Actions

Work Header

Fallen Flower

Summary:

Cinta tak berbalaskan tak pernah berakhir baik. Perasaan tak ingin egois membawa lubang di hatinya untuk semakin besar dan tak akan bisa tertutup lagi.

Notes:

Cerita ini sudah pernah di upload dengan judul yang sama di platform Wattpad pada username @/hhajss. Aku cuma mau upload ulang disini.

Happy Reading~

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Jatuh cinta tidak pernah semenyakitkan ini. Mengenal sosok yang penuh perhatian dan lembut membawa rasa aneh yang bersemanyam dihatinya. Riku, adalah orang yang merasakan hal menyakitkan yang dimanakan cinta pada seorang kakak tingkat sekaligus temannya yang bernama Sion.

Riku pertama kali mengenal Sion adalah di awal tahun ajaran universitas. Sion merupakan kakak tingkatnya yang dikenal mudah bergaul, baik hati, dan tidak pernah merasa lebih dari orang lain. Pertemuan pertama mereka adalah saat Riku kesulitan mencari ruang kelas di gedung yang besar dan berliku.

Saat itu, Riku sedang berdiri di tengah lorong, memegang peta kampus yang hampir sobek karena dilipat-lipat terus. Ia mengerutkan dahi, memperhatikan nomor-nomor ruangan yang semakin membuatnya bingung.

"Kamu butuh bantuan?" Tiba-tiba, sebuah suara hangat menyapanya dari belakang.

Riku berbalik dan melihat seorang pemuda tinggi yang berdiri dengan jaket santai dan tas selempangnya. Awalnya, Riku merasa canggung dan sedikit menunduk, tapi pemuda itu terus menunggu dirinya dengan sabar.

"A-aku... sedang mencari ruang kuliah untuk kelas psikologi," jawab Riku pelan.

"Oh? Ruang berapa?"

"Ruang A207"

"Ah, aku tahu ruangannya. Kebetulan kelas kita juga searah. Ayo, kuantar," kata pemuda itu sambil tersenyum.

Ada ketulusan dalam senyumnya, membuat Riku merasa nyaman walaupun biasanya ia gugup berbicara dengan orang asing. Sepanjang perjalanan mereka mengobrol pelan dan dari sanalah Riku tahu bahwa pemuda itu bernama Sion.

Sejak saat itu, mereka sering bertemu dalam kegiatan-kegiatan kampus. Sion selalu dengan senang hati membantu Riku ketika ia membutuhkan bantuan, baik sekadar mengantarnya ke kelas atau membantunya membawa tumpukan buku dari perpustakaan. Kebaikan hati Sion perlahan-lahan membuat Riku merasa lebih nyaman bersamanya, bahkan merasa aman dan dihargai.

Hari-hari pun berlalu dan Riku menyadari bahwa perasaannya pada Sion perlahan berubah. Senyumnya yang tulus, caranya mendengarkan, dan sikap pedulinya tanpa pamrih, membuat Riku mulai merasa jatuh hati.

Dirinya tahu bahwa Sion sudah memiliki kekasih, seorang gadis ceria yang sering ia lihat berjalan beriringan dengan pemuda itu di koridor. Namun apa boleh dibuat, perasaan itu tumbuh begitu saja tanpa bisa ia cegah.

Sayangnya, Sion selalu memperlakukan Riku dengan penuh perhatian, seolah-olah ia adalah sosok penting dalam hidupnya. Dan di sisi lain, Riku juga sadar bahwa semua itu hanyalah bentuk kebaikan Sion sebagai teman dan sahabat.

Meskipun pahit, Riku mencoba mengabaikan perasaannya, berpikir bahwa lambat laun perasaan itu akan memudar dengan sendirinya. Namun, dirinya tidak tahu bahwa perasaannya yang terpendam justru akan membawanya pada penderitaan yang perlahan-lahan menyesakkan.

Suatu pagi, Riku bangun dengan rasa sakit yang aneh di dadanya. Awalnya ia berpikir itu hanya sakit biasa, namun seiring berhalannya waktu, rasa sakit itu menjadi semakin parah.

Karena suatu ketika, saat Riku sedang berada di kelas, ia mulai terbatuk pelan. Dan tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang lembut di mulutnya. Dengan hati-hati, ia memandang telapak tangannya yang basah oleh kelopak bunga kecil, halus, berwarna ungu.

Riku seketika terdiam, menyadari apa yang terjadi padanya. Hanahaki—penyakit yang tumbuh dari cinta yang tak berbalas.

 

☆☆☆

 

Seiring berjalannya waktu, Riku mulai merasakan sesak di dadanya semakin sering terasa. Sakit itu datang dan pergi, terkadang ringan, terkadang membuatnya terbatuk cukup keras.

Dirinya berusaha menyembunyikannya, menahan rasa sakit itu di hadapan orang lain. Namun, ada satu orang yang selalu bisa melihat perubahan kecil pada dirinya—Yushi, sahabatnya sejak kecil yang sekarang berkuliah di kampus yang sama.

Yushi adalah tipe sahabat yang tidak banyak bicara tapi selalu ada, seseorang yang lebih banyak mendengarkan daripada mengomentari. Mereka telah melalui banyak hal bersama sejak masa sekolah, dan meskipun mereka berbeda jurusan di kampus, mereka selalu meluangkan waktu bertemu untuk sekadar berbicara atau berbagi kopi di kafe favorit mereka.

Suatu sore, Riku dan Yushi duduk di sebuah taman kecil di kampus, menatap daun-daun yang tengah berguguran. Riku menunduk, merasa lelah dengan sakit yang semakin sering menyerang. Menyadari ada yang tidak beres, Yushi menoleh ke arahnya, memperhatikan betapa pucatnya wajah Riku akhir-akhir ini.

"Kamu kelihatan lelah," kata Yushi, suaranya datar namun penuh perhatian. "Apa kamu baik-baik saja?"

Riku tersenyum tipis, mencoba menutupi keadaannya. "Hanya kurang tidur. Kelas akhir-akhir ini cukup berat."

Yushi tidak menjawab, hanya mengangguk sambil menyedot kopi dari gelasnya. Ia tidak ingin memaksa Riku untuk bercerita, tapi tatapan matanya seolah menyimpan kekhawatiran yang mendalam. Ia tahu bahwa Riku tidak mudah membuka diri tentang masalahnya. Sebagai sahabat, ia sudah terbiasa memberikan ruang dan waktu untuk Riku agar merasa nyaman.

Hari-hari pun terus berlalu, Riku tetap berusaha bertingkah seolah tidak ada yang salah. Akan tetapi, tak bisa terpungkiri bahwa kondisinya juga semakin parah.

Sore itu, saat Riku dan Yushi berjalan keluar dari kafe, Riku tiba-tiba terbatuk keras. Ia cepat-cepat menutup mulutnya dengan tangan, berharap Yushi tidak melihat, tapi ternyata ada setitik darah dan kelopak bunga yang jatuh ke tanah.

Yushi melihatnya sekilas, lalu segera memegang bahu Riku. "Riku? Kamu kenapa? Aku yakin itu bukan batuk biasa, kan?"

Riku terdiam, menyadari bahwa ia tak lagi bisa menyembunyikan kenyataan ini dari sahabatnya. Ia terpaksa menceritakan apa yang sedang terjadi, tentang perasaannya pada Sion, tentang hanahaki yang kini menggerogoti tubuhnya perlahan dan tentang semua rasa sakit yang ia rasakan selama ini.

Hatinya perih saat menceritakan semua itu, Ia menahan air mata yang sudah menggenang, merasa malu sekaligus putus asa.

Yushi mendengarkan dalam diam, ekspresinya tetap tenang meskipun hatinya terasa ikut sakit mendengar penderitaan Riku. "Kamu tahu, Riku... kamu bisa membicarakan perasaanmu dengan Kak Sion. Mungkin itu akan membantu."

Riku menggeleng lemah. "Aku tidak ingin membebaninya. Dia sudah bahagia dengan seseorang. Lantas mengapa aku harus mengganggu kebahagiaan itu hanya untuk menyelamatkan diriku sendiri?"

Yushi menatapnya dalam-dalam, ingin mengatakan bahwa pemikiran Riku tidaklah tepat. Namun, ia tahu Riku cukup keras kepala untuk berpegang pada pendiriannya. "Tapi, Riku... kamu tidak bisa membiarkan dirimu seperti ini terus."

Riku tersenyum pahit. "Yushi, kamu tahu aku bukan orang yang suka membuat orang lain merasa bersalah. Biarkan saja ini berlalu. Mungkin, suatu hari nanti... perasaan ini akan hilang dengan sendirinya."

Yushi ingin mengatakan sesuatu yang bisa mengubah pikiran Riku, tapi ia menahan diri. Sebagai sahabat, ia hanya bisa menghibur Riku dengan kehadirannya, meski dalam hati ia merasa sedih melihat Riku terjebak dalam perasaan yang menyakitkan.

Waktu terus berlalu seperti itu, dimana Riku tetap pada pendiriannya untuk menahan perasaannya. Sion sendiri terus bersikap baik padanya, tanpa menyadari bagaimana kebaikan kecil itu perlahan-lahan menghancurkan Riku.

Tapi di lain sisi, Yushi semakin dibuat khawatir dengan keadaan Riku yang tak pernah membaik. Meski dirinya tidak pernah menunjukkan perasaan itu secara langsung, dirinya selalu memastikan Riku memiliki cukup waktu untuk beristirahat, membantu membawakan buku-buku kuliahnya, bahkan menemaninya tanpa perlu berbicara.

Di suatu sore yang berangin, tiba-tiba Yushi membawa Riku ke sebuah bukit kecil di pinggiran kota yang jarang mereka kunjungi. Mereka berjalan beriringan sampai terlihat sebuah pohon tua yang mulai menguning daunnya di ujung bukit.

"Aku ingat kamu suka pemandangan di sini," kata Yushi sambil mengajak Riku duduk di atas batu yang menghadap ke hamparan bunga liar.

Riku menatap kelopak-kelopak bunga liar yang berwarna-warni itu dengan sendu, hatinya sedikit tenang meski rasa sakit di dadanya semakin terasa. "Terima kasih, Yushi. Kamu selalu tahu apa yang aku butuhkan," ujarnya, tersenyum kecil.

Yushi hanya mengangguk, menatap langit yang mulai merona dengan warna jingga. Dalam hatinya, ia tahu bahwa jika saja Riku memilih untuk mencintainya dan bukan orang lain, semua rasa sakit ini mungkin tak akan terjadi.

Tapi ia tidak ingin memaksa perasaannya atau memberi beban lebih pada Riku. Baginya, kebahagiaan Riku lebih penting dari apa pun. Maka, hal yang bisa dirinya lakukan adalah terus menemani sahabat dan pujaan hatinya itu dalam diam.

 

☆☆☆

 

Hari terus berjalan seperti biasanya, dan setiap kali Riku berdua bersama Sion, ia merasa ada semacam kenyamanan yang sulit ia temukan di tempat lain.

Sion bukan hanya baik hati, tapi juga punya perhatian kecil yang membuat orang di sekitarnya merasa dihargai. Sion tidak pernah segan mendengarkan cerita-cerita kecil Riku, dan meskipun Riku tahu itu hanya bentuk kebaikan sederhana, hal itu membuat perasaannya semakin dalam.

Suatu siang, Sion mengajak Riku ke perpustakaan kampus. Mereka duduk bersebelahan, masing-masing sibuk dengan tugasnya, namun ada kehangatan yang terasa di antara mereka. Tak jarang Riku melirik Sion, melihat wajahnya yang serius memandang layar komputer. Dan sesekali Sion juga menoleh, menyadari tatapan Riku, dan tersenyum hangat.

"Riku, kamu capek tidak? Setelah ini ayo istirahat, jangan terlalu bersemangat ngerjain tugasnya," kata Sion sambil setengah bercanda.

Riku merasa pipinya memerah. Merasa malu sekaligus kaget karena sedari tadi dirinya terlalu fokus ke laptop. "Eh, iya Kak. Kalau gak bersemangat nanti tugasnya lari terus, gk selesai-selesai. Jadi ayo selesaikan dengan cepat, biar kita bisa istirahat."

Melihat respon Riku yang lucu, Sion terkekeh gemas lalu kembali mengerjakan tugasnya. Tak berselang lama tugas mereka sudah clear semua dan Sion pun mengajak Riku untuk segera berberes dan beristirahat.

