Chapter Text
Wonwoo menatap chat room dengan bubble chat terakhir dari dirinya- still no reply. It’s been months. No replies for months yet Wonwoo still checking up that chat room from time to time. Siapa tahu ada pesan baru. Siapa tahu akhirnya dibalas. Entah siapa yang tahu. Yang pasti bukan Wonwoo. Mungkin Tuhan juga belum tentu.
“Ampun masih aja lo Won nungguin si anak Unseb.” Celetukan Soonyoung membuyarkan lamunan Wonwoo.
“Apa sih. Enggak kok,” sanggah Wonwoo sambil memasukan ponselnya ke tas.
“Jujur gue jadi nggak enak sama lo, karena gue yang waktu itu minta lo buat gantiin gue handle kunjungan dari eksternal. Kalo tau bakal gini, nggak bakal gue kasih si Mingyu itu bahkan buat seruangan sama lo.” Wonwoo memutar bola matanya mendengar penjelasan Soonyoung.
“Btw, anaknya mau ikut exchange ke Eropa gue liat di IGnya. Lo masih follow dia kan?”
“Masih follow, tapi gue mute. Males gue liat updatenya.”
“Update bisa, tapi chat lo nggak bisa ya Won?” Wonwoo menghadiahi Soonyoung tatapan tajam atas ucapannya itu.
“Males juga gue sama lo jadinya.” Wonwoo beranjak dari meja kantin.
“WON MAAFIN GUEEE. BECANDA DOAANGG” erang Soonyoung melihat punggung Wonwoo menjauh.
“Nggak gue kasih pinjem fotokopian punya kating tau rasa lo.”
“WOOON”
3 bulan sebelumnya
“Ci, udah cek yang gue chat?” Tanya Seungcheol setelah rapat koordinasi mingguan selesai.
Soonyoung yang tadinya sudah menuju pintu sekretariat himpunan, langsung masuk lagi dan duduk di sebelah Seungchol. “Gue udah cek lagi jadwalnya kongres, nggak bisa Pak tanggal segituuu. Kudu banget nih gue hadir di sana, soalnya himpunan kita belum pernah absen juga kan dari jamannya Kak Baekho di HMIF. Dari sana nggak bisa geser aja apa visitnya?” Soonyoung, atau Hoshi, atau Oci (tergantung kenalannya di mana dan kapan) menopang dagunya di atas meja kayu kecil tempat Seungcheol meletakan buku catatannya.
“Dari sana bisa geser paling ke minggu ke-2 Oktober, tapi kita kan waktu itu pasti udah sibuk banget ngurusin wisuda. Eh jangan lupa nanti pastiin pas wisuda kita dapet urutan awal loh, Ci. Jangan sampe diserobot lagi kayak pas kemaren,” jelas Seungcheol.
“Gampang Pak buat wisuda gue udah ngetag langsung ke calon ketua wisudanya gara-gara kemaren kita diselak. Ini nih visit yang harus dipikirin. Ada-ada aja lagi mereka kenapa mau visit ke himpunan kita dah? Jurusan kita aja beda…”
Seungcheol mengangkat bahunya. “Enggak tau juga kenapa malah visit ke himpunan kita. Mereka bakal visit ke HMS UK juga kok seminggu sebelum ke kita. Katanya sih mau ke kita juga karena himpunan kita udah lama, jadi mereka mau belajar dari kita sekalian liat gimana himpunan di luar kampus mereka sendiri.” Seperti Soonyoung, Seungcheol ikut menopang dagunya di meja kecil itu. “Kalo bentrok sama acara pusat ya mau gimana ya, tapi sayang juga sih kalo kita tolak visit dari mereka…”
Wonwoo yang tidak ada kelas dan kegiatan setelah rapat memilih mengerjakan tugas di sekre. Rasa penasaran muncul saat dia melihat ketua himpunan dan ketua divisi eksternalnya yang tampak berpikir keras. “Ada apa sih?”
