Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-10-30
Words:
699
Chapters:
1/1
Kudos:
10
Hits:
91

peron

Work Text:

Tsukinaga Leo selalu ada di sana, bersama koran-koran di dekapan. Kuncir duanya jatuh di pundak, dan matanya selalu tertawa. Ia terlihat seperti penjaja koran biasa, yang berlalu-lalang di antara para manusia, berharap-harap agar ada manusia baik hati yang membeli koran-korannya. 

Leo dengan gesit menyelinap di antara langkah-langkah sepatu dan seretan koper, senyum tidak pernah luntur dari wajahnya yang terbasuh cahaya matahari sore.

Lalu ada Sena Izumi, pemilik koper yang nyaris mengeluarkan sumpah-serapah karena diburu waktu. Izumi membungkuk di antara lalu lalang sambil melirik jam dinding stasiun. Lima puluh menit tersisa jelang pertemuan. Jarak perjalanan memakan hampir empat puluh menit, berarti hanya tersisa sepuluh menit untuk membenarkan roda-roda kopernya.

Keretanya akan datang! Sial, aku bisa terlambat!

Leo yang sudah memperhatikan sosok Izumi sejak pemuda itu menyeret paksa kopernya pun seakan mendapat sebuah keberuntungan. Sambil merapikan kuncirnya yang melonggar, gadis itu segera berjalan menuju Izumi.

Leo mempercepat langkah dan membungkuk hingga kuncirnya berayun turun. "Ada masalah, Tuan? Satu koran dan aku bisa menyelesaikan masalahmu!"

Izumi berjengit kaget. Apa-apaan perempuan ini? Muncul entah dari mana dan tiba-tiba menawarkan koran? Dia tidak butuh koran! Yang dia butuhkan adalah roda koper yang tidak macet agar ia lekas sampai ke tempat tujuan. Pemuda itu melirik jam dinding besar yang berumur lebih tua dari stasiun. Empat puluh lima menit tersisa.

Matilah jika terlambat. 

Izumi menghabiskan dua menit lagi untuk memperbaiki roda.

Leo masih mengamati. Merasa diacuhkan, kali ini perempuan itu ikut berjongkok seperti Izumi. Satu menit tiga puluh detik. Leo meniup helaian poninya dengan bosan. Mungkin orang ini tidak mudah teralihkan, apalagi saat panik dan genting. Maka Leo segera mengacungkan salah satu koran yang ia bentuk menjadi sebuah gulungan tepat di depan hidung Izumi.

"Hei, Tuan! Kalau rodanya dicongkel seperti itu, malah bisa copot, tahu!"

Pemilik koper bernama Izumi berjengit lagi. Kali ini matanya membelalak. Hah?! Berani-beraninya perempuan itu membentak dirinya. Siapa perempuan penjaja koran ini yang berani memarahi seseorang seperti dirinya?

Berhasil mendapatkan perhatian si pemilik koper, Leo menghela napas. "Aku minta maaf. Tapi dengar, ya, Tuan Yang Mudah Panik. Roda-roda koper ini macet. Aku bisa memperbaiki."

Izumi memicingkan mata. Curiga. Aku tidak mudah panik. 

"Beli satu koranku!" Leo mengacungkan satu jari.

"Beli satu koranku, dan koper Tuan tidak akan macet lagi."

Izumi mendengus dan menjawab tidak masalah. Leo meletakkan koran-korannya dan mulai mengutak-atik roda koper. Salah satu poros rodanya terganjal sesuatu. Benar-benar mudah, sebenarnya, kalau saja Izumi tenang dan tidak panik. Yah, mungkin karena ia buru-buru.

Putar, putar, putar. Beres! 

Leo tersenyum puas.

"Selesai, Tuan!"

Tidak mendapat tanggapan, Leo segera menoleh. Ia mendapati sang pemilik koper sedang menelepon di dekat kursi peron. Itu adalah telepon umum yang bekerja setelah penggunanya memasukkan koin. Ceroboh sekali, pikir Leo.

Bisa-bisanya dia meninggalkan koper di tangan orang asing. Leo bisa saja membawa lari koper ini. Sayangnya, ia adalah sosok yang baik hati, jadi perempuan itu akan menunggu kopernya.

Tuan pemilik koper itu harus membeli dua koran, Leo bertekad.

Izumi menaruh gagang telepon. Menarik napas panjang. Langkah-langkahnya saat kembali terlihat lebih tenang. Pasti percakapan di telepon itu berita baik.

"Apa Tuan seorang pengusaha?" Leo putuskan bertanya, selagi Izumi memilih koran dengan berita utama paling menarik. Sekejap, Izumi menatap balik Leo, hanya sedetik.

"Aku model."

"Buru-buru, ya?"

"Ada kecelakaan kecil, tapi sudah ditangani."

"Nggak buru-buru lagi?"

Izumi mengangguk. Ia mengulurkan selembar uang untuk dua koran. "Terima kasih. Kuharap kopernya tidak macet lagi."

Leo tersenyum senang. "Tentu saja! Bisa Tuan buktikan! Terima kasih... Tuan Bermata Biru!"

Suara lokomotif terdengar dari jauh. Kaki-kaki melangkah, kursi-kursi segera ditinggalkan, koper-koper diseret, lembar-lembar tiket digenggam dalam jari-jari. Stasiun tua ini selalu sibuk. Leo hampir berjalan pergi, menawarkan koran-koran yang belum terjual sebelum ia beristirahat. Beberapa penumpang yang baru saja turun biasanya cukup bermurah hati. Jika beruntung, ia bisa menemukan orang lain dengan roda koper yang macet lagi seperti pemuda tadi.

Namun Izumi angkat bicara, "Sudah petang, kenapa koranmu masih banyak?"

Rupanya Tuan Bermata Biru ini pengamat yang baik. Leo tersenyum lebar. "Ya. Adik kecilku sedang sakit, jadi aku harus menjual lebih banyak koran untuk membeli obat. Semoga pekerjaan Tuan lancar!"

Entah mengapa kalimat kedua perempuan itu sedikit mengganggu Izumi. "Tunggu,"

Leo mengerjap, kepalanya sedikit mendongak untuk melihat mata biru milik Izumi, "Tuan masih perlu bantuan?"

Sang model menunjuk koran-koran di dekapan Leo. "Biar kubeli semua."