Actions

Work Header

Encounter

Summary:

Di tengah keramaian festival musim semi, Kaiser melihat rambut kecambah yang amat familiar. Namun, si kecambah bukanlah Yoichi-nya.

or

Minato & Yoichi mirip sampai Kaiser salah sangka.

Notes:

Head canon kalau The Yuzuki Family dan Isagi Family itu kerabat keluarga meski jauh.. Just let me cook kalau Minato dan Yoichi mirip to feed my self indulgences.. Hope you enjoy it...

P.s. Kaiser ngomong bahasa Jerman

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Ketika tengah berjalan santai menyusuri festival musim semi yang penuh dengan stan-stan makanan dan permainan dan sovenir, sudut matanya menangkap sepucuk kecambah di atas kepala tengah melambai di tengah-tengah keramaian.

Sebetulnya, ia ke sini bersama Aiku dan Ness, juga beberapa teman setim Aiku yang Kaiser sedikitnya malas mengingat nama mereka. Namun, entah ke mana mereka semua—atau Kaiser yang nyasar karena malas mengintili mereka? Either way, Kaiser malas repot-repot mencari rombongannya.

Mata Kaiser kembali fokus ke tubuh kecil itu. Surai biru gelap itu. Kepala bulat itu. Suasana hati Kaiser yang semula cenderung buruk kini membaik, bahkan sudut bibirnya mengembang membentuk seringaian jahil. Heh, katanya males pergi ke festival musim semi. Sekarang malah antre beli permen kapas.

Basic no know shy. Si badan besar itu terkekeh gemas sambil membelah dan menyempilkan diri di antara lautan manusia demi menghampiri sosok kecil yang diyakini sebagai Yoichi. Kaiser langsung melingkarkan lengannya di leher Yoichi begitu dirinya sudah berdiri tepat di sebelahnya.

“Haa Yoichi, beli permen kapas emangnya umur berapa?”

Sebentar.

Sejak kapan Yoichi memendek?

“E—eh??” Mata biru itu membola. 

“Huh? Kak Minato kenal Kakak asing ini?” Huh? Kenapa ada Yoichi yang lebih kecil dan bulat di sebelah kakinya?

Who the fuck are you?!” Siapa pula yang tinggi ini—

“Kak Mikoto ngomong kasar!”

Semua terjadi begitu cepat sampai-sampai Kaiser hanya bisa tertegun setelah tangannya ditepis dengan kasar oleh sosok yang tinggi. Mata birunya memicing, seakan melempar laser mematikan ke arah Kaiser.

Siapa orang ini? Apakah ia kerabat Yoichi?

“Yoichi?”

“Yoichi siapa?!” Yang tinggi membelasut. “Gak ada di antara kita yang bernama Yoichi!”

Bersyukur Kaiser tetap menggunakan translator earpiece-nya. Meski translasinya begitu random karena banyaknya suara yang masuk. 

Mata Kaiser jatuh kepada sosok yang kini bersembunyi—atau lebih tepatnya disembunyikan di balik punggung yang lebih tinggi. Mata biru nan bulat itu menatap Kaiser penuh penasaran tetapi juga curiga. Binar matanya… sangat mirip Yoichi. Namun, setelah diamati lebih dalam, Kaiser menyadari itu bukan Yoichinya

Kecambah di kepalanya jauh lebih tinggi. Poninya meliuk menutupi seluruh permukaan dahinya. Binarnya jauh lebih polos dan menggemaskan seperti anak kecil. Pipinya juga jauh lebih gembil. Namun sungguh.. Postur dan ekspresinya mirip sekali.

Uh.. Sorry,” Kaiser berucap dengan bahasa Inggris. Mereka bertiga tidak memakai earpiece penerjemah. Rasanya tak mungkin kalau Kaiser gunakan bahasa Jerman, kan? “gue pikir dia temen gue.” lanjutnya sambil menggerakan dagu, menunjuk sosok kecambah yang mirip Yoichi.

Yang terkecil keluar dari balik pinggul sang kakak. “Temen Kakak namanya Yoichi? Aku kayak pernah dengar.”

“Gakuto, jangan deket-deket orang asing itu!”

“Tapi dia orang asing dan sendirian, mungkin dia tersasar dan butuh bantuan?” 

Kaiser mengulum senyum haru. Astaga. Anak kecil yang sungguh baik dan menggemaskan.

Mengabaikan tatapan maut yang tinggi dan teriakan panik si Yoichi palsu (apakah sopan bilang begini?), Kaiser berjongkok, menyejajarkan diri dengan si kecil yang tadi dipanggil dengan Gakuto. Tangannya mengambil sebelah earpiece yang ia bawa untuk berjaga-jaga dan memasangkan benda kecil itu ke telinga si kecil. Kaiser mengetuk earpiece itu dua kali lalu menatap Gakuto.

“Aku nggak bisa bahasa Jepang, tapi pakai ini kamu jadi bisa paham.”

“WAH. Betulan! Benda ini bicara bahasa Jepang! Aku bisa mengerti!” Mata Gakuto berbinar. Dengan semangat ia berbalik dan memamerkan telinganya yang disumpal earpiece kepada kakak-kakaknya. “Kakak ini bicara bahasa asing dan aku bisa dengar bahasa Jepangnya! Benda ini keren!”

“Aku bicara bahasa Jerman.” Ucap Kaiser pelan sambil tertawa kecil. Tak bisa ia menahan kegemasannya pada Gakuto.

Mulut Gakuto semakin membulat penuh kagum. “Bahasa Jerman! Kakak ini dari Jerman! Aku bisa mengerti bahasa Jerman pakai alat ini!”

“WOH, SERIUS, GAKU-CHAAN? PINJEM DONG. MAU COBA!”

“Kak Minato harus bilang kakak asing ini dulu!”

Jadi yang mirip Yoichi ini namanya Minato. Kaiser menatap Minato yang wajahnya masih sedikit kepanikan, terlihat sekali ketika ia menelan ludah karena gugup.

“Kakak, aku mau pinjam benda di telinga Gaku-chan, boleh?”

Kaiser mati-matian untuk tidak berteriak. Shit. Minato ini MENGGEMASKAN SEKALI. Ia membayangkan Yoichi memanggilnya dengan kakak—

Kaiser menggeleng—lalu mengangguk senang. “Boleh. Mm.. Gakuto?” Kaiser memanggil si kecil dengan hati-hati, karena sungguh ia bisa mendengar geraman mematikan dari si tinggi. “Pinjemin alatnya ke kakak kamu, boleh?”

Surprisingly, Gakuto mengangguk cepat. Tidak seperti anak-anak pada umummya yang setahunya egois dan tidak mau saling meminjam, Gakuto justru dengan semangat memberikan earpiecenya ke Minato yang memakainya dengan ceroboh. Kaiser tertawa. Astaga. Tapi menggemaskannya sama dengan Yoichi.

“Jangan tatap-tatap Minato kayak gitu!”

“Kak Mikoto, kakak asing ini baik. Kakak jangan marahin dia. Dia nggak bisa bahasa Jepang.” jadi yang tinggi ini namanya Mikoto.

Betul, tidak ada yang bernama Yoichi di sini.

Kaiser tertawa. “Terima kasih, Gakuto.”

“Kak Minato, dia bilang apa?”

Mulut dan mata Minato membulat. Persis dengan ekspresi Gakuto sebelumnya. “Beneran bisa dengar bahasa Jepang! Wow!” Minato menunduk, menatap Gakuto. “Katanya terima kasih!”

Gakuto tertawa dan mengangguk. “Sama-sama!” Lalu mendongak dan menatap Kaiser. “Kakak asing namanya siapa?”

“Michael. Michael Kaiser.”

Minato mengernyit. “Mhyaeru?”

Kaiser tertegun. Jantungnya mendadak berdesir hangat. Bahkan ia bisa merasakan telinganya memanas. 

Apa-apaan.. Bagaimana bisa Minato, si Yoichi palsu, merapalkan namanya hampir persis seperti Yoichi dulu? Is this a common thing of Japanese people? A coincidence? 

“Bukan, Kak Minato! Mhwaer!”

“Michael. Mi. Chael.” Tukas Mikoto malas.

