Work Text:
but he who dares not grasp the thorn, should never crave the rose.
(anne bronte)
i: pembawa cahaya
Neuvillette cinta alam liar. Sepanjang hari, dia bersama teman-teman nimfanya menjelajah pedesaan-pedesaan terpencil; menyeberangi sungai, merangkai mahkota bunga di padang rumput, dan berbincang-bincang sambil menikmati buah apel di tepi danau.
“Apa kamu tidak bosan, Anakku?”
Rutinitas Neuvillette tidak pernah berubah. Lingkup pergaulannya tidak berkembang, wilayah dunia yang boleh dijelajahinya juga semakin berkurang. Keluhan kecil tidak pernah terucap dari mulut Neuvillette, yang ada malah senyum manis terbentuk di sudut bibir kemerahannya.
“Tidak, Bu. Ibu izinkan Neuvillette keluar dari rumah saja, Neuvillette sudah bersyukur kok.”
Raut polos seakan tercetak alami di wajah cantiknya. Focalors semakin tidak enak hati karena telah merenggut kebebasan Neuvillette begitu saja, maka dari itu dia menguatkan diri untuk berkata, “Ibu akan mencarikan suami untuk Neuvillette agar Neuvillette tidak kesepian lagi. Neuvillette mau?”
Neuvillette tidak tahu harus menjawab apa.
.
.
.
.
.
Kisah cinta ayahnya mirip seperti kisah cinta saudara tirinya, Aether. Tragis dan beberapa diantaranya bahkan meninggalkan trauma mendalam.
Neuvillette ingat, seberapa keras Focalors berusaha menjauhkan laki-laki dan perempuan yang ingin menikahinya karena Focalors tidak ingin Neuvillette terluka parah-parah mengalami nasib yang sama seperti dirinya.
“Ibu hidup untuk kamu, Nak.”
Kalimat itu benar-benar dia pegang teguh.
“Ibu tidak mau pengalaman cinta pertamamu berakhir mengenaskan. Cinta pertamamu harus meninggalkan kesan mendalam.”
Neuvillette dinyatakan terlarang dan tak terjangkau. Banyak dewa yang ingin mendekatinya, tapi baru saja mereka mau mendekat, Focalors muncul tiba-tiba dan menerjang dengan keretanya yang ditarik naga.
Mengerikan.
Sebagian besar dari mereka melupakannya. Wriothesley tidak.
.
.
.
.
ii: hitam dan putih
Jangan bilang Wriothesley tidak berusaha. Dia sungguh berusaha mengenyahkan Neuvillette dari pikirannya, dia sungguh berusaha mengusir perasaan aneh yang meletup di dada tiap Neuvillette berada dalam jarak pandangnya, dia sungguh berusaha melupakan Neuvillette karena mencintai dewa sesempurna Neuvillette itu sia-sia belaka.
Sosok pria pendiam yang nyaris tidak pernah beranjak dari istana sunyi bersanding dengan pemuda yang mencintai cahaya matahari. Perpaduan yang terlalu kontras. Kalau Wriothesley boleh bilang, perpaduan yang terlalu tidak masuk akal.
“Dia jelas berada di luar jangkauanku, Sethos,” ujarnya muram sembari mencoret satu nama dari daftar hitam pengacau di Asphodel.
Sethos tidak menanggapi racauan yang keluar dari mulut tuannya. Kalimat demi kalimat yang terlontar tidak jauh dari Neuvillette, Neuvillette, dan Neuvillette. Siapa yang tidak bosan?
Lagipula semua ucapannya dianggap angin lalu oleh Wriothesley.
“Lupakan Neuvillette, Yang Mulia.”
Wriothesley malah memakai helm tak kasat matanya dan pergi mengintip Neuvillette dari balik pepohonan.
“Yang Mulia bisa mencari pendamping hidup selain Neuvillette. Masih banyak nimfa dan dewa yang mencintai Yang Mulia.”
Yang diterima Sethos adalah sebuah dengusan dan decakan tidak percaya. Malamnya, Wriothesley menyelinap pergi ke dunia makhluk fana. Menyaksikan senyum dan tawa kecil Neuvillette selalu membuatnya bahagia.
“Aku menyerah, Cyno.”
Rekan sesama hakim Sethos itu balik melempar senyum putus asa.
.
.
.
.
.
Jatuh cinta bisa melumpuhkan akal dan logika, begitu kata manusia.
Sekilas pandang ke arah Wriothesley, semua rasa ragu dan tidak percaya Sethos terhadap pepatah manusia itu sontak meluap.
“Tuan sudah gila.”
Cyno yang pertama menyadari keanehan Wriothesley. Wriothesley yang biasa akan menyibukkan diri membaca tumpukan perkamen dipenuhi coretan kasus. Akhir-akhir ini, tidak jarang Cyno menemukan Wriothesley melamun. Tatapannya yang kosong terarah ke gambar bergerak Neuvillette yang telah usang akibat terlalu sering dilipat dan diremas.
“Apa Tuan baik-baik saja?”
Pertanyaan yang sulit dijawab, bahkan oleh pelayan Wriothesley sekaliber Sethos sekalipun. Wriothesley terlihat baik-baik saja secara fisik; tidak ada yang memperhatikan secara detail bahwa tubuhnya tidak setegap dulu walaupun otot-otot perutnya tetap kencang seperti sediakala, tidak ada yang memperhatikan secara detail bahwa rambutnya memanjang sampai poninya jatuh menutupi mata kirinya, tidak ada yang memperhatikan secara detail bahwa lengannya semakin panjang dan jari-jarinya semakin berurat akibat terlalu sering meraih ke ketiadaan dan menggenggam kehampaan.
Jiwa dan batinnya, pikiran dan hatinya, siapa yang tahu.
“Neuvillette, Neuvillette.”
Demikian panggilan dan rintihannya ketika malam tiba. Terkadang dia bangun tiba-tiba, keringat berkilau di kulit pucatnya, badannya bergetar dan raut wajahnya penuh duka.
