Actions

Work Header

Liar!

Summary:

Jaeyun terdiam, ia menelan ludahnya cepat. Matanya bergerak ke wajah laki-laki yang lebih muda. Sekali lagi, ia tertegun melihat wajah tampan itu berada lebih dekat. Yang pertama, ia tertegun ketika melihat Heeseung pertama kali ketika ia berusaha bertanya ke Sunoo, asisten dosen lainnya jika mengetahui mahasiswa bernama ‘Heeseung’ itu dan Jaeyun merasa kalah telak⸺tidak mengetahui ada mahasiswa setampan ini di salah satu kelasnya.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

“Jaeyun-ssi,” Kepala Laboratorium penelitian sekaligus dosennya memanggil Jaeyun untuk segera menghadap ke depan mejanya.

Dia melempar beberapa lembaran kertas ke atas meja ketika Jaeyun tepat berada di depannya. Ada sebuah nama asing di atas lembaran kertas itu.

Dosennya mengetuk-ngetuk jarinya pada nama itu, “Aku sangat terkesan.” Lalu kembali melanjutkan mengetik sesuatu di komputernya, dia tersenyum dan sesekali melihat ke arah Jaeyun.

“Metode pengajaran apa yang kau pakai di kelas?”

Pria berusia lima puluhan tahun dengan rambut klimis berwarna hitam mulai tegak menghadap Jaeyun dengan melipat tangannya ke atas meja.

Bibir Jaeyun terbuka dan mengatup kebingungan, ia sungguh tidak tahu apa yang telah ia lakukan selama ini. Dirinya hanya menjadi asisten dosen di kelas yang dosennya rekomendasikan selagi menyelesaikan tesisnya.

“Anak ini, Heeseung, selalu mengulang di kelasku. Tapi, lihatlah,” lagi-lagi dia menunjuk lembaran kertas dan Jaeyun mengambil tiga lembar hasil ujian Heeseung, mahasiswa yang membuat dosennya terpukau.

“Nilainya hampir sempurna dalam beberapa kali ujian maupun kuis, itu semenjak kau mengajar di kelasku.” Dosennya tertawa bahagia, bahagia karena tidak ada lagi mahasiswa yang mengulang dan melihat wajah yang sama berkali-kali.

Jaeyun menggaruk kepala belakangnya setelah membenarkan letak kacamatanya, “Sejujurnya, saya tidak melakukan banyak hal, pak.”

Dosennya masih memandangi Jaeyun, antara menunggu jawaban lebih lanjut atau mencoba mempercayai jika itu benar-benar jawabannya.

“Tapi, saya bisa⸺”

Tiba-tiba dosennya bangkit dan menepuk keras bahunya, “Lanjutkan apapun itu metodemu! Ah, senangnya tidak akan ada lagi mahasiswa mengulang,” ujarnya sambil meninggalkan Jaeyun sendirian di ruangan dosen.

 

 

Jaeyun penasaran bukan main, ia bersungguh-sungguh ingin mengetahui mahasiswa yang dulunya sangat membuat sakit kepala dosennya. Ia mengikuti mahasiswa itu sehari-hari di kampus jika dirinya tidak ada jadwal mengajar atau melanjutkan penelitiannya. Ternyata begitu mudah menemukan mahasiswa bertubuh jangkung itu, di kantin, di aula utama, di perpustakaan. Heeseung, mahasiswa itu sehari-hari hanya bermain-main di sekitar kampus.

Tapi ia jarang, tidak, sama sekali, melihat mahasiswa itu membuka buku atau belajar. Bahkan ketika Jaeyun mengikutinya ke perpustakaan kampus, di lantai tiga dia hanyalah tidur dengan menaruh kepalanya di atas meja.

Di kantin setelah makan, dia hanya berbincang-bincang dan bergurau dengan temannya. Parahnya, Jaeyun pernah menunggu dan mengamati Heeseung selama tiga jam penuh di taman kampus. Dan benar, seharian dirinya mengikuti Heeseung, tidak semenit pun mahasiswa itu membuka buku atau belajar untuk bahan ujian.

“Jadi, apa yang kau temukan?” bisik Heeseung di telinga Jaeyun.

Jaeyun membuang muka dan tidak berani menatap wajah lawan bicaranya yang lebih tinggi itu. Ia berkali-kali membenarkan letak kacamatanya, rasa gugup itu membuat Heeseung terkikik.

“Katakan,” dia maju selangkah. “Apa yang kau lakukan seharian ini?” lalu dia menyeringai.

Petang hari di gedung barat kampus tidak banyak mahasiswa yang berlalu-lalang terlebih mereka berada di kamar mandi lantai dua. Mahasiswa di kampus mereka sangat jarang untuk bermain-main ke lantai atas pada gedung barat ini. Rumor hantu atau apalah itu berhasil membuat Heeseung dan Jaeyun, berduaan di kamar mandi lantai ini. Atau mungkin gedung ini.

