Work Text:
“Namanya Ilias, dan dia adalah kandidat terfavorit untuk mengenakan Gold Cloth Leo.”
Kalimat yang diucapkan guruku hanya seperti sepintas lewat, namun aku sepenuhnya memahami apa yang beliau maksud. Bahkan aku, yang belum benar-benar melatih diri sebagai Kandidat Saint, bisa merasakan kedahsyatan Cosmo yang menguar dari pemuda di hadapanku itu.
Begitu terpananya aku, sampai-sampai kusadari aku tidak bereaksi apa-apa, hingga pemuda bermata keemasan itu berinisiatif mengulurkan tangannya, menawarkan jabat tangan seraya berkata tegas, “Ilias.”
Dengan agak canggung, kusambut tangannya, dan saat kami berjabat tangan, aku kembali diyakinkan bahwa pemuda itu pantas mendapatkan ekspektasi dari orang-orang di sekitarnya. Ada kekuatan besar yang tersampaikan, bahkan hanya dengan gerakan kecil seperti jabat tangan ini. Akibatnya, aku hanya bisa membalas kalimat perkenalannya dengan lirih,
“… Lugonis.”
“Lugonis, ya? Salam kenal.”
Aku tidak pernah berani berbicara sambil menatap wajahnya hingga beberapa tahun kemudian.
.
.
.
Meskipun begitu, bukan berarti aku ketinggalan info terbaru mengenai Ilias.
Sanctuary tempat kami tinggal dan berlatih luasnya tidak seberapa, sehingga berita bisa tersebar dengan cukup mudah. Selain itu, guruku sendiri sering membicarakannya. Beliau berpura-pura membangga-banggakannya, dengan tujuan menyulut semangat berkompetisi di dalam diriku dan membautku lebih giat berlatih.
Namun, berbeda dari orang-orang kebanyakan, beliau tidak hanya tahu mengenai pencapaian yang ditujukan Ilias di depan umum, namun juga rahasia-rahasia kecilnya.
“Anak itu agak aneh, kau tahu? Jika tidak melatih kemampuan bertarungnya, dia pergi menyendiri entah ke sudut mana di Sanctuary ini. Jika mendapat kesempatan berlibur sekali saja, dia akan menghilang selama beberapa hari, lalu kembali dengan penampilan lusuh, seperti habis menggelandang entah sampai belahan bumi bagian mana.”
Di suatu sesi istirahat, beliau bercerita padaku, yang menurutku lebih mirip sesi curhat seorang wali yang mengkhawatirkan anak asuhnya. Padahal, yang merupakan anak didik beliau adalah aku, murid langsungnya yang lebih pantas menyandang status tersebut.
Tapi, aku tidak merasa keberatan. Sebaliknya, aku selalu menanti-nanti cerita yang seperti itu, karena beliau membagi rahasia kecilnya padaku—rahasia bahwa ia lebih dekat dengan Ilias, lebih daripada sebagian besar penghuni Sanctuary.
“Aku selalu merasa bahwa dia tidak betah di sini. Makanya dia lebih sering menyendiri dan lebih suka bepergian di waktu senggangnya.”
Beliau berhenti berbicara, memainkan helaian rumput di dekat kakinya sembari menghela napas pendek. Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk berceletuk, “Tapi, dia tetap kembali ke sini, ke Sanctuary. Bukankah itu artinya dia menganggap tempat ini rumahnya?”
Dugaanku itu dipatahkan dengan balasan guruku, yang menggeleng saat menjawab, “Bukan. Baginya, seluruh dunia ini adalah rumahnya. Dia bisa tinggal di mana saja, sesukanya. Namun jika sampai sekarang dia masih berada di sini, itu karena alam mengatakan padanya, bahwa dia belum boleh meninggalkan tempat ini. Masih ada hal-hal yang perlu dikerjakannya di sini.”
Kurasakan tubuhku merinding. Aku paham maksud ucapan guruku; jika apapun yang perlu dikerjakan oleh Ilias telah berhasil dituntaskannya, maka ia akan pergi meninggalkan Sanctuary.
Dan aku merasa bahwa hal itu benar-benar akan terjadi.
.
.
.
Seperti kebanyakan para Kandidat Saint yang tinggal di Sanctuary, aku bisa mengambil kesempatan berlibur jika guruku mendapat tugas dari Pope Sage. Juga seperti kebanyakan dari mereka, sebagian besar waktu kuhabiskan dengan melatih teknik bertarung ala Saint Pisces. Sebagian sisanya kuhabiskan mendatangi salah satu sudut Sanctuary yang jarang disambangi orang, lantaran tempatnya yang cukup jauh dari daerah pemukiman dan pusat aktivitas para Saint. Tapi tempat itu cocok menjadi tempat untuk menyendiri.
