Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-10-13
Words:
1,033
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
5
Hits:
26

landscape with a fairy

Summary:

cerita ini hendak menjawab sebuah premis. apa yang akan terjadi, jika seandainya rōjūrō ōtoribashi kehilangan istrinya, nagishima otome, untuk selamanya.

a songfic and alternative yume lore. made from "landscape with a fairy" by aspidistrafly.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Sesungguhnya Rōjūrō bukanlah pribadi yang gemar bermimpi. Namun, akhir-akhir ini, bermimpi menjadi kesehariannya di waktu luangnya sebagai kapten. Bukan mimpi yang muluk-muluk. Ia hanya ingin bertemu Otome dan melepas rindunya di dalam mimpi.

Sewindu telah berlalu sejak Rōjūrō kehilangan sang istri. Beberapa hari setelah meninggalnya Otome, separuh sukmanya seolah hilang meninggalkan raganya mengikuti sang istri pergi ke haribaan Yang Kuasa.

Sejak saat itu pula Rōjūrō merasa hidupnya kosong tak bermakna. Raganya bagai cangkang tanpa isian. Semua orang terdekatnya seperti ketiga anaknya, para Vizard, dan Kira Izuru bahkan sempat khawatir Rōjūrō akan mengakhiri hidupnya sewaktu-waktu.

Meski Rōjūrō sudah jauh lebih baik saat ini, hatinya masih belum ikhlas. Baginya, butuh waktu seumur hidup untuk mengikhlaskan kepergian Otome.

“Taichou! Sudah saatnya Anda menghadiri rapat kapten” Izuru dari luar ruangan kapten mengingatkan Rōjūrō.

Tak ada respon, Izuru membuka ruang kerja sang kapten dan mendapati Rōjūrō menatap sendu pemandangan musim gugur dari jendela ruang kerjanya.

“Taichou?”

“Izuru, aku benci musim gugur” Ucap Rōjūrō sendu.

“Boleh aku tahu kenapa, Taichou?” Tanya Izuru.

“Mendiang istriku menyukai musim gugur karena ia lahir di musim gugur. Namun, di musim yang sama, ia juga meregang nyawa” Jelas Rōjūrō datar.

“Baru sekarang aku mendengar hal ini dari Anda, Taichou” Komentar Izuru.

“Sampai saat ini, aku masih belum sanggup mengikhlaskan kepergian mendiang istriku, Izuru” Kata Rōjūrō, masih dengan tatapan kosong.

Sejenak, ia membuat Izuru khawatir. Izuru takut kaptennya akan kembali melakukan percobaan bunuh diri seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Taichou, jangan berkata yang tidak-tidak! Anda harus menghadiri rapat sekarang. Kalau tidak, aku sendiri yang akan menyeret Taichou hingga ke aula tempat rapat kapten” Ancam Izuru.

“Baiklah, Izuru. Aku akan segera hadir. Titip barak padamu, ya?”

Menit berikutnya, Rōjūrō pergi ke Barak Divisi 1 dengan shunpo.

Usai rapat kapten, Rōjūrō kembali ke Barak Divisi 3 dan bersantai di teras yang terhubung dengan kamarnya. Di halaman Barak Divisi 3, Rōjūrō melihat banyak daun-daun kering berwarna jingga dan kecoklatan berguguran dan melayang dibawa pergi oleh angin musim gugur yang sejuk.

“Sudah datang, rupanya” Ucap Rōjūrō ketika merasakan reiatsu Raku, putra sulungnya, semakin dekat dengannya.

“Kalau bukan karena Izuru-nii dan Shinji-ojisama yang memintaku untuk rutin mengunjungimu, aku tak akan mau, Oyaji” Sejak dulu, Raku terkenal tsundere. Tak pernah mau terlihat menyayangi ayahnya.

“Masih menyimpan dendam padaku, rupanya” Sindir Rōjūrō pada Raku.

“Mau teh?” Tawar Rōjūrō, yang dengan cepat ditolak oleh putranya.

“Masih belum mau pulang ke rumah juga, Oyaji?” Selidik Raku, anak sulungnya.

“Sudah kubilang, aku akan menjual rumah kita dalam waktu dekat” Kata Rōjūrō.

“Kau aneh, Oyaji! Segala kenangan indahmu bersama Kaa-chan juga terjadi di rumah itu. Jika kau kehilangan rumah kita, maka kau sama saja dengan menghancurkan segala kenanganmu dengan Kaa-chan dan kami bertiga”

Rōjūrō terdiam.

“Kurasa Kaa-chan tidak akan setuju dengan keputusanmu. Aku, Sonoka, dan Tsukki juga pasti tak akan setuju” Tambah Raku.

Rōjūrō jadi bertanya-tanya. Apakah setelah ini, ia tetap akan menjual rumahnya?

“Pikirkan lagi keputusanmu, Oyaji. Aku tahu kau masih bisa berpikir jernih” Ucap Raku sebelum beranjak meninggalkan sang ayah.

