Work Text:
Bulan Desember harusnya keuangan keluarga sudah membaik sebagai penutup tahun yang damai. Namun, Glacier masih belum menemukan tanda-tanda perbaikan keuangannya. Ia menghela napas lelah, memandang ke arah langit.
Salju? Ah... Rupanya salju sudah muncul. Pantas saja emosi Glacier memburuk sejak awal pagi. Cuaca dingin dapat merusak perasaannya. Padahal dia diberi nama Glacier yang merupakan elemen bumi dan es oleh orang tuanya, tetapi dia tak terlalu menyukai salju. Ketika Glacier merasa murung, seseorang meneleponnya. Dari adiknya, satu-satunya keluarga berharganya, SoRi.
"Hai, Kak Glacy! Kakak belum makan ya?" Tanya SoRi tanpa berbasa-basi dengan suara riangnya. Sebenarnya Glacier biasa berbohong dengan mengatakan dia sudah kenyang, tapi cuaca dingin membuatnya berkata jujur. "Kebetulan sekali! SoRi dikasih roti oleh teman! Nanti SoRi bawa pulang. Bye! Semangat bekerja, Kak Glacy!"
SoRi sebagai adik baik itu sengaja terburu-buru bicara agar Glacier tak sempat merespon lagi. Agar Glacier tak menyuruhnya makan roti itu alih-alih berbagi ke kakaknya sebagaimana kebiasaan sang kakak yang suka mengalah padanya. Dalam hati, Glacier tercekat oleh rasa haru. Dia jadi lebih semangat bekerja lagi demi keuangan yang lebih baik.
Kalau keuangannya sudah membaik di bulan Desember, Glacier ingin membelikan syal baru untuk adik tersayangnya. Dia ingin SoRi bisa tersenyum lepas tanpa menggigil kedinginan oleh salju. Sebab SoRi adalah sosok yang berharga bagi hidup Glacier.
-0o0-
"Hei SoRi! Titip salam buat kakakmu yang keren itu!"
SoRi terkekeh geli ketika mendapat pesan dari beberapa teman sekelasnya. Ini bermula dari kejadian sekitar 2 minggu yang lalu. Glacier datang ke sekolahnya dengan jas milik mendiang ayah mereka, membuat SoRi tercengang. Padahal kakaknya bekerja menyemir sepatu dan berjualan koran, tak terbiasa memakai pakaian rapi.
Glacier mampir ke kelasnya pada jam istirahat. Rambutnya ditata dengan rapi, poninya dibuat belah tengah. Akibat SoRi sudah lama tak melihat kakaknya rapi, untuk sesaat dia mengabaikannya sebab mengira salah orang. Hingga Glacier akhirnya berseru, "Adikku SoRi! Tolong kemari!"
Seisi kelas langsung memandangnya, menatapnya lekat-lekat. Kebanyakan dari mereka seperti mengatakan 'kakakmu sangat keren' melalui tatapan mereka. SoRi terbelalak, mendekati kakaknya dengan rasa bersalah akibat sempat mengabaikannya. Dia segera meminta maaf, mengatakan dirinya agak pangling sebab penampilannya berbeda.
"Aneh ya? Aku cuma ingin rapi supaya kamu nggak merasa malu denganku di hadapan semua temanmu..." Balas Glacier, menggaruk pipinya dengan senyum canggung.
"Justru Kak Glacy cakep banget, lho! Seperti model iklan!" Bantah SoRi, tidak mau sang kakak merasa minder. Dia saja sudah bilang ke teman dekatnya, Fang, tentang pekerjaan kakaknya. SoRi sama sekali tak merasa malu dengan itu. Dia memeluk Glacier untuk menenangkannya.
Dilihatnya Glacier yang kini tersenyum lebih bahagia, membuat teman-temannya semakin memerhatikannya. SoRi buru-buru bertanya tentang alasan kakaknya datang. Sang kakak berkata, "Ini untukmu. Aku beli kue kering dengan harga yang terjangkau. Sebenarnya ingin kumakan, tapi aku teringat kamu, hehehe..."
Dilihatnya kue-kue kering yang berbentuk bunga matahari itu. Glacier benar-benar memikirkan adiknya yang suka bunga matahari. SoRi tercekat haru, memutuskan menerimanya. Kemudian dia menghitungnya dalam hati. Jumlahnya 6. Pas sekali. Dia memberi 3 kue untuk kakaknya. "SoRi nggak mau makan kalau Kak Glacy nggak menerimanya."
"Tapi SoRi, itu untukmu!"
"Makanlah!" Pinta SoRi, memasang jurus mata berkaca-kaca. Glacier tahu itu sudah menjadi trik adiknya, tapi hatinya tetap lemah. Akhirnya, dia memakannya. Dia terkejut sendiri karena rasanya kurang enak, pantas saja dijual sangat murah. Dipandangnya datar ke arah label nama si penjual kue; Yaya Yah. Dia akan mencatat ini dalam hatinya.
Glacier sudah ingin berbisik, menyuruh SoRi untuk mengembalikan kue keringnya padanya, tetapi adiknya ikut melahapnya. Dia berdebar kencang sebab semua teman sekelas SoRi masih memandang mereka. Kalau SoRi malah merengek mengeluhkan kuenya, dia akan dicap kakak yang buruk. Rasa panik memenuhi Glacier.
