Work Text:
Sudah sebulan Woonhak menjadi siswa SMA, dan ia masih tak percaya bisa bertemu kembali dengan kakak kelasnya saat SMP—seseorang yang ia kagumi sejak SMP hingga sekarang.
Woonhak lagi-lagi hanya bisa mengagumi kakak kelasnya dari kejauhan. Lekukan wajah yang tampak sempurna membuatnya tak bisa mengalihkan pandangan. Kepalanya seperti terkunci, tak bisa bergerak. Meskipun jaraknya cukup jauh, Woonhak tetap bisa merasakan manisnya senyuman kakak kelas itu. Wajahnya memerah tanpa sadar, semburat hangat menjalar hingga ke telinganya.
Woonhak tidak tahu kapan tepatnya, tapi ada sesuatu yang aneh di dalam perutnya, seperti kupu-kupu yang terus menggelitik setiap kali dia melihat kakak kelasnya.
Apakah Woonhak naksir kak Taesan? Dia merasa, mungkin tidak. Tapi... ah, Woonhak benar-benar tidak tahu! Dia belum pernah menyukai seseorang sebelumnya, jadi semua ini membuatnya bingung.
Lamunannya terhenti ketika namanya dipanggil. Woonhak menoleh, menatap temannya yang ternyata sudah selesai menghabiskan makanannya.
“Kasian itu bakso dianggurin kamu dari tadi. Kalau nggak mau, bilang aja. Nanti aku yang makan,” ujar temannya.
Woonhak mendelik. “Kamu kan sudah makan punyamu sendiri, Hoon. Jangan rakus!”
“Kalau gitu, kamu makan baksonya. Aku jadi penasaran deh, dari tadi kamu lihat apa sih?” Jihoon berusaha melihat ke arah yang Woonhak perhatikan. Matanya memicing, lalu mulutnya membentuk lingkaran ketika ia melihat apa yang Woonhak lihat. Sementara itu, Woonhak menyuapkan sesendok bakso ke mulutnya.
“Itu kak Taesan, kan? Ketua OSIS tahun ini,” Woonhak mengangguk lalu menyahut di sela-sela mengunyah. “Keren, kan?” Jihoon mengangguk setuju.
“Dia juga ketua OSIS waktu di SMP, loh,” ujar Woonhak. Jihoon menatapnya bingung. “Kamu tahu dari mana?”
“Aku satu SMP sama kak Taesan, Hoon,” jawab Woonhak sambil melanjutkan makannya. Jihoon mengangguk, baru paham.
“Kalau begitu, kak Taesan kenal sama kamu?”
Woonhak menggaruk tengkuknya, lalu menggeleng. “Nggak.”
“Kenapa nggak kenalan? Lumayan kan, kamu jadi punya 'orang dalam'."
“Orang dalam apanya, dia itu tegas, tahu. Kamu nggak lihat waktu kak Taesan memarahi anak yang nggak taat aturan pas MPLS?”
Jihoon berpikir sebentar, lalu menggeleng. “Nggak, kayaknya waktu itu aku lagi di UKS, perutku sakit.”
Pembicaraan mereka terhenti oleh suara bel sekolah. Woonhak dan Jihoon segera berdiri, membawa mangkuk mereka dan mengembalikannya ke bibi kantin sambil mengucapkan terima kasih, lalu bergegas ke kelas. Mereka berjalan cepat karena pelajaran berikutnya adalah matematika, dan guru mereka terkenal ketat. Terlambat lima menit saja, mereka tak diizinkan masuk kelas.
Bel pulang sekolah berbunyi, tapi para murid tidak langsung berhamburan keluar kelas karena hujan tiba-tiba turun. Guru-guru mengingatkan agar mereka segera pulang ke rumah dan memakai jas hujan.
Woonhak menatap keluar jendela, memperhatikan semua yang basah oleh guyuran hujan. Matanya tiba-tiba terpaku pada seseorang. Kak Taesan! Ia berjalan menuju halte bus di samping pagar sekolah. Tumben sekali naik bus, pikir Woonhak.
“Woonhak!” panggil temannya, membuatnya tersentak. “Cepat, piketnya! Kita mau bikin video tugas sebentar lagi.”
Woonhak buru-buru kembali menyapu, membantu temannya. “Iya, maaf. Tunggu sebentar!”
Woonhak baru saja menyelesaikan tugas videonya bersama teman-teman kelompoknya. Ia menatap lembayung yang mulai menghiasi langit, namun hujan tak juga berhenti. Karena lupa membawa payung, Woonhak terpaksa menggunakan jaketnya untuk menutupi tubuh bagian atas agar bisa berlari menembus hujan menuju halte bus.
Sesampainya di halte, ia langsung duduk sambil menunduk, mencoba mengatur napas setelah berlari sekuat tenaga, berharap tubuhnya tidak terlalu basah. Setelah beberapa saat, ia mengangkat kepala dan mulai melihat sekeliling.
Matanya langsung membulat. Di sampingnya duduk ada kak Taesan! Ia mengenakan jaket tebal, melindungi tubuhnya dari suhu dingin. Kakinya disilangkan, dan kepalanya menunduk, fokus pada ponsel, tidak menyadari kehadiran Woonhak di sebelahnya. Woonhak buru-buru mengalihkan pandangannya. Cepatlah datang, bus. Aku mohon, doa Woonhak dalam hati.
“Baru pulang?” Woonhak tersentak, menoleh ke samping kanannya, tapi tak ada siapa-siapa. Itu berarti… Yap, benar. Yang bertanya padanya adalah kak Taesan! Sekarang dia sedang menatap langsung ke arah Woonhak.
Woonhak tiba-tiba merasa mulutnya terkunci rapat, membuatnya tak bisa menjawab. Dengan cepat, dia hanya mengangguk keras. Ah, kak Taesan pasti menganggap aku aneh sekarang, pikirnya.
“Kamu adiknya kak Jaehyun, ya?” tanya Taesan. Woonhak tertegun. Kak Taesan tahu dari mana? Pikirannya berputar. Woonhak tahu bahwa abangnya adalah alumni SMA ini, tapi bagaimana kak Taesan bisa tahu kalau dia adik Jaehyun? Apa Woonhak pernah memperkenalkan dirinya sebagai adik bang Jaehyun saat MPLS? Woonhak mencoba mengingat, tapi tak bisa mengingat kejadian itu..
“Bukan, ya?” tanya Taesan lagi untuk memastikan. Woonhak segera mengangguk. “Iya, benar, Kak.”
Setelah mendengar jawaban Woonhak, Taesan segera merogoh saku celananya. Woonhak menatapnya penasaran. Taesan mengeluarkan secarik kertas yang dilipat kecil dan menyerahkannya. “Tolong kasihkan ke kak Jaehyun, ya,” ujarnya dengan senyum tipis. Woonhak menerimanya dan mengangguk.
Bus akhirnya tiba. Woonhak berdiri, dan ketika hendak melangkah, ia melirik ke belakang. Kak Taesan tetap duduk, tidak ikut naik bus. Mungkin sedang menunggu jemputan, pikir Woonhak, masih sedikit bingung. Woonhak kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam bus.
“Abang Je.” Panggil Woonhak dari balik pintu kamar sang abang. Jaehyun, yang berada di meja belajarnya, menoleh.
“Sini masuk,” katanya sambil menepuk kursi di sampingnya, mengisyaratkan agar Woonhak duduk di sana. Woonhak masuk dan menutup pintu kembali. Ia duduk di kursi samping Jaehyun, tetapi fokusnya tiba-tiba teralihkan pada laptop Jaehyun yang menampilkan video seorang food vlogger.
“Kok suka nonton itu sih, Abang? Konten gitu bikin lapar terus, tahu.”
“Suka-suka abang lah.” Woonhak memicingkan matanya curiga. “Cakep ya orangnya?” tanyanya tiba-tiba, membuat Jaehyun tersentak dan semburat merah muncul di pipinya. Jaehyun segera menggeleng.
“Enggak. Ngawur kamu. Jadi, mau apa kamu ini?” Jaehyun mengingatkan kembali tujuan Woonhak berada di kamarnya. Woonhak merogoh sakunya dan menyerahkan secarik kertas yang diberikan kak Taesan kepada abang Jaehyun.