Mereka berjalan di halaman kampus yang luas, angin sepoi-sepoi menggerakkan rambut halus Riku, dan sinar matahari sore memberikan cahaya hangat yang menenangkan. Di tengah jalan, Sion tiba-tiba berhenti dan menatap ke arah Riku dengan tatapan yang sulit diartikan. Hal itu membuat Riku bingung sekaligus penasaran.

"Kamu baik-baik saja, kan? Belakangan ini kamu kelihatan sedikit... lelah," ujar Sion dengan nada penuh kekhawatiran.

Riku terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Sion selalu punya cara untuk memperhatikan hal-hal kecil, dan itu membuat Riku merasa dihargai, walaupun di sisi lain rasa sakit di dadanya semakin kuat. Ia tersenyum, mencoba menutupi kenyataan. "Aku baik-baik saja kak. Mungkin hanya terlalu banyak tugas saja."

Sion hanya bisa mengangguk, meskipun sorot matanya masih tampak khawatir. "Kalau ada sesuatu bilang ya, Riku. Aku ada di sini kalau kamu butuh bantuan."

Hati Riku terasa bergetar. Kata-kata itu membuatnya merasa begitu nyaman, tapi di saat yang sama, rasa sakitnya semakin tajam. Ia sadar bahwa Sion hanya bersikap sebagai teman, namun perasaan cintanya yang tak terbalas malah semakin dalam.

 

☆☆☆

 

Pada suatu malam, ketika Riku dan Yushi sedang minum teh di kafe kecil di pinggir kota. Yushi memperhatikan bahwa Riku semakin sering batuk. Wajahnya tampak semakin pucat, dan tangannya sedikit gemetar saat memegang cangkir teh.

"Riku..." panggil Yushi dengan suaranya yang halus, "tidak bisakah kamu mempertimbangkan untuk berbicara dengan Kak Sion? Aku tahu ini sulit, tapi—"

Riku memotongnya dengan senyuman lemah. "Yushi, Aku sudah memikirkan itu kok. Tapi aku tidak ingin dia merasa bersalah hanya karena aku mencintainya. Bagiku... ini sudah cukup. Memendam perasaan ini adalah pilihanku sendiri."

Yushi menghela napas, menatap Riku dengan tatapan yang sulit ditebak. Di dalam hatinya, ia ingin Riku sembuh, ingin Riku membebaskan diri dari rasa sakit itu. Namun, ia juga tidak ingin memaksanya untuk mengubah perasaan yang ada.

Menyerah, akhirnya Yushi hanya menepuk bahu Riku pelan, berharap sentuhan sederhana itu cukup untuk menguatkannya.

 

☆☆☆

 

Hari-hari terus berlalu, dan Riku semakin merasa bahwa tubuhnya semakin melemah.

Pada suatu hari di taman kampus, Riku sedang duduk sendiri ketika Sion datang dengan membawa minuman hangat untuknya. Sion tahu Riku menyukai teh hijau dengan sedikit madu, dan ia memperhatikan detail itu sejak lama.

"Ini buatmu," kata Sion, menyerahkan secangkir teh yang mengepul hangat. "Aku ingat kamu bilang kamu suka teh ini."

Riku terdiam sesaat, menatap cangkir di tangannya dengan campuran perasaan yang sulit diungkapkan. Sion bahkan mengingat hal kecil seperti ini, dan itu membuat hatinya semakin jatuh cinta.

"Terima kasih, Kak... kamu baik sekali," ucapnya pelan, mencoba menyembunyikan kegembiraan yang bersamaan dengan rasa sakit.

Sion merespon dengan senyuman, matanya menyiratkan ketulusan. "Riku, kamu teman yang penting bagiku. Aku senang bisa melakukan hal kecil ini untukmu."

Di momen itu, Riku menyadari betapa dalamnya perasaan yang ia miliki untuk Sion. Namun, ia juga tahu bahwa ia harus menerima kenyataan. Bunga yang tumbuh di dalam dadanya semakin berkembang, dan seiring berjalannya waktu, ia merasa akan sulit untuk mempertahankan rahasia ini lebih lama.

 

☆☆☆

 

Hari-hari terakhir Riku dilalui dalam keheningan yang mendalam. Hanahaki telah merenggut banyak hal darinya-kesempatan untuk mencintai tanpa rasa sakit, kesempatan untuk berbagi kebahagiaan tanpa penyesalan. Ia perlahan menjauh dari Sion dan mulai lebih banyak menghabiskan waktu sendirian, bersama keluarganya. Bahkan seorang Yushi pun tidak diperkenankan berada disisinya.

Sampai suatu hari, Yushi mendapat kabar yang mengejutkan. Riku telah meninggal dunia dalam tidur malamnya, meninggalkan dunia ini dengan tenang dan tanpa kesakitan yang terlihat. Yushi tentu saja terkejut, merasa terpukul, namun ia berusaha tetap tegar, dan merelakan sahabat yang sangat ia sayangi itu untuk pergi.

Pada hari pemakaman Riku, Yushi berdiri di dekat makamnya dengan hati yang terasa hampa. Ia telah kehilangan sahabat terbaiknya, seseorang yang selalu menjadi bagian penting dalam hidupnya. Di antara sesak di hati dan kesedihannya, Yushi meremas sebuah amplop surat dengan namanya yang tertulis di atasnya dengan tulisan tangan Riku.

Surat itu diberikan oleh keluarga Riku pada Yushi sebelum mereka pergi meninggalkan area pemakaman. Sekarang sudah 30 menit berlalu dan Yushi masih tidak mampu untuk membuka isinya, takut air mata yang ia pendam akan jatuh.

Tapi setelah menenangkan diri sebentar, Yushi Memberanikan diri untuk membuka lem pada amplop yang berisi surat tersebut dan mulai membaca isinya dengan perlahan.


Untuk Yushi

 

Maafkan aku yang tidak pernah bisa berbicara banyak padamu tentang apa yang aku rasakan. Kamu selalu ada untukku, dan aku tidak tahu bagaimana cara membalasnya. Aku ingin kamu tahu betapa aku bersyukur memiliki sahabat sepertimu. Bahkan dalam masa-masa sulitku, kamu tetap berada di sisiku, tanpa pernah meminta apapun. Kamu mungkin tidak pernah tahu, tapi kehadiranmu sangat berarti bagiku.

Yushi, jangan pernah merasa bahwa kamu kurang bagiku. Kamu adalah sahabat terbaik yang bisa dimiliki siapa pun. Aku harap kamu bisa hidup bahagia, meski tanpa aku. Terima kasih untuk semua kenangan yang kita buat bersama.

 

Salam sayang, Riku


Tubuh Yushi langsung luruh di samping makam Riku. Air mata yang sudah ia tahan sedari tadi langsung keluar tanpa perlawanan. Seluruh energinya seolah tersedot keluar setelah membaca surat terakhir dari orang yang disayanginya.

Yushi menangis meraung karena dunianya seolah runtuh. Meremas kedua tangannya kuat sampai lecet tanda emosi yang sudah tak terbendung.

Dengan tangan gemetar, dirinya mengelus pelan batu nisan Riku dan menatap nama yang tertera di sana dengan nanar.

"Riku.... tak ada kata yang bisa ku ucap selain terima kasih. Terima kasih sudah hadir di hidupku, menemani kesepian dan mewarnai setiap hariku. Terima kasih karena sudah berjuang, sekarang kamu bebas."

Kemudian, tubuhnya ia bawa berdiri sambil masih menatap tempat peristirahatan terakhir sahabat hatinya.

"Selamat tinggal, Riku," bisik Yushi, suaranya bergetar. "semoga kamu bisa lebih bahagia diatas sana."

Saat senja turun dan angin malam mulai berembus, Yushi tahu bahwa meski Riku telah pergi, cintanya pada sahabatnya itu akan tetap hidup, menjadi kenangan indah yang abadi dalam hatinya.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

🍂🍂🍂

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Keesokan harinya, berita kepergian Riku sudah menyebar di seluruh sekolah, dan tentu saja berita itu juga sampai ke telinga Sion. Dirinya begitu terpukul akan kepergian teman sekaligus sahabat baiknya yang secara tiba-tiba. 