“Dia pergi, Thos. Dia pergi.”
Melihat itu, Sethos kemudian memanggil Layla—dewi penguasa mimpi dan alam bawah sadar.
“Buat agar dia tenang dalam tidurnya, tolong.”
Layla tidak perlu diberitahu dua kali. Kepala Wriothesley dia pangku, dan dengan sekali jentikan, napas Wriothesley merileks.
“Jaga dia, Tuan.”
Layla berbalik memandangnya. Matanya memancarkan keseriusan teramat dalam.
“Jangan biarkan Yang Mulia tinggal dalam ilusi selamanya.”
.
.
.
.
.
Wriothesley tidak ingin bangun lagi. Rasanya berat sekali jika dia harus meninggalkan zona mimpi demi bekerja di pagi hari.
Pertemuan pertamanya dengan Neuvillette terus berputar tanpa henti di zona nyaman tempatnya melarikan diri sejenak dari kenyataan.
.
.
.
.
iii: pusat gravitasi
[Wriothesley, beberapa minggu yang lalu.]
Pusing. Berbagai masalah datang bertubi-tubi, tidak memberinya ruang untuk bernapas barang sebentar.
Beberapa raksasa yang terkurung di bawah Gunung Etna memberontak. Banyak tawanannya di Tartarus mencoba melarikan diri—lima diantaranya bahkan nyaris mencapai Sungai Acheron jika tidak dihalangi Cerberus. Ada roh yang menolak ingatannya dihapus di Sungai Lethe. Keributan terjadi saat dia meraung-raung demi meminta kesempatan hidup kembali.
Wriothesley memutuskan untuk berjalan santai memutari wilayah kekuasaannya. Istananya mendadak berubah menjadi tempat yang menyesakkan sehingga dia harus keluar sejenak untuk menjernihkan pikiran.
Beberapa tetes darah jatuh dari atas, sedikit menghibur hari-harinya yang suram. Tidak butuh telinga yang tajam untuk mendengar lantunan doa dari seorang anak yang memohon belas kasih Wriothesley untuk kakaknya yang telah meninggal.
Sebelah tangannya mengelus Cerberus yang mendengking kesenangan. Sementara netranya terfokus pada tiga figur tidak asing di depan.
“Hanya sedikit arwah yang pergi menuju Asphodel, Tuan.”
Wriothesley mengangguk. “Aku tahu. Sudah kau pisahkan antara arwah anak kecil dengan arwah orang dewasa?”
“Sudah, Tuan. Mereka yang menuju Asphodel adalah anak kecil dan bayi yang masih suci. Mereka yang sudah dewasa banyak melakukan dosa namun perbuatan mereka masih termaafkan. Saya dan Cyno telah menyuruh mereka berenang di lima sungai sebagai hukuman sebelum bereinkarnasi.”
Dapat Wriothesley lihat manusia-manusia tembus pandang berduyun-duyun terjun ke lima sungai yang mengalir di Dunia Bawah.
Sungai Cocytus dijuluki sungai rintihan karena suatu alasan. Airnya biru gelap berkelok-kelok tenang melintasi daratan Erebos. Wriothesley mendekat, keningnya berkerut mendengar rintihan jiwa-jiwa yang tersiksa di arus sungainya. Keputusan yang agak salah, sungai ini membuat perasaan depresinya kembali.
“Sejauh ini, Tartarus belum mendapat penghuni baru, Tuan.”
Jarak antara Wriothesley dan Sungai Phlegethon masih sepuluh meter tapi keringat mulai jatuh menetes dari pelipis Wriothesley. Berbeda jauh dengan Cocytus yang serba biru dan tenang, Phlegethon membakar semua yang dilewati dengan api neraka. Asap dan uap mengisi udara, Sethos terbatuk-batuk di depan Wriothesley karenanya.
“Tiga pahlawan dari Fontaine berhasil memasuki Elysium, Tuan.”
Dan sampailah Wriothesley di akhir perjalanannya. Sungai Lethe. Bentangan air seputih susu yang melintasi bebatuan dengan bunga poppy tumbuh di sepanjang pinggirannya.
Sethos menguap. Cyno mengusap matanya yang berat. Rasa kantuk mulai menyerang Wriothesley.
“Aku benci Lethe,” desis Sethos pelan. Wriothesley hampir tertawa mengingat kejadian yang menyebabkan Sethos begitu membenci sungai ini.
“Sama,” Wriothesley membalas sambil menyeret Sethos dan Cyno. “Tapi aku lebih benci Acheron dan Styx.”
Tepat setelah Wriothesley menyelesaikan pernyataannya, langkahnya berhenti.
“Jaga Dunia Bawah selama aku pergi. Aku harus mengamati keadaan yang sebenarnya terjadi di dunia atas, apa yang menyebabkan banyak arwah berdatangan ke Dunia Bawah akhir-akhir ini.”
Wriothesley bersiul. Kereta emasnya yang ditarik oleh dua pasang kuda hitam kebanggaannya hampir sampai.
“Sampaikan ke Freminet. Jangan seenaknya mengizinkan arwah yang belum membawa obolos mengarungi Acheron.”
“Baik, Tuan. Akan kami sampaikan.”
Sebesar itu rasa benci Wriothesley terhadap Sungai Acheron dan Styx sampai dia tidak ingin memberikan perintah itu ke Freminet secara langsung.
“Aku pergi dulu. Sampai jumpa.”
.
.
.
.
.
Wriothesley tidak pernah terbiasa dengan dunia atas. Hamparan langit biru yang mengingatkan Wriothesley akan tempat Childe bertakhta, rerumputan segar sejauh mata Wriothesley memandang yang mengingatkan Wriothesley pada Focalors, sinar matahari yang mengingatkan Wriothesley akan keponakannya yang lumayan menyebalkan—Aether.
Kudanya berderap pelan melewati pepohonan rindang dan menembus hutan.
“Sebentar.”
