Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-11-24
Words:
1,732
Chapters:
1/1
Comments:
7
Kudos:
19
Hits:
458

Miracle In December

Summary:

Desember.

Bulan yang mempertemukan doyoung dengan jaehyun, lelaki yang memberikannya kebahagiaan.

Desember.

Bulan yang juga mempertemukan kembali doyoung dengan jaehyun yang begitu amat dirindukannya.

Work Text:

DESEMBER. Bulan penghujung tahun. Bulan terakhir yang penuh kebahagiaan menyambut pergantian tahun. Penuh canda dan tawa dari manusia-manusia yang menikmati momen kecil yang memberikan kebahagiaan terbesar pada mereka saat itu. Melupakan sejenak betapa dunia begitu tidak baik-baik saja, menyingkirkan rasa lelah karena pertarungan yang tidak ada habisnya dengan ketidakadilan dunia untuk sesaat saja. Ya, untuk sejenak merayakan kemenangan karena mampu bertahan di dunia yang seakan mencoba menyuruh kita untuk menyerah setiap detiknya.

 

Desember. Bulan yang penuh dengan keajaiban, pun memberikan luka bagi orang-orang terpilih untuk menerimanya. Di saat dunia sedang tertawa, akan ada orang-orang di sudut sana menangis terluka atas perih yang ditorehkan dunia pada hati mereka yang rapuh. Akan ada yang dengan senyum getirnya menahan pilu atas kesedihan yang dideritanya. Memasang topeng munafik kebahagiaan untuk menyembunyikan luka. Atau hanya bersandiwara demi kebahagiaan yang semu.

 

Doyoung berjalan menghampiri pusara yang diselimuti putih yang membekukan kepedihan hatinya. Ah, salju ini begitu menyedihkan. Begitu indah namun memberikan kesan sedih atas dingin yang menusuk kulit.

 

“hai” sapa Doyoung pada pusara yang terukir nama seseorang yang selalu menjadi sumber kebahagiaannya. Dia memberikan senyum termanis seperti biasanya, hanya saja senyum itu telah berubah sejak beberapa tahun belakangan. Senyum manis penuh bahagia, kini terbalut oleh getir yang seakan mengikis sisa-sisa kebahagiaan yang Doyoung coba untuk pegang agar tidak sirna.

 

“sebentar lagi natal, so merry christmas” ucap lelaki mirip kelinci itu dengan suara lirih, “mungkin ini terakhir kalinya aku bisa mengucapkannya padamu” Doyoung berjalan dengan langkah berat, menapaki putih yang menusuk kulitnya dengan dingin yang menyengat. Berdiri di tengah keramaian, hiruk pikuk orang-orang berlalu lalang menikmati malam yang semakin gelap. Dia menatap gelapnya langit malam, terbalut cahaya rembulan temaram. Seakan cahaya itu berjuang untuk tidak terenggut sinarnya oleh gelap.


Doyoung menutup matanya, menghirup dingin yang menggelitik bulu hidungnya. Rasa itu masih sama walau sedikit samar. Ada rindu yang mengetuk memori ingatannya. Mencoba maraba setiap jengkal samar ingatan yang terkubur di dalamnya.

“maaf, tadi saya tidak sengaja menabrak anda. Tadi saya sedang mengejar pencopet. Apakah anda terluka?” seorang pria tinggi dengan wajah tegas menghampiri doyoung yang sedang duduk di kursi taman, merapikan tasnya yang berantakan terjatuh.

 

“kemarikan tanganmu” Dengan sedikit ragu, pemuda itu mengulurkan tangannya yang diraih doyoung.

 

“saya benar-benar minta maaf”

 

“apa ada bagian lain yang terluka?”

 

“sorry?”

 

“kau tadi mengejar pencopet itu dan jatuh, apa ada bagian yang terluka selain tanganmu?”

