Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 6 of Popo (How deep is our love?)
Stats:
Published:
2024-10-19
Words:
1,175
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
50
Bookmarks:
1
Hits:
1,143

Mata di Hati Hari Ini

Summary:

Entah bagaimana, Matahari di pagi ini terbitnya di mata Jaehyun yang selalu bertakhta di hati Sungho.

Notes:

Didedikasikan untuk 1mun-chan!

Aku berniat menceritakan lebih banyaak kisah mereka sebelum menikah, tapi nanti! Kurang lebih seminggu ini aku udah banyak tulis keseharian mereka sebagai pasusu, tapi mungkin aku bakal rehat dulu dari kisah mereka untuk sementara waktu karena mau ngerjain WIP lain hehehe gak perlu khawatir karena kapan-kapan aku bakal update Popo lagi! Yang sudah request di Retrospring, mohon bersabar, ya!

Semoga update hari ini cukup manis dan bisa dinikmati! Selamat membaca!

P.s. MASIH di hari yang sama seperti Popo 4 & 5!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Jaehyun menyesal karena dulu beli piyama motif langit malam penuh bintang-bintang kecil karena bajunya memiliki desain leher berbentuk V yang sangat rendah. Kemungkinan besar, Sungho tidak tahu tentang fakta ini karena bajunya memang tidak pernah Jaehyun pakai meski celananya hampir setiap hari dicuci saking seringnya dipakai. Yang jadi masalah sekarang adalah Sungho memilih setelan piyama tersebut untuk Jaehyun gunakan. Jaehyun ingin protes, tapi tenaganya sudah habis di kamar mandi.

“Pantesan kamu gak pernah pake bajunya,” ujar Sungho saat melihat bagaimana baju tersebut ketika dipakai suaminya.

Sebenarnya tidak aneh sama sekali. Tubuh Jaehyun bagus karena Sungho terkadang menyeret suaminya untuk berolahraga bersama. Fasilitas apartemen harus dioptimalkan penggunaannya dan Sungho tidak mau menikmati hal tersebut sendirian — padahal Jaehyun sungguh senang meski hanya Sungho yang menggunakan fasilitas tersebut.

Yang jadi masalah adalah waktu. Jaehyun yang baru saja dimakan luar dalam oleh Sungho di Sabtu pagi yang cerah tentu tubuhnya penuh bercak merah. Dari leher ke dada juga banyak bekas gigitan dan isapan Sungho yang sudah diolesi salep, tentunya. Didukung oleh desain leher piyamanya, seluruh cupang tersebut terpampang jelas.

Jaehyun menyadari tatapan suaminya yang memindai tiap sudut kulitnya yang terekspos. Malu sedikit. Jaehyun bisa gila kalau begini. Kenapa dia sering tidak tahu malu dan beberapa saat kemudian urat malunya langsung terhubung begitu saja? Kan tidak adil! Jaehyun pun berguling ke samping sampai dirinya berakhir di posisi tengkurap. Soalnya kalau begitu, kan, tidak kelihatan!

Sungho tertawa melihat suaminya.

“Kok gitu posisinya?”

“Biarin,” jawab Jaehyun. “Pantatku sakit. Jadi tengkurap aja supaya gak sakit.”

“Tapi nanti bisa susah napas. Baring miring aja mau, gak?”

Jaehyun tidak menjawab, tetapi ia bisa dengar Sungho berbaring di sampingnya. Dari ujung matanya juga ia bisa lihat Sungho berbaring miring ke arahnya. Jaehyun berbaring seperti biasa pun tidak apa-apa, sebenarnya. Tapi malunya itu, loh!

“Sayang?” panggil Sungho.

Sialan. Lagi-lagi sebuah kecurangan. Jaehyun mengubur wajahnya di bantal. Namun, selang beberapa detik berlalu, ia benar-benar sulit bernapas. Ditambah napasnya tercekat ketika merasakan tangan Sungho melingkari pinggangnya. Ah, dipikir lagi. Untuk apa punya malu? Tadi ketika mohon-mohon untuk disentuh, Jaehyun tidak memikirkan akibat sama sekali. Sekarang yang perlu dilakukan, hanya melalui semua ini dengan berani, kan? Benar. Hanya itu kuncinya.