“Woah, apa nih?” tanyanya bingung. Ia mengambil kertas itu lalu membukanya. Matanya bergerak kesana-kemari, wajahnya berubah kemudian menggaruk tengkuknya. “Gimana ya…”
“Apa itu katanya?” Rasa penasaran Woonhak tinggi, ingin ikut melihat isi kertasnya, tetapi Jaehyun dengan cepat menutup kertas itu dan menjauhkan badannya agar Woonhak tidak bisa melihat.
“Perutku kenyang! Haah... kayaknya lebih enak kalau makan bersama di sini, ya. Kalian ada yang mau menemaniku?” Suara dari video mengalihkan perhatian Jaehyun yang sedang berpikir. Fokusnya kembali ke laptop, dan Woonhak cemberut.
“Ishh, Abang!”
“Sabar, Dek. Ini komen dulu. Siapa tahu bisa kan.” Jawab Jaehyun sambil mengetik sesuatu di kolom komentar video food vlogger tersebut.
[Mau denganku? Kebetulan tempat makan itu jaraknya lumayan dekat dengan rumahku.]
Woonhak mendelik. Segitunya kah Abang suka sama food vlogger itu? Abang kan belum pernah bertemu langsung dengannya, pikir Woonhak. Setelah memposting komentarnya, Jaehyun kembali menatap kertas tadi.
Jaehyun menatap Woonhak. “Ponselmu mana, Dek?” tanyanya.
“Sebentar,” ujar Woonhak sambil merogoh saku celananya, kemudian memberikan ponselnya kepada sang abang. Jaehyun mengambilnya dan mengetik sesuatu sambil melihat kertas di tangannya.
“Nah, sudah. Sekarang, Adek bantu tulis kata-kata yang Abang ucapin nanti, terus kirim ke nomor itu, ya.” katanya sambil mengembalikan ponsel ke Woonhak. Woonhak mengangguk mengerti.
“Maaf, aku tidak bisa menerima ajakanmu,” ucap Jaehyun, dan Woonhak mulai mengetik sesuai kata-kata abang. “Aku menganggap semua orang di organisasi itu sebagai saudaraku sendiri, jadi aku tidak menyangka bahwa kamu memiliki perasaan seperti itu padaku. Mungkin sulit untuk move on, tapi aku mohon lakukan itu. Sekali lagi, aku minta maaf karena tidak bisa membalas perasaanmu. Salam, Jaehyun.”
“Kirim langsung?” tanya Woonhak. Jaehyun mengangguk. “Setelah dikirim, kamu tulis, ‘Ini nomor Woonhak, adiknya Bang Jaehyun.’”
“Sudah, Bang. Ini nomor siapa, sih? Kok Abang nggak kasih nama?” tanya Woonhak bingung.
“Nomor Taesan. Kamu kenal kan? Satu SMP sama kamu juga dulu,” jawab Jaehyun dengan santai.
Woonhak terkejut, pandangannya berpindah-pindah antara pesan yang baru saja dikirim dan wajah Jaehyun yang tetap tenang. Jadi... kak Taesan suka sama Abang? Dan Abang nolak kak Taesan karena... Abang suka sama food vlogger itu? Tapi kenapa Abang bisa suka sama food vlogger itu... Woonhak jadi penasaran.
“Dek, nggak papa?” Lamunan Woonhak buyar. Dia cepat-cepat menggeleng. “Nggak apa-apa, kok.”
“Ya sudah kalau begitu. Mau ikut nonton? Ini konten yang minggu lalu, belum sempat Abang tonton.” Woonhak menggeleng cepat. “Nggak, Bang. Woonhak mau kerjain tugas terus tidur.” Jaehyun mengangguk. “Oke, semangat ya.”
Woonhak kembali ke kamarnya. Duduk di meja belajarnya dan menatap ponselnya, melihat pesan yang baru saja ia kirim. Kak Taesan suka Abang... Sejak kapan ya? Pikirnya. Ia menggeleng keras, lalu menampar kedua pipinya dengan telapak tangannya. “Ayo, kerjain tugasnya! Kalau nggak selesai, nanti dihukum sama Bu Nana!”