 

“ah ini?” menunjuk pada luka di tangannya, “ini hanya luka kecil. Nanti juga sembuh sendiri”

 

“luka sekecil apapun kalau tidak diobati akan jadi infeksi”

 

“baiklah bapak doyoung, apakah anda seorang dokter?”

 

“bagaimana kau tahu namaku?” tanya doyoung terkejut mendapati pemuda asing itu mengetahui namanya padahal ini pertama kalinya mereka bertemu. Lelaki tampan itu menunjukkan tanda pengenal yang tergeletak di samping tas doyoung.

 

“ya, saya dokter”

 

“kalau begitu, saya akan mengikuti nasehat bapak dokter dan tolong obati luka saya” entah kalimat itu adalah kalimat ejekan atau benar-benar kalimat tanpa maksud apapun selain setuju dengan perkataan doyoung tadi.

 

“apakah saya perlu membeli obat dulu di apotek dekat sini bapak dokter doyoung?”

 

“tidak perlu, ada p3k di dalam tas saya and stop calling me pak! Saya tidak setua itu!”

“nama saya Jaehyun, Jeong Jaehyun”

 

“Kim Doyoung”


Doyoung tersenyum terbangun dari lamunannya akan masa lalu. Berdiri di tempat yang dulu menjadi titik pertemuannya dengan seorang Jeong Jaehyun. Bulan desember, bulan yang menjadi permulaan kisahnya dengan lelaki yang memberikannya kenangan terindah di hidupnya.

 

“berhentilah menggangguku. Kau tidak lihat di sini sedang sibuk?” doyoung sedikit mengomeli jaehyun yang datang ke rumah sakit tempatnya bekerja. Saat ini mereka duduk di salah satu sudut kantin sambil menikmati santap siang.

 

“aku tahu kau sedang sibuk tapi seorang dokter juga adalah manusia, mereka perlu makan dan istirahat. Tidakkah kau lihat kantong matamu sudah memiliki kantong mata lagi?”

 

“baik bapak jaehyun, aku akan istirahat habis ini. Sudah puas?” jaehyun tersenyum mendengar jawaban dari doyoung. Pemuda itu menunjukkan lesung pipi yang sangat sempurna, menambah ketampanan wajahnya yang begitu paripurna.

 

“good boy, i like it!” doyoung memutar bola matanya. Menampakkan wajah masam tapi bagi jaehyun, bagaimanapun juga wajah yang ditampilkan oleh doyoung, wajah itu tetap terlihat manisn dan imut.

 

“kau harusnya menghabiskan waktu liburmu dengan teman-temanmu” seru doyoung pada jaehyun tanpa memindahkan pandangannya dari hidangan yang ada di depan matanya, “bukankah kalian para tentara suka menghabiskan waktu libur kalian di bar bersama gadis-gadis cantik?”

 

“buat apa aku ke sana kalau di sini sudah ada yang lebih cantik, imut, dan menggemaskan?”

 

“siapa?”

 

“kalau kamu mau tahu, ikut aku nanti hari sabtu. Akan aku kenalkan dia padamu”

 

“kemana?”

Doyoung menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil mengingat kebodohan dan kenaifan dia saat bertanya pertanyaan konyol itu pada jaehyun. Harusnya saat itu dia sudah tahu jikalau orang yang dimaksud jaehyun adalah dirinya. Mungkin karena lelah dan kurangnya tidur membuatnya tidak bisa berpikir dengan baik saat itu.

 

Dahulu, doyoung tidak pernah mengenal namanya cinta. Berpikir untuk pacaran saja tidak pernah terlintas di benaknya. Yang dia pikirkan hanyalah buku dan pasiennya. Cinta bagi doyoung adalah hal di luar akal sehatnya. Dia tidak mengerti kenapa orang-orang begitu terobsesi dengan cinta dan mencari pasangan. Cinta hanya akan membuat akal sehat menjadi tidak berfungsi secara rasional.

