Work Text:
“Teman-teman, kupikir ini akan menjadi terakhir kalinya aku ikut latihan bersama.”
Pernyataan tiba-tiba Steward memecah keheningan waktu istirahat anggota Op Reserve Team A4, dan menciptakan berbagai respons. Melantha yang berhenti minum, Ansel yang terbelalak, Adnachiel yang langsung menoleh ke Steward, dan Cardigan yang langsung memuncratkan isi minumannya. Tidak hanya itu, sang gadis Perro juga langsung bangkit dari duduknya, mendekati Steward dan langsung mengguncang pundak pemuda Vulpo tersebut.
“Steward, tidak! Kau tidak boleh melakukan itu! Apa kepalamu habis terbentur? Atau baru makan makanan sehat Hibiscus? Aku tidak akan membiarkanmu keluar dari tim sebelum menjelaskan semuanya!” teriak Cardigan sepanjang menggoyangkan tubuh Steward, tidak membiarkan pemuda itu memberi penjelasan. Untungnya sebelum pemilik surai perak itu kian pucat, Ansel dan Adnachiel menghampiri Cardigan lalu menepuk pundaknya dari kedua sisi.
“Cardigan, berhenti! Kau membuat Steward pucat!”
Ucapan Ansel berhasil menyadarkan Cardigan. Gerakan tangan gadis Perro itu langsung terhenti. Ia mengerjap beberapa kali, lalu menyerukan permintaan maaf berbalut kekhawatiran.
“A-ah, maaf, maaf! Aku … aku hanya tidak ingin kau…”
Saat Ansel berusaha menenangkan luapan emosi Cardigan, Adnachiel memilih berhadapan dengan Steward.
“Steward, apa maksudmu tadi?”
“Orang tuaku mengirim surat seminggu yang lalu, berkata akan ada festival. Mereka bertanya apa aku bisa pulang dan ikut. Karena itu, kemarin aku mengajukan cuti kepada HR,” jelas Steward. Ansel yang telah selesai menenangkan Cardigan dan mendengar penjelasan tersebut langsung mengembuskan napas panjang.
“Seharusnya kau berkata itu lebih dulu. Untung Cardigan tidak membuatmu kenapa-napa.”
Pernyataan Ansel ditanggapi dengan tawa canggung Steward.
“Jika aku tidak salah ingat … kampung halaman Steward ada di Kjerag, kan?”
Kini, Melantha ikut dalam percakapan. Ia berdiri di belakang Cardigan, menatap Steward saksama, lalu diikuti Ansel dan Cardigan.
“Itu benar.”
“Kjerag terkenal dengan cuaca dinginnya yang ekstrim. Di penghujung tahun seperti ini, bukankah keadaan di sana juga…”
Melantha tidak melanjutkan ucapannya. Sebaliknya, kekhawatiran tersirat di kedua netranya, pula anggota lain–kecuali Cardigan–yang mengerti maksud sang pemimpin tim. Sadar dengan kecanggungan yang menyelimuti, Steward langsung mengibaskan kedua tangannya di udara.
“Ah, itu. Tidak perlu khawatir. Musim dingin di Kjerag tidak seburuk itu jika kalian terbiasa. Kecuali…”
Steward menggantung ucapannya, tatapannya dilempar kepada Adnachiel dan Cardigan bergantian.
“...Adnachiel, Cardigan, apa kalian mau ikut denganku?”
Kejutan lainnya diberikan Steward. Namun, kali ini keterkejutan anggota timnya tidak separah sebelumnya. Terbukti dengan Cardigan yang langsung mengangkat tangannya tinggi.
“Aku mau, aku mau! Aku penasaran bagaimana tempat bermain ski di Kjerag!”
“Tapi, Cardigan, bukannya kau masih dalam masa pelatihan khusus Instruktur
Dobermann?”
Selesai Ansel berucap, antusiasme Cardigan raib seketika. Matanya terbelalak, mulutnya terbuka tanpa sepatah kata terucap. Kemudian, kepalanya tertunduk, dan ekornya yang tadi terkibas semangat langsung lemas. Tubuhnya menurun, dan Melantha memberikan tepukan pundak sebagai penghibur.
“Ah, itu! Sebenarnya jika kalian tidak mau pun tidak apa-apa, kok. Selama beberapa kali bertukar surat dengan keluargaku, aku memang beberapa kali bercerita tentang Cardigan dan Adnachiel. Karena penasaran, mereka pun mengundang kalian,” jelas Steward ketika menyadari menurunnya semangat Cardigan.
