Work Text:
Kamar kos itu penuh sesak. Penuh dengan barang barang yang tergeletak di tengah ruangan. Serta sesak dengan aroma kecut kehilangan yang masih jelas terhidu di tiap sudutnya. Berjejal seakan saling ingin menunjukkan eksistensi. Yesaya membenahi posisi duduknya, mengalihkan pandangan dari gawai yang kehadirannya adalah semu. Angannya berkelana pada masa dirinya masih bisa berdansa. Berdua dengan kasih pemilik seluruh dia. Mesra, merah muda pada barisan anggur yang tersaji di atas meja. Yesaya dan sang kasih yang kemudian mabuk; oleh alkohol dan cinta.
***
Jatuh kepada pesona Rinai sebenarnya adalah hipotesa paling tidak masuk akal di dunia. Setidaknya menurut Yesaya. Entah apa yang membuat Yesaya paling tidak tiga kali dalam seminggu harus mengantar Rinai pulang ke kosnya. Mampir sejenak untuk makan berdua. Bercerita tentang apa saja. Kemudian pulang tanpa lupa lebih dulu kuasanya mengelus pucuk kepala manusia satunya. Isyarat sampai jumpa besok, katanya.
Kemudian Yesaya lupa, tentang bagaimana dirinya sebelum Rinai ada di sisinya.
Dan Yesaya juga lupa–atau mungkin tidak tahu–Rinainya ternyata masih orang yang sama sebelum bertemu dirinya. Rinainya yang rapuh. Rinainya yang takut menerima cinta. Rinainya yang selalu berusaha tersenyum untuk Yesaya dan segera bergumul dengan duka dan sesak seketika Yesaya mengusap pucuk kepala dan hilang dari pandangan mata. Rinainya yang takut dunia membenci mereka. Rinainya selalu takut.
Yesaya hilang dalam ketidaktahuannya.
***
‘Aku dan semesta, kamu dan semesta.’
Persetan, ini aku dengan kamu yang adalah dunia serasa nirwana. Yang entah apakah karena tersisa dua dari barisan enam botol di atas meja. Ah, indahnya.
Pada malam di atas lantai dansa, Yesaya kembali mengungkapkan cintanya. Entah untuk kali keberapa. Entah apakah karena sudah terlalu banyak alkohol dalam darahnya. Rinai tersenyum. Mengangguk kecil lalu memeluknya. Menghidu sebanyak banyaknya aroma tubuh Yesaya yang akan selalu ingin diingatnya.
Yesaya akan selalu berharap Rinai dan dirinya akan selamanya. Mau dunia mencela pun, dia dan Rinai akan tetap ada. Begitu pikirnya. Angan yang sederhana. Yang sayangnya Rinai tidak akan pahami, selamanya.
***
Katanya, Yesaya tidak peduli pada apa apa yang akan terjadi setelahnya. Dan berbohong adalah hal nomor dua yang paling dibencinya. Nomor satunya; kehilangan.
Dan di sinilah dia kini. Kamar kos Rinai yang masih sama. Yesaya mengambil beberapa barang miliknya yang sempat tertinggal, memasukkan ke dalam kotak di sebelahnya. Memandang sejenak kamar kos nuansa earth tone itu sebelum beranjak menemui kakak laki laki Rinai; Raga yang sedang melepaskan sprei dari kasur. Netranya sendu, sama dengan milik Raga. Tanpa terucap satu patah kata pun, mereka berdua bergegas mengosongkan kamar kos itu. Bergegas seakan ingin lari sekencang kencangnya. Takut dikejar memori dan rasa bersalah tiada akhir yang seolah menyambut seketika mereka berdua tiba di kamar kos Rinai. Kamar kos itu.
Kamar kos itu sekarang tanpa makna. Senyap ditinggal pergi pemiliknya.
Rinai memutuskan untuk menenggak dua puluh tiga butir obat tidur, bersamaan dengan americano yang dibeli Yesaya untuknya. Tepat setelah Yesaya mengelus pucuk kepalanya dan hilang dari pandangannya.
