Actions

Work Header

A Journey to Fixed The Library

Summary:

Minho hanyalah seorang pria yang mati-matian mempertahankan perpustakaan peninggalan Ayahnya. Di antara perjuangannya itu dia bertemu seorang laki-laki pendatang baru yang juga sangat mencintai buku, namun apakah datangnya laki-laki itu dapat membantu Minho dan perpustakaannya?

Notes:

Ikuti perjalanan Minho dan Laki-laki Pendatang Baru dalam misi menyelamatkan perpustakaan tua itu di sini!

Work Text:

Sudah lama Minho terdiam di mejanya, mungkin hanya enam bulan dia duduk-duduk di sini tanpa pekerjaan pasti—ini memang pekerjaannya, yang beberapa waktu belakangan terasa begitu santai.

 

Pekerjaannya memang sederhana, menjaga dan merawat perpustakaan tua peninggalan Ayahnya. Semenjak Ayah tiada beberapa tahun lalu, perpustakaan ini menjadi satu-satunya warisan yang diturunkan untuknya.

 

Namun lama kelamaan dia berada di titik bosan, saat semua orang meninggalkan perpustakaan karena teknologi yang sedikit demi sedikit memasuki desa tempatnya tinggal. Masyarakat jadi punya opsi lebih simpel untuk membaca buku hanya dengan membuka sebuah benda persegi panjang yaitu ponsel.

 

Minho tidak peduli tentang berapa lama lagi dia dapat bertahan di perpustakaan itu meski Kepala Desa setempat sering mendatanginya untuk membeli lahan perpustakaan miliknya untuk diratakan dengan tanah dan diganti sesuatu yang baru, yang lebih memiliki nilai guna daripada hanya menjadi bangunan tua, menyeramkan dan sepi ini.

 

Hari ini pekerjaannya hanya menyingkirkan debu-debu yang secara kurang ajar menghinggapi buku-buku koleksi perpustakaan ini. 

 

Kebanyakan rak berisi buku-buku lama, Minho tidak begitu sering memperbarui koleksi perpustakaan ini karena dia memang tidak terlalu senang mengikuti perkembangan buku sejak perpustakaan ini menjadi miliknya. Mungkin itulah salah satu faktor mengapa perpustakaan ini sepi, karena mereka tidak memiliki banyak koleksi buku-buku terbaru yang diminati anak-anak muda.

 

Disamping kegiatannya yang hanya merecoki debu-debu nakal, tiba-tiba lonceng di atas pintu berbunyi yang berikan tanda bahwa seseorang baru saja masuk. Bahunya merosot setelah menerka-nerka siapa yang baru saja memasuki perpustakaan tua ini.

 

“Udahlah Chris, bilang sama bokap lo, gue nggak tertarik jual bangunan dan tanah ini ke dia.”

 

Meski dibalas hening, Minho yakin kalau yang barusan buka pintu itu bukanlah hantu. Sebab dalam beberapa tahun belakangan sebagian besar waktunya ada di bangunan tua dan agak jelek ini, maka hantu bukanlah sesuatu yang dia takuti.

 

“Lagian gue nggak peduli seberapa gede projek bokap lo.”

 

Masih hening hingga Minho putuskan untuk menoleh, karena kalau itu Chris—anak sulung kepala desa—dia pasti sudah membujuknya lebih halus lagi. Namun yang dari tadi dia ajak bicara hanya diam tanpa respon apapun.

 

“Eh!” Pekik Minho, kaget mengetahui bahwa di belakangnya bukanlah Chris yang suka memakai kaos hitam dan celana selutut melainkan laki-laki asing dengan cardigan kuning cerah dan tas putih.

 

Laki-laki Matahari, begitulah Minho pikir setelah melihat setelannya dari atas sampai bawah yang didominasi warna kuning dan putih. Menjadi sangat bersinar seperti matahari.

 

“Kamu penjaga perpustakaan ini?” 

 

Minho mengangguk begitu kuat. Apakah Laki-laki Matahari ini adalah jawaban dari segala doanya tentang keberlangsungan hidup perpustakaan tua ini? Semoga saja iya karena setelah melihat balasan Minho, si Matahari menerbitkan senyumnya yang manis dan lega.

