Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 11 of TsuruZuo Collection
Collections:
TRID Secret Santa 2015
Stats:
Published:
2015-12-25
Words:
1,313
Chapters:
1/1
Kudos:
5
Hits:
191

Namazuo's Bad Day

Work Text:

Namazuo menghela napas sambil duduk-duduk di pinggir trotoar jalan. Ia merogoh saku celananya dan menatap lembaran-lembaran lepek dalam genggamannya dengan tatapan nanar. Salah satu lembaran di tangannya terlihat memiliki gambar orangutan yang mengenakan kostum Deadpool—hasil mahakarya isengnya semalam.

Menjadi seorang mahasiswa perantauan di akhir bulan memang penuh tantangan dan derita. Dengan sisa uang receh yang ia miliki, Namazuo harus pandai-pandai mengatur kondisi keuangannya agar ia dapat bertahan hidup hingga kiriman bulanan berikutnya tiba.

Saat Namazuo tengah berhalusinasi membayangkan lembar bergambar orangutan di tangannya itu berubah menjadi lembar bergambar Soekarno-Hatta, tiba-tiba saja mobil penjual tahu bulat lewat di hadapannya.

“Tahu buleud, digoreng, di mobil, dina katel, dadakan, lima ratusan, gurih-gurih enyoi~”

Namazuo hanya bisa mesem-mesem di tempat. Pasalnya, dengan seluruh uang receh yang ia miliki, ia hanya mampu membeli lima butir tahu dan itu tidak cukup untuk mengenyangkan para cacing kelaparan yang tinggal di dalam perutnya.

Namazuo menunduk lesu di tempatnya. Uang receh di tangannya juga ikut-ikutan menunduk. Sekali lagi, ia berharap jika gambar orangutan berkostum Deadpool di tangannya itu bisa berubah menjadi gambar Soekarno-Hatta.


Menyadari jika hanya duduk-duduk di pinggir jalan tidak akan membuat perutnya terisi sendiri, akhirnya Namazuo memutuskan untuk mencari makanan yang pas di kantong, pas di perut, juga pas di lidah. Kalau sudah begini, hanya ada satu yang selalu menjadi penyelamat para mahasiswa di saat tanggal tua:

Mie instan.

Dengan wajah sumringah, Namazuo membawa kedua kakinya dengan langkah pasti ke dalam sebuah warung kaki lima.

“Bu, beli—“ Namazuo menunjuk bungkusan mie rebus yang harganya paling murah di antara merk mie yang lain dengan wajah tanpa dosa, “—mie rebusnya dua.”

Sang ibu-ibu pemilik warung memicingkan sejenak matanya ke arah Namazuo. Tidak percaya jika ada orang melarat yang secantik dia.

Namazuo menyodorkan seluruh sisa harta yang ia miliki pada sang ibu pemilik warung untuk menebus bungkusan penyambung hidupnya.

“Oh ya, kembaliannya masih cukup untuk beli permen satu biji, kan, Bu?”


Keluar dari warung kaki lima tersebut, mendadak Namazuo teringat pada sesuatu yang sempat ia lupakan. Gas di kosannya baru saja habis tadi pagi dan saat ini sedang ada pemadaman bergilir di daerah kosannya berada sehingga ia tidak bisa menggunakan heater untuk merebus mienya.

“PUTANG INA BOBO!!” jerit Namazuo dalam hati, merutuki kecerobohannya sendiri. Mie rebus yang tidak direbus bukan mie rebus namanya. Di tengah keputusasaan tersebut, tiba-tiba saja sebuah kotoran burung terjatuh di hadapannya. Seandainya saja tadi Namazuo bergerak, kotoran burung tersebut pasti sudah jatuh tepat di atas kepalanya.

“OH IYA…!” seru Namazuo yang baru saja mendapat ilham berkat melihat kotoran burung jatuh tersebut. “Aku kan bisa numpang memasak di tempatnya Kak Tsurumaru!”

Usai berujar demikian, Namazuo melengos menuju kediaman kenalan kakaknya tersebut dengan langkah yang terasa ringan—

(—rupanya ia lupa membawa bungkusan belanjaannya barusan.)


TOK-TOROKTOK-TOK-TOK!

Hening.

