Work Text:
Braaakkk…..
Tumpukan buku kuno yang memiliki ukuran besar dan cukup berat berjatuhan di lantai. Jisung jengkel bukan kepalang. Pasalnya, senior rese yang masih satu asrama dengannya jelas-jelas sengaja menabrak tubuh Jisung hingga barang bawaan sekaligus pemilik tubuh ringkih itu tersungkur bersamaan.
“Miiinnhhoooo!!!” teriak Jisung penuh amarah tak jauh beda dengan cicitan seekor tupai bagi Minho.
“Ops… gak sengaja. Makanya tumbuh tuh keatas, bukan ngembang di pipi,” Minho menimpali dengan wajah cengengesan tanpa dosa, sambil berlalu melewati Jisung dan tumpukan buku-bukunya.
Tak membuang waktu, Jisung berusaha bangkit sendiri. Namun, ia kalah cepat, karena di hadapan wajahnya sudah ada tangan seputih susu, dengan pembuluh darah menyembul yang memberi kesan kuat, terulur memberinya tumpuan untuk berdiri.
“Ada yang sakit gak?” Jisung memasang senyum paling manis khusus untuk senior Favoritnya dari asrama Slytherin, siswa populer seantero Sekolah Sihir Hogwarts, yaitu Bangchan.
“Gak apa-apa kak,” jawaban lugas dikemas dengan tingkah gemas. Chan segera membantu Jisung membereskan buku berisi materi berbagai macam ramuan yang harus segera diantarkan menuju kelas Profesor Severus Snape, Master Ramuan yang mengajarkan siswa berbagai macam bahan ajaib dan cara meracik ramuan dengan efek magis bagi orang yang meminumnya.
“Pantesan kamu jatuh Ji, bukunya berat gini.” Chan the master act of service segera membantu Jisung membawa semua bukunya—ekhem semua buku—menuju kelas ramuan.
***
“Avivors!” Felix berhasil mengubah penghapus menjadi seekor burung kecil dengan setetes ramuan yang baru saja diraciknya.
“Pullus!” Yaps kali ini Jisung tersentak kaget. Objeknya tiba-tiba meletup mirip ledakan kecil, hingga asap hitam membaur membuat wajah bulat Jisung menjadi cemong.
“Argh padahal gue udah bener ngeraciknya, kok meledak?” Di sampingnya, ada Felix yang tertawa melihat tingkah konyol sahabatnya.
“Voullos!” dan voila, kertas buram berubah indah menjadi kepakan sayap merpati putih yang menari di atas kepala para siswa.
“Haha pake V bukan P. Ayo coba lagi ji!” ahh Felix, definisi peri cantik dalam wujud manusia dengan hati malaikat, yang sialnya ditakdirkan bersahabat hangat dengan makhluk ceroboh berwajah mirip hewan pengerat macam Jisung.
Sesuatu yang hangat dengan aroma khas menyapa dahi Jisung, mengundang gelak tawa satu kelas
“Widih dapet jackpot tai burung nih si Jisung. Fresh from the bottom hahaha,” udah wajahnya cemong kehitaman, eh ditambah tai burung.
Air keran mengalir deras saat Jisung, dengan wajah kesal, mengusap wajah bulatnya dengan kasar untuk menyingkirkan kotoran merpati yang membuatnya jijik. Hari ini masih pagi, tapi kesialan sudah membuntutinya bertubi-tubi. Satu pintu bilik WC terbuka.
Tap…tap…tap …
Jisung mematung. Tak apa jika tadi dunia memusuhi dirinya, yang penting sekarang Pangeran pujaan hati sedang membantu Jisung mengeringkan wajahnya dengan sapu tangan berwarna cream. Terlihat di sudut kiri terdapat inisial BC, dibordir dengan benang emas, menyapa lembut setiap sisi wajah chubby mengurangi efek basah pada wajah.
“Lain kali hati-hati Jisung,” ucap Chan dengan lembut. Aarrgghh jantung Jisung clubbing ajep-ajep . Ternyata Kak Chan memperhatikan. Ia bantu mengeringkan wajah Jisung, dengan bonus senyum manis ditambah extra dimple di kedua sudut bibirnya. Jisung gugup, lidahnya kaku, tapi otaknya sigap memberi reaksi dengan anggukan lucu.
Tak cukup sampai disitu, tangan kiri Jisung digenggam lembut, “nih kamu boleh simpan sapu tangannya, keringkan rambut kamu juga ji.”
Kali ini Jisung berhasil mengatakan satu kalimat dengan mengalahkan rasa gugup. “Terimakasih kak chan, nanti Jisung kembalikan.”