Mungkin karena itulah, Ilias sering berada di sana.
Aku menemukannya bersantai di sana secara tidak sengaja, saat aku mendapat libur pertamaku, yang kugunakan untuk mengeksplorasi bagian-bagian Sanctuary yang tidak ditunjukkan oleh guru padaku. Waktu itu, dia duduk bersila di atas sebuah batu besar dengan mata tertutup, seperti sedang melakukan meditasi. Tidak sedikitpun dia bergeming, bahkan setelah menit-menit berlalu, di mana aku mengawasinya dari kejauhan, dari balik sebuah pohon besar berdaun rimbun. Beruntung dia tidak menyadari keberadaanku hingga aku pergi dari sana.
Sejak saat itu, aku rajin mencarinya di tempat itu, sekedar mengamatinya dari jauh.
Ya, hanya mengamati dari jauh.
Dia memang Kandidat Saint, sama sepertiku, tapi ada perbedaan level yang jelas di antara kami. Dia kuat, gagah, pemberani, dan karismatik. Semua orang menyukainya.
Tidak terkecuali aku.
Tapi, rasa sukaku padanya berbeda dari kebanyakan orang. Bukan sekedar rasa kagum pada seseorang yang berkemampuan lebih superior di atas kita, bukan pula rasa bangga karena mengenal orang luar biasa sepertinya.
Ini rasa suka yang datang bersama debaran jantung yang mendadak meningkat cepat tiap kali berada di dekat dan melihat sosoknya. Yang membuat pikiran kacau dan sulit focus pada hal yang seharusnya dilakukan. Yang hanya dengan mengingat satu hal tentang dirinya, membuatku turut membayangkan hal-hal lain yang tidak pantas.
Rasa suka yang tidak mungkin kuharapkan bisa bersambut.
Pertama, kami berdua sama-sama laki-laki, dan dia tidak terlihat seperti memiliki ketertarikan kepada hubungan sesama jenis. Kedua, aku bahkan tidak tahu apakah dia berminat memiliki hubungan romantis. Ketiga, mengingat aku, sama seperti guruku, percaya bahwa dia akan pergi dari Sanctuary suatu saat nanti, rasanya tidak mungkin rasa sukaku ini, jika berkat entah keajaiban apa bisa bersambut, akan berakhir bahagia.
Makanya, aku berusaha untuk berpuas hati dengan hanya mengaguminya dari jauh dan menghindari bertatap muka atau berbicara dengannya. Berusaha menjaga hatiku untuk menyukainya hanya dalam kadar yang relatif sama, agar saat tiba waktunya nanti, rasa sakitnya tidak akan seberapa.
Siang itu, tumben-tumbennya aku menemukan Ilias tidak berada dalam posisi duduk, melainkan sedang rebahan di atas rerumputan di dekat kaki pohon yang letaknya tak jauh dari batu yang biasanya dia duduki. Kusadari dia mengenakan Gold Cloth-nya, dan aku langsung teringat bahwa beberapa waktu yang lalu akhirnya dia resmi dilantik sebagai Saint Leo yang baru.
Itu kali pertamanya aku melihatnya dalam balutan zirah emas, penanda bahwa ia salah satu ksatria terkuat yang dimiliki Sanctuary. Sosoknya tak terlihat begitu jelas lantaran rerumputan di sekitarnya, namun aku tahu dia pasti terlihat tampan dan gagah. Warna emas zirah itu tentu akan terlihat serasi dengan warna rambut Ilias yang serupa jerami dan dipotong pendek di belakang telinga, mata biru cerahnya yang tajam bak singa penguasa, dan-
“Na, sampai kapan kamu mau melihatku dari sana?”
Kontan aku merasa kaku, seperti darahku mendadak berubah beku.
Itu suara Ilias. Sosoknya masih terlihat berbaring santai di bawah pohon, dengan kepala beralaskan lengan dan sebelah kaki dilipat di atas lutut yang satunya.
“Sudah lebih dari setahun kamu melakukannya. Hebat sekali , tidak kunjung bosan dan berhenti.”
Dia berbicara padaku.
Dan dari penuturannya, ternyata dia sudah menyadari keberadaanku sejak kali pertama aku menemukannya di sini!
