Actions

Work Header

Only You

Summary:

Minho, seorang berandalan yang sering membuat ulah dan ditakuti oleh siapapun. Namun, sifatnya akan berubah drastis jika bersama Jisung. Sayangnya, hutang budi menjadi penghambat hubungan keduanya.

Notes:

For the coolest resipient! Here's the gift! Maaf kalau gak sesuai ekspetasi T__T i have tried my best! Hope you like and enjoy it~~ ♡♡

Work Text:

Suara pukulan menjadi hal pertama yang Jisung dengar begitu memasuki sekolah. 

 

Mata bulatnya melihat sekumpulan orang di depan mading sekolah.

 

“Ih gila si Minho, padahal lawannya udah babak belur begitu ya.” 

 

Bisikan seseorang membuat Jisung mempercepat langkahnya menuju asal suara pukulan tersebut.

 

“Permisi.” ucapnya sambil menyelip ke celah-celah kosong di dalam kerumunan. Ketika tubuh mungilnya sampai ke barisan paling depan, dia menghela napas.

 

Di depan sana, seorang lelaki bersurai hitam legam dengan kaus hitam terus memukuli lelaki berseragam yang tergeletak tak berdaya. Tidak ada ancang-ancang untuk berhenti, bahkan siswa dan siswi hanya menonton tanpa berani untuk melerai.

 

“Anjing! Mampus lo!” seru lelaki kaus hitam sambil kembali melayangkan pukulan ke perut sang lawan.

 

Jisung meringis pedih. “Minho.” gumamnya, kecil sekali tapi sukses membuat lelaki pemukul itu terdiam dan menoleh.

 

Guratan emosi di wajahnya menghilang, tergantikan senyum manis. Dia beranjak menghampiri si Han, meninggalkan sang lawan yang penuh luka.

 

“Udah daritadi datangnya?” tanya Minho. 

 

Jisung menunduk merasakan tatapan dari orang sekitarnya membuat gugup, “B–baru kok.” 

 

“Aku anter ke kelas yuk, bentar lagi bel bunyi.” ujar Minho sambil menarik tangan Jisung menuju kelasnya, menghiraukan berbagai macam reaksi orang-orang yang melihat kejadian tersebut.

 

“Wah.... gila.”

 

“The power of Han Jisung.”

 

“Merinding gue, ekspresinya sebelum dan sesudah Jisung dateng tuh beda banget.”

 

**

 

Namanya Lee Minho. Pokoknya kalau lihat orang ini lewat di koridor sekolah jangan di ganggu deh! Mending cari aman dengan cara menghindar atau pura-pura gak lihat. 

Hobinya sih boxing. 

 

Saking hobinya, di sekolah pun ada aja orang yang dia jadiin samsak. Hal itulah yang membuat guru bimbingan konseling bosen, tiap hari ketemu Minho. Minho lagi, Minho terus.

 

Tapi, kata orang-orang, cara mudah untuk menenangkan Lee Minho yang penuh emosi itu adalah dengan membawa Han Jisung.

 

Sebenernya sih masih menjadi misteri kenapa Jisung bisa membuat Minho yang awalnya berandalan penuh dendam, menjadi lelaki lembut dengan senyum tulus dan lucu seperti anak kucing. Bisa dibilang, Han itu pawangnya Minho.

 

Soalnya ya! Tiap ditanya, “Jisung pacaran ya sama Minho?” pasti jawabannya, “Eh enggak! Gue temenan doang hahaha.”

 

Emang ada ya temenan yang begini?



**



“Hari ini jadi ke toko buku?” tanya Minho sambil menyodorkan sesuap nasi goreng kearah Jisung. 

 

Jisung menerima suapan dengan baik, “Eum— Jadi!”

 

“Aku anterin ya.”

 

Mata bulat itu melotot terkejut, “Eh gak usah! Kamu kan ngajar hari ini?” 

 

“Jadwal aku diganti jadi hari minggu. Aku anterin aja yaa?” wajahnya memelas membuat si manis terkekeh gemas.

 

“Iyaa, pulang sekolah aku langsung ke parkiran deh.” 

 

Dengan perasaan senang, lelaki Lee itu kembali memberikan suapan nasi goreng. Mereka menikmati waktu istirahat dengan berbincang mengenai hal random. Sesekali Minho mencubit pipi tembam atau mengusap rambut halus Jisung untuk menunjukkan rasa gemasnya terhadap sang lawan bicara.