Akhirnya, Jaehyun memutar tubuhnya hingga menatap Sungho. Mata Jaehyun mengerjap beberapa kali sampai Sungho mendekatkan wajahnya untuk mencium pipinya. Logika yang Jaehyun pikirkan sedaritadi memang benar-benar harus diaplikasikan. Sungho adalah suaminya! Tidak perlu malu! Kalau malu, tinggal bilang meski malu!

Jaehyun benar-benar malu banyak, tapi ia tetap menenggelamkan tubuhnya di dalam pelukan Sungho. Huft, bersandar di dada bidang Sungho memang sangat oke. Jaehyun terkadang mau olahraga juga supaya Sungho kalau bersandar di dadanya bisa senyaman ini, tapi kemalasannya selalu menang. Tidak masalah bila dada Jaehyun program kerjanya hanya digigit Sungho. Jaehyun di tahap ini sudah berpasrah diri.

Beberapa menit berlalu, Jaehyun tidak mengucapkan sepatah kata pun. Sungho juga begitu. Jaehyun hanya membiarkan kakinya memeluk pinggang suaminya. Diam seperti ini sungguh begitu nyaman. Rasanya benar-benar seperti beristirahat.

“Hari ini mau makan apa?” tanya Sungho.

“Aku hari ini gak mau makan,” jawab Jaehyun pelan.

“Harus makan tahu — ”

“Soalnya udah makan kamu.”

Sungho tertawa mendengar jawaban suaminya. Getar tubuh Sungho sungguh jelas dirasa oleh Jaehyun. “Iya, deh, terserah kamu aja.”

“Kamu mau makan aku lagi?”

“Jaehyun,” ujar Sungho singkat.

“Iya, iya, bercanda, ih. Nanya doang. Aku beneran udah enggak kuat hari ini.” Jaehyun menjawab cepat. Tidak bohong, soalnya Jaehyun benar-benar sudah kehabisan energi.

Namun, tiba-tiba, Jaehyun memekik karena Sungho mengangkat tubuhnya sampai tengkurap tepat di atas Sungho. Jaehyun pegangan erat-erat di pundak suaminya, tapi Sungho malah ketawa. Tidak membantu sama sekali karena tubuh Sungho jadi bergetar dan Jaehyun takut jatuh. Memang tidak sakit kalau jatuh dari tubuh Sungho ke kasur, tapi Jaehyun mudah kaget!

“Yeppi!”

“Awh, kamu berat juga, ya.”

Jari tengah dan telunjuk Jaehyun ia gerakkan seperti gunting yang menangkap bibir Sungho di antaranya. Bibir Sungho akhirnya menyerupai bebek. Persis. Jaehyun memajukan tubuhnya lalu mencuri kecupan di bibir suaminya. Jemarinya juga ia lepas setelah berhasil melakukan misi rahasia tersebut.

Sungho mengaduh karena pergerakan tiba-tiba Jaehyun sedikit menyiksa.

“Minimal mikir, lah.” Mwuah. “Aku lebih tinggi dari kamu. Berat kita kalau enggak mirip, ya, palingan lebih berat aku.” Mwuah. “Tapi untung kamu suka olahraga, sih.” Mwuah. “Jadi kalau aku tindih gini, enggak penyet.”

“Aku kan bukan ayam penyet.”

Mwuah. “Siapa yang ajar kamu asbun begitu.” Mwuah. Mwuah. Mwuah.

Bibir Sungho basah bukan karena liurnya sendiri, melainkan karena milik Jaehyun. Suaminya itu kalau sudah begini, tiba-tiba jadi kelihatan kecil.

“Gak ada yang ajar.”

“Masa, sih? Perasaan aku ajar kamu banyak hal gak, sih?”

Sungho tertawa lagi. “Aku jadi mirip kamu aja mungkin.”

“Emangnya aku suka asbun?”