“Mhyael.” ulang Minato.

Kaiser tertawa. “Michael, atau panggil Kaiser juga boleh.”

“Kaiser.. Keren. Nama kamu keren banget!” Puji Minato. “Aku Yuzuki Minato. Ini adikku Yuzuki Gakuto. Kalau dia Yuzuki Mikoto.” Kata Minato, memperkenalkan saudara-saudaranya kepada Kaiser dengan riang.

Minato sungguh tak sadar bahwa wajah Mikoto makin murka.

“Kamu ke sini sendirian?”

Kaiser menggeleng. “Tadinya sama teman, tapi aku misah.” Huh, sejak kapan nada Kaiser bisa selembut ini dengan orang—dengan Yoichi palsu? Sungguh Kaiser tidak bisa membayangkan dirinya berbicara selembut ini dengan Yoichi.

“Kesasar?”

“Mungkin? Aku cuma malas jalan.”

“Hoi Minato,” Mikoto mendelik jengkel dan menjitak lembut kepala Minato. “Tolong kasih tahu Kaiser Kaiser ini ngomong apa!”

“Gantian dong, Mikoto!” Dengus Minato. “Aku kan masih ngobrol.”

“Ya, ngobrol apa, kasih tau.”

“Ya, kan aku bilang gantian, bodoh!”

Kaiser tertawa. Kalau dipikir-pikir, jika sikap Minato dan Mikoto ini disatukan, bisa dibilang benar-benar hampir persis Yoichi. Galak dan ketus, tetapi menggemaskan. Saat ini, sisi otak kanan Kaiser membayangkan kalau sebenarnya ia tengah tersasar ke dunia lain. Dan di dunia lain inilah Yoichi terbagi menjadi tiga.

“Terus tadi kenapa kamu manggil aku Yoichi? Yoichi siapa?”

Kaiser hampir tersedak di tengah-tengah imajinasinya.

“Err.. Yoichi temanku.” Kaiser sesungguhnya tak sudi menganggap Yoichi teman. Di antara dirinya dan Yoichi, sama sekali tidak ada lapisan pertemanan. “Hari ini dia tidak ikut sama rombongan kami, jadi pas lihat kamu, kupikir dia pergi sendirian.”

“Kenapa dia nggak ikut?”

“Malas pergi sama aku, katanya.” Yoichi tidak pernah bilang begini. 

“Masa sih? Kalau teman pasti mau pergi sama teman loh! Apalagi kalau saudara. Kecuali kalau ada urusan. Uta hari ini ada urusan sama Tante Saki, jadi dia nggak bisa ikut. Kak Hayato juga! Kalau dia malas main, berarti dia bukan temanmu.”

Uta? Saki? Hayato?

Tanpa mengerti konteks, Gakuto mengangguk setuju. “Waka bilang sebagai gantinya hari ini tidak bisa pergi, lusa kita mau main ke taman!”

Waka? 

Kaiser terkekeh. Keluarga mereka banyak dan harmonis, huh? Kini mereka tak hanya mengingatkan Kaiser perihal Yoichi, tetapi juga masa kecilnya yang kesepian, dan menyedihkan. Oh to have adorable siblings..

“Iya, Yoichi emang bukan temenku, dia jahat.” Lagi-lagi bohong sedikit.

Minato mengangguk. “Iya, betul. Dia jahat dan bukan temen kamu! Seharusnya dia ngasih alternatif jalan lain!”

“Tapi, kayaknya dia jahat karena aku jahat deh, Minato.”

“Kenapa begitu?”

“Aku.. suka dia.” Kaiser berucap pelan. Mungkin earpiece di telinga Minato tak menangkap suaranya. “Jadi dia terus jauhin aku, karena dia gak suka aku.”

“Minato, sini gantian earpiece-nya!”

“Mikoto?!” Hardik Minato saat benda di telinganya ditarik paksa, dan kini penerjemah modern itu berpindah di telinga Mikoto. “HEY AKU BELUM SELESAI NGOBROL SAMA KAISER! MIKOTO BODOH KEMBALIIN!”