***
Kamis sore itu, bersama dengan deras air hujan, Rinai pergi. Kepada ambang batas yang tidak diketahui. Sama sekali bukan dengan cara yang suci, tapi yang memang paling ia kehendaki.
Ia terlalu lelah pada dunia. Yang seakan sangat enggan membuatnya damai menerima cinta. Rinai ingin mencintai Yesaya, selamanya. Tapi dunia tidak mengizinkannya.
***
Yesaya hilang dalam ketidaktahuannya.
Sudah satu minggu yang lalu Rinai meninggalkan dunia. Dan sudah satu minggu pula Yesaya rutin mengunjungi kediaman orang tua Rinai. bersalaman dengan ayah, ibu, dan kakak laki laki Rinai, memperkenalkan diri sebagai teman kuliah Rinai. Bergelut dengan awan gelap di kepala masing masing. Masih banyak bertanya apakah benar Rinai meninggalkan semuanya.
“Maaf tidak bisa jaga Rinai.”
Satu kalimat dari bibir Yesaya memecah keheningan di ruang keluarga. Yesaya kemudian memejamkan mata. Meloloskan satu dua air mata yang kemudian berjatuhan deras seperti tak ada hentinya.
***
Seharusnya begini, seharusnya begitu. Yesaya habis dilahap rasa bersalah. Dia pikir Rinai akan bisa menanti sampai mereka bisa berpegangan tangan menantang dunia. Berdua, bersama, dengan Rinai di sisinya.
Nyatanya, Rinai telah terlalu banyak menanggung derita. Yang enggan ia bagi dengan Yesaya. Bukan karena apa apa, melainkan ia begitu cinta. Yesaya pelipur laranya. Yesaya semangat hidupnya. Rinai telan sendiri segala duka sampai ia tidak sadar duka telah menelannya jauh ke dalam kegelapan tiada akhir. Yang ia tidak tahu kemana jalan keluarnya. Yang bahkan hadirnya Yesaya tidak lagi buat makna. Rinai memutuskan inilah saatnya beristirahat, menitipkan Yesaya pada dunia dan berpesan agar tidak terlalu keras kepada cintanya.
***
yesaya, my love. you know that i love you so much, right? kamu selalu tahu aku, yesaya. terimakasih, ya? buat semuanya. terimakasih sudah sayang aku dan tidak menyerah pada kita. terimakasih sekali sudah lahir ke dunia. kamu mungkin akan ketawa dan bilang aku cheesy kalau aku bilang ini langsung di sampingmu. di depan tv kamar kosku. but i mean it, yesaya. kamu itu hadiah paling indah buat dunia, buat aku. kamu jangan banyak sedihnya, ya. you deserve all the good things in the world, yesaya. bahagia akan selalu menemukan kamu, yesaya, trust me. aku akan selalu sayang kamu, i hope i can say this right in front of you. aku akan selalu sayang kamu, karena seperti yang kamu bilang, yesaya untuk rinai dan rinai untuk yesaya, selamanya. aduh, aku sayang sekali sama kamu kalau ditulis nanti pohon di dunia habis, deh, hehe.
yesaya, sayangku. maaf ya? maaf aku menyerah pada selamanya. maaf aku tidak bisa berusaha lebih untuk kita. tapi tenang, ini bukan salah kamu, yesaya. aku malah mau berterima kasih sekali sama kamu. kamu buat hidupku jauh lebih baik. bukan salah kamu, yesaya tidak salah. ini salahku yang terlalu naif memandang dunia.
yesaya, my love. don’t blame yourself on my death, ya? kamu harus bahagia. kamu harus jalani hidupmu dengan banyak suka cita. i entrust you to god, i entrust you to the world, yesaya. good bye, yesaya. i love you so much. i’m sorry i can’t say it directly to you. bahagia terus ya, yesaya. see you when i see you. aku akan selalu sayang kamu.
love, rinai
