Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-12-08
Words:
676
Chapters:
1/1
Comments:
3
Kudos:
17
Bookmarks:
2
Hits:
274

Jatuh Cinta Sekali Lagi

Summary:

Tentang Taeyong yang kembali disadarkan oleh 'kurang'-nya dan Jaehyun yang siap ingatkan cintanya bahwa ia akan tetap tinggal.

Notes:

Halo, semua. Ini karya pertamaku dan fic singkat ini terinspirasi dari tweet ini. Hope you guys like it! ☺️

Note: and sorry for the grammar error and broken english, tho 🙏🏻

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Taeyong melihat Jaehyun yang sedang dikerubungi anak-anak panti–beberapa terlihat berebut perhatian laki-laki Jung itu–dari kejauhan. Hangat. Itu yang Taeyong rasakan.

Tapi, sekelebat rasa lain mulai ia rasakan. Getir.

Taeyong disibukkan dengan rasa dan pemikirannya sampai-sampai tak sadar Jaehyun sudah berjongkok di depannya.

"Ada apa?" Tanyanya.

Taeyong menggeleng kemudian tersenyum, "Gak ada apa-apa."

"Taeyong." Itu peringatan.

"Beneran gak ada apa-apa, Jaehyun."

"I've known you for 20 years, to the point I know when you lie. What happened? Tell me, love, please."

Taeyong menunduk, matanya menyendu. Jemarinya pun ia mainkan.

"Aku... um— Jae, have you ever regretted your decision to marry me?"

Kedua alis laki-laki Jung itu terangkat. "Of course not, my love. Even in the next life, I will still choose you and love you"

Tanpa melihat Jaehyun, Taeyong mengangguk pelan. Jaehyun pun meraih kedua tangan sang suami kemudian mengecup punggung tangan laki-laki yang ia janjikan setianya seumur hidupnya.

"Kenapa kamu tiba-tiba tanya gitu, sayang? Ada yang ganggu pikiran kamu? Atau ada orang yang ngomong aneh-aneh ke kamu? Tell me."

Buru-buru Taeyong menggeleng, "Enggak kok." Jawabnya singkat.

"Taeyong." Jaehyun memperingatkan sekali lagi.

Tanpa Jaehyun sadari peringatannya barusan malah membuat Taeyong menangis. Iya, tiba-tiba tangan Jaehyun dibasahi air mata suaminya.

Panik, Jaehyun tangkup kedua pipi Taeyong. Kedua mata cantik suaminya kini terlihat begitu sedih dan membuat hati Jaehyun mencelos. Ia kecolongan, tetapi tidak tahu pula apa yang membuatnya kecolongan.

"Hei, hei, sayang. I'm sorry, aku udah maksa kamu buat kasih tahu aku apa yang terjadi. Maaf, kalo kamu gak nyaman, gak usah dijawab ya, sayang."

Lagi-lagi Taeyong menggeleng.

"Bukan salah kamu ..." Isaknya. "Tapi salah aku, Jaehyun ..."

Jaehyun makin bingung. Tidak biasanya Taeyong seperti ini. Pasti ada sesuatu yang membuat cintanya ini sedih.

Tidak ingin buat Taeyong makin sedih, Jaehyun mencoba meraba-raba dan mengingat-ingat sendiri hal apa yang sekiranya menjadi pemicu. Sekian lama ia berpikir, sampai akhirnya ia mendapat sebuah pencerahan.

"Sayang, lihat aku sebentar, hm?"

Perlahan Taeyong mengangkat wajahnya. Bulir air mata sesekali lolos dari mata cantiknya dan akan langsung diseka oleh Jaehyun.

"Sayang, maaf ya aku malah bawa kamu ke sini, ke acara tahunan kantor. Jadinya malah bikin kamu sedih."

Taeyong menggeleng ribut, "E-enggak, Jaehyun! Aku–"

"No, love. Aku tetep salah. Aku gak peka sama perasaanmu. Maaf."

"Jaehyun, kamu gak usah minta maaf ... Harusnya aku yang minta maaf ke kamu."

"Buat apa, Taeyong?"

"Karena aku gak akan pernah bisa kasih anak buat kamu ..."

Kata-kata Taeyong barusan begitu lirih, namun Jaehyun masih bisa dengar. Benar, 'kan, dugaanku.

Jaehyun kembali kecup punggung tangan kemudian ia tatap lekat-lekat cintanya itu, "Sayang, dengerin aku. Aku nikahin kamu bukan karena pengen punya anak, no. Not gonna lie, at some point I do want to have children. But, with you. I mean, we can adopt one or two children then raise them together."

Jaehyun tarik lembut Taeyong dan membawanya ke dalam pelukannya. "Dari awal aku mutusin buat nikahin kamu, aku udah tahu risikonya. Masalah anak, itu cuma bonus. Pun kalo kamu gak mau adopsi, ya gak masalah. Sampai tua cuma kita berdua, ya gak masalah. Aku nikahin kamu karena aku cintanya sama kamu. Sampai mati cintanya sama kamu, maunya sama kamu. Dan aku gak bisa kalo gak sama kamu. Jadi, aku harap kamu gak perlu nyalahin diri atau ngerasa bersalah, ya, sayang."

Bersamaan dengan Jaehyun menyelesaikan kalimatnya, Taeyong kembali terisak. Tubuh kecil itu bergetar hebat, seperti berusaha mengeluarkan kesedihan yang selama ini ia pendam. Tangan besar Jaehyun terus mengusap lembut punggung sempit cintanya.

"Cinta matiku, itu kamu, Taeyong. Sampai nanti kita pada akhirnya sampai di garis 'akhir', aku mau jalanin hidup sama kamu. Berdua. Ada atau tanpa anak."

Taeyong tidak dapat menjawab dengan kata-kata. Hanya tangis yang keluar dari bibirnya. Karena entah kata-kata apa yang bisa menggambarkan rasa syukur dirinya karena Jaehyun hadir dalam hidupnya, memberi kesempatan kepadanya untuk jatuh cinta sedalam-dalamnya sekali lagi dan yang mau menerima kurang serta masa lalunya.

Ah, Taeyong jatuh cinta sekali lagi. Kali ini lebih dalam lagi. Lebih dalam lagi. Sampai kata 'cinta' tidak lagi mampu menggambar perasaannya terhadap Jaehyun, laki-laki yang menawarkan penawar pahitnya masa lalu dan menawarkan masa depan penuh warna untuknya.

Notes:

Lemme know what do you guys think 🥹