Actions

Work Header

Close to You

Summary:

Pertemuan pertama Seungcheol dengan dokter anak pengganti Soonyoung saat anak perempuannya sakit.

Work Text:

“Bang, ini Dedek gimana? Gue mau kumpul himpunan jam setengah empat sore, terus ini anaknya masih ngerengek aja, gak mau lepas dari gue. Panas banget badannya.”

Sambungan telepon dari Hansol sukses membuat kepalanya semakin menguap lagi. Terlebih sebelumnya, ia berdebat cukup panas dengan Mingyu, terkait project yang akan mereka lakukan quarter depan—meskipun setelah itu mereka makan siang bersama dan berbincang seperti biasa.

Pekerjaannya akhir-akhir ini cukup mencekik, terlebih ketika ia diberi mandat untuk menangani project besar oleh ayahnya, yang juga salah satu stakeholders dari kantornya saat ini. Kadang, ia merasa ekspektasi manusia-manusia kantor itu terlalu tinggi padanya—padahal ia tetap menyelesaikan pekerjaannya dengan sempurna. Blame his perfectionist shit.

“Gue coba izin ya, Non. Gak ada Papa gini gue jadi bingung mau izin seenaknya. Apalagi hari ini subtitute-nya Pak Robert. Rada susah,” ujarnya sembari mulai mengemasi barang-barang yang ada di mejanya.

Vernon—lengkapnya Hansol Vernon Choi—menghela napasnya pelan di seberang. “Apa biar dibawa Seungkwan ke rumah sakit biasanya, Bang? Dokter Soonyoung ‘kan?”

“Soonyoung lagi cuti, Non. Tadi makanya gue gak bawa ke rumah sakit dulu. Takutnya dokter lain dia gak cocok. Dan tadi gue pikir dia mau sore juga enakan.”

“Terus ini gimana, Bang? Gue gak mungkin bawa Mima ke kampus. Mau izin rapat juga gak mungkin, orang gue ketua himpunannya.”

Ia berdiri dan menggamit tas kecilnya, tidak membawa semua barangnya—ia masih berpikir akan kembali ke kantor nanti. “Ini gue on the way rumah, deh. Di rumah gak ada Mbak emang?”

“Gak mau sama Mbak dia tuh, dari tadi nggelendotin gue mulu.”

Dia terkekeh sesaat. “Sayang banget dia sama lo, for your information aja.”

Vernon membalas ucapan itu dengan tawa kecilnya. “I love her more—she worries me too much right now.”

Ia bisa membayangkan anak perempuan berusia empat tahun itu berubah menjadi koala jika bersama Vernon, adik semata wayangnya. Lagipula wajar, Vernon sendiri akan sangat memanjakan Jemima jika sedang bersama. Bahkan itu terkadang berhasil membuatnya khawatir, jika anak itu berubah menjadi manja dan menuntut jika keinginannya tidak dituruti.

Oh iya, nama anak itu Yeeun Jemima Choi; putri tunggal kesayangan dari Seungcheol Skyler Choi. Anak manis itu lahir kurang lebih empat tahun lalu, yang ia sambut dengan penuh suka cita. Meskipun kala itu rasa-rasanya kebahagiaannya hanya serasa sepihak, karena ia paham betul bahwa ibu dari anak cantik itu tidak begitu menginginkannya, dan memilih untuk meninggalkan mereka berdua.


Sejatinya, pernikahan itu tidak benar-benar berlandaskan perasaan; hanya karena formalitas dari perusahaan yang dimiliki oleh orang tuanya dan juga orang tua mantan istrinya, maka semua itu terjadi. Sehingga tidak mengherankan jika setelah itu, ibu dari Jemima memilih untuk mengakhiri ikatan pernikahan mereka, dan memilih untuk tidak merawat anaknya sama sekali.

Kehidupan Seungcheol bersama putri kecilnya tidak mudah, terlebih ia yang masih muda itu tidak benar-benar tahu bagaimana cara merawat seorang anak kecil—bahkan sebelumnya saat masih bayi. Pun, ia sedikit mendapatkan hukuman dari orang tuanya karena tidak bisa mempertahankan rumah tangganya, yang sedari awal memang tidak ada komunikasi sehat di antara dia dan mantan istrinya. Walaupun, tak lama setelahnya, pesona Mima mengalahkan tembok pertahanan yang dibangun orang tuanya; dan membiarkan Seungcheol hidup lebih mudah daripada sebelumnya.

