Work Text:
[Jihoon]
Sebenarnya, Jihoon bukan tipe orang yang senang dirayakan ulang tahunnya. Bukannya tidak bersyukur, Jihoon hanya tidak begitu suka kemewahan. Tapi karena ulang tahunnya merupakan salah satu perayaan yang ditunggu para anggota SEVENTEEN, jadi pesta apapun yang mereka adakan akan Jihoon ikuti dengan senang hati. Setelah mendarat di Jepang dan menghuni kamar hotel masing-masing, Soonyoung dan Wonwoo memutuskan untuk pergi jalan-jalan dengan anggota lain sementara Jihoon memanfaatkan waktu untuk tidur.
Malamnya, mereka makan bersama di ruang privat yang disediakan oleh pihak hotel (mereka terlalu malas untuk memesan tempat di luar, mengingat banyaknya orang yang mengikuti hingga ke hotel kemarin). Sambil minum-minum, seluruh anggota yang hadir menyanyikan lagu selamat ulang tahun tepat pukul 12 malam. Ketika jarum pendek jam merujuk angka 2, Jihoon dan Soonyoung berpamitan untuk kembali lebih dulu ke kamar. Joshua dan Seokmin menggodanya dan mengatakan sesuatu tentang bermesraan, namun Jihoon hiraukan. Dia sedang senang, jadi tidak ada satupun godaan menyerempet iri dari para anggota berhasil menghancurkan suasana hatinya. Lagian dia memang ingin bermesraan dengan Soonyoung, kok.
Jika kalian berpikir mereka akan menghabiskan malam panas bersama, jawabannya tidak. Jihoon dan Soonyoung adalah dua pria dewasa yang memiliki akal sehat dan mengutamakan karier. Mereka tidak akan melakukan hubungan badan yang melibatkan penetrasi karena lusa harus tampil di acara penghargaan. Tapi bukan berarti mereka hanya akan duduk berdua sambil membicarakan anime terbaru. Tidak.
Ketika sampai di kamar hotel yang Soonyoung tempati, pria yang sekarang jadi ambassador Diesel itu meraup Jihoon untuk masuk ke pelukannya. Jihoon melingkarkan kakinya di pinggang Soonyoung dan tertawa geli ketika punggungnya menempel ke pintu hotel. Wajah Soonyoung merah total, matanya tidak begitu fokus karena minum cukup banyak tadi. Jihoon sendiri sudah pening dan merasa kontrol dirinya lebih longgar dari biasanya. Ketika menatap Soonyoung yang memberikan sorot penuh puja meskipun pikirannya entah di mana, Jihoon merasa harus membalas. Jadi, ia tundukkan kepala dan membubuhkan kecupan-kecupan ringan pada bibir Soonyoung yang masih ada rasa alkoholnya.
Kalau sudah diberi ciuman seperti itu, Soonyoung mana mau menolak. Ia balas kecupan Jihoon hingga perlahan kegiatan itu berubah menjadi ajang lumat bibir dan tentu saja, hisap lidah. Soonyoung perlahan mengubah posisi mereka, menggendong Jihoon agar ia bisa berbaring di kasur dan melanjutkan ciuman dengan nyaman.
“Harusnya... kita... istirahat,” ujar Jihoon disela ciuman Soonyoung yang semakin lama semakin menuntut. Kekasihnya menjauhkan wajah, menarik napas dalam-dalam kemudian menempelkan dahi keduanya. Jihoon merasa lehernya memanas ketika Soonyoung tersenyum miring dan menatapnya dalam.
“Kamu tidur saja. Aku masih banyak kegiatan.”
Jihoon tahu kalau dia benar-benar tidur, Soonyoung tidak akan melakukan apa-apa. Cuma gertak sambal, tapi tetap saja rasanya panas ketika diberikan tatapan penuh nafsu oleh kekasih sendiri.
“Memang kamu mau apa? Kita gak ada kondom, gak bisa blowjob juga,” tantang Jihoon. Dia penasaran sekarang Soonyoung akan menjawab apa.