“Maaf, Steward. Bukannya aku tidak mau, tapi apa yang dikatakan Ansel tadi benar. Hiks, padahal aku ingin ikut. Tapi kalau mengingat Instruktur Dobermann … argh, sayang sekali!”
Teriakan Cardigan kembali mengudara. Itu disertai dengan kedua tangannya memegangi kepala dan menghadap ke atas. Melihat hal tersebut, keprihatinan tercetak di wajah Ansel, dan Melantha masih senantiasa dengan tepukan pundaknya. ‘Keributan’ yang terjadi menggelitik Steward untuk tertawa pelan. Kemudian, ia melihat ke arah Adnachiel yang belum memberi jawaban.
“Lalu, bagaimana denganmu, Adnachiel?”
“Aku?”
Tidak menduga Steward akan bertanya kepadanya, Adnachiel terkesiap, tidak merespons banyak. Butuh beberapa detik baginya untuk mencernanya, lalu memberi jawaban.
“Kupikir … aku tidak ada masalah, jika kau tidak keberatan.”
“Tentu saja tidak. Aku yakin orang tuaku akan senang. Dan senang hati aku akan memperkenalkanmu kepada mereka.”
***
Latihan hari itu diakhiri dengan air mata Cardigan yang menyesal tidak bisa ikut, Ansel yang memberikan banyak saran agar Adnachiel tidak kedinginan selama di Kjerag, serta Melantha yang berharap kedua rekannya dapat menikmati liburan dengan baik. Tidak lupa dengan Adnachiel yang ikut mengajukan cuti ke HR ditemani Steward, dan ditutup dengan keduanya mendapat izin libur empat hari. Selang tiga hari, keduanya telah berkemas dan bersiap turun dari kapal Rhodes Island. Perhentian mereka adalah pinggiran salah satu kota di Victoria, dan perjalanan menuju Kjerag dilanjutkan dengan kereta api.
“Steward! Tolong sampaikan banyak salamku kepada orang tuamu! Aku janji, jika mereka mengundangku lagi, aku pasti akan datang!”
Pukul lima pagi, ketiga anggota Op Reserve Team A4 mengantar kepergian dua teman mereka yang akan berlibur. Kantuk seakan tidak berarti demi memberikan salam perpisahan sementara. Terkhususnya Cardigan yang sempat kesulitan tidur semalam karena perasaan bersalah.
“Tentu saja. Aku bahkan sudah membawa surat permintaan maafmu untuk mereka, kan? Tidak perlu khawatir, dan lakukan saja latihanmu dengan baik,” balas Steward sembari menepuk kepala Cardigan beberapa kali.
“Adnachiel, kau sudah membawa baju hangat yang cukup, kan? Tidak seperti Steward yang lahir di sana, tempat lahirmu sangat berbeda dengan Kjerag. Semoga tubuhmu cepat beradaptasi dengan cuaca dingin di sana. Jangan lupa juga konsumsi banyak minuman hangat jika tubuhmu mulai tidak nyaman. Dan yang terpenting adalah jangan ragu meminta bantuan kepada Steward jika ada yang salah.”
Di waktu yang sama, Ansel kembali mengingatkan Adnachiel saran yang telah diberitahunya tiga hari lalu. Anggukan kepala pemuda Sankta itu tidak pernah absen dalam menanggapinya, diikuti ucapan, “terima kasih, Ansel. Aku akan mengingat semuanya.”
“Semoga kalian bersenang-senang di sana.”
Ucapan Melantha kepada Steward dan Adnachiel menutup momen perpisahan Op Reserve Team A4. Kedua pemuda itu melanjutkan perjalanan ke stasiun kereta api di pusat kota dengan berjalan kaki.
Perjalanan dengan kaki bukan masalah bagi Steward dan Adnachiel, mengingat misi lapangan tim mereka tidak pernah lepas dari itu. Malahan keduanya tampak menikmati setiap detik yang berlalu; banyak topik pembicaraan yang menemani, bertukar cerita dan pengalaman kampung halaman masing-masing. Akhirnya, dua jam perjalanan mereka berakhir ketika stasiun telah tampak di depan mata.
Namun, perjalanan mereka yang ‘sesungguhnya’ justru baru dimulai dari sekarang.
Menjadi bagian dari infected bukanlah hal yang mudah, Steward dan Adnachiel tahu–sangat tahu itu. Karenanya, berbaur di tengah masyarakat biasa sembari menyembunyikan jejak kristal originium di tubuh sudah menjadi makanan keseharian. Tidak terkecuali pada hari ini, di tengah kepadatan pengguna kereta, bersikap normal dan tidak mencurigakan karena oripathy adalah sikap yang dilakukan kedua operator muda tersebut.