“Ini Won, dari HMS Unseb mau visit ke HMIF. Gue nggak bisa handle soalnya deketan sama acara pusat. Anak-anak gue juga belum bisa handle ginian, nggak ada lagi-“ Soonyoung berhenti bicara dan dengan kecepatan kilat Soonyoung berbalik ke arah Wonwoo yang dari tadi dia punggungi. “Won lo aja PIC-nya!”
Seungcheol dan Wonwoo langsung duduk tegak mendengar ucapan Soonyoung.
Dalam 30 menit, Wonwoo tiba-tiba sudah diberi rangkuman acara visit dari Seungcheol dan kiat-kiat menghadapi tamu eksternal dari Soonyoung.
“Thanks ya Won. Untung ada lo.”
“Gue belum setuju?” Sanggah Wonwoo.
“Setuju aja lah Won. Nanti gue yang ngomong ke Joshua, gue pinjem lo dulu bentar buat ini. Lagian sekarang-sekarang ini lagi kosong kan lo? Proyek tim sekre udah selesai semua kan tadi Joshua updatenya. Kuliah lo juga nggak penuh kan?”
Kalau sudah Seungcheol yang minta, berat juga untuk Wonwoo menolak. Wonwoo mengangguk pasrah.
“Thanks Won, sekali lagi. Nanti gue info ke kahim sana biar PIC nya kontak lo langsung.”
“Hai Wonwoo. Aku Mingyu, PIC dari HMS Unseb. Salam kenal yaa :)”
Itu bubble chat pertama yang Wonwoo dari terima Mingyu. Tepat 4 jam setelah Seungcheol mengabari Jihoon, kahim HMS Unseb, kalau himpunannya bisa menerima visit mereka. Setelahnya Wonwoo dan Mingyu bertukar entah puluhan atau mungkin ratusan bubble chat.
Percakapan Wonwoo dan Mingyu awalnya berkisar tentang acara visit ke himpunan Wonwoo, kemudian merambat ke kehidupan sehari-hari masing-masing. Tugas proyek Wonwoo, kegiatan unit mahasiswa Mingyu, tugas kuliah, kuis dadakan, semuanya saling mereka ceritakan.
Kehadiran Mingyu membawa warna tersendiri ke dalam hidup Wonwoo. Silver metalik yang jika bertemu cahaya akan merefleksikan banyak warna - seperti itu warna Mingyu bagi Wonwoo. Wonwoo menyukai warna-warna terang (meskipun apa-apa yang menempel pada tubuhnya tidak mencerminkan itu) dan Mingyu adalah warna paling terang yang pernah Wonwoo jumpai.
Pertemuan pertama Wonwoo dan Mingyu dilakukan di lapangan kampus Wonwoo untuk mendiskusikan lebih detail tentang acara mereka. Matahari sudah mulai tinggi, tapi di sekitar lapangan kampus Wonwoo ditanami pohon-pohon besar rindang sehingga panasnya sang surya tidak terlalu terasa di kulit para mahasiswa. Mingyu yang mengusulkan agar mereka bertemu setelah jam makan siang di kampus Wonwoo karena Wonwoo masih ada kelas lagi jam 3 sore, sedangkan Mingyu sudah kosong setelah kelasnya jam 10 pagi hari itu. Wonwoo sempat menawarkan dirinya untuk titip absen saja untuk kelas jam 3-nya tersebut, toh jatah absennya masih utuh karena tidak pernah dia pakai, tapi Mingyu menolak tawaran tersebut. ‘Sayang tau pake jatah absen cuma buat diskusi ginian. Mending kamu simpen buat nanti siapa tau butuh kan.’
Sesosok tinggi mengenakan baseball cap, jeans gelap, dan jaket hitam terlihat kebingungan setelah melewati gerbang kampus yang dihias tanaman berbunga ungu. Wajah yang awalnya bingung itu karena pertama kali datang ke kampus orang, berubah semringah begitu mengenali Wonwoo yang duduk menunggu di salah satu meja batu. “Wonuu!” Mingyu menghampiri Wonwoo dengan bersemangat.
Wonwoo menyambut tamunya dengan senyuman yang sama cerahnya. Tangan kanannya diangkat untuk melambai, sembari tangan kirinya merapikan barangnya di atas meja agar Mingyu punya space untuk meletakan tasnya. “Sini, Min.”
Saat sudah sekian waktu bertukar pesan dan beberapa kali rapat koordinasi online, Mingyu membuat panggilan baru untuk Wonwoo, ‘Nu aja ya? Lucu tau.’ Dan sebagai gantinya, Wonwoo memanggil Mingyu dengan Min.
Begitu terduduk di kursi batu, Mingyu langsung mengeluarkan buku catatannya ke atas meja. “Kamu udah makan Nu?” Tanyanya sambil membolak-balikan halaman, seperti mencari suatu catatan.
“Udah tadi ayam geprek. Tadi kamu naik apa ke sini, Min?”
Tangan Mingyu masih sibuk dengan buku catatannya, tapi wajahnya diangkat menatap Wonwoo. “Aku naik travel terus sambung ojek hehe. Kamu makan ayam geprek terus deh, semalem ayam geprek juga kan?”
Cengiran kecil keluar dari mulut Wonwoo. “Enak abisnyaa. Tapi saos yang hari ini aku bedain sama yang semalem biar ada variasi.”
“Ada ajaaa kamu tuh. Anyway Nu, ini aku ada beberapa masukan dari temen-temen di HMS Unseb. Bisa nggak ya nanti di hari H?” Mingyu mengarahkan buku catatannya ke Wonwoo untuk dibaca langsung.
Wonwoo sedikit memiringkan tubuhnya untuk membaca catatan Mingyu.
Mereka berdiskusi cukup panjang. Area meja batu yang tadinya hanya ada mereka berdua mulai ramai karena kelas kuliah umum di dekat situ baru saja selesai. Mahasiswa berhamburan dari kelas dan memenuhi lorong, dekat dengan Mingyu dan Wonwoo.
“Min, udah rame banget. Kayaknya udah nggak kondusif deh. Mau pindah aja nggak?”
Mingyu berpikir sebentar sebelum menjawab, “Hmm dari aku udah nggak ada yang mau dibahas lagi sih Nu soal acara visit. Nanti paling aku floor-in ke temen-temen. Hmm,” Mingyu terlihat agak ragu.
Merasa ada kata-kata yang menggantung di antara bibir Mingyu, Wonwoo menunggu.
“Ajakin aku ke tempat jajan favorit kamu dong, Nu. Travelku masih jam 3 nih.”
“Nuu, nih teh anget.” Wonwoo tiba-tiba merasa hangat di lengannya.
Visit himpunan Mingyu ke himpunan Wonwoo akhirnya datang juga. Acara yang memperkenalkan mereka sejauh ini berjalan lancar. Seungcheol dan Jihoon memberikan sepatah dua patah kata di awal dan acara dilanjutkan dengan kumpul per divisi untuk saling sharing pengalaman masing-masing. Divisi Wonwoo, tim sekretaris HMIF UK sudah selesai sharing dengan tim sekretaris dari HMS Unseb. Begitu juga divisi eskternal, sehingga Wonwoo dan Mingyu sekarang senggang kembali.
Pemuda yang membawa dua gelas dengan uap panas yang mengepul di atasnya kembali menempelkan gelas hangat ke lengan Wonwoo. “Ambil dong Nu, panas banget nih kalo megang dua.” Si bocah dengan gigi taring mendekatkan satu gelas hangat itu ke tangan Wonwoo.
Wonwoo mengambil satu gelas, “thanks”. Pemuda di sampingnya membalas ucapan Wonwoo dengan cengiran.
“Aku seneng deh acara kita lancar. Makasih banget ya udah banyak bantu aku.” Mingyu mendekatkan gelasnya ke gelas Wonwoo. “Ayo, Nu cheers.”
Wonwoo memutar bola matanya. “Ini teh anget kali Min, bukan bir atau wine.” Berbalik dengan jawabannya yang terdengar menolak, Wonwoo justru membenturkan gelasnya pelan ke gelas Mingyu hingga terdengar bunyi dentingan pelan.
Melihat Wonwoo menurutinya, Mingyu tertawa kecil. “Ih bir-bir. Aku laporin Mama kamu loh Nu kamu minum bir.”
“Laporin aja Mingyu tuh si Wonwoo kemaren nolak ngerjain tugas coding bareng aku!” Keduanya dikagetkan Joshua tiba-tiba muncul dari belakang mereka. “Akrab banget nih kalian diliat-liat,” goda Joshua. “By the way, thanks ya Gyu infonya kemarin. Pacarku suka sepatunya. Tau-tauan aja kamu trik biar dapet raffle.”
“No problem, Josh. Kebetulan aku beberapa kali nemenin adekku raffle sneakers, jadi tau dikitlah caranya haha. Glad I could help,” balas Mingyu.
“Oh iya lupa, happy anniversary, Josh! Udah berapa tahun sih? 5 ya?” Tanya Wonwoo.
“Iya Woon udah 5 nih. Dari kelas 2 SMA kita hahaha.” Percakapan ketiganya lalu bergeser ke cerita awal Joshua bertemu dan menjalin hubungan dengan kekasihnya.
“Weekend ke Bdg lagi min?”
Bubble chat terakhir dari Wonwoo. Yang masih belum terjawab sampai sekarang.
Tidak ada lagi kabar dari Mingyu. Saat itu Wonwoo pikir mungkin Mingyu sibuk hari itu jadi tidak membalasnya. Namun sampai minggu berganti, masih tidak ada balasan dari Mingyu.
“Min sibuk bgt ya?”
Wonwoo akhirnya mengirim pesan lagi setelah menimbang-nimbang. Draft pesan itu sudah ada di chat room dia dan Mingyu, dua hari dia diamkan sampai memutuskan untuk mengetuk ‘send’ di layar ponselnya. Ini tidak seperti biasanya. Mingyu tidak pernah tidak membalas pesannya apalagi sampai berminggu-minggu seperti ini.
Hilangnya presensi Mingyu secara tiba-tiba membuat Wonwoo jengkel. Jika pesan ini juga tidak dibalas, Wonwoo tidak akan pernah mengirimkan pesan lagi ke Mingyu. Kalau perlu Wonwoo akan memblokir kontak Mingyu. Biar nanti Mingyu tidak bisa mengirimkan pesan juga.
Wonwoo berakhir memblokir kontak Mingyu dan mute akunnya di sosial media.
Perasaan gusar memenuhi Wonwoo (juga sedih, tapi Wonwoo lebih baik makan sol sepatu Soonyoung yang terakhir dicuci semester kemarin daripada mengakuinya). Wonwoo merasa dipermainkan oleh Mingyu yang dengan seenaknya datang ke dalam hidupnya lalu pergi begitu saja tanpa pamit begitu urusannya selesai. Fuck.
Mungkin sebenarnya Wonwoo yang belum mengenal Mingyu dengan baik. Selain nama, kampus, jurusan, jumlah sks yang diambil semester ini, unit yang diikuti, merk parfum favorit, dan takaran kental manis di jus alpukatnya, tidak ada lagi yang Wonwoo ketahui tentang Mingyu. Siapa teman akrabnya, apa comfort food-nya, berapa adiknya, bahkan kapan ulang tahun Mingyu juga Wonwoo tidak tahu.
Mingyu dalam kepala Wonwoo - Mingyu silver metalik - itu sebenarnya tidak ada. Mingyu cuma sekadar abu-abu butek. Sama dengan satu juta orang lain yang Wonwoo tidak sengaja temui di kantin, di angkot, di tukang fotokopi. Orang-orang yang hanya sekelebat bersinggungan dengan hidupnya.
Tapi Wonwoo tidak bisa menghentikan dirinya. Seperti apapun nasihat Joshua, seperti apapun cibiran Soonyoung, seperti apapun peringatan Seungcheol, tetap saja Wonwoo mengecek profil sosial media Mingyu dengan rajin. Mengecek chat room mereka. Mengecek acara-acara kampus Mingyu. Bahkan sempat terlintas untuk menanyai sepupunya yang kuliah di kampus yang sama dengan Mingyu. Wonwoo tidak bisa menghentikan dirinya dari mencari kabar terbaru Mingyu. Sedikit saja - apakah dia sehat? Apakah dia sibuk? Apakah dia mencari Wonwoo juga?