Siang itu, Seungcheol segera mengemudikan mobilnya untuk pulang ke rumah, di mana ia, anak perempuannya, dan Hansol, hidup bersama. Adik lelakinya itu memang lebih memilih untuk hidup bersamanya meskipun kedua orang tua mereka ada di kota yang sama. Alasannya, dia lebih mudah untuk pergi dengan teman-temannya atau mungkin dengan Seungkwan, pacarnya itu—izinnya tidak akan rumit.

Sejak semalam, badan Mima sudah terlihat tidak begitu sehat. Ia sudah mengeluhkan tenggorokannya yang sakit dan kepala yang berputar. Sebenarnya, jika Seungcheol hari ini bisa memilih untuk kerja dari rumah, tentu ia akan melakukannya. Tapi mau bagaimana lagi, Papa dan Mamanya sedang di luar kota—kebetulan Papa sedang ada janji dengan partner bisnis dari Jepang—sehingga ia tidak bisa menitipkan Mima di rumah orang tuanya. Pun, jika sang Papa tidak menjadi nahkoda utama di kantor, maka Seungcheol akan lebih sungkan untuk meminta izin ataupun pulang lebih cepat. Meskipun pada akhirnya ia tidak bisa menghindari itu. Oh, tapi tadi ia sudah meminta izin pada Joshua, manager HRD di kantornya.

Tanpa memarkirkan mobil di dalam, Seungcheol memilih untuk keluar dari kendaraannya dan berlari ke dalam rumah. Ia segera mendapati Vernon yang duduk di ruang tengah dengan Mima di pangkuannya, melingkarkan kaki di pinggang dan tangan di leher pamannya erat-erat.

“Look at her,” ujarnya yang mengerling lemah.

Seungcheol menghela napas sesaat. “I’ve told you to not spoil her too much. Jadinya begini, ‘kan.” Ia coba meraih anaknya yang terlihat enggan beranjak. “Dedek, ikut Ayah dulu, ya.”

Si cantik kecil itu merengek sesaat. “Nggak mau, Ayah… Badan Dedek sakit,” ucapnya dengan tangan masih mengalung di leher Vernon erat-erat.

“Uncle Non has to go, Pumpkin. Ikut Ayah dulu, ya?”

Dengan sedikit paksaan, ia menggendong Mima untuk masuk ke dalam kamarnya, dan mengambil beberapa perlengkapan milik si cantik. Tak lupa Seungcheol mengganti pakaian anaknya agar lebih hangat, karena Mima sedikit menggigil tadi. Di dalam hatinya, ia sangat amat khawatir, apalagi melihat anak perempuannya yang biasanya ceria, hanya bisa terkulai lemas dengan suhu tinggi dan suara serak. Ingin rasanya ia menangis tapi ia tahu itu tidak akan menyelesaikan masalahnya.

Ia segera menginjakkan kakinya keluar dan juga mendapati Vernon yang sudah berada di atas vespa matic miliknya. “Nanti makan malem di rumah apa di luar, Non? Biar gue nanti bilang ke Mbak masaknya seberapa,” kata Seungcheol sembari mendudukkan Mima di carseat mobilnya.

“Di luar, Bang. Udah janji sama Seungkwan tadi.”

Seungcheol mengangguk. “Oke, nanti gue bilang Mbak buat masak dikit. Duitnya masih, ‘kan?”

Vernon mengangguk. “Papa baru kirim minggu kemarin.”

Sang kakak memutar bola matanya sebentar. “Enak banget ya, double jatahnya.” Vernon tertawa karenanya. “Ya udah, gue berangkat dulu ke rumah sakit. Hati-hati lo di jalan. Bawa Seungkwan-nya yang bener.”

Mendengar hal itu, Hansol mendelik. Sudah sekian kalinya dia diingatkan oleh kakaknya untuk berhati-hati saat membawa Seungkwan, seakan-akan Seungkwan adalah adik kandungnya. Ya tidak heran, karena sejak Hansol mengenalkan Seungkwan setahun lalu, kekasihnya itu diterima dengan sangat baik—bahkan orang tua dan kakaknya lebih sering menanyakan Seungkwan ketimbang dirinya.