Chan pun pergi meninggalkan WC karena kelasnya masih berlangsung. Jisung tatap memuja pada sapu tangan yang semerbak harum, senang bukan kepalang merasa mendapatkan golden ticket untuk menemui Kak Chan dengan alasan mengembalikan barangnya. Yah bisa ya, sekalian modus mengajaknya berkencan tipis-tipis nanti.
Satu bilik WC kembali terbuka. Jisung yang masih sibuk dengan kehaluannya membayangkan bisa kencan dengan Kak Chan, tiba-tiba golden ticket itu direbut paksa.
Huaaaa chuuuuu croooootttt…. Cairan ingus lengket membaur dengan kain cream yang dipuja Jisung.
“Nih Ji, makasih. Gatel idung gue.”
Sapu tangan yang ditangkup oleh kedua tangan mungil, dipandangi dengan mata berkaca-kaca. Sapu tangan berharganya sekarang belepotan ingus. Minho yang sudah setengah jalan ke arah pintu keluar meninggalkan WC, tiba-tiba teringat keadaan junior dibelakangnya itu masih dengan keadaan kepalanya basah kuyup. Kemudian Minho berputar membalikan badannya dan mengarahkan tongkat sihir ke arah Jisung.
“Degharings, ”
Whooss angin kencang berhembus hingga rambut ikal itu kompak berdiri tegak mirip manusia kesetrum, bahkan pipinya ikut mengembang saking kencangnya angin menerpa.
“Miiiinnnnnnnhhhooooooo,” teriakan luapan emosi Jisung menggema memenuhi ruang.
***
Malam ini seluruh siswa berkumpul di Aula besar dengan ratusan lilin putih melayang di udara menerangi kegiatan makan malam, dimana Gryffindor, Slytherin, Ravenclaw, dan Hufflepuff duduk bersama menikmati kudapan lezat setelah seharian belajar.
“Felix malem ini gue udah janjian sama Kak Chan bakal balikin sapu tangannya. Gue rasa ini saat yang tepat buat ngungkapin perasaan gue,” Jisung berbisik di sela-sela kegiatan mengunyah.
“Lo yakin mau confess malam ini juga?” Jujur, Felix tak siap dengan jawaban yang tak Jisung harapkan nantinya.
“Gue udah setahun lebih mendem perasaan ini dan gue rasa Kak Chan juga suka sama gue, Lix. Tiap gue lagi susah, pasti ada kak Chan yang bantuin,” kalimat mantap Jisung menunjang rasa percaya diri bahwa malam ini Kak Chan, senior pujaan hatinya, memiliki perasaan yang sama terhadap Jisung.
“Aaaaaaaaw, ” Jisung mengaduh ketika tengkuknya tiba-tiba terasa dingin. Lirikan mata mode pembunuh spesial diberikan hanya untuk Minho, yang sengaja memasukan bongkahan es batu lewat kerah bagian belakang kemeja Jisung, hingga tubuhnya lagi-lagi hampir jatuh dari kursi ke arah belakang. Untunglah Felix si peri cantik sigap menahan tubuh Jisung. Pelakunya sih seperti biasa melenggang bebas meninggalkan si korban keisengannya.
“Opss… sorry sorry gak sengaja, tangan gue licin,” permintaan maaf hanya formalitas untuk kesalahan yang jelas disengaja oleh Minho.
“Awas lu, Minho, tunggu pembalasan gue!” rutuk Jisung dengan mengacungkan garpu ke arah Minho yang melenggang tanpa beban.
***
Di bawah pohon Ek bermandikan cahaya bintang, ada Bangchan yang terlebih dahulu sampai di tempat yang dijanjikan untuk bertemu dengan Jisung. Dari belakang, Jisung senyum-senyum tersipu melihat tingkah Bangchan yang bermain dengan kunang-kunang, serangga yang pantatnya bisa kelap-kelip, sama seperti suasana hatinya yang sedang berdisko.
“Hallo kak Chan, maaf jadi nunggu ya.”
“Eh Jisung… Gak apa-apa, baru nyampe juga nih kakak. Liat ji, lucu kunang-kunangnya mirip debu pixie, ya, berkilauan.”
“Iya kak, bersinar terang
—bercahaya seperti wajah mu
Eh iya ini, kak Chan, terima kasih sapu tangannya.”
“Sama-sama Jisung. Gimana kelas sapu terbang tadi siang? Hahaha tadi kakak liat banyak yang jatuh di savana.”
“Susah tau kak, sapunya sensitif banget. Punya Jisung pas dinaikin, malah ngereog dia. Kesel banget, gimana mau latihan buat turnamen Quidditch.”