“Rasanya sudah lama sekali sejak kita naik kereta api bersama.”
Pernyataan Adnachiel itu terlontar seusai ia dan Steward menempati tempat duduk di kereta api. Terkejut dengan pernyataan tidak terduga itu, pandangan Steward langsung tertuju kepada rekannya.
“Steward, aku tahu ini pertanyaan sensitif, tapi aku penasaran. Apa … penduduk di tempat tinggalmu tahu kau…”
Meskipun Adnachiel tidak menyelesaikan ucapannya, Steward mengerti. Pemuda
Vulpo itu tersenyum sembari menggeleng, menjawab, “mereka tidak tahu. Namun, Ayah dan Ibuku berhasil menyembunyikan identitasku sejak dulu hingga sekarang. Aku sangat berhutang budi kepada mereka untuk itu. Dan karena itu juga, saat aku tahu sudah terinfeksi, aku langsung keluar desa itu dengan berdalih ‘ingin melihat dunia luar’.”
Ketakjuban menjadi respons pertama Adnachiel. Kedua matanya melebar, mulutnya mendecakkan kekaguman tanpa suara. Selanjutnya, ia mengangguk, enggan melanjutkan topik itu dan mengubahnya.
“Kauingat, saat pertama kali kita naik kereta api bersama Cardigan? Saat Cardigan berjalan-jalan di peron, dan kita hampir kehilangan dirinya?”
Kilat kesedihan yang sebelumnya tampak samar di kedua manik Steward kini hilang.
Ia mengerti jika Adnachiel berniat menghiburnya.
Kini, kenangan masa lalu yang diangkat Adnachiel membuat kepala Steward memutar ulang kejadian tersebut. Ketika ia yang mulai panik karena keberadaan Cardigan tidak kunjung terlihat saat waktu keberangkatan mereka kian dekat, Adnachiel yang berusaha menenangkan dirinya dan memikirkan kemungkinan tempat yang dikunjungi Cardigan, hingga berakhir dengan menemukan gadis Perro itu menatap jejeran ski di sebuah toko.
Untungnya ketiga remaja itu masih sempat menaiki kereta mereka.
“Aku ingat. Aku bahkan masih ingat saat aku menceramahi Cardigan, dan kau memintaku berhenti karena merasa gadis itu sudah mendapat pelajarannya,” balas Steward diiringi tawa pelan, lalu diikuti oleh Adnachiel.
“Rasanya seperti baru kemarin sejak kita berkelana bertiga. Dan sekarang hanya kita berdua.”
Steward mengangguki ucapan Adnachiel. Saat itu juga tatapan lekatnya tertuju pada halo lawannya, menimbulkan secuil kekhawatiran di benak.
“Sejauh yang kuingat, tidak banyak Sankta yang berkunjung ke Kjerag. Terlebih dengan halo sepertimu … Adnachiel, jika nanti ada orang yang mengganggumu, katakan padaku. Aku tidak ingin kau merasa tidak nyaman selama liburan ini.”
Keseriusan Steward berucap menyebabkan Adnachiel terhenyak. Selang tiga detik, barulah ia tersenyum dan membalas, “aku akan memberitahu apa pun. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku.”
***
Semakin jauh kereta api berjalan, semakin dingin pula cuacanya. Bagi pengunjung pertama Kjerag, hal tersebut terasa begitu kentara, tidak terkecuali Adnachiel yang sudah beberapa kali menggosok kedua tangannya, mencari kehangatan. Berbeda dengan Steward yang menikmati pemandangan di luar jendela, kedua netranya memancarkan perasaan nostalgia. Ia tidak ingat kapan terakhir kali mengagumi putihnya pegunungan Kjerag secara langsung.
“Adnachiel, bagaimana–”
Ucapan Steward terhenti saat menoleh ke Adnachiel dan mendapati sosok itu menggosok kedua tangannya, mencari kehangatan. Hal tersebut membuat Adnachiel tersenyum canggung, merasa bersalah karena Steward yang berhenti berucap. Gosokan kedua tangannya dihentikan, pandangannya dialihkan ke jendela.
“Oh, lihatlah gunung yang sangat putih itu. Di Laterano tidak ada hal seperti itu.
Gunung itu juga mengingatkanku pada pendakian kita bertiga dulu.”