“Yang adik lo tuh gue.”

Gerutuan dari Hansol sukses membuat Seungcheol yang masuk ke dalam mobil itu tertawa terbahak-bahak. Ya setidaknya, itu sedikit menjadi hiburan untuknya yang saat ini sedang kalut itu.

Ayah muda itu sudah menghubungi Soonyoung, Dokter Tiger kesayangan Mima, yang ternyata sedang ada di luar kota karena akan melakukan prosesi lamaran dengan kekasihnya, Jihoon. Seungcheol mengenal keduanya, karena sejujurnya dirinya lah yang mempertemukan Jihoon pada Soonyoung dua tahun lalu. Jihoon yang juga rekan kerjanya di kantor itu sebenarnya saudara jauh dari mantan istrinya, tapi Jihoon sendiri malah menjaga hubungan baiknya dengan Seungcheol layaknya saudara sendiri ketimbang mantan istrinya—ini mungkin karena Jihoon anak tunggal di keluarganya.

Soonyoung sudah memberikan informasi untuknya pergi ke dokter anak lain yang ada di rumah sakit yang sama dengannya. Kata si Kwon, sang dokter lain adalah dokter baru di rumah sakit itu, yang jadwal prakteknya berkebalikan dengannya. Dan saat Soonyoung melaksanakan cuti, mau tidak mau digantikan olehnya.

Awalnya, Seungcheol ragu. Terlebih karena Soonyoung sudah sangat berpengalaman dan menjadi dokter untuk Mima sejak Mima lahir. Namun si Kwon meyakinkan bahwa dokter yang menggantikannya itu tidak kalah berpengalaman—karena ia merupakan pindahan dari rumah sakit swasta di luar negeri. Lagipula mau tidak mau Seungcheol harus membawa Mima ke rumah sakit agar kondisinya tidak lebih parah lagi.

Sesampainya di rumah sakit, Seungcheol segera mendaftarkan administrasi dari Mima, dan menuju poli anak yang ada di sana. Karena panik, ia sendiri tidak begitu mengindahkan siapa nama dokter yang ia tuju. Yang jelas, setelah sesi administrasi selesai, ia sembari menggendong anak perempuannya itu duduk di kursi yang biasa ia gunakan jika ada janji dengan Soonyoung.

Rengekan Mima yang masih lemas itu mau tak mau membuat Seungcheol lebih khawatir. Ayah muda itu tidak henti-hentinya menenangkan sang anak, sembari memeluknya erat-erat. Pun, seingat Seungcheol, Mima tidak pernah serewel ini saat sakit; atau bahkan mungkin ini adalah sakit Mima yang paling parah—sehingga membuatnya cranky begitu.

Tak lama, nama Jemima dipanggil. Dengan sigap, Seungcheol yang masih menggendong Mima itu beranjak dari tempat duduknya, masuk ke dalam poli anak di mana dokternya berada. Dalam sepersekian detik, Seungcheol melupakan tujuan awalnya untuk datang ke sana.

Di dalam ruangan itu duduk seseorang dengan jas putih khas dari seorang dokter, namun dihiasi dengan hiasan-hiasan kecil berwarna-warni di bagian dadanya. Bahkan ruangan itu terasa sangat cerah karena banyak pernak-pernik dengan warna-warna pastel—yang kebanyakan berwarna merah muda dan kuning. Tak lupa ada boneka kelinci besar merah muda bertengger di sofa ujung ruangan tersebut. Sosok itu tersenyum ramah saat Seungcheol memasuki ruangannya, dan bahkan berdiri sesaat, mempersilakan dirinya untuk duduk.

“Sore, Dok,” sapa Seungcheol yang sudah duduk di hadapan dokter anak tersebut.

“Sore, Bapak. Bapak yang sebelumnya menghubungi Dokter Soonyoung, bukan?”

Seungcheol mengangguk. “Betul, Dok. Dokter Soonyoung sudah menginfokan, ya?”

“Betul, Pak. Tadi Dokter Soonyoung sudah telpon ke saya. Dengan adik atas nama Jemima, ya?” tanya sang dokter sembari membolak-balikkan rekam medis milik Jemima.