“Iya semangat Ji, lawan Slytherin itu tangguh dan kuat. Gryffindor harus berlatih keras buat merebut takhta pimpinan Hogw—” belum sempat Chan menyelesaikan kalimatnya, “ingkhasiah!” dengan cepat Chan mengayunkan tongkat sihir itu hingga mengeluarkan serangan cahaya berwarna hijau, melesat cepat membubarkan tiga orang senior yang jelas tengah melakukan perundungan pada salah satu siswa Hufflepuff.
Chan berlari menghampiri siswa yang tampak dari kejauhan. Keadaannya benar-benar berantakan, sungguh memprihatinkan. Chan merangkulnya dengan lembut, memberi pertolongan dengan menggendong tubuh lunglai dalam pangkuannya, dan melupakan kehadiran Jisung yang terdiam dibawah pohon Ek.
Ekor mata Jisung bergerak mengikuti kemana Chan membawa seseorang yang nyaman dalam pelukan itu. Jelas dari jubahnya, dia siswa Hufflepuff. Seharusnya Chan membawanya ke arah kiri, di mana asrama korban perundungan itu berasal. Namun, Chan berjalan ke arah kanan, tempat asrama Slytherin.
Karena merasa heran sekaligus penasaran, diam-diam Jisung mengikutinya, hingga kedua sosok itu hilang ditelan pintu kamar milik Chan. Tak habis akal, Jisung yang sejatinya keturunan murni Rubeus Hagrid, memiliki ikatan spesial dengan hewan biasa dan hewan ajaib. Dengan meminum ramuan khusus yang hanya dimiliki oleh keluarga keturunan murni, satu teguk saja dapat mengubahnya menjadi hewan tupai selama beberapa jam.
Tupai dengan warna bulu golden brown dan ekor panjang yang mengembang lembut menyelinap lihai kedalam sela-sela ventilasi udara, kini berhasil menemukan posisi tepat untuk mengintai setiap pergerakan yang terjadi. Chan sibuk mengobati setiap luka lecet dan lebam pada tubuh orang itu, yang wajahnya begitu manis sekaligus tampan. Mata teduh itu terpatri indah saat dirinya tersenyum.
“Mau sampai kapan sih kamu merahasiakan hubungan kita ini, Seungmin?” tanya Chan pada sosok yang kini Jisung tahu namanya Seungmin. Sedangkan yang ditanya hanya menggelengkan kepala.
“Jika seluruh siswa Hogwarts tau kalau kamu itu kekasih dari ketua ksatria Slytherin, takkan ada lagi orang yang berani mengganggumu, sayang.” Pelukan hangat penuh cinta bagi Chan dan Seungmin. Namun bagi Jisung, segala yang terlihat oleh mata cukup menghujam jantung. Tak sampai disitu Jisung harus menjadi saksi pergulatan lidah penuh hasrat, tak bisa dipungkiri mereka berdua benar-benar sepasang kekasih.
***
Kaki kecil penuh bulu itu berlari tak tentu arah, dalam benaknya, tupai kecil ini ingin pergi sejauh mungkin dari kamar sialan itu. Namun naas, Jisung masih dalam mode tupai, sehingga jarak dari asrama Slytherin ke asrama Gryffindor jadi dua kali lipat lebih jauh. Kesialannya tak berakhir begitu saja, karena tupai itu berlari kencang dengan pikiran kacau. Tak dapat dihindari tanpa sadar Jisung si tupai kecil meluncur bebas dari lantai atas dan tubuhnya jatuh tertahan gorden sebelum akhirnya kembali jatuh menghantam granit di lantai dasar.
Dan krek… tubuh tupai malang ini tak sengaja terinjak.
Kepala penuh bulu itu dibelai dengan khawatir. Mulut kecilnya dibuka perlahan dan diberi tetesan ramuan dengan bantuan pipet, kemudian diangkat tubuh mungil mirip bomboloni itu dengan perlahan ke atas bantal empuk di kasur.
“Hai tupai kecil. Maafkan aku tak sengaja menginjak mu tadi. Sebagai permohonan maaf, aku akan merawatmu hingga kembali sehat.” Anggap saja Minho gila karena berbicara pada Tupai yang tak sadarkan diri. Walaupun begitu, tangan kanan Minho masih setia memeluk si tupai, dan sesekali jempolnya membelai kepala yang ukurannya hanya sebesar buku jari jempolnya.
Anggaplah ramuan itu manjur, tepat tengah malam Jisung mulai berangsur sadar. Mata indahnya berpendar memperhatikan sekitar yang nampak sangat asing. Ada simbol asrama Gryffindor. Syukurlah, yang terpenting dirinya sudah tak berada di kawasan Slytherin. Namun, Jisung yakin ini bukan klinik maupun kamarnya.
