Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-10-25
Words:
850
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
13
Hits:
105

Bermain Catur

Summary:

Pada awalnya, Slaine membenci kehadiran Inaho di selnya hampir tiap hari. Namun lambat laun, Slaine selalu menantikan permainan catur dengan Inaho.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Dalam kunjungannya, biasanya Inaho tidak banyak berbicara. Terkadang mereka hanya menghabiskan waktu bermain catur tanpa mengobrol. Slaine merasa dirinya jago bermain catur, tapi ketika berhadapan dengan Inaho, Ia lebih sering kali kalah. Hal ini membuat Slaine menjadi sering menantikan permainan catur dengan Inaho untuk mengalahkannya.

 

Ada pula di masa mereka berdua tidak bermain catur. Mengobrol sedikit dan Inaho sibuk membaca laporan atau membaca koran di hadapan Slaine. Awalnya Slaine bingung harus berkata apa, tapi lama kelamaan dirinya sudah terbiasa akan kesunyian di antara mereka.

 

Hal seperti ini terus terjadi dalam kurun waktu berbulan-bulan. Slaine merasa nyaman dan ingin mengobrol dengan Inaho. Bingung akan membuka topik seperti apa, Slaine malah bertanya pertanyaan aneh.

 

“Kau sudah makan?”

 

Mungkin bagi sebagian orang itu hal biasa, tapi menurut Slaine yang posisinya adalah tawanan perang dan orang yang Ia tanya adalah orang yang mengurungnya, itu adalah hal aneh. Tentu saja, pertanyaan ini sukses membuat Inaho yang lebih sering berwajah datar itu mengernyitkan dahi.

 

“Sudah.”

 

Slaine memang tidak berekspektasi apa-apa pada Inaho, bahkan Ia berekspektasi kalau Inaho tidak akan menjawab pertanyaan sederhana itu. Slaine tersenyum tipis karena Inaho menjawab pertanyaannya. Ia melirik Inaho yang sedang sibuk membaca koran. Tidak ada reaksi apa-apa darinya.

Di hari selanjutnya, Slaine masih berusaha untuk bertanya. Ia sudah mempersiapkan beberapa pertanyaan sebelum Inaho datang ke selnya. Ketika selnya dibuka, Slaine melihat Inaho yang datang dengan membawa berkas di tangannya. Oh, sedang sibuk rupanya.

 

Inaho duduk di hadapan Slaine kemudian menggeser papan catur yang memang sudah ditempatkan di meja ke tengah-tengah meja. Setelah menyusun semua bidak catur, seperti biasa Inaho yang memulai duluan permainannya.

 

“Kau sibuk?” tanya Slaine.

 

Inaho hanya melirik sebentar ke arah Slaine lalu menjawab, “Tidak.” 

 

Slaine tidak percaya. Tumpukan berkas yang sedang bertengger di atas meja itu adalah bukti bahwa sebenarnya seorang Kaizuka Inaho sedang sibuk, tapi tetap menyempatkan diri untuk mengunjunginya.

 

“Kalau kau sibuk, seharusnya kau tidak datang.”

 

Slaine menjalankan bidak caturnya lalu menatap Inaho menantikan jawaban darinya. Inaho tampak diam sesaat lalu membuka suara.

 

“Aku ingin bermain catur.”

 

Slaine sedikit tercengang. Hanya anggukan yang menjadi respons dari Slaine.



Kalau sibuk, ya jangan bermain catur. Apalagi sampai repot ke sini. Dasar aneh.

 

Inaho kembali menjalankan bidak caturnya, lalu membuka suara lagi.

 

“Kau tidak suka?”

 

Slaine bingung atas pertanyaan Inaho. Ini juga pertama kalinya Inaho bertanya pada Slaine selama berbulan-bulan mereka menghabiskan waktu berdua di dalam selnya. Slaine mengernyit, “Apanya?”

 

Inaho menatap lurus Slaine, seperti biasa. Tidak ada ekspresi lain selain wajah tenang yang Ia tampilkan padanya.

 

“Aku di sini.”

 

“Hah?” respon Slaine secepat kilat.

 

Inaho diam, menatap papan catur di hadapannya. Mungkin Slaine agak menyesal karena hari ini Inaho malah berbicara lebih banyak dari biasanya. 

 

Slaine berdeham. “Tidak,” mencoba menjawabnya dengan singkat walau rasanya Ia ingin melanjutkannya dengan kalimat lain. 

 

Hening. Inaho tidak membalas obrolannya lagi dan menggerakkan bidak caturnya lagi. Aneh , pikir Slaine. Jelas-jelas langkah Inaho barusan adalah kesalahan, membuat Inaho akan mudah dikalahkan dan Slaine yakin bahwa Ia sengaja. Namun Slaine hanya diam dan melanjutkan permainan catur ini.

 

Setelah menghabiskan kurang dari waktu sejam, Slaine menjadi pemenang dalam permainan ini. Slaine mengangkat kepalanya sejajar dengan Inaho, menatapnya dengan kerutan di dahinya.

 

“Kau sengaja ya?” tanya Slaine mencurigainya.

 

“Tidak.”

 

Jawabannya singkat tapi Slaine yakin bahwa untuk saat ini, Inaho sengaja mengalah agar Slaine menang. Tentunya, Slaine tidak suka diperlakukan seperti ini, apalagi oleh seorang Kaizuka Inaho. Slaine bersandar pada kursinya dan menatap lekat papan catur yang ada di meja. Inaho mengambil berkas yang ada di atas meja lalu Ia baca seksama.

 

“Lebih baik kau tidak usah ke mari jika hanya ingin bermain catur. Apalagi sampai mengalah padaku.”

 

Inaho mendongak dari berkas yang Ia baca dan melihat Slaine yang terlihat kesal.

 

Inaho mengambil napas, “Kau marah?” tanyanya dengan nada datar. Yang ditanya malah menatapnya penuh emosi.

 

“Jika iya, kenapa?”

 

Inaho bingung harus menjawab apa dan tidak tahu juga bagaimana cara menenangkan Slaine. Dengan pemikirannya logisnya, Ia menemukan jawaban yang Ia rasa cukup.

 

“Ini hanya sebuah permainan catur,” jawab Inaho tanpa melihat Slaine dan kembali membaca berkas di tangannya.

 

Slaine menatapnya tidak percaya dan setengah emosi, “Tapi aku selalu menantikan bermain catur denganmu.”

 

Entah apa yang merasukinya, sungguh Slaine tidak berniat menjawab Inaho seperti itu. Ini seperti seakan-akan Slaine selalu menunggu kedatangan Inaho setiap hari untuk bermain catur dengannya. Tapi sudah terlambat. Ucapannya sudah terucap begitu saja dari bibirnya. Slaine menghela napas panjang. “Sudahlah, lebih baik kau kembali saja.”

 

Inaho tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas di tangannya menjawab dengan santai, “Sama, aku juga selalu menantikannya.”

 

Gila. Sebelum ke sini kepalanya terbentur sesuatu ya?

 

Kepala Inaho terangkat dan menatap Slaine. “Kau tampak tidak percaya.”



Dengan cepat Slaine menjawab, “Iya, emang.”

 

Inaho mendengarnya hanya tersenyum tipis.

 

Benar-benar ada yang salah dengan kepalanya , pikir Slaine yang menatapnya bergidik ngeri.

 

Tiba-tiba saja Inaho bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah pintu. Slaine menatap punggungnya dengan sedikit kecewa karena waktu bersama dengan Inaho hari ini lebih cepat dari biasanya. Inaho membuka pintunya dan terdiam sejenak. Slaine memiringkan kepalanya.

 

“Kalau begitu, besok kita bermain catur lebih lama lagi.”

 

Inaho berjalan keluar dan meninggalkan Slaine yang bingung harus bereskpresi apa. Ditatapnya papan catur di hadapannya dengan raut tidak percaya.

 

“Memang ada yang tidak beres dengan otaknya.”

Notes:

Kangen Inasure.... hiks.