“Iya, Dok. Ini Jemima, anak saya. Lemes banget ini, Dok, anaknya.”

Dokter itu mengangguk sambil tersenyum. “Keluhannya bagaimana, Pak, adiknya?”

Seungcheol akhirnya menjelaskan jika sejak semalam Mima mengeluhkan tenggorokan yang sakit, dan kepala yang pusing. Hingga pagi ini, akhirnya Mima hanya bisa terkulai lemas di atas ranjang dengan hidung tersumbat dan dada yang sedikit sesak.

“—soalnya kalo demam atau flu biasanya biasanya gak sampe begini, Dok. Ini anaknya lemes gitu. Kenapa ya, Dokter…” ucapan Seungcheol lirih di akhir kalimat, menandakan bahwa ia ragu untuk memanggil orang yang ada di hadapannya itu.

“Jeonghan, Pak, nama saya Jeonghan.” Dokter itu berujar dengan sebuah kekehan kecil di selanya. “Adiknya boleh dibaringkan di sana dulu, Pak. Saya harus periksa dulu pernapasannya—”

Mima, yang mendengar itu merengek lebih keras. Karena tentu, dokter yang memeriksanya itu asing, bukan Dokter Tiger jagoannya. Dengan segenap kekuatannya—yang bahkan Seungcheol takjub karena si cantik yang awalnya lemas itu mampu mencengkeram kemeja kerjanya erat-erat begitu—Mima mempertahankan dirinya di atas pangkuan sang ayah yang sudah mulai pasrah dengan situasi sore itu.

Jeonghan, si dokter, tertawa kecil saat melihat sang ayah yang sudah mulai menyerah dan putus asa. Tentu, keadaan seperti ini sudah ia dapati berulang kali, meskipun biasanya yang ia hadapi adalah ibu yang mengantarkan anaknya yang sedang sakit. Untuk seorang ayah, muda apalagi, mau melakukan hal seperti itu tentu sangat impresif menurutnya.

Merasa kasihan, Jeonghan pun beranjak dari tempat duduknya dan memilih untuk berjongkok di depan si kecil Choi itu. “Halo, Mima, ini Dokter Hani. Kamu boleh panggil Dokter Bunny. Dokter temennya Dokter Tiger juga kok, jadinya kamu jangan takut, ya?”

Mendengar nama Dokter Tiger disebutkan, Mima menolehkan kepalanya ke sumber suara dan mengedipkan matanya beberapa kali. Kemudian anak itu mengerling ke arah ayahnya, yang sebenarnya tidak mengerti karena secara tiba-tiba anak perempuannya itu menyelesaikan sesi rewelnya dalam sekejap. Entah karena nama Dokter Tiger atau karena hal lain, ia tidak mengerti.

Seungcheol makin mempertanyakan situasinya ketika Mima dengan sukarela merentangkan tangannya pada Jeonghan, meminta untuk dibawa ke arah ranjang periksa. Sang dokter tertawa sesaat, walaupun selebihnya ia mungkin merasa gemas dengan tingkah laku anak berusia empat tahun itu.

Entah mengapa, Seungcheol merasa lega saat Mima dengan mudahnya mau diperiksa oleh Jeonghan. Bahkan, ia merasakan hal aneh saat sang dokter menggendong anak perempuannya—yang bahkan meletakkan pipi gemuknya itu di pundak Jeonghan. Mungkin imajinasinya terlalu tinggi, atau mungkin angan-angannya yang kepalang jauh, sehingga Seungcheol merasa ingin mewajarkan pemandangan di hadapannya itu di kesehariannya. Strangely enough, ia bahkan merasa aman untuk menitipkan Mima pada Jeonghan yang mungkin baru ia kenal kurang dari 15 menit lalu.

“Let’s breathe, Princess—sakit kah?” Jeonghan memastikan pada Mima yang saat itu mengangguk lemah.

Kondisi itu semakin tidak Seungcheol mengerti ketika Mima yang sudah menyelesaikan sesi periksanya justru memilih untuk duduk di pangkuan Jeonghan—yang sudah kembali ke kursi kerjanya. Bahkan Jeonghan dibuat tertawa karena Mima malah memeluknya erat, tak mau kembali ke ayahnya yang menunggunya dengan wajah memelas.

