Actions

Work Header

home made of earth, wind, & fire: dear. my darling

Summary:

satu minggu setelah kembali ke masa lalu, woonhak menangis pilu.

Notes:

ini semacam spin off (?) atau edisi spesial home made of earth, wind, & fire karena bayi kita semua ulang tahun... aku nulis ini spontan tanpa direncanain jadi maaf kalau ada yang kurang... termasuk kurang ngefeel, kurang panjang, dan kurang ini-itu... tapi semoga bisa dinikmatiiii!

untuk yang belum tahu, home made of earth, wind, & fire itu alternative universe buatanku di twitter yang sampai sekarang masih on going... kalau penasaran, boleh baca di sini!

selamat baca!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

woonhak tidak suka ayahnya yang berumur 19 tahun. 

ayah woonhak, maksudnya han taesan, di umur 19 tahun gayanya begitu menjengkelkan. sudah tidak bisa melihat usaha woonhak untuk mempererat hubungan ayah-anak mereka, taesan juga masih diam-diam saja dan tidak memperjuangkan papa yang entah bagaimana masih tinggal di apartemen yang ceritanya woonhak beli.

seminggu lalu, woonhak berulang tahun yang ke-17. 

seminggu berlalu, woonhak tidak suka berumur 17 dengan orang tua yang hanya 2 dan 3 tahun lebih tua dari dirinya. ayah gayanya sok tidak peduli. papa baik, sih. hanya saja, tidak seperti ayah dan papa yang bijaksana, yang serba bisa, dan memahami woonhak tanpa perlu bertukar kata.

kalau ayah dan papa adalah ayah dan papa yang benar-benar ayah dan papa woonhak, pasti mereka langsung tahu woonhak menangis di kamar mandi. mereka juga pasti menyadari nafsu makan woonhak yang turun drastis (putera mereka biasanya makan 3 mangkuk kecil nasi sedangkan tadi woonhak cuma makan 2 mangkuk). mereka juga pasti melihat wajah woonhak yang sedikit memerah dan suaranya yang agak serak.

woonhak sakit.

woonhak demam.

woonhak menangis.

woonhak rindu ayah dan papa.

lampu kamar woonhak yang ia bagi bersama papa masih menyala. woonhak cuma pejamkan mata karena kepalanya pusing dan tidak mau duduk. cuma mau baring saja. kalau bisa tidur supaya tidak pusing. namun, woonhak pusing sampai tidak bisa tidur. 

bibir woonhak gemetar hebat. giginya gemelatuk penuhi kamar yang kecil untuk woonhak yang sudah besar. woonhak tidak bisa peluk papa, jadi selimut yang membalut tubuhnya ia peluk erat-erat. panas di matanya tidak bisa diusir ayah yang selalu kecup kening, ujung hidung, juga pipi woonhak sejak ia kecil. sekarang woonhak sudah besar dan ayah yang juga besar masih lakukan itu. hanya saja, ayah yang sekarang tidak begitu besar dan bisa dibilang kecil karena hanya dua tahun lebih tua dari woonhak masih terlalu besar gengsinya untuk cium puteranya yang masih sesosok orang asing.

woonhak rindu ayah dan papa.

kerinduan woonhak mengundang air mata yang turun begitu saja. woonhak sampai tidak dengar pintu yang dibuka oleh ayah dari luar. woonhak yang tidak berusaha menyembunyikan tangisannya tentu membuat ayah bingung. remaja yang mengaku jadi anaknya dan mantan pacarnya di masa depan itu menangis tersedu-sedu. taesan tentu kaget.

“woonhak?”

ayah biasanya panggil woonhak jadi unak. huruf h-nya hilang. karena lucu, menurut ayah. tangis woonhak semakin menjadi-jadi. woonhak rindu ayah. woonhak rindu papa.

taesan langsung masuk. ia duduk di pinggir kasur woonhak, tapi tidak melakukan apa-apa. sakit hati woonhak tidak bisa dicegat lagi. woonhak sudah sulit bernapas karena ingusnya menumpuk di hidung, tapi air matanya masih tidak bisa dibendung. 