Suara gelak tawa mencuri perhatiannya. Gelak tawa beberapa gadis dan seorang lelaki, kalau Wriothesley tebak. Rasa penasaran mengambil alih tubuhnya dan tanpa sadar dia menemukan dirinya berjalan mendekati sumber suara.
Dia menyibak semak-semak, menginjak daun-daun, menyelip di antara batang pohon, hingga dia mendapat spot nyaman untuk mengintip.
Indah. Tidak ada yang bisa mendeskripsikan keindahan di depannya dengan kata-kata.
Jantungnya berdebar keras. Matanya melebar kagum mengikuti pergerakan lelaki yang tengah menari di padang bunga.
Lelaki itu mengenakan tunik putih panjang dengan sabuk keemasan. Mahkota krisan beraneka warna membingkai kepala putih dengan aksen birunya. Kulitnya kuning sehat, berbanding terbalik dengan kulit Wriothesley yang agak pucat. Matanya seindah ametis dan sebening air di danau, menyipit hingga tinggal segaris setiap kali dia tertawa.
Dia berdansa dan menari dengan para peri pohon, berputar dalam pelukan roh-roh alam. Dia menumbuhkan bunga berwarna-warni pada pijakan kakinya.
Jika gerakannya saja telah membuat Wriothesley terpesona, suaranya ketika bernyanyi mampu membuat Wriothesley jatuh cinta seketika.
Bunga-bunga yang pada awalnya menguncup kini memekarkan mahkotanya, mengeluarkan aroma harum semerbak yang wanginya mengalahkan campuran parfum termahal dewi cinta.
“Aku akan mendapatkanmu.”
Sungguh. Sumpah atas nama Sungai Styx, Wriothesley bukan dewa yang gampang terpikat pada pria dan wanita seperti Childe atau Ayato. Wriothesley tidak pernah berganti-ganti pasangan semudah mengganti pakaian dalam. Wriothesley tidak pernah jatuh cinta karena baginya cinta merupakan suatu perasaan yang tidak berguna, yang dapat melemahkannya, yang dapat menghancurkannya sampai ke titik terdalam jika Wriothesley membiarkannya.
Wriothesley tidak pernah suka jatuh cinta. Wriothesley benci cinta.
Dan di sini dia berdiri. Merutuki Navia dalam hati, mengapa dia harus menciptakan cinta di dunia ini. Mengapa dia harus merasakan perasaan terkutuk untuk seseorang yang dia tahu tidak akan bisa dia miliki.
.
.
.
.
.
iv: perihal izin
“Tuan.”
Sebagai hakim Dunia Bawah merangkap sahabat Wriothesley yang paling setia, Cyno memutuskan untuk mengambil tindakan.
Jika tidak segera dihentikan, bukan tidak mungkin Wriothesley akan kehilangan akal sehatnya untuk memerintah dengan bijaksana.
Sethos, Cyno, dan Scaramouche telah mengambil alih tugas Wriothesley selama tiga minggu terakhir. Sethos membantu memeriksa dokumen dan menandatangani berbagai kebijakan. Scaramouche mengadili semua orang mati yang datang sekaligus. Cyno membantu menyortir dan menempatkan mereka entah di lima sungai, Tartarus, Elysium, padang Asphodel, atau langsung ke Kepulauan Kaum Diberkahi.
“Masih ada harapan.”
Jujur, Cyno kesal pada Wriothesley yang berambisi tinggi tapi tidak ada kemauan berusaha sama sekali. Aksinya malah menyakiti diri sendiri dan rakyat-rakyatnya di dunia orang mati dengan ketiga hakimnya sebagai saksi.
“Kalau Tuan tidak bisa meminta restu dari Nyonya Focalors, masih ada Yang Mulia Childe.”
.
.
.
Krisis percaya diri. Rasa rendah diri. Restu Focalors. Izin Childe.
Empat faktor yang melatarbelakangi kepasifan Wriothesley dalam mendapatkan Neuvillette. Dua teratas masih bisa Wriothesley atasi, dua terbawah yang sampai sekarang membuatnya stres setengah mati.
“Nyonya Focalors tidak akan bisa berkutik jika Yang Mulia Childe sudah berbicara, Tuan.”
Tidak. Wriothesley kenal Focalors.
Kakaknya itu bukan sosok yang penurut. Dia jelas tidak akan tunduk begitu saja pada segala perintah Childe, terlebih jika perintah itu melibatkan Neuvillette. Diabaikan? Dilawan? Siapa yang tahu. Focalors bisa sangat mengerikan jika sudah menyangkut Neuvillette.
Wriothesley ingin menyanggah dengan, “Percayalah, rencana kalian tidak akan berhasil,” tapi melihat rasa antusias terpancar dari manik sahabat-sahabatnya, Wriothesley tidak sampai hati mengeluarkan kalimat yang sudah berada di ujung lidahnya.
“Oke. Kulakukan demi kalian.”
Kerutan kembali menghiasi kening Cyno.
“Lakukan demi dirimu sendiri, Tuan.”
Tidak ada salahnya mencoba, Wriothesley. Setidaknya kamu sudah berusaha.
.
.
.
.
“Eh, halo, Kak. Anu, selamat … siang?”
Childe tampak bingung. Yang mana wajar, menurut Wriothesley.
“Lama tidak berjumpa, hehe.”
Canggung. Kikuk. Childe tidak tahu harus menggunakan bahasa apa untuk berkomunikasi dengan Wriothesley karena—jujur saja—mereka tidak terlalu dekat. Wriothesley bukan kakak yang bisa diumpati setiap hari macam Ayato, juga bukan kakak yang bisa digombali setiap hari macam Zhongli.
“Yang Mulia Childe, senang berjumpa kembali dengan Anda.”
Jalinan kata itu keluar dari wajah pucat tanpa ekspresi disertai bungkukan badan dan tekukan kaki.
Dalam hati, Wriothesley menahan diri untuk tidak memaki.
“Ada urusan apa ke sini, Kak? Ada masalah di Dunia Bawah lagi?”
