Work Text:
Emma menjadikan rak buku yang menjulang di belakangnya sebagai sandaran. Di seberang serong kanannya, Ray melakukan hal yang sama. Di sisi mereka terdapat kaca besar. Kadang jendela itu yang mereka jadikan sandaran, menyesuaikan sudut pencahayaan. Emma menutup buku, menahan halaman dengan telunjuk, lalu melihat ke arah luar.
Dedaunan telah berubah jadi kemerahan. Banyak di antaranya telah berserakan di aspal. Angin tampaknya sedang aktif berembus karena daun-daun tengah bergoyang. Syukurlah mereka tidak meninggalkan syal saat siap-siap ke perpustakaan. Dunia telah banyak bergerak, tapi anak laki-laki di depannya ini bisa betah hanya dengan berpindah halaman buku.
“Ya. Ada apa melihatku terus?”
Emma terperanjat dan hampir mengentak buku-buku di belakangnya. “Kamu kalau lagi baca buku sudah kayak pindah alam.”
“Kebiasaan.”
Emma meletakkan pembatas buku, menyudahi perjalanan baca. “Jangan dibiasain terus, Ray. Setidaknya selingin sama lihat-lihat sekitar. Biar mata kamu gak monoton lihat tulisan terus.”
“Sudah, kok,” sahut Ray. “Kamu sudah mulai bosan dengan pace buku sejak sepuluh menit yang lalu. Kamu mau minum tapi botolmu ada di luar dan terlalu malas mengambilnya. Kamu juga sudah mulai memikirkan mau makan apa waktu liat ke luar.”
Emma menekan tangannya di atas buku yang ia pangku. Ternyata selama ini Ray juga memperhatikannya.
“Jadi,” sambung Ray, “ayo makan?”
Tawaran itu Emma sambut dengan cengiran dan berdiri terlalu cepat. “Yuk!” jawabnya sambil menarik tangan Ray.
Mereka berjalan meninggalkan sudut perpustakaan favorit mereka. Di mana di sudut itu mereka melihat pemandangan musim dingin, musim semi, musim panas, dan musim gugur sambil membaca buku.