Kulihat dia bergerak bangkit dari posisi tidurnya, dan secara reflex aku memutar badan, berusaha menyembunyikan sosokku dengan bantuan bayangan pohon tempatku bersembunyi. Kusadari bahwa usahaku itu percuma saja, karena bisa kurasakan tatapan tajam menusuk punggungku, menembus pohon besar yang menaungiku.
Spontan aku teringat wajahnya, yang kuingat jelas semenjak perkenalan kami yang pertama.
Seperti yang sudah-sudah, detak jantungku berubah berkali-kali lipat lebih cepat, terasa keras berdentum di dalam rusuk sampai-sampai aku takut dia akan benar-benar meloncat keluar. Wajahku memanas dan aku tidak bisa berpikir jernih.
Ilias ada di belakangku. Menatap ke arahku.
Dan dia pasti marah karena aku bersikap menjijikan seperti ini.
“Dengar, aku tidak keberatan kamu melakukannya.”
Lihat, dia mar- eh, tidak marah rupanya. Tapi, kenapa? Bukankah normalnya seseorang akan merasa risih ketika diawasi dari jauh?
“Setidaknya, jawab aku: kenapa kamu melakukannya?”
Mungkin memang sebaiknya aku dimarahi dengan gaya membentak-bentak daripada harus menjawab pertanyaan itu. Lebih baik daripada harus mengakui bahwa aku memiliki rasa untuknya, rasa yang tidak sepantasnya kumiliki, rasa yang akan membuatnya jijik padaku dan mungkin membuat hubungan kami di masa depan menjadi tidak nyaman.
Kurasakan mata itu terus menatap ke arahku. Menunggu jawabanku.
Dan aku malah melarikan diri dari tempat itu.
.
.
.
Beberapa bulan berlalu sejak insiden itu dan aku vakum sejenak dari mengunjungi tempat rahasia itu.
Kenyataan bahwa guruku terus-menerus berada di Sanctuary lantaran tidak dikirim untuk menjalani tugas yang mengharuskannya pergi jauh hingga beberapa lama, juga bahwa Ilias, sebagai Saint Leo yang baru mulai rajin dihujani tugas yang membuatnya jarang pulang ke Sanctuary, cukup membantu untuk membuatku tidak harus berpapasan dengan Ilias. Bagaimanapun, aku belum siap melihatnya lagi setelah tahu bahwa kegiatanku mengamatinya telah terbongkar.
Bukan berarti pikiranku sepenuhnya lepas dari insiden tersebut.
Berkali-kali aku menemukan diriku melamunkannya, dan berhubung pikiranku lebih jernih dari saat itu, aku pun bertanya-tanya.
Waktu itu, Ilias sama sekali tidak terdengar marah, bahkan mengatakan kalau dia tidak keberatan. Kenapa? Apa maksudnya dia tidak menganggap keberadaanku di sana mengganggu waktunya bersantai? Memang, yang kulakukan hanyalah menontoninya tidak bergerak dari tempat yang sama selama berjam-jam tanpa menimbulkan suara. Sering aku berpikir bahwa mungkin aku cocok untuk misi spionase karena kemampuanku itu, tinggal memikirkan bagaimana caranya menyembunyikan rambutku yang merah menyala ini agar tidak terlihat musuh.
Kemudian, pertanyaan Ilias yang kuhindari dengan mengambil langkah seribu waktu itu.
Benar-benar pertanyaan yang tidak mungkin kujawab. Mungkin bisa saja aku memberi jawaban palsu, tapi aku tidak suka berbohong, dan sepertinya meskipun aku mencoba berbohong, Ilias dan matanya yang tajam itu akan dengan segera membaca bahwa aku tengah berbohong, jadi percuma saja.
Aku menghela napas sambil melangkah menapaki tangga yang menghubungkan Kuil Capricorn dengan Kuil Aquarius, sebuah keranjang berisi buah-buahan segar kutenteng dengan sebelah tangan—jatah untuk guruku dan aku yang baru kuambil dari Kuil Aries, tempat penduduk biasanya mampir untuk memberikan kelebihan panen mereka kepada para penghuni Sanctuary. Entah aku yang lelah dengan perjalanan menaiki ribuan tangga atau pikiranku yang terlalu sibuk oleh kenangan mengenai insiden tersebut, aku tidak menyadari langkah seseorang berderap mendekatiku.
Tahu-tahu saja lenganku ditangkap oleh tangan kuat.
“Siapa-”
Mataku beradu dengan biru safir Ilias.