Sion bahkan hanya bisa termenung di bangku taman kampus sendirian. Ditemani oleh suara burung yang berkicau lembut seolah paham kesedihan yang ada di hati Sion.

Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki lain yang membuyarkan lamunan Sion. Dirinya menoleh pelan dan menemukan seorang laki-laki yang dikenal Sion sebagai sahabat Riku sejak lama—Yushi. 

Terlihat dengan langkah ragu, Yushi menghampiri Sion yang masih memandang dengan tatapan kosong. Dalam hati, Yushi tidak tega untuk menyampaikan suatu hal yang menjadi alasannya berada disini.

Saat sudah saling berhadapan, dengan tangan sedikit bergetar Yushi menyerahkan sebuah amplop surat kepada Sion. Awalnya Sion bingung dan tak segera menerima, akan tetapi setelah melihat ada nama dengan tulisan tangan yang familiar, membuatnya tanpa ragu mengambil amplop itu dan langsung membukanya.

Dalam diam, Yushi memperhatikan Sion yang membaca kata-kata yang tertuang di dalam surat itu dengan pandangan sedih. Ada setetes air mata yang jatuh dengan lembut membasahi pipinya.


Kak Sion...

 

Aku tidak pernah tahu bagaimana mengungkapkan perasaanku, jadi kuputuskan menulisnya di sini. Mungkin aku hanya ingin mengungkapkan ini agar hatiku merasa lega, meski aku tahu kamu tak akan pernah membaca ini sampai aku pergi.

Kak, selama ini aku menyukaimu, dan mungkin perasaan ini tumbuh terlalu dalam. Tapi aku tahu kau sudah memiliki orang yang berharga dalam hidupmu.

Maafkan aku, Kak Sion, bukan maksudku untuk membuatmu merasa terbebani atau bersalah. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku merasa beruntung bisa mengenalmu, bisa melihatmu bahagia meskipun dari jauh. Aku hanya ingin kamu terus bahagia, seperti yang selalu kamu tunjukkan padaku.

Jangan merasa bersalah karena apa yang terjadi padaku, karena ini adalah pilihanku. Aku memilih untuk memendam perasaanku, dan jika itu membuatku harus pergi, maka biarlah begitu.

Selamat tinggal Kak Sion. Terima kasih telah menjadi bagian dari hidupku, meskipun hanya sejenak.

 

Salam Hangat, Riku


Membaca surat itu, Sion merasa dadanya sesak. Ia menyadari bahwa kehadirannya telah memberikan harapan pada Riku, harapan yang tak pernah bisa ia balas. Rasa bersalah menyelimuti hatinya, ia merasa telah menyakiti seseorang yang begitu baik tanpa pernah menyadari kedalaman perasaannya.

Kak Sion menatap langit yang mendung, berbisik pada angin yang berembus, "Maafkan aku, Riku... Aku tak pernah tahu..."

Yushi yang melihat itu ikut merasa sedih, dirinya tahu bagaimana rasanya ditinggalkan, apalagi Sion pasti memiliki rasa bersalah yang besar atas ketidakmampuannya untuk membalas rasa cinta Riku. Jadi dengan perlahan, Yushi duduk disebelah Sion dan ikut memandang langit diatasnya dengan sendu.

"Tolong jangan merasa bersalah, ini semua sudah menjadi keputusan Riku. Kita yang ditinggalkannya hanya bisa berdoa semoga dia bahagia disana."

Sion mengangguk pelan sambil tersenyum lemah, "Iya, setidaknya dia sudah tidak merasa sakit lagi."

 

•••

 

"Terima kasih, Riku. Setelah ini istirahatlah dengan tenang tanpa rasa sakit. Jangan khawatir, kenanganmu akan tetap hidup di hati kami."

 

•••

 

.

 

.

 

.

 

END

Notes:

Endingnya okelah ya :"))
Agak merasa bersalah juga sama Riku 😭 Tuh anak lagi sakit gk ada kabar, malah kubuat meninggal di sini, jahat kali aku 😭

Btw, makasih yang udah nyempetin waktu buat baca. Hehe, lop yu ol 😘 Apabila ada salah kata dll, mohon di tegur dan jangan lupa buat di maafin, wkwkwk.

Semoga sukaaa
Bubay~