TOK! TOK! TOKTOKTOK! TOKTOKTOKTOK! TOK! TOK!

Tetap tidak ada jawaban.

“Permisi! Apa ada orang?” Namazuo berseru nyaring seperti tukang rentenir di depan pintu.

Ckrek. Aah, terdengar suara pintu yang terbuka. Dari balik daun pintu, Namazuo dapat melihat sepasang iris berwarna keemasan yang tengah menatapnya tajam ke arah dirinya.

“Ada apa?” sahut sebuah sosok yang tidak Namazuo kenali sama sekali tersebut, membuat pemuda berkuncir ekor kuda tersebut merinding disko di tempat. Tanpa ba-bi-bu lagi, Namazuo segera membungkuk sebelum melarikan diri dari pria yang terlihat berbahaya tersebut.

“M-maaf, sepertinya aku salah kamar. Pe-permisi!”

“Tunggu!”

Baru saja Namazuo hendak menggunakan jurus seribu langkah miliknya, tiba-tiba sebuah suara yang familiar menghentikannya.

“Ah, rupanya aku benar. Sudah lama aku tidak melihatmu, Namazuo. Ada perlu apa denganku?”

Namazuo menoleh kepalanya dan mendapati sebuah sosok serba putih yang ia kenal sedang tersenyum kasual ke arahnya.

“Kak Tsurumaru!” seru Namazuo lega, “Anu, kalau Kakak tidak keberatan, aku ingin sedikit minta tolong pada Kakak.“ Sambung Namazuo to the point tanpa basa-basi.

Tsurumaru menaikkan kedua alisnya. “Hm? Minta tolong apa?”

“Anu, apa aku boleh meminjam dapur Kakak sebentar?”

Tsurumaru bengong selama beberapa saat sebelum akhirnya ia berkata, “Oh… kupikir ada apa. Ya sudah, pakai saja dapurku sesukamu!”

“Hore! Terima kasih banyak, Kak!”

Saat Namazuo sedang melepas alas kakinya, sosok pria yang satu lagi membuka mulutnya.

“Dia temanmu?”

Tsurumaru mengangguk pada pria berkulit gelap di sampingnya. “Ya. Dia adik Ichigo,” jawab Tsurumaru menjelaskan.

“Oh.” Usai bergumam demikian, sosok itu terlihat kembali ke dalam ruangan seolah-olah tidak ada apa-apa.


 

Saat Tsurumaru sedang mengantar Namazuo menuju dapur, tiba-tiba saja terdengar siulan iseng yang menggema di penjuru ruangan.

“Wow, apa ini pacarmu, Tsurumaru?”

“Bukan!” bantah Tsurumaru detik itu juga, “Ini adiknya Ichigo. Dan, dia ini laki-laki.”

Terdengar suara orang yang terbatuk dengan keras.

“Serius?”

Tsurumaru mendengus kecil. “Bukankah Ichigo sudah pernah bilang ke kita kalau semua adiknya itu laki-laki?”

“Ah, benar juga…”

Tsurumaru menolehkan wajahnya ke arah Namazuo. “Oh ya, hampir saja aku lupa mengenalkan teman-temanku. Ini Mitsutada. Lalu yang tadi membukakan pintu itu Kuri-ch—“

“—Ookurikara,” terdengar sebuah suara dengan nada mengintimidasi memotong ucapan Tsurumaru.

“Meski terlihat tidak bersahabat, sebetulnya dia ini penyayang kucing, lho.”

“Hee…” respon Namazuo nyaris tidak percaya kalau pria bertampang sekuriti macam Ookurikara itu rupaya memiliki hati seperti helokiti.

“Berhenti mengatakan hal-hal yang tidak perlu, Tsurumaru.” Ucapan tersebut merupakan kalimat terpanjang yang pernah Namazuo dengar dari mulut Ookurikara.

“Hahaha, oke, oke.” Balas Tsurumaru sambil tertawa. “Ngomong-ngomong karena aku dan teman-temanku masih ada urusan, kau pakai saja dapurnya sendiri, ya, Namazuo.”

Namazuo tersenyum lebar. “Siap, Kapten!”