“Ini Jemima terkena ISPA, Pak. Di rumah nanti Jemima bisa diajak buat irigasi nasal biar lendir yang di hidungnya ini hilang. Bisa pakai spuit sama larutan garam ya, Pak,” Jeonghan menjelaskan sembari menulis di rekam medis Mima dengan susah payah—karena tangan lainnya masih mendekap anak perempuan itu.

“Nggak perlu pakai nebulizer ya, Dok? Tadi saya kepikiran itu soalnya.”

Jeonghan menggeleng. “Napasnya Mima masih belum terlalu berat, Pak, nanti bisa dilakukan irigasi nasal aja. Ini juga saya resepin obatnya, nanti bisa ditebus di apotek, ya.”

Ayah muda itu mengangguk lega. Jeonghan sendiri setelahnya menjelaskan tentang keadaan Mima, yang sebenarnya tidak parah. Hanya saja mungkin anak kecil itu belum pernah merasakan pernapasan yang berat sehingga rewelnya bukan main. Sesekali saat sesi konsultasi, Seungcheol mendapati Jeonghan mengusap rambut anaknya yang kecoklatan itu—Mima masih kentara mendapatkan darah Amerika dari Papa Seungcheol. Obrolan terkait kesehatan Mima dan juga pengobatannya itu tidak berlangsung lama, hanya saja tanpa mereka sadari, anak usia empat tahun itu terlelap di pangkuan dokternya.

Seungcheol beranjak dan berdiri di sebelah Jeonghan yang masih duduk bersama anak perempuannya. “Mima—Yeeun, Dedek, ayo pulang.” Setelah melihat Mima, matanya terpejam sesaat, dibarengi helaan napas yang entah sudah ia keluarkan berapa kali hari ini. “Kok malah merem sih, Dek…”

Jeonghan tersenyum gemas, sambil melirik ke arah Mima sekejap. “Mungkin bisa ditebus dulu obatnya, Pak. Kebetulan Mima juga pasien terakhir saya hari ini. Jadi tidak perlu buru-buru.”

Dengan sebuah anggukan kikuk, Seungcheol pun memutuskan untuk mengikuti saran dari sang dokter. Tak lupa ia mengucapkan permintaan maaf pada Jeonghan karena seakan-akan merepotkan dirinya yang mungkin bisa pulang tepat waktu hari itu. Meskipun entah mengapa, ia sama sekali tak khawatir untuk menitipkan Mima pada sang dokter—padahal biasanya ia mudah sekali paranoid jika Mima tidak ada di area pandangannya atau tidak bersama keluarganya. Mungkin kemunculan dan eksistensi Jeonghan ini sedikit istimewa, mengingat Mima sendiri biasanya cukup sulit untuk dekat dengan orang lain. Bahkan dulu Soonyoung butuh melakuan trik aneh—sampai menggunakan aksesoris harimau di kepala—agar Mima mau sedikit membuka diri. Sedangkan Jeonghan hanya menyodorkan sebuah senyuman dan sebutan Dokter Bunny supaya Mima menurut padanya.

Iya, mungkin kehadiran Jeonghan bagi Mima adalah hal baru yang ajaib. Entah bagi Mima saja, atau mungkin bagi Seungcheol juga.

Ia sendiri lupa kapan terakhir merasa tenang atas presensi orang lain begitu; mungkin sudah sangat lama sehingga itu menjadi hal asing yang menarik. Segala macam tindak-tanduk Jeonghan sore itu—yang mungkin tidak lebih dari setengah jam di sekitarnya—cukup untuk membuat Seungcheol terkesima. Terlebih dengan kekuatan Jeonghan yang berhasil membuat Mima menurut tentu menjadi nilai plus di mata Seungcheol.

Namun di sisi lain, mungkin ucapan Soonyoung benar, atas pengalaman Jeonghan yang sudah teruji sebagai dokter anak. Sehingga dengan akal sehat dan kewarasannya, Seungcheol mengesampingkan kekagumannya yang menjurus ke arah terpesona itu. Ayolah, dia sendiri tahu bahwa yang ia rasakan bukan hanya sekadar kagum pada sang dokter, melainkan lebih dari itu meskipun dalam beberapa menit saja.

Selesai mengambil obat dari Mima, Seungcheol kembali melangkahkan kakinya ke ruangan Jeonghan yang tidak jauh dari apotek rumah sakit berada. Sedikit canggung, karena ia tentu merepotkan Jeonghan selama beberapa saat—apalagi antrean obat cukup padat sore itu. Namun saat Seungcheol membuka pintu ruangan, pemandangan yang ia lihat semakin membuat garis kekaguman itu berangsur semakin kabur.

Ada Mima yang duduk di sofa sambil memeluk boneka kelinci raksasa milik Jeonghan, dengan sang dokter yang dengan telaten menguncir rambut si cantik agar lebih rapi lagi.

Mendengar pintu ruangannya terbuka, Jeonghan menoleh dan tersenyum. “Mima minta rambutnya dikuncir,” ujarnya singkat.

Dedek… kamu kenapa sih hari ini,” kata Seungcheol yang menyeret kakinya ke hadapan Mima yang ajaibnya, sudah terlihat lebih baik daripada sebelumnya.

“Lagi mau manja ya, Mima?” Jeonghan bertanya sambil menyisir pelan rambut Mima untuk yang terakhir. “All done, Princess. Kamu sudah bisa pulang sama Ayah.”

Seungcheol berjongkok dan meminta Mima untuk berpindah ke gendongannya. “Ayo pulang, nanti bobonya bisa diterusin di rumah, ya,” ujarnya yang kemudian dibalas dengan anggukan dari sang anak.

Saat Seungcheol berdiri, dengan Mima di gendongannya, Jeonghan ikut menegakkan badannya sejajar dengan sang ayah muda. Di jarak yang cukup dekat itu, Seungcheol sadar bahwa tinggi mereka kurang lebih sama, hanya saja rangka badan dari sang dokter terlihat cukup ringkih jika dibandingkan dengannya yang hampir setiap hari berolahraga. Dan dalam sepersekian detik saja, Seungcheol bisa melihat air muka Jeonghan yang teduh, hingga sorot mata tenang yang memiliki bola kecoklatan di sana.

Oh, dan di detik itu juga, Seungcheol bisa memvalidasi bahwa dirinya memang benar-benar terpesona.

“Kami pulang dulu ya, Dok,” ucap Seungcheol kikuk.

Sang dokter anak mengangguk. “Nanti untuk obatnya jangan lupa diberikan ke Jemima di waktu yang sudah saya infokan sebelumnya ya, Pak—”

“Seungcheol. You can call me Seungcheol or Skyler, it’s up to you.”

Dalam sekejap, Seungcheol merutuki ucapan impulsifnya. Segera ia mempertanyakan keputusannya untuk mengatakan hal yang jelas-jelas tidak ada hubungannya dan tidak penting sama sekali. Oh, Seungcheol and his inexperience ass in dating; it’s been a while, after all.

Jeonghan yang mendengar itu tergelak, namun ia justru membalasnya. “Okay then, Seungcheol. And since I already did my duty for today, you can call me Jeonghan, Han, or Hani—it’s also up to you.”

Mungkin saja, mungkin, Jeonghan memberikan lampu hijau padanya. Meskipun asumsinya terlalu liar menjalar. Tapi mau bagaimana lagi, dia sudah lama tidak merasakan hal-hal menggelikan seperti ini. Sehingga rasanya aneh dan menyebalkan karena ia jadi seperti remaja tanggung yang bingung untuk melakukan apa padahal ada anak kecil di dekapannya begini.

Setelah berpamitan, dengan susah payah Seungcheol membungkukkan badannya, berterima kasih pada Jeonghan atas bantuannya hari ini—terlebih berhasil membuat Mima sedikit lebih tenang. Namun saat ia akan keluar dari ruangan, langkah kakinya berotasi kembali ke arah sang dokter, yang saat itu menatapnya seakan-akan ada sebuah tanda tanya besar di atas kepalanya.

“Hmm, Jeonghan, kira-kira apakah boleh misalkan saya minta kartu nama kamu? Jadi misalkan Mima tidak enak badan, saya bisa hubungi kamu,” ujarnya ragu dan kikuk.

Jeonghan mengerutkan alis dan memiringkan kepalanya sedikit. “Hmm? Jadi untuk Mima akan dilimpahkan ke saya? Bukan ke Dokter Soonyoung lagi?”