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, menandakan ada notifikasi masuk.
[Terima kasih informasinya, Woonhak.]
Ah... Kak Taesan pasti sakit hati... batinnya. Semoga besok Kak Taesan masih bisa tersenyum seperti biasa.
Woonhak tidak melihat kak Taesan di depan gerbang sekolah pagi ini, padahal sebagai ketua OSIS, sudah menjadi tugasnya untuk mengecek para murid setiap pagi. Beberapa anggota OSIS yang lain tampak menggantikannya.
Kak Taesan tidak masuk sekolah ya? pikir Woonhak.
"Woonhak!" Suara guru di depannya memecah lamunannya. Woonhak tersentak, buru-buru menegakkan tubuhnya.
"Ah, iya, Pak. Ada apa?" jawabnya dengan terbata.
"Tolong bacakan soal nomor 20," titah sang guru. Woonhak segera menunduk dan melihat catatannya, lalu membacakan soal tersebut dengan suara lantang.
"Jangan melamun lagi ya, Woonhak," tegur gurunya.
"Baik, Pak. Saya minta maaf," ucap Woonhak sambil mengangguk.
Di kantin, Jihoon melipat tangan di depan dada sambil memperhatikan temannya yang sedang rebah di atas meja.
"Jadi begitu... Wah, sulit ya. Kamu tuh suka sama kak Taesan, kan?" Jihoon bertanya tanpa basa-basi. Woonhak yang tadinya lemas, langsung mengangkat kepalanya dengan ekspresi bingung.
"Ada apa? Apa aku salah ngomong?" Jihoon menyelidik, melihat reaksi Woonhak.
Woonhak menggeleng pelan. "Tidak tahu," jawabnya dengan suara lirih. Kemudian ia kembali merebahkan kepalanya.
Jihoon bersiul, matanya berkeliling melihat sekeliling. Tiba-tiba, ia berdiri dengan antusias dan melambaikan tangan. “Youngjae!”
Woonhak mengangkat kepalanya, penasaran pada siapa yang Jihoon panggil. “Sini, sini!” Jihoon mengajak. Youngjae yang dipanggil itu mendekat dengan langkah ogah-ogahan menuju meja mereka.
“Ada apa?” tanyanya. Jihoon bukannya menjawab, malah langsung memeluknya. Woonhak membungkuk sopan, “Halo.. Kak.. Youngjae?”
“Halo juga,” balas Youngjae, berusaha mendorong Jihoon. “Duh, Jihoon, lepas.” Jihoon pun melepaskan pelukannya dengan wajah cemberut.
“Oh ya!” Jihoon mendongak dan melihat Woonhak. “Woonhak, Kak Youngjae ini anggota OSIS dan tetangganya Kak Taesan, loh! Kamu bisa titip cemilan dan surat permintaan maaf, jika kamu benar-benar merasa bersalah, kepada Kak Taesan lewat Kak Youngjae.”
Youngjae mendelik. “Kamu pikir aku ini kurir pesan?”
“Anggap saja begitu,” jawab Jihoon sambil terkekeh. “Bagaimana ide ku? Bagus ‘kan?”
Woonhak mengangguk kuat, “bagus sekali!”
Jihoon tertawa, “pintar sekali aku ini.” Tapi tawa itu langsung terhenti begitu pukulan ringan mendarat di punggungnya dari Youngjae.
“Uh, sakit...” keluh Jihoon. Youngjae melirik Woonhak, “sudah beli camilannya?”
Woonhak menggeleng, “belum, Kak. Nanti sepulang sekolah Woonhak beli dulu.”
“Baiklah, aku tunggu di ruang OSIS.”
“Terima kasih banyak bantuannya, Kak.” Woonhak berdiri dan membungkuk dengan hormat.
“Ya, sama-sama. Kalau begitu, aku pergi dulu, ya. Kalian juga sebaiknya segera ke kelas; bel masuk sebentar lagi berbunyi.” Youngjae berbalik, meninggalkan Jihoon dan Woonhak yang saling pandang.