“Hmm... kamu gak berpikir aku bisa melepas hasrat hanya dengan ini dan ini, ‘kan?” tanya Soonyoung balik sambil menunjuk mulut dan kejantanannya yang masih tertutup celana.
Jihoon tertawa mendengar itu. Malam ini mereka tidak akan melakukan apa-apa, tapi nanti, ketika jadwal mereka sudah lebih luang, dia pasti akan menagih ini.
Soonyoung mengusap wajah Jihoon, kemudian membubuhkan kecupan sayang ke pipi dan dahinya. “Aku suka dengar kamu tertawa lepas seperti ini.”
Ketika pipinya terasa sakit karena senyum terlalu lebar, Jihoon menghela napas dalam. “Kenapa?”
“Aku suka saja melihat kamu bahagia.”
Tuhan, bahkan setelah bertahun-tahun Jihoon masih saja jatuh cinta ketika Soonyoung menatapnya. Andai bisa, dia pasti akan membanggakan momen ini pada siapa saja.
“Aku juga suka melihat kamu mendesah manja.”
Napas Jihoon tercekat ketika Soonyoung membubuhkan kecupan di ceruk lehernya, tepat di bawah daun telinga, salah satu titik sensitif Jihoon.
“Apa—hei!”
Malam itu, Soonyoung sekali lagi membuktikan pada Jihoon bahwa dia bisa melepaskan hasrat dengan anggota tubuhnya yang lain.
(Untuk beberapa waktu Jihoon akan mencegah lidah Soonyoung mendekati bokongnya. Dia terlalu lemah untuk diberikan rangsangan seperti itu).
**^^**^^**
Seperti tahun-tahun sebelumnya, Jihoon memulai siaran langsung untuk menyapa penggemar. Kali ini, ia melakukannya secara pribadi di kamar hotel salah satu manajer, berbekal kue karakter miniteen-nya dan balon khas universe yang disiapkan staf. Kali ini tidak ada yang mengawasi karena dia hanya akan menyapa penggemar sebentar saja. Jihoon juga ingin memberikan waktu istirahat untuk para staf yang besok akan bekerja sangat keras hingga SEVENTEEN menuju jadwal lain. Manajer yang menjadi pemilik kamar menunggunya di luar, percaya Jihoon tidak akan melakukan hal aneh apalagi membocorkan kegiatan SEVENTEEN.
Jihoon menyapa para penggemar yang mulai membanjiri kolom komentar dengan ucapan selamat ulang tahun. Salah satu komentar menarik perhatiannya.
“Apa kamu sudah dapat hadiah?” bacanya dengan suara lantang.
“Masih belum. Aku gak tau bisa ngomong ini atau nggak,” Jihoon agak ragu mengungkapkan pendapatnya, dia tidak mau dicap sebagai orang sombong atau semacamnya, tapi dia ingin penggemar tahu.
“...aku gak suka nerima hadiah. Rasanya... membebani. Tapi kalau dikasih aku bakal tetap terima dengan senang hati.”
Pikiran Jihoon melayang pada kalung emas hadiah para anggota tahun lalu. Sekarang benda itu terpajang rapi di rak aksesoris rumahnya. Jihoon merasa sedikit bersalah karena tidak bisa selalu mengenakan benda itu, namun para anggota meyakinkan Jihoon bahwa mereka tidak masalah Jihoon tidak memakai kalung itu. Jihoon dari dulu memang bukan orang yang suka memakai perhiasan kecuali cincin SEVENTEEN dan jam tangan. Ia merasa beruntung mendapat keluarga yang begitu pengertian.
“Ah, komentarnya agak susah dibaca,” Jihoon menyentuh layar dan mengotak-atik pengaturan yang muncul. “Ah, gara-gara modenya berbeda, toh.”
Setelah memperbaiki pengaturan layar, Jihoon kembali membaca komentar penggemar.
“Aku mau lihat kamu pakai helm astronot,” Jihoon terkekeh membacanya. “Ngomong apa sih kalian.”
Jihoon tahu maksudnya helm yang dia pakai ketika syuting Going BSS. Tapi buat apa coba Jihoon memakai itu lagi.