Steward tidak menggubris perkataan Adnachiel. Ia justru menutup, menyelimuti kedua tangan pemuda Sankta itu dengan tangannya sendiri; berbagi kehangatan. Sesuai dugaan, tangan itu terpengaruh oleh perubahan suhu yang semakin rendah. Belum begitu dingin, tetapi sudah cukup untuk memancing kekhawatiran sang pemuda Vulpo.
“Steward?”
“Seharusnya kau memberitahuku jika kedinginan. Maksudku, di perjalanan saja kau sudah sedingin ini, bagaimana nanti saat di Kjerag? Terlebih di akhir tahun ini, pasti cuacanya akan lebih buruk nanti.”
Mengabaikan tatapan Adnachiel, Steward yang diselimuti kekhawatiran berfokus menghangatkan tangan lawannya. Tidak hanya menutup, sesekali Steward akan menggosoknya, dan meniupkan napas hangatnya.
“Um, Steward, aku senang dengan perhatian yang kauberikan. Namun, kupikir kau tidak perlu bertindak sejauh ini…”
“Apa maksudmu? Aku yang mengundangmu, tentu saja aku yang bertanggung jawab atas kesehatan dan keselamatanmu. Apa kau sudah lupa kata Ansel?”
Adnachiel tidak membalas, memilih memerhatikan tangan Steward yang masih menyelimuti tangannya. Dua pasang tangan itu memiliki ukuran yang tidak jauh berbeda, tetapi milik si Vulpo memiliki kehangatan lebih.
“Bukan begitu. Hanya saja, aku membawa sarung tangan. Dibanding merepotkanmu dengan memegangi tanganku terus, kupikir aku bisa mulai memakainya sekarang.”
Sesaat, Steward tidak langsung merespons. Kepala yang semula dekat dengan kedua tangan mereka kini terangkat, tatapannya bertemu Adnachiel yang tersenyum kalut. Saat itulah Steward menyadari kekhawatirannya yang berlebihan. Ia langsung menarik tangannya dari Adnachiel, kembali duduk di kursinya dan berdeham.
“Uhuk–kau benar … seharusnya kau memakai itu dari tadi.”
Mengabaikan Adnachiel yang tertawa, Steward mengalihkan pandangnya ke jendela, enggan bertukar tatap untuk beberapa waktu. Sang Sankta sendiri tampak tidak keberatan. Ia juga ikut menatap keluar, menanti perhentian mereka.
***
Kala matahari masih bersinar terik di atas kepala, saat itulah kedua operator itu mencapai tujuan. Mengikuti saran Steward, Adnachiel mulai mengenakan pakaian hangatnya, sama seperti beberapa pengunjung pertama Kjerag. Hal tersebut dikarenakan panasnya sang surya belum cukup untuk melelehkan cuaca dingin Kjerag di penghujung akhir tahun.
“Wah … tempat ini jauh lebih ramai dari yang kuingat.”
Kedua pemuda itu menjejakkan kaki keluar kereta api, dan decak kagum langsung terdengar dari Steward. Pandangannya diedarkan ke penjuru lingkungan, mengagumi setiap perubahan bangunan dan keadaan yang ada. Rekaman terakhir dalam ingatan tentang bangunan tua kini tergantikan dengan konstruksi baru nan kuat yang tampak megah. Kepadatan pengunjung juga melebihi ekspektasi Steward, menyebabkan refleks tangannya menggenggam milik Adnachiel.
“Tempat ini ternyata lebih ramai dari terakhir kali kuingat. Kuharap kau tidak keberatan dengan ini,” ucap Steward sembari menatap Adnachiel, dan mendapat balasan anggukan kepala
“Bangunan baru, pengunjung yang ramai, serta pemandu lokal terlihat lebih banyak
… oh, benar juga!”
Usai mengamati sekitar, atensi Steward langsung berpindah kepada Adnachiel, membuat pemuda Sankta itu menelengkan kepala.
“Ada apa?”
“Aku bisa menjadi pemandumu selama liburan ini.”
Antusiasme Steward kala berucap menulari Adnachiel untuk merespons serupa.
“Benar, kah? Itu terdengar menarik! Namun … tidakkah itu akan mengganggu waktu kebersamaanmu dengan orang tuamu?”
“Tidak perlu khawatir. Aku yakin orang tuaku tidak akan keberatan jika anaknya menjadi pemandu lagi,” canda Steward sembari tertawa. Ia memimpin jalan, dan Adnachiel mengikuti.
“Lagi?”
“Ya. Sebelum terinfeksi, aku bekerja paruh waktu sebagai pemandu lokal dan membantu toko lokal. Hampir sama seperti sekarang, tempat ini selalu penuh oleh turis.