Permisi." Woonhak mengetuk pelan pintu ruang OSIS, mengucap salam sambil menunggu respons dari dalam. Setelah memanggil tiga kali, pintu akhirnya terbuka.
“Oh, Woonhak.” Youngjae menyapanya.
"Ini, Kak, barangnya. Terima kasih banyak sudah mau membantu," ucap Woonhak sambil menyerahkan plastik putih berisi camilan yang baru saja dibelinya di supermarket dekat sekolah.
Youngjae menerima plastik itu. “Iya, sama-sama. Hati-hati di jalan, ya. Sepertinya sebentar lagi akan hujan,” pesannya mengingatkan.
“Iya, Kak. Kalau begitu, Woonhak permisi dulu.” Youngjae mengangguk, memberi izin.
Di perjalanan menuju kantin, Woonhak bertanya, “Hari ini Kak Taesan sekolah nggak ya? Aku tidak lihat dia di pagi tadi.” Jihoon hanya mengedikkan bahunya. “Nggak tahu.”
Setibanya di kantin, suasana seperti biasa ramai oleh pengunjung di jam istirahat. Jihoon dan Woonhak berjalan berkeliling, melihat-lihat makanan apa yang enak untuk dimakan hari ini.
“Wa!” Woonhak tersentak ketika seseorang tiba-tiba menepuk pundaknya.
“Ah, maaf. Aku nggak bermaksud mengejutkanmu,” ucap seseorang. Woonhak menoleh dan terkejut melihat bahwa itu adalah Kak Taesan, dengan Kak Youngjae di sampingnya. Jihoon yang melihat Youngjae langsung berlari mendekat dan memeluknya.
“Iya, nggak apa-apa, Kak,” balas Woonhak.
“Ayo, cari tempat duduk. Kita duduk bersama,” ajak Taesan. Woonhak mengangguk, mengikuti mereka dari belakang. Sementara itu, Youngjae sibuk mendorong Jihoon yang enggan melepaskan pelukannya—Jihoon memang suka sekali memeluknya.
“Kamu nggak beli sesuatu, Woonhak?” tanya Taesan. Woonhak menggeleng. “Nggak, Kak, lagi nggak pengen.”
Walau kantin ramai, suasana di meja mereka terasa hening. Tanpa Jihoon dan Youngjae di situ, tak ada yang memulai topik obrolan. Taesan akhirnya teringat alasan ia mengajak Woonhak duduk bersama.
“Terima kasih buat camilannya, ya,” ucap Taesan sambil tersenyum tipis. Woonhak buru-buru mengalihkan pandangan, berusaha tidak menatap Taesan.
“Iya, nggak masalah, Kak,” jawabnya dengan suara agak terbata.
“Aku juga sudah baca suratnya. Kamu nggak perlu merasa bersalah, Woonhak, karena yang menanggung perasaan ini ya aku sendiri,” kata Taesan, terkekeh pelan. “Sedih karena ditolak itu wajar, tapi aku nggak sesedih yang kamu kira, kok.” Ia tersenyum lagi. “Lagipula, kemarin aku nggak masuk sekolah karena ada urusan keluarga, bukan karena sakit hati.”
Woonhak akhirnya menghela napas lega, meski juga merasa malu karena sudah berpikir yang macam-macam. Untung saja pandangannya masih teralihkan dari wajah Taesan—pipi Woonhak sudah mulai memanas. Ia mengangguk pelan, “Begitu ya. Syukurlah…”
Melihat tingkahnya, Taesan tertawa kecil. “Kamu lihat ke mana, sih? Aku di sini loh,” godanya. Woonhak akhirnya menatap wajah Taesan yang sedang tersenyum ke arahnya. Seketika, pipinya terasa makin panas dan hatinya berdebar keras.
“Wajahmu merah kayak tomat!” goda Jihoon tiba-tiba, yang baru datang bersama Youngjae sambil membawa makanan.
“Diamlah, Jihoon!” seru Woonhak, malu bukan main. Gelak tawa pun pecah di meja mereka, membuat mereka sempat diperhatikan oleh beberapa orang di kantin. Meski begitu, mereka tetap larut dalam obrolan riang hingga bel masuk berbunyi.
