Chapter Text
Jika dua orang telah terikat dengan benang merah mereka sendiri, bahkan jika terpisah di ujung duniapun meski akan bertemu pada satu titik di tanah bumi sebagai takdir. Bahkan dari Hades yang yang terbelenggu di dunia bawah pun bertemu dengan Persephone dari dunia atas, putri dari kakaknya sendiri. Bahkan dari matahari yang terpisah dengan bulan akan senantiasa memberi cahayanya, bertemu saat Gerhana meski itu terjadi sekali dalam kurun beberapa tahun. Jika sudah terikat, cepat atau lambat benang akan menarik dua orang yang telah dijanjikan untuk bertemu.
Dari kisah dongeng yang sebagian orang mungkin tidak akan mempercayainya, kini telah menghampiri satu orang dengan perasaan kosong dan hampa, tengah duduk di kursi belakang mobil keluarganya yang berwarna hitam, berpijak pada kakinya yang berat tapi ingin sekali untuk pulang. Pulang ke tanah kelahiran sang Kakek buyut atas permintaan dari sang Kakek buyut sendiri, meminta Mark untuk menjual salah satu rumah tua tempat tinggalnya dulu. Dulu saat sang kakek buyutnya masih muda. Sangat amat muda.
“Wajahmu membuatku teringat pada seseorang, seseorang yang selalu mabuk akan cinta yang meluap-luap. Seorang lelaki yang terlihat bodoh tapi sangat pemberani dan memiliki prinsip yang kuat. Aku rasa tugas ini memang cocok untukmu. Mark, pulanglah ke tanah kelahiranku. Kurasa, sekarang, aku bisa melepaskan rumah itu dengan tenang.”
Hanya itu kalimat terakhir yang diingat oleh Mark, karena waktu itu dia datang disaat-saat terakhir sang Kakek buyut sebelum meninggalkan semua yang dia punyai di dunia, termasuk keluarganya dan dia sendiri.
Matanya memandang ke luar jendela mobil, menatap pepohonan tinggi yang berbaris menjulang seolah akan mencakar langit. Melewati beberapa rumah tua yang kini terisi para orang kaya yang membelinya, rumah mewah yang diberi sentuhan modern telah direnovasi, pemandangannya indah, jauh dari bising. Sebuah kota di pinggiran kota yang berdekatan dengan hutan pinus tropis, jejak-jejak rintik hujan semalam pun masih menghias sepanjang jalan dan semak-semak, membentuk kabut tipis menutupi hutan berselimut dingin.
“Kita sudah sampai tuan muda.” sang supir berbelok memasuki sebuah rumah megah yang sebagian temboknya ditumbuhi lumut dan tumbuhan merambat.
Kata sang Kakek, rumah ini sudah berdiri sejak tahun 1825, yang berarti. Rumah ini sudah berdiri lebih dari 100 tahun lamanya, menurut pohon sejarah keluarga Mark. Keluarganya merupakan keturunan militer Perancis yang bekerja di bawah kepemimpinan Napoleon waktu itu. Oleh sebabnya, keluarganya memiliki keturunan darah bangsawan yang disematkan oleh sang Napoleon, sebagai tanda jasa atas pengabdian pada sang pemimpin.
“Paman, bagaimana dengan rumah itu?” Mark menunjuk pada rumah yang mereka lewati sebelumnya, perhatian Mark tak lepas dari sana. Seolah ada hal yang amat menarik untuk diperhatikan, tepat saat dia turun dari dalam mobil, hal pertama yang ingin diketahui adalah perihal rumah tetangga. Bukan dengan rumah Kakek buyutnya.
Rumah itu tak kalah megah dengan milik keluarganya. Walau rumah itu sudah memudar catnya teramat parah, berwarna kuning serta sudah terkikis beberapa sudut bahkan beberapa bagian dimakan waktu terlihat sangat tua dan rapuh, tapi anehnya tak mengindahkan betapa indahnya rumah itu di mata Mark. Perhatiannya tersedot sepenuhnya, akar-akar belukar di gerbang yang merambat memberi gambaran padanya, teramat jelas di pelupuk mata seperti sebuah film yang sedang diputar, membias penuh warna dan gerak. Mungkin, dulu pada eranya, rumah itu dipenuhi bunga-bunga indah dengan berbagai warna berpendar. Setiap sore, bangku kecil di sudut taman akan dipenuhi aroma mawar, peony, anyelir, dan aroma teh chamomile yang menguar. Di bangku kecil yang terpahat akan duduk seorang dengan paras indah, menikmati teh hangat favoritnya.
“Eh?” Mark tersentak membayangkan sosok dengan kemeja putih linen dan korset coklat yang membentuk lekuk tubuh sang pemilik rumah. Bersilang kaki, memangku buku dengan seulas senyum di kulitnya yang kecoklatan terkecup matahari.
“Rumah itu kebetulan akan dijual juga, namun sang penanggung jawab sepertinya belum akan kembali. Seminggu yang lalu beliau datang, tapi hanya untuk melihat-lihat. Dia tidak tinggal seperti tuan muda.” seorang wanita paruh baya yang dipercayai untuk selalu menjaga rumah keluarganya datang setelah menutup gerbang tinggi di halaman utama.
“Kakek buyut atapun Kakek tidak pernah menceritakan tentang rumah itu. Seharusnya jika rumahnya berdekatan seperti ini, bukankah mereka saling mengenal? Atau teman mungkin?”
“Untuk itu saya tidak tahu tuan muda, mungkin anda bisa bertanya pada Kakek anda. Satu tahun lalu, tuan Jackson, Kakek anda rutin datang kemari untuk memantau rumah ini, tuan muda.” sang wanita paruh baya membungkuk berniat mengambil tas yang dibawa Mark namun ditahan.
“Tidak perlu, biar aku saja Bibi.” Mark segera mengambil tasnya, “ya, mungkin nanti. Aku sedikit penasaran dengan rumah itu. Ada sesuatu yang tiba-tiba ingin aku ketahui.”
Sang wanita paruh baya mempersilahkan Mark dan sang supir pribadi tuannya untuk segera masuk ke dalam rumah. Melihat kembali ke atas kepala mereka, langit seperti berwarna kelabu serta abu, bersama tabir kabut yang kian turun, disertai rinai yang satu persatu jatuh membentuk koloni bernama hujan.
Tapi di satu sisi, Mark menyukai suasana ini. Indahnya gemuruh rintik-rintik bersama nyanyian hujan yang menghantam dedaunan dan memecah aroma tanah serta pohon pinus di luar sana. Ia seperti tinggal di dunia khayalan, di sudut bumi yang tak pernah Mark tahu. Walaupun sering mendengar bahwa kota ini merupakan tanah kelahiran sang kakek buyut dan awalnya tumbuh keluarga besarnya, tapi untuk pertama kalinya. Hari ini ia datang di tanah kebanggaan sang Kakek buyut, Mark yang awalannya enggan, sepertinya akan menyukai tinggal di sini. Walaupun bukan untuk waktu yang lama, Mark akan menikmati setiap waktu yang dia habiskan. Hanya dia dan sunyinya rumah tua.
🍂🍂🍂
Suara piano terdengar merdu, setiap tuts ditekan halus sesekali ditekan secara tegas. Nadanya indah, seperti cupid yang sedang melesatkan panahnya untuk ditancapkan pada seseorang.
Mark mengerang, membuka mata perhatikan lampu meja yang masih menyala redup. Matanya mengerjap membiasakan kelopak sebelum terbuka dengan sempurna. Masih pukul 03.00 dini hari, terlalu cepat Mark bangun dari tidurnya. Mungkin, karena perlu menyesuaikan diri dengan tempat baru hingga Mark belum bisa tidur dengan nyenyak di hari pertama.
Karena kepala yang terasa pusing atau karena efek baru bangun dari tidurnya, Mark merasa tempat tidur yang ditempati terasa sangat besar. Ruangannya pun juga terasa lebih luas, bahkan dengan semua barang yang ada di dalam kamarnya saat ini.
Dan hal yang paling membuat Mark bingung adalah saat ia ingin turun dari tempat tidurnya. Kakinya mengambang di atas kasur, kakinya tak sampai pada lantai. Tempat tidurnya menjadi sangat tinggi yang pada akhirnya harus membuat Mark melompat. Ia segera berlari kecil mengarah ke jendela yang gordennya tertiup angin pagi dini hari. Alisnya semakin mengkerut, karena untuk melihat keluar pun ia harus berusaha dengan ekstra.
Kakinya dijinjitkan, menggapai pinggiran bibir jendela untuk berpegangan tapi usahanya tidak berhasil untuk melihat keluar kamar. Mark mengedarkan pandangan, melihat sesuatu yang bisa digunakan untuk bertumpu, dan tepat di dekat tumpukan mainan yang berhamburan di salah satu sudut ruangan, Mark melihat sebuah kotak kayu. Ia segera berlari kecil, meraih kotak kayu dan didorongnya sampai ke bawah daun jendela. Dengan tangannya yang mungil dan kaki pendeknya, Mark menaiki kotak kayu, menyibak gorden dan menatap ke luar rumah yang ternyata kamar tempat ia tidur berhadapan langsung dengan halaman belakang rumah tetangga.
Di sana, di atas sebuah batang kayu yang tumbang duduk seorang laki-laki muda dengan baju tidur putihnya yang panjang, ujungnya bersentuhan dengan tanah tapi diabaikan. Kulitnya mungkin berwarna kecoklatan, atau mungkin kekuningan. Mark tidak tahu dan tidak bisa memastikannya, karena ia tidak bisa melihatnya dengan pasti di antara gelap dan juga ringkih bulan.
“Apakah dia sang pemilik rumah?”
Mark menjinjitkan kembali kakinya, menatap sang laki-laki muda yang kini mengangkat wajahnya. Wajahnya tampak senang, tersenyum menatap ke arah gerbang belakang rumahnya. Lebih tepatnya ke arah pagar tanaman yang tiba-tiba bergemerisik, dan tak lama setelahnya seorang laki-laki muncul dari sana.
Sang pemilik rumah semakin tersenyum lebar, melambai menutup buku yang sedang dia baca. Seolah benar-benar sedang menunggu kedatangan laki-laki yang menerobos masuk ke rumahnya. Dan saat Mark tengah asik menatap ke arah sang pemilik rumah, laki-laki dengan gaun tidur itu tiba-tiba berpaling. Menatap ke arah jendela kamar tempat Mark berada, mata mereka bersirobok, dan mata coklat itu pun berhasil membuat jantung Mark berdebar-debar seketika. Rambutnya yang sedikit ikal tertiup angin, tatapan seteduh rinai, dan air muka yang sangat menenangkan membawa Mark lupa pada sekitarnya.
Laki-laki satunya ikut berpaling membawa tangan kecil Mark dengan cepat menarik gorden dan menutup diri agar tidak terlihat.
“Pierre? Apa kau bangun? Ibu mendengar seperti ada barang yang sedang digeser.”
“Pierre? Siapa Pierre? Kakek buyut?”
Pintu terbuka, memperlihatkan seorang wanita dengan gaun tidur sutranya yang mengkilap diterpa lampu meja.
“Pierre Anderson, sayang, apa yang membuatmu bangun di jam tiga dini hari?”
“Kenapa aku tidak bisa membuka mulutku? Suaraku tidak bisa keluar.”
“Baiklah, kau ingin tidur dengan Ibu? Jika itu yang kau inginkan maka malam ini kau akan tidur dengan Ibu, Pierre.”
Tubuh Mark yang kecil diangkat dalam gendongan, gorden yang tertiup angin pun kini tertutup rapat. Meninggalkan entah lakon apa yang dilanjutkan dua lelaki yang sedang bertemu di bawah sana.
“Sekarang Ibu akan menyanyikanmu sebuah lagu pengantar tidur, sekarang tutup matamu.”
“Aku tidak ingin tidur.”
“Hmmm….mmm…nanana, nanana.”
“Aku tidak ingin tidur!”
“Hmmmm….nanana, hmm.”
“Aku tidak ingin tidur!”
Di dalam kepalanya sendiri Mark menolak untuk tidur, menolak untuk menutup matanya yang kini mulai terasa berat, ia masih ingin melihat ke balik jendela, menelisik dan mencari tahu tentang apa yang kini sedang dia alami. Ia masih bingung dengan semua yang terjadi. Ia seolah terjebak di dalam mimpi, namun ini terlalu nyata untuk sekedar dikatakan mimpi. Di saat senandung kian merdu dan cahaya kian redup, Mark yang dipaksa bungkam pun perlahan-lahan tertidur dalam senandung lullaby dan suara piano yang masih terdengar di balik gorden yang kembali melambai.
“Mark?”
“Mikel?”
“Mark?”
“Mikel?!”
“Tuan muda?”
“Mikel!!!!!”
“Tuan muda?”
“Mikel!!!! Mikel!!!”
Mark tersentak bangun dengan dada bergemuruh, lagi. Tubuhnya sedikit gemetar, peluh merembes dari pelipisnya. Saat dia melihat jam di atas meja, jam menunjukkan pukul 03.00 dini hari, matanya tertuju ke arah sudut ruangan. Tidak ada mainan yang berserakan di sana, tak ada lemari yang besar, dan tak ada tempat tidur yang terasa sangat luas. Yang ada hanya beberapa perabot yang masih tertutup kain putih.
“Jendela?”
Mark yang teringat pada mimpinya pun berbalik ke arah jendela menatap daun jendela yang terbuka. Gorden melambai pelan, angin bertiup bersama bisik-bisik kecil dari luar sana, piano berdenting, jam berdentang, jarum-jarumnya terdengar berputar sangat keras memekik, gorden kembali melambai bergerak lebih cepat kali ini, dan tiba-tiba saja suara dentuman keras terpecah bersama dengan bayangan putih yang menerobos masuk.
“MIKEL!!! KENAPA KAU BERBOHONG! KAU TIDAK DATANG! AKU MENUNGGUMU DI ATAS ALTAR DAN KAU TIDAK DATANG! KAU MEMBOHONGIKU!”
Nafas Mark rasanya terbatas, kerongkongannya terasa tercekik. Sosok di depannya berwajah hancur bekas terbakar, pakaiannya terkoyak dan aroma angus tercium di dalam ruangan.
“MIKEL! JAWAB AKU! MIKEL!”
“Mikel?”
“Mark?”
Mark tersentak untuk kedua kalinya, kali ini pakaian yang dikenakan benar-benar basah. Dia meletakkan telapak tangannya di atas dada. Detak jantungnya benar-benar terlalu cepat hingga bernafas pun rasanya berat.
“Tuan muda? Anda sudah bangun? Ini hampir tengah hari. Tuan Muda?”
Mark melirik ke arah meja, dan kali ini jam menunjukkan pukul 10.28 pagi. Ia kemudian menatap ke arah jendela, daun jendela tertutup dan cahaya matahari sudah terik. Tidak ada suara piano, tidak ada suara dentuman atau hal-hal aneh, ia sudah keluar dari mimpinya yang aneh.
“Aku sudah bangun bi, aku akan turun sebentar lagi.”
[ to be continue ]