Hanya saja, ini juga kali pertama bagiku melihat keadaan sepadat ini.”
Adnachiel mengangguki penjelasan Steward, dan masih menatap ke sekitarnya. Pemandangan turis yang berbaur dengan warga lokal, salju putih lebat yang menghiasi beberapa sudut tanah dan atap bangunan, serta suasana ramainya yang hangat, itu pengalaman pertama bagi Adnachiel. Berbanding terbalik dengan Steward yang sesekali bertukar sapa dengan para penjual, menerima sambutan selamat datang mereka sembari tersenyum semringah. Hingga tiba suara asing lainnya terdengar, dan Steward berhenti berjalan.
“Apa mataku salah lihat, atau itu memang kau, Nak Steward?”
Sang pemilik nama menoleh ke sumber suara, ke sisi kirinya. Di sana telah berdiri seorang pria paruh baya Vulpo memasang wajah tidak percaya. Selanjutnya, pria itu langsung mendekati mereka berdua–kepada Steward, dan menepuk-nepuk pundaknya.
“Kau masih ingat aku? Toko suvenir yang selalu kaubantu?”
Berbeda dengan Adnachiel yang masih menatap pria itu penasaran, Steward menerima sambutan hangat itu dengan senyum semringah. Akibat semangat yang menguasai benak, genggaman tangan Steward pada Adnachiel terlepas. “Oh, Pak Alan! Anda terlihat tidak berubah sama sekali.” Pria itu terkekeh, lalu mengacak kasar rambut Steward.
“Ucapanmu masih manis seperti dulu. Jadi, apa yang membuatmu berkunjung? Apa orang tuamu sudah tahu kau di sini?”
“Merekalah yang mengajakku ke sini. Kudengar, sebentar lagi akan diadakan
festival?”
Alan melipat kedua tangannya di dada sembari memejamkan mata, lalu mengangguk.
“Festival Api Rime, itu benar. Festival pertama kita sejak beberapa tahun silam.
Sekarang aku mengerti mengapa orang tuamu mengundangmu.”
Ketika dua Vulpo itu hanyut dalam percakapan, Adnachiel menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya. Terpikat oleh hal tersebut, ia berjalan ke sana tanpa memberitahu Steward.
“Kalau begitu, kuharap kau bersenang dengan–eh, bukankah tadi kau bersama seseorang?”
Pertanyaan Alan membuat Steward tersadar jika ia tidak sendirian. Sontak ia langsung menoleh, dan tidak menemukan siapa pun di sisinya.
“Adnachiel?!”
Teriak panik tercelus dari Steward. Tanpa mengatakan apa pun, ia langsung beranjak dari tempat itu, berjalan tanpa arah dan melihat ke sekeliling, berharap dapat menemukan rekannya. Di tengah kepadatan orang yang berlalu-lalang, Steward tidak dapat menyangkal jika keputusasaan sempat timbul dalam pikiran. Namun, kala menyadari tidak ada Sankta lain yang terlihat, seharusnya ia tahu tidak akan sulit mencari Adnachiel–mencari keberadaan halo-nya.
“Mama, benda apa itu di kepalanya?”
Untungnya di tengah kepanikan, akal sehat Steward berhasil menangkap sebuah petunjuk kecil. Tidak jauh dari tempatnya, seorang anak kecil bertanya kepada ibunya sembari menunjuk ke arah timur. Saat itulah Steward menemukannya; punggung Adnachiel–Steward yakin karena halo-nya–yang berdiri di toko suvenir berjarak dua bangunan dari tempat Alan. Tanpa membuang waktu, pemuda Vulpo itu segera berjalan ke tempat itu.
“Adnachiel!”
Dua menit berjalan, dan suara Steward berhasil mencapai Adnachiel. Terkejut dengan suara yang menyerukan namanya, sang pemilik nama terkesiap hingga pegangan tangannya pada sesuatu terlepas. Saat itulah sebuah boneka Vulpo berekor putih tergeletak di tanah, menarik perhatian Steward.
“Apa yang kaulakukan?”
Dikuasai penasaran, Steward mengambil boneka itu dan memeriksanya. Adnachiel berbalik, dan tawa canggungnya mengudara.
“Saat kau mengobrol, aku melihat-lihat sekitar dan menemukan ini. Kupikir boneka ini terlihat lucu–mirip denganmu. Karena itu, aku berniat membelinya untukku.”
Penjelasan Adnachiel dihadiahi dengan embusan napas Steward. Kelegaan menyeruak dalam batin sang Vulpo, keinginan untuk marah pun dikurungkan karena senyum ‘malaikat’ di wajah lawannya.