Banyak, Childe, banyak.
“Iya, Yang Mulia.”
Tapi yang kurisaukan hanya satu.
“Biasanya Kakak sampaikan kepadaku melalui Lyney. Sebegitu pentingnya sampai Kakak harus datang sendiri ya?”
Yang ini tidak bisa disampaikan melalui kurir, Childe.
“Iya, Yang Mulia.”
“Mengenai apa?”
Childe kira dia akan mendapat jawaban seperti monster kabur dari Tartarus, lima sungai mulai surut arusnya, ada gempa yang meluluhlantakkan Elysium. Masalah-masalah seputar Dunia Bawah. Tidak ada satu hal di Olympus yang mempersiapkannya untuk mendengar—
“Neuvillette. Putramu dan Focalors.”
Suasana hati Childe bagus sebelum Wriothesley datang. Tugas-tugas dewatanya dalam satu bulan ke depan telah tuntas; mengatur angin, menjadwalkan awan, menimbulkan hujan di belahan bumi satu, memunculkan pelangi di belahan bumi lain, hal-hal yang biasa dikerjakan oleh Dewa Langit. Dia sedang duduk bersandar di singgasana, memakan ambrosia, menyeruput nektar, menikmati hari yang indah dan matahari yang bersinar cerah.
Wriothesley datang dan menghancurkan semuanya dalam sekejap.
“Kakak bilang apa barusan?”
“Neuvillette.”
“Ya ada apa dengan Neuvillette? Dia mengacau di Dunia Bawah?”
Aneh. Focalors tidak pernah membiarkan Neuvillette berkeliaran di luar jarak pandangnya.
“Tidak sama sekali, Yang Mulia. Dia, aduh, sulit bagi saya untuk mengatakan ini—”
Childe menunggu.
Tangan Wriothesley mengepal keras sekali sampai buku-buku jarinya memutih.
“Tapi saya harus mengatakannya sekarang. Saya mencintainya, Yang Mulia. Teramat sangat mencintainya.”
Tangan Childe terangkat untuk menutupi mulutnya yang menganga. Dia tidak percaya. Dia turun dari singgasananya, menghampiri Wriothesley, lalu meraba dahi Wriothesley.
“Kak? Kakak sakit?”
“Saya serius, Yang Mulia.”
Seolah belum cukup menghancurkan hari indahnya, Wriothesley sukses mengembalikan pening yang sempat hilang ke kepalanya.
“Mari bicara di ruang yang lebih tertutup, Kak.”
Childe melangkah tergesa-gesa, Wriothesley mengikuti di belakangnya.
.
.
.
.
.
Childe membawanya pergi dari ruang singgasana dewan Olympia, jauh menuruni Gunung Olympus, menuju ke istana pribadinya.
Istana Childe terbuat dari batu pualam putih dengan pilar-pilar keemasan, atapnya berupa kaca murni yang menyebabkan sinar matahari dapat masuk menerangi seluruh penjuru istana.
Xiao menyambut Childe di pintu masuk. Venti mengangguk hormat di samping Xiao.
Dua anak bayi itu sungguh menggemaskan.
Hanya mereka, selebihnya penghuni istana Childe menyebalkan. Berbisik-bisik di tiap langkahnya, mengomentari aura kematian yang dibawanya, menatapnya penuh rasa tidak suka.
Tidak mudah bagi Wriothesley sendiri untuk berkunjung ke langit tempat dewan Olympia berkuasa. Sejak awal tidak pernah ada tempat untuknya. Keberadaannya tidak dikehendaki, kehadirannya tidak disambut sebagaimana seharusnya.
“Jadi. Kakak mencintai Neuvillette. Oke.”
Childe masih kesulitan menerima kenyataan. “Bisa Kakak jelaskan kepadaku? Kronologinya? Bagaimana bisa? Apa Kakak tidak bercanda?”
Semua perasaan yang Wriothesley pendam selama beberapa waktu belakangan dia keluarkan. Benteng keangkuhannya roboh, topeng arogannya dia lepas. Dia ceritakan penggalan demi penggalan kisah pertemuannya dengan Neuvillette, bagaimana dia menguntit Neuvillette, seberapa besar rasa cintanya pada Neuvillette, seberapa dahsyat efek yang Neuvillette padanya sampai pekerjaannya dia abaikan.
Childe mendengarkan dengan cermat, layaknya seorang adik yang mendengarkan curhatan seorang kakak pada umumnya.
“Saya janji akan menjadi suami yang tidak mengecewakan bagi Neuvillette, Childe. Saya akan mengabdikan hidup saya sepenuhnya pada Neuvillette, saya tidak akan mencintai orang lain selain Neuvillette seumur hidup saya.”
Childe gelagapan. Mulutnya tidak bisa berkata apa-apa.
“Saya harap, kamu mau memberikan izin bagi saya untuk menikahi Neuvillette.”
Kalimat keramat yang sedari tadi Childe tunggu akhirnya keluar.
Childe akui dia tersentuh menilik fakta bahwa Wriothesley rela jauh-jauh datang menemuinya dari Dunia Bawah dan menceritakan masalahnya seperti seorang kakak yang sesungguhnya. Dia sangat mengerti bagaimana menderitanya jatuh cinta kepada orang yang tidak mungkin bisa mencintainya kembali dan orang yang nyaris mustahil dimiliki.
“Aku sih tidak masalah, Kak.”
Setengah jam Childe terdiam dan merenungkan keputusannya. Seharusnya keputusannya sudah benar.
“Sungguh?”
Beruntung kontrol diri Wriothesley termasuk tinggi. Kalau tidak mungkin dia sudah memeluk Childe erat, perbuatan yang—menurutnya—sangat menjatuhkan wibawa dan harga diri.
“Iya.”
“Terima kasih, Yang Mulia.”
“’Childe’, Kak.”
“Terima kasih, Childe.”
Suara yang keluar dari tenggorokan Wriothesley tetap bariton yang monoton, tapi Childe menemukan rasa bersyukur yang besar di sana.
“Sama-sama, Kak.”
“Tapi bagaimana dengan Focalors?”
“Focalors?”
Keduanya kembali terdiam untuk waktu yang lama.
“Apa sebaiknya saya berbicara pada Focalors? Kamu bisa membuatnya berjanji untuk mendengarkan. Atau saya langsung saja mengungkapkan perasaanku pada Neu—”
“Tidak, tidak,” sergah Childe cepat. “Bersikap jujur kepada orang yang Kakak cinta tidak pernah berhasil . Kakak harus tegas, ambil apa yang Kakak inginkan, miliki apa yang memang seharusnya menjadi milik Kakak.”
“Hah? Apa iya?”
“Iya. Hampir selalu berhasil,” Childe menenangkan Wriothesley yang terlihat skeptis. “Kalau saran dariku ya culik saja dia, Kak. Cara paling cepat dan efektif. Saat tidak yang melihat, tangkap Neuvillette lalu bawa dia ke Dunia Bawah.”
Wriothesley mulai mempertanyakan kewarasan otak Childe. “Apa kamu yakin?”
“Percaya padaku, Kak,” sahut Childe.
Keseluruhan ide Childe ini berisiko tinggi.
“Neuvillette tidak pernah sendirian. Dia pasti bersama Focalors atau dengan peri-peri hutan. Saya tidak bisa menculiknya diam-diam sekalipun saya menggunakan helm tak kasat mata. Teriakannya masih—”
“Serahkan semuanya padaku, Kak. Kakak lakukan bagian Kakak saja.”
.
.
.
.
v: jatuh dalam perangkap
“Jangan pergi terlalu jauh, Sayang!”
“Tenang. Aku hanya ingin bermain di seberang sungai!”
Para nimfa itu baru selesai makan siang setelah melewati hari yang cukup melelahkan. Menjelajahi perbukitan, melewati lembah, dan berakhir saling mencipratkan air di sungai.
Mereka merasa kenyang dan mengantuk jadi mereka sepakat untuk tidur siang sebentar.
Sementara Neuvillette sibuk bermain di pinggir sungai, ada semak-semak mawar yang menarik perhatiannya. Mawar-mawar itu berwarna merah pekat, tanpa duri, wangi memabukkannya tercium dari kejauhan.
“Kenapa kamu cantik sekali?”
Tangannya sudah terulur untuk memetik mawar tersebut ketika netranya mendapati sepetak anyelir beraneka warna. Dia melangkah lebih jauh untuk memetik anyelir, namun pandangannya menangkap hamparan aster violet indah di sebelah barat.
Tanpa sadar dia terus berpindah dari satu tempat ke tempat lain, semakin lama semakin jauh dari teman-teman nimfanya yang tertidur.
Dia akhirnya sampai di sebuah kuil Navia yang dipenuhi bunga anggrek. Dia sedang mengulurkan tangan untuk menyentuh anggrek bulan yang merambati pepohonan ketika tanah terbelah di belakangnya.
Empat kuda hitam yang menarik kereta hitam besar keluar dari retakan tanah, pengemudinya berjubah hitam dengan dwisula di punggung dan cambuk di tangan. Neuvillette tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena wajahnya tertutupi helm emas besar. Ada sosok wanita bertampang mengantuk bersayap hitam besar di kursi belakang.
Neuvillette berniat mengabaikan eksistensi dua dewa yang kini menatapnya dengan intens.
Niatnya baru kali ini tidak berjalan sesuai kehendaknya. Pengemudi kereta itu dengan seenak hati menarik Neuvillette ke keretanya.
“Apa-apaan? Lepaskan aku,” gertak Neuvillette. Tangannya gigih melepaskan cengkeraman Wriothesley di bahu dan lengannya.
“Aku benci dipaksa, kamu tahu?”
Wriothesley membayangkan Neuvillette akan berteriak, menjerit, menggunakan berbagai macam kekerasan fisik untuk kabur dari hadapannya. Tidak dia sangka Neuvillette malah mengeluarkan umpatan dengan nada datar hampir dingin.
“Kalau kamu mau memintaku pergi bersamamu ke suatu tempat, minta baik-baik. Jangan—hei! Kenapa kau menyebalkan sekali, Brengsek?”
Wriothesley tidak membalas setiap makian Neuvillette. Dia memutar badannya ke belakang, menghadap Layla lalu berbisik, “Lakukan tugasmu. Sekarang.”
Seiring dengan rapalan mantra Layla, kelopak mata Neuvillette tertutup dan pemuda ringkih itu jatuh di pangkuannya.
“Maafkan aku, Neuvillette. Sungguh. Aku minta maaf.”
.
.
.
.
.
Tidak pernah ada yang melihat Focalors sepanik ini. Dia menyisiri pantai, berkelana kesana-kemari mencari putranya yang telah hilang dan belum kembali sampai sekarang. Suaranya serak memanggil-manggil nama Neuvillette.
Saking terlalu fokus mencari Neuvillette, Focalors mengabaikan dirinya sendiri. Tidak makan, mandi, minum, juga tidur. Kakinya terus melangkah hingga tanpa sadar dia terdampar di lereng gunung tempat Mona bersemedi.
Mona tidak ketinggalan berita. Sejak dia mendengar teriakan memilukan Focalors, dia berupaya membantu diam-diam dengan sihirnya. Hasilnya nihil.
“Hormat kepada Nyonya Focalors,” Mona menundukkan kepala ketika Focalors melewati kediamannya.
“Oh, halo, Mona,” Focalors menjawab sapaan Mona. Senyumnya letih. “Apa kau melihat Neuvillette?”
Mona memberitahu semua yang dia ketahui. Mulai dari retakan mencurigakan di sebuah desa, ringkikan keras yang dia dengar dari dua pasang kuda yang menarik sebuah kereta, dan umpatan keras seseorang yang Mona yakini adalah Neuvillette.
“Barangkali Albedo tahu, Tuan. Dia yang bertugas patroli hari itu.”
Tampang Focalors menyiratkan keputusasaan.
“Saya temani Anda ke istana Albedo.”
.
.
.
.
.
.
Albedo tengah bersantai di tepi pantai. Kakinya berkecipak di air, kulitnya terbakar di bawah sinar matahari.
“Albedo!”
Definisi hari yang indah di benak Albedo hancur sudah. Dia mendesah pasrah sebelum berbalik menghadap Focalors yang wajahnya sudah memerah.
“Yang Mulia Focalors. Albedo bersujud di hadapan Yang Mulia.”
Panggilan sopan Albedo tidak diindahkan sama sekali.
“Di mana anakku?”
Albedo terlalu malas berbasa-basi. Lebih malas lagi kalau harus berurusan lebih jauh dengan dewi yang tampak depresi.
“Yang Mulia Wriothesley menculiknya,” ujar Albedo. Singkat, jelas, dan padat.
“Childe tidak akan percaya ini.”
Dia berderap pergi meninggalkan Albedo dan Mona tanpa repot mengucapkan terima kasih. Kereta naganya dia pacu menuju Olympus. Makian dan cacian kepada Wriothesley mengiringi sepanjang perjalanan, keluar dari mulutnya silih berganti tanpa pernah berhenti.
.
.
.
.
.
Ketika Focalors memasuki ruang singgasana dengan heboh dan menceritakan seluruh kejadiannya, Childe tidak tampak terkejut.
“Kenapa kau diam saja? Anak kita diculik Wriothesley, Childe! Lakukan sesuatu!”
Childe menghindari mata Focalors. Keringat dingin membasahi tengkuknya. Gelagatnya gelisah dan tangannya tidak pernah berhenti memainkan petir asalinya.
“Childe, apa yang sudah kau lakukan?”
Focalors sampai mati rasa, kemarahannya kali ini jauh lebih besar daripada semua kemarahannya sebelumnya.
“Kak Wriothesley ingin menikahi Neuvillette, Kak Focalors.”
“Lalu?”
“Mereka pasangan yang serasi! Keduanya sama-sama memiliki visual yang menarik, sama-sama kuat, dan yang terpenting, Kak Wriothesley itu berkuasa.”
“Aku tidak peduli mau seberkuasa apa dia, dia tidak pantas untuk Neuvillette. Neuvillette terlalu murni jika disandingkan dengan pria bejat macam Wriothesley.”
“Seingatku, Kakak dulu pernah mencarikan suami untuk Neuvillette? Sekarang Kak Wriothesley datang—”
“Wriothesley menculik Neuvillette, Childe, demi Styx. Apa aku tega membiarkan putra kesayanganku menikahi penculiknya sendiri?”
“Kak Focalors, dengar—”
“Tidak, kau yang dengar.”
“Aku harus bagaimana? Aku tidak bisa mengingkari kata-kataku. Semua sudah terjadi. Neuvillette sekarang berada di Dunia Bawah. Mereka telah menikah.”
“Tidak, aku tidak bisa membiarkannya.”
“Sampai Neuvillette kembali ke sisiku, tidak akan ada yang bisa tumbuh di bumi. Tumbuhan akan mati. Panen akan gagal. Manusia akan kelaparan. Semua harus ikut merasakan penderitaanku jika kau tidak segera mengembalikan Neuvillette kepadaku, Childe!”
Setelah acara kutuk mengutuk yang menurut Childe agak dramatis, napas Childe yang tertahan di tenggorokan dapat keluar dengan lega.
Paling-paling Kak Focalors hanya merajuk , dia berusaha menyugesti dirinya sendiri. Semua akan kembali seperti semula beberapa hari lagi.
Minggu demi minggu berlalu. Bulan demi bulan terlewat. Mendekati penghujung tahun, Childe menyerah.
Manusia tidak dapat membakar persembahan bagi para dewa. Mereka tidak bisa beribadah di kuil. Mereka hanya bisa mengeluh kesakitan, merintih kelaparan, menyumpahi dewa pertanian.
“Lyney!”
Utusan utamanya datang menghadap beberapa detik kemudian.
“Pergi ke Dunia Bawah. Beri tahu Wriothesley untuk segera mengembalikan Neuvillette. Jemput Neuvillette dengan selamat dan antarkan ke kediaman Kak Focalors.”
“Siap, Yah.”
Lyney menurut tanpa banyak bicara.
.
.
.
.
.
Beberapa minggu hidup jauh dari ayahnya bersama Wriothesley di Dunia Bawah nyatanya cukup berpengaruh bagi Neuvillette.
Wriothesley mampu mengeluarkan sisi lain dari dirinya. Sisi yang tersimpan jauh dalam hatinya, sisi yang tidak diketahui oleh siapapun termasuk ibunya, sisi yang gelapnya luar biasa.
“Kau bisa mengajakku ke sini baik-baik, Tuan.”
“Tidak harus menarikku dengan barbar, menidurkanku entah menggunakan mantra apa, lalu mengganti bajuku tanpa izin seperti pria mesum yang memenuhi kota Mondstadt!”
“Kau bisu? Atau tuli? Kenapa kau tidak pernah menjawab setiap ucapanku?”
“Kau punya mulut yang masih berfungsi, Tuan. Gunakan sebelum kau benar-benar lupa bagaimana caranya berbicara.”
Perangai halusnya hilang entah ke mana. Ucapannya tidak pernah tidak kasar, kadang sarkas jika suasana hatinya sedang cukup baik. Wriothesley lebih memilih kena semprot lidah Neuvillette yang pedas ketimbang mendapat delikan dingin dan didiamkan seharian penuh.
.
.
.
“Aku rindu Ibu.”
Tenaganya telah habis digunakan secara maksimal.
Tidak ada sesuatu yang dapat dia lakukan untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Tidak ada yang sesuatu yang dapat membuat Wriothesley melepaskannya ke dunia luar.
Aksi ngamuk besar-besarannya dihadapi Wriothesley dengan sabar.
Dia merobek seprai ranjangnya dan menghancurkan bantal berbulunya. (Wriothesley membawakan bantal baru yang jauh lebih lembut dan menawarkan kasur yang jauh lebih hangat.)
Dia memukul tembok, menghentak-hentakkan kaki di lantai, dan berupaya memanjat keluar jendela. (Upayanya gagal, tentu saja. Pergelangan kakinya terluka, Wriothesley mengobatinya dengan telaten.)
Terakhir, dia menolak makan. Menolak minum. Padahal dia kelaparan dan kehausan. (Wriothesley sangat khawatir dan memaksanya berulang kali untuk makan. Mengesampingkan perasaannya yang terluka karena menolak makan berarti tidak menghormati tuan rumah dan menunjukkan bahwa Neuvillette jelas tidak ingin berada di rumahnya, Wriothesley hanya ingin Neuvillette baik-baik saja.)
Hari pertama, Neuvillette menolak meninggalkan kamar.
“Neuvillette,” Wriothesley memulai, “ayahmu memberikan izin bagiku untuk menikahimu. Maafkan aku atas aksi penculikan kemarin—sekadar informasi, itu merupakan idenya—tapi sungguh, aku mencintai—”
“Aku tidak ingin melihat batang hidungmu saat ini, Tuan. Pergi sana.”
Wriothesley menangkis bantal yang dilemparkan Neuvillette dan pergi dari sana dengan wajah muram.
Memasuki hari ketujuh, Neuvillette akhirnya meninggalkan kamar yang telah menjadi zona nyamannya. Tidak ada pelayan dan pengawal yang menghalanginya, Neuvillette agak bingung awalnya. Seketika dia menyadari alasannya.
Tidak ada tempat yang bisa dia kunjungi. Di luar istana Wriothesley, tidak ada apapun kecuali hamparan abu-abu gelap penuh dengan arwah-arwah gentayangan. Tidak ada langit cerah. Tidak ada sungai yang bisa dipakai bermain. Tidak ada bunga harum yang bisa dipetik.
.
.
.
.
“Apa kau memang tidak bisa marah? Kenapa kau tidak marah padaku, kenapa kau tidak membuangku—”
“Bukannya aku sudah bilang aku terlalu mencintaimu?”
Neuvillette angkat tangan.
Hari-hari selanjutnya berlalu dengan lambat. Neuvillette menghabiskan waktunya dengan mengitari istana Wriothesley yang kelewat besar. Dia memasuki kamar-kamar kosong yang dindingnya terbuat dari emas dan perak. Setiap dia berpindah dari sayap istana Barat ke sayap istana Timur atau dari balairung Utara ke menara Selatan, selusin pelayan tak kasat mata membawakan buket-buket bunga imitasi dari rubi dan berlian, daunnya bertabur zamrud.
Ada saat-saat ketika dia menemukan Wriothesley bekerja bersama ketiga hakimnya. Menorehkan tinta di setumpuk perkamen, mengetuk palu dan memberi keputusan final bagi sebuah jiwa. Kalau Wriothesley tidak sibuk, dia biasa berjalan-jalan di sekitar Tartarus, memantau monster-monster yang terkerangkeng di dalam neraka abadi itu.
Jika dia terlalu bosan, biasanya dia akan menemani Wriothesley bekerja. Sekali-kali dia mengganggu Wriothesley dengan tingkah cari perhatiannya. Paling sering dia menyebabkan Wriothesley gagal fokus dengan menggigit bibir, menunjukkan leher, mendongakkan kepala, dan memamerkan selangkanya. (Kalau sudah begitu, terpaksa Sethos, Scaramouche, dan Cyno harus turun tangan.)
Pada hari kedua puluh dua, Neuvillette menemukan Wriothesley di ruang singgasana sedang berbicara serius dengan sesosok arwah yang tampak asing.
“Aku tidak peduli,” seru Wriothesley dengan nada tinggi, “mau seberapa banyak manusia yang mati, aku tidak peduli.”
“Kau baru saja membunuh seseorang?”
Raut murkanya menghilang. Wajah dengan senyum tipis andalan yang selalu dia pakai tiap berhadapan dengan Neuvillette muncul.
“Bukan siapa-sia—”
“Omong kosong.”
“Kau suka sekali menyela perkata—”
“Kenapa? Tidak suka? Ya sudah. Kembalikan aku ke ibuku. Sekarang.”
Anehnya, Neuvillette menangkap sekelebat kesedihan di iris biru es Wriothesley.
“Hantu tadi,” Neuvillette menunjuk udara, “dia pasti membawa kabar tentang dunia atas. Kabar tentang ibuku. Beri tahu aku apa yang terjadi.”
“Ibumu marah. Dia sudah tahu semuanya.”
“Tapi dia tidak akan menjemputmu ke sini. Dia benci berada di sini. Dia membenciku,” tambah Wriothesley cepat-cepat. Neuvillette yang tadinya bahagia sekali merasa kembali dihempas ke bumi.
“Terus tadi apa yang kau bicarakan? Manusia-manusia banyak yang mati? Kenapa?”
“Ibumu membuat seluruh dunia kelaparan, membiarkan ribuan orang mati sampai kau kembali padanya. Bentuk ancaman agar Childe menarikmu kembali ke pelukannya.”
“Kau bohong.”
Ibunya tidak mungkin melakukan hal sekejam itu.
Perasaannya kini campur aduk. Sedih, marah, kecewa, terkejut, semua jadi satu. Ratusan bahkan ribuan manusia meninggal karena dirinya? Gila.
“Kembalikan aku sekarang juga, kumohon.”
Rahang Wriothesley mengeras. Tatapan matanya tajam dan tegas.
“Kamu itu semestaku sekarang, Neuvillette,” kata Wriothesley. “Kamu lebih berharga dari harta manapun di dunia. Maafkan aku karena sampai sekarang aku gagal membuatmu mencintaiku. Maaf aku belum belum bisa menjadi suami yang baik bagimu. Tapi aku akan berusaha melakukan segala yang kubisa untuk membuatmu bahagia.”
“Aku tidak akan mengembalikanmu.”
Neuvillette terperangah. Dia berbalik dan berlari. Air sudah berkumpul di pelupuk matanya, siap menetes kapan saja.
.
.
.
.
vi: empat musim [dan sebuah janji untuk pulang]
Berlari. Berlari. Dan terus berlari.
“Aduh.”
Dia tersandung sebongkah topaz yang terpahat di jalan setapak menuju sebuah taman yang indah.
Taman itu adalah taman paling menakjubkan yang pernah dia lihat sepanjang kehidupannya. Bunga-bunga yang cantik bercahaya di tengah kegelapan. Berpetak-petak kebun menawarkan buah-buahan yang berkilau menggiurkan.
Suaranya tidak bisa keluar dengan jelas. Mulutnya tidak mampu merangkai kata menjadi kalimat yang koheren.
“Wriothesley. Berani-beraninya—”
Semua bunga yang dia cinta dari dunia atas berada di sini.
“Apa kamu suka?”
“Kau melakukan semua ini untukku?”
“Belum sepenuhnya jadi. Maaf. Tidak memuaskanmu ya?”
Pria ini. Benar-benar. Standarnya tinggi sekali.
“Kau sinting. Serius.”
Wriothesley ingin melakukan hal yang dia dambakan sedari dulu—karena demi apapun, baru kali ini Neuvillette terlihat begitu bisa digapai; lengannya sudah terulur untuk melingkari pinggang Neuvillette ketika sesosok arwah tukang kebun datang dan berbisik di telinganya.
“Neuvi, ada tamu. Aku permisi dulu.”
Panggilan itu membuat hati Neuvillette sedikit menghangat.
“Sigewinne akan menemanimu.”
Dan pria itu menghilang secepat dia datang.
Arwah yang diminta Wriothesley menemani Neuvillette membungkuk dalam. Senyumnya samar di wajahnya yang berdenyar.
Neuvillette kenal dia. Arwah kepercayaan Wriothesley yang tidak bisa bicara namun paling setia.
Dia menyodorkan sebuah delima yang diterima Neuvillette dengan raut penuh tanda tanya.
“Tidak, terima kasih.”
Sigewinne mengedikkan bahu. Dia mengeluarkan satu delima lain, menaruhnya di atas meja, lalu memotong buah itu menjadi dua bagian dengan pisaunya. Biji merah keunguannya berkilat menggoda Neuvillette.
Perutnya sakit menahan lapar.
Sekali makan tidak akan membuat mati.
Dia memasukkan satu biji ke mulutnya. Lalu biji selanjutnya. Dan selanjutnya lagi.
Enam biji sudah dia telan, dan mungkin dia akan makan lebih banyak jika Wriothesley tidak datang bersama Lyney.
“Lyney datang—”
“—untuk membawamu kembali. Seperti yang kamu minta selama ini.”
Ekspresinya pahit. Suaranya serak menahan sedih sampai Neuvillette melupakan fakta bahwa itu merupakan kabar bagus.
Semestinya Neuvillette bersorak senang. Keinginannya terwujud. Permintaannya terkabul. Tapi kenapa dia justru tidak senang mendengarnya?
“Sebelum pergi, Yang Mulia,” mata tajam Lyney melihat setetes cairan kemerahan di sudut bibir Neuvillette, “apa Yang Mulia sudah makan sesuatu dari Dunia Bawah?”
“Mungkin Yang Mulia belum tahu, jika Yang Mulia memakan apapun dari Dunia Bawah, Yang Mulia harus tinggal di sini selamanya.”
“Hanya setengah buah delima!” sergah Neuvillette. Rona merah merambati pipinya.
Lyney mengurut kepalanya. Wriothesley menyeringai. “Dia harus tinggal, Ney.”
“Kenapa kau dan Ayah suka sekali memperumit keadaan,” gerutunya. Dia mengirim pesan kepada Childe lewat caduceus-nya dan meringis ketika mendengar raungan tidak terima Focalors.
Focalors mengancam akan terus membiarkan dunia kelaparan jika Neuvillette tidak segera dikembalikan kepadanya. Wriothesley balik mengancam bahwa dia akan membangkitkan seluruh arwah orang mati jika Focalors memaksa membawa pergi Neuvillette dari Dunia Bawah.
“Biarkan Neuvillette melewati musim semi dan musim panas di dunia atas,” saran Nahida. “Musim gugur dan musim dingin akan Neuvillette habiskan di Dunia Bawah bersama Wriothesley. Bagaimana?”
Semua setuju.
Kecuali Wriothesley dan Focalors yang sama-sama tersenyum palsu.
.
.
.
.
“Berpisah dariku setengah tahun, jangan rindu ya.”
Wriothesley tidak bisa bernapas ketika Neuvillette menubruknya hanya untuk memeluknya erat.
“Sampai bertemu kembali musim dingin tahun depan,” Wriothesley mengusap rambut Neuvillette yang berantakan dan mengecup lembut kening Neuvillette selama beberapa saat. “Aku akan selalu merindukanmu.”
“Ingat kalau di sini juga rumahmu. Aku menunggumu pulang enam bulan lagi. Jangan berani kabur ke mana-mana.”
Putaran bola mata diterima Wriothesley.
“Baik, Yang Mulia.”
“Aku pergi dulu.”
Ada rasa tidak rela ketika dia harus melepas pelukan hangat Neuvillette.
“Omong-omong, aku tidak begitu membencimu. Suatu kemajuan pesat bagi suami yang pernah kau culik ini, bukan, Yang Mulia?”
Wriothesley tersenyum. Dalam hati, Wriothesley bergumam, Terima kasih, Navia.
Mungkin memang masih ada harapan.
Kalau suatu saat, Neuvillette akan mencintainya.
Semoga.