 

Tiba-tiba kursi di sebelah Jisung ditarik dan seseorang mengisinya. 

 

“Manja amat lo, Sung. Makan kok disuapin.”

 

Mata tajam Minho menatap sinis lelaki yang baru saja melontarkan ejekan kepada si Han. Tangannya mengepal keras diatas meja.

 

“EH BERCANDA KALI KAK! MAAF!” seru Seungmin, teman sekelas Jisung, pelaku pengejekan tadi. Dia terkekeh canggung dan menyatukan kedua tangan di depan dada, gestur meminta maaf.

 

Si Lee mendengus. Jika Seungmin bukanlah teman baik Jisung, mungkin sudah daritadi kepalan tangannya melayang kearah lelaki Kim itu. 

 

“Mampus, lu sih. Udah tau dia sumbu pendek.” bisik Jisung. 

 

“Ya gue kira kan kalo ada lo dia jinak. Tadi aja kalian ketawa bareng.” 

 

“EKHEM!”

 

“Eh iya maaf kak! Ji, gue ke kelas dulu ya! DAH!!”

 

Kepergian Seungmin membuat tawa lolos dari bibir Jisung. Saking takutnya, Seungmin memanggil Minho dengan sebutan, ‘kak’, melupakan fakta bahwa mereka seumuran. 

 

**

 

Jisung mengeratkan pegangannya pada jaket jeans yang di pakai Minho. Angin kencang mengenai wajahnya begitu sang pengendara motor melajukan kecepatan.

 

“MINHOO! Pelan-pelan!!” seru Jisung, berharap yang dipanggil mendengar ucapannya ditengah kencangnya angin.

 

Kepala yang terpasang helm berwarna hitam itu menoleh sekilas ke belakang, “Apa?!”

 

“PELAN-PELAAANNN.” jeritnya. Minho terkekeh kecil lalu memelankan laju kendaraan. 

 

Apapun permintaan lelaki Han itu, akan ia kabulkan karena kenyamanan Jisung adalah nomor satu.

 

He will do anything just to make Jisung happy.

 

Minho tersenyum senang begitu Jisung melingkarkan tangannya di perut, disusul kepala bulat terlindungi helm bogo berwarna tosca itu bersandar pada pundaknya.

 

Langit sore menjadi saksi bagaimana Minho menyetir hanya menggunakan tangan kanan, sementara tangan kirinya tak henti mengelus kedua tangan Jisung yang bertengger di perutnya. 

 

Motor yang dikendarainya berhenti di depan sebuah rumah megah. Tangannya menepuk pelan tangan Jisung, “Hei, Ji, bangun yuk, udah sampe.” 

 

Namun, si Han hanya diam tak berkutik, bahkan semakin mengeratkan pelukan. 

 

“Lah, malah tidur?” sekejap Minho lupa bahwa Jisung adalah si pelor alias nempel molor .

 

Setelah memastikan motor terkunci dan menggantungkan kedua helm di spion, Ia mengangkat Jisung yang sudah tertidur lelap di punggungnya.

 

Minho memencet bel lalu terbukalah pintu rumah keluarga Han itu, menampakkan salah satu pekerja di rumah keluarga Han yang nampak sudah berumur.

 

“Ya ampun, den Jisung! Tolong bawa ke atas aja ya, Min.”

 

Ucapan bibi Jung dibalas anggukan oleh Minho. Kaki panjangnya melangkah ke lantai dua, tempat dimana kamar Jisung berada. 

 

Dia baringkan Jisung diatas kasur, melepas sepatunya dan menyelimutinya. Tak lupa menyalakan AC agar Jisung tidak kepanasan. Sebelum beranjak keluar, di cubitnya pelan pipi tembam Jisung, “Tidur nyenyak ya.” gumam Minho.

 

Lelaki Lee itu bergegas keluar dan menuruni tangga. Ia tersentak saat melihat pria dengan jas dokter ditubuhnya, berdiri di depan tangga bawah terakhir. Tubuh besar Minho menunduk dengan cepat, “Salam, om.” ujarnya.