Dilihatnya kedua telapak tangan, hanya jari-jari kecil penuh bulu coklat. Argh sungguh sial harus terjebak dalam mode hewan. Karena kondisi tubuhnya yang sangat lemah, Jisung belum memiliki cukup energi untuk berubah kembali menjadi wujud manusia. Tubuhnya merasa sangat nyaman tertidur di atas bantal empuk plus pelukan hangat dari telapak tangan seseorang yang kini tertidur pulas.
Sensasi mirip suntikan adrenalin, Jisung lagi dan lagi kaget karena seseorang baik hati yang merawat tupai kecil itu adalah musuhnya, Lee Minho. Ia terbaring tanpa pakaian, memamerkan perpotongan indah setiap otot yang menyembul di posisi yang tepat. Wow lihatlah dada bidang kokoh berisi itu, dipadupadankan dengan sepasang bisep kekar dan disempurnakan oleh otot perut yang terdiri dari 6 kotak. Sexy bukan maha karya indah semesta yang terangkum dalam tubuh seorang Lee Minho.
Tak luput dari pemindaian mata Jisung, yang sungguh baru kali ini menyadari bahwa Minho memiliki paras tampan, mata kucing, berhidung lancip dengan bibir tipis. Ahh tetap saja tak sejalan dengan tingkahnya yang menyebalkan.
***
Pagi ini Minho memulai hari dengan tersenyum gemas, pasalnya si tupai yang semalam tidur di atas bantal samping kepala, ternyata berpindah tidur dibawah ceruk lehernya, menggulung memeluk ekor panjang lembutnya yang turut menggelitik dagu.
“Hei tupai, makanlah berry dan kacang ini, ya. Nanti siang aku kembali lagi membawakanmu makanan yang banyak.”
Minho pergi pagi-pagi sekali karena harus latihan turnamen Quidditch yang akan diselenggarakan beberapa hari lagi. Bertepatan dengan kepergian Minho, Jisung baru terbangun, kondisinya kini sudah agak lebih baik. Ahh mungkin hari ini Jisung bolos kelas, tak mungkin mengikuti kelas dengan wujud hewan pengerat, menghabiskan waktu untuk pemulihan di kamar musuh tak seburuk yang dibayangkan, ternyata Minho orang baik berhati lembut.
“Accio!” sapu terbang milik Minho dengan gesit menghampiri sang tuan. Setelah selesai berlatih dari pagi, Minho terbang dengan kecepatan tinggi ke arah kelas dimana mata pelajaran terakhir bagi tingkat 1 telah usai. Matanya melirik ke setiap sudut ruangan. Nihil. Jisung tak terdeteksi radar mata Minho.
Ahh mungkin Jisung sakit terbaring di kamar asrama.
Hampir saja lupa, Minho memiliki janji penting pada pasien kecil yang terperangkap dalam kamar asrama.
“Hei tupai! Lihatlah aku membawa banyak kacang untukmu.” Minho menepati janjinya di jam makan siang, sengaja kembali ke kamar hanya untuk memberikan makanan kepada tamu kecilnya yang terkulai lemas di atas bantal.
Lucu, tupai itu makan dengan lahap hingga kedua pipi mengembang tiga kali lipat lebih besar dari ukuran normal. “Makanlah dengan tenang, tidak akan ada yang merebutnya darimu, sobat kecil.”
Selain menemaninya makan, Minho juga mengajaknya bermain. Bulu ekor panjang yang mengembang halus dikibas-kibaskan, dianggap sebagai kemoceng pembersih debu. Tak lupa mengelus-elus seluruh tubuh penuh bulu, hingga sang empunya kegelian bukan main. Suara cicitan khas hewan pengerat mengundang gelak tawa bagi Minho. Tak habis pikir, Minho juga mengajaknya ngobrol random. Yah… terlihat gila memang seperti ngomong sendirian dan si tupai belum tentu paham apa yang dibicarakannya. Masa bodohlah, niat Minho hanya menebus kesalahanya karena tak sengaja mencelakai makhluk selucu ini.
***
Tak terasa, bulan sudah menggantikan posisi matahari. Minho kembali ke kamar cukup larut setelah jam pelajaran terakhir usai. Setelah menyapa sahabat kecilnya yang tertidur damai di tengah bantalan lembut isi bulu angsa, tanpa risih ia membuka seluruh pakaian dan mengenakan celana pendek nyaman tanpa kaos. Mungkin Minho memiliki kebiasaan tidur tanpa memakai baju.
“Hai tupai kecil, bagaimana kabarmu? Lihat apa yang ku bawa ini, pil ajaib yang kubuat saat kelas ramuan tadi. Makanlah agar kau bisa cepat kembali pada keluargamu.”
Pil kecil sebesar biji merica, dengan warna pink terang karena diekstrak dari bunga Lilium, berhasil masuk ke dalam mulut kecil yang langsung ditelan karena teksturnya yang mudah hancur.
“Lekas sembuh kawan kecil dan maafkan aku,” tak lupa usapan di kepala berbulu adalah hal wajib yang harus dilakukan. Minho benar-benar lelah setelah seharian belajar dan berlatih, atau mungkin hanya terasa lelah karena mood nya benar-benar tak keruan karena sudah dua hari tak menjahili Jisung.
Setelah memakan obat, Jisung dalam mode tupai menggeliat mencari posisi ternyaman untuk kembali tidur guna memulihkan tubuhnya yang sakit. Grasak-grusuk menggeliat kasar tak bisa diam. Mungkin efek obatnya mulai bereaksi hingga Jisung si Tupai merasa tak nyaman. Minho yang menyadari itu spontan membelai halus. Ditangkupnya tubuh mungil tersebut, berusaha memberi posisi nyaman seperti sebelumnya memposisikan si tupai tidur di bawah ceruk leher Minho.
Lagi dan lagi Minho terpaksa harus bangun dari mimpi indahnya, saat tubuhnya terasa tertindih benda berat. Kelopak mata yang semula hanya mengintip keadaan, tiba-tiba terbelalak kaget. Ada tubuh manusia tanpa sehelai benang memeluk apik tubuhnya yang bertelanjang dada. Tangan kiri Minho terasa kebas karena dijadikan bantalan untuk menopang kepala yang entah siapa ini. Sontak tangan kanan yang menganggur mencubiti pipinya sendiri berharap semua ini hanya mimpi. Rasanya sakit dan ini bukan mimpi. Minho memberanikan diri menyibak lembut poni rambut yang menutupi wajah seseorang yang terlelap damai dalam pelukanya.
DEG!
Orang yang dicarinya selama dua hari ini ternyata ada di kamarnya dalam wujud siluman tupai. Apa karena ramuan buatannya itu manjur, sehingga energi Jisung bisa membawanya kembali dalam wujud manusia?
Minho tak mau bertindak sembrono, khawatir Jisung malu, marah atau bahkan membenci dirinya jika terbangun dalam posisi tak senonoh. Jalan tengah yang paling aman adalah pura-pura tidak tahu dan menciptakan sikon seolah tak terjadi apa-apa dengan terus berpura-pura tidur. Biarlah Jisung bangun dan pergi sendiri jika sadar nanti.
***
Felix mengetuk pintu kamar Jisung, karena khawatir seharian kemarin Jisung menghilang tanpa kabar. Pintu terbuka, Felix disuguhkan dengan keadaan sahabatnya yang memprihatinkan. Spontan saja Felix memeluk erat tubuh Jisung.
Sesuai prediksi, setelah info terakhir bahwa Jisung akan confess pada Kak Chan, senior yang disukainya selama setahun ini. Jika Jisung menghilang, sudah pasti butuh waktu menggalau untuk menerima kenyataan atas penolakan.
Jisung menangis hebat, yang terjadi padanya bukan sekedar penolakan, tapi kekalahan telak sebelum memulai perjuangan. Tak hanya penolakan saja, ada rasa malu setengah mati yang tak sampai hati Jisung ceritakan pada sahabatnya. Dirinya terbangun dalam keadaan telanjang yang sepanjang malam tidur dalam pelukan musuhnya.
Jisung yang panik dipaksa untuk tetap tenang melepaskan diri perlahan-lahan dari tangan yang menggelayut apik pada pinggangnya. Jangan sampai Minho terbangun. Mencuri sehelai pakaian, berjalan jinjit menuju pintu keluar dan lari terbirit hingga masuk dalam kamarnya sendiri. Felix yang mendengar nasib malang Jisung tentu sangat iba. Setau Felix, seorang Jisung tidak akan menyerah dengan mudah.
“Ji, keluargaku memiliki resep rahasia Love Potion , orang yang meminumnya bisa jatuh cinta selama beberapa hari. Ayo kita coba!”
Ya! Felix memberikan golden ticket kedua untuk Jisung.
“Benarkah? Ayo kita buat malam ini. Besok turnamen Quidditch akan dimulai, gue punya kesempatan buat ngasih minum ke Kak Chan tanpa harus dicurigai.”