“taesan? woonhak?” 

kali ini, yang datang papa. 

jaehyun yang datang langsung mengambil tisu. ia mendekati woonhak untuk mengelap air mata, ingus, juga keringat puteranya — menurut woonhak. jaehyun masih belum bisa percaya woonhak adalah puteranya yang ia adopsi setelah menikah dengan taesan di masa depan nanti, tapi ya, begitu.

woonhak terlihat menyedihkan dengan wajah yang memerah seperti sekarang. jaehyun jadi sedih juga. ia pun mengusap-usap kepala woonhak. sesekali lanjut mengelap air mata woonhak karena masih tumpah-ruah beserta ingus dan keringatnya. 

taesan diam saja, tapi ia memungut tisu yang diletakkan sembarangan di atas kasur oleh jaehyun. setidaknya kalau tidak bisa membantu dengan tangis woonhak yang tiba-tiba, taesan bisa berguna mengumpulkan sampah agar remaja yang menangis itu tidak tidur bersama sampah tisu.

woonhak tidak sanggup lagi. 

“a — aku enggak suka kalau ayah ngelihat akwu khayak owang asing — hiks — soalnya aku kan anaknya ayah.”

sambil berbicara, woonhak terus menangis. ia berhasil mengutarakan isi hatinya meski dengan beberapa bagian di kalimatnya yang terdengar seperti diucapkan sambil berkumur-kumur. yah, efek samping dari menangis di saat demam ringan. 

“papa kenapa ingkar janji enggak nemenin aku pas aku lagi ulang tahun seminggu lalu? pwadahal papa yang bwilang dulu pas kecil — hiks — ayah katanya pernah menangis karena enggak diucapin ulang tahun sama nenek. kenapa malah ninggalin aku pas aku ulang tahun?”

jaehyun tidak tahu apa yang woonhak bicarakan. jaehyun tidak tahu ia pergi ke mana di hari ulang tahun anaknya itu. jaehyun tahu kejadian taesan menangis karena ibunya tidak mengucapkan selamat ulang tahun meski sudah memberi sebungkus kado, tapi ia tidak pernah ceritakan itu ke siapa pun. apalagi ke woonhak.

akwu masih anak ayah sama papa meski udah tujuh belas tahun. apa ayah sama papa nyesel udah adopsi aku karena aku makannya banyak jadi nyusahin ayah sama papa?”

hati jaehyun mencelos dengar rentetan isi hati woonhak. matanya jadi berair. bukan karena iris bawang, apalagi karena kelilipan. jaehyun mau menangis. sungguh miris.

“aku enggak mau kue. hadiah juga enggak usah. tapi aku mau ayah sama papa, hiks — ”

kalimat woonhak setelah itu sudah tidak bisa jaehyun tangkap. tangis woonhak semakin deras dan kalimatnya semakin tidak jelas. woonhak akhirnya terbatuk-batuk dan taesan langsung berdiri mengambil gelas. jaehyun membantu woonhak duduk dan minum sambil mengatur napas.

jaehyun tidak tahu mau bilang apa, tapi ia memilih untuk memeluk woonhak. taesan tidak memeluk woonhak, tapi ia menepuk pundak woonhak. 

“met ultah, unak,” ucap ayah. “maaf telat seminggu.”

woonhak yang dengar ayahnya berkata seperti itu dengan nada yang super kaku cuma bisa menangis di pelukan papanya. ayah memang begitu. akan tetapi, tiba-tiba papa ikut menangis. tapi, toh, papa juga memang begitu.

mungkin, ayah dan papa yang sedikit lebih besar dari woonhak tapi masih kecil jika dibandingkan dengan ayah dan papa di masa depan tidak begitu berbeda. tetap ayah dan papa yang sama. 

“selamat ulang tahun, unak.”'

pasti ayah dan papa untuk woonhak satu-satunya.

tetap ayah dan papa yang sayang dengan putera mereka.

selalu ayah dan papanya unak.

Notes:

SELAMAT ULANG TAHUN PUTERAKU <3 (juga putera taesjae mwuehehehe)