Work Text:
Pukul 11 malam, Wisnu menyelesaikan laporannya. Ia pun menutup laptop yang sedaritadi dipangku, mematikan dan menyimpannya di atas nakas. Kedua anak kembarnya sudah pulas dari jam 9, mulai dari situlah dia bekerja dan dua jam berlalu sampai pekerjaannya usai. Mereka tidur mengapitnya, si sulung yang berada di sisi kanan dan si bungsu yang ada di sisi kiri, keduanya pun memeluk kaki sang ayah sampai Wisnu tak bisa bergerak kemana pun. Sesekali Wisnu ke toilet atau minum, tetapi dua anaknya bisa langsung sadar jika keberadaan ayahnya tak ada. Maka itu, Wisnu tak bergerak sekitar setengah jam sampai laporannya selesai.
Ia masih duduk bersandar di headboard, mengelus kepala kedua anaknya dan tersenyum tipis. Mereka sampai terlelap karena menunggu panggilan dari ibu mereka, tetapi karena sibuk dan perbedaan waktu membuat panggilan belum dilakukan sampai detik itu.
Wisnu mengambil ponsel yang berada di nakas, hendak menelpon sang istri tetapi wanitanya langsung menghubungi. Meski berbeda benua untuk saat ini, perasaan mereka terkoneksi. Senyum bahagia terulas mengingat betapa ia menantikan panggilan gambar itu, Wisnu pun langsung menjawabnya.
"Mas, haloo~!" Terdengar suara semangat dari sang istri diiring lambai tangan.
"Hai, sayang," jawab Wisnu. "Mas kangen sama kamu."
"Aku juga kangen, sama anak-anak juga," Nora mengeluh lalu menghembus napas. "Udah seminggu pula istrimu ini di sini, gak enak banget susah cari nasi."
Mendengar itu membuat Wisnu terkekeh. "Jadi di sana kamu makan apa dong?"
"Ya roti, cuma aku selalu minta nasi, mas," ujarnya. "Mana kenyang," keluh Nora lagi, ia lalu memangku pipi. "Dah gitu aku harus jalan jauh 'kan, ya pakai mobil sih cuma keseringan jalan kaki. Kok bisa ya orang disini cuma makan begituan doang?"
"Perut mereka mah udah biasa, bun. Gak kayak kita orang Indo."
Nora mendecak. "Iya sih, mas. Capek banget gak kelar-kelar urusannya, rasanya pengen kutinggalin aja."
"Sabar, sayang. Besok atau lusa kamu 'kan pulang."
Tampak sang wanita memanyunkan bibir dan meletakkan kepalanya di atas meja. Layar panggilan Nora yang tadinya portrait sekarang menjadi landscape.
"Nah itu, makanya harus diselesaiin hari ini. Lagian si Nathan juga susah amat mau ngomong, ah," gerutunya. "Udah tahu aku punya suami sama anak, mana mau aku tinggalin kalian lama-lama."
Celoteh yang terlontar dari bibir sang istri membuat Wisnu menggeleng pelan.
Sudah seminggu berlalu terhitung sejak Nora meninggalkan suami dan anak-anaknya untuk sementara waktu, mengurus urusan keluarga dari sebelah ayahnya yang saat ini berada di Denver, Colorado, Amerika Serikat.
Benar, tempat yang didatangi Nora sangat jauh dan memakan waktu belasan jam. Wanita itu sempat jetlag saat sampai di kota yang terkenal dengan berbagai macam museum. Tadinya mereka harus ke Houston, kota yang berada di Selatan Amerika Serikat. Namun bagaimana cerita detailnya Nora tak tahu dan tak ingin tahu. Dia malah protes kenapa mereka harus memiliki keluarga yang begitu jauh dari Indonesia?
Yah, ayahnya juga sih yang punya orangtua asli di sana—kakek nenek Nora dan saudaranya.
Tentu Nora tak pergi sendiri. Dia pergi satu keluarga, yang mana ada ibu dan ayahnya, saudara kembarnya—Nathan, dan adik bungsu mereka—Kael. Ada dua pembantu juga yang ikut. Kalau saja Wisnu bisa izin sementara dari pekerjaan, dia pasti sudah dibawa dengan anak kembar mereka. Sangat disayangkan mereka tak bisa pergi bersama, belum lagi urusan keluarga yang belum selesai sampai hari ini. Yah, Nora sih ingin langsung menyelesaikannya. Dia tak suka urusannya ditunda-tunda terlalu lama.