 

“Oh… Aku boleh liat-liat buku di sini?” 

 

Kehilangan kata-kata karena Minho masih tidak percaya ada orang yang mau memasuki perpustakaan tua ini, maka dia hanya balas dengan anggukan kencang sebanyak empat kali.

 

Lalu Laki-laki Matahari tampak mulai menyusuri rak demi rak yang untungnya sebagian besar sudah dibersihkan oleh Minho.

 

Sambil memeluk kemoceng yang penuh debu, Minho tersenyum senang sambil memperhatikan bahu sempit Si Matahari.

 

“Kamu lagi cari buku yang kayak gimana?” Minho putuskan untuk jadi penjaga perpustakaan yang baik hati, jadi dia datangi Si Matahari yang tengah melihat-lihat.

 

Dia menoleh, senyumnya hangat seperti sinar matahari pagi yang biasa Minho dapat ketika melakukan perjalanan ke sini dari rumahnya. Si Matahari kemudian menjawab, “aku butuh buku novel yang refreshing gitu, sih.”

 

Minho akhirnya mengajak dia untuk ke rak buku-buku fiksi, mulai dari genre romantis sampai horor, walaupun koleksinya didapat dari terbitan lama.

 

Laki-laki Matahari justru merasa senang bak mendapatkan harta karun dari buku-buku lama lini.

 

“Waaaah.” 

 

Tangan lentiknya terulur untuk mengambil sebuah buku lama yang tidak disangka ada di sini ternyata, padahal dia sudah lakukan pencarian selama empat jam di toko online dan hasilnya nihil.

 

“Sebentar, biar aku bersihin dulu.”

 

Minho ambil alih bukunya dan dia bersihkan dengan lap bersih yang dia sampirkan di bahu, tidak lupa ditiup-tiup supaya semakin bersih.

 

“Udah bersih, nih.”

“Makasih ya.”

 

Seperti tour guide, Minho bawa Matahari kelilingi perpustakaan ini. Sesi tour berakhir di meja yang letaknya sengaja ada di tengah-tengah, meja dan kursi lama ini berbahan dasar kayu yang sudah agak lapuk, maklum perpustakaan ini mungkin berusia lebih tua dari dirinya sendiri.

 

Mereka duduk bersebelahan sambil bercerita, sebenarnya kebanyakan hanyalah ocehan Minho mengenai sejarah awal dibangunnya perpustakaan ini.

 

“Gitu, Ji. Jadi perpustakaan ini walaupun udah tua tetep nyimpen banyak banget memori bareng Ayahku.” 

 

Ji merupakan nama pendek dari Jisung atau sebagaimana dia mengenalkan dirinya sebagai Han Jisung kepada Minho saat mereka berada dalam sesi tour perpustakaan.

 

“Makanya kamu nggak mau jual bangunan ini ke Ayahnya Chris? Aku denger sedikit tadi pas masuk.”

 

Minho tau pasti Jisung mendengarnya. Mendengar betapa jengahnya dia tentang Chris dan Ayahnya yang Kepala Desa itu untuk merebut bangunan dan tanah ini.

 

“Iya bener. Kalo aku jual mungkin emang bakal menguntungkan, tapi kalo sampe bangunan ini rata sama tanah udah pasti memoriku sama Ayah bakal ikut tertimbun.” 

 

Jisung mengerti posisi Minho yang serba salah.

 

“Mereka sering bilang kalo perpustakaan aku ini udah tua dan udah nggak layak, tapi gimana ya… Aku cuman nggak mau aja warisan satu-satunya dari Ayah ikut hancur dan rata sama tanah.

 

Si Matahari mengangguk, dia juga paham perasaan Minho sekali lagi.

 

“Tadi kamu sempet bilang waktu kita di rak belakang, kamu sering bohong ke Pak Kades kalo ada satu pengunjung yang sering dateng ya?” 

 

Minho mengangguk walaupun agak malu sedikit ketika Jisung menyebutnya berbohong, ya walaupun benar tapi berbohong tetap saja perbuatan jelek.

 

“Aku baru aja pindah ke daerah sini, aku bisa bantuin kamu.”

 

Mata Minho melotot. Merasa kalau mungkin saja dia bermimpi dan sedang tidur siang sehingga dia langsung mencubit tangannya sendiri kuat-kuat, dan rasanya begitu sakit. Artinya, ini nyata bahwa ada seseorang yang akan bersamanya menyelamatkan perpustakaan ini.

 

“Kamu serius, Ji?” 

 

Jisung mengangguk begitu yakin, “ini nomer telfon aku, kamu hubungin aku aja kalo butuh bantuan. Anyway, aku pinjem buku ini ya Kak?”

 

Hari ketujuh semenjak Jisung mengunjungi perpustakaannya setiap hari, dan bunyi lonceng di atas pintu merupakan bunyi yang dia tunggu setiap hari karena dibalik pintu yang terbuka pelan-pelan pasti ada Jisung yang selalu tersenyum lebar.

 

Kriing…

 

Minho menoleh, awalnya dia sumringah namun ternyata salah satu orang paling menyebalkan lah yang mengunjunginya. Siapa lagi kalo bukan Chris? 

 

“Ngapain?” Tanya Minho begitu ketus, sebab itu hanyalah pertanyaan retorik karena Chris akan kesini untuk kembali membujuknya menjual bangunan ini.

 

“Ngecek nih gedung tua yang sepi-sepi aja tuh. Bokap gue diluar, ngobrol di depan aja.”

 

Minho tolak dengan tegas dan percaya diri karena dia sudah punya senjata, yaitu Jisung sang pendatang baru yang rumahnya hanya berbeda tiga rumah dari rumah Kepala Desa.

 

“Kalo mau ngobrol di dalem, lah.”

 

Maka Chris panggil Ayahnya untuk duduk di kursi tengah-tengah, mereka berbincang—lebih kepada bujukan yang monoton agar Minho mau melepaskan bangunan ini cuma-cuma.

 

“Ayolah, Ho, sebentar lagi ada pemilihan kepala desa yang baru. Supaya saya bisa dicalonkan lagi ya dengan mengerjakan semua projek besar yang saya rencanakan, yaitu taman besar dengan playground khusus anak-anak.”

 

Ah, Minho sudah duga, semua bujuk rayu Pak Kades hanya untuk memenangkan keuntungannya sendiri bukan murni untuk masyarakat desa.

 

“Masyarakat kita nggak butuh taman playground Pak, kita justru harus ngenalin buku bacaan ke mereka apalagi anak-anak kecil.”

 

Pak Kades beri tawa sarkas, “gimana mau kenalan kalo bangunannya aja setua ini? Mereka takut dan ngira perpustakaan kamu ini gedung berhantu loh?”

 

“Lagian nggak ada juga yang dateng ke sini lagi, perpustakaan lo nggak dibutuh-butuhin amat kok.” 

 

Minho tersenyum singkat, “udah berapa kali sih gue bilang? Ada satu orang yang setiap hari dateng ke sini, kalo lo nggak tau mending diem aja.”

 

“Ya mana? Ngomong doang kamu, Minho.”

 

Perpaduan yang bagus antara Pak Kades dengan anak sulungnya dalam usaha membuatnya terpojok.

 

Kring…

 

Maka benar saja ucapan Minho ketika Jisung memasuki perpustakaan dengan percaya diri sambil membawa buku yang kemarin di pinjam. Dia langsung melipir ke rak yang lain sehingga Jisung masih bisa dengar obrolannya hari ini.

 

“Liatkan? Perpustakaan ini masih punya dia, pendatang baru yang hobi baca buku.”

 

Pak Kades tentu tau dia Han Jisung yang beberapa waktu lalu datang untuk pindah.

 

“Tapi tetep aja, kamu nggak bisa mertahanin perpustakaan ini cuman gara-gara satu orang. Seenggaknya harus ada sepuluh orang yang juga sering ke sini terutama masyarakat desa.”

