Work Text:
Fourth dan Gemini bertengkar.
Dua hari yang lalu tepatnya. Salahkan Fourth yang membuat Gemini seharian penuh mengkhawatirkannya. Fourth menghilang begitu saja seharian, tanpa pamit dan pesan yang tak kunjung dibalas. Setelahnya, Fourth justru tidak merasa menyesal, melainkan menganggap remeh perasaan khawatir Gemini. Jadilah dia di sini sekarang, di depan rumah Gemini, pria itu sepertinya menyadari bahwa tindakannya salah.
Hujan mengguyur sebagian besar kota ini. Meskipun tidak terlalu deras, hujan tetap membuat Fourth basah kuyup karena dia tidak mengenakan jas hujan. Rambut, baju, sepatu, semuanya basah kuyup, dia menggigil kedinginan saat Gemini buru-buru membuka pagar rumahnya dengan muka khawatir.
Sekali lagi, Fourth berhasil membuat Gemini khawatir.
. . .
Rumah Gemini tidak terlalu besar, tapi cukup untuk dia dan keluarganya tinggal. Ada taman kecil yang dipenuhi dengan tanaman bunga, aglonema, melati putih yang mulai bermekaran, dan janda bolong salah satunya. Mungkin mama Gemini juga salah satu mama-mama diluar sana yang giat mengkoleksi janda bolong. Sebab, Fourth tidak hanya melihat satu, namun lima pot tanaman itu dengan ukuran yang berbeda.
Kemudian di teras rumahnya, ada kursi kayu yang panjang menghadap taman kecil itu. Seolah memang diperuntukkan untuk bercengkrama sambil melihat hasil karya mama Gemini di taman kecil rumahnya. Di sinilah Fourth duduk, melihat hujan mengguyur tanaman-tanaman itu, membuatnya tenang sejenak. Aroma hujan yang khas, angin yang tidak terlalu kencang, dan udara yang dingin membalut tubuhnya.
Terlihat dari dalam rumah, Gemini membawa secangkir susu jahe yang dia bawa perlahan-lahan.
"Aku bikinin susu jahe. Nih, minum!"
Meskipun Gemini berkata dengan nada yang sedikit ketus, Fourth tahu bahwa Gemini menyimpan rasa khawatir dan sedikit rindu untuknya. Cantiknya itu menaruh secangkir susu jahe didekatnya dengan perlahan dan duduk di pojok kursi, menciptakan jarak yang cukup jauh untuk mereka tidak cukup berdekatan.
"Makasih ya, Gemi."
Gemini hanya menjawab dengan bergumam. Kemudian memainkan kuku-kukunya untuk menghindari bertatapan dengan Fourth.
Fourth menggeleng sambil menyesap susu jahe yang Gemini buatkan. Kekasihnya itu terkadang terlihat lucu saat sedang marah.
"Gemini," si empunya yang dipanggil memilih untuk diam.
"Gem..." Gemini masih terdiam, beralih dengan tangan bersilang di dada, bibirnya mengerucut lucu.
"Sayang, duduknya deket aku dong, boleh ya?"
Oh. Ternyata Gemini hanya ingin dipanggil dengan sayang. Buktinya, dia mulai menggeser tubuhnya untuk berdekatan dengan Fourth.
"Kalau ngga mau lihat muka aku, gapapa. Tapi jangan cemberut gitu dong, nanti kepalanya pusing lho, lihat dahi kamu dari tadi berkerut."
Gemini hanya menghela nafas setelah mendengar perkataan Fourth tadi. Raut wajahnya sudah lebih santai dari yang tadi.
"Maafin aku ya. Maaf aku udah bikin kamu khawatir dan nyepelein perasaan kamu kemarin. Aku tau aku salah, ngga seharusnya aku ngomong kayak gitu ke kamu." Fourth masih menatap Gemini, berharap mendapatkan jawaban dari permintaan maafnya barusan. Tangannya mencoba meraih tangan Gemini, memberikan usapan yang lembut.
"Kamu kemana emang?" Gemini akhirnya bersuara.
"Aku kemarin keliling sama anak acara lainnya, lihat venue. Terus tau-tau udah malem, handphone-ku lowbatt, pas sampe rumah langsung aku cas dan aku ketiduran. Paginya aku ada kelas, ngga sempet cek handphone lagi, cuman aku nyalain terus aku berangkat kuliah. Siang aku baru kasih kabar ke kamu, aku pikir kamu ga bakal marah, tapi ternyata aku salah. Terus aku ngerasa kalau kamu overreact, tapi aku salah lagi. Aku ga seharusnya nyepelein perasaan kamu. Maafin aku ya, sayang, Gemi?" Fourth menjelaskan dengan panjang lebar.
Gemini akhirnya menatap Fourth kemudian berkata, "Apa ngga pernah sedetik pun kamu kepikiran buat ngabarin aku sebentar?"
"Maaf, maafin aku. Aku beneran ga sempet buka hp kemarin."
"Kenapa? Saking serunya ya ngobrol sama temen kamu. Atau ada siapa sih di acara? Ada gebetan baru kamu? Iya?"
"Sayang, aku ga mau kita berantem lagi. Aku beneran ga sempet buka hp kemarin. Kamu boleh tanya Chokun, dia juga ikut kemarin."
"Ngga usah, kamu kalo berantem selalu bawa-bawa orang lain."
Fourth terlihat seperti anak anjing sekarang. Apa yang dia jawab semuanya terlihat serba salah. Tangan yang semula mengusap tangan Gemini itu berubah menjadi memilin, pun kepalanya jadi menunduk.
Gemini yang melihat itu hanya menghela nafas untuk kesekian kalinya.
"Kamu kayak puppy." Gemini kembali membuka suara. Fourth kembali mengangkat kepalanya setelah mendengar ucapan tersebut.
"Maafin aku ya, aku janji ngga bakal gitu lagi."
Kata Fourth.
"Iyaaa. Maafin aku juga, aku khawatir sama kamu, jadinya aku ikutan kesulut emosi."
"Engga, kamu ga salah. Aku yang salah." Gemini tertawa mendengar itu.
"Udah ah, masuk aja yuk. Dingin di luar." Gemini sudah bersiap dengan membawa susu jahe buatannya tadi dan menggandeng tangan Fourth untuk mengajaknya masuk ke dalam.
Tiba-tiba Fourth bersuara, "Aku boleh cium pipi?"
"Fourth! Nanti kalau mama tiba-tiba ke sini gimana?" Senyum malu-malu menghiasi wajah Gemini, dan Fourth bisa melihat pipinya yang memerah.
"Dikit aja, segini nih," kata Fourth sambil membentuk jarinya mengerucut.
Kemudian Gemini hanya mengangguk malu-malu.
Cup!
Cup!
Cup!
Pembohong! Nyatanya Fourth mencium seluruh wajah Gemini— mulai dari pipi, dahi, dan terakhir bibir.
"Fourth!!!" Gemini memukul pelan Fourth dan kemudian keduanya tertawa dibawah hujan yang mulai mereda.