***

Untuk pertama kalinya setelah delapan tahun kepergian Otome, Rōjūrō kembali menginjakkan kaki di rumahnya. Masih terlihat rapi, sebab Shinji dan para vizard lainnya bergantian mengirim anggota divisinya untuk merapikan rumah tak berpenghuni itu.

Suasana rumahnya terasa familiar, namun kehangatan di dalamnya jauh berkurang. Dulu, Rōjūrō selalu ingin cepat pulang ke rumah agar ia bisa leluasa bermesraan dengan Otome. Sepeninggal Otome, Rōjūrō merasa tak punya alasan untuk pulang ke rumah. Itu sebabnya ia kembali menempati kamar kapten di Barak Divisi 3 yang telah kosong selama puluhan tahun.

Dapur dan ruang makan di rumah itu masih tak berubah. Rōjūrō dulu selalu melihat Otome sibuk memasak makanan, entah untuk dihidangkan pada keluarga, dijadikan bekal, atau sekedar menghabiskan waktu luangnya. Ruang makan hanya akan ramai ketika anak-anak pulang ke rumah.

“Memasak untukmu adalah caraku menunjukkan cintaku padamu. Jadi, tolong, jangan minta aku untuk berhenti, Jūrō”

Sekarang tak ada lagi Otome di sisinya. Tak ada lagi bekal makan siang yang selalu disiapkan sejak pagi untuknya. Tak ada lagi yang bisa Rōjūrō ganggu setiap pagi saat memasak.

Rōjūrō berpindah dari dapur menuju kamar tidur mereka. Tempat di mana Rōjūrō selalu bisa melihat Otome sebelum mengawali dan menutup harinya yang melelahkan. Tempat di mana ia memadu cinta dengan Otome hampir setiap malam ketika mereka hanya tingal berdua. Tempat di mana ia menghabiskan sebagian besar harinya dengan Otome ketika keduanya sama-sama tak bekerja.

“Jika benar ada kehidupan lagi setelah kematian, maka di kehidupan selanjutnya, aku ingin kembali menjadi istrimu”

Rōjūrō sejenak merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan menutup matanya sejenak. Mengingat segala hal yang ia lakukan bersama Otome semasa istrinya itu hidup. Meski ranjangnya lembut dan luas, Rōjūrō tidak lagi merasa nyaman berbaring di atasnya.

Ranjang itu terasa dingin sebab Otome tak berada di sisi Rōjūrō saat ini. Rōjūrō kini enggan untuk tidur di ranjangnya sendiri. Tak ada yang dapat ia rengkuh dengan penuh kasih sayang dan ia dengarkan ceritanya menjelang tidur.

Keluar dari kamar tidur mereka dulu, Rōjūrō melihat banyak foto lama yang dipajang di dinding rumahnya. Hampir semua fotonya diambil ketika Otome masih hidup. Foto keluarga kecil mereka, foto pernikahan keduanya, dan masih banyak foto lainnya. 

Perlahan, air mata Rōjūrō menetes satu demi satu. Terlalu banyak kenangan yang sayang untuk dibuang. Raku benar. Jika Rōjūrō ingin selalu memelihara kenangannya dengan Otome, maka ia tak perlu menjual rumahnya. Namun, bukan berarti Rōjūrō akan kembali tinggal di rumahnya. Ia hanya akan memeliharanya setelah ini. Tanpa bantuan Shinji, Kensei, ataupun Lisa.

Langkah kaki Rōjūrō lalu membawanya ke halaman rumah yang cukup luas. Tempat Otome biasanya merawat tanaman hiasnya di waktu luang. Rōjūrō ingat dulu ia ikut membantu Otome mencabuti rumput liar di sekitar tanamannya atau menyiramnya ketika Otome sedang berhalangan.

Sayang sekali, tanaman hias milik Otome sudah tak ada sekarang. Karena Rōjūrō masih bersedih, tanaman-tanaman itu tidak terawat dengan baik dan akhirnya layu. Rōjūrō menyesal mengapa dulu ia membiarkan dirinya terlalu larut dalam kesedihan.

“Katanya, merawat tanaman membuat kita lebih bahagia. Karena itu, aku ingin merawat tanaman-tanaman ini layaknya anakku sendiri”

***

Usai bernostalgia di rumahnya sendiri, Rōjūrō kembali ke Barak Divisi 3. Angin musim gugur kerap bertiup lembut mengiringi perjalanannya. Rōjūrō membiarkan helaian rambut ikalnya bergerak bebas mengikuti arah angin dan menikmati sejuknya angin yang mengikutinya.

‘Jika saatnya tiba, aku ingin kita kembali bersama. Melepas rindu, saling menyatakan cinta, dan menghabiskan waktu yang berhenti berdetak.’

Notes:

Tenang, di lore aslinya, Otome nggak mati. Ini cuma "what if" doang.