Work Text:
Pagi buta itu, Aether ngeluarin ayam-ayam kesayangannya dari kandang. Seekor ayam betina berwarna coklat melangkah penuh kehati-hatian karena diikuti anaknya yang masih kecil-kecil. "Kurr kurrr, Zhongli, anakmu lengkap semua kan hari ini? Bentar kuitung, satu, tiga,..."
Beberapa anak ayam berlarian mengejar satu sama lain, sementara itu ada yang masih bersembunyi di balik sayap induknya. Wajar saja, pagi ini udara masih cukup dingin. Aether pun mengangkat sedikit sayap Zhongli, "Oh di situ kamu, Ganyu, Qiqi."
Aslinya, Zhongli cuma punya anak tiga, Aether namain mereka Xiao, Ganyu, & Yanfei. Tapi, kebetulan ada ayam betina Aether lainnya yang jatuh sakit dan meninggal. Padahal, anak-anaknya baru netas beberapa hari. Untungnya, dari beberapa induk, Zhongli ini betina yang paling keibuan. Sekarang Zhongli ketambahan dua anak ayam yaitu Yaoyao & Qiqi. Mereka keliatan paling kecil sendiri dibanding anaknya yang tiga.
Setelah mengecek kelengkapan ayamnya, Aether menabur beras di halaman rumah. Zhongli mendahulukan anak-anaknya untuk sarapan, begitu juga dengan induk lainnya. Ia pun mendekati Ningguang, ayam betina yang lebih muda darinya. Mereka bertukar suara dan gestur, intinya menanyakan kabar masing-masing.
Tadi malam sempat ada serangan ular. Namanya juga rumah di desa, masih hidup berdampingan sama hewan liar. Zhongli yang sudah berpengalaman itu menyadari keberadaan ular dan berkokok memanggil majikannya. Ningguang terbangun, terkejut melihat ular itu sudah beberapa inchi dari anak-anaknya.
Aether dan saudarinya buru-buru mengusir ular itu, untung saja bukan ular yang besar. Setelah ular itu menggeliat pergi, Ningguang berkokok lega serta berterima kasih pada Zhongli.
Zhongli memang satu-satunya ayam betina paling tua di sana. Bahkan beberapa indukan dan ayam jago adalah anak-anak Zhongli. Oleh karena itu, tak heran kalau semua ayam di kawanan itu menghormati Zhongli. Ia paling tahu cara merawat anak ayam agar utuh sampai dewasa, menghadapi predator yang muncul tiba-tiba di malam hari, termasuk mencari pejantan berkualitas untuk para betina.
[KKOOOK!!]
Sarapan para ayam di halaman rumah Aether sempat terhenti setelah mendengar kokokan penuh emosi dari salah satu ayam jantan. Badan ayam jantan itu cukup besar, jalunya juga mengerikan. Akan tetapi lucunya, ayam itu berlari menjauhi satu pejantan yang lebih kecil darinya. Ayam jago yang lebih kecil itu kelihatan senang sekali mengalahkan jantan yang lebih besar.
Seakan menemukan harapan, ayam jantan yang besar tadi berlari ke arah Aether untuk mencari perlindungan. Dua ayam yang berkejaran itu pun masuk ke halaman, mengacaukan kawanan betina yang sedang sarapan dengan anak-anaknya. Zhongli pun langsung melindungi para bayi ayam di balik tubuhnya, lalu mengembangkan bulu-bulunya untuk menakuti para pengacau tadi.
"Husshh! Lumine, ayamnya Bu Skirk gangguin lagi! Aku takut anjir, please ke sini!"
"Hah?! Si jelek oren itu? Bentar!!"
Lumine pun keluar membawa sapu lantai. Ia mengibaskannya pada dua ayam jantan milik Skirk, membuat prosesi kejar mengejar mereka terpecah. Ayam jantan yang lebih besar pun kabur entah ke mana, tampak lega bisa terpisah dari si psikopat.
Sementara itu, ayam jantan yang mengejar-ngejar tadi malah terbang ke atap rumah Aether, berkokok penuh kepercayaan diri. Padahal, suaranya yang masih di tengah proses pendewasaan itu kedengaran sangat wagu.
Lumine geleng-geleng kepala, menatap ayam itu penuh frustrasi, "Akkkh, jangan sampe dia buang kotoran dari atap rumah lagi. Aku pernah keceprotan anjrit!!!"
"Bilangin ke Bu Skirk dong, suruh kurungin ayamnya yang satu itu," pinta Aether.
"Ya kamu sekali-kali coba yang bilang, masa aku mulu."
"Gak berani...."
Lumine berpikir sebentar. "Yaudah deh. Aku yang bilang ke Bu Skirk tapi Abang yang beliin kandang buat Ningguang ya."
"Okidokiii."
Setelah kedua manusia itu pergi, si ayam jantan oren lompat dari atap ke dahan pohon. Ia celingak-celinguk mencari lawan sepadan untuk ditantang. Ketika matanya menyisir halaman rumah itu, ia malah menemukan sosok betina berbulu cokelat yang sedang menghangati anak-anaknya. Mata si pejantan oren pun berbinar-binar, tak pernah dilihatnya betina secantik itu. Si oren merapikan bulunya dan membusungkan dada agar terlihat tinggi besar. Ia turun ke tanah tepat di samping betina itu alias Zhongli.
Anak-anak Zhongli mencicit terkejut mendapati kehadiran ayam aneh berwarna oren. Si oren membuka sebelah sayapnya dan menari mengelilingi Zhongli. Tarian khas ayam jantan 'markiwin' alias mari kita kawin.
Induk ayam itu hanya terbelalak bingung. Si oren jelas-jelas ayam jantan yang baru beranjak dewasa. Dia ragu si oren sudah bisa mengawininya. Jalunya baru berupa tonjolan tumpul, tubuhnya juga masih kecil dengan sedikit otot. Dia cuma modal nekat saja saat melawan pejantan dewasa. Tak jarang dia luka berdarah-darah karena dilumat lawannya. Zhongli pun masih bisa melihat bekas-bekas luka di tubuh si oren.
Ayam oren aneh itu bersolek ria, memamerkan bulunya yang mencolok. Anak-anak Zhongli mengelilinginya dan berkiyik untuk mengusir si pejantan puber. Si oren kelihatan tak terpengaruh sama sekali oleh olokan mereka. Alhasil, Xiao si anak ayam pun mematuk oren tepat di lukanya yang belum kering. Oren pun panas hati, ia berniat menginjak Xiao ketika sesuatu membayanginya.
"Ajax."
Si oren terpatung, perlahan menengok ke atas. Skirk, majikannya, menatap penuh kekecewaan. Belum sempat si oren kabur, Skirk sudah menggotongnya. Wanita itu sekali lagi meminta maaf pada Lumine. "Biar saya kurung dia."
"Ahaha, ayam jago yang masih muda emang lagi semangat-semangatnya," ujar Lumine basa-basi walaupun dalam hati dia tahu nih ayam oren kelakuannya udah gak wajar lagi.
"Kalo Ajax sih emang gak wajar." Ternyata Skirk juga mengakui keanehan Ajax.
Dua manusia itu pun berpisah. Si Ajax digotong kembali ke rumah. Tak peduli sekeras apapun Ajax meronta dan berkokok, genggaman Skirk tetap bergeming, tak goyah sedikit pun. Padahal, manusia lain seperti Lumine dan Aether langsung panik jejeritan karena takut tergores cakar Ajax.
Ajax pun memandang tak berdaya pada betina cantik berbulu cokelat yang semakin menjauh sosoknya.
Sungguh, ia ingin mengawininya.
Waktu berjalan begitu lambat ketika ia dikurung di dalam kandang. Hari masih begitu cerah tapi dia tak bisa menikmatinya. Ada jantan pendatang baru di kompleks sebelah yang ingin dilawannya. Sayang sekali Ajax hanya bisa berangan-angan saja. Ia bahkan tak tahu akan dikurung sampai kapan. Mungkin, selamanya.
Ajax menghela napas sambil mengais tanah di bawahnya. Biasanya, dia bisa nekat keluar dari kurung sangkar ini. Tapi majikannya semakin pintar, dia mengakali dengan menaruh batu bata di atas kurungan. Tenggelam dalam bosan, Ajax pun memejamkan mata tertidur.
Hari yang cerah itu ternyata tidak berlangsung lama. Sinar matahari meredup, angin pun mulai berhembus dengan kencang. Bulu Ajax merasakan perbedaan yang terjadi, membuatnya mau tak mau terbangun dari lelap. Ketika otaknya masih memproses keadaan sekitar, telinganya menangkap suara panik beberapa ayam dari salah satu arah.
Itu suara Zhongli, ayam betina cantik yang ditemuinya tadi! Ia terdengar panik, memanggil-manggil seseorang. Ajax pun menyadari arah suara Zhongli datang dari pekarangan kosong agak jauh dari rumah. Pekarangan itu dikelilingi pagar semen yang cukup tinggi. Kalau ada anak ayam yang jatuh, sulit untuknya kembali ke atas tanpa bantuan manusia. Pekarangan itu juga tidak aman dengan banyaknya ular dan tikus-tikus besar.
Ajax pun paham situasinya. Ia sekuat tenaga mendobrak kurungan, menjatuhkan batu bata di atasnya. Beruntunglah, angin kencang membantu momentumnya. Begitu bebas, Ajax langsung berlari secepat kilat ke pekarangan tersebut.
Di sana, anak-anak Zhongli berkerumun di luar pekarangan. Mereka berkiyik memanggil si induk yang ada di balik pagar tinggi. Ia tidak sendiri, ada anaknya yang paling kecil, Qiqi. Sepertinya, Qiqi berjalan ke atas pagar melalui batang kayu yang tersampir, sebelum akhirnya terjatuh ke pekarangan. Zhongli duduk dan menjadikan dirinya semacam anak tangga untuk Qiqi, akan tetapi tidak cukup tinggi.
Ajax pun melompat masuk, ia menempat diri agar Zhongli bisa menaikinya, menjadi anak tangga yang lebih tinggi untuk Qiqi. Zhongli terhenyak untuk sesaat. Tubuh Ajax masihlah kecil untuk ukuran pejantan, bahkan lebih kecil darinya. Belum lagi ada luka-luka bekas pertarungan yang masih belum kering di sekujur tubuh. Zhongli tidak tega menyakitinya. Tapi Ajax tetap teguh, menurunkan tubuhnya agar Zhongli bisa membawa anaknya ke atas.
Rintik hujan mulai turun. Kalau tidak secepatnya menyelesaikan masalah ini, justru akan membahayakan anaknya yang lain. Tapi Zhongli juga tidak mau meninggalkan Qiqi sendiri. Ia pun menaiki Ajax dengan Qiqi di punggungnya. Nyaris! Kalau saja Qiqi sudah bisa melompat lebih tinggi, dia bisa terselamatkan. Tapi apa daya, Qiqi masih sangat kecil.
Di tengah situasi yang makin genting, Zhongli melihat kepala Ningguang melongok dari atas pagar. Paruhnya berusaha menarik Qiqi ke atas. Akan tetapi, ia tidak cukup kuat dan stabil untuk mengangkat Qiqi dengan aman. Nahas, hujan pun mulai turun deras. Zhongli menatap Ningguang penuh makna. Ningguang pun mengerti, ia menggiring anaknya dan anak-anak Zhongli ke tempat yang teduh.
Zhongli melebarkan sayapnya di atas kepala Qiqi agar anaknya tidak kebasahan. Anak ayam yang masih kecil sangat rawan sakit. Berdasar pengalamannya selama ini, air hujan adalah salah satu penyebab paling berbahaya.
Ajax menyentuh Zhongli dengan paruhnya, kemudian menunjuk pada salah satu semak belukar yang dikelilingi bebatuan. Tempat itu tampaknya cukup teduh, tapi Zhongli berani taruhan ada ular yang bersarang di sana. Ajax mengerti kekhawatiran Zhongli, kemudian mendatangi semak itu dan menarik-narik beberapa daun. Tampaknya ingin menunjukkan bahwa tempat itu aman. Zhongli pun percaya dan menggiring Qiqi untuk berteduh di sana.
Ruangan di bawah semak itu cukup sempit. Zhongli duduk di tengah dengan Qiqi menghangati diri di balik sayapnya. Sementara itu, Ajax berdiri di pinggir luar, sebagian bulunya terkena tetesan air. Matanya tajam mengamati keadaan sekitar, kalau-kalau ada pemangsa yang mencari kesempatan. Dia memang tidak bisa menjamin kemenangan. Tapi setidaknya, dia bisa berkokok cukup keras untuk menakuti lawan.
Tingkah Ajax tidak seperti ayam yang baru pertama kali main ke tempat ini. Bisa dibilang, pekarangan tempat mereka berada sekarang adalah area terlarang saking berbahayanya. Bisa menemukan tempat berlindung di tempat asing secepat ini tidaklah mudah. Sepertinya, Ajax sering ke sini untuk menaklukan predator-predator yang mengganggu ketenangan kaum ayam. Hal ini bisa menjelaskan kenapa banyak bekas luka yang tidak biasa.
Zhongli merasa trenyuh. Ternyata, ayam jantan yang terkenal bandel dan perusuh ini bukan sekedar pembawa huru-hara. Selama ini, ia berusaha melindungi seluruh umat ayam.
Menggunakan paruhnya, Zhongli menarik sayap Ajax, mengajaknya untuk lebih mendekat agar tidak terkena hujan. Tapi Ajax yang tidak enak hanya mengipaskan sayap, menunjukkan bahwa dia lebih kuat dari kelihatannya.
Zhongli mengangkat sebelah sayapnya yang kosong, seakan mengundang Ajax untuk menghangatkan diri di sana.
Malu-malu tapi mau, Ajax mendekatinya. Mana mungkin dia melewatkan kesempatan ini!!
Ketek hangat Zhongli, Ajax akan selalu mengenang saat-saat ini.
Beberapa waktu berlalu, hujan pun mulai reda walau belum sepenuhnya. Kilat dan guntur tidak bersusulan lagi. Mereka bisa samar-sama mendengar bunyi 'kurrr kurrr' dari suara yang cukup familiar. Seorang pemuda berambut pirang memanggil nama Zhongli. Ajax pun berkokok menjawab panggilan itu. Suaranya yang lantang menarik perhatian Aether.
"Astaga kalian ngapain di situ! Lah bentar, bukannya Bu Skirk udah ngurung nih anak satu ya."
Tanpa basa-basi lagi, Aether membopong Zhongli dan Qiqi dengan satu tangannya. "Hmn, tanganku yang satu lagi bawa payung nih. Mau balik gak? Tapi jalan sendiri," ujar Aether seakan Ajax bisa mengerti. Ia pun berjalan pulang ke rumah dengan Ajax mengintil di bawah payung yang sama.
Sepulangnya ke rumah, Ajax disambut pemandangan Skirk yang berdiri di teras dengan tangan terlipat. Tidak jauh darinya, kurungan spesial Ajax terlantar di bawah hujan. Ajax pun mempersiapkan diri kalau-kalau Skirk akan melemparinya sandal lagi. Tapi tanpa disangka-sangka, Skirk hanya menghela napas, kemudian menebarkan beras untuk Ajax makan.
Beberapa hari setelahnya, Ajax tidak terlihat sama sekali. Bahkan Aether dan Lumine pun bertanya-tanya. Biasanya, matahari masih mengintip dari balik horozon saja sudah terdengar suara kokok Ajax yang masih sumbang itu. Kini, hanya terdengar kokok dari ayam pejantan lain.
Zhongli merasa sedikit kesepian akhir-akhir ini. Dia sudah salah sangka mengira Ajax ayam yang berbahaya. Tapi setelah tahu kebenarannya, Zhongli merindukan keceriaan si pejantan puber.
Pagi itu, Zhongli mengajak anaknya jalan-jalan setelah sarapan seperti biasanya. Dia tidak lagi mendekati area pekarangan yang berbahaya. Alih-alih, Zhongli semakin sering mengunjungi rumah Skirk, berharap bisa melihat Ajax sekelebat saja. Tapi apa daya, tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana.
Jantung Zhongli berdesir. Pikirannya kemana-mana. Bagaimana kalau... Ajax...
Saat Zhongli tertegun memikirkan skenario terburuk, terdengar suara motor mendekat. Ia dan anak-anaknya pun menyingkir untuk memberi jalan. Skirk turun dari motor, kemudian terheran melihat Zhongli dan para anak ayam bermain di halaman rumahnya. Skirk pun menurunkan tas berbentuk silinder setengah lingkaran dari motornya. Ia membuka tas tersebut yang dibarengi dengan lompatan suatu makhluk keluar dari dalamnya. Zhongli sempat terkejut. Tapi ia berubah sumringah saat tahu siapa yang keluar dari sana.
Ajax!
Ayam oren itu kini kelihatan berkali-kali lipat lebih tampan. Bulunya bersih dan rapi. Bekas luka di tubuhnya sudah kering dan mengelupas. Badannya juga lebih berisi dari sebelumnya. Tampaknya, Skirk membawa Ajax pergi untuk merawat luka-luka itu. Dia sekalian menitipkan Ajax karena ada perjalanan bisnis yang cukup panjang. Beruntunglah dia punya teman pecinta hewan.
Begitu menapakkan kaki di tanah, Ajax langsung menari-narik mengelilingi Zhongli. Para anak ayam pun berkiyik tidak suka melihat si oren mencuri perhatian induknya. Kali ini, Zhongli memang memperhatikan tarian Ajax sepenuh hati. Ia bahkan membalas Ajax dengan menempel rapat pada si oren, tanda bahwa dia menerima perasaan Ajax. Si oren pun klepek-klepek sambil menyenandungkan kokokan nan sumbang.
Aether dan Lumine berdiri melipat tangan di halaman rumah mereka.
"Lumine, siap-siap punya anak ayam dajjal."
"Aether, kita harus gatekeep Zhongli sampe si oren dijual Bu Skirk."
"Setuju."
