Actions

Work Header

The Beginning Has Already Begun

Summary:

Fakta yang tidak bisa dia sangkal, puzzle-puzzle kosong yang mulai temukan bagiannya, juga seluruh pertanyaan di kepala yang temukan jawabannya.

Juno memulai perjalanan menuju kehidupan barunya, Half-Blood Camp, Camp Demigod.

Notes:

Hiiiii! Semoga masih ada yang baca ini hahahhahhaha. Please welcome everyyyone di part tiga! Sisa dua part lagi kisah Na Jansen dan Lee Juno bakal seelesaiii yeeayyyy. Enjoyyyy readers <33333

 

NJM as Na Jansen
LJN as Lee Juno

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Kenapa Mama nyembunyiin semua ini?”

Suara lirih Juno melayang di ruang makan yang berisi dirinya, sang ibu dan Yoanne. Ketiganya duduk di kursi yang biasanya hanya diisi oleh Juno dan ibunya, Tiffany. 

“Mama minta maaf…”

Setelah keributan kecil antara dirinya dan Yoanne, Juno akhirnya memutuskan untuk mengikuti perkataan Yoanne; pulang, menemui ibunya dan meminta penjelasan. Benar kata Yoanne, ibunya sudah menunggunya. Karena ketika dia membuka pintu rumahnya, pelukan Tiffany langsung menyambutnya. 

“Mama cuma berusaha melindungi kamu, Juno. Mama gak mau kamu terluka.”

Juno menghela nafas. Berusaha menyadarkan dirinya bahwa yang berhadapan dengannya kini adalah sang ibu. Ibunya yang selalu mengusahakan segalanya untuknya. 

Fakta yang diterima Juno adalah bahwa benar jika dia seorang manusia setengah dewa. Ayahnya adalah sang dewa penguasa laut, Poseidon. Ibunya bertemu sang ayah ketika melakukan kunjungan ke salah satu pameran karya pelukis favoritnya. Entah bagaimana wujud sang ayah, ibunya belum mendeskripsikannya. Pun dengan sebuah foto, Juno tidak pernah tahu keberadaannya. Sangat jelas bahwa Juno ditinggalkan ketika dia masih berada di dalam rahim ibunya.

“So? Is its still doesn’t make sense for you?” suara Yoanne menyadarkannya dari sebuah lamunan. Kepala yang sebelumnya tertunduk, mulai terangkat dengan perlahan. Menyambut genggaman tangan sang ibu pada jemarinya. 

Semua ini tidak akan pernah masuk akal. Juno mungkin bisa menerimanya, tapi dia tidak akan pernah terbiasa. Fakta yang diterimanya kali ini hanyalah sebuah awalan. Awal sebuah cerita, dimana dirinyalah sang pemeran utama. Hidupnya. Hidupnya akan berbeda. Perjalanannya mungkin akan lebih berat dari biasanya dan Juno harus menerimanya. 

Menyadari bagaimana tatapan Juno yang kosong dan raut wajahnya yang menyedihkan, Tiffany mengusap puncak kepala Juno dengan penuh kasih. Dalam hatinya, dia mengucap doa agar putra semata wayangnya selalu dalam lingkup bahagia. Hanya Juno lah harta Tiffany yang paling berharga.

“Aku mau tidur sama Mama malam ini.”

Tiffany tersenyum hangat, berusaha menahan tetesan air mata yang menumpuk. Kepalanya mengangguk dengan kedua tangan yang melingkari pundak Juno, memeluknya dengan hangat. Satu kecupan pada puncak kepala Juno dihadiahkan oleh Tiffany sebagai bentuk persetujuan. 

Setelah itu, hening kembali menyambut ruang makan. Tiffany dengan senyuman yang tidak luntur dari wajahnya, mempersilahkan Yoanne untuk memakai kamar pribadinya. Sementara itu, dia akan menyusul Juno ke kamarnya.

“Apa kau tidak khawatir?” suara Yoanne menghentikan aktivitas Tiffany yang sedang merapikan ranjangnya. Wanita itu menawarkan diri untuk mengganti sprei sebelum Yoanne membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Penolakan Yoanne tentu tidak digubris oleh Tiffany. 

Pada awalnya, kebingungan menyelimuti Tiffany saat mendengar pertanyaan Yoanne. Namun ketika dia melihat bagaimana Yoanne mengamati beberapa figura yang menampilkan foto masa kecil Juno dan juga foto keduanya, Tiffany tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum.

“Tentu saja aku khawatir. Seorang ibu tidak akan pernah bisa menerima kepergian putranya.” Wanita dengan dress putih tulang yang menggapai bawah lututnya, menghampiri Yoanne. Senyumannya tidak luntur, persis seperti apa yang dideskripsikan pada paragraf sebelumnya. “Namun inilah takdir yang harus kami hadapi. Aku tidak memiliki waktu untuk menyesali sesuatu, jadi aku akan selalu berusaha melindunginya semampuku. Lagipula Juno adalah berkah yang paling aku syukuri.”

Yoanne menyirit mendengarnya. Fakta bahwa dirinya ada bersama Juno sejak anak itu terlahir ke dunia, membuat dia mengetahui dengan detail kehidupan Tiffany. Wanita yang umurnya menyentuh kepala empat itu dikucilkan oleh keluarganya karena hamil tanpa seorang suami, kemudian ketika Juno lahir, dia masih harus berhadapan dengan fakta bahwa tidak satu pun keluarganya menerima kehadiran Juno. Ibu dan anak itu berakhir mengasingkan diri ke kota lain yang jauh dari jangkauan keluarganya.

Penderitaannya tentu tidak berakhir di sana. Dia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan Juno yang saat itu mulai memasuki sekolah dasar. Jika hanya mengandalkan tabungannya saja tentu tidak akan cukup. Tiffany memulai semuanya dari awal. Hanya bersama Juno.

“Saat kecil, Juno tidak pernah bertanya keberadaan ayahnya kepadaku. Padahal aku tau bagaimana teman-temannya sering mengejeknya soal itu. Dia tidak pernah merengek soal mainan baru kepadaku. Namun sebagai gantinya, dia memintaku untuk mendaftarkannya les… eum.. renang. Kau tahu… dia benar-benar menurunkan kemampuannya kepada Juno ya?”

Yoanne terkekeh, mengangguk-angguk saja sebagai balasan. Walaupun dia tahu bahwa kemampuan yang diturunkan oleh dia bukan hanya itu.

Tiffany tersenyum ketika jemarinya menggapai figura yang berisi dirinya dan Juno. Itu adalah figura terbaru yang mereka miliki, tepat sebulan lalu ketika Juno lagi-lagi memenangkan kejuaraan dalam olahraga air kesukaannya. Dalam foto itu, Juno merangkul Tiffany dengan senyuman paling bahagia. Kedua mata yang menghilang kala tersenyum.. Juno mendapatkannya dari sang ayah. Hal yang selalu membuat Tiffany bahagia ketika melihatnya.

“Terima kasih…” ucap Tiffany kepada Yoanne.

Kerutan kening membuktikan bagaimana Yoanne tidak menangkap maksud dari perkataan Tiffany. “Hn?” gumamnya.

“Terima kasih sudah selalu melindungi Juno ketika dia sedang tidak dalam pengawasanku.” Lanjut Tiffany. Kedua matanya menatap Yoanne yang masih menampilkan raut bingung. “Kejadian di danau, taman bermain dan di jembatan kala itu… adalah kamu, kan?”

Nafas Yoanne tercekat. Dirinya tentu mengingat saat-saat dimana dia membantu Juno yang mengalami kesulitan dalam mengendalikan kekuatannya. Namun tidak ada dalam pikirannya bahwa Tiffany akan mengetahui itu. “Kau tau??” tanyanya.

Tiffany tersenyum hangat, mengangguk dengan mantap. “Hanya itu yang aku tau. Juno mungkin melupakannya tapi tidak denganku.”

“Bagaimana bisa…..?”

“Aku seorang ibu. Mudah untukku mengetahuinya.”

Hal yang tidak pernah dipahami oleh Yoanne. Karena dirinya tidak lahir dari seorang ibu, tidak dengan itu. Dia bahkan tidak mengingat tanggal lahirnya. Bagaimana pun itu, seberapa keras dia mengingatnya, hanya kekosongan yang dia dapat. Jadi dia tidak akan pernah bisa memahami bagaimana besarnya rasa sayang Tiffany kepada Juno, bagaimana wanita itu, langsung menghampiri Juno tanpa ragu ketika dia memanggilnya dengan satu kata; “Mama.”.

 


 

Juno sedang memasuki barang-barangnya ke dalam tas kala jelaganya menangkap eksistensi satu kotak berwarna cokelat di atas meja belajarnya. Tanpa membukanya pun, Juno sudah hapal dengan isinya. 

Berlembar-lembar surat dari Jansen, sebuah buku yang berisi puisi tentang Na Jansen (yang tentu saja ditulis oleh Juno), dua buah lilin aroma therapy. Juno ingat sekali bagaimana kedua lilin itu sudah berada di atas mejanya sehari setelah dia bilang, “Wanginya enak. Mirip wangi kamu.” Kepada Jansen. Betapa manisnya Jansen kala itu. Juno sampai geleng-geleng kepala dibuatnya.

Namun seiring dengan jemarinya menggapai lembar demi lembar surat yang ditulis oleh Jansen, kehampaan menyerangnya dengan membabi-buta. Dia tidak bisa menahan tetesan air mata yang turun membasahi kedua pipinya. Juno menangisi Jansen, lagi dan lagi. 

Fakta bahwa keadaan mungkin akan lebih sulit untuk mereka, untuk Juno, setelah dia pergi ke camp dan meninggalkan kehidupannya di dunia normal. Oke, bukan berarti dia tidak normal, namun lebih seperti tidak ada kehidupan yang bisa diharapkan akan tetap sama seperti sebelumnya. Juno semakin tidak percaya diri bisa menemui Jansen.

Ketukan pintu mengalihkan atensi Juno dari kotak cokelat yang ada dipangkuannya. Tiffany muncul dari balik pintu setelah ketukan ketiga. Wanita itu langsung menghampiri Juno dan membawanya ke dalam dekapan.

“Taruh semuanya dalam satu tas saja. Jika ada barang-barang selain pakaian yang ingin kamu bawa, kamu bisa meminta tolong Kak Ann untuk membawanya.”

“Kak Ann?” Juno menyirit. Tidak merasa bahwa ibunya dan Yoanne berada dalam sebuah hubungan yang begitu dekat sampai-sampai memiliki nama panggilan. 

Tiffany mengangguk, “Heum.. Kamu memanggilnya apa? Dia lebih tua darimu tahu.” Ucapnya. Masih dengan mengusap puncak kepala Juno dengan lembut. Membawa kepala Juno untuk bersandar pada perutnya.

“Wanita aneh.” Jawabnya asal. Kemudian sebuah jeweran kecil menyambutnya. Juno meringis kecil. Tidak menyangka bahwa ucapannya akan dibawa serius oleh sang ibu. “Bercanda. Aku bahkan tidak mengobrol banyak dengannya.” ucapnya. Fokusnya beralih kembali pada kotak cokelat yang tidak berubah posisi. Tetap berada di atas pangkuannya, terbuka dan memperlihatkan berlembar-lembar kertas dan sebuah buku.

“Apa kamu akan membawanya?” Tiffany menangkap eksistensi kotak tersebut sejak kakinya menginjak lantai dingin kamar putranya. Jelas mengetahui tiap-tiap isi kertas di dalam sana. Karena putranya, Juno, selalu dengan riang dan bahagia menceritakannya.

Juno berdehem, jemarinya mengeluarkan kertas demi kertas untuk dipindahkan ke dalam satu tas yang berbeda dari tas berisi pakaian. “Hanya ini dan beberapa barang. Mama tahu kan aku tidak bisa melupakannya?”. Sekoyong-koyong jemarinya dengan telaten memasukan barang-barang pemberian Jansen yang berarti untuknya, Juno menahan diri untuk tidak menangis dengan keras saat itu juga.

Dia merindukan Jansen dengan sangat amat. 

“Ditinggalkan juga tidak apa-apa Juno… Mama akan menjaganya.” Usapan lembut jemari sang ibu terasa hangat di pundaknya. Itu selalu menenangkan, menjaganya hingga rasa khawatir yang hinggap bisa hilang dalam sekejap, memeluknya dengan hangat hingga dia tidak merasakan apapun selain kenyamanan.

Yang satunya sudah hilang entah kemana dan kini, dia harus meninggalkan yang lainnya.

“Juno bisa membawanya. Mama jangan khawatir.”

 

Mama jangan khawatir….

Juno didn’t know it could be even worst. That’s him who will never stop worrying about his mom. Even when Tiffany’s arm wrapped him all night long, keep him safe, keep him warm, he never know that the next day would be the worst day ever. 

 

Pelukan Tiffany mengerat saat menyadari bahwa dia tidak memiliki banyak waktu lagi untuk tetap bersama Juno. Langit masih gelap diluar sana, matahari bahkan belum mendapat giliran untuk muncul. Namun Yoanne sudah mengetuk pintu kamar Juno pukul setengah empat pagi dan memberitahu bahwa mereka akan berangkat pukul empat.

Juno yang tidak punya tenaga untuk protes, hanya mengikuti arahan wanita dengan rambut merah tersebut untuk cepat-cepat berganti baju dan menyiapkan tasnya. Sementara Tiffany tidak memiliki banyak waktu untuk sekedar membasuh wajah. Wanita itu harus membuatkan bekal untuk Juno dan Yoanne. Walaupun putra semata wayangnya selalu menolak sarapan dengan alasan sakit perut, untuk kali ini saja, Tiffany akan memaksa Juno untuk membawa bekal yang dia siapkan.

“Turuti semua perkataan Kak Ann, jangan menggerutu dan jangan bertingkah semaumu.” Seiring dengan lelehan air yang keluarkan dari kedua matanya, Tiffany mengusap punggung lebar Juno. Lelaki itu menggunakan hoodie abu-abu pemberiannya, dipadukan dengan celana training bergaris tiga yang sering ia gunakan untuk berlari di pagi hari. 

Sang anak semakin menenggelamkan wajahnya diperpotongan leher Tiffany, menghirup dalam-dalam aroma favoritnya yang mungkin tidak akan dia hirup untuk waktu yang lama. “Aku rindu Mama.” Sangat jauh dari sebuah jawaban yang sesuai, namun Juno tidak peduli. Dalam benaknya, dia mulai membenci takdir yang membawa mereka pada sebuah kerumitan.

Tiffany terkekeh dalam sela-sela tangisannya, “Belum apa-apa sudah rindu.” Melerai pelukan mereka, Tiffany menatap wajah Juno dengan senyuman paling indah. Walaupun fakta bahwa wajahnya memerah dan pipinya basah karena air mata tidak bisa disanggah. “Mama menyayangimu lebih dari apapun.”

 

Lalu, sebuah kecupan mendarat di kening Juno. 

 

She kissed the forehead of the person she love the most; Her son. Before multi kilometers distance separated them, before the fates forced them to wait for the time to meet each other again. The mom kissed him again, over the palms of her son’s hands. Looked at the two hands that she had to let go of.

 

Mama menyayangimu lebih dari apapun. Sampai bertemu kembali, Juno…

 

Dan Tiffany masih sanggup untuk menyunggingkan senyuman paling indah pada kedua insan berbeda gender yang sudah melewati gerbang rumahnya. Kepada Juno yang akan selalu dia doakan kebahagiaannya dan juga pada Yoanne yang sempat dia bawa kedalam pelukan. Sebelum keduanya benar-benar melangkahkan kaki, menjauh dan hilang dari pandangannya.

Sebelum dia tidak mampu lagi menahan isakan keras dan menyedihkan setelah menutup pintu rumahnya. Tubuhnya meluruh bersamaan dengan air mata yang tidak bisa dia kendalikan derasnya. 

 

 

"Kini adalah waktumu untuk menjaganya. Aku harap kau benar-benar menepati janjimu…”

 


 

Juno tidak tahu akan dibawa kemana dirinya oleh Yoanne. Perempuan dengan rambut merah musim semi yang membawa satu tasnya itu tidak berbicara apapun sejak keluar dari pekarangan rumah. Dan Juno yang masih diselimuti duka, tidak sanggup menawarkan sebuah topik bicara.

Meninggalkan sang ibu dalam waktu yang tidak bisa ditentukan adalah sebuah duka, kan? 

Namun dia tidak tahan lagi dengan kesunyian yang menyelimuti mereka. Dia tak ingin tiba-tiba dihadapkan fakta bahwa semua ini hanyalah tipuan belaka. “Kita akan terus berjalan seperti ini?” Sebuah pertanyaan dilayangkan Juno sebagai pembuka. Langkahnya dia percepat agar menyamai langkah Yoanne yang entah kenapa, selalu lebih cepat darinya.

“Jeju.”

“Hah?!”

Melihat bagaimana keduanya menjadi pusat perhatian dalam waktu singkat karena keterkejutan Juno, mata Yoanne mamandang galak Juno di sebelahnya.

“Jangan mencolok perhatian.” peringatnya.

“Katakan bahwa aku salah mendengar perkataanmu.”

Memutar bola matanya malas, “Pulau Jeju. Kamu tidak salah mendengar, dasar bocah.” balas Yoanne. Lengan kirinya menarik Juno agar mendekat dengannya. Anak itu lambat sekali, pikirnya.

Juno tidak percaya dengan tujuan mereka kali ini. “Kita akan ke Jeju dan kamu memilih kereta sebagai transportasinya? Kita mungkin akan membusuk ditengah jalan.” helaan nafas kasar keluar dari mulut Juno. Tidak salah lagi, tujuan keduanya kini adalah Seoul Station. 

“Kita akan naik ferry. Kau suka laut, kan? Cocok untukmu.” balas Yoanne.

Juno mendelik tidak suka. Apa-apaan katanya? Ferry? Oh Tuhan… itu akan memakan waktu lebih dari lima jam. “Kita benar-benar akan membusuk ditengah jalan.” finalnya. Kekehan Yoanne menjadi akhir perbincangan mereka sebelum mereka memasuki sebuah taksi yang dihentikan oleh Yoanne dan memulai perjalanan mereka ke Seoul Station.

Percayalah, Seoul Station hanyalah sebuah awal dari perjalanan mereka. Empat puluh sembilan menit menuju Suwon Station, berganti kereta untuk sampai di Seojeong-ri Station di Pyeongtaek, lalu mereka menuju kereta lain untuk sampai ke Yeonsu dalam empat setengah jam perjalanan. Juno berkali-kali merengek dan berdecak kesal saat mengetahui bahwa kakinya tidak bisa dia luruskan selama perjalanan. Dan fakta bahwa lima jam tiga puluh menit belum cukup membawa keduanya ke pulau Jeju membuat Juno jengah setengah mati. Dia benar-benar merasa akan membusuk di perjalanan. 

“Aku pasti sudah gila.” gerutuannya kembali terdengar. Membuat Yoanne lagi-lagi menghela nafas. Beginilah kenyataan dalam membawa bocah berjalan-jalan. Sangat melelahkan. “Bisakah kau berhenti menggerutu? Dasar bocah.” ucapnya

Juno tak terima dengan berkali-kalinya Yoanne menyebutnya “Bocah.” Maka dia berjalan dengan tubuh menghadap kearah Yoanne dan mulai protes, “Jika dari awal aku tahu kita akan ke pulau Jeju, aku akan memesan tiket pesawat saat itu juga. Biar saja kamu berjalan sendirian dan mabuk laut di atas kapal ferry.” cemooh Juno. Dia masih berjalan mundur untuk dapat melihat wajah Yoanne dengan jelas. 

Juno tidak tahu bahwa cara berjalannya membuat dia tak sadar akan ada seseorang yang menabrak bahunya dengan tiba-tiba. “Ah.. maafkan aku.” Dengan tubuh yang dibungkukan, Juno meminta maaf kepada seorang laki-laki berhoodie hitam yang wajahnya tertutup oleh kupluk hoodie. “Ya.. Maafkan aku mengganggu perjalananmu.” Suara laki-laki itu terdengar berat dan serak. Dari jarak sedekat ini, Juno dapat mencium bau hangit yang dikeluarkan dari mulut laki-laki itu saat dia berbicara. Baunya lebih pekat dari bau asap rokok yang sering keluar dari mulut penggunanya.

Tarikan pada pundaknya membuat Juno terpaksa berbalik dan kembali berjalan dengan cepat. Dia tidak sadar bahwa Yoanne sudah lebih dahulu berjalan menjauh. Dan kini perempuan itu menatap garang dirinya, “Bicara dengan siapa? Bukan kah sudah aku bilang untuk jangan menarik perhatian?”. Yoanne menarik Juno ke sebuah sudut yang sepi di dekat toilet. Wanita itu terlihat benar-benar marah dengan perbuatan Juno.

“Aku hanya meminta maaf karena sudah menabraknya.”

Pembelaan Juno dihadiahi sebuah dengusan, “Mengapa tidak berjalan di sebelahku?”

“Mengapa kamu tidak tanya pada dirimu sendiri? Kamu berjalan cepat sekali, Kak.”

Tertegun dengan sebuah panggilan yang diberikan Juno untuknya, Yoanne mengedipkan matanya beberapa kali. Tidak pernah dalam hidupnya mendengar seseorang memanggilnya “Kak”. Tidak dengan kehidupannya saat ini. Dia menghela nafas, melembutkan tatapannya, “Pegang tanganku.” pintanya. Menyodorkan tangan kirinya untuk digenggam oleh Juno. Semata-mata hanya agar anak itu tidak tertinggal lagi di belakangnya.

Dengan ragu-ragu, Juno menerimanya. Dia mengaitkan kelima jemarinya dengan milik Yoanne. Keduanya kembali melanjutkan perjalanan mereka saat pengeras suara menyatakan kedatangan kereta mereka dalam lima menit.

 

 

 

 

Notes:

Sampai jumpa di part selanjutnya. Stttt.. jangan bilang-bilang orang ya kalo part selanjutnya POV Jansen hihihi

Perkataan Yoanne di part dua akan terjawab di part selanjutnya yaa! Oh ya, if any of you wants to ask something, kindly dm me through @/nostalgicissue on X.

Regards,
EVE.

Series this work belongs to: