Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Collections:
archived spiel (jeonghan version)
Stats:
Published:
2024-10-24
Words:
541
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
25
Bookmarks:
2
Hits:
116

Letting You Go

Summary:

Boo Seungkwan pandai menyimpan banyak hal dengan rapi. Contohnya, ia gemar simpan bungkus plastik sampah di dalam saku celananya.

Work Text:

“Lhooo, Seungkwan, kamu ingat ternyata?!”

Respon Jeonghan yang terkejut saat Seungkwan bawakan cokelat kesukaannya dari Jepang, membuat Seungkwan manyun secara otomatis. Dibalasnya respon terkejut tersebut dengan tinju ringan di lengan kurus Jeonghan. Si oknum yang ditinju terkekeh. Selanjutnya, ia buka plastik pembungkus cokelat tersebut dan langsung ia santap di depan Seungkwan.

“Makasih ya, Kwan. Tahu aja, kalau lagi deg-degan begini aku butuh yang manis-manis.”

“Iya, Bang, paham.” Dielusnya bahu lelaki yang lebih tua dari Seungkwan itu. Ia tidak banyak bicara. Namun Seungkwan mengerti, detik-detik menjelang upacara pernikahan pasti menegangkan. Meskipun dirinya sendiri belum pernah menikah dan menjalin hubungan serius.

“Nanti pas kamu yang nikah, aku gantian bawain cokelat biar kamu nggak tegang begini.”

“Emang ada yang mau diajak nikah?”

Pertanyaan tersebut mengundang Jeonghan untuk mencubit pipi gembil Seungkwan. “Masa nggak ada?! Nanti aku carikan jodoh buat kamu.”

Seungkwan berdecak. Dia anggap tawaran Jeonghan tadi tidak serius.

Sebelum Jeonghan merespon ekspresi Seungkwan yang menganggapnya bercanda, ia diminta untuk bersiap. Sebentar lagi, Jeonghan harus berjalan menuju altar karena upacara pernikahan akan segera dimulai. Cokelat Jepang kesukaannya sudah habis. Bungkus plastiknya ia lipat sedemikian rupa, kemudian ia serahkan ke Seungkwan.

“Titip dong, Kwan. Tolong buangin ke tempat sampah.”

Belum sempat Seungkwan merespon, Jeonghan sudah berlari mengikuti tim wedding organizer yang memandunya ke lokasi utama upacara pernikahan. Di sana, tinggal lah si lelaki yang lebih muda. Dia menggenggam erat plastik pembungkus cokelat yang sudah dilipat apik layaknya origami. Bukannya dibuang ke tempat sampah terdekat, Seungkwan simpan pemberian Jeonghan ke dalam saku celananya.

Buat Jeonghan, mungkin saja itu cuma plastik pembungkus cokelat semata. Namun buat Seungkwan, ini kenangan terakhir yang diberikan kepadanya. Kenangan final, sebelum lelaki itu resmi mengikat janji sehidup semati dengan orang lain.

Dengan yang lain.

Bukan dengan dirinya, Boo Seungkwan, yang menyimpan perasaan dengan tertutup rapi selayaknya ia simpan bungkus plastik itu di dalam saku celana.

 

Seungkwan menggenggam ponselnya erat-erat.

Lelaki itu terbiasa mengabadikan banyak momen yang menurutnya berharga dalam bentuk foto. Namun kali ini, ia biarkan tugas tersebut diambil alih oleh fotografer yang sudah Jeonghan bayar mahal dalam acara pernikahannya. Bohong kalau Seungkwan bilang ia tidak sedih. Sepertiga isi ponselnya adalah momen bersama Jeonghan selama mereka saling mengenal hampir satu dekade. Malam hari setelah Jeonghan berkemas dan meninggalkan apartemen tempat mereka tinggal, Seungkwan sempatkan untuk menghapus memori yang membuatnya sedih jika ia lihat kembali suatu hari nanti.

Lalu malam adalah waktu paling berat buat Seungkwan.

Lelaki itu kini pulang kerja dengan keadaan apartemen yang tak berpenghuni. Kosong dan dingin tanpa Jeonghan di sana. Biasanya, ia pulang disambut Jeonghan yang duduk di ruang TV dan menghadap laptop sambil gunakan kaus kepanitiaan kuliah yang sablonnya sudah pudar. Seungkwan juga kehilangan suara nyanyian random yang disenandungkan Jeonghan setiap pagi.

Meskipun berat, Seungkwan harus terbiasa. Di hari yang menjadi salah satu momen berharga di hidup Jeonghan, Seungkwan belajar melepaskan. Ia tatap Jeonghan yang tersenyum di altar melihat pasangan hidupnya. Seungkwan belum pernah melihat Jeonghan menatap seseorang dengan penuh cinta seperti itu. Detik itu pula Seungkwan melihat Jeonghan, untuk pertama kalinya, tersenyum lepas seperti semua beban dalam hidup hilang seketika.

Seungkwan merogoh kantungnya dan meraih bungkus cokelat yang dihabiskan Jeonghan. Ia mengingatkan diri sendiri untuk membuang benda tersebut ke tempat sampah setelah acara berakhir. Mungkin, sudah saatnya Seungkwan benar-benar melepaskan perasaan yang telah lama ia genggam erat-erat.