“Jaeyun-ssi , hmm?”

Jaeyun terdiam, ia menelan ludahnya cepat. Matanya bergerak ke wajah laki-laki yang lebih muda. Sekali lagi, ia tertegun melihat wajah tampan itu berada lebih dekat. Yang pertama, ia tertegun ketika melihat Heeseung pertama kali ketika ia berusaha bertanya ke Sunoo, asisten dosen lainnya jika mengetahui mahasiswa bernama ‘Heeseung’ itu dan Jaeyun merasa kalah telak⸺tidak mengetahui ada mahasiswa setampan ini di salah satu kelasnya.

Jarinya menyelipkan ujung rambut hitamnya ke belakang telinga, “Well, kamu tahu dosen di kelas itu sudah sakit kepala denganmu dan kenapa kamu suka sekali mengulang? Tidak mau lulus tepat waktu, huh? Oh, kembali ke topik awal, err,” tepat setelah ini, Heeseung mendesah dengan keras dan bersandar di pintu kamar mandi.

Dia menutup akses keluar dari kamar mandi dengan tubuhnya, menutup pintu kamar mandi dan bersandar. Mahasiswa pascasarjana mungil di depannya ini sungguh banyak bicara tapi itulah yang membuatnya jatuh hati di hari pertama dia melihat Jaeyun memasuki kelasnya. Semua perkataannya yang Jaeyun ucapkan hanya menggaung di telinganya hingga ada kalimat yang berhasil membuatnya kembali fokus.

“⸺aku ingin tahu jika kamu benar-benar belajar dan⸺”

“Hyung,”

Lidahnya menjadi kelu seketika, Jaeyun tidak bisa melanjutkan perkataannya. Kepalanya seakan-akan berdenging dengan kata ‘hyung’ itu.

Heeseung mulai mendekati Jaeyun, “Dari awal, kamu sudah berbicara informal denganku, jadi hyung,” dia terus mendekati Jaeyun hingga berada bilik paling ujung.

Dia menarik kerah kemeja Jaeyun dan memasuki bilik itu bersama. Heeseung menaruh tas ranselnya di atas dudukan toilet dan mengacak rambutnya. Jaeyun tergagap melihat semua pergerakan mendadak ini dari Heeseung.

“Hyung, kamu tahu, bab lima kemarin itu sangat susah, mau mengajariku?”

Jaeyun tidak jadi terkejut. Ia memukul dahi Heeseung dengan telunjuknya.

“Aku tahu kamu bohong, nilai kuis sempurna dan tiba-tiba mengeluh kesusahan? Kamu mencotek, ya?!”

Heeseung menyeringai, pujaan hatinya mulai mengomel dengan imut. Bibirnya bergerak sangat lucu dengan segala keluhan itu dan matanya berbinar menatap Heeseung. Matanya bergulir ke rambut Jaeyun, Heeseung menyelipkan anak rambut di sana. Entah berapa kali, mulut Jaeyun dibuat diam oleh Heeseung hanya dari gerakan atau ucapannya itu.

Di dalam benak Heeseung, sinyal itu meluncur dengan bebas bagai roket yang akan meluncur melintasi bulan. Dia meraih leher Jaeyun dan menariknya mendekat. Heeseung mencumbu bibir tebal itu dengan lembut. Kedua tangan Jaeyun mencoba menghentikan tubuh Heeseung lebih dekat tapi itu usaha yang sia-sia, isi kepalanya berkabut bersamaan dengan bibir bawah dan bibir atasnya yang dicecap bergantian oleh Heeseung. Kacamatanya ditarik Heeseung begitu wajah mereka mendekat, membuat wajah lucu dari Jaeyun tercetak jelas tepat sebelum berciuman.

Bukannya mencoba untuk menghentikan tubuh Heeseung lagi, tapi tangannya mengerat di kemeja Heeseung. Ia tidak menyangka jika dirinya akan berciuman di kampus, oh, di dalam salah satu bilik kamar mandi.

Jaeyun sangat sensitif dengan sentuhan dan Heeseung yang sudah mengetahui itu mulai menggerakan tangannya dengan liar ke pinggang Jaeyun. Bibir tebal Jaeyun membuat kepala Heeseung kosong lalu dalam sedetik penuh kembang api, rasa asing yang manis. Rasa hangat di dalam dada. Jaeyun mengerang, ia berusaha membuka mulutnya dan menjauhkan diri namun Heeseung semakin mengunci tubuhnya. Dia menekan tubuh Jaeyun dan melesatkan lidahnya ke dalam rongga mulut Jaeyun, sekali lagi dia mendengarkan Jaeyun melenguh.

Heeseung merasa jika di titik ini dia bisa melupakan dirinya. Jadi, Heeseung melepaskan pagutan mereka dan melihat wajah Jaeyun yang memerah. Dahinya berkeringat dan wajahnya semakin manis. Bibir merah muda itu bengkak dan Heeseung sangat menyukai situasi saat ini. Kedua tangan Jaeyun masih memegangi bahunya, laki-laki yang lebih tua memalingkan wajahnya jadi Heeseung bisa melihat bulir keringat mengucur dari lehernya.

“Kau gila,” Desis Jaeyun disela-sela tarikan napasnya.

Ia tidak sengaja melihat ke arah wajah Heeseung dan wajahnya semakin memerah. Bibirnya sama-sama bengkak, terlebih tatapan lapar yang dilemparkan oleh Heeseung menyergap seluruh emosi Jaeyun. Perasaannya campur aduk, bergelung menjadi satu.

Yang lebih muda bisa melihat jika ada binar perasaan dilema yang akan membuncah. Sebelum itu semakin menguat, Heeseung kembali membuat Jaeyun menghadap ke arah wajahnya dengan jari telunjuk dan ibu jari. Ada jeda beberapa detik tapi Jaeyun hanya diam menatapnya. Mereka kembali bercumbu, mencecap bibir dan pagutan itu semakin liar. Lidah Heeseung bermain di rongga mulut Jaeyun sekali lagi, lidah mereka bertautan di dalam rongga mulut Jaeyun. Heeseung yang lebih banyak memimpin dan Jaeyun hanya bisa mengikutinya.

Tangan Heeseung selain memegangi leher Jaeyun juga mulai turun ke bagian tubuh bawahnya. Jaeyun menyerngit dan tidak sengaja menggigit bibir bawah Heeseung. Ia yakin disela-sela ciuman itu bisa merasakan rasa darah tapi itu tidaklah penting karena kini tangan Heeseung bermain-main di pantatnya. Oh, astaga. Jari-jemari panjang milik Heeseung mulai menggerayangi paha dalam Jaeyun yang dibalut celana kain berwarna cokelat muda. Jari-jari itu menekan kemaluan Jaeyun dengan lembut, ia hampir mendesah dengan keras karena terkejut. Juga tidak pernah menyangka jika dirinya akan disentuh oleh laki-laki lain⸺dan tidak pernah menyangka akan merasakan sensasi dari jari-jari panjang milik Heeseung.

Heeseung menekan bagian bawah tubuhnya ke bagian bawah tubuh Jaeyun. Kedua tangannya kini memegangi pinggang Jaeyun. Dia meraba naik dan turun. Dia bisa merasakan jika tubuh Jaeyun sedikit bergetar di bawahnya.

Brak!

Pintu kamar mandi didorong dengan paksa, menimbulkan suara keras yang mengejutkan Heeseung dan Jaeyun. Mereka berhenti berpagutan dan terdiam. Hanya deru napas mereka yang saling menyapu wajah.

“Eh, ditutup? Bukannya ini tidak pernah ditutup?”

“Eh, seriusan?”

Brak!

Mahasiswa lainnya mencoba mendorong pintu kamar mandi lagi tapi juga tetap sama. Heeseung dengan gesit sudah menguncinya. Jaeyun yang masih lemas dari ciuman mereka, berdecih. Ia tidak menyangka jika mahasiswa yang ia cumbu ini memiliki tekad yang kuat.

“Ah, sial, aku tidak tahan,”

“Ya! Coba di kamar mandi lantai atas.”

“Aishhh,”

Selang beberapa detik, hening kembali menyelimuti lantai itu. Mereka saling melempar tatapan dan tertawa bersama.

 

 

Ting!

Bel apartemen Heeseung berbunyi di malam hari. Dia sempat melirik penunjuk jam dilaptopnya dan saat ini pukul sembilan malam. Tidak banyak pikiran dia bergegas bangun untuk membuka pintu namun dia malah mendecih melihat siapa yang berdiri di depan pintu apartemennya.

“Jaeyun-ssi?”

“Aku datang untuk mengajarimu bab kelima hingga bab ketujuh, dan aku bawa makan malam,” tangannya mengangkat kantong plastik putih ke depan wajah Heeseung.

Ia tidak tahu apa yang telah ia lakukan tapi ia mengikuti instingnya, langkah kakinya membawa dirinya ke depan pintu apartemen Heeseung. Ia berusaha menyembunyikan rasa malunya dengan kantong plastik putih tapi ia bisa melihat Heeseung menyeringai. Dia menarik lengan jaket Jaeyun dan mereka masuk ke dalam apartemen Heeseung.

Mereka berniat tidak tidur sepanjang malam bersama untuk belajar, ada kuis lagi minggu depan⸺mungkin.

 

 

THE END

Notes:

wow ges, ini aku tulis sekali duduk padahal mau revisian sidang tapi giat banget nulis beginian WAKAKKAKA dan sebenernya juga aku pengen nulis oneshot singkat under 3-4k words tralalalaa kesampean EHEHHE next [smirk] jaywon!