Work Text:
Aku sudah datang sejauh ini. Berjalan dengan dua kaki melewati banyak tanah dan darah, hanya agar kita dapat bicara. Aku membawa semuanya, yang akan membuatku tergugu-gugu, yang akan membuatku tidak lagi bertanya, dan mungkin yang akan membuat ini waktu terakhir kita berbicara.
Mungkin akan aku sediakan dua kursi berhadapan. Bagus terbuat dari jati atau meranti, biar kuat menahan beratku untuk waktu yang lama. Mungkin akan aku sediakan juga meja kecil di antara kita berdua, bagus jika dari kayu yang sama. Akan aku sediakan buah. Kalau Kamu suka buah. Atau sesuatu yang busuknya agak lama sehingga saat kita bicara matamu tidak lenggang pergi dari mataku yang agak tidak enak dipandang.
Kamu tidak mudah bosan. Kamu tidak pernah bosan. Siapa pun tahu. Tapi ruangan ini putih dan hanya ada aku. Kamu harus melihat dan mendengar aku yang bicara, mungkin tertawa, mungkin berikutnya menangis, mungkin berikutnya lagi marah. Kamu akan di paksa melihat.
Aku mau banyak bicara. Serta menyalahkan. Dan diakhir jika aku memang tidak enak hati, akan minta maaf atas kelakuanku.
Ruangan ini lebih sepi dari saat aku terjebak di tanah tandus dan hanya ada suara angin sebab aku tidak membuka mulutku sedari tadi. Di sini, berhadapan denganmu, ternyata lebih membuatku kecil dari apa yang kubayangkan sebelum benar-benar datang ke sini. Bayangkan, sepanjang jalan menuju kursi kayu ini, aku sudah mengulang jutaan kata untuk apa yang harus kukatakan dan apa yang menjadi semestinya. Sebab aku tidak ingin lagi berbohong. Sebab aku tidak ingin lagi percaya apa yang hanya aku ingin percaya. Sebab aku tidak ingin berpikir bahwa yang tidak sebenarnya adalah nyata. Sebab aku lelah berjalan ke sini. Hanya untuk menipu diriku sekali lagi. Dan yang paling buruk adalah bahwa aku melakukannya di hadapan mata yang sebenarnya aku enggan untuk lihat.
Kulitku enggan mengelupas. Satu dari miliaran partikel yang melekat dan menjadi tubuhku lebih tahu daripada aku dengan siapa mereka bicara. Dengan mata siapa mereka berhadapan. Bahkan saat mereka mengelupas, Kamu sudah telanjur melihat lebih jauh.
Kehadiranmu lebih aneh saat aku merasa tekanan di perutku. Aku tidak tahu harus bagaimana aku melihatmu. Tatapanku selalu jatuh pada sesuatu yang busuk di atas meja. Apa kita sudah terlalu lama bicara? Apa kita berbicara? Mengapa aku bahkan tidak menyadari itu telah menjadi busuk?
Aku tidak akan membuat kehadiranmu sia-sia. Aku tidak akan membuat kerelaanmu untuk datang hanya melihat kebisuan memuakkan milikku.
"Apa aku bisa dimaafkan?"
Aku tidak bermaksud untuk suaraku menjadi begitu parau dan menyedihkan. Tapi sesuatu yang tertahan di kerongkonganku dan bagaimana dadaku mulai menekan benar-benar tidak dapat aku kendalikan. Semuanya menjadi sesuatu yang membuatku sekali lagi terlihat kecil, tak berdaya, dan memalukan.
Mataku panas, dan berikutnya yang kutahu cairan hangat kuku sudah jatuh membasahi kepalan tanganku. Sekali lagi, aku tidak bermaksud untuk menggunakan air mataku sebagai sesuatu yang membuatmu berkasih-kasihan. Tapi kamu tidak lekas bicara dan aku menjadi tidak sabaran. Aku ingin jawaban. Aku ingin sesuatu untuk aku dengar.
Kepalaku terangkat dengan terburu-buru setelah sepersekian waktu mencaci diriku sendiri atas hal memalukan ini.
Dan bagimana bisa mataku jatuh pada kursi kayu kosong yang persis seperti aku duduki?
Aku memikirkan banyak kemungkinan. Mungkin kamu pergi setelah melihat cukup apa yang ada padaku. Mungkin Kamu ingin dengar tapi rasa muak akan diriku lebih dari tujuanmu datang ke sini.
Mungkin Kamu tidak pernah datang. Hanya aku yang ada di sini. Aku dan pikiranku sendiri. Undanganku untuk duduk di sini dan semua yang akan aku bicarakan, adalah sesuatu yang bukan menjadi cukup alasan untuk Kamu datang ke sini.