Alam bawah sadar Wonwoo juga masih berharap Mingyu melakukan hal yang sama. Mingyu mencari tahu kabar Wonwoo.
“Chan, kamu deket nggak sama anak Sipil di kampus?” Tanya Wonwoo pada sepupunya, Chan. Hari ini keluarga besar Wonwoo mengadakan arisan keluarga. Wonwoo biasanya jarang ikut acara keluarga besar seperti ini, dia lebih memilih bermain video game atau bahkan tidur siang. Namun rasa penasaran Wonwoo terhadap Mingyu mengalahkan rasa malasnya beramah tamah dengan para Uwanya. Chan kuliah di kampus yang sama dengan Mingyu. Berbeda jurusan dan angkatan memang, tapi bisa saja Chan tahu kabar terbaru Mingyu. Bisa saja.…
Chan yang sedang menyantap sayur asemnya terhenti sebentar. “Hmm anak sipil ya. Enggak sih A Won. Kenapa emangnya gitu?”
“Enggak apa-apa sih. Cuma kemarin tuh ada acara di kampus gitu, terus aku kenalan sama anak sipil Unseb namanya Mingyu. Siapa tau kamu kenal,” jelas Wonwoo sambil memainkan sendok di atas piring kotornya.
Mendengar nama Mingyu mengagetkan Chan hingga sendoknya terjatuh ke piring dan menimbulkan bunyi yang gaduh. “Kak Mingyu mah Chan tau A!” Beberapa anggota keluarga mereka menengok ke arah Wonwoo dan Chan. Chan otomatis meminta maaf ke keluarganya yang tersentak karena reaksinya. “Kak Mingyu terkenal pisan di kampus aku,” suara Chan meninggi sedikit, kapok membuat kaget keluarga besar mereka. “Kata aku mah kalo Aa pergi ke kampusku terus tanya orang random gitu ya, pasti pada tau Kak Mingyu deh. Dia kayak seleb gitu tau. Pernah juara 2 mapres, terus suka aktif di BEM pusat, pernah jadi protokoler juga. Banyak yang bilang juga si Kak Mingyu suka php, tapi kata aku itu orang-orang pada baper aja ke Kak Mingyu. Soalnya Kak Mingyu tuh baik bangeett, bageur pisan sama siapa aja. Sama aku aja ramah A, padahal cuma sekali pernah kepanitiaan bareng.”
Wonwoo memproses celotehan panjang Chan. His brain is processing the information, his gears are turning.
“A Won inget nggak aku pernah cerita motorku mogok di kampus terus dianter pulang sama kating aku? Itu Kak Mingyu yang nganterin aku, A.”
Wonwoo ingat cerita itu. Oh. Something clicks inside him.
Harusnya Wonwoo sadar kalau kedekatan mereka sebatas dua orang yang sedang mengurus suatu acara. Harusnya Wonwoo sadar kalau Mingyu memang ramah pada semua orang, keramahannya pada Wonwoo tidak spesial. Mingyu mengantar Chan pulang sewaktu motornya mogok. Mingyu memberikan saran raffle sneakers ke Joshua. Mingyu membantu Lisa mengangkat kardus konsumsi. Mingyu yang akrab dengan satpam kampusnya bahkan di kunjungan kedua. Mingyu yang memberikan kulit ayam krispinya ke Soonyoung karena tahu hari itu hari ulang tahunnya. Mingyu yang memang memperlakukan semua orang di sekitarnya dengan kebaikan hati. Semua orang, tidak terkecuali. Wonwoo bukan pengecualian. Wonwoo tidak spesial. Segala kebaikan yang Wonwoo terima dari Mingyu, sama dengan kebaikan yang Mingyu berikan ke satu juta orang lain yang Mingyu temui di hari-harinya.
Kepala Wonwoo rasanya mau pecah.
Oh boy, Wonwoo really needs to get over him.