 

Pria itu terlihat terkejut, “Lho? Minho? Habis anterin Jisung ya?” ucap pria itu, kita sebut saja, papa Han.

 

“Iya om, Jisungnya ketiduran tadi. Jadi Minho gendong sampe atas.”

 

Papa Han terkekeh, “Dasar si tukang tidur. Maaf ya Ho, jadi ngerepotin.” 

 

“Enggak masalah om, udah kewajiban Minho.” 

 

Pria bermarga Han menghela napas. Tangannya bergerak mengambil kacamata yang terpasang lalu memasukkannya ke dalam saku jas kebanggaannya.

 

“Ayahmu, apa kabar?” ada sedikit jeda di antara kata yang Papa Han ucapkan.

 

Minho tersenyum tipis. “Baik, om! Terima kasih banyak om! Semuanya berkat om! Walau sekarang ayah di rumah aja dan udah gak kerja lagi. Tapi Minho tetep seneng!” Ia kembali menunduk lama hingga papa Han menghentikannya dengan cara menepuk pelan bahunya berkali-kali.

 

“Om hanya membantu sedikit, Min. Selebihnya itu karena ayah kamu yang mau berjuang dan Tuhan yang berperan penting atas kesembuhan ayah kamu.”

 

“Tapi—“

 

“Gimana sama Jisung? Udah naik status kah?”

 

Topik ini lagi. Minho sebisa mungkin menghindar dari pembahasaan mengenai statusnya dan Jisung, apalagi yang bertanya adalah papa dari lelaki menggemaskan itu.

 

Bibir Minho terbuka ingin menjawab, namun nada dering dari ponsel menginterupsi.

 

“Om, maaf, Minho izin pulang dulu ya. Ini ayah udah telpon. Minho pamit ya, om.” 

 

Menunduk dalam lalu pergi dengan langkah terburu-buru, meninggalkan papa Han yang menghela napas menatap kepergiannya.



***




Minho berjengit kaget kala seseorang menepuk pundaknya.

 

“Kesambet lu ntar kebanyakan bengong.” Ujar orang itu sembari mendudukkan dirinya di hadapan Minho yang kini hanya diam, wajah tampan itu terlihat murung.

 

Seo Changbin, satu-satunya teman akrab Minho, yang tahan dengan segala ucapan pedas dan sikap kasar lelaki Lee itu mengernyit. 

 

Biasanya di jam istirahat begini, temannya itu sudah ngapel di kelas si pujaan hati tanpa status, alias, Jisung. 

 

Dan juga, biasanya lelaki itu akan menatap sinis dirinya atau mengucapkan sumpah serapah seperti memiliki dendam pribadi kepadanya. Ini tumben sekali, duduk di dalam kelas dengan lesu.

 

“Bin.” Baru saja ingin bertanya, Minho sudah memulai percakapan.

 

Changbin berdehem singkat.

 

“Kemarin gue ketemu bapaknya Jisung, terus ditanya, katanya, udah naik status belom sama Jisung.” Kata Minho. 

 

Changbin mendekat, topik menarik ini tidak bisa dia lewatkan begitu saja.

 

“Gue gak jawab, gue kabur gitu aja. Gue gak bisa, Bin. Cupu gak sih gue.” lanjutnya diakhiri dengan tawa miris. Tangan besar Minho mengacak surai hitam hingga berantakan.

 

Si Seo menghela napas panjang. Dirinya tahu betul alasan kenapa hubungan Jisung dan Minho masih tidak ada kejelasan. Hutang budi membelenggunya. 



Ayah Minho itu, 1 tahun lalu, mengidap kanker hati. Secara kebetulan, papa Jisung yang adalah seorang dokter penyakit dalam, menjadi dokter yang merawat dan melayani ayah Minho

 

Saat itu, bayaran rumah sakit menunggak, ayah Minho sebagai tulang punggung keluarga tidak bisa mencari nafkah karena penyakit yang di deritanya semakin parah. Sementara Minho, uangnya dari bekerja sebagai saebom Taekwondo dan pegawai di salah satu restoran barbeque hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

 

Papa Jisung tahu betul bagaimana kesulitan menjadi single parent , seringkali ia meceritakan tentang anak semata wayangnya dan perjuangan menjadi papa ditengah kesibukan kepada ayah Minho. 