“Oh iya, aku mesti nyalain lilinnya,” Jihoon mulai sibuk untuk menyalakan lilin di kue ketika Seokmin masuk ke kamar hotel sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun.
“Kamu bisa muncul dalam kondisi kayak gitu?” tanya Jihoon saat Seokmin, yang sedang pakai piyama dengan wajah tertutup masker, mendekatinya.
“Hyung tadi lagi ngomongin kado ulang tahun makanya aku ke sini buat ngasih,” Seokmin menunjukkan kantong plastik besar berisi kado Jihoon yang dipilihnya saat jalan-jalan kemarin.
“Oh, makasih. Tapi aku nggak suka diberi hadiah.”
Seokmin tahu itu, Jihoon sudah mengatakannya tahun kemarin ketika menerima hadiah mahal yang membuatnya ternganga. “Aku tahu, makanya aku langsung ke sini.”
Seokmin lalu mengeluarkan benda-benda yang dibelinya untuk Jihoon. Ada action figure dan beberapa pajangan lain yang bisa Jihoon pajang di studio atau rumahnya. Melihat Jihoon tertawa lepas, Seokmin yakin hadiahnya ini sudah tepat.
“Selamat ulang tahun jagiya~”
Seokmin mencondongkan tubuh agar bisa memeluk Jihoon. Beberapa tahun ke belakang, khususnya tahun ini, Jihoon menjadi lebih terbuka untuk dipeluk oleh para anggota. Dia ingin menunjukkan bahwa perasaannya kepada mereka setara, jadi dia tidak masalah mau dipeluk atau dirangkul karena para anggota adalah keluarga. Apalagi Seokmin sering merajuk kalau pelukannya ditolak (kadang Jihoon sengaja menolak untuk mengerjai Seokmin, tapi hari ini tidak dulu).
Setelah Seokmin meninggalkan kamarnya, Jihoon mulai menceritakan kegiatannya kemarin pada para penggemar.
“Aku ‘kan sebenarnya nggak minum alkohol, tapi kemarin buat perayaan ulang tahun, aku ngelakuin banyak hal dan minum-minum sama anak-anak. Makanya sekarang suaraku agak serak. Aku juga baru banget bangun tidur. Awalnya aku tidak tidur lelap tapi aku bangun sekitar jam makan siang, olahraga sebentar, makan, terus tidur lagi.”
Jihoon tidak mungkin bilang bahwa alasan terbesar suaranya serak adalah karena mendesahkan nama Soonyoung semalam suntuk. Dia juga mana mungkin memberitahu penggemar apa saja kegiatannya karena sebagian berisi hal-hal yang tidak aman dikonsumsi penonton kecuali telah dewasa.
Saat membaca komentar yang naik dengan cepat, Jihoon melihat pintu ruangan terbuka, menampilkan pria berambut pirang pendek yang masuk sambil membawa sesuatu.
“Sekarang kamu lagi?” tanya Jihoon tidak percaya. Mereka sudah menghabiskan malam bersama, tidur, olahraga, makan bersama, bahkan Soonyoung memberinya kecupan penyemangat sebelum dirinya pergi untuk memulai siaran. Padahal yang ulang tahun itu Jihoon, tapi kenapa yang manja malah Soonyoung?
“Ah, itu... ini tuh bukan barang yang mahal,” kata Soonyoung sambil memperlihatkan benda yang dibawanya. Senyum Jihoon merekah karena dia tahu itu adalah hadiah ulang tahun dari Soonyoung untuknya.
“Apaan lagi?” Jihoon tidak bisa menahan rasa senangnya melihat Soonyoung kebingungan mencari kalimat yang pas.
“Ah, itu... yang aku pakai...”
“Lagi?” Soonyoung sering memberikan pakaiannya yang jarang terpakai untuk Jihoon. Sang produser sih senang-senang saja. Dia jadi hemat pengeluaran dan tidak perlu membeli lagi. Tapi ya... belum ada yang Soonyoung tujukan sebagai hadiah ulang tahun. Selama ini Soonyoung pasti akan membelikan yang baru.