Di luar dugaan Glacier, raut wajah SoRi masih tetap riang. Memang, matanya agak syok, tetapi dia segera menguasai dirinya. Ketiga kue kering itu langsung ditelannya. SoRi tersenyum lebar, hingga Glacier tercekat haru melihat ekspresinya. "Enak sekali, Kak Glacy! Terima kasih banyak!"
Saking terharunya, Glacier pasti memasang ekspresi lebih cerah dibanding sebelumnya. Sebab semua anak sekelas terperanjat kaget. Dia segera permisi untuk pulang, sementara SoRi sudah dihujani pertanyaan oleh teman-temannya. Bahkan ada yang bertanya merk kue keringnya, yang segera dia balas, "Enggak akan SoRi beri tahu pada kalian!"
Mengingat kejadian itu, SoRi sudah tertawa sendiri. Setelah itu, semua temannya tahu bahwa kakaknya hanya orang biasa, bukan seorang model sungguhan. Namun mereka tetap menyukai ketampanan dan kebaikannya. Dalam hatinya, SoRi bertekad akan menyeleksi jodoh kakaknya di masa mendatang. Kakaknya tidak boleh patah hati. Ups, dia berpikiran terlalu jauh!
Sembari memegang sekantung roti yang diberi Fang padanya, SoRi sudah melangkah pulang dengan senandung riang. Dia memandang ke arah salju yang turun dan tertegun. Salju. Kakaknya tak terlalu suka salju. Dia pikir harus melakukan sesuatu untuk itu, hitung-hitung balas budi karena ia diurus dengan baik. SoRi mengerutkan kening, berpikir keras agak lama.
"Syal! Bagaimana kalau beri hadiah syal?!" SoRi langsung bersemangat. Dia berbelok arah ke toko pakaian untuk mengecek harganya. Rupanya agak mahal, tapi SoRi tidak masalah. Demi kakak yang paling berharga sedunia!
-0o0-
Hubungan saudara itu harus akur. Begitulah pesan dari mendiang orang tua Glacier dan SoRi. Walau sebenarnya, tanpa pesan dari sang orang tua, mereka sudah sangat akur dan saling mendukung. Sejak SoRi lahir pada usia Glacier yang masih 5 tahun, kakaknya sudah bersikap baik dan lembut padanya. Alhasil, adiknya juga menjadi sangat menyayangi sang kakak.
Contohnya kali ini mereka diam-diam saling ingin memberi hadiah syal. Akan tetapi, mereka kekurangan uang. Glacier bekerja lebih keras, sementara SoRi menabung uang jajannya. Puncaknya, saat mereka ke toko pakaian, rupanya syal yang diinginkan sudah habis terjual akibat salju ekstrem membuat semua orang berebut beli syal apapun itu.
SoRi sudah menangis kencang di perjalanan pulang sekolah. Glacier juga sambil termenung syok selama dia menyemir sepatu-sepatu pelanggannya. Namun, apakah mereka akan mudah menyerah? Tentu saja tidak! Mereka terpikir ingin membuat sendiri meski itu beresiko ketahuan.
Terdengar ketukan di pintu rumah pada akhir pekan. Si penjaga toko pakaian membawa sekotak isi 1 syal. "Maaf, ini syal pengganti karena permintaan Tuan-tuan sekalian habis. Kami beri secara gratis karena ini kurang sesuai keinginan kalian. Maaf juga karena jumlahnya hanya satu, tapi untunglah kalian tinggal di alamat yang sama!"
Dua bersaudara itu terkejut saat melihat si penjaga toko pakaian yang datang ke rumah mereka. Untuk sejenak, Glacier menerimanya dengan penuh senyum dan ucapan terima kasih. Walau setelah itu, dia memandang adiknya keheranan. SoRi juga balas memandangnya penuh tanda tanya. "Kamu pesan syal? Kalau begitu, ini syal untukmu." Kata Glacier, memecahkan hening yang canggung di antara mereka.
"SoRi pesan syal untuk Kak Glacy!" Balas adiknya, menolak tawaran sang kakak yang memberikan syal tersebut. Menyerahkan kotak isi syal ke Glacier.
"Aku pesan syal untuk kamu!" Glacier balas mendorong kotak isi syalnya ke sang adik. Untuk beberapa menit, mereka saling mendorong kotak sampai akhirnya keduanya lelah sendiri. Mereka lantas tertawa lepas, merasa konyol dan geli.
Akhirnya dua bersaudara itu sepakat memakai syal itu berbarengan. Sebab rupanya ukuran syalnya cukup panjang. Glacier berinisiatif membuatkan dua gelas coklat hangat, sementara SoRi merapikan sofa lusuh mereka agar lebih nyaman diduduki. Disusul setelahnya mereka memakai syal bersama-sama. Rasanya hangat. Wajah mereka tampak berseri.
"Masih ada yang kurang!" Cetus SoRi tiba-tiba. Tanpa menunggu respon kakaknya, dia segera memeluknya erat. Awalnya Glacier merasa geli dan hendak mendorong adiknya, tapi dilihatnya senyum SoRi yang cerah sesuai keinginannya. Tak tampak kedinginan oleh dinginnya salju. Dia pun balas memeluk sang adik.
Syal dan sebuah pelukan saudara yang berharga maknanya. Sempurna sebagai bulan penutup tahun yang damai.
-0o0-
(End)