 

Ditambah umur yang tidak terpaut terlalu jauh, membuat kedua lelaki paruh baya itu dekat begitu saja, bertukar cerita layaknya teman lama.

 

Dengan kebaikan hatinya, papa Jisung melunaskan tunggakan biaya rumah sakit dan melakukan kemoterapi terhadap ayah Minho yang selama ini tak pernah dilakukannya karena terhalang biaya.

 

Minho menangis tersedu di koridor rumah sakit sambil berlutut di hadapan Dokter Han sewaktu ayahnya dinyatakan sembuh.

 

“Dokter, terima kasih, hiks, Minho berhutang budi banyak— hiks. Apa yang harus Minho lakuin untuk membalas kebaikan dokter?” Ujar Minho kala itu sambil memeluk kaki Dokter Han . 

 

Dokter Han tersenyum manis, “Gak papa Minho, ini semua berkat Tuhan, Dokter hanya membantu sedikit. Minho gak perlu melakukan apa-apa, belajar saja yang rajin ya?” 

 

Minho mengangguk cepat. Kaki nya melangkah memasuki ruang inap sang ayah. Senyum terukir di wajah ayah yang nampak cerah dari biasanya.

 

“Minho. Ayah senang sekali masih bisa temenin Minho, tadinya ayah pikir umur ayah sampe disini aja, haha. Ternyata Tuhan belum izinkan kamu berjuang sendirian.”

 

Lee muda mengenggam erat tangan ayahnya. Seakan-akan jika ia longgarkan sedikit saja, maka sang ayah akan pergi jauh.

 

“Kamu tau Han Jisung? Dia satu sekolah sama kamu. Anaknya Dokter Han, kamu berperilaku baik dan temani dia ya. Jaga dia, lindungi dia. Kita berhutang budi sama papa nya.” 

 

Tubuh Minho membeku. Nama itu. Nama yang selalu tersemat di dalam hatinya. Nama yang berhasil meluluhkan hati sekeras batu dan sedingin es. 

 

Han Jisung. Lelaki menggemaskan yang telah menarik perhatiannya sejak Masa Orientasi Sekolah lalu. Apakah ini cara semesta menyatukan mereka? 

 

“Kamu jadikan teman saja ya, Ho. Jangan terlalu berlebihan, takutnya dia naksir kamu, hahaha, kamu kan ganteng.” Suara sang ayah membuyarkan lamunannya.

 

“Emang kenapa, yah?”

 

“Ayah merasa gak pantes aja. Kamu liat kan? Keluarga Han? Papanya aja dokter. Ayah malu, kita keluarga gak punya. Udah dibantu bayarin biaya rumah sakit aja, kita jangan ngelunjak. Tolong kamu temani saja ya Jisungnya, jaga dia, anggep aja kamu bodyguard nya.” ucap ayahnya diselingi candaan.

 

Hingga kini, Minho masih berpegang teguh dengan pendiriannya walau tiap kali menatap wajah manis Jisung, ada rasa ingin memiliki. Tapi niat itu ia hentikan begitu ucapan sang ayah terngiang di kepalanya.

 

“Lho?! Min?! Kok nangis?” Teriakan Changbin membuyarkan lamunan Minho. Dia mengusap pipi dengan cepat, namun tak ada tanda-tanda air mata menetes.

 

“Anjing.” Umpat lelaki Lee tersebut setelah menyadari bahwa dirinya hanya dipermainkan.

 

Seo muda terbahak. Ia mendekatkan kursi yang di dudukinya ke arah Minho lalu menepuk pundak teman karibnya.

 

“Min, kalo sampe om Han nanya gitu, berarti beliau setuju lo sama anaknya.” 

 

“Tapi, Jisungnya mau gak ya sama gue.” 

 

Tangan berotot milik Changbin melayang begitu saja menuju kepala Minho. 

 

Plak!

 

“Babi!” Korban pukulan Changbin tadi mengelus kepalanya sambil mengeluarkan kata-kata mutiara yang tidak layak di dengar oleh anak dibawah umur. 

 

“Biar otak lo gak geser lagi! Coba lo tanya sama guru bimbingan konseling kita si bu Joy atau tanya sama ibu kantin yang jualan cireng! Mereka pasti bakal jawab kalo si Jisung itu juga naksir berat sama lo! Buka mata lo, nyet.” Jelas Changbin panjang lebar.