“Huft … baiklah. Namun, lain kali tolong jangan membuatku khawatir lagi seperti
ini.”
***
Setelah berhasil menemukan Adnachiel, Steward melanjutkan perjalanan mereka menuju ke rumahnya. Namun, sama seperti sebelumnya, tidak sedikit penduduk lokal ketika mengetahui keberadaan Steward langsung menyapa. Perhentian beberapa kali pun tidak terelakan. Ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat, barulah kedua pemuda itu sampai di tujuan; tempat tinggal pertama Steward—kediaman keluarganya. Seketika perasaan nostalgia menyeruak masuk dalam batin, memutar ulang kenangan lama kala umur masih belia. Terlebih tidak banyak perubahan yang Steward dapati dari bangunan tersebut, membuatnya tidak dapat menahan tawanya.
“Ada apa? Apa ada yang salah?”
Mendapati rekan timnya yang tertawa sendiri, tentu Adnachiel penasaran—sekaligus khawatir—dengan sikap Steward.
“Tidak. Hanya saja, aku tidak menyangka jika perasaan nostalgia ... akan terasa hangat seperti ini.”
Kenyataannya, Adnachiel tidak dapat memahami itu sepenuhnya. Namun, ia tetap mengikuti langkah maju Steward.
Tepat di hadapan pintu kayu oak, Steward mengetuknya tiga kali. Selang beberapa detik, pintu itu terbuka, menampilkan seorang wanita paruh baya dengan ciri ekor dan telinga yang sama seperti Steward. Kebahagiaan begitu kentara di wajahnya, ia langsung menarik pemuda itu dalam pelukan erat. Sedangkan Adnachiel, ia memperkenalkan diri kepada seorang pria yang mengikuti istrinya dari belakang. Namun, belum selesai ia berbicara, pria itu lebih dulu menarik Adnachiel dan Steward masuk, menyebabkan sang wanita paruh baya tertawa. Kemudian, keempatnya pun makan malam bersama.
***
Pagi cerah yang baru telah tiba, waktu yang tepat bagi Steward mengajak Adnachiel berkeliling kota sebelum acara puncak Festival Api Rime dimulai; penyalaan api unggun raksasa di perapian yang telah disiapkan di tengah kota.
“Kami pergi dulu, Ibu, Ayah.”
“Bersenang-senanglah yang banyak, dan jangan lupa untuk tetap berhati-hati!”
Selesai sarapan, kedua pemuda itu beranjak keluar menuju pusat kota. Perjalanan sepuluh menit dilakukan sebelum mereka mencapai tujuan. Tidak seperti kemarin, kepadatan orang yang berlalu lalang tampak lebih banyak. Berbagai hiasan dan lampu terpasang di setiap sisi kota, menciptakan nuansa meriah ala festival.
Untuk kedua kalinya, refleks Steward menggenggam tangan Adnachiel. Pikiran alam bawah sadarnya tidak ingin kehilangan temannya itu di tengah lautan orang–tidak untuk kedua kalinya. Untungnya tidak ada penolakan dari pihak lawan.
“Sebelum api unggunnya dimulai, bagaimana jika kita mencari oleh-oleh untuk teman-teman dulu?”
Sembari memimpin jalan dan melihat deretan toko, Steward bersuara. Ide tersebut disetujui Adnachiel, “ide bagus. Kemarin kulihat sepertinya ada toko papan ski. Cardigan pasti akan menyukainya.”
“Oh, ya? Mungkinkah itu toko Bu Leia? Aku jadi penasaran … ayo kita mulai dari
sana.”
Tujuan telah ditetapkan, Steward pun memimpin jalan. Sedangkan Adnachiel, ia melihat deretan toko yang menjajakan barangnya. Mulai dari makanan, minuman, hingga barang khas Kjerag bisa ditemukan.
“Permisi, bolehkah aku meminta waktumu sebentar?”
Suara asing terdengar tepat di sebelah Adnachiel, menyebabkan dirinya langsung berhenti dan menatap ke sumber suara. Itu adalah perempuan Feline yang menatap Adnachiel antusias. Terlihat juga buku catatan di tangan kiri, dan alat tulis di tangan kanan.
“Beberapa pengunjung Sankta pernah kutemui. Namun, ini adalah pertama kalinya aku melihat Sankta dengan halo ‘menarik’ sepertimu, Tuan.”
Kilauan antusiasme yang terpancar di kedua manik Feline tersebut terlihat aneh, dan Steward menyadari itu.