“Kamu tahu ‘kan? Ini tuh cuma... pokoknya kamu ambil, deh.”
Jihoon tertawa riang melihat kebingungan Soonyoung. Dia pasti tidak tahu mau mengucapkan apa sebagai pengantar hadiahnya. Terlebih Jihoon sedang melakukan siaran langsung. Semua orang yang menonton akan melihat dan Soonyoung pasti merasa ragu serta malu. Nanti setelah siarannya berakhir, Jihoon akan memberikan ucapan terima kasih yang lebih baik dan menenangkan Soonyoung yang mungkin pikirannya terlintas hal-hal aneh.
“Aku hanya pakai sekali kok...” Soonyoung berusaha meyakinkan Jihoon agar hadiahnya tidak terlihat seperti barang bekas. Dia tidak tahu saja, Jihoon tengah menahan gemas melihat matanya yang membesar dengan raut bingung dan pasrah. Ah, jika tidak sedang live, sudah Jihoon peluk dia erat-erat.
“Tapi ini tuh mahal,” Jihoon tertawa melihat apa yang sebenarnya Soonyoung bawa. Itu salah satu hoodie Chrome Hearts, brand yang saat ini disukai Soonyoung. Ketika Soonyoung pamer dulu, Jihoon memang sempat memuji kalau hoodie-nya bagus. Siapa sangka Soonyoung mengingat hal yang ia utarakan berbulan-bulan lalu?
“Terima kasih banyak,” Jihoon membungkuk sedikit pada Soonyoung. Raut bingungnya tadi telah berganti menjadi lega. Senang Jihoon menerima hadiahnya, Soonyoung mendekati Jihoon sambil mengembangkan pakaian tersebut.
“Kamu mau aku cobain?”
“Iya.”
“Tapi aku gak mau jaketnya kena krim kocok,” Jihoon mendorong kuenya ke depan, kemudian sedikit membungkuk agar Soonyoung bisa menyampirkan pakaian itu ke bahunya dengan leluasa. Jihoon sekali lagi berterima kasih pada sang kekasih.
“Ini tuh satu set, ada celananya juga.”
Jihoon melihat Soonyoung menunjukkan celana yang dimaksud. “Iyakah? Aku pakai besok, deh.”
“Oke!” Soonyoung meletakkan celana itu di kursi yang ada di depan Jihoon. Ia berbalik kemudian tersenyum manis.
“Happy Birthday my— my bro~”
Jihoon menaikkan kedua alis ketika Soonyoung bergerak untuk memeluknya. Dia pasti hampir keceplosan mengucapkan panggilan sayang lain (atau malah kebingungan memilih kata bahasa Inggris yang tepat) makanya berucap demikian. Jihoon tidak terlalu memikirkan, membiarkan Soonyoung meraih lehernya dengan telapak tangannya yang besar dan hangat, kemudian menepuk-nepuk punggung Soonyoung.
Jihoon merinding karena jempol Soonyoung mengelus batas rambut dan lehernya. Tangan besar itu meremas lehernya singkat, kemudian Jihoon merasakan sesuatu yang basah dan hangat menghisap permukaan lehernya, tepat di ceruk leher.
THE FUUUUCCCCKKKK!!!
Sekujur tubuh Jihoon membeku, bahkan tangannya yang konstan memberi tepukan pada punggung Soonyoung otomatis berhenti. Milyaran hal melintas di otaknya dalam kecepatan cahaya. Ketika otak cemerlangnya berhasil memproses apa yang terjadi, jantungnya langsung bekerja ekstra dan memompa darah ke seluruh penjuru tubuh. Jihoon bisa merasakan telinganya memanas. Bahkan ujung kuku jari kakinya terasa seperti disengat listrik.
Tidak berhenti di sana, setelah membubuhkan hisapan (semoga tidak ada bekasnya, Tuhan—doa Jihoon dalam hati), Soonyoung menghirup titik tersebut kemudian menjauh dengan tawa keluar dari tenggorokannya.
Bisa-bisanya dia tertawa? Setelah menghisap leher Jihoon di siaran langsung yang disaksikan entah ada berapa banyak penggemar?
“Gila ya?!”
Soonyoung tertawa lebih lebar. Matanya seolah berkilauan oleh jutaan bintang ketika menatap Jihoon.
Mana bisa dia marah kalau Soonyoung terlihat sebahagia itu?
“Habis minum ya?”
Jihoon ikut tertawa, tapi dia juga sibuk memikirkan banyak kemungkinan. Apa sebabnya Soonyoung melakukan itu, coba?
Soonyoung menggeleng singkat, kemudian mengalihkan topik pembicaraan.
“Nggak. Tapi kamu coba deh bajunya.”
Jihoon menurut, memasukkan tangan ke bagian lengan jaket. “Pasti bakal pas kok,” ujar Jihoon sedikit menghibur.
“Eung, eung,” meski demikian, Soonyoung tetap membantu Jihoon memasang jaketnya.
“Kalau ukurannya kamu mah, pasti pas buat aku.”
“Setuju.”
Jihoon itu suka pakaian yang kebesaran, yang tidak ketat apalagi sampai mencetak lekuk tubuh. Beda lagi kalau sedang latihan koreografi, pakaian pas badan itu paling tepat. Tapi untuk sehari-hari, Jihoon lebih suka yang kebesaran dan longgar. Apalagi pakaian Soonyoung biasanya menenggelamkan Jihoon dalam kenyamanan.
“Sebenarnya aku mau beliin satu buat kamu. Aku udah cari-cari tapi gak nemu.”
Jihoon menggelengkan kepala. “Kamu gak perlu beli. Yang udah kepake gini tuh yang paling bagus.”
Jihoon tidak suka dibelikan barang-barang baru. Diberikan benda yang sudah tidak dipakai oleh orang lain karena mereka ingat Jihoon akan menjaganya dengan baik lebih membuatnya senang. Ada rasa lega karena dia tidak perlu membuang uang serta rasa senang karena diingat.
Sambil memasang jaket yang sekarang menjadi miliknya, Jihoon merasakan Soonyoung menepuk kepalanya, membahas topi hadiah yang kini dia pakai. Kemarin ini Jihoon pamer lewat media pesan pada Soonyoung tentang topi itu, namun baru kali ini Soonyoung melihatnya. Mereka memang agak jarang bertemu akhir-akhir ini.
Setelah jaketnya terpasang sempurna, Jihoon merapatkan pakaian itu dengan tangannya yang tertutup lengan baju. Ada samar aroma parfum Soonyoung yang segar menempel di sana. Sekarang suhu tubuh Jihoon meningkat bukan hanya karena aksi Soonyoung tadi, tapi juga karena dirinya serasa dipeluk Soonyoung dari belakang. Sambil menyembunyikan wajahnya yang semakin panas serta senyum yang hampir terkembang, Jihoon mengucapkan terima kasih pada Soonyoung yang pergi keluar ruangan.
Tidak lama setelah Soonyoung pergi, Seokmin kembali membawa bando karakter yang dibelinya. Pria itu merengek agar Jihoon mau memasang pemberian itu sekarang juga. Setelah menjahilinya sedikit, Jihoon akhirnya membiarkan kepalanya dihiasi bando putih.
“Aku tuh udah lumayan malu depan kamera, tapi sekarang ngeliat ini di kamera tuh malu-maluin banget. Kalau seseorang baru masuk ke live ini mereka bakal mikir, ‘astaga, jadi dia sukanya yang kayak gitu,’” keluh Jihoon pada penggemar yang sedang menonton.
“Nah, baru juga dibilangin,” serunya ketika melihat komentar serupa dengan yang baru saja ia utarakan.
Jihoon masih melanjutkan siaran langsung beberapa saat. Tidak sekalipun ia melepas jaket dari Soonyoung, berusaha keras menutupi wajahnya dengan menenggelamkan diri pada pakaian kebesaran. Jihoon tahu wajahnya memerah, bahkan ujung jarinya juga. Harapannya dengan menutup diri seperti ini, penggemar tidak akan menyadari bahwa seorang Lee Jihoon sedang tersipu malu.