"Aku sih bilang ke papa, mas. Kalau urusannya belum kelar juga hari ini, aku bakal pulang sendiri."
"Sabar, bun. Mas lebih khawatir kalau bunda pulang sendiri."
Nora menggaruk kepalanya. "Yah ...."
"Enggak papa, mas tunggu kamu kok. Yang penting urusan bunda selesai dan gak pergi ke sana lagi."
Wanita itu mengulum bibir, mengubah posisinya menjadi duduk tegak dan layar panggilan menunjukkan wajah dan dadanya. Tampak baju blus hitam dikenakan Nora.
"Ya kalau mas ngomong gitu, aku harus nurut dong."
Wisnu mengangguk dan tersenyum. "Iya, pelan-pelan aja, bun."
"Iya, mas," jawabnya. "Anak-anak dah tidur ya?"
"Iya, ini." Ia mengganti mode kamera ponselnya menjadi kamera belakang, mengarahkan si sulung yang lelap di sisi kiri lalu bergantian dengan si bungsu di kanan Wisnu sembari memeluk boneka beruang.
"Ya ampun anak-anakku," ujarnya gemas. "Abang makannya gimana, mas?"
"Alhamdulillah aman, bun. Ya walau susah juga sih di awal soalnya Arka maunya makan sambil telponan sama bunda," Wisnu bercerita. "Eh si adek juga ikut-ikutan, mas sampai bingung bujuknya."
Nora terkekeh geli. "Lucunya~ Si kembar malah bikin kerjaan ayahnya."
"Iya, mas hampir nyerah gara-gara mereka rewel terus."
Terulas senyum tipis di wajah sang wanita. "Mas hebat, loh. Tunggu ya?"
"Mas bakal selalu tunggu bunda."
Melihat respon suaminya, meski hanya via panggilan gambar, membuat Nora geram dan menggeleng gemas. "Ahh mas mau peluk nanti kalau udah di Indo!"
"Boleh, peluk aja suamimu sepuasnya."
Mendengar respon Wisnu pun membuat sang wanita tertawa. Ia hendak bicara, tetapi muncul seorang perempuan berambut pirang dengan kulit putih pucat dan mata cokelat muda mengintip panggilan mereka. Perempuan itu berdiri di belakang Nora.
"Who's that handsome over there?"
"My husband," Nora menjawab.
"Damn, he is someone who you told yesterday. I want to know him."
Sang istri mengernyit lalu memukul bahu perempuan itu. "HE IS MY HUSBAND," Nora menekankan. "You dumbass."
"Chill, sis," Perempuan itu mengibaskan tangan dan tertawa. Ia melihat ke layar lagi, tetapi Nora menjauhkannya dengan menolaknya hingga tak muncul di layar. "Keep that protective behaviour, mam. You are so cool with that."
"Go away!"
Terdengar tawa di antara keduanya, Wisnu yang mendengar setiap percakapan mereka--walau tak terlalu ia tangkap karena bicara Nora dan si perempuan pirang dengan bahasa Inggris begitu cepat, membuatnya terkekeh.
"Protektif ya sama suaminya," Wisnu mengejek, membuat Nora mencebik.
"Ketemu laki-laki kayak mas tuh susah, ya kali aku biarin mas diambil orang."
"Istri kayak bunda juga susah ditemuin dimana-mana."
"Apa sih," Nora merespon, malu-malu. Ia pun terlihat sedang dipanggil seseorang, membuatnya beralih pada Wisnu. "Mas, aku udahin dulu ya telponnya. Nanti aku telpon lagi."
"Oke, semangat ya, sayang.
Ada perasaan sedih ketika Nora harus mengakhiri panggilan, terlihat dari mata cokelat muda yang begitu terang karena sinar matahari di Denver. Ia melambai pada sang suami, dibalas dengan lambaian singkat dari Wisnu.
Panggilan berdurasi setengah jam pun berakhir. Ponsel Wisnu diletakkan di samping nakas, mematikan lampu utama kamar guna remot—menyisakan lampu tidur yang ada di belakang headboard kasur.
Ia berbaring di kasur, merentangkan kedua tangan dan memeluk anak kembarnya. Tangannya pun beriringan mengelus kepala keduanya. Setidaknya, rindu untuk hari ini terobati karena panggilan tersebut.
