Work Text:
Berat rasanya ketika harus meninggalkan orang terkasih demi pekerjaan. Saat memegang ganggang pintu, hembusan napas kasar tercipta. Tangannya sudah memegang koper dan bersiap untuk ditarik, sementara raga belum siap untuk berangkat.
Seungcheol menoleh sejenak pada sang istri yang masih mengenakan pakaian kerja—kemeja putih, rok span hitam semata kaki, wajah yang masih dipoles dengan dandan, rambut hitamnya pun masih dikuncir kuda. Wanita itu pulang lebih awal demi mengantarnya pergi, tetapi tak bisa berhenti di bandara sebagai saksi mereka benar-benar berpisah untuk sementara karena hubungan yang ditutupi.
Wanita itu melambaikan tangan dan mengulas senyum tipis, tetapi Seungcheol belum bisa ikhlas untuk pergi walau hanya sebentar.
Dia berlari ke arah wanitanya dan menghambur pelukan erat. Tur yang memisahkan jarak dan waktu untuk sementara membuat Seungcheol bimbang. Dia akan jauh dari sang wanita, sulit pula mencocokkan waktu ketika berbeda beberapa belas jam.
"Tunggu aku," ucapnya.
Ara mengangguk sembari mengelus punggung sang pria. "Aku selalu menunggumu di sini."
"Tapi aku takut karena jauh darimu."
"Aku akan baik-baik saja," Ia menenangkan, menepuk pelan punggung lebar sang pria—yang menenggelamkan tubuhnya. "Yakinkan dirimu, ya?"
Seungcheol melepas pelukan, masih merasa bimbang tetapi berusaha untuk tenang. Jika sang wanita mengatakan bahwa dia akan baik-baik saja, maka dia harus meyakinkan dirinya.
Tangannya mengelus pipi Ara dan tersenyum, "Love you."
Ara mengangguk, mengulum bibir dan mengelus lengan sang pria. "Me too."