 

“kita sudah 5 kali pergi kencan, kenapa kita tidak pacaran saja?” tanya jaehyun suatu ketika saat mereka sedang asyik menikmati santap sore di kantin rumah sakit.

 

“kamu sebut itu kencan? Jelas-jelas kamu memaksa dan menculikku untuk ikut denganmu padahal aku sedang menikmati tidur di hari libur”

 

“tapi kamu juga menikmatinya. Siapa yang waktu itu minta naik wahana viking sampai lima kali?”

 

“coba sebutkan apa keuntungannya aku pacaran sama kamu”

 

“keuntungannya cuma satu, kamu bakal punya pacar aku, Jeong Jaehyun”

 

“keuntungan macam apa itu? Sangat tidak logis”

 

“terus maunya apa?”

 

“yaudah”

 

“apaan?”

 

“ya pacaran”

 

“tadi katanya tidak logis”

 

“mau pacaran atau tidak?”

 

“ya maulah hehehehe, love you” ucap jaehyun cengengesan, “jawab love you too dong”

 

Lagi-lagi doyoung terbangun dari lamunannya akan masa lalu. Dia menatap hampa ke langit dan dengan suara lirihnya dia berucap kalimat yang sangat ia ingin ucapkan setiap harinya.

 

“I love you jaehyun.....and I miss you...so much”

 

Tanpa disadarinya, gulir bening mengalir di pipinya. Dia menangis tanpa bersuara. Air mata yang menetes menggambarkan sakit tak tertahan akan kerinduannya pada sosok yang selalu menemaninya setiap hari. Dalam doanya selalu tersebut nama jaehyun dan keinginannya untuk memeluk sosok yang dicintainya itu.

 

“I miss you jaehyun, I really miss you”


“menurut kamu, kalau besok tiba-tiba kiamat kamu mau apa atau mau melakukan apa?”

 

“tiba-tiba banget bahas kiamat”

 

“lagi kepikiran saja sih”

 

“entah mau apa, mungkin mati dengan tenang? Like, I don’t want to die in painful way. Kamu?”

 

“Aku maunya ada di samping kamu sambil menatap kamu sampai napas terakhir. I think if that happens, I will die with smile on my face”

 

“You love me that much, huh?”

 

“I do, Kim Doyoung. I really do love you so much”

 

***

 

“Jangan menangis, kalau kamu menangis nanti aku tidak rela buat pergi” tangis doyoung semakin menjadi ketika pelukan hangat itu mendekap dirinya.

 

Desember. Bulan yang memulai kisahnya dengan seorang Jeong Jaehyun, kini menjadi bulan yang mengantarkan perpisahannya dengan sosok yang dicintainya itu. Jaehyun harus berangkat memenuhi tugasnya sebagai abdi negara. Memprioritaskan bangsa di atas segalanya, termasuk di atas pujaan hatinya, Kim Doyoung.

 

“I will be back”

 

“Promise?”

 

“Promise” jaehyun mengecup kening doyoung dengan lembut sebelum melepaskan pelukannya, “please wait for me to come back to you”

 

“I still wait for you here jaehyun. Aku masih di sini menunggu kedatanganmu. So please, come back to me” lirih suara doyoung terkikis oleh dingin malam dan hembusan angin. Entah sudah berapa lama dia menunggu di sana setiap bulan desember. Berdiri di tempat yang sama hanya untuk menunggu kedatangan kekasih hatinya.

 

Purnama berganti, tahun pun berlalu. Namun, dia masih sama setiap harinya memegang harapan untuk menyambut kedatangan jaehyun yang berlari mendekapnya. Dia merindukan kehangatan pelukan itu. Kelembutan kecupan itu. Semerbak wangi tubuh atletis itu. Dan dia sangat merindukan kehadiran Jeong Jaehyun di setiap helaan napasnya.


“doyoung!” suara berat itu terdengar dari balik daun telinga doyoung. Suara yang sangat dia kenal. Suara yang sangat ia ingin dengar. Suara yang sangat dirindukannya.