 

Lalu Pak Kades dan Chris keluar dari perpustakaan, meninggalkan Minho yang bahunya kembali merosot disertai helaan napas pelan. 

 

Jisung tentu mendengar percakapan mereka walau tidak semua, tapi dia tau ada sesuatu yang membebani pikiran Minho.

 

“Kenapa Kak?” 

 

Kali ini dia pakai pakaian serba biru dan langsung ambil tempat duduk di depan Minho yang sudah menenggelamkan wajahnya di meja.

 

“Kamu beneran mau bantu aku?”

 

Jisung anggukkan kepalanya tiga kali dengan tatapan bingung.

 

“Kalo sama kamu doang, kita nggak bisa pertahanin perpustakaan ini.”

 

Awalnya dia kira salah dengar, tapi ternyata kuping sehatnya itu masih bisa mendengar suara.

 

“Aku tau gimana caranya.” 

 

Minho memajukan wajahnya supaya Jisung bisa membisikkan rencana rahasia itu. Lantas ekspresi sumringah mengisi wajah mereka, sesuatu yang sangat melegakan.

 

Sebuah mobil bak parkir di halaman perpustakaan, ada beberapa kaleng cat pesanan mereka beserta kuasnya juga. 

 

Bangunan tua dengan cat putih itu perlahan-lahan dibersihkan tentu oleh Minho sedangkan Jisung ditugaskan jadi mandor khusus hari ini.

 

Mereka mulai dari mengecat sisi depan perpustakaan jadi berwarna kuning cerah, setidaknya lebih baik daripada putih. Saat sesi mengecat, Jisung memutuskan untuk bantu mengelap dan bersihkan rak-rak di dalam sekaligus penghuninya, koleksi buku.

 

Jisung menghampiri Minho setelah selesai dengan urusannya.

 

“Ada yang bisa aku bantuin lagi nggak, Kak?”

 

Minho menoleh, dengan reflek dia mengusap pipi gembil Jisung yang diwarnai noda kekuningan.

 

“Kak!!!” Pekiknya karena ternyata di tangan Minho ada sisa cat yang belum mengering sehingga berbekas lebih banyak di pipi gembil si Matahari.

 

“Eh. MAAF! HAHAHAHA.”

 

Jisung tentu tidak terima dan langsung membalas perbuatan Minho dengan hal yang sama, dia mengambil sedikit cat di telunjuknya dan mengoleskannya di pipi tegas Minho.

 

“Impas, wleee!!” 

 

Mereka mengerjakan tembok depan dengan banyak canda, lagi-lagi Minho yang jahil mencolek lengannya walau memberikan bekas warna kuning jadinya. 

 

Jisung yang memekik dan Minho yang tertawa lebar hingga tanpa sadar sesi mengecat selesai. 

 

Sekarang waktunya membereskan meja dan kursi untuk menggantinya dengan yang baru besok. Minho sudah memanggil tukang barang bekas untuk mengangkut meja dan kursi lapuk ini.

 

“Duduk aja Ji, berat meja-mejanya, biar aku aja yang angkat sama Mas tukang barang bekas.”

 

Jisung merasa tidak enak sebenarnya karena hanya duduk di singgasana kebanggaan Minho, yaitu kursi penjaga perpustakaan.

 

Setelah selesai membereskan meja, perpustakaan ini jadi terlihat sangat luas. Minho yang sudah banjir keringat langsung menghampiri tempat di mana Jisung duduk bersama sebuah kotak makan.

 

“Keringetan banget kamu, Kak.”

 

Sambil duduk di tempatnya, Jisung mendongak untuk menyeka keringat Minho dengan sapu tangan yang biasa dia bawa kemana-mana. Posisi ini mempertemukan kedua mata mereka yang rasanya saling terhipnotis.

 

Rasanya tatapan itu semakin tepat, semakin dekat dan bilah bibir mereka hanya tinggal beberapa detik lagi untuk bertemu namun—

 

“Ho? Anjir!” 

 

Suara beri interupsi pada mereka berdua yang wajahnya jadi sama-sama merah. Itu suara Changbin, temannya yang juga bos dari para pengepul barang bekas untuk diolah dan dijual lagi.