Jisung dan Felix bergegas mengumpulkan segala bahan yang dibutuhkan untuk membuat ramuan pelet agar kak Chan bisa mencintai Jisung dan melupakan Seungmin. Akar bunga, teh kulit ular, daun kelor, dan sebagainya mulai masuk racikan. Tak lupa sehelai rambut Jisung agar yang meminumnya tak salah mencintai orang. Karena cemburu buta, Jisung berimprovisasi jika hanya rambut pantas saja efeknya hanya beberapa hari. Jisung ingin dicintai kak Chan selamanya. Maka ditambahlah potongan kuku, air liur, dan beberapa tetes darahnya. Semoga menghasilkan ramuan cinta mati.
Sorak-sorai riuh penonton menyemangati pemain yang mewakilkan Asrama masing-masing. Alih-alih menyemangati Minho yang satu asrama Gryffindor dengannya, Jisung sibuk menyemangati Chan dari Slytherin.
Cinta memang buta
Sayang sekali, bola terbang itu menembus pertahanan gawang lawan, membawa kemenangan untuk Gryffindor. Minho sebagai Kapten kini dielu-elukan oleh seluruh siswa asrama. Tak kalah populer dengan Bangchan, seorang Minho termasuk salah satu siswa kuat kebanggaan Hogwarts. Jisung berlari niat hati ingin menghampiri Chan dan memberinya minum yang tentunya sudah dicampur dengan ramuan Love potion— alias ramuan pelet.
Bangchan yang posisinya berada di belakang Lee Minho, belum juga Jisung sampai di hadapan target, tangan yang terulur membawa minum seketika direbut oleh si jahil Minho dan diteguknya cepat hingga habis karena rasa haus setelah memenangkan pertandingan sengit.
“Makasih minumnya, Ji,” satu kecup kilat tepat di bibirnya. Jisung mematung merutuki segala kebodohannya.
Kemenangan Gryffindor dalam turnamen ternyata bertepatan dengan hari patah hati masal. Pasalnya, ketua Asrama Gryffindor yaitu Lee Minho mencium seorang juniornya di lapangan, ratusan pasang mata menjadi saksi dan beranggapan bahwa Jisung adalah kekasihnya.
Tak kalah mengejutkan, Bangchan berjalan menuju tribun asrama Hufflepuff menghampiri Seungmin dengan niat mengakhiri masa backstreet setelah sekian lama menyembunyikan hubungan spesialnya, karena selama ini seungmin merasa insecure ; dirinya yang biasa-biasa saja untuk menjadi kekasih seorang Bangchan Idola Hogwarts.
Felix yang mengetahui akal bulus Jisung tak jauh beda dengan siswa lainya terkejut dengan segala limpahan fakta yang ada.
***
Tok…tok…tok…
Pagi buta, pintu kamar Jisung sudah di gedor.
“Ghrasupwei.”
Pintu terbuka, “masuk aja lix, buku catatan lo di atas meja belajar.” Jisung masih meringkuk terpejam di kasur dengan mata sembab, sakit hati mendalam harus menyaksikan kak Chan menggandeng erat tangan Seungmin. Nasib buruk tak habis di situ saja, ramuan pelet yang susah payah meraciknya malah salah sasaran.
Merasa dejavu, Jisung merasakan ada yang mengusap kepalanya lembut. “Lix peluk, hati gue sakit banget,” bagaikan gayung bersambut, tubuh Jisung dipeluk dari belakang, didekap erat hingga pucuk kepalanya diciumi manja.
Jisung menikmatinya karena Felix dan Jisung 24/7 manusia yang kalo gak skinship sehari tuh bisa meriang.
“Ji, udah dong, jangan nangis terus. Gue bakal bantuin lo buat lupain Chan.”
Mata sembab mirip kue apem itu melotot, otak mungilnya ngebug memproses suara tersebut. Siapa yang memeluknya dari tadi jika bukan Felix?
Perlahan Jisung melihat ke arah belakang. Oh sial, wajah Minho begitu dekat hingga deru nafasnya bergemuruh menerpa pipi chubby yang masih basah oleh air mata.
“Gue lagi gak mood ribut, tolong keluar dari kamar gue,” ucap Jisung dengan suara serak khas orang menangis berjam-jam.
“Gue suka sama lo, Han Jisung. Gue suka sama lo udah lama. Gue suka sama lo saat pertama kali kita ketemu di halaman belakang, tahun pertama saat lo baru masuk Hogwarts. Lo main sama tupai-tupai di bawah pohon Ek, sama kaya gue, sering bantu balikin bayi tupai yang jatuh dari sarang induknya. Sayangnya lo selalu acuh tiap gue coba buat deketin lo. Sampai akhirnya gue nemuin satu cara biar lo bisa inget sama gue tiap hari.”