“Ha-haha … menurutmu begitu?”
Tawa canggung Adnachiel terdengar, dan Steward menyadari itu. Keinginan untuk menarik rekannya itu menjauh muncul dalam kepala, tetapi Steward masih berusaha menahan diri. Setidaknya, sampai ia menyadari kejanggalan lainnya.
“Apa mungkin karena kau terkena … yah, kautahu, itu? Atau mungkin ada faktor lain? Kecacatan? Kelainan? Atau ketersengajaan?”
Steward yang sejak tadi memerhatikan saksama dalam diam kini menangkap pergerakan pertama perempuan itu. Ketika Adnachiel berniat menjelaskan, tangan Feline itu terangkat pelan, berniat menyentuh halo sang Sankta. Sebelum itu terjadi, Steward berhasil menahannya.
“Tolong jangan asal menyentuh sesuatu tanpa izin, Nona. Temanku bukanlah barang yang dapat kausentuh sembarangan,” ucap Steward tegas sembari melepas pegangannya pada tangan perempuan itu dan melemparnya menjauh. Ketika Feline itu terbelalak, saat itu juga Steward menarik tangan Adnachiel untuk berjalan menjauh. Keduanya menyusuri, membelah kepadatan pengunjung yang berlalu untuk pergi ke sebuah gang sempit. Merasa keadaan lebih aman, Steward melepas pegangan tangannya pada Adnachiel.
“Huft–apa-apaan orang itu! Aku tidak menduga akan bertemu orang tidak sopan
seperti itu.”
Steward melipat kedua tangannya, dan mengembuskan napas panjang. Kemudian tatapannya ditujukan kepada Adnachiel yang tersenyum.
“Haha, jangan terlalu keras pada dirimu sendiri seperti itu, Steward. Pertanyaan seperti itu sudah sering kuterima. Bahkan di Rhodes Island sekali pun.”
Kekesalan yang sebelumnya menguasai pikiran Steward lambat laun meluntur berkat senyum cerah rekannya. Perasaan gagal mencegah kejadian tadi tergantikan dengan kelegaan dan sedikit penyesalan.
“Jadi, bagaimana jika kita melanjutkan perjalanan pencarian kita? Aku sudah tidak sabar melihat-lihat hal menarik lainnya.”
Seakan memahami kebimbangan yang masih tersisa dalam Steward, Adnachiel menyadarkannya dengan rencana tertunda mereka. Mengerti niat baik yang dilakukan rekannya, akhirnya, segaris kurva terukir ke atas tercetak di wajah Steward.
“Kau benar. Maaf sudah merepotkanmu.”
“Merepotkan? Tentu saja tidak. Kau justru terlihat sangat keren tadi ketika menahan tangan perempuan itu. Jujur saja, aku tidak menduga akan melihat sisimu yang seperti itu.” Canda tawa mulai terdengar dari kedua pemuda itu.
***
Tanpa terasa, cahaya oranye telah tertoreh di cakrawala. Tampak burung-burung berterbangan menuju sarangnya, menuju peristirahatan. Jika di hari biasa, tentu itu juga dilakukan oleh penduduk desa. Namun, di hari yang spesial ini, banyak orang memilih tidak kembali ke rumah, melainkan melingkari perapian yang akan segera dinyalakan. Begitu pula dengan Steward dan Adnachiel. Banyaknya barang yang telah mereka beli sebelumnya tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk tetap menanti.
“Jadi, festival ini tentang apa?”
Baru selesai Adnachiel mengajukan pertanyaan, sorak sorai keras memecah suara riuh rendah pengunjung. Suasana menjadi hening untuk sesaat, sebelum akhirnya kerumunan orang berpakaian compang-camping masuk ke wilayah perapian. Beberapa dari mereka terlihat kebingungan, ada pula yang terjatuh ke tanah.
“Teater bisu tentang awal kedatangan Kjeragandr, tentang dia menerima dan melindungi orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal, dan menjadikannya penyelamat–awal mula kehidupan di Kjerag.”
Penjelasan Steward mengiringi setiap momen drama yang tersaji. Tentang seseorang berjubah putih berperan sebagai Kjeragandr dan menyelamatkan orang-orang tadi. Tentang Kjeragandr yang memilih tiga ksatria terkuat untuk melindungi Kjerag selama dirinya beristirahat. Semua diakhiri dengan pertunjukkan api yang menyalakan api unggun besar. Panas dari api membuat udara terasa bergetar, memecah udara dingin yang mendominasi.
