Actions

Work Header

Pertemuan Online

Summary:

#1 Prompt
“We’re the only two with our cameras on on this Zoom call and you are so pretty”

Notes:

Cerita ini juga di posting di medium but only unlisted story.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Senin pagi merupakan hari yang teramat hectic untuk Xu Minghao. Dimulai dari bulan lalu ia baru saja mendapat promosi di pekerjaannya dari staff biasa menjadi Supervisor Design. New role meaning more job for him , seperti pagi ini, dia baru saja sampai di meja kerjanya tiba-tiba ada yang menghampirinya dan berbicara panjang lebar, “Kak, client kemaren ada revisi nih, dia minta fontnya diganti sama warnanya juga, gue udah bilang kita udah kerjain sesuai guide yang di acc sih tapi clientnya gamau denger, trus 15 menit  lagi kita ada meeting sama new client, lo yang lead rapatnya ya kak. Udah itu aja hehe.” 

 

Intern di kantornya, Dino, baru mulai bekerja sebulan yang lalu namun sampai sekarang ia masih memiliki semangat yang sama seperti ia pertama kali bekerja. Serius deh Din, ini baru hari Senin lho. Minghao sendiri merupakan seorang pekerja yang cukup passionate di dalam bidangnya, ga mungkin dia bertahan dua tahun di agency tempat ia bekerja sekarang kalau dia tidak menyukai bidangnya.

 

“Dino masih pagi udah full aja batrenya, itu Haonya lho dibantuin dulu bawaanya banyak banget gitu.” Joshua, Manajer favorit seluruh divisi creative memang yang paling waras di pagi hari, auranya yang dipancarkannya selalu bersinar cerah bahkan sampai sore hari. Anak-anak jarang sekali melihat Joshua marah bahkan beliau tidak jarang mentraktir junior-juniornya. 

 

“Hehe maaf kak Hao, sini Dino bantuin.” Dino pun membawa properti photoshoot yang sudah Minghao gendong dari mobil sampai ke mejanya, “Wah berat ya kak ternyata ehehe.” Dino berkata lagi dengan polosnya, Dino yang merasa diplototin oleh Minghao langsung kabur ke ruang penyimpanan.

 

“Dino Dino, ada aja deh tuh anak.” Minghao berkata tak sengaja menyuarakan keras-keras, yang disambut oleh tawa DK, salah satu content creator di agencynya.

 

“Namanya juga Dino Hao, maklumin aja.”

 

“Untung aja gue udah minum kopi tadi pagi, kalo ga udah berubah jadi batu tuh anak.”

 

Minghao akhirnya bisa duduk di kursinya dan membuka laptop untuk mengecek kerjaan yang Dino bilang, dia pun langsung menugasi Vernon, salah satu Graphic Designernya untuk merevisi permintaan clientnya. Sambil menulis reminder di mentalnya untuk membahas tentang masalah guidenya dengan client di meeting selanjutnya.

 

Well, he got five minutes to spare before he has to attend the Zoom meeting, kali ini clientnya merupakan seorang pemilik restoran baru di pusat Jakarta, ia membutuhkan agency nya untuk mempromosikan restaurant barunya juga memanage media sosialnya. Setelah mendapat info basis untuk meeting hari ini, ia pun masuk ke dalam ruang meeting onlinenya tersebut. Seperti biasa, sudah ada Jun, content strategist yang hari ini sedang WFH, serta Vernon dan DK dalam room tersebut. 

 

“Selamat pagi, perkenalkan nama saya Kim Mingyu, owner dari Restoran La La Li.”

 

Biasanya saat meeting dengan client semua harus memunculkan wajah mereka, tapi entah kenapa hari ini teamnya memutuskan untuk off-cam, sehingga perhatian Minghao terfokus hanya pada wajah sang owner yang walau hanya lewat layar laptop milik kantor, wajahnya tetap terlihat sempurna dan mirip seperti aktor terkenal di Korea. Minghao sempat terpaku sebentar sehabis melihat wajah si owner sebelum si DK yang memang duduk di sebelahnya menepuk bahunya, menyadarkannya dari lamunannya yang mulai beranjak kemana-mana. Minghao merasakan pipinya memanas dan berusaha kembali mendengarkan Kim Mingyu, si owner restaurant tersebut yang menyampaikan tujuan yang ingin dicapai dari kerjasama mereka. 

 

“So, how’s your thought on this, err– I just realized you haven't introduced yourself?” Mingyu mengakhiri monolognya dengan pertanyaan.

 

“Uh Sorry, nama saya Xu Minghao. Maaf tadi sedikit kepecah fokusnya. But I understand it completely. My team would execute it then I would report the progress through the week, how about it?”

 

“Okay Minghao, untuk laporannya saya lebih prefer langsung diskusi aja lewat chat pribadi biar lebih cepat responnya. Can I ask for your number maybe?” 

 

Minghao bisa mendengar suara tertawa Dino dan Vernon di ruangan sebelah, dia tau banget pasti Dino yang tidak ada di meeting tersebut namun ia mendengarkan lewat laptopnya Vernon. He will for sure discipline them later. Seriously, this Kim Mingyu dares to flirt in this meeting!

 

Minghao sering mendengar fakta di lapangan bahwa memang di beberapa start-up atau saat awal merintis bisnis, kebanyakan owner memang memilih terjun langsung ke segala urusan kerjaan, mungkin Kim Mingyu ini memang tipe owner yang suka nge-chatin semua karyawannya. 

 

Di satu sisi Minghao bohong kalau ia tidak merasa tertarik dengan pria di seberang sana dimanapun ia berada sekarang ini, untuk sekarang mungkin dia akan bersikap profesional tapi untuk kedepannya ia tidak berjanji untuk bisa terus-terusan menepati janjinya. Minghao is indeed a weak man.

 

“Y–yeah sure. I’ll email it to you later.”

 

“Great, so we could end this meeting right now?”

 

“Yes, thank you for your cooperation.”

 

“It was lovely talking to you, see you later team and.. have a great day Xu Minghao.” Then Mingyu has the audacity to give him a wink!

 

Sumpah kalau bukan clientnya sendiri, Minghao bakal langsung tutup zoom call meetingnya ini dari awal atau bahkan langsung menyerahkannya aja pada Joshua. Manajernya yang super duper baik itu pasti mau membantunya untuk menghandle client ini. Tapi lagi-lagi ia mengingatkan kepada diri sendiri bahwa Joshua adalah atasannya dan mau tak mau memang harus dia yang mengurusi projek ini.

 

“Ciyee digodain owner, lumayan ganteng loh Hao. Kalau lu ga mau mending buat gue aja gpp deh.” DK tertawa meledek sambil melempar kedipan padanya, jelas sekali ia meniru adegan tadi. Tidak tau deh kondisi muka dia udah semerah apa sekarang.

 

“Wah client tadi berani juga ya, congrats ya Hao.” Ucap Joshua dengan senyumnya yang Minghao tidak bisa tebak artinya.

 

“DK bacot ya lo, Pak ini harus banget saya kasih nomor saya?” 

 

“Ya itu kan udah permintaan client Hao, semangat ya pdktnya!”

 

"Oh iya btw Mingyu itu anaknya temen papa saya, jadi jangan bikin malu ya Hao."

 

Joshua kembali tersenyum yang kali ini lebih bisa dibilang menyeringai, mirip emoji ungu setan bertanduk itu. Minghao bisa melihat sisi lain dari Joshua mulai dari sekarang, bener-bener muka angel aslinya kayak devil!

 

Mau tak mau Minghao mengirimkan nomornya kepada si Kim Mingyu itu dan berharap tidak terjadi apa-apa kedepannya.

 

Spoiler alert, two weeks later they went on a date.. and that's it folks, that's How I Met Your Mother ;p

 

End ♡

Notes:

Jadi seharusnya gue mengerjakan au panjang gue yang gue post di twt, but instead gue malah nulis ini hehehe. This will be part of a prompt series, dimana gue cuma bakal nulis short story based on prompts yang gue temuin di tumblr/ dari mana pun, tentu aja ceritanya bakal beda-beda begitu juga dengan panjang pendeknya cerita, semua tergantung sama mood gue dan mau kemana tuh cerita gue bawa wkwk.

Ohiya gue juga menerima request, kalau mau tulis aja di komen atau ke twitter gue: @NY0UNGS
atau bisa ke tellonym

Series this work belongs to: