyi solo pria pertama dari Korea Selatan yang berhasil berdiri di panggung festival musik termegah di dunia. Setelah itu, sederet kegiatan telah dijadwalkan hingga akhir tahun depan.
Jelas, tidak ada kata rehat di sana.
Yunho menghela napas, lalu berpindah untuk melesakkan diri ke sofa. Sejenak terbersit pikiran untuk mengirim pesan pendek melalui aplikasi khusus penggemar, namun niat itu terhenti ketika teringat bahwa sejam yang lalu ia baru saja melakukan siaran langsung dan mengakhirinya dengan ucapan selamat tidur. Tak ingin membuat penggemarnya khawatir, akhirnya ia membuka Instagram. Tanpa banyak berpikir, ia menggulirkan lini masa dari akun privatnya hingga menemukan satu unggahan anyar sahabat lama, Song Mingi.
Yunho mendekatkan wajah, memperhatikan dengan seksama gambar yang menghiasi bagian teratas halaman media sosial karib masa kecilnya. Rasanya tak asing sama sekali.
Ia pun membuka pesan langsung. Terakhir kali mereka bertukar pesan adalah tanggal 23 Maret kemarin, saat Mingi mengirimkan ucapan selamat ulang tahun. Tidak akan terlalu canggung rasanya jika kali ini ia yang membuka obrolan terlebih dahulu.
Lantas, ia mengirim pesan pendek:
lagi di Tokyo?
eh, atau foto lama jangan-jangan? ㅋㅋㅋ
Yunho menatap foto profil yang menghiasi halaman pesan langsung Mingi cukup lama. Sekilas, senyum getir melintas samar di sudut bibir sebelum akhirnya melempar ponselnya ke sofa.
Palingan baru dibalas besok pagi atau siang.
"Kenapa kau jadi kayak gini, Jeong Yunho..." keluhnya keras-keras, merosot makin jauh ke sandaran sofa.
— TBC