 

“Gue ga berniat ganggu, gue mau bilang aja itu bocah gue udah pada ambil barangnya semua. Ntar gue transfer ya duitnya, dah lanjutin ya, bye.”

 

Changbin mungkin agak trauma melihat pemandangan sahabatnya yang hampir berciuman di depan matanya, tapi kata “lanjutin” rasanya jadi mustahil karena sekarang mereka udah duduk sebelahan dengan jantung berdegup kencang. 

 

“Kak.. Ini aku bawa bekal, kita makan dulu aja yuk?”

 

Sebuah kotak makan berisi telur ceplok dan nasi goreng yang dibuat oleh Jisung tampak begitu menggiurkan. Hanya saja, Jisung si ceroboh lupa membawa dua sendok alhasil mereka harus makan dengan sendok yang sama juga.

 

“Gapapa aku suapin aja, Kak, kamu kan udah capek ngangkat meja sama kursi.”

 

Tangan Jisung terulur untuk menyuapinya. Minho tidak menolak tentu saja, karena setelah itu mereka jadi akrab lagi dan melupakan yang barusan.

 

Aksi suap-suapan itu diselingi cerita-cerita tentunya.

 

“Hahaha, aku sebenernya ke sini karena mau healing aja, tinggal di kota tuh stress banget Kak. Rasanya tuh hidup buru-buru banget, beda kalo di sini aku masih bisa santai gitu.”

 

Minho setuju, dia pernah tinggal di kota dan merantau. Namun setelah Ayah meninggal, dia kembali ke sini dan merawat perpustakaan tua ini.

 

Jisung kembali beri suapan pada mulut Minho, dia juga turut membenahi rambut Minho yang bentuknya sudah aneh, tapi baginya cowok penjaga perpustakaan itu masih tetap tampan. 

 

“Abis ini pulang yuk?” Ajak Minho setelah menyadari agenda mereka selesai sore ini. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali besok mereka harus menyortir buku, memperbarui koleksi juga merapikan meja dan kursi.

 

Mereka pulang bersama, jalan beriringan karena perpustakaan tua ini berdiri tidak jauh dari pemukiman warga. Tangan yang awalnya hanya saling bersentuhan, tiba-tiba saja berubah jadi genggaman hangat yang dimulai oleh Minho.

 

Tidak ada penolakan dari Jisung yang wajahnya memerah malu, senyum terbit kembali pada wajahnya. Begitupun dengan Minho yang tidak bisa menahan salah tingkahnya. 

 

Langit sore dengan semilir angin membuat mereka tidak sadar sudah tiba di rumah kecil milik Jisung. 

 

“Makasih ya Ji udah bantuin aku beresin perpustakaan, nasi goreng buatan kamu enak banget.”

 

Jisung mengangguk pelan dengan senyum yang enggan dia pudarkan dari wajahnya.

 

“Nggak perlu makasih, Kak, hari ini seru banget.”

 

Saling memandang cukup lama, menyelami wajah masing-masing yang disoroti cahaya oranye sore hari.

 

Mungkin lima menit adalah waktu yang sangat sebentar untuk mereka tenggelam dalam tatapan satu sama lain karena Minho kembali bicara, “aku pulang dulu ya, Ji?” 

 

Jisung mengangguk begitu pelan walau rasanya dia hanya mau menggeleng, tidak mau cepat-cepat berpisah dengan si penjaga perpustakaan. Matanya mengikuti kemana pun punggung Minho pergi, meski kemudian hilang dimakan belokan.

 

Hari ini mereka bertemu lagi bukan di perpustakaan melainkan di depan rumah Jisung. Mereka tidak hanya berjalan kaki namun Minho sudah siapkan motor sederhana untuk berboncengan menuju pusat kota.

 

“Kalo kamu mau tidur boleh nyender aja di punggung aku ya, Ji, karena pusat kota masih dua jam lagi dari sini.”