Namazuo memastikan bahwa air di dalam panci sudah mendidih sebelum ia mulai memasak mienya. Sambil menunggu mie tersebut matang, ia menyiapkan mangkuk dan sendok bersih. Ketika ia hendak menyiapkan bumbunya, Namazuo baru menyadari jika ia tidak menemukan—

—bumbunya.

“KEJAAAAAAAAAAAAM!”

Di saat yang bersamaan, mie rebus yang sedang Namazuo masak mulai mengeluarkan aroma menyerupai benda yang terbakar. Setelah diperiksa, rupanya air rebusannya sudah habis menguap sehingga mie yang Namazuo masak jadi gosong.

Rasanya ingin sekali Namazuo mengamuk dan melempar kotoran kuda ke seluruh penjuru, akan tetapi para cacing di perutnya sudah semakin mengganas. Pokoknya Namazuo tidak boleh sampai kena maag karena ia sudah tidak punya uang lagi untuk membeli obat sakit maag.

Namazuo terpaksa menggunakan stok mie terakhir yang rencananya akan ia pakai untuk makan malam nanti. Ia pun mengulang kembali langkah-langkah merebus mie sesuai prosedur yang tertera di bagian belakang bungkus mie instannya. Namazuo menghela napas lega usai memastikan bahwa kali ini mienya lengkap dengan bumbu. Ia juga sudah memastikan bahwa debit air yang ia gunakan untuk merebus mienya sudah cukup sehingga tidak akan habis lagi seperti tadi. Percobaan memasak yang kedua sekaligus yang terakhir ini kelihatannya akan berakhir sukses.

Ketika sedang menunggu mie rebusnya matang, tiba-tiba saja hidungnya mencium aroma yang aneh. Seketika itu juga Namazuo mulai merasakan firasat yang tidak enak.

“…Aduh, jangan bilang kalau gasnya—“

BLEDHAAR!


 

“ANYING!”

Tsurumaru yang rupanya sedang sibuk bermain DoTA bersama dua kawannya itu mendadak terlonjak saat mendengar suara ledakan sekeras Bom Sarinah dari arah dapurnya. Detik itu juga ia langsung terpikir Namazuo—kalau sampai terjadi apa-apa padanya, bisa-bisa ia digantung hidup-hidup oleh Ichigo.

Saat berlari menuju sumber suara ledakan, Tsurumaru menemukan sebuah sosok dengan wajah cemong yang sedang terbatuk-batuk akibat asap hitam yang mengepul dari dapurnya. Ia menghela napas lega karena mendapati kondisi adik dari temannya itu baik-baik saja, akan tetapi ia tidak bisa lama-lama menghirup udara lega karena—

“KAK, DAPUR KAKAK KEBAKARAN!”

.

.

.

Drap. Drap. Drap. BRAK!

“KURI-CHAAN! MITSUTADA! CEPAT TELEPON PEMADAM KEBARARAN!”

“Hah, ada ap—“

“—DAPUR GUE KEBAKARAN!!”

“ANJAYSS!!!”

Saat Mitsutada dan Ookurikara sedang berusaha menghubungi pemadam kebakaran, Tsurumaru dapat mendengar Namazuo memanggil-manggilnya.

“KAKAK! KAKAK! AKU AKAN BERUSAHA MENJINAKKAN APINYA DENGAN AIR DI BASKOM INI!”

Tsurumaru mengerutkan keningnya.

…Hah.

Baskom? Air?

Pria berambut putih itu mendadak memasang tampang horor.

“—TUNGGU DULU, NAMAZUO! ITU BUKAN AIR!!“

Terlambat, Namazuo sudah terlanjur mengguyur isi baskom tersebut ke sumber api.

“ITU MINYAAAAAAAAAAAA—”

BLEDHAAAAAAAAARRR!!!


 Terdengar sirine mobil ambulans dan mobil pemadam kebakaran saling berlomba-lomba menggema di udara. Namazuo Toushirou, korban sekaligus pelaku sekunder dari kasus kebakaran tersebut mengalami sejumlah luka bakar yang tidak serius, akan tetapi kejadian tersebut telah meninggalkan trauma yang mendalam baginya.

“…Lain kali aku makan nasi kecap saja,” bisik Namazuo lirih sebelum pintu mobil ambulans tertutup dan membawanya menuju rumah sakit terdekat.

Series this work belongs to: