Work Text:
Pagi buta yang mana orang-orang masih bergelung di selimut, Taehyun sudah menyingsing lengan kaosnya sampai ke bahu untuk menyiapkan bekal pada kedua adiknya—mengingat ini hari pertama mereka sekolah usai libur kenaikan kelas. Berbeda dengan Taehyun yang masih libur sebagai seorang mahasiswa, meski dia tetap akan mengantar kedua adiknya bersekolah nanti.
Hal pertama yang dilakukan adalah memasak nasi terlebih dulu. Sekiranya saja asal cukup untuk bekal adiknya dan sisa nasi untuknya dan saudaranya sarapan. Taehyun membuka kulkas, mengeluarkan telur sebanyak enam butir—tiga untuk telur gulung dan tiga lainnya untuk telur mata sapi, sebungkus sosis kecil, dan ayam karaage instan yang siap digoreng.
Ia mengambil mangkok kaca, memecah tiga butir telur ke dalam mangkok, memberi sedikit penyedap rasa lalu mengocoknya sampai rata dan adonan telur tersebut berubah menjadi kuning sepenuhnya. Sembari mengocok, dia sudah menyalakan satu kompor untuk memanaskan teflon persegi yang digunakan untuk membuat telur gulung sementara kompor yang lain dinyalakan untuk menumis sosis.
Sembari menunggu teflon persegi panas, Taehyun mengiris sedikit sosis-sosis kecil tersebut—agar terlihat estetik saja. Saat dirasa teflon untuk telur gulung sudah panas, dia pun mulai menggoreng lapisan pertama untuk telur gulung. Bersamaan itu pula dia menuang sedikit minyak ke teflon bundar dan menumis sosis.
Terdengar suara grasak grusuk di lantai dua, yang menjadi base camp kedua adiknya. Tampaknya si adik lelaki sudah sadar lebih dulu, membuatnya memanggil sang adik.
Terdengar sahutan dari sana, disambil dengan Taehyun yang menggulung lapisan pertama telur lalu menuang telur untuk lapisan kedua. Saat dia beralih ke teflon sosis, Taehyun melihat adik lelakinya menuruni tangga.
"Awal banget bang?"
Taehyun tersenyum tipis, mengecilkan api kompor teflon sosis dan meletakkan brokoli di dalam mangkok berisi air dan garam—mencucinya. "Gak papa, kalian 'kan masuk sekolah lagi habis libur panjang."
"Tapi abang 'kan abis nemenin Wonhee cari baju sampai malam, mana habis itu abang juga nyiapin buku-buku dia." Adik lelakinya—Jungwon—sedikit protes. "Abang tidur jam berapa semalam?"
Usai menumis sosis dan memindahkan lauk tersebut ke dalam mangkok kaca, Taehyun membiarkan satu kompornya menyala yang akan dia gunakan untuk merebus brokoli. "Udah, gak usah dipikirin. Kamu siap-siap aja dulu habis itu bangunin adikmu." Ia membalas tanpa melirik Jungwon.
"Aku bantu ya," tawar sang adik sembari menyingsing lengan baju tidur satin marunnya hingga ke siku dan berniat untuk mengambil brokoli dari dalam mangkok, tetapi Taehyun bergerak cepat dengan memukul pelan tangan Jungwon—melarang adiknya untuk mengulurkan tangan.
"Abang bisa sendiri."
"Aku kasihan lihat abang."
"Shush." Taehyun meletakkan jari telunjuknya di depan bibir lalu menepuk bahu Jungwon. "Abang gak papa, kamu siap-siap aja sana."
Ragu-ragu Jungwon menuruti perkataan kakak lelakinya, meski dia berjalan menjauhi Taehyun tanpa melepas pandangan dari lelaki itu.
"Gak papa nih?"
"Iya, dek Jungwon," Taehyun sedikit menekankan sembari memasukkan brokoli ke dalam panci kaca berisi air mendidih. "Nanti bangunin adikmu ya kalau udah selesai kemas-kemas."