Beberapa pengunjung yang berlalu lalang kini melirik ke arah mereka. Gakuto meringis. Minato masih merengek. Mikoto Idgaf. Kaiser ikut meringis.

“Lo suka adik gue?”

Wow, chill.” Kaiser mundur satu langkah saat Mikoto maju. Di belakangnya, Minato menarik tangan Mikoto agar tidak melakukan hal aneh-aneh. “Nggak. Lo salah paham.”

“Terus? Gue ngerti Jerman dikit-dikit. Liebe artinya suka, kan? Kenapa lo bilang Liebe ke adik gue?”

“Ah, dia nanyain Yoichi. Soalnya tadi gue panggil dia Yoichi, kan.” Kaiser tertawa. “Yang gue suka Yoichi.”

Mikoto mengernyit. Tampak tak senang dengan jawaban Kaiser meski itulah kenyataannya. “Gue nggak tahu lo siapa, Yoichi siapa, gue gak peduli. Tolong jangan ganggu—”

Mikoto terdiam.

Yoichi? Michael Kaiser?

“Mikoto?” / “Kak Mikoto..?”

“Weh, weh! Itu bukannya Michael Kaiser?! Pemain Bastard Munchen di Blue Lock!”

“Hah?! Lah, iya. Eh tadi gue juga liat orang mirip Aiku Oliver.. jangan-jangan emang Aiku?”

“KAISER BOLEH MINTA FOTO NGGAKKK?”

Shit.” Kaiser langsung memakai masker dan mengeratkan topinya. “Gue harus pergi.”

Kala menatap lurus untuk meminta ketiga saudara mengembalikan earpiecenya, Kaiser justru disapa wajah kaget.

“HUHH!? Michael Kaiser?! Kamu Superstar?!!?” Astaga. Superstar Minato bilang? As if this isn't a damn coincidence.

“Ah nggak heran kalau aku pernah denger nama Yoichi. Kemarin habis nggak sengaja nonton Blue Lock di TV sama Kakek Kojiro!” sahut Gakuto dengan mata yang berbinar-binar.

“Jadi, lo, Michael Kaiser, pemain bola terkenal, dan lo bocorin rahasia ke kita? Suka sama Isagi Yoichi?”

Kaiser tertawa canggung. “Well.. Not that you'd tell anyone and it's not like people will believe you even if you do.”

Mikoto menarik nafas dalam sebelum menghembuskannya dengan tenang. Mengembalikan citra kakak tertua kedua yang tenang dan berwibawa. Namun, seulas seringai miring tercetak.

“Tapi, gimana kalau Yoichi tau?” 

Kaiser menelan ludah. Sudah ia gelisah karena orang-orang semakin berkerumun, ditambah ucapan Mikoto?

“Maksudnya—”

“Kak Kaiser! Isagi Yoichi itu anaknya sepupunya mendiang mama!” 

Siapapun, tampar Kaiser sekarang juga.

Pertama, ternyata saudara ini sudah tidak punya mama. Betapa brengseknya ia membandingkan kehidupannya dengan tiga anak ini?!

Kedua, fakta apa itu. Ini pasti fiksi, kan? Ini pasti betulan dunia lain, kan? Ya, kan?!

Mikoto mengangkat telepon pintarnya. Di layarnya tertulis huruf Jepang yang tak Kaiser pahami. Namun, ketika panggilan kepada kontak tersebut tersambung, rasanya Kaiser bisa pingsan saat itu juga.

“Halo, Mas Hayato?

“Ini Mikoto. Gue bawa ponsel Kakak.” Mikoto tersenyum miring. Kaiser keringat dingin. “Yoichi tau kalau Yoichi mirip sama Minato kan?”

Minato berusaha menutup mulut Mikoto. Gakuto berusaha menarik Mikoto agar berhenti. Astaga. Sejak kapan kakak keduanya menjadi sangat USIL dan TIDAK BERPERIKERAHASIAAN?!

“Mikoto bodoh! Itu rahasia Kaiser! Jangan dikasih tahu ke Yoichi!”

Kaiser? Wah! Mikoto dan Minato nonton Blue Lock?!”

“IYA!” Gakuto teriak, berusaha mengalihkan topik pembicaraan. “Kak Yoichi sudah jadi super star.”