 

Siapapun tau, hanya Minho seorang yang dapat Jisung terima berlaku manis kepadanya. Lelaki Han itu kerap kali menolak orang yang menyatakan perasaan kepadanya, alasannya sih mau fokus belajar. 

 

“Gue harap lo pikirin mateng-mateng, Min. Coba tanya hati lo. Lo rela kah kalo Jisung sama orang lain?” 

 

Terlintas di benak Minho, bagaimana Jisung tertawa manis karena candaan orang lain. Bagaimana surai halus itu diusap lembut oleh tangan yang bukan miliknya.

 

Khayalan itu membuat wajah Minho memerah menahan kesal. 

 

Changbin yang melihat hanya tersenyum. Dalam hati mendoakan kelancaran hubungan temannya dengan sang pujaan hati. 

 

“Apapun keputusan lo, gue dukung, Min. Gue harap itu yang terbaik.”



***



Siang ini, Minho melewatkan jadwal rutinnya dalam mengantar Jisung pulang ke rumah dan mengendarai motornya menuju restoran barbeque tempat dia bekerja.

 

Bos restoran itu menghubungi Minho tadi, meminta untuk menambah shift kerja yang awalnya mulai pukul 5 menjadi pukul 3 untuk hari ini saja. Dikarenakan ada dua pegawainya yang absen dan restoran ramai, maka mereka membutuhkan pekerja tambahan.

 

Minho yang di iming-imingi bonus tentu saja setuju tanpa pikir panjang. Setelah memberitahu Jisung via chat tentunya.

 

Sesampainya di restoran, lelaki itu bergegas masuk melalui pintu belakang khusus pegawai. Menaruh tas ranselnya di dalam loker dan memakai seragam kerja serta apron.

 

“Minho!” Panggilan Jungwoo, rekan kerja Minho yang menempati posisi sebagai kasir membuat lelaki itu bergegas menghampirinya.

 

“Tolong anterin ke meja 8 ya, ini pesenannya.” 

 

Minho membawa nampan berisi beberapa daging mentah dan bumbu yang akan ia gunakan untuk memasak nanti ke meja 8 sesuai ucapan Jungwoo.

 

Langkahnya melambat kala manik hitamnya melihat sosok yang sangat ia kenal duduk berhadapan dengan lelaki lain di meja yang menjadi tujuannya.

 

“Silahkan, kak.” Ucap Minho pelan sambil meletakkan nampan diatas meja.

 

Dua orang pelanggan itu hanya tersenyum dan mengangguk, lalu melanjutkan pembicaraan mereka yang sempat tertunda.

 

“Kak Hyun, nanti ke rumah sakit dulu yaa, aku mau nemuin papa.”

 

Minho menyalakan api kompor mini diatas meja, bukannya hanya wajan yang panas, namun hatinya pun ikut panas melihat keakraban pelanggan meja 8 ini.

 

“Okee, habis itu mau ke mall?”

 

“Mau!!”

 

“Oh iya, gimana Ji kata—”



“Maaf kak, ini dagingnya mau dimasak semua?” Minho bertanya dengan nada ketus, membuat suasana hening dan canggung seketika.

 

Bukankah tujuan orang ke restoran barbeque adalah untuk menikmati daging? Jika daging tidak dimasak, bagaimana mereka menikmatinya?

 

Menyadari pertanyaannya tidak jelas, Minho berdehem untuk menghilangkan rasa gugup, “M– Maksud saya, ada tambahan lagi kak?” 

 

Jisung tertawa kecil, “Itu aja dulu, Mas.” 

 

Minho mengangguk lalu melanjutkan kegiatan memanggang daging yang hampir matang. 

 

Lawan bicara Jisung yang dipanggil Hyun tadi pun melanjutkan pembicaraan, “Ji, tanyain papa kamu gih, bulan apa nih jadinya kita tunangan?”

 

PRANG

 

Penjepit makanan yang Minho gunakan terjatuh begitu saja, menimbulkan suara nyaring hingga seluruh orang di restoran melirik ke asal suara.

 

Tubuh lelaki Lee itu membeku. 

 

Jisung? Bertunangan? Dengan lelaki yang ada dihadapannya ini? Siapa dia? Kenapa tuan Han menyetujuinya?

 

“Mas!” Hyun tadi menepuk bahu Minho, mencoba menyadarkan pegawai restoran itu dari lamunannya.

 

“Anda gak papa kah mas?” tanyanya.

 

Minho tersadar. Ia membereskan kekacauan yang telah diperbuatnya tadi dan setelah memastikan daging sudah matang, si Lee menunduk dalam.

 

“Maafkan saya atas kekacauan yang telah terjadi. Dagingnya sudah matang, silahkan menikmati.” 

 

Lalu, pergi begitu saja meninggalkan pelanggannya dengan pikiran berkecamuk.

 

***

 

Walau waktu telah menunjukkan pukul 10 malam dan tubuhnya lelah bukan main, itu tidak akan menghentikan keinginannya untuk menemui Jisung. 

 

Disinilah dia berada, di depan rumah megah keluarga Han. Mata tajam itu melirik kearah kamar Jisung yang berada di lantai dua, lampu masih hidup menandakan sang pemilik kamar belum terlelap.

 

Minho duduk di kursi sebelah pintu masuk sambil berusaha menghubungi si manis bahwa Ia ingin bertemu.

 

5 menit setelahnya, pintu besar itu terbuka, menampakkan Jisung dengan piyama biru muda nya.

 

“Ngapain malem-malem kesini?”

 

Minho berdiri tepat di hadapan Jisung. Ditatapnya wajah menggemaskan yang selama ini hanya dapat Ia lihat dari jauh. 

 

Ia menarik napas dalam, “Yang di restoran tadi— calon tunangan kamu ya?”

 

Hening. Jisung diam. Mata bulatnya mencoba menelisik dalam mata tajam itu, berusaha mencari apa yang Minho rasakan ketika menanyakan itu.

 

Yang lebih pendek mengangguk. Sukses membuat hati Minho hancur berkeping-keping, dia sudah kalah. Tidak, dari awal memang tidak ada kesempatannya untuk menang.

 

Minho tersenyum tipis, tanpa Ia sadari, bola mata bening itu kini berkaca-kaca, “Selamat, Ji. Aku harap kamu bahagia selalu, berarti kini tugas aku ada yang menggantikan dong? Hahaha.” Ujarnya diakhir tawa sumbang.

 

Ia mendongak, agar air mata tak menetes begitu saja di hadapan Jisung. Kemana hatinya yang keras? Mengapa Ia begitu lemah begitu berhadapan dengan sang pemilik hati?

 

“Kalo udah ada pestanya, jangan lupa undang aku ya.” Diliriknya jam yang melingkari pergelangan tangan, “Eh, udah jam 11 ternyata, aku balik ya, kamu istirahat gih. Aku mau nanya itu aja, kaget tau kamu gak kasih tau aku kabar membahagiakan ini.” 

 

Minho mengacak rambut berantakan Jisung dan berbalik arah menuju motornya yang terparkir di halaman depan rumah keluarga Han. Ia harus segera pergi atau Jisung akan melihatnya menangis, itu sangat memalukan.

 

“Udah? Gitu aja?”

 

Langkah Minho terhenti. Begitu mendengar isakan yang tak lain berasal dari Jisung.

 

“Hiks – kabar bahagia, kamu bilang? Kenapa kamu selalu bohongin diri kamu sendiri, Minho?”

 

Minho tertegun. Dia berbalik menatap Jisung namun tak beranjak mendekati si Han yang sedang menangis tersedu, langkahnya terasa berat.

 

“Atau jangan-jangan, perasaan ini cuma sepihak, iya? Sedari awal cuma aku yang nyimpen perasaan ini kan?” 

 

Lelaki yang lebih tinggi itu menggeleng kencang lalu menubruk Jisung dan memeluknya erat, “ENGGAK! Only if you know how much i love you, Jisung . I fell for you first and i fell harder.” 

 

Jisung membalas pelukan tak kalah erat, tangannya meremat seragam bagian belakang Minho hingga kusut.

 

“Kenapa kamu gak berusaha? Kenapa kamu rela aja aku tunangan sama orang lain? Kenapa, Minho?!” Isakan Jisung semakin keras, membuat Minho ikut meneteskan air matanya.