Akhirnya, ia melihat Jungwon menaiki tangga dan memunggunginya, membuat Taehyun menggeleng pelan. Ia menghabiskan adonan telur gulung yang terakhir, lalu merapikan telur agar terbentuk kotak rapi.
Sepeninggal orangtua mereka, Taehyun bertanggung jawab penuh dan mendapat peran baru sebagai orangtua untuk kedua adiknya. Berbekal tabungan orangtua mereka yang masih tersimpan bahkan lebih dari cukup, juga Taehyun yang sambilan bekerja di tengah studinya sebagai seorang mahasiswa, membuatnya tak begitu khawatir. Dia hanya takut jika kasih sayangnya tak bisa terbagi atau bahkan kurang untuk adik-adiknya.
Jungwon, yang saat ini sedang duduk di bangku sekolah menengah atas, sedang mengikuti pelatihan untuk menjadi idol. Sebuah pekerjaan yang sempat ditentang kedua orangtuanya, tetapi mereka bertiga memiliki bakat menyanyi yang luar biasa dari orangtua mereka. Taehyun sendiri sudah beberapa kali ditawari untuk mengikuti pelatihan idol dan kemungkinan besar akan debut, tetapi dia melepas kesempatan tersebut agar bisa mengurus adik-adiknya. Dia juga tak masalah jika Jungwon sekarang menjadi trainee, malah dia mendukung penuh keputusan sang adik lelaki.
Wonhee, adik perempuan mereka, adalah si bungsu yang tidak disangka-sangka akan lahir. Dia berbeda hampir enam tahun dengan Taehyun, saat ini duduk di bangku sekolah menengah pertama. Dia pun ingin mengikuti jejak sang kakak kedua untuk menjadi idol, tetapi Taehyun menahannya sampai gadis itu selesai SMP. Dia tahu kehidupan idol begitu berat dan Taehyun tak yakin jika si bungsu bisa menghadapinya. Dia juga meminta sang gadis untuk berpikir lagi, meski sampai saat ini, bungsu tersebut masih berkuat ingin menjadi idol.
Mengilas memori dimana sang ibu akan langsung ke dapur dan Taehyun sigap membantu, sementara ayahnya membangunkan kedua adiknya, membuat senyum getir terulas. Dia hampir saja terkena air panas bekas merebus brokoli saat hendak meniriskan sayur tersebut.
Taehyun menghembus napas kasar, meletakkan kedua tangan di atas meja counter dan memerhatikan kondisi dapur rumahnya. Dua kompor masih menyala untuk menggoreng telur mata sapi dan ayam karaage, membuatnya mengusap keringat guna kaos lengan atas. Ada rasa letih yang tiba-tiba menggerogoti, tetapi dia menggeleng kuat. Dia tak bisa terlalu larut dalam masa lalu, ada masa kini yang harus diselesaikan dan dilakukan.
☆☆☆☆☆
Menit-menit berlalu cepat, tanpa terasa sarapan mereka yang disambil dengan berbincang dapat membunuh waktu. Taehyun langsung bangkit dari kursi, mengambil dua tas bekal—yang mana satu tas bekal milik Jungwon berwarna hitam polos, sementara milik Wonhee berwarna merah muda dengan gambar kelinci pada bagian depan—lalu menyodorkannya ke pemilik masing-masing. Ia pun mengenakan topi hitam dan sedikit menutup wajahnya, lalu mengajak adik-adiknya berangkat.
"Ayo."
Kedua adiknya pun menurut, membawa tas bekal mereka masing-masing lalu berjalan ke luar rumah—mengikuti kakak tertua mereka yang berada di depan. Setelah Taehyun memastikan kedua adiknya sudah keluar dan bertanya jika tidak ada yang tertinggal, dia pun mengunci pintu rumah.
Mereka bertiga melangkah meninggalkan area rumah, dimana para anak sekolah juga mulai sibuk untuk berangkat menimba ilmu. Ada yang menggunakan sepeda, ada yang berjalan kaki—sama seperti mereka, ada pula yang diantar orangtuanya dengan motor atau mobil. Taehyun sendiri, mengantar Jungwon dan Wonhee dengan angkutan umum.
"Abang tidur gak?" hunus si bungsu tiba-tiba dengan kilau di matanya, membuat Taehyun mengulas senyum tipis dan menepuk puncak kepala Wonhee.
"Tidur kok."
"Tapi kantung mata abang keliatan banget loh itu," Jungwon menimbrung, menunjuk wajah sang kakak. "Nanti abang susah dapat pacar kalau kantung matanya makin hitam."
"Ih, Bang Jungwon gak boleh gitu dong!" Wonhee tak terima. "Mau gimanapun, Bang Taehyun pasti bakal punya pacar. Dia 'kan ganteng."
"Iya, bener sih," jawab si tengah sembari menggaruk pipi, tak bisa mengelak ucapan si bungsu. "Cuma yah, kalau abang mau terima masukanku, abang jangan terlalu mikirin kami deh."
Wonhee mengangguk cepat dengan bibir sedikit dimanyunkan, menyetujui ucapan Jungwon. "Abang juga harus mikirin diri sendiri."
Ucapan yang sebenarnya sudah sering Taehyun dengarkan dari kedua adiknya, tetapi dia tak bisa menyangkal mereka. Dia secara tak langsung sudah mengemban banyak tugas sebagai saudara tertua juga menjadi orangtua, tak mungkin rasanya dia memiliki waktu untuk diri sendiri. Namun, tak ada salahnya jika dia mulai mengikuti perkataan adik-adiknya.
Taehyun mencubit pipi Jungwon gemas, bergantian dengan Wonhee lalu tertawa kecil. "Makasih ya, adik-adik abang."
Jungwon dan Wonhee saling beradu pandang, lalu bersamaan memeluk kakak tertua mereka, membuat Taehyun terkejut. Ia pun menggeleng pelan, merangkul kedua adiknya dan melangkah beriringan menuju halte bus.
Tak peduli dengan tatapan orang-orang pada mereka. Taehyun hanya memiliki dua adiknya saja, tak ada yang lain.
☆☆☆☆☆
Selepas mengantar Jungwon yang menjadi adik terakhir yang diantar, Taehyun memilih untuk berjalan kaki sejenak di tengah keramaian kota. Dapat dia dengar derap kaki orang-orang yang begitu sibuk untuk mencapai tujuannya masing-masing, sementara dirinya memutuskan untuk melangkah pelan. Mungkin benar apa yang dikatakan adik-adiknya, dia juga harus memikirkan dirinya sendiri.
Kakinya terhenti di sebuah minimarket berlogo angka tujuh, memasuki tempat perbelanjaan dan berjalan menuju area minuman, membeli susu dan air putih sebagai pelepas dahaga. Dia sudah kenyang karena sarapan nasi dan telur mata sapi tadi.
Saat hendak membayar, dirinya berpapasan dengan seorang lelaki yang lebih tinggi darinya—sedang membayar di kasir.
"Tyun?" sapanya.
Taehyun mengangkat sedikit topinya, mendapati kakak tingkatnya berdiri di sana. Ia pun mengulas senyum tipis.
"Kak Soobin."
Soobin pun ikut tersenyum saat berpapasan dengan juniornya itu. "Abis antar Jungwon sama Wonhee ya?"
Anggukkan tercipta, lalu meletakkan belanjaannya di atas meja kasir. "Iya, kak. Sekalian cari angin," jawabnya. "Kak Soobin tumben awal banget udah keluar rumah?"
"Ada abangku di rumah, dia minta tolong buat beliin minum," Soobin membalas, melihat total belanjaan Taehyun yang terpampang di layar kecil lalu mengeluarkan selembar uang hijau. "Ini uangnya."
"Loh, gak papa, kak. Itu 'kan belanjaanku."
"Gak papa," Soobin menyambut kantong belanjaan milik Taehyun beserta uang kembalian lalu menyodorkan kantong putih pada lelaki itu. "Sekali-sekali," responnya sembari mengedipkan satu mata—bertingkah centil.