Mendengar pertanyaan itu, Seungcheol tergagap. Dia tentu tidak siap dengan kemungkinan untuk ditodong pertanyaan seperti itu, sehingga ia tidak menyiapkan jawaban yang sesuai. Lagipula memang betul, selama ini Soonyoung menjadi dokter langganannya jika Jemima sakit ataupun hanya untuk sekadar konsultasi.

Tapi tak lama, Jeonghan terkekeh. “Sorry, my bad. Feel free to reach me out, Skyler,” Jeonghan mengambil dompetnya dan kemudian menyerahkan sebuah kartu nama yang ia ambil dari sana. “This is my private number, actually—not the working one. So… yeah, feel free to contact me; entah untuk masalah Mima atau mungkin masalah lain—it’s also up to you, again.”

Sebuah senyuman merekah dari bibir Seungcheol saat ia mengambil kartu nama yang disodorkan oleh Jeonghan padanya. Di saat itu ia yakin, bahwa Jeonghan benar-benar membuka jalan untuknya. Paling tidak, untuk beberapa saat mungkin ia akan menggunakan Mima sebagai alasan—dan dia berharap jika Mima tahu, anak itu tidak akan marah padanya.

Meskipun ia yakin betul jika Mima akan senang hati untuk dimanfaatkan. Atau mungkin Mima akan dengan sukarela membantu perjuangan ayahnya untuk memulai judul sinema kehidupannya yang baru.

 



Satu setengah jam sebelumnya.

“Kak Hanyi! Pasien lagi rame gak?” tanya seseorang di seberang.

“Halo dulu dong, Soonyoung. Heran deh.” Jeonghan tertawa saat mendengar Soonyoung meminta maaf. “Ini tadi udah pasien terakhir buat hari ini—kalo gak ada masuk baru lagi. Tinggal nunggu jam praktek kelar, abis itu pulang deh.”

Soonyoung yang ada di sambungan telepon itu pun berucap, “Kak, gue nitip pasien dong satu. Tadi bapaknya udah panik banget telpon gue soalnya anaknya demam terus sesak napas gitu. ISPA kayaknya mah. Bentar lagi jalan ke rumah sakit katanya tadi.”

Mendengar permintaan dari Soonyoung, Jeonghan mendengus. “Ah, lo mah, kayak gak seneng banget gue balik on time. Atas nama siapa pasiennya? Nanti biar gue minta Jiyeon siapin rekam medisnya—biar cepet juga ini.”

“Yeeun Jemima Choi.”

“Ini beneran namanya gitu?”

Soonyoung menjawab, “Betul. Dia mixed gitu soalnya, Kak. Bapaknya ganteng tau, tipe lu banget sumpah.”

Jeonghan mendecakkan bibirnya kesal. “Ngaco banget ngomongnya sumpah! Ya kali gue ngelirik laki orang.”

Di seberang, Soonyoung mendebat. “Dih, orang doi duda. Udah cerai sama istrinya dari lama. Masih muda kok bapaknya. Seumuran lu dah kayaknya. Kalo gak tuaan dikit. Ganteng sumpah, muka campuran bule gitu.”

“Hadeh, Nyong, kagak minat gue. Tau sendiri yang terakhir ending-nya gimana. Belum mau mikirin lagi gue.”

“Dih, belum lihat orangnya sih lu. Beneran dah. Ganteng, mapan, terus kharismatik lagi. Lu kan demen sama yang daddy-able gitu. Punya daddy issue sih lu—”

Nyong, gue tampol lo ya, kalo lo balik ke sini!”

Soonyoung tertawa. “Pokoknya gue nitip deh ya, Kak, satu doang. Anaknya lucu kok, cantik, dan gak gampang rewel. Pasien idaman gue dah Jemima tuh.”

Dengan helaan napas jengah, Jeonghan tidak bisa menolak permintaan rekan kerja sekaligus sepupunya tersebut. Meskipun setelah menutup sambungan teleponnya, Jeongan menggerutu sebal, karena ia tidak bisa beristirahat barang sedikit—karena pasien tadi pagi benar-benar tidak berhenti.

Namun, tanpa ia ketahui, mungkin dua jam setelahnya, ia akan segera menelepon Soonyoung dan menyetujui semua ucapan lelaki Kwon tersebut.

 

one.

Series this work belongs to: