Chapter Text
13 June 2023
Setelah acara kelulusan selesai, Wonwoo yang masih memakai pakaian wisuda lengkap buru-buru mengambil bucket bunga yang Wonwoo sembunyikan tadi, sesampai nya disana Wonwoo menghembuskan napas lega karena bucket bunga cantiknya masih disana, tidak diambil orang.
Wonwoo ambil bucket bunga nya lalu menuruni anak tangga secepat mungkin takut targetnya sudah hilang pandang, diantara keramaian lautan manusia matanya berpencar mencari sosok yang tingginya menjulang dibantu sahabat terbaiknya, Woozi.
Langkah Wonwoo senantiasa menelusuri area lapangan luas Sekolah ini, namun intensitas yang dicari-cari tidak juga ditemukan, hingga Wonwoo tidak sengaja menabrak orang, dengan perasaan bersalah Wonwoo menunduk dan meminta maaf. Napasnya ngos-ngosan dahinya juga dipenuhi oleh keringat dilalah seragam wisuda ’kan panas matahari juga tepat diatas kepalanya.
Wonwoo menunduk memegangi lututnya lelah, bulir keringat jatuh ke bibirnya, Wonwoo lap menggunakan telapak tangannya sendiri, matanya yang sudah sipit dari lahir berusaha menyipit kembali mencari sosok itu sekali lagi berharap ditemukan.
Woozi datang dari kejauhan, kulitnya yang seputih cat bersinar di bawah matahari, berbeda dengan Wonwoo, tampilan Woozi masih rapih seperti tadi pagi make up nya yang tipis masih tertempel apik diwajahnya.
Wonwoo berharap sahabatnya akan mengatakan, “Mingyu ada disana,” alih-alih mengatakan itu, Woozi dengan wajah menyesal mengatakan, “Kata temannya, Mingyu sudah pulang duluan.”
Seketika senyuman manis yang terpasang diwajahnya menjadi layu, tatapan kecewa nya tidak bisa Wonwoo sembunyikan, dada nya menjadi sesak seperti dihantam bebatuan, pandangannya turun ke bawah melihat bucket bunga yang masih segar dan harum di genggamannya, lalu untuk apa bunga ini?
Woozi mendekat dan memeluk hangat tubuh Wonwoo, tangannya menepuk-nepuk punggung itu, mencoba menenangkan sahabatnya.
“Tidak apa-apa, kamu bisa memberikannya besok, aku akan menemani mu.”
“Tidak perlu, mungkin Mingyu memang tidak menyukai ku.”
“Hei, jangan berkata seperti itu, Mingyu menyukaimu, aku yakin.”
“Ini yang kamu bilang Mingyu menyukaiku?”
Tangan Woozi membeku, lebih memilih mendorong tubuh Wonwoo.
“Jangan menangis.” Woozi berkata sembari menghapus air mata sahabatnya.
“Tidak kok.” Balasnya, Wonwoo menarik ingusnya yang hampir keluar.
Woozi tertawa, mengatakan “tidak kok,” untuk meledek Wonwoo yang dibalas geplakan.
“Sudah, orang tua mu menunggu itu.”
Wonwoo menarik napas panjang sekali lalu dihembuskan perlahan, air matanya sudah dihapus, pun senyuman manisnya kembali, memeluk sahabat terbaiknya sekali lagi dengan erat.
“Tolong jangan lupakan aku!”
“Omong kosong, rumah kita sebelahan.”
Wonwoo melepaskan pelukannya, wajah Woozi mengkerut, Wonwoo jadi terkikik geli melihatnya.
“Aku pulang duluan ya!”
Wonwoo melambaikan tangannya sembari berjalan mundur meninggalkan Woozi di tengah lapangan.
“Hati-hati!” Teriak Woozi.
Bucket bunganya Wonwoo buang begitu melihat tong sampah.