“Sekali lagi terima kasih banyak. Bye~”
Setelah mematikan siaran, Jihoon menarik napasnya dalam-dalam.
Satu...
Dua...
Tiga...
Empat...
Memeluk pasangan celana yang tadi tersampir di kursi, Jihoon memasukkan kado Seokmin ke dalam plastik. Lengannya memeluk kado yang diterimanya kemudian Jihoon keluar dari kamar tersebut.
“Jihoon-ah, kamu tampak menggemaskan sekali?!”
Jihoon memberikan senyum singkat pada Joshua yang kebetulan lewat bersama Seungcheol. Maniknya menyapu lorong hotel yang disewa tim SEVENTEEN. Menemukan yang ia cari, Jihoon menarik napas dalam-dalam, kemudian...
“Kwon Soonyoung gilaaaaaaa!”
Mengejar Soonyoung yang berlari ke dalam kamarnya untuk menyelamatkan diri sambil tertawa-tawa.
**^^**^^**
[Soonyoung]
Soonyoung sedang memilih-milih baju karena ia akan tampil di siarang langsung Na PD ketika ponselnya berbunyi, menampilkan notifikasi dari aplikasi weverse. Ketika membukanya, ada Jihoon dengan kue berbentuk ppyopuli bertopikan ceri. Senyum Soonyoung merekah melihat kekasihnya itu menyapa penggemar dengan ceria.
Sambil mendengarkan, Soonyoung mengeluarkan set jaket Chrome Hearts dari kopernya. Ia berniat memberikan ini ke Jihoon kemarin malam tapi mereka terlalu sibuk melakukan hal lain hingga Soonyoung lupa. Sebenarnya Soonyoung ingin membelikan Jihoon jaket baru dari seri yang sama, tapi entah kenapa sebanyak apapun toko yang ia datangi, tidak ada yang mirip dengan ini. Mengingat Jihoon telah berulang kali mengutarakan ia lebih suka benda tidak terpakai yang masih berfungsi dengan baik, jadi tak apalah jaket ini ia berikan pada Jihoon.
Apalagi melihat Jihoon tenggelam mengenakan pakaiannya memberikan rasa senang pada Soonyoung. Apa ya, istilahnya? Boyfriend shirt? Pokoknya kalau Jihoon sudah memakai barang milik Soonyoung, dia merasa senang, bangga, sekaligus gemas.
“Selamat ulang tahun jagiya~”
Soonyoung mengangkat alis melihat Seokmin yang memanfaatkan kesempatan untuk memeluk Jihoon. Tidak, Soonyoung sama sekali tidak cemburu pada Seokmin hanya karena memanggil kekasihnya 'sayang'. Seokmin dari dulu memang begitu, secara sengaja memanggil Jihoon dengan beragam panggilan mesra. Selain karena dia memang menyayangi Jihoon sepenuh hati, juga karena ingin menggoda Soonyoung yang hanya bisa begitu ketika mereka berada di rumah.
Lagi pula, Seokmin mana berani menantang Soonyoung. Kalau di suruh memilih siapa penggemar pasangan itu, mungkin Seokmin berada di urutan kedua (Jeonghan akan selalu menjadi pendukung nomor satu).
Meski tidak cemburu, Soonyoung merasa harus mengklaim Jihoon-nya kembali. Jadi dengan secepat kilat, Soonyoung membawa hadiah Jihoon kemudian menunggu di lorong hingga Seokmin keluar.
“Jagiya, huh?”
“Hyung?!” Seokmin terperanjat kaget. Matanya membola sementara jantungnya mau jatuh ke perut. Seketika Seokmin mencemaskan nasibnya karena sekarang Soonyoung menatapnya dengan raut wajah datar.
“Hyung, aku sumpah gak ngapa-ngapain! Aku gak bersalah! I’m innocenteu!”
Soonyoung memperhatikan penampilan Seokmin yang sudah siap tidur. Ia tersenyum meremehkan kemudian masuk ke kamar setelah mengacuhkan Seokmin. Dalam hati ia terkikik karena Seokmin kini kebingungan. Mengerjai Seokmin itu mudah sekali.