 

Doyoung menoleh ke belakang untuk melihat sosok yang memanggilnya. Sosok itu, lelaki yang dirindukannya, berdiri di sana tersenyum padanya. Dengan seragam dinasnya, sosok itu tetap gagah seperti saat dia pamit ke medan perang. Jaehyun berdiri di seberang sana, tersenyum kepada doyoung yang matanya berkaca. Tidak menyangka akan kembali melihat sosok yang begitu amat dirindukannya.

 

“I miss you” terlihat gerak bibir jaehyun seakan mengucapkan kalimat itu. Doyoung berdiri terpaku di tempatnya. Masih mematung. Entah sudah berapa lama dia menunggu untuk menatap kembali lelaki yang dicintainya itu. Bertahun-tahun? Doyoung sudah lupa menghitung lamanya.

 

“kenapa menangis? Apakah kamu tidak senang melihatku kembali?”

 

Doyoung tak menjawab pertanyaan bodoh jaehyun itu. Dia menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan hangat seorang Jeong Jaehyun dan menangis sejadi-jadinya.

 

“Maaf karena membuatmu menunggu lama dan terimakasih telah menungguku”

 

“terimakasih sudah kembali padaku, jaehyun”

 

***

 

Hiruk pikuk di sekitarnya membuat doyoung penasaran dengan apa yang terjadi. Dia menatap sekitar dengan tangannya masih menggenggam erat tangan jaehyun. Di dapatinya kerumunan yang sedang melihat sosok kakek-kakek yang terduduk di kursi taman, agaknya sedang tertidur. Sosok itu terasa familiar bagi doyoung.

 

“doyoung” panggil jaehyun menarik perhatiannya kembali. Doyoung menatap jaehyun yang sedang tersenyum padanya seraya mengulurkan tangannya untuk diraih doyoung, “ayo!”

 

Doyoung tersenyum dan meraih tangan jaehyun. Merekatkan genggaman tangan mereka. Hangat. Sangat teramat hangat. Rasa yang sama seperti dulu jaehyun menggenggam tangan dia. Doyoung sangat suka rasa hangat yang diberikan jaehyun padanya. Rasa nyaman yang membuatnya merasa aman. Rasa cinta yang teramat besar padanya.

 

“jaehyun”

 

“hmmm?”

 

“I love you”

 

Jaehyun tersenyum dan menatap dalam pada sosok doyoung di depannya. Penuh kehangatan, penuh rasa cinta. Dikecupnya kening lelaki yang dicintainya itu dengan lembut dan diciumnya bibir merah itu, memberikan kehangatan di tengah dinginnya salju yang menyerang.

 

“I love you too, Doyoung. So much!”

 

***

 

“Doyoung, sorry tadi aku....” Kun yang kembali membawa segelas teh hangat kaget melihat sosok temannya sedang duduk tak bergerak di bangku taman itu.

 

“Doyoung?” panggil Kun lagi pada sosok lelaki tua yang tertidur dalam duduknya dan sambil tersenyum.

 

Lelaki tua itu telah tertidur dalam duduknya. Tertidur sambil tersenyum. Bahagia terpancar dari wajahnya yang terbalut garis keriput menua. Doyoung yang di usianya memasuki senja telah selesai menepati janjinya untuk menunggu jaehyun kembali padanya. Kini dia telah tertidur dalam mimpi yang abadi. Mimpi indah yang mempertemukannya kembali dengan sosok jaehyun yang dincintainya.

 

Desember.

 

Bulan yang mempertemukan doyoung dengan jaehyun, lelaki yang memberikannya kebahagiaan.

 

Desember.

 

Bulan yang juga mempertemukan Doyoung kembali dengan jaehyun yang begitu amat dirindukannya.

 

Dipertemukan dalam mimpi yang abadi.

 

 

--- FIN ---