Gakuto!! Kamu di sana juga? Aku bukan super star, masih payah aku mah!”

“Enggak payah!” Sahut Minato. “Yoichi paling hebat loh!”

Ah, dibanding sama Kaiser, aku masih jauh.”

Gakuto dan Minato membeku di tempat. Sial. YOICHI TIDAK MEMBANTU SAMA SEKALI. Sementara itu Kaiser makin pengen kabur. Perutnya mules karena takut. Sialan. SIAL. 

“Nah, berbicara soal Kaiser,” Mikoto melanjutkan. “Katanya Kaiser—”

“—Yoichi.”

Di luar dugaan Mikoto, Kaiser memotong kalimatnya, memanggil Yoichi, membuat ketiga saudara tertegun. Begitu pula beberapa orang yang berkerumun dengan ponsel yang naik, menangkap gambar dan video Michael Kaiser.

Membaca situasi, Minato dan Gakuto langsung sigap mengusir kerumunan. Ini adalah privasi! Mikoto bodoh! Omel Minato dalam hati. Bagaimana bisa ia berperilaku seceroboh ini, sampai mempertaruhkan rahasia orang lain?! 

Semoga saja tidak ada yang bisa bahasa Jerman!

Tolong jangan video. Aku nggak mau privasiku dan kakak-kakakku tersebar karena aku saudaranya Kaiser.” Pinta Gakuto ke semua orang dengan tipuannya. 

Minato rasanya pernah melihat trik bohong ini… triknya Mikoto. Mikoto sialan.. Mengajarkan bidadari kecil Gakuto yang polos berbohong dengan kurang ajarnya!!

Kaiser? What the hell are you doing?!”

“Pakai earpiece lo, Yoichi. Gue malas pakai bahasa Inggris.”

Bule pemalas. Bule apaan nggak mau make bahasa Inggris!”

“Eh, banyak bacot. Cepet pake earpiece lo.” Mikoto yang memakai earpiece melotot tak percaya atas apa yang barusan dikatakan Kaiser.

Apa begini cara orang mengobrol dengan orang yang disuka?!

Udah pake. Jadi kenapa lo di sana?!”

I told you, main ke festival musim semi sama anak-anak lain. Lo nya gak mau ikut.”

Males, soalnya sama lo!”

Whatever, Yoichi.”

Jangan jahatin saudara-saudara gue lo, Kaiser!”

“Mana ada. Tanya aja Gakuto sama Minato. Gue nggak ngapa-ngapain mereka.” sahut Kaiser tak peduli.

Namun ia lupa, baik Gakuto dan Minato tak ada yang mengerti apa yang ia katakan. Hanya Mikoto yang memakai earpiece… “Bohong.”

“LO NGAPAIN SAUDARA GUEEE KAISER BAJINGANNNN

“GUE NGGAK NGAPA-NGAPAIN! MIKOTO BOHONG!”

MANA MUNGKIN MIKOTO BOHONG.”

“SUMPAH, YOICHI.”

AWAS LO!

“CHI—”

Mana Mikoto?! Gue mau ngomong sama Mikoto aja!”

 

Kaiser nobatkan. 

Di antara semua saudara Yuzuki,

Di balik topengnya yang renang dan berwibawa,

Mikoto lah yang paling berbahaya dan tak diduga-duga.

 

 

 

[MESSAGE]

Yoichi: Lo naksir Minato ajg

Kaiser: Minato lucu

Yoichi: DIA BARU NAIK KELAS 2 SMP.

Kaiser: Eh mikir. Emangnya gue keliatan kayak bakal macarin bocah?

Yoichi: Terus kenapa lo bilang Minato lucu?!?!

 

Karena Minato cuma mirip lo.

Aslinya, lo yang paling lucu, Isagi Yoichi.

 

 

Pada akhirnya, setelah melakukan proses persuasif dari Hayato, Minato, dan Gakuto, Mikoto pun berhasil dibungkam dan rahasia Kaiser ke Yoichi setengah aman.

 

Notes:

The Four Sons of The Yuzuki Family had me in TEARS I love Minato so much he reminds me a lot of Yoichi..