Melihat itu pun membuat Taehyun menggeleng pelan. "Makasih kak."
Soobin mengiyakan, merangkul adik tingkatnya keluar dari minimarket. "Ngobrol bentar, yuk."
Ada keraguan di benak Taehyun, membuatnya melepas rangkulan sang senior. Meski dia tahu tindakannya kurang sopan, tetapi dia tahu apa yang akan dibahas lelaki itu.
"Kalau kakak ngomongin band, aku benar-benar minta maaf, kak. Aku harus urus adik-adikku."
Tak mungkin Soobin tak tahu respon yang diberikan Taehyun. Dia mengenal lelaki itu lebih dulu sebelum dua anggota band lainnya. Dia juga harus menyiapkan balasan lain untuk adik tingkatnya.
"Aku tahu kamu bakal ngomong kayak gitu," celetuknya. "Aku juga tahu kalau alasanmu tetap sama, tapi Tyun," Soobin menggantungkan kalimatnya sejenak, berhadapan dengan Taehyun dan menatap lelaki itu serius. "Band kita kuat karna kamu. Baik aku, Bang Jun,Gyu, sama Kai, terasa lemah karna nyawa di band kita menghilang."
"Bukannya kalian kemarin ada tampil di festival?"
Soobin menggeleng dan mengulum bibir. "Kami cuma tampil sekali, tapi penonton bilang penampilan kami kurang banget. Padahal kami udah menutupi posisimu." Ia menjelaskan. "Jadinya Kai merasa kebeban, Bamgyu yang biasanya aktif pun jadi ikutan gak semangat." Hembusan napas kasar tercipta. "Jadinya, kami belum ada latihan atau tampil lagi sejak itu."
"Harusnya kalian bisa imbangi posisiku."
"Kami juga mikir gitu kok, Tyun." Soobin menyergah. "Tapi memang dasarnya band kita itu lima anggota, bukan empat. Jadi rasanya sunyi, kayak ada yang kurang."
Mendengar itu pun membuar Taehyun terdiam. Dia sudah aktif mengikuti klub band sejak masuk kuliah. Tak disangka band mereka terkenal begitu cepat bahkan mereka sempat ditawari untuk tampil di stasiun tv dan platform daring, tetapi ketenaran itu pun hanya sebatas kedipan mata.
Sejak Taehyun keluar dari band untuk mengurus adik-adiknya, juga dirinya yang kehilangan semangat dari mereka yang telah meninggalkannya, ia tak tahu jika band-nya terpuruk begitu jauh. Dia terlalu sibuk dengan hidupnya, bahkan sudah jarang berkontak dengan teman-teman bandnya. Ini kali pertama dia bisa mengobrol banyak dengan Soobin setelah keluar dari band.
"Kali ini aku maksa," Soobin menegaskan. "Semoga paksaanku ini bisa mengetuk hatimu," harapnya. "Meski kita harus bergerak lagi dari awal, aku yakin ini juga awal yang bagus buat band kita." Ia menimpali, menggosok hidungnya yang terasa sedikit gatal (sedang menahan tangis) lalu kembali bersuara. "Ada banyak tawaran yang bisa menghasilkan uang dari band kita, Tyun. Boleh jadi kita juga bisa direkrut di suatu perusahaan dan tampil sebagai artis, bukan mahasiswa yang berkumpul untuk mengikuti klub band."
Kalau dipikir, memang ketertarikan Taehyun pada dunia tarik suara tak bisa diragukan. Dia mengalah untuk adik-adiknya yang ingin terjun ke kolam tersebut, berhenti dari klub dan keluar dari band. Namun, jika band mereka bisa membawanya menuju kesuksesan dan bisa membantu keluarganya, apa salahnya?
"Biar aku pikirin lagi, kak."
Terulas senyum senang di wajah Soobin, menepuk bahu sang lelaki. Dia merasa sedikit lega ketika adik tingkatnya itu mulai mendengarkannya. "Makasih, Tyun. Aku tunggu jawabanmu."