 

Kenyataan berbalik, Jisung tidak tidur dan mereka berdua berbincang di sepanjang perjalanan. Tangannya menunjuk banyak hal entah untuk memuji atau bertanya dan Minho selalu memberi respon.

 

“NANTI KITA MAKAN DIMANA?”

 

“HAAHH????”

 

“MAKAN DI MANA KAK??”

 

“GAK KEDENGERAN!”

 

Walaupun ada beberapa kali di mana Minho atau Jisung tidak mendengar suara satu sama lain. 

 

Perjalanan dua jam itu terasa singkat karena mereka menikmati setiap detiknya bersama angin yang menerpa mereka.

 

Sebuah bangunan menjulang tinggi di depan mereka, banyak orang masuk keluar gedung itu, sebuah mall yang menjadi andalan penduduk kota. Mall ini cukup luas, yang membawa mereka ke sini tentu adalah Jisung yang dulu sering mampir.

 

Jisung sengaja mengajak Minho berkeliling mall untuk mencari barang-barang dekorasi. Tangan mereka masih saling genggam, erat dan hangat rasanya.

 

“Nanti cari poster atau lukisan gitu yuk,” ajak Jisung.

 

Minho mengangguk-angguk dan membiarkan dirinya mengikuti kemanapun Jisung pergi. Menelusuri satu toko dengan toko lain sambil bergandengan tangan, mulut kecil Jisung enggan berhenti ceritakan pengalaman-pengalaman hidupnya di kota ini. 

 

Sore datang begitu cepat, mereka duduk di taman yang ada di mall ini sambil makan es krim. Jisung lagi-lagi mengoceh tentang banyak hal.

 

“Beneran Kak es krimnya kamu yang bayar?”

 

Minho beri angguk. Dia merasa sudah berhutang banyak dengan Jisung yang ikut menyelamatkan perpustakaan miliknya, bahkan berpartisipasi dalam usaha perombakan perpustakaan itu.

 

Rasanya membelikan es krim dan makan siang saja belum cukup untuk membayar jasa yang Jisung berikan. 

 

Hari berlalu begitu cepat semenjak saat itu, perpustakaan tua sudah disulap menjadi bangunan yang tampak baru. 

 

Ada Jisung yang bahu sempitnya dirangkul oleh Minho, di depan perpustakaannya yang tampak mencolok dengan cat kuning cerah, dan beberapa sisi dilengkapi dengan warna putih.

 

Minho yang pilih warnanya. Kuning dan putih adalah dua warna yang mengingatkan Minho tentang datangnya Jisung pertama kali ke perpustakaannya. Bagi Minho, kedatangan Jisung seperti matahari yang berikan secercah harapan baginya dan perpustakaan tua ini.

 

Maka Minho mau menjadikan perpustakaan ini selayaknya Jisung yaitu matahari yang berikan cahaya harapan bagi masyarakat desa. Karena terbukti dari masyarakat yang mulai mendatangi bangunan itu pelan-pelan.

 

Sedangkan Pak Kades memandang dari jauh dengan wajah yang masam, perpustakaan itu gagal dia dapatkan karena ternyata ada lebih dari sepuluh orang yang mendatangi perpustakaan Minho.

 

“Makasih ya, Ji?” 

 

Mereka duduk di meja penjaga perpustakaan yang sekarang ada dua, katanya Jisung mau menemani Minho di sini merawat perpustakaan itu.

 

“Jangan makasih, emang udah seharusnya desa punya perpustakaan yang nyaman dan memadai kayak gini. Aku bantuin kamu juga untuk masyarakat desa juga, supaya mereka punya ruang baca.”

 

Semenjak hari itu perpustakaan tidak pernah sepi. Dengan bantuan Jisung, koleksi buku-buku juga di perbarui berkala. Dan Minho dengan kesadaran penuh mengakui di depan Changbin bahwa dia jatuh cinta pada si pendatang baru tersebut.

 

Sekarang, Minho tidak lagi duduk sendirian melainkan ada Jisung yang selalu menemaninya di perpustakaan ini sambil memantau masyarakat desa. Perpustakaan ini kembali seperti dulu, mendiang Ayah pasti bangga padanya kan?