Work Text:
[William’s POV]
Tokyo, musim semi.
"William, aku punya kabar bagus!"
Hari itu, di bawah sakura yang bermekaran, aku kembali mengagumi sosokmu. Lebih indah dari kelopak bunga yang menari ditiup angin. Lebih cerah dari matahari musim semi. Begitu cantik.
Ini hari terakhir orang-orang bisa melakukan hanami, sebelum seluruh kecantikan bunga sakura meranggas dimakan musim. Kita duduk berdua di atas kain segiempat kecil yang terhampar di atas rerumputan. Ukurannya hanya cukup untuk menampung aku, kamu, dan beberapa makanan kecil yang kau bawa.
Aku hanya tersenyum, memperhatikanmu berceloteh riang. Sesekali aku menyuap kudapan spesial buatanmu yang terasa manis.
"Aku akan jadi idol!"
Sudah bertahun-tahun kau berbagi mimpi itu padaku. Bertahun-tahun itu pula aku selalu ada di sisimu, mendampingimu dalam segala sesi latihan. Tari, vokal, penguasaan panggung, akting, semua sudah khatam kau pelajari. Kalau ada orang yang paling tahu seberapa keras kau berjuang, orang itu sudah pasti aku.
"Selamat, ya!"
Aku menggenggam jemarimu yang lebih kecil. Merasakan kelembutan dan kehangatan itu, mematrinya dalam memoriku.
Karena tak pernah ada yang tahu kapan aku bisa menggenggamnya lagi.
"Kira-kira aku bisa gak ya, Will?"
Aku menyampirkan anak rambutnya yang sudah mulai panjang ke telinga. Mencoba menangkap tatapan penuh keraguan itu dengan lebih jelas. Semua lebam kebiruan yang pernah terlukis di kulitmu akibat terjatuh saat latihan tari, suara serak yang muncul akibat terlalu lama berlatih vokal, semuanya menjadi saksi kalau kau tak mudah untuk dikalahkan.
"Bisa. Kamu pasti bisa."
Kutatap kedua matanya itu dalam, mencoba memberikan dukungan yang dapat menghapus gelisah. Justru aku yang harusnya ragu.
Apakah aku masih bisa berada di sisimu?
.
.
.
Musim semi, satu tahun kemudian.
Sudah hampir genap satu tahun aku tidak bertemu denganmu. Aku merindukan senyummu, tawamu, keluh kesahmu, dirimu.
Sekarang semua orang mengenalmu, setiap sudut kota dihiasi senyum cantikmu. Senyum yang awalnya hanya milikku.
Dengan perlahan aku melangkah melewati deretan bunga sakura yang mulai meranggas, mengabaikan kelopaknya yang tertiup angin dan menempel di bajuku. Memori itu masih jelas di benakku, berputar terus bagai kaset rusak. Lagi dan lagi.
Perjalanan dari apartemenku—apartemen yang pernah jadi milik kita—ke teater tidak begitu jauh, tapi rasanya aku sudah berjalan begitu lama. Begitu lama sampai semua kenangan kita yang sudah aku tutup rapat tumpah keluar.
Satu tahun mungkin waktu yang lama bagimu. Kau berhasil berlari begitu jauh untuk menggapai mimpimu menjadi seorang idol terkenal. Tapi bagiku, satu tahun terasa begitu singkat. Terlalu singkat untuk bisa melupakanmu.
Kini, di sini lah aku berdiri, berbaris bersama dengan ratusan orang lainnya untuk bertemu denganmu. Satu-satunya kesempatan yang bisa aku manfaatkan untuk kembali dekat denganmu, sebuah acara handshake event.
“Halo! Terima kasih sudah datang!”
Senyum itu.
Suara itu.
Dirimu.
Semua masih sama persis dengan satu tahun yang lalu.
Kau menggenggam tanganku dengan erat. Rasanya masih sama, tanganmu masih terasa begitu kecil di genggamanku. Tapi kehangatan itu tak lagi bisa aku rasakan, hanya ada tangan yang terasa dingin akibat pendingin ruangan.
Satu tahun adalah waktu yang singkat bagiku. Tapi sepuluh detik yang aku punya untuk menggenggam tanganmu terasa bagaikan keabadian.
Aku tahu kau tidak pernah melupakan semua yang pernah kita lalui. Aku tahu kau juga merindukanku. Aku tahu kau tak ingin pergi. Meski lidahmu begitu kelu untuk mengucap. Meski hanya senyuman manis yang bisa kau ukirkan. Aku bisa merasakan semuanya dari genggaman tanganmu.
Kalau saja waktu itu aku tak melepas tanganmu. Kalau saja aku tak membiarkanmu berlari.
Apakah kau akan tetap berada di sisiku?
“Ya, waktunya habis. Selanjutnya!”
Aku tersenyum sebelum melepaskan genggamanmu. Menyisakan rasa hampa di jemari dan juga hatiku.
Kalau saja waktu terulang kembali, aku akan tetap mendukungmu untuk terbang tinggi.
Karena cintaku akan selalu ada bersama dengan cita-citamu.
Meski kita tak akan pernah bisa kembali lagi.
.
.
.
Selesai