 

“Maaf. Aku gak bisa. Aku berhutang banyak sama papa kamu, Ji. Kalo bukan karena papa kamu, aku gak bisa ketemu ayah lagi. Kalo bukan karena papa kamu, ayah mungkin belum sembuh sampai sekarang.” 

 

“Maaf. Aku gak pantes.”

 

“Maaf. Aku malu, Jisung.” 

 

Minho semakin meracau. Hatinya begitu sakit melihat sang pujaan menangis karena dirinya yang pengecut ini. 

 

Jisung menangkup wajah Minho yang kini terlihat sembab dan pucat. “Minho, itu bukan karena papa, itu udah takdir, takdir kalo ayah kamu sembuh! Papa cuma perantara, Minho! Papa gak masalah kalo kita menjalin hubungan. Kenapa harus malu? Siapa yang bilang kamu gak pantes?!”

 

“Ayah aku bakal marah, Ji. Aku juga malu, belum bisa bikin kamu bahagia. Aku cuma pekerja di restoran dan seorang saebum . Kamu mungkin lebih pantes sama Hyun itu, dia kayaknya mampu bikin kamu bahagia.” ujar Minho pelan.



“Gak ada yang bakal marah. Om akan bicara sama ayah kamu.” Tiba-tiba Papa Han berdiri di depan pintu, tangannya bersidekap di depan dada. Sontak, membuat si Han dan Lee kecil melepaskan pelukan mereka.

 

“Tapi om–”

 

“Min, bahagianya Jisung itu kamu. Uang bisa dicari, itu masalah nanti. Dengan adanya kamu saja sudah bikin Jisung senang.” Lanjut Papa Han. 

 

Telinga kedua anak adam itu memerah.

 

Minho menunduk dalam, “Tapi, tunangannya Jisung gimana, om?”

 

“Bohong doang itu. Sengaja, biar kamu panas dan sadar sama kelakuan kamu itu. Hyunjin kan sepupunya Jisung.”

 

Minho melongo kaget. Jadi? Dirinya dibohongi? Itu hanya akal-akalan dari Papa Han?

 

“Inget ya Min, gak ada yang namanya hutang budi. Om ikhlas bantuin papa kamu. Kalo kamu kekeh mau bales oom, mending segera pacarin Jisung, om gak mau anak om sedih terus. Sudah ya, om masuk, ngantuk, kalian selesaikan masalahnya sendiri.” 

 

Setelah berkata begitu, Papa Han pergi meninggalkan kedua lelaki muda dengan suasana canggung.

 

Minho mengambil tangan Jisung lalu mengusapnya pelan, “Maaf ya aku terlalu pengecut selama ini.”

 

“Stop bilang maaf!” Ketus Jisung. 

 

Si Lee terkekeh. “Kamu mau gak jadi pacar aku?”

 

“Gak!”

 

“Kenapa?!”

 

“Beri aku satu alasan kenapa aku harus jadi pacar kamu.”

 

Minho tersenyum, sebisa mungkin menahan dirinya untuk tidak menggigit pipi yang menggembung gemas.

 

“Kalo kata Seungmin, cuma kamu pawang aku. Kamu mau liat aku marah-marahin orang terus? Kamu harus tahan aku ya buat gak marahin anak orang.”

 

“IH!!” Jisung memukul punggung Minho kesal, suasana sedang serius malah dibuat main-main.

 

“Hahaha, bercanda. Pokoknya kamu harus jadi pacar aku ya? Aku sedih banget kalo kamu jadi pacar orang lain. Soalnya aku udah suka kamu dari dulu, tapi baru berani deketin kamu sekarang, itupun disuruh ayah. Mungkin aku masih belum menjadi lebih baik, but i’ll try to be the best of the best for you. I need you , Ai.”  

 

Mata bulat Jisung kembali mengeluarkan air. Sudah lama Ia menunggu waktu ini tiba, dimana Minho akan menyatakan perasaan padanya. Dipeluknya erat Minho membuat si lelaki Lee terhuyung kebelakang. 

 

“Aku mau, aku mau!”

 

Minho tersenyum lebar, sangat lebar. Sehingga orang yang melihat pun akan menduga Ia adalah orang paling bahagia. Tangan besarnya merengkuh tubuh kecil Jisung, “ Thank you, Ai. Thank you. I love you.”