Setiap kalimat yang Minho ucapkan terdengar jujur. Namun sayang, Jisung tahu betul apa yang Minho lakukan sekarang semata-mata efek ramuan pelet salah sasaran.
“Iya dengan cara lo selalu jailin gue tiap hari,” jawab Jisung.
“Huum dan itu berhasil. Lo selalu neriakin nama gue, lo bisa inget sama gue dan kita bisa berinteraksi. Semua itu udah lebih dari cukup buat gue. Sekalipun gue tau bahwa cuma Bangchan yang ada di hati lo.”
“Kenapa baru berani confess sekarang?” tanya Jisung.
“Buat gue, kebahagiaan lo itu yang paling penting Ji, sekalipun Chan yang jadi sumber kebahagiaan lo. Tapi pas tau kalo Chan ternyata udah lama pacaran sama Seungmin karena gak sengaja gue mergokin mereka ciuman di koridor ruang baca pas malem, Chan bilang udah macarin Seungmin jauh sebelum Chan jadi siswa Hogwarts. Gue pikir, rasa suka lo ke Chan cuma bakal bikin lo sedih sekarang. Gue harap lo mau ngasih gue kesempatan buat deketin lo, Han Jisung. Gue jatuh cinta sama pesona lo dari lama.”
Air mata Jisung berlinang kembali, hatinya merasa tersentuh setelah mendengar kejujuran seorang Lee Minho. Ternyata selama ini Minho sama seperti dirinya, menyukai seseorang dan jatuh cinta yang bertepuk sebelah tangan. Jisung paham bagaimana rasa sakitnya, tapi Minho cukup beruntung bisa mengungkapkan perasaannya, sedangkan Jisung, rasa sukanya harus di dibuang jauh tak ada kesempatan untuk mengutarakan. Namun sangat disayangkan, bagi Jisung segala ungkapan hati Minho tak lebih dari efek ramuan sialan itu. Andai saja Minho mengutarakan isi hatinya tanpa embel-embel ramuan pelet. Dapat Jisung pastikan bahwa Lee Minho adalah Golden Ticket ketiga — cara ampuh untuk move on dari belenggu pesona seorang Bangchan.
Jujur saja semenjak Minho merawat seekor tupai pingsan hingga kembali sehat dan selama dua malam itu pula tidur dalam pelukan hangat Minho. Berhasil sedikit membuka hati Jisung untuk menaruh perhatian pada musuhnya dulu.
***
Selama kelas ramalan berlangsung, Jisung hanya melamun. Hari-hari ceria berganti menjadi kelabu penuh awan hitam.
“Heh ngelamun mulu Ji. Liat tuh, pacar lo Kak Minho dah nunggu di depan.”
Felix yang tak pernah absen menonton drama romansa yang terjadi secara cuma-cuma depan mata.
“Eh iya Ji, ini ramuan pelet lo yang waktu itu kita bikin bareng, lo sebenernya jadi gak sih ngasih ini ramuan ke minumannya Kak Chan?” Felix memberikan botol kaca ukuran 30ml dengan warna cairan hijau dan pink yang terpisah.
Jisung shock hingga dirinya jatuh kejengkang ke arah belakang hingga seluruh siswa kembali menertawakannya, pikiranya melang-langbuana flash back kilat jika benar itu ramuan yang di buatnya bersama Felix, lantas segala perbuatan Minho itu murni kejujuran hati.
“Bener kan ini punya lo?” tanya Felix butuh konfirmasi segera.
Jisung memeriksanya dengan seksama, bahkan mencobanya sendiri. Benar ini ramuan buatannya; warna, tekstur dan aromanya Jisung ingat semua. Yang jadi pertanyaanya; bagaimana bisa ramuan itu ada disini sekarang? Bukankah Jisung sudah mencampurnya dengan air mineral yang diteguk habis oleh Minho.
“Kok bisa ramuanya ada di elo sih?” tanya Jisung.
“Coba lo inget-inget lagi, Ji, lo ngambil ramuannya di rak yang mana?”
“Rak kanan atas, kan? Ramuan yang udah penyaringan akhir.”
“Astaga Jisung! Ceroboh banget sih lo. Ramuan hasil akhir lo itu di kiri atas. Kalo kanan atas tuh ramuan asam urat pesanan Horace Slughorn. Untung gue double check , bisa berabe kalo sampe salah minum”
***
“Pelan-pelan dong, Ji. Mau kemana sih sebenernya?”
Minho berusaha menyelesaikan kalimatnya dengan nafas ngos-ngosan karena Jisung menyeretnya dengan terburu-buru menuju suatu tempat. Halaman belakang tepat dibawah pohon Ek, tempat dimana Jisung biasa bermain dengan teman-teman tupainya dan tempat dimana Minho menunggu bayi tupai yang butuh bantuanya.