Ketika menutup pintu, senyum Soonyoung melebar. Jihoon terlihat menggemaskan dengan kuenya. Ah, betapa beruntungnya Soonyoung menjadi kekasih sosok semenggemaskan, sekeren, sebaik, seramah, semenakjubkan Jihoon.
Ketika menatap langsung wajah Jihoon, Soonyoung kehilangan kata-kata. Jujur saja dia memang agak impulsif dengan menerobos masuk karena merasa tidak mau kalah dengan Seokmin. Soonyoung jadi ragu apakah yang ia bawa akan disukai Jihoon.
Ketika menunjukkan jaket itu pada Jihoon, Soonyoung bersumpah ia bisa melihat wajah Jihoon menjadi satu tingkat lebih bercahaya. Memangnya bisa, ya?
“Terima kasih banyak, sungguh.”
Ah, Jihoon menggemaskan sekali.
“Happy Birthday my—“ love. “My bro~”
Soonyoung menggigit lidahnya sendiri ketika ia bergerak untuk memeluk Jihoon. Hampir saja keceplosan.
Ketika tangannya meraih leher Jihoon, berjuta kemungkinan melintasi pikiran Soonyoung. Ia teringat ketika leher putih ini berada dalam genggamannya kemarin. Seluruh bagian tubuh Jihoon itu meskipun maskulin, tetap terasa kecil baginya. Sebelah tangan saja dia bisa melingkupi leher Jihoon. Saat merasakan tangan Jihoon menepuk-nepuk punggungnya, sisi Soonyoung yang lain mengambil alih dan dia membubuhkan kecupan singkat ke ceruk leher sang produser.
Soonyoung menghirup leher Jihoon yang masih tertinggal aroma parfum miliknya. Tuhan, Jihoon ini benar-benar...
Menjauhkan diri dari Jihoon yang membatu, Soonyoung tertawa karena Jihoon jelas konslet sesaat. Bahkan Soonyoung bisa merasakan Jihoon berhenti napas.
“Gila ya?!”
Soonyoung tertawa lebih lebar. Meskipun Jihoon berusaha untuk tidak melakukan apa-apa, dia tahu setelah siaran ini berakhir Jihoon akan memarahinya habis-habisan.
Tuhan, kekasihku menggemaskan sekali!
“Habis minum ya?”
Soonyoung mungkin memang mabuk. Biasanya dia mana mau melakukan kontak seintim ini di depan kamera? Soonyoung lebih senang hanya dirinya yang dapat menikmati berbagai reaksi Jihoon.
Ketika dirinya keluar ruangan, meninggalkan Jihoon yang terbalut jaketnya dengan nyaman, Soonyoung tidak bisa menahan diri untuk tersenyum lebar.
‘Aku sepertinya tidak tertolong lagi,’ Soonyoung menghela napas bahagia.
Soonyoung mendongakkan kepala, mengangkat sebelah alisnya karena Seungcheol dan Joshua menggeleng tak percaya padanya.
“Yah, Hoshi-ah, kamu sudah gila ya?” tanya Seungcheol sambil melambaikan ponselnya yang menampilkan siaran langsung Jihoon. Soonyoung bisa melihat Jihoon menopang lengannya di meja dengan lengan baju yang hampir menutupi seluruh tangan.
“Bukan gila, aku hanya jatuh cinta.”
“Wah, beneran gila ternyata.”
Soonyoung tertawa lepas sambil melangkah menuju kamarnya. Mengabaikan Seungcheol, Joshua, Seokmin (yang baru keluar kamarnya membawa dua bandana), serta Seungkwan (baru kembali dari mesin penjual otomatis) yang menatapnya seolah Soonyoung punya dua kepala.
Secara teknis, kepala Soonyoung memang ada dua, tapi bukan itu poinnya.
“Jihoon Hyung akan membunuhmu nanti,” komentar Seungkwan.
Soonyoung hanya mengedikkan bahu.
Ah, ini hari yang indah.
**^^*Selesai*^^**