Sejenak aku hanya bisa berdiri mematung karena aku menyadari beberapa perubahan pada dirinya. Tahun lalu, saat kami berkenalan, tingginya hanya beberapa centimeter di atasku. Sekarang, meskipun dia berada satu tangga di bawahku, aku perlu menengadahkan kepala untuk melihat wajahnya. Ratu wajahnya pun lebih tegas, dengan janggut tipis yang kunilai belum sempat dicukurnya karena jubah yang dipakainya tampak lusuh, menandakan bahwa dia baru kembali dari bepergian jauh. Dan di balik jubah lusuh itu, aku yakin tersembunyi otot penanda kekuatan fisiknya yang sebanding dengan kekuatan Cosmo-nya.
Aku baru menyadari bahwa aku terlalu lama menatapnya ketika dia akhirnya berbicara,
“Aku perlu bicara denganmu.”
Kutolehkan wajahku untuk mengalihkan pandangan, ganti menatap bunga liar di dekat anak tangga. Aku ingin melarikan diri lagi, tapi tangannya erat menggenggam lenganku dan aku tahu kali ini aku tidak diberi kesempatan kabur, jadi terpaksa aku menjawab dengan agak terbata, “Membicarakan apa?”
Ilias tidak langsung menjawab, tapi bisa kurasakan tatapannya lekat mengamatiku. Mungkin dia mengharapkanku untuk menatapnya balik selagi dia bicara, tapi untuk yang satu ini aku bersikap keras kepala.
Melihat wajahnya sebentar saja sudah membuat degup jantungku tidak keruan, jadi mana mungkin aku mengobrol dengannya sambil menatap wajahnya, ‘kan?!
Kelihatannya dia akhirnya menyerah, karena kemudian dia berbicara lagi, “Aku akan berhenti bertanya.”
Aku nyaris mengangkat wajahku lagi, ingin melihat ekspresinya dan memberitahunya bahwa aku tidak paham maksud ucapannya itu. Tapi yang bisa kulakukan hanya mengeluarkan suara pelan bernada kebingungan, dengan arah tatapan masih terpaku pada bunga yang kini bergoyang tertiup angin sore.
“Aku tidak akan menuntut jawaban darimu. Jadi, kembalilah.”
Lenganku masih tidak dilepaskannya. Dia bilang tidak akan menuntut jawabanku, tapi kurasa dia ingin aku menyahuti ucapannya untuk kali ini saja. Meskipun aku masih tidak terlalu paham, aku menganggukkan kepala dan menjawab lirih, “Baiklah…”
Syukurlah, sepertinya dia puas dengan sepatah kata dariku itu, karena kemudian dia berhenti menggenggam lenganku dan turun satu anak tangga agar bisa sedikit membungkuk ke arahku.
“Maaf sudah menyita waktumu.”
.
.
.
Selepas kepergian Ilias setelah pembicaraan singkat di antara kami selesai, bukannya kembali ke kuil Pisces, aku malu duduk termangu di atas anak tangga yang sama. Keranjang buahku tergeletak di sampingku, tak kugubris sama sekali.
Bahkan setelah menit-menit berlalu, debar jantungku tak juga kembali normal.
Pembicaraan kami hanya berlangsung sebentar, tapi efek yang menyertai ketika aku tak sengaja menatapnya begini besar. Dia tidak melakukan hal yang berarti, hanya menatapku sambil mengajakku bicara, dengan tangannya menggenggam lenganku agar aku tidak menghindarinya.
Tapi itu saja sudah cukup untuk membuatku makin mengharapkannya.
Lalu aku merasa bahwa diriku ini benar-benar bodoh karena masih bisa berharap.
Lama aku berdiam diri di sana, bersyukur tidak ada orang lain yang melewati jalur tersebut, juga tidak ada yang mencariku lagi. Bahkan ketika hujan perlahan turun rintik-rintik, aku malah mendongak menatap langit, seperti menatangnya untuk mengguyurku lebih deras, yang ternyata dikabulkan dengan sepenuh hati.
“Terima kasih,” gumamku pelan dengan senyuman sinis, “Andai saja dia seperti kamu, yang bisa tahu tanpa perlu aku mengatakan apa-apa.”
Kemudian aku tertawa saat ucapanku disambut dengan bunyi guruh, yang di telingaku terdegar seperti ucapan bersimpati. Setelah tertawa itu, kusadari bahwa aku sudah merasa lebih lega. Degup jantungku tidak lagi tak karuan. Kuraih pegangan pada keranjang buah yang sempat kulupakan, bangkit berdiri dan kembali menapaki tangga Sanctuary, siap sekali lagi menjadi pemuja yang puas hanya dengan mengagumi dari jauh.
.
.
.
It's yet to end...
.
.
.