“Kakak bilang jatuh cinta pada pandangan pertama pas kita ketemu disini, kan?”
Tunggu… apa katanya? Kakak? Jisung memanggil Minho, Kakak?
Tak lama, Jisung merubah dirinya menjadi seekor Tupai kecil yang sempat Minho rawat selama dua hari. Dengan cepat, ia memanjat celana bahan, hingga tubuh berbulunya ditangkup kedua tangan Minho. Kedua tangan super mungil dengan kuku tajam, balik menangkup pipi tirus Minho. Bibir kecil penuh bulu itu mencium Minho dan sesekali menggodanya dengan membelai wajah tampan dengan bulu lembut pada ekor panjangnya.
Minho tertawa geli, melihat tingkah Jisung dalam mode hewan pengerat. Tak lama, Jisung masuk kedalam saku kemeja Minho berusaha mengangkat botol ramuan, yang sempat Jisung masukan kedalam saku calon pacarnya.
Ah Minho paham. Jisung meminta Minho menenggak ramuan itu.
Minho berubah menjadi seekor tupai dengan bulu berwarna coklat khaki. Jisung kegirangan berlarian mengitari Minho yang masih berusaha beradaptasi dengan perubahan wujudnya.
Dua tupai girang yang berlarian main kejar-kejaran menuju pohon Ek. Jisung menuntun Minho untuk mengikutinya masuk ke dalam salah satu lubang di dahan pohon. Di sanalah kamar kedua Jisung yang nyaman sudah lengkap dengan serat kapas dan kacang-kacangan hasil menimbun selama beberapa hari.
Minho dan Jisung berpelukan erat menyatukan aroma khas tubuhnya menjadi satu. “Cciit cit ciit cit ciit,” Jisung mode Tupai bercicit yang artinya “Kak Minho ayo kita ciuman, jadikan hari ini hari pertama kita resmi menjadi sepasang kekasih.”
***
3 bulan kemudian…
Kedua jari, telunjuk dan jempol Minho mencapit ujung ekor tupai berwarna golden brown, yang seluruh bulunya basah kuyup, kotor, dan menggumpal dengan lumpur hitam yang aromanya aduhai mampu merangsang perut agar mengeluarkan seluruh isinya.
Kepala Jisung yang menghadap bawah terhempas ke kanan dan ke kiri, berpasrah diri tubuh kecilnya terombang ambing dalam genggaman Minho.
Mulut kecil itu tak berhenti bercicit merapalkan 1001 umpatan pada burung hantu peliharaan Minho, yang hampir saja menjadikan dirinya menu makan siang. Untungnya ada Minho dengan sigap melindungi Jisung. Namun sayang, efek serangan sihir itu mengakibatkan tubuh mungilnya ikut terpental ke dalam saluran pembuangan. Selain menahan ketawa, Minho juga menahan rasa mual karena Jisung benar-benar bau.
“Jangan dulu berubah, ya, sayang. Biar kakak mandiin kamunya gampang,” nada lembut dalam kalimat halus nyatanya tak sejalan dengan perbuatannya. Tubuh mungil Jisung diperlakukan layaknya pakaian yang sedang dicuci, dicelup-celupkan kedalam bak ember yang yang berisi air hangat. Blubbub… blubbub… blubub… gelembung udara berlarian menuju atas kala kepalanya ikut ditenggelamkan.
“Ih liat, rendaman airnya hitam gini, Ji.”
Ini adalah air bilasan Jisung yang keempat kalinya, mulai terlihat bening. Minho memberi sabun, menggosok gemas setiap lekukan tubuhnya yang terasa halus, bulu yang basah ditambah sabun harum. Setelah bulunya kembali bersih dan harum, Jisung digulung dengan buntelan handuk tebal, karena terhitung total enam kali dirinya di kucek dan bilas hingga badannya bergetar kedinginan. Suara gigi yang menggeretak tak dapat ditahan lagi.
Kini Jisung mengubah wujudnya menjadi manusia, nampak jelas tubuhnya bergetar hebat mencari kehangatan dalam selimut berlapis handuk. Suara gigi beradu semakin terdengar jelas di telinga Minho. Tak selang berapa lama, tubuhnya perlahan mulai tenang, rupanya Minho berinisiatif membagi kehangatan dengan metode tradisional—pelukan hangat skin to skin.
“ Kakak bisa bikin kamu kepanasan, lho . Mau coba gak?”
Sayangnya salah satu tangan Minho sudah sedari tadi mencuri start duluan dengan meremas buntalan sintal di bawah sana.