“Dan itulah yang membuat festival ini disebut Api Rime–api dan es yang berpadu, memberikan kenyamanan bagi penduduk Kjerag,” ucap Steward mengakhiri penjelasannya.
Ketika ia melirik ke arah Adnachiel, didapatinya sosok itu menatap lekat nyala api yang membumbung tinggi. Netra kuning tampak lebih berkilau dari biasanya. Surai putihnya menari lembut mengikuti arah angin yang berhembus. Sesaat, Steward mengagumi keindahan itu hingga jantungnya terasa berhenti berdetak.
“Ah, apa habis ini masih ada lagi?”
Barulah ketika Adnachiel bertanya, Steward tersadar dari fantasinya. Deheman singkat dilakukan Steward guna menyadarkan diri sepenuhnya. Barulah setelah itu ia menatap Adnachiel dengan senyuman.
“Di sini tidak ada lagi. Namun, aku memiliki kejutan lain yang kupikir kau akan menyukainya.”
***
Layaknya penduduk lokal pada umumnya, mengetahui satu atau dua rahasia tentang daerah tempat tinggalnya adalah hal yang lumrah. Itulah yang dilakukan Steward saat ini, mengajak Adnachiel mendaki bukit tidak jauh dari rumahnya. Demi menyempurnakan kejutannya, Steward juga menutup kedua mata Adnachiel dengan kain penutup. Keduanya pun berjalan pelan-pelan.
“Aku jadi penasaran kejutan seperti apa yang kau maksud, Steward. Bahkan sampai membuatku memakai penutup mata seperti ini.”
“Percayalah padaku. Kau pasti akan menyukainya.”
Tidak peduli berapa kali Adnachiel memancing Steward untuk memberitahu kejutan yang dimaksud, sang Vulpo tetap bersikukuh dengan kerahasiaannya.
Sepuluh menit berlalu sejak Adnachiel berjalan menggunakan penutup mata, dan kini, mereka telah berada di puncak bukit.
“Aku akan melepas penutup matamu sekarang. Lihatlah ke langit.”
Kain tidak lagi menutupi penglihatan Adnachiel. Namun, netra kuning itu belum menunjukkan keberadaannya. Butuh beberapa detik baginya untuk keluar dari kenyamanannya di kegelapan dan menyambut cahaya indah di langit.
“Wah!”
Gelap cakrawala tidak lagi menakutkan berkat keberadaan selimut cahaya berwarna ungu dan merah melayang lembut, menyebar dan menyusut seperti gelombang laut. Kemudian dalam hitungan detik, kilauannya kembali bergerak cepat, terbelah dalam aliran yang berkilau, membuat langit seakan-akan bernapas.
“Ini … indah sekali! Jika Cardigan ada di sini, aku yakin dia akan menyukainya.”
Steward memang sudah mengharapkan pujian Adnachiel atas apa yang dilihatnya.
Namun, ia tidak menduga bagian terakhir tadi.
“Bagaimana denganmu?”
Atensi Adnachiel berubah ke arah Steward yang–entah sejak kapan–menatapnya serius. Tidak menduga tatapan seperti itu, Sankta muda itu menelengkan kepala.
“Aku?”
“Ya. Kau menyukainya?”
Setelah Steward mengulangi pertanyaannya, Adnachiel mengangguk antusias. Senyum secerah matahari terbentuk di wajahnya, memancarkan keindahan yang setara dengan aurora di langit–atau itulah yang dipikirkan Steward sendiri.
“Tentu saja!”
Afirmasi yang diberikan Adnachiel memuaskan batin Steward. Ia senang–merasa lega karena dapat menyajikan sesuatu yang spesial di momen berdua mereka yang terbatas.
“Sekarang aku mengerti kenapa banyak warga desa menyukaimu. Kau adalah pemandu yang terbaik.”
Kepuasan di wajah Steward berganti dengan kebingungan. Keningnya berkerut dalam, netranya menelisik iris emas itu, mencari sesuatu yang mungkin tersembunyi. Namun, hasilnya nihil.
“...asalkan kausuka, kupikir itu sudah cukup.”
Tidak dapat merespons banyak, Steward hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.
“Jika kau sudah merasa kedinginan, katakan padaku. Kita bisa pulang.”
Mengikuti apa yang sebelumnya dilakukan Adnachiel, Steward membawa pandangannya ke atas. Panorama alam masih tersaji apik di sana. Bahkan Steward yang telah beberapa kali melihatnya dulu masih memiliki kekaguman atas keindahan tersebut.
Tanpa ia sadari, Adnachiel masih menatapnya lembut, bersuara pelan.
“Terima kasih, Steward.”
END