Pertanyaan Jaehyun hanya sebuah retorika. Jawabannya memang Jaehyun sering asal bunyi dan Sungho pun tidak jauh berbeda. Hanya frekuensinya yang tidak sama. Kalau dipikir lagi, yang mengakibatkan mereka putus beberapa tahun lalu sebelum menikah juga kalimat asal bunyi Jaehyun yang sedang sakit hati karena perkataan Sungho yang asal bunyi juga.

“Dulu kita putus gara-gara kamu asbun, kan,” jawab Sungho.

Setiap ingat bagaimana mereka putus, Jaehyun sering merasa bersalah. Namun, Sungho yang waktu itu jauh berbeda dengan Sungho yang sekarang. Dulu Sungho banyak kurangnya, banyak mengjengkelkannya, dan banyak bebalnya. Sekarang juga Sungho masih banyak kurangnya, tapi tidak terlalu menjengkelkan dan bebalnya sudah pindah ke Jaehyun.

“Udah lama, ya, itu,” gumam Jaehyun. Ia kemudian menyenderkan kepalanya di antara ceruk leher Sungho — tempat favorit Jaehyun untuk beristirahat.

“Udah lama banget.”

Hidup Sungho benar-benar separuhnya diisi dengan Jaehyun. Mereka sudah melalui banyak hal berdua selama bertahun-tahun lamanya meski pernikahan mereka baru menginjak tahun kedua. Sungho tidak bisa membayangkan hari esok tanpa Jaehyun yang memeluknya setiap pulang kerja sambil berteriak dari pintu bahkan sebelum Sungho bisa melihat sosoknya. Mereka sudah sangat terbiasa dengan presensi satu sama lain. Terlalu terbiasa.

“Aku masih inget mata kamu waktu itu merah banget,” ungkap Sungho. “Kayaknya, kamu buka mata pas aku cium cuma sekali itu.”

Jaehyun mengangkat kepalanya. Kini, tatapan mereka bertemu.

“Posisi kamu perbaiki dong, Yeppi. Sandaran di headboard coba.”

Sungho menurut. Jaehyun masih di atas suaminya. Namun, sekarang mungkin hitungannya ia berada di pangkuan Sungho. Tangannya kini melingkar di leher Sungho. Jaehyun mendekatkan wajahnya hingga kening mereka bersentuhan. Kelopak mata Jaehyun tertutup. Sungho hanya perhatikan suaminya itu lamat-lamat.

Tidak lama kemudian, perlahan kelopak mata Jaehyun terbuka. Telapak tangan Jaehyun menangkup pipi Sungho. Tentu, Sungho refleks menutup matanya. Jaehyun menyapu bibir suaminya dengan pagutan yang pelan.

“Yeppi, kalau kamu tutup mata, kamu gak bisa lihat mataku sekarang, dong,” gumam Jaehyun tepat di depan wajah Sungho.

Sungho pun membuka matanya. Ia membeku ketika melihat bagaimana Jaehyun menyatukan kembali cumbuan mereka dengan senyum yang sampai ke mata terbukanya. Mata Jaehyun kali ini, bersinar seolah ia juga berhasil menangkap cahaya Matahari yang dibiarkan masuk dari celah-celah ventilasi udara dan jendela. Indah sekali.

Ketika Jaehyun melepas pagutan mereka, giliran Sungho yang menangkup pipi suaminya. Ia mengelus-elus pipi Jaehyun yang begitu lembut dan kenyal. Sungho ikut tersenyum.

“Ingat mataku yang hari ini aja, Yeppi,” bisik Jaehyun sambil tersenyum.

Oh, tentu. Sungho akan ingat kali kedua mereka bercumbu dengan mata terbuka hari ini. Sungho akan ingat Matahari yang beristirahat pada obsidian suaminya. Sungho akan ingat senyum Jaehyun yang manis.

Sungho akan mengingat hari ini.

Notes:

Aku sangat mengapresiasi setiap komentar kalian T^T Please let me know your thoughts! Talk to me T^T

Twitter/X | Retrospring

Series this